Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit radang pelvis adalah suatu istilah umum bagi
infeksi genital yang telah menyebar ke dalam bagian-bagian yang
lebih dalam dari alat reproduksi wanita seperti rahim, tuba fallopii
dan ovarium. Ini satu hal yang amat mengkhawatirkan. Suatu
infeksi serius dan sangat membahayakan jiwa. Infeksi tersebut juga
sangat umum. Satu dari 7 wanita Amerika telah menjalani
perawatan karena infeksi ini dan kurang lebih satu juta kasus baru
terjadi setiap tahun, demikian menurut Gay Benrubi, M.D.,
profesor pada Division of Gynegology Oncology, University of
Floridadi Jacksonville.
Kurang lebih 150 wanita meninggal per tahun sehingga
cukup beralasan untuk memperhatikan gangguan medis ini secara
lebih serius. Namun, ada pula kekhawatiran lainnya, serangan
infeksi ini diketahui sangat meningkatkan risiko seorang wanita
untuk menjadi mandul. Ketika bakteri-bakteri yang menyerang
menembus tuba fallopii, mereka dapat menimbulkan luka di
sepanjang lapisan dalam yang lunak, menyebabkan sukarnya (atau
tidak memungkinkannya) sebuah telur masuk ke dalam rahim.
Secara epidemiologic di Indonesia insidensinya diekstrapolasikan sebesar
lebih dari 850.000 kasus baru setiap tahun.

PID merupakan infeksi serius
yang paling biasa pada perempuan umur 16 sampai 25.
Pembuluh yang tertutup juga menyebabkan sukarnya sperma
yang sedang bergerak melakukan kontak dengan sel telur yang
turun. Akibatnya adalah perkiraan yang mengkhawatirkan yaitu
setelah satu episode infeksi ini, resiko seorang wanita untuk
menjadi mandul adalah 10%. Setelah infeksi kedua resikonya
2

menjadi dua kali lipat yaitu 20%. Jika wanita ini mendapatkan
infeksi untuk ketiga kalinya, resikonya akan melambung menjadi
55%. Secara keseluruhan, dapat diperkirakan, penyakit radang
pelvis menyebabkan kurang lebih antara 125.000 hingga 500.000
kasus baru setiap tahun.
Kekhawatiran besar lainnya mengenai infeksi ini adalah
bahwa gangguan medis ini dapat meningkatkan resiko seorang
wanita mengalami kehamilan di luar kandungan sebesar enam kal i
lipat. Alasannya : karena tuba falopii sering mendapatkan parut
(bekas luka) yang timbul karena infeksi ini, telur yang turun
mungkin akan macet dan hanya tertanam di dinding tuba. Kurang
lebih 30.000 kehamilan di luar kandungan per tahun dapat
dipastikan disebabkan oleh infeksi seperti ini.












3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi pelvis
Pelvis adalah daerah batang tubuh yang berada disebelah
dorsokaudal terhadap abdomen dan merupakan daerah peralihan dari
batang tubuh ke ekstremitas inferior. Pelvis bersendi dengan vertebra
lumbalis ke-5 di bagian atas dengan caput femoris kanan dan kiri pada
acetabulum yang sesuai. Pelvis dibatasi oleh dinding yang dibentuk oleh
tulang, ligamentum, dan otot. Cavitas pelvis yang berbentuk seperti
corong, member tempat kepada vesika urinaria, alat kelamin pelvic,
rectum, pembuluh darah dan limfe, dan saraf.
Pada manusia dewasa, panggul terbentuk di punggung posterior
(belakang) oleh sakrum dan tulang ekor (bagian ekor dari kerangka axial),
lateral dan anterior oleh sepasang tulang pinggul (bagian dari kerangka
apendikularis). Pada manusia dewasa, panggul normal terdiri dari tiga
tulang besar dan tulang ekor (3-5 tulang). Namun, sebelum masa pubertas
tulang pinggul terdiri dari tiga tulang yang terpisah yaitu ilium, ichium,
dan pubis. Jadi, sebelum pubertas panggul dapat terdiri dari lebih dari
sepuluh tulang, tergantung pada komposisi tulang ekor.
Pinggul ini dibagi menjadi 2, satu di sebelah kanan dan satu di
sebelah kiri tubuh. Kedua tulang pinggul yang terdiri dari 3 bagian, ilium,
ichium dan pubis. Bagian-bagian ini digabungkan bersama selama
pubertas, yang berarti di masa kanak-kanak mereka adalah tulang terpisah.
Tulang sarcum merupakan penghubung tulang belakang ke panggul dan
juga menjadi tempat yang memungkinkan bagi sepasang pinggul kita
untuk melekat.
Pelvis merupakan cincin cekung berbentuk tulang yang
menghubungkan kolom vertebral ke femurs. Fungsi utamanya untuk
menyangga berat tubuh bagian atas ketika kita sedang duduk, berdiri dan
4

beraktivitas. Fungsi sekundernya adalah untuk mengandung (pada wanita)
ketika hamil dan melindungi viscera pelvis danabdominopelvic
viscera (bagian inferior saluran kemih, organ reproduksi internal).
Tulang pinggul saling terhubung satu sama lain pada anterior
pubis symphysis , dan posterior dengan sacrumpada sendi sacroiliac untuk
membentuk cincin panggul. Cincin ini sangat stabil sehingga
menyebabkan sedikitnya mobilitas/pergerakan.
Ligamen yang paling penting dari sendi sacroiliac adalah
ligamen sacrospinousdan sacrotuberous yang menstabilkan tulang pinggul
pada sacrum dan mencegah promonotory dari miring ke depan.
Sendi antara sacrum dan tulang ekor, sacrococcygeal symphysis,
diperkuat oleh serangkaian ligamen. Ligamensacrococcygeal
anterior merupakan perpanjangan dari anterior longitudinal
ligament (ALL) yang berjalan di sisi anterior dari badan vertebra. Serat
tidak teratur tersebut menyatu dengan periosteum. Setiap sisi panggul
terbentuk sebagai tulang rawan, yang mengeras sebagai tiga tulang utama
yang tinggal terpisah melalui masa kanak-kanak: ilium, ichium, pubis. Saat
kelahiran seluruh sendi pinggul (area acetabulum dan bagian atas femur)
masih terbuat dari tulang dan otot.
Gerakkan trunk/batang (bending forward) pada dasarnya adalah
sebuah gerakan dari otot-otot rektus, sementara flexi lateral (bending
menyamping) dicapai oleh kontraksi obliques bersama dengan lumborum
kuadratus dan otot punggung intrinsic. Dasar panggul memiliki dua fungsi:
Salah satunya adalah untuk menutup rongga panggul dan perut, serta
menanggung beban dari organ visceral, yang lain adalah untuk mengontrol
bukaan rektum dan organ urogenital yang menembus dasar panggul dan
membuatnya lebih lemah. Untuk melakukan keduanya, dasar panggul
terdiri dari beberapa lembar otot dan jaringan ikat.
Kerangka pelvis terdiri dari :
Dua os coxae yang masing-masing dibentuk oleh tiga tulang : os ilii,
os ischii, dan os pubis
5

Os sacrum
Os coccyges

Gambar 2.1 tulang pelvis
a. Os sacrum
Os sacrum terdiri dari lima rudimenter yang bersatu membentuk
tulang berbentuk baji yang cekung kearah anterior. Pinggir atas atau
basis ossis sacri bersendi dengan vertebra lumbalis V. pinggir inferior
yang sempit bersendi dengan os coccygis. Dilateral, os sacrum
bersendi dengan kedua os coxae membentuk articulation sacroiliaca.
Pinggir anterior dan atas vertebra sacralis pertama menonjol kedepan
sebagai batas posterior aperture pelvis superior, disebut promontorium
os sacrum yang merupakan bagian penting bagi ahli kandungan untuk
menentukan ukuran pelvis. Foramina vertebralia bersama-sama
membentuk kanalis sakralis. Kanalis sakralis berisi radiks anterior dan
posterior nervi lumbales, sacrales, dan coccygeus vilum terminale dan
lemak fibrosa.
b. Os coccyges
Os coccyges berartikulasi dengan sacrum di superior tulang ini
terdiri dari empat vertebra rudimenter yang bersatu membentuk tulang
segitiga kecil yang basisnya bersendi dengan ujung bawah sacrum.
6

Vertebra coccygea hanya terdiri atas corpus, namum vertebra pertama
mempunyai prosecus tranversus rudimenter dan kornu coccygeum.
Kornu adalah sisa pediculus dan procesus articularis superior yang
menonjol ke atas untuk bersendi dengan kornu scrale.
c. Os inominatum tulang panggul
Tulang ini terdiri dari tiga bagian komponen, yaitu : ilium, iscium,
dan pubis. Saat dewasa tulang-tulang ini telah menyatu seluruhnya
pada acetabulum.
Ilium : batas atas tulang ini adalah Krista iliaca.
Krista iliaca berjalan ke belakang dari spina iliaka anterior superior
menuju spina iliaka posterior superior. Di bawah tonjolan tulang ini
terdapat spina inferiornya. Permukaan aurikularis ilium disebut
permukaan glutealis karena disitulah perlekatan m. gluteus. Linea
glutealis inferior, anterior, dan posterior membatasi perlekatan glutei
ke tulang. Permukaan dalam ilium halus dan berongga membentuk
fossa iliaka. Fossa ilika merupakan tempat melekatnya m. iliakus.
Permukaan aurikularis ilium berartikulasi dengan sacrum pada sendi
sacroiliaca (sendi synovial).
Ligamentum sacroiliaca posterior, interoseus, dan anterior
memperkuat sendi sakroiliaka. Linea iliopectinealis berjalan disebelah
anterior permukaan dalam ilium dari permukaan aurikularis menuju
pubis.
Iscium : terdiri dari spina dibagian posterior yang membatasi
incisura isciadica mayor (atas) dan minor (bawah). Tuberositas iscia
adalah penebalan bagian bawah korpus iscium yang menyangga berat
badan saat duduk. Ramus iscium menonjol ke depan dari tuberositas
ini dan bertemu serta menyatu dengan ramus pubis inferior.
Pubis : terdiri dari korpus serta rami pubis superior dan inferior.
Tulang ini berartikulasi dengan tulang pubis ditiap sisi simfisis pubis.
Permukaan superior dari korpus memiliki Krista pubicum dan
7

tuberkulum pubicum. Foramen obturatorium merupakan lubang besar
yang dibatasi oleh rami pubis dan iscium.
d. Pelvis major (panggul besar, pelvis spurium)
Terletak cranial terhadap aperture pelvis superior (aditus pelvis).
Terbuka dan melebar pada ujung atasnya dan harus dipikirkan sebagai
bagian cavitas abdominalis. Melindungi isi abdomen dan setelah
kehamilan bulan ke tiga, membantu menyokong uterus gravidarum. Ke
arah ventral dibatasi dinding abdomen, ke arah lateral oleh fossa iliaca
dextra, dan fossa iliaca sinistra, dan ke arah dorsal oleh vertebra L. S
dan vertebra S1.
e. Pelvis minor (panggul kecil, pelvis verum)
Berada antara aperture pelvis superior dan aperture pelvis inferior
(exitus pelvis). Merupakan lokasi fisera pelvis (misalnya vesika
urinaria). Dibatasi oleh permukaan dalam os coxae, os sacrum dan os
coccygis. Ke bawah dibatasi oleh diafragma pelvis. Pelvis minor
mempunyai pintu masuk, pintu keluar, dan sebuah cavitas. Pelvis
minor merupakan saluran tulang yang harus dilalui oleh janin pada
proses persalinan.
Ada 4 sendi pelvis, yaitu :
Dua articulation sacroiliaca
Symphisis pubis
Articulation sacrococcygea

a. Dua articulation sacroiliaca
Articulation sacroiliaca kanan dan kiri terletak diantara korpus
vertebrae sacralis ke-1 dan ke-2 dan fascies artikularis ilium pada
kedua sisi. Karena berat tubuh dihantarkan lewat pelvis, maka sendi-
sendi ini dapat mengalami tekanan yang berat. Permukaan sacrum dan
ilium mempunyai banyak tonjolan dan cekungan yang saling mengunci
seperti jigsaq puzzle dan dengan demikian memeberikan kestabilan
8

pada sendi tersebut sesuai dengan kebutuhan, karena terdapat sedikit
gerakan sinovia pada setinggi vertebra sacralis ke-2.
Ligament sacroiliaca yang kuat mengelilingi sendi ini. Ligament
sacrospinosa dan sacrotuberosa menghubungkan sacrum dan os coxae.
Ligament sacrotuberostum terentang dari tepi bawah sacrum sampai
tuberisciadicum. Ligament sacrospinosum terentang dari tepi bawah
sacrum sampai spinaisciadicum. Semua ligamentum tersebut secara
normal membantu membatasi gerakan sacrum.
b. Simfisis pubis
Adalah articulation cartilaginosa sekunder yang panjangnya kira-
kira 4cm. Fascies artikularis dari corpus ossis pubis ditutupi oleh
cartilage hyaline, dan suatu diskus cartilaginosa yang menggabungkan
kedua corpora tersebut. Ligamentum pubicum mengelilingi sendi
tersebut dan hanya dapat melakukan gerakan yang minimum.
c. Articulation saccrococcygea
Merupakan articulation cartilaginosa sekunder dibentuk oleh tepi
bawah sacrum dan tepi atas coccyx. Sendi ini dikelilingi dan ditopang
oleh ligamentum sacrococcygeu dan dapat melakukan flexi dan
ekstensi yang merupakan gerakan pasif saat defekasi dan melahirkan.
Ligamentum poupart juga disebut ligamentum inguinale terentang
antara spinailiaca anterior superior dan corpus osis pubis.
Membrane obturatoria : membrane obturatoria menutup foramen
obturatorium dan padanya terdapat celah sempit untuk lewat pembuluh
darah, saraf dan pembuluh limfatika. Semua sendi ini dapat bertambah
keluasan gerakannya selama kehamilan karena terjadi elastisitas
(kelenturan) ligment yang memperkuat sendi tersebut akibat adanya
hormone relaxin.
Dinding pelvis dapat dibedakan atas :
Dinding ventral
Dua dinding lateral
9

Dinding dorsal
Sebuah dasar pelvis.
a. Dinding pelvis ventral
Dinding pelvis ventral pertama-tama dibentuk oleh kedua corpus
ossis pubis dan ramus ossis pubis serta simfisis pubica.
b. Dinding pelvis lateral
Dinding pelvis lateral memiliki kerangka tulang yang dibentuk
oleh bagian-bagian os coxae, muskulus obturator internus menutupi
seluruh dinding-dinding ini. Medial terhadap muskulus obturator
internus terdapat nervus obturatorius dan pembuluh obturatoria, dan
cabang lain dari pembuluh iliaca interna. Masing-masing musculus
obturator internus meninggalkan pelvis melalui foramen isciadicum
minus dan melekat pada femur (os femuris).
c. Dinding pelvis dorsal
Dinding pelvis dorsal dibentuk oleh sacrum, bagian-bagian os iscii
yang berdekatan, dan articulation sacroiliaca serta ligament sacroiliaca.
Muskulus piriformis melapisi dinding ini disebelah lateral. Masing-
masing muskulus piriformis meninggalkan pelvis minor melalui
foramen isciadicum (sciaticum) majus. Medial terhadap muskulus
piriformis terdapat saraf-saraf dari pleksus sacralis dan pembuluh
iliaca interna serta cabangnya.
d. Dasar pelvis
Dasar pelvis dibentuk oleh diafragma pelvis yang dibentuk oleh
musculus levator ani dan musculus coccygeus serta fascia-fascia yang
menututpi permukaan cranial dan permukaan caudal otot tersebut.
Diafragma pelvis terbentang antara os pubis disebelah ventral dan os
coccyges disebelah dorsal, dan dari dinding-dinding pelvis lateral yang
satu ke dinding-dinding pelvis lateral disberangnya. Karena itu,
10

diafragma pelvis menyerupai sebuah corong yang tergantung pada
tempat perlekatan tadi.
2.2 Klasifikasi Pelvis
Klasifikasi jenis pelvis normal yang dipakai adalah klasifikasi dari CALD
WELL dan MOLLOY. Ada 4 kelompok utama :
a. Ginekoid
Pelvis ginekoid adalah nama lain dari pelvis wanita normal.
Mempunyai pintu masuk berbentuk bulat dan pintu keluarnya
mempunyai spina isciadica yang tumpul (bulat), dan tidak tajam dan
tidak menonjol. Arcus pubis memiliki sudut yang membulat. Pelvis
jenis ini memiliki efek yang menguntungkan pada saat persalinan,
karena pelvis bulat didepan, maka fetus akan memberikan presentasi
kepala sehingga jalannya persalinan akan lebih mudah.
b. Android
Pelvis android mempunyai pintu masuk yang berbentuk jantung,
menyebabkan pelvis bagian depan sangat sempit. Mempunyai
kurvatura yang buruk. Pintu keluar membentuk angulus subpubicus
yang lebih tajam dan mempersempit ruangan. Spina isciadica tajam
dan membelok. Pelvis jenis ini membuat persalinan cenderung lebih
lama tetapi berlangsung normal.
c. Platipeloid
Pelvis jenis ini dapat disebabkan oleh factor perkembangan,
rakhitis atau factor herediter. Pintu masuknya berbentuk ginjal. Pintu
keluarnya cukup luas karena arcus pubisnya sangat besar. Pada pelvis
platipeloid proses persalinannya cukup sulit karena kepala fetus
mengalami kesulitan dalam memasuki pintu masuk pelvis.

11

d. Anthropoid
Pintu masuknya berbentuk oval, mempunyai diameter
anteroposterior yang panjang, tetapi diameter transversa yang lebih
pendek. Cavitas pelvisnya cukup memadai pada semua diameternya
tetapi agak dalam. Pintu keluarnya juga cukup memadai pada semua
diameternya, dengan arcus pubis yang agak lebar. Pelvis ini
mempunyai pintu masuk yang paling mudah dilalui kepala fetus. Lebih
sering occiput terletak pada cekung sacrum dan bukannya mengarah ke
anterior. Kemudian fetus melewati pelvis dengan posisi yang sama,
dan lahir dengan posisi occipitoposterior yang tidak mengalami
reduksi dan bukannya muka yang menghadap perineum.

Gambar 2.2 bentuk pelvis
2.3 Penyakit radang panggul (PID)
A. Definisi
Penyakit radang panggul (PID: Pelvic inflammatory Disease ) adalah
infeksi pada alat genital atas. Proses penyakitnya dapat meliputi
endometrium, tuba fallopii, ovarium myometrium, parametria, dan
peritoneum panggul. PID adalah infeksi yang paling penting dan
merupakan komplikasi infeksi menular seksual yang paling biasa.
12

Penyakit radang panggul merupakan komplikasi umum dari Penyakit
Menular Seksual (PMS).
B. Epidemiologi
Secara epidemiologi di Indonesia insidensinya diekstrapolasikan
sebesar lebih dari 850.000 kasus baru setiap tahun.

PID merupakan infeksi
serius yang paling biasa pada perempuan umur 16 sampai 25. Ada
kenaikan insidensi PID dalam 2 sampai 3 dekade yang lalu, disebabkan
oleh beberapa factor, antara lain adat istiadat social yang lebih liberal,
insidensi pathogen menulur seksual seperti C. trachomatis, dan pemakaian
metode kontrasepsi buka rintangan yang lebih luas seperti alat kontrasepsi
dalam Rahim (AKDR). Kurang lebih 15% kasus PID terjadi setelah
tindakan seperti biopsi endometrium, kuretase, histeroskopi, dan insersi
AKDR. Delapan puluh lima persen kasus terjadi infeksi spontan pada
perempuan usia reproduksi yang secara seksual aktif.
C. Etiologi
Penyakit radang panggul terjadi apabila terdapat infeksi pada
saluran genital bagian bawah, yang menyebar ke atas melalui leher rahim.
Butuh waktu dalam hitungan hari atau minggu untuk seorang wanita
menderita penyakit radang panggul. Bakteri penyebab tersering adalah N.
Gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis yang menyebabkan peradangan
dan kerusakan jaringan sehingga menyebabkan berbagai bakteri dari leher
rahim maupun vagina menginfeksi daerah tersebut. Kedua bakteri ini
adalah kuman penyebab PMS. Proses menstruasi dapat memudahkan
terjadinya infeksi karena hilangnya lapisan endometrium yang
menyebabkan berkurangnya pertahanan dari rahim, serta menyediakan
medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri (darah menstruasi).



13

D. Faktor Risiko
Wanita yang aktif secara seksual di bawah usia 25 tahun berisiko
tinggi untuk mendapat penyakit radang panggul. Hal ini disebabkan wanita
muda berkecenderungan untuk berganti-ganti pasangan seksual dan
melakukan hubungan seksual tidak aman dibandingkan wanita berumur.
Faktor lainnya yang berkaitan dengan usia adalah lendir servikal (leher
rahim). Lendir servikal yang tebal dapat melindungi masuknya bakteri
melalui serviks (seperti gonorea), namun wanita muda dan remaja
cenderung memiliki lendir yang tipis sehingga tidak dapat memproteksi
masuknya bakteri. Faktor risiko lainnya adalah:
1. Riwayat penyakit radang panggul sebelumnya
2. Pasangan seksual berganti-ganti, atau lebih dari 2 pasangan dalam
waktu 30 hari
3. Wanita dengan infeksi oleh kuman penyebab PMS
4. Menggunakan douche (cairan pembersih vagina) beberapa kali
dalam sebulan
5. Penggunaan IUD (spiral) meningkatkan risiko penyakit radang
panggul. Risiko tertinggi adalah saat pemasangan spiral dan 3
minggu setelah pemasangan terutama apabila sudah terdapat
infeksi dalam saluran reproduksi sebelumnya.

E. Patofisiologi
Infeksi dapat terjadi pada bagian manapun atau semua bagian saluran
genital atas endometrium (endometritis), dinding uterus (miositis), tuba
uterina (salpingitis), ovarium (ooforitis), ligamentum latum dan serosa
uterina (parametritis) dan peritoneum pelvis (peritonitis). Organisme dapat
menyebar ke dan di seluruh pelvis dengan salah satu dari lima cara.
1. Interlumen
Penyakit radang panggul akut non purpuralis hampir selalu (kira-kira
99%) terjadi akibat masuknya kuman patogen melalui serviks ke dalam
14

kavum uteri. Infeksi kemudian menyebar ke tuba uterina, akhirnya pus
dari ostium masuk ke ruang peritoneum. Organisme yang diketahui
menyebar dengan mekanisme ini adalah N. gonorrhoeae, C. Tracomatis,
Streptococcus agalatiae, sitomegalovirus dan virus herpes simpleks.
2. Limfatik
Infeksi purpuralis (termasuk setelah abortus) dan infeksi yang
berhubungan denngan IUD menyebar melalui sistem limfatik seperti
infeksi Myoplasma non purpuralis.
3. Hematogen
Penyebaran hematogen penyakit panggul terbatas pada penyakit
tertentu (misalnya tuberkulosis) dan jarang terjadi di Amerika Serikat.
4. Intraperitoneum
Infeksi intraabdomen (misalnya apndisitis, divertikulitis) dan
kecelakaan intra abdomen (misalnya virkus atau ulkus denganperforasi)
dapat menyebabkan infeksi yang mengenai sistem genetalia interna.
5. Kontak langsung
Infeksi pasca pembedahan ginekologi terjadi akibat penyebaran infeksi
setempat dari daerah infeksi dan nekrosis jaringan.
Terjadinya radang panggul di pengaruhi beberapa faktor yang
memegang peranan, yaitu:
1. Terganggunya barier fisiologik
Secara fisiologik penyebaran kuman ke atas ke dalam genetalia
eksterna, akan mengalami hambatan.
a. Diostium uteri internum
b. Di kornu tuba
c. Pada waktu haid, akibat adanya deskuamasi endometrium maka
kuman kuman pada endometrium turut terbuang.
15

Pada ostium uteri eksternum, penyebaran asenden kuman kuman
dihambat secara : mekanik, biokemik dan imunologik. Pada keadaan
tertentu, barier fisiologik ini dapat terganggu, misalnya pada saat
persalinan, abortus, instrumentasi pada kanalis servikalis dan insersi
alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR):
1. Adanya organisme yang berperang sebagai vector.
Trikomonas vaginalis dapat menembus barier fisiologik dan
bergerak sampai tuba fallopi. Beberapa kuman pathogen misalnya
E coli dapat melekat pada trikomonas vaginalis yang berfungsi
sebagai vektor dan terbawa sampai tuba fallopi dan menimbulkan
peradangan di tempat tersebut. Spermatozoa juga terbukti
berperan sebagai vektor untuk kuman kuman N gonerea,
ureaplasma ureolitik, C trakomatis dan banyak kuman kuman
aerobik dan anaerobik lainnya.
2. Aktivitas seksual
Pada waktu koitus, bila wanita orgasme, maka akan terjadi
kontraksi utrerus yang dapat menarik spermatozoa dan kuman
kuman memasuki kanalis servikalis.
3. Peristiwa Haid
Radang panggul akibat N gonorea mempunyai hubungan dengan
siklus haid. Peristiwa haid yang siklik, berperan pentig dalam
terjadinya radang panggul gonore.
Periode yang paling rawan terjadinya radang panggul adalah pada minggu
pertama setelah haid. Cairan haid dan jaringan nekrotik merupakan media
yang sangat baik untuk tumbuhnya kuman kuman N gonore. Pada saat
itu penderita akan mengalami gejala gejala salpingitis akut disertai panas
badan. Oleh karena itu gejala ini sering juga disebut sebagai Febril
Menses.


16

F. Jenis-jenis Penyakit Radang Panggul
Penyakit radang pelvis (PID) terdiri atas kumpulan suatu penyakit radang
pada suatu genital bagian atas termasuk endrometrium, salpingitis, abses
tuba ovarium, dan peritonitis pelvis. Infeksi pada organ reproduksi wanita
adalah penyebeb utama dari morbilitas pada pasien ginekologik.
Salpingo ooforitis. Salpingo-oophoritis adalah infeksi dan inflamasi di
tuba fallopi dan ovarium atau tuboovarian abscess. Terdiri dari :
Hidro salping : terdapat penutupan ostiumtuba abdominalis
Piosalping : dalam stadium menahun merupakan kantung dengan
dinding tebal yang berisi nanah
interstisialis kronika : dinding tuba menebal dan banyak fibrosis serta
ditemukan pengumpulan nanah sedikit ditengah-tengah jaringan otot
Kista tuba ovarial, abses tuba ovarial : bersatu dengan folikel ovarium,
pada abses tuba ovarial piosalping bersatu dengan abses ovarium
Abses ovarial : jarang terdapat sendiri dari stadium akut dapat
memasuki stadium menahun
Salpingitis tuberkulosa : merupakan bagian penting dari tuberculosis
genital

G. Gejala dan diagnosis
Keluhan/ gejala paling sering dikemukakan adalah nyeri
abdominopelvik. Keluhan lain bervariasi, antara lain keluarnya cairan
vagina atau perdarahan, demam dan menggigil, serta mual dan disuria.
Demam terlihat pada 60% sampai 80% kasus.
Diagnosis PID sulit karena keluhan gejala-gejala yang
dikemukakan sangat bervariasi. Pada pasien dengan nyeri tekan serviks,
uterus, dan adneksa, PID didiagnosis dengan akurat hanya sekitar 65%.
Karena akibat buruk PID terutama infertilitas dan nyeri panggul kronik,
maka PID harus dicurigai pada perempuan berisiko dan diterapi secara
17

agresif. Kriteria diagnostic dari CDC
9
dapat membantu akurasi diagnosis
dan ketepatan terapi. Kriteria minimum untuk diagnosis klinis adalah
sebagai berikut (ketiga-tiganya harus ada).
Nyeri gerak serviks
Nyeri tekan uterus
Nyeri tekan adneksa
Kriteria tambahan seperti berikut dapat dipakai untuk menambah
spesifisitas kriteria minimum dan mendukung diagnosis PID.
Suhu oral >28,3
o
C
Cairan serviks atau vagina tidak normal mukopurelen
Lekosit dalam jumlah banyak pada pemeriksaan mikroskop secret
vagina dengan salin
Kenaikan laju endap darah
Protein reaktif-C meningkat
Dokumentasi laboratorium infeksi serviks oleh N. gonorrheae atau C.
trachomatis
Kriteria diagnosis PID paling spesifik meliputi:
Biopsy endometrium disertai bukti histopatologis endometritis
USG transvaginal atau MRI memperlihatkan tuba menebal penuh
berisi cairan dengan atau tanpa cairan bebas di panggul atau komplkes
tubo-ovarial atau pemeriksaan Doppler menyarankan infeksi panggul
(missal hiperemi tuba)
Hasil pemeriksaan laparoskopi yang konsisten dengan PID
Beberapa ahali menganjurkan bahwa pasien dengan PID dirawat inap
agar dapat segera dimulai istirahat baring dan pemberian antibiotika
parenteral dalam pengawasan. Akan tetapi, untuk pasien-pasien PID
ringan atau sedang rawat jalan dapat memberikan kesudahan jangka
pendek dan panjang yang sama dengan rawat inap. Keputusan untuk
rawat inap ada di tangan dokter yang merawat. Disarankan memakai
kriteria rawat inap sebagai berikut :
18

Kedaruratan bedah (missal apensistis) tidak dapat dikesampingkan
Pasien sedang hamil
Pasien tidak memberi respons klinis terhadap antimikrobia oral
Pasien tidak mampu mengikuti atau menaati pengobatan rawat jalan
Pasien menderita sakit berat, mual dan muntah, atau demam tinggi
Ada abses tuboovarial.

H. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah dilakukan untuk melihat kenaikan dari sel darah
putih yang menandakan terjadinya infeksi. Kultur untuk GO dan
chlamydia digunakan untuk mengkonfirmasi diagnosis. Ultrasonografi
atau USG dapat digunakan baik USG abdomen (perut) atau USG vagina,
untuk mengevaluasi saluran tuba dan alat reproduksi lainnya. Biopsi
endometrium dapat dipakai untuk melihat adanya infeksi. Laparaskopi
adalah prosedur pemasukan alat dengan lampu dan kamera melalui insisi
(potongan) kecil di perut untuk melihat secara langsung organ di dalam
panggul apabila terdapat kelainan.
I. Terapi
Terapi PID harus ditunjukan untuk mencegah kerusakan tuba yang
menyebabkan infertilitas dan kehamilan ektopik, serta pencegahan infeksi
kronik. Banyak pasien yang berhasil diterapi dengan rawat jalan dan terapi
rawat jalan dini harus menjadi pendekatan terapeutik permulaan.
Pemilihan antibiotic harus ditujukan pada organisme etiologic utama (N
gonorrhoeae atau C. trachomatis) tetapi juga hrus mengarah pada sifat
polimikrobial PID.
Untuk pasien dengan PID ringan atau sedang terapi oral dan
parenteral mempunyai daya guna klinis yang sama sebagian besar klinis
menganjurkan terapi parenteral paling tidak selama 48 jam kemudia
19

dilanjutkan dengan terapi oral 24 jam setelah ada perbaikan klinis.
Rekomendasi terapi dari CDC.
Terapi parenteral
Rekomendasi terapi parenteral A
- Sefotetan 2 g intravena setiap 12 jam atau
- Sefotetan 2 g intravena setiap 2 jam ditambah
- Doksisiklin 100 mg oral atau parenteral setiap 12 jam
Rekomendasi terapi parenteral B
- Klindamisin 900 mg setiap 8 jam ditambah
- Gentamisin dosis buatan intravena atau intramuskuler (2 mg/kg
berat badan) diikuti dengan dosis pemeliharaan (1,5 mg/kg berat
badan) setiap 8 jam. Dapat diganti dengan dosis tunggal harian.
Terapi parenteral Alternatif
Tiga terapi alternative telah dicoba dan mereka mempunyai cakupan
spectrum yang luas.
- Levofloksasin 500 mg intravena 1 x sehari dengan atau tanpa
metronidazole 500 mg intravena setiap 8 jam atau
- Oflokasin 400 mg intravena setiap 12 jam dengan atau tanpa
metronidazole 500 mg intravena setiap 8 jam atau
- Ampisiln/ sulbaktam 3 g intravena setiap 6 jam ditambah
doksisiklin 100 mg oral atau intravena setiap 12 jam.

Terapi oral
Terapi oral dapat dipertimbangkan untuk penderita PID ringan atau sedang
karenan kesudahan klinisnya sama dengan terapi parenteral. Pasien yang
mendapat terapi oral dan tidak menunjukkan perbaikan setelah 72 jam
harus dire-evaluasi untuk memastikan diagnosis dan diberikan terapi
parentral baik dengan rawat jalan maupun inap.
Rekomendasi terapi A
- Levofloksasin 500 mg oral 1x setiap hari selama 14 atau ofokasisn
400 mg 2x sehari selama 14 hari, dengan atau tanpa
20

- Metronidazole 500 mg oral 2x sehari selama 14 hari.
Rekomendasi terapi B
- Seftriakson 250 mg intramuskuler dosis tunggal ditambah
doksisiklin oral 2x sehari selama 14 hari dengan atau tanpa
metronidozal 500 mg oral 2x sehari selama 14 hari, atau
- Sefalosporin 2 g intramuskuler dosis tunggal dan probenesid
ditambah doksisiklin oral 2x sehari selama 14 hari dengan atau
tanpa metronidazole 500 gm oral 2x sehari selama 14 hari, atau
- Sefalosporin generasi ketiga (missal seftizoksim atau sefotaksim)
ditambah doksisiklin oral 2x sehari selama 14 hari dengan atau
tanpa metronidazole 500 mg oral 2x sehari selama 14 hari.

J. Akibat buruk
Sekitar 25% pasien PID mengalami akibat buruk jangka panjang.
Infertilitas terjadi sampai 20%. Perempuan dengan riwayat PID
mempunyai 6 sampai 10 kali lebih tinggi risiko kehamilan ektopik. Telah
dilaporkan terjadi nyeri panggul kronik dan dispareunia. Sindroma fitz-
hugh-curtis adalah terjadinya perlengketan fibrosa perihepatik akibat
proses peradangan PID. Ini dapat menyebabkan nyeri akut dan nyeri tekan
kuadran kanan atas.

K. Pencegahan
Pencegahan lebih ditekankan pada terapi agresif terhadap infeksi
alat genital bawah dan terapi agresif dini terhadap infeksi alat genital atas.
Ini akan mengurangi insidensi akibat buruk jangka panjang. Terapi
pasangan seks dan pendidikan penting untuk mengurangi angka kejadian
kekambuhan infeksi



21

BAB III
KESIMPULAN

3.1 KESIMPULAN
Penyakit radang panggul (PID: Pelvic inflammatory Disease ) adalah
infeksi pada alat genital atas. Proses penyakitnya dapat meliputi endometrium,
tuba fallopii, ovarium myometrium, parametria, dan peritoneum panggul.
PID biasanya terjadi pada perempuan umur 16 sampai 25. Kenaikan
kenaikan insidensi PID disebabkan oleh beberapa factor, antara lain adat istiadat
social yang lebih liberal, insidensi pathogen menulur seksual seperti C.
trachomatis, dan pemakaian metode kontrasepsi buka rintangan yang lebih luas
seperti alat kontrasepsi dalam Rahim (AKDR). Wanita yang aktif secara seksual
di bawah usia 25 tahun berisiko tinggi untuk mendapat penyakit radang panggul.
Diagnosis PID sulit karena keluhan gejala-gejala yang dikemukakan
sangat bervariasi. Pada pasien dengan nyeri tekan serviks, uterus, dan adneksa,
PID didiagnosis dengan akurat hanya sekitar 65%. Kriteria minimum untuk
diagnosis klinis adalah sebagai berikut (ketiga-tiganya harus ada) yaitu
Nyeri gerak serviks
Nyeri tekan uterus
Nyeri tekan adneksa
Kriteria tambahan seperti berikut dapat dipakai untuk menambah
spesifisitas kriteria minimum dan mendukung diagnosis PID.
Suhu oral >28,3
o
C
Cairan serviks atau vagina tidak normal mukopurelen
Lekosit dalam jumlah banyak pada pemeriksaan mikroskop secret vagina
dengan salin
Kenaikan laju endap darah
Protein reaktif-C meningkat
Dokumentasi laboratorium infeksi serviks oleh N. gonorrheae atau C.
trachomatis
22

Terapi PID harus ditunjukan untuk mencegah kerusakan tuba yang
menyebabkan infertilitas dan kehamilan ektopik, serta pencegahan infeksi kronik.
Banyak pasien yang berhasil diterapi dengan rawat jalan dan terapi rawat jalan
dini harus menjadi pendekatan terapeutik permulaan. Pemilihan antibiotik harus
ditujukan pada organisme etiologi utama (N gonorrhoeae atau C. trachomatis)
tetapi juga hrus mengarah pada sifat polimikrobial PID.
Pencegahan lebih ditekankan pada terapi agresif terhadap infeksi alat
genital bawah dan terapi agresif dini terhadap infeksi alat genital atas.






















23

DAFTAR PUSTAKA

1. Sarwono Prawirohardjo, Prof, dr, DSOG dan Hanifa Wiknjosastro, Prof, dr,
DSOG; Ilmu Kandungan, YBP-SP,Edisi ke dua, estacan ke tiga, FKUI,
Yakarta; 1999, Hal 271 -27-2.
2. Robbins L., M.D; Buku Ajar Patologi II, Edisi ke empat, cetakan pertama.
Penerbit Buku Kedokteran EGC,Jakarta; 1995, Hal. 372-377.3.
3. Djuanda Adhi, Prof. DR. Hamzah Mochtar, Dr. Aisah Siti,DR ; Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin, Edisi ke tiga,cetakan pertama, FKUI, Jakarta ; 1987, Hal.
103-106, 358-364.4.
4. Winkosastro Hanifa, Prof, dr, DSOG ; Ilmu Kebidanan YBP-SP, Edisi ketiga,
cetakan ke enam, FKUI,Jakarta ; 2002. Hal:406-410.5.
5. Cuningham, Macdonald Gant : William Obstetri, Edisi 18, EGC, Jakarta;
1995, Hal: 1051-1057.6.
6. http://artikelindonesia.com/penyembuhan-endometriosis.html
7. http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=958&tbl=biaswanita
8. http://medicastore.com/penyakit/102/Endometriosis.html
9. http://en.wikipedia.org/wiki/Cervicitis
10. http://www.emedicinehealth.com/cervicitis/page10_em.html