Anda di halaman 1dari 5

1.

Eksperimental
Kloramfenikol dimurnikan sebelum digunakan. CBT disiapkan dan
dimurnikan seperti dilaporkan sebelumnya. Bahan-bahan kimia tingkat AnalaR
dan aquabides digunakan selama penelitian. Studi isotop pelarut dibuat dengan air
keras (D
2
O, 99.4% isotop murni).

1.1.Pengukuran Kinetik
Laju reaksi berdasarkan orde satu semu dengan CAP berlebih daripada
pengoksidasi (CBT) pada 323 K. Reaksi dilakukan dalam tabung reaksi Pyrex,
yang permukaan luarnya dilapisi sehingga menjadi gelap untuk menghindari efek
fotokimia. Pada kondisi ini, jumlah yang diperlukan dari larutan substrat HCLO
4
,
NaClO
4
dan air (untuk mempertahankan volume konstan) diukur dan disetarakan
secara termal pada suhu 323 K. Pengukuran larutan CBT juga disetarakan pada
temperatur yang sama, secara cepat ditambahkan pada campuran reaksi dalam
tabung pemanasan dengan pengadukan. Perkembangan dari reaksi diamati dengan
penentuan iodometri dari oksidan yang tidak bereaksi dalam aliquots (5
ml/aliquot), campuran reaksi diambil pada interval waktu yang berbeda. Efek dari
reaksi yang dipelajari untuk 2 x t . Konstanta orde reaksi satu semu, dihitung
dari plot linier antara log [oksidan] vs waktu yang reprodusibel kurang lebih 3%.
Analisis regresi dari data penelitian dilakukan menggunakan kalkulator scientific
fx-100W untuk mendapatkan koefisien regresi, r.

1.2.Stokiometri dan Analisis Produk
Perbedaan konsentrasi dari reaktan dalam 0,1 mol/liter HCLO
4
disimpan
selama 24 jam pada suhu 323 K. Penentuan CBT yang tidak digunakan dalam
reaksi gabungan menunjukan bahwa 1 mol dari CAP digunakan untuk 1 mol CBT.
Reaksi dibawah ini :


Produk reduksi dari CBT, benzotriazol (BTA), diisolasi dan diidentifikasi
dengan menggunakan KLT menggunakan pelarut butanol-asam asetat-air (4:1:1
v/v) dan iodin sebagai indikator (Rf=0,93). Rf yang didapat ini sesuai dengan
literatur. Aldehid dideteksi menggunakan spektrofotometer IR dengan spektra
pada 3440/cm dan 1720/cm untuk peregangan OH dan peregangan C=O secara
berturut-turut dan spektra 2720/cm untuk aldehid peregangan C-H. Aldehid juga
diidentifikasi sebagai turunannya, yaitu 2,4-dinitrofenilhidrazon.

2. Hasil
Oksidasi dari CAP oleh CBT dalam larutan sangat lambat dan menjadi
tampak dengan adanya kehadiran ion H
+
dan pada temperatur tinggi. Karenanya,
invesigasi kinetik yang detail dari oksidasi CAP oleh CBT dibuat pada
konsentrasi 0,1 mol/L larutan HCLO4 pada 323 K.
Dengan substrat berlebih pada konsentrasi [CAP]
0
, konsentrasi HCLO
4

dan temperatur yang konstan, plot dari log [CBT] vs waktu berada pada
persamaan linier (r>0,9850) menunjukan orde reaksi satu yang berdasarkan pada
[CBT]
0.
Konstanta orde reaksi satu semu tidak tergantung pada konsentrasi
[CBT]
0
. Harga K tidak berubah dengan bertambahnya konsentrasi [CAP]
0
,
menunjukan laju reaksi orde nol yang tergantung pada [CAP]
0
. Laju reaksi
meningkat dengan bertambahnya [HCLO
4
] dan menunjukan plot yang linier dari
log k vs log [HCLO
4
] (r=0,9810) dengan slope 0,62 yang menunjukan orde
fraksional yang tergantung pada laju reaksi [HCLO
4
]. Lebih jauh lagi, plot dari
1/k vs 1/[H
+
] (r=0,9870) dengan garis lurus, dengan intersep y, memastikan orde
fraksional bergantung pada [H
+
].
Adisi hasil reaksi, benzotriazol (1x10
-3
M) dan variasi dari kekuatan ion
medium (0,1-0,5 M) dengan menambahkan NaCLO
4
tidak memiliki efek
signifikan pada laju reaksi. Karenanya, tidak ada perlakuan yang dilakukan untuk
menjaga kekuatan ionik dari campuran reaksi konstan untuk laju kinetik.
Penambahan dari butanol tersier menurunkan laju reaksi. Efek pelarut isotop
dipelajari dengan menggunakan D
2
O. Laju reaksi meningkat dengan k=5,10x10
-
4
/s dalam D
2
O dan k=3,05x10
-4
dalam H
2
O, mengacu pada efek isotop pelarut
k(H
2
O)/k (D
2
O)=0,60.
Reaksi dipelajari pada temperatur berbeda-beda yaitu (293-323 K).
Konstanta laju reaksi pada temperatur 293, 303, 313, dan 323 K secara berturut
turut adalah 0,32, 0,65, 1,45, 3,05 (x 10
-4
). Plot linier berdasarkan Arrhenius
(r=0,9993) dari log k vs 1/T dievaluasi, dan parameter -parameter yang diperoleh
adalah sebagai berikut Ea = 55,8 kJ mol
1
; Delta H# = 53,2 kJ mol
1
; Delta G# =
101 kJ mol
1
dan Delta S# = 149 JK
1
mol
1
. Penambahan akrilonitril pada
campuran reaksi tidak berefek, menunjukan tidak adanya radikal bebas selama
reaksi.





3. Pembahasan
Hidrolisis dari CAP dapat diabaikan. Hasil lebih lanjut dipastikan dengan
menguji tidak adanya basa bebas (grup -NH
2
) dalam campuran reaksi
menggunakan bentuk nihidrin tereduksi. CBT sebagai N-haloamin memberikan
beberapa jenis oksidasi dalam larutan. Konsentrasi dari senyawa pengoksidasi
tergantung dari konsentrasi CBT, keadaan larutan (polar atau nonpolar) dan pH
medium. BTA merupakan komponen utama dari CBT yang memiliki pKb 5,8 dan
oleh karenanya memiliki kemampuan yang lebih besar berada dalam bentuk
protonasi dalam larutan.
Jika H
2
OCl
+
adalah jenis oksidan aktif, laju dari retardasi dengan
penambahan BTA sesuai perkiraan. Bagaimanapun, beberapa efek tidak
diberitahukan dalam hasil penilitian dan oleh karena itu kemungkinan dari
H
2
OCl
+
sebagai pengoksidasi gagal. Untuk memperkirakan ini, beberapa
penelitian kinetika menggunakan CBT dan HOCl dalam kondisi eksperimental.
Data kinetika HOCl dan CBT tidak sama, oleh karenanya spesies jenis
pengoksidasi dapat menjadi CBTH
+
dimana nilai yang teramati dalam orde
fraksional bergantung pada laju [H
+
]. Pendapat yang sama juga diajukan untuk
oksidasi benzil alkohol oleh CBT, untuk data ini reaksi oksidasi diatas dapat
digunakan untuk mengamati kinetika oksidasi dari CAP oleh CBT dalam medium
asam.
Studi isotop pelarut dalam medium D2O menunjukkan peningkatan laju
reaksi. D3O+ dikenal sebagai asam yang lebih kuat daripada H3O+. Efek BTA
yang dapat diabaikan pada laju reaksi menunjukkan BTA tidak terlibat dalam
proses pre-equilibrium. Perubahan kekuatan ionik tidak mengubah laju reaksi
menunjukkan peran non ionik. Sedikit efek negatif konstanta dielektrik pada laju
reaksi menunjukkan bahwa interaksi dipol mempengaruhi laju. Mekanisme ini
didukung oleh harga moderat dari energi aktivasi bebas dan parameter
termodinamik lainnya. Harga energi aktivasi bebas dan entalpi aktivasi positif
menunjukkan kondisi transisi yang tersolvasi tinggi, sementara harga entalpi
aktivasi negatif menunjukkan pembentukan kompleks teraktivasi dengan derajat
bebas rendah.
Hasil stokiometri produk dan hasil kinetika sangat berbeda dalam medium
asam dan basa. Energi aktivasi yang ditemukan dalam reaksi lebih cepat dalam
medium asam dibandingkan medium basa (Ea basa=59,0 kJ/mol). Hal ini
dikarenakan pengaruh perbedaan jenis reaktif dari CBT dalam media asam
(CBTH
+
) dan dalam medium basa (OCl
-
) dari sistem redoks ini.