Anda di halaman 1dari 34

FENOMENA CROSSI NG OVER PADA PERSILANGAN Drosophila

melanogaster N >< bcl, dan N >< bdp BESERTA RESIPROKNYA



LAPORAN PROYEK
Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Genetika I yang dibina oleh Bapak
Prof. Dr. A. D. Corebima


Oleh:
Kelompok 8
1. Fina Zakiyyah (120341421985)
2. Putri Islamingtyas (120341421991)
Offering B



UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGAM STUDI S1 PENDIDIKAN BIOLOGI
Maret 2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Genetika adalah ilmu yang mempelajari tentang pewarisan sifat
yang mencakup struktur dan fungsi gen serta pewarisan gen-gen dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Salah satu tokoh terkenal dalam ilmu
Genetika adalah John Gregory Mendel. J. G Mendel mengungkapkan
beberapa hukum genetika antara lain adalah hukum Mendel I, Hukum
Mendel II, Hukum pemisahan Mendel, dan Hukum pemilihan bebas
mendel. Salah satu Hukum Mendel adalah hukum pemisahan Bebas,
dimana diungkapkan bahwa selama masa meiosis gen-gen bisa berpisah
secara bebas. Namun hukum ini hanya berlaku apabila letak gen dalam
kromosom berbeda lokus. Untuk gen yang berada dalam satu lokus akan
menyebabkan perbedaan atau biasa disebut penyimpangan hukum mendel.
Salah satu peristiwa yang memperkuat hal ini adalah peristiwa pindah
silang.
Pindah silang (crossing over) merupakan suatu peristiwa dimana
telah terjadi pemutusan dan penyambungan kembali, yang diikuti oleh
pertukaran resiprok antara kedua kromatid di dalam bentuk bivalen
(Corebima, 2003). Kegiatan pindah silang melibatkan peristiwa pertukaran
bagian-bagian antara kromosom-kromosom homolog dan juga
menunjukkan bahwa faktor-faktor (gen) terletak pada kromosom. Menurut
Ayala dkk. (1984) dalam Corebima (2003) pindah silang umumnya terjadi
selama meiosis pada semua makhluk hidup berkelamin betina maupun
jantan dan antara semua pasangan kromosom homolog.
Peristiwa pindah silang dapat dibuktikan dengan cara melakukan
persilangan Drosophila melanogaster yang berbeda strain, dan melakukan
testcross pada turunan pertamanya. Untuk itu kami melakukan percobaan
persilangan antara Drosophila melanogaster N >< bdp beserta
resiproknya dan N >< bcl beserta resiproknya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka
kami dapat membuat rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana fenotip F
1
dan F
2
yang muncul dari persilangan
Drosophila melanogaster stain N >< bdp dan N >< bcl beserta
resiproknya?
2. Bagaimana nilai pindah silang dari persilangan Drosophila
melanogaster stain N >< bdp dan N >< bcl beserta
resiproknya?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui fenotip F
1
dan F
2
yang muncul dari persilangan
Drosophila melanogaster stain N >< bdp dan N >< bcl beserta
resiproknya.
2. Untuk mengetahui nilai pindah silang dari persilangan Drosophila
melanogaster stain N >< bdp dan N >< bcl beserta resiproknya.

D. Kegunaan
Penelitian ini memiliki kegunaan:
1. Mengetahui fenomena yang terjadi pada persilangan Drosophila
melanogaster stain N >< bdp dan N >< bcl beserta
resiproknya.
2. Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai fenomena pindah
silang (crossing over) yang terjadi pada Drosophila melanogaster
stain N >< bdp dan N >< bcl beserta resiproknya.

E. Ruang Lingkup dan Batasan
1. Persilangan yang dilakukan pada Drosophila melanogaster yaitu strain
N >< bdp dan N >< bcl beserta resiproknya untuk P1 dan
persilangan F2 dari F1 betina dengan induk jantan resesif pada masing-
masing persilangan.
2. Pengamatan fenotip yang dilakukan hanya sebatas morfologi luar
warna mata, faset mata, warna tubuh, bentuk sayap dan jenis kelamin.
3. Pengamatan pada fenotip F
1
maupun F
2
dilakukan selaman tujuh hari,
dimana hari pertama dianggap sebagai hari ke-1.
4. Penelitian yang dilakukan hanya mengenai fenomena pindah silang
tunggal

F. Asumsi Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini peneliti berasumsi bahwa:
1. Faktor internal seperti umur D. melanogaster yang digunakan dalam
penelitian dan aspek biologis setiap individu, khusunya saat
persilangan dianggap sama
2. Faktor abiotik atau faktor lingkungan (suhu, kelembapan, intensitas,
cahaya, pH) dianggap sama dan tidak berpengaruh terhadap fenomena
yang terjadi dari hasil persilangan.
3. Kondisi medium selama penelitian dianggap sama.

G. Definisi Operasional
1. Fenotip merupakan karakter yang dapat diamati dalam suatu individu
yang merupakan hasil persilangan suatu interaksi genotip dengan
lingkungan tempat hidup dan berkembang (Corebima, 2003). Pada
penelitian ini fenotip meliputi warna mata, faset mata, keadaan sayap
dan warna tubuh.
2. Genotip merupakan keseluruhan jumlah informasi genetik yang
terkandung dalam suatu makhluk hidup (Corebima, 2003).
3. Pindah silang merupakan proses penukaran segmen dari kromatid-
kromatid yang bukan sesaudara dan sepasang kromosom homolog
Pindah silang merupakan fenomena yang secara genetik jarang dapat
dideteksi pada kromatid sesaudara karena kromatid sesaudara biasanya
identik (Corebima, 1997).
4. Pindah silang tunggal ialah pindah silang yang terjadi pada satu tempat
(Suryo, 2008).
5. Rekombinan merupakan turunan yang bukan tipe parental (Corebima,
2003).
6. Chiasma merupakan pemutusan atau penyambungan kembali yang
diikuti oleh suatu pertukaran resiprok antara kedua kromatid di dalam
bentukan bivalen (satu kromatid bersifat paternal, sedangkan yang lain
bersifat maternal) (Corebima, 2003).















BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Sistematika
Menurut Strickberger (1962) sistematika dari Drosophila yang
digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Filum : Arthropoda
Anak filum : Mandibulata
Induk kelas : Hexapoda
Kelas : Insekta
Anak kelas : Pterygota
Bangsa : Diptera
Anak bangsa : Cyclorrapha
Induk suku : Ephydroidea
Suku : Drosophilidae
Marga : Drosophila
Anak marga : Sophophora
Spesies : Drosophila melanogaster
D. melanogaster merupakan individu haploid yang
berkembangbiak secara seksual dengan cepat. Ukuran tubuh D.
melanogaster biasanya lebih kecil daripada ukuran tubuh betina dengan
bagian ujung abdomen tubuhnya berwarna hitam. Dalam penelitian ini D.
melanogaster yang digunakan adalah strain N, bdp dan bcl.

B. Pindah Silang (Crossing over)
Pindah silang (crossing over) merupakan fenomena dimana terjadi
pemutusan dan penyambungan kembali yang diikuti oleh pertukaran
resiprok antara kedua kromatid di dalam bentukan bivalen (Corebima,
2003). Pindah silang ini pertama kali dikemukakan oleh T. H Morgan
untuk menjelaskan terjadinya kombinasi rekombinan dari faktor-faktor
yang disimpulkan saling terpaut berdasarkan data genetik (Gardner, dkk.,
1984 dalam Corebima, 2003).
Pindah silang merupakan peristiwa yang terjadi selama sinapsis dari
kromosom-kromosom homolog pada zygoten dan pacyten dari profase I
meiosis (Gardner, dkk:1984 dalam Corebima 2003). Gardner dkk (1984)
menyatakan bahwa peristiwa pindah silang terjadi karena replikasi
kromosom berlangsung selama interfase, maka peristiwa pindah silang
terjadi pada tahap tetrad pasca replikasi pada saat tiap kromosom telah
mengganda, sehingga telah terbentuk empat kromatid untuk tiap pasang
kromosom homolog.
Menurut Ayala, dkk (1984) dalam Corebima (2003), peristiwa pindah
silang pada marga Drosophila hanya terjadi pada betina dan tidak pernah
terjadi pada individu jantan.

C. Faktor Penyebab Terjadinya Pindah Silang
Menurut Gardner (1991) faktor yang menjadi penyebab terjadinya
pindah silang adalah sebagai berikut:
1. Lokus yang tersusun pada kromosom tersusun secara linier pada
deretnya.
2. Dua alela dari gen heterozigot menempati posisi yang cocok pada
kromosom yang homolog.
3. Terjadinya pemutusan setiap kromosom homolog dari dua kromosom
yang homolog sehingga terjadi pertukaran posisi.
4. Pindah silang terjadi pada tahap profase I pada tahap meiosis tepatnya
pada fase pachiten selama sinapsis dari kromosom homolog.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi terjadinya pindah silang adalah
faktor hormonal dan faktor lingkungan. Faktor-faktor tersebut adalah:
1. Umur
2. Suhu
3. Radiasi
4. Kation-kation Ca
2+
dan Mg
2+

5. Adanya efek sitoplasma, dan
6. Jenis kelamin.
Peristiwa pindah silang terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Pindah silang tunggal, ialah pindah silang yang terjadi pada satu
tempat. Dengan terjadinya pindah silang itu akan terbentuk 4
macam gamet. Dua macam gamet memiliki gen-gen yang sama dengan gen-
gen yang dimiliki induk (parental), maka dinamakan gamet-gamet
tipe parental. Dua gamet lainnya merupakan gamet-gamet baru,
yang terjadi akibat adanya pindah silang. Gamet-gamet ini
dinamakan gamet-gamet rekombinasi. Gamet-gamet tipe parental
dibentuk jauh lebih banyak dibandingkan dengan gamet-gamet
tipe rekombinasi.
2. Pindah silang ganda, ialah pindah silang yang terjadi pada dua
tempat. Jika pindah silang ganda (dalam bahasa Inggris :double
crossingover) berlangsung di antara dua buah gen yang terangkai,
maka terjadinya pindah silang ganda itu tidak akan tampak dalam
fenotip, sebab gamet-gamet yang dibentuk hanya dari tipe parental
saja atau dari tipe rekombinansi saja atau tipe parental dan tipe
rekombinasi akibat pindah silang tunggal. Akan tetapi, misalkan di
antara gen A dan B masih ada gen ke tiga, misalnya gen C, maka
terjadinya pindah silang ganda antara gen A dan B akan
nampak (Suryo, 2010).





BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS
A. Kerangka Konseptual
Proyek ini dilakukan untuk mengetahui peristiwa pindah silang
(crossing over) yang terjadi pada Drosophila melanogaster stain N ><
bdp dan N >< bcl beserta resiproknya. Pada peristiwa pindah silang
ini terjadi pertukaran bagian-bagian antara kromosom homolog dalam satu
lokus yang menyebabkan munculnya tipe yang bukan tipe parental atau
disebut dengan tipe rekombinan.
Kerangka konseptual dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:



kesimpulan : hasil F
2
dari persilangan N >< bdp dan N >< bcl menunjukkan adanya peristiwa pindah silang
pembahasan : (hasil dari persilangan D. melanogaster N >< bdp dan N >< bcl beserta resiproknya maka
akan menghasilkan genotipe rekombinan yang bila fertilisasi akan menghasilkan keturunan selain
parental). Analisis data menggunakan porsentas.e untuk pindah silang
rekonstruksi kromosom dan presentase pindah silang
persilangan D. melanogaster N >< bdp dan N >< bcl beserta resiproknya
peristiwa pindah silang terjadi pada saat
meiosis I (akhir profase I atau permulaan
metafase I
peristiwa pindah silang hanya terjadi
pada individu betina yang normal
peristiwa pindah silang ditandai dengan adanya rekombinan atau turunan yang bukan parental dan hanya
terjadi pada kromosom yang sama
B. HIPOTESIS
1. Fenotip yang muncul pada persilangan pertama (F1) dari persilangan
Drosophila melanogaster stain N >< bdp dan N >< bcl beserta
resiproknya adalah N dan N heterozigot.
2. Fenotip yang muncul pada keturunan kedua (F2) dari persilangan
Drosophila melanogaster stain N >< bdp dan N >< bcl beserta
resiproknya adalah strain parental yaitu N, bdp dan bcl, serta strain tipe
rekombinan yaitu b, dp dan cl.
















BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Rancangan dan Jenis Praktikum
Penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian deskriptif observatif
dimana pengamatan dilakukan secara langsung pada hasil F1 dan F2 hasil
persilangan Drosophila melanogaster stain N >< bdp dan N >< bcl
beserta resiproknya. Dilakukan tiga kali ulangan untuk persilangan
parental dan satu kali ulangan untuk persilangan F1. Pengamatan
dilakukan pada masing-masing strain hasil F1 maupun F2 dan dianalisis
fenomena yang terjadi.

B. Waktu dan Tempat
Waktu pelaksanaan proyek dimulai pada tanggal 8 Februari 2014
bertempat di gedung O5 Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas
Negeri Malang lantai 3 ruang Genetika 310

C. Populasi dan Sampel
Populasi yang digunakan adalah seluruh populasi Drosophila
melanogaster dengan sampel D. melanogaster strain N, bdp dan bcl yang
disediakan oleh laboratorium.

D. Alat dan Bahan
Alat:
- Bak plastik - Blender
- Botol selai - Cutter
- Gelas plastik - Gunting
- Kain kasa - Kertas label
- Kertas pupasi - Kompor gas
- Mikroskop stereo - Panci
- Pengaduk kayu - Pisau
- Plastik - Selang
- Selang ampul - Spon
- Timbangan
Bahan:
- Drosophila melanogaster strain N, bdp dan bcl
- Pisang rajamala
- Tape singkong
- Fermipan
- Gula merah
- Air

E. Prosedur Kerja
Cara membuat medium:
1. Menimbang bahan berupa pisang, tape singkong, dan gula merah
dengan perbandingan 7:2:1 untuk satu resep, yaitu 700 gram pisang,
200 gram tape singkong, dan 100 gram gula merah.
2. Memotong-motong gula merah dan pisang rajamala yang telah
dikupas.
3. Membersihkan tape singkong dari serat-seratnya.
4. Memblender pisang dan tape singkong dengan menambahkan air
secukupnya sampai halus, sementara gula merah yang telah dipotong-
potong dipanaskan dengan air sampai larut.
5. Setelah halus, adonan pisang dan tape singkong tersebut dimasukkan
ke dalam panci ditambahkan dengan gula merah yang terlarut dan air
secukupnya.
6. Adonan dimasak selama 45 menit untuk satu resep. Jika lebih dari satu
resep, adonan dimasak selama satu jam.
7. Setelah 45 menit (atau satu jam), adonan medium dimasukkan ke
dalam botol selai dan segera ditutup dengan spon.
8. Medium didinginkan.
9. 7 butir yeast ke dalam medium serta memberi kertas pupasi.
10. Setelah medium dalam botol selai sudah dingin, botol selai dibersihkan
dari uap.
Prosedur praktikum:
1. Pengamatan fenotip strain N, bdp, dan bcl
a. Mengambil satu ekor D. melanogaster dari botol stok dan
memasukkannya ke dalam plastik bening.
b. Mengamati fenotip D. melanogaster menggunakan mikroskop
stereo. Pengamatan meliputi warna mata, warna tubuh, dan
keadaan sayap.
c. Mencatat sebagai data
2. Peremajaan
a. Menyiapkan botol selai yang telah diisi medium dan siap dipakai.
b. Memasukkan beberapa pasang D. melanogaster untuk setiap strain
pada botol yang berbeda (untuk masing-masing strainnya).
c. Memberi label pada botol sesuai strain dan tanggal peremajaan.
d. Peremajaan dilakukan secara berkala untuk menyediakan stok
selama proyek dilakukan.
3. Pengampulan
a. Setelah muncul pupa hitam pada botol stok, pupa tersebut di ambil
dengan menggunakan kuas kemudian di isolasi pada selang ampul
yang telah diisi potongan pisang.
b. Menunggu hingga pupa menetas menjadi imago. Usia imago yang
dapat disilangkan maksimal 3 hari sejak pupa menetas.
4. Persilangan P1
a. Dari ampulan yang sudah menetas dipilih D. melanogaster strain
N disilangkan dengan bdp, beserta resiproknya dan D.
melanogaster strain N disilangkan dengan bcl beserta
resiproknya dan dimasukkan dalam botol dengan medium yang
baru. Dengan catatan umur lalat yang digunakan untuk persilangan
tidak lebih dari 2 hari setelah menetas.
b. Memberikan label jenis strain, jenis persilangan dan tanggal pada
botol medium.
c. Setelah dua hari persilangan induk jantan dilepas.
d. Setelah muncul larva induk betina dipindahkan dalam medium
baru (di beri label B) begitu seterusnya hingga induk betina mati,
minimal pemindahan sampai pada botol D.
e. Dibiarkan sampai mucul anak hasil persilangan, kemudian
mengamati fenotip yang muncul pada F
1
. Pengamatan fenotip
dilakukan selama 7 hari sejak hari pertama pupa menetas dan
dihitung setiap harinya.
5. Persilangan F1
a. Mengampul dari F
1
sesuai dengan ulangannya.
b. Menyilangkan hasil ampulan dengan catatan persilangan dilakukan
dari ampulan botol yang sama pada medium baru.
c. Memberikan label jenis strain, jenis persilangan dan tanggal pada
botol medium.
d. Setelah dua hari persilangan induk jantan dilepas.
e. Setelah muncul larva induk betina dipindahkan dalam medium baru
(diberi label B) begitu seterusnya hingga induk betina mati,
minimal pemindahan sampai pada botol D.
f. Dibiarkan sampai mucul anak hasil persilangan, kemudian
mengamati fenotip yang muncul pada F
2
, mulai dari hari ke-1
sampai hari ke-7 dan dihitung jumlah keturunan F
2
.

F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah dengan menghitung dan
mengamati fenotip F1 dan F2 masing-masing persilangan yang dilakukan
sejak hari pertama sampai hari ke tujuh pupa menetas.



G. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dilakukan pada penelitian ini adalah
dengan melakukan rekonstruksi kromosom tubuh pada setiap persilangan.




















BAB V
DATA DAN ANALISIS DATA
A. Data
1. Pengamatan Fenotip P1
a. Strain N (wild-type)
- Warna mata merah
- Permukaan faset mata halus
- Warna tubuh coklat
- Sayap menutupi tubuh dengan sempurna
b. Strain bdp (black-dumpy)
- Warna mata merah
- Permukaan faset mata halus
- Warna tubuh hitam
- Sayap tidak menutupi tubuh dengan sempurna dan ujungnya
berlekuk
c. Strain bcl (black-clot)
- Warna mata hitam
- Permukaan faset mata halus
- Warna tubuh hitam
- Sayap menutupi tubuh dengan sempurna
2. Pengamatan fenotip F1
Keturunan F1 pada semua persilangan baik pada stain N ><
bdp dan N >< bcl beserta resiproknya menghasilkan keturunan
berupa strain N dan N.
3. Pengamatan Fenotip F2
Strain parental muncul pada keturunan F2 yaitu N, bdp, dan bcl.
Namun pada keturunan F2 ini juga muncul strain rekombinan yaitu
strain b, dp dan cl.
a. Strain b
- Warna mata merah
- Faset mata halus
- Warna tubuh hitam
- Sayap menutupi tubuh dengan sempurna
b. Strain dp
- Warna mata merah
- Faset mata halus
- Warna tubuh coklat
- Sayap tidak menutupi tubuh dengan sempurna dan ujungnya
berlekuk.
c. Strain cl
- Warna mata hitam
- Faset mata halus
- Warna tubuh coklat
- Sayap menutupi tubuh dengan sempurna.
4. Tabel pengamatan persilangan F1 Drosophila melanogaster stain N
>< bdp beserta resiproknya.
a. Strain N jantan dan bdp betina U
1
botol A
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
13 7 0 14 3 0 0 37
N
betina
18 22 0 21 4 0 0 65

b. Strain N jantan dan bdp betina U
2
botol A
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
1 16 3 0 6 0 0 20
N
betina
2 10 13 0 10 0 0 35

c. Strain N jantan dan bdp betina U
3
botol A
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
3 12 9 6 2 1 0 33
N 3 13 14 8 4 0 0 42
betina

d. Strain N betina dan bdp jantan U
3
botol A
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
2 16 3 0 3 0 0 24
N
betina
6 13 2 0 8 0 0 29

e. Strain N jantan dan bdp betina U
1
botol B
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
6 8 2 3 7 1 1 28
N
betina
13 5 4 8 5 0 0 35

f. Strain N jantan dan bdp betina U
2
botol B
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
7 7 0 2 2 0 0 18
N
betina
7 5 0 4 0 0 0 16

g. Strain N jantan dan bdp betina U
3
botol B
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
4 3 1
N
betina
4 0 1

h. Strain N jantan dan bdp betina U
1
botol C
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
5 2 1 3 2 0 0 13
N
betina
11 3 9 8 4 3 0 38

i. Strain N jantan dan bdp betina U
2
botol C
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
4 0 2 0 0 0 0 6
N
betina
1 0 1 0 0 1 0 3

5. Tabel pengamatan persilangan F1 Drosophila melanogaster stain N
>< bcl beserta resiproknya.
a. Strain N betina dan bcl jantan U
1
botol A
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
3 3 5 3 0 0 0 14
N
betina
4 7 12 2 1 0 0 26

b. Strain N betina dan bcl jantan U
3
botol A
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
6 4 5 2 0 0 0 17
N
betina
3 22 9 4 1 0 0 39

c. Strain N jantan dan bcl betina U
2
botol A
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
1 0 4 5 0 0 0 10
N
betina
3 0 2 5 0 0 0 10

d. Strain N jantan dan bcl betina U
4
botol A
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
5 0 4 0 0 0 0 9
N
betina
6 0 8 1 0 0 0 15

6. Tabel pengamatan persilangan F2 Drosophila melanogaster stain N
>< bdp beserta resiproknya.
a. F1 >< F1 N betina dan bdp jantan U
3(1)
botol A
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
0 4 10 7 1 2 0 24
N
betina
3 5 14 12 0 0 0 34
bdp
jantan
0 1 0 1 0 0 0 2
bdp
betina
0 1 1 3 0 0 1 6
b
jantan
0 0 1 1 0 0 0 1
b
betina
0 0 0 1 0 1 0 2
dp
jantan
0 1 6 2 0 0 0 9
dp
betina
1 0 4 7 0 0 0 12

b. F1 >< F1 N betina dan bdp jantan U
3(2)
botol A
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
0 2 4 5 3 3 3 20
N
betina
4 8 12 8 2 6 5 43
bdp
jantan
0 1 0 1 0 0 0 1
bdp
betina
0 0 1 3 0 0 0 4
b
jantan
0 0 1 0 0 2 0 3
b
betina
0 0 0 1 0 0 6 7
dp
jantan
0 0 2 2 0 3 0 7
dp
betina
2 3 4 4 0 0 3 16


c. F1 >< F1 N jantan dan bdp betina U
2(1)
botol A
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
0 3 4 4 2 0 3 16
N
betina
5 4 7 12 1 4 1 26
bdp
jantan
0 1 2 1 1 0 0 5
bdp
betina
3 2 2 3 0 0 1 11
b
jantan
0 2 1 1 0 0 0 4
b
betina
0 1 0 2 0 0 0 3
dp
jantan
0 2 1 4 0 0 0 7
dp
betina
0 1 2 6 0 0 0 9

d. F1 >< F1 N jantan dan bdp betina U
2(2)
botol A
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
1 2 7 7 2 7 5 31
N
betina
10 13 10 7 6 6 5 57
bdp
jantan
0 1 1 3 0 0 0 5
bdp
betina
3 2 1 1 1 1 0 9
b
jantan
0 0 1 1 0 0 0 2
b
betina
0 1 1 2 0 1 1 6
dp
jantan
0 1 3 3 3 0 0 10
dp
betina
3 4 4 5 0 0 0 16

e. F1 >< F1 N jantan dan bdp betina U
1(1)
botol A
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N 1 12 5 2 2 0 1 23
jantan
N
betina
3 13 15 1 2 4 1 39
bdp
jantan
1 1 1 0 1 0 0 4
bdp
betina
3 2 2 0 3 0 0 10
b
jantan
0 1 0 0 1 0 0 2
b
betina
1 1 2 0 2 0 0 6
dp
jantan
0 5 4 0 0 1 0 10
dp
betina
4 4 8 0 1 2 2 21

f. F1 >< F1 N jantan dan bdp betina U
1(2)
botol A
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
2 4 0 5 3 1 0 15
N
betina
4 6 0 8 1 4 3 26
bdp
jantan
0 1 0 1 0 0 0 2
bdp
betina
1 2 0 1 0 0 1 5
b
jantan
0 0 0 1 0 1 0 2
b
betina
0 0 0 1 2 0 0 3
dp
jantan
0 5 0 4 0 0 0 9
dp
betina
2 4 0 5 0 1 0 12

g. F1 >< F1 N betina dan bdp jantan U
3(1)
botol B
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
6 0 4 1 0 0 0 11
N
betina
6 0 0 0 0 0 0 6
bdp
jantan
3 0 0 0 0 0 0 3
bdp
betina
4 0 0 1 0 0 0 5
b
jantan
0 0 2 1 0 0 0 3
b
betina
0 2 0 0 0 0 0 2
dp
jantan
0 0 0 1 0 0 0 1
dp
betina
2 0 0 0 0 0 0 2

h. F1 >< F1 N jantan dan bdp betina U
1(1)
botol B
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
0 2 1 0 1 2 3 9
N
betina
1 0 1 1 0 0 2 5
bdp
jantan
0 1 0 0 2 1 0 4
bdp
betina
1 0 0 0 0 0 1 2
b
jantan
0 0 1 0 0 0 0 1
b
betina
0 0 0 0 3 1 0 4
dp
jantan
0 1 0 0 0 0 0 1
dp
betina
1 0 0 0 2 3 0 6

i. F1 >< F1 N jantan dan bdp betina U
1(2)
botol B
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
1 9 1 3 0 1 0 15
N
betina
3 4 4 3 0 0 0 14
bdp
jantan
0 0 2 1 0 0 0 3
bdp
betina
1 0 3 2 0 1 0 7
b
jantan
0 2 2 4 0 0 0 8
b 0 2 3 1 0 0 0 6
betina
dp
jantan
0 2 1 2 0 1 0 5
dp
betina
0 1 4 1 0 0 0 6

j. F1 >< F1 N jantan dan bdp betina U
2(1)
botol B
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
5 1 2 0 0 0 0 8
N
betina
17 0 2 0 1 0 0 20
bdp
jantan
2 0 0 0 0 0 0 2
bdp
betina
6 2 0 0 0 0 0 8
b
jantan
1 1 0 1 0 0 1 4
b
betina
0 0 2 0 0 1 0 3
dp
jantan
0 0 1 1 0 0 0 2
dp
betina
0 2 0 4 0 2 0 8

k. F1 >< F1 N jantan dan bdp betina U
2(2)
botol B
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
1 1 3 3 2 0 1 11
N
betina
7 1 2 5 0 0 0 15
bdp
jantan
0 1 0 1 0 0 0 2
bdp
betina
0 1 1 0 0 0 0 2
b
jantan
0 0 0 1 0 0 0 1
b
betina
0 0 0 0 1 0 0 1
dp
jantan
0 1 0 2 0 0 0 3
dp
betina
0 0 4 2 0 0 0 6
7. Tabel pengamatan persilangan F2 Drosophila melanogaster stain N
>< bcl beserta resiproknya.
a. F1 >< F1 N jantan dan bcl betina U
1(1)
botol A
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
2 5 1 1 1 4 0 14
N
betina
0 1 7 0 1 1 0 10
bcl
jantan
0 1 0 0 1 0 0 2
bcl
betina
0 2 0 0 1 0 0 3
b
jantan
0 2 0 0 0 0 0 2
b
betina
1 0 0 0 0 3 0 4
cl
jantan
0 3 0 0 1 2 0 6
cl
betina
0 0 0 0 0 1 0 1

b. F1 >< F1 N betina dan bcl jantan U
1(1)
botol A
Hasil
F1
Hari
ke 1
Hari
ke 2
Hari
ke 3
Hari
ke 4
Hari
ke 5
Hari
ke 6
Hari
ke 7
Total
N
jantan
3 3 0 2 0 1 0 9
N
betina
1 4 4 0 2 0 0 11
bcl
jantan
0 2 0 1 0 1 0 4
bcl
betina
0 1 1 3 0 1 0 6
b
jantan
1 0 3 1 0 0 0 5
b
betina
2 0 0 2 1 0 0 5
cl
jantan
0 2 0 1 1 0 0 4
cl
betina
2 1 2 0 1 1 0 7



B. Analisis Data
Rekonstruksi Kromosom Tubuh
a) Persilangan N >< bdp
P1 : N >< bdp

Genotipe :


><




Gamet : b+ dp+, b dp

F1 :


(N heterozigot)

Genotip :


><





(N) ><


(bdp)



b+ b+ b b
dp+ dp+ dp dp






b+ b+ b b b+ b+ b b
dp+ dp+ dp dp dp+ dp- dp dp

Gamet : b+dp+, b dp+, b+dp, b dp b dp
F2 :


(N)


(b)


(dp)


(bdp)

b) Persilangan N >< bdp
P1 : N >< bdp

Genotipe :


><




Gamet : b+ dp+, b dp

F1 :


(N heterozigot)

Genotip :


><






(N) ><


(bdp)



b+ b+ b b
dp+ dp+ dp dp






b+ b+ b b b+ b+ b b
dp+ dp+ dp dp dp+ dp dp dp

Gamet : b+dp+, b dp+, b+dp, b dp b dp
F2 :


(N)


(b)


(dp)


(bdp)

c) Persilangan N >< bcl
P1 : N >< bcl

Genotipe :


><




Gamet : b+ cl+, b cl

F1 :


(N heterozigot)

Genotip :


><





(N) ><


(bcl)



b+ b+ b b
cl+ cl+ cl cl



b+ b+ b b b+ b+ b b
cl+ cl+ cl cl cl+ cl cl cl

Gamet : b+cl+, b cl+, b+cl , b cl b cl
F2 :


(N)


(b)


(cl)


(bcl)

d) Persilangan N>< bcl
P1 : N>< bcl

Genotipe :


><




Gamet : b+ cl+, b cl

F1 :


(N heterozigot)

Genotip :


><



b cl
b cl
(N) ><


(bcl)



b+ b+ b b
cl+ cl+ cl cl




b+ b+ b b b+ b+ b b
cl+ cl+ cl cl cl+ cl cl cl

Gamet : b+cl+, b cl+, b+cl, b cl b cl
F2 :
b cl
b dp
(N)


(b)


(cl)


(bcl)












BAB VI
PEMBAHASAN
Dari hasil analisis dapat diketahui bahwa hasil persilangan parental antara
Drosophila melanogaster stain N >< bdp dan N >< bcl beserta resiproknya
menghasilkan strain normal yang bermata merah, bertubuh coklat dan sayap
menutupi tubuh sempurna. Pemunculan strain normal pada F1 menunjukkan
bahwa alel pembawa gen-gen normal dominan terhadap alel pembawa gen bdp
dan gen bcl sehingga pada F1 muncul strain N yang bersifat heterozigot. Suatu
karakter heterozigot adalah suatu karakter yang dikontrol oleh dua gen sepasang
yang berlainan (Corebima, 2003).
Pada persilangan antara F1 dihasilkan F2 yang memunculkan tipe parental N,
bdp dan bcl serta muncul pula tipe rekombinan berupa b, dp dan cl. Hal ini dapat
dijelaskan bahwa strain N heterozigot yang disilangkan akan akan menghasilkan
pemisahan bebas dari alel-alel resesif yang sebelumnya tertutupi oleh alel
dominan. Sehingga sifat yang sebelumnya tidak muncul pada hasil persilangan
parental muncul pada persilangan kedua.
Hal ini sesuai dengan rekonstruksi kromosom. Dimana terjadi penyimpangan
hukum Mendel berupa pindah silang yang terjadi pada gen-gen kromosom betina
dari masing-masing strain N heterozigot yang disilangkan. Pindah silang yang
terjadi adalah pindah silang tunggal, dimana pindah silang terjadi pada satu
tempat. D. melanogaster strain bdp terletak pada kromosom II yang merupakan
kromosom tubuh. Dalam Corebima (2003), pemetaan kromosom kelamin X yang
telah dilakukan oleh A. H. Sturtevan menunjukkan bahwa strain b dan strain dp
juga terletak pada kromosom II. Begitu pula dengan D. melanogaster strain bcl
yang terletak pada kromosom II dan menghasilkan F2 yaitu b dan cl yang juga
terletak pada kromosom II.
Dengan terjadinya pindah silang maka akan muncul 4 macam gamet.
Gamet-gamet tersebut adalah dua macam gamet dengan gen parental, dan dua
macam gamet dengan gen tipe rekombinan. Gamet-gamet tipe parental berjumlah
lebih banyak daripada gamet-gamet tipe rekombinan. Munculnya tipe rekombinan
disebabkan adanya pertukaran bagian-bagian antara kromosom-kromosom
homolog sehingga terjadi perubahan posisi faktor (gen) tertentu dari suatu
kromosom ke pasangan homolognya.
Dalam analisis belum bisa dilakukan analisis secara statistika dikarena
ulangan persilangan parental belum memenuhi 3 kali ulangan. Maka belum bisa
diketahui nilai pindah silang yang bisa digunakan untuk membandingkan tipe
parental dan tipe rekombinan yang muncul. Untuk itu kami akan meneruskan
percobaan lebih lanjut untuk memenuhi jumlah ulangan yang belum selesai
tersebut.
















BAB VII
PENUTUP
A. Kesimpulan
Fenotip yang muncul dari persilangan pertama Drosophila
melanogaster strain N >< bdp dan N >< bcl beserta resiproknya
menghasilkan keturunan berupa strain N dan N yang bersifat
heterozigot. Setelah N dan N yang merupakan F1 disilangkan
menghasilkan dua macam tipe gamet, yaitu gamet parental dan gamet
rekombinan. Fenotip dari persilangan F1 strain N yang berasal dari
persilangan N >< bdp beserta resiproknya menghasilkan F2 tipe
parental N dan bdp serta tipe rekombinan b dan dp. Fenotip dari
persilangan F1 strain N yang berasal dari persilangan N >< bcl beserta
resiproknya menghasilkan tipe parental N dan bcl serta tipe rekombinan b
dan cl.

B. Saran
1. Dalam melakukan penelitian mengenai Drosophila melanogaster ini
dibutuhkan ketelitian, kesabaran dan ketekunan untuk selalu konsisten
dalam melakukan semua prosedur penelitian. Terutama dalam
peremajaan, pengampulan, persilangan, maupun dalam pengamatan
hasil persilangan.
2. Faktor yang paling penting dalam melakukan penelitian ini terutama
adalah kekompakan antar individu dalam kelompok agar didapatkan
hasil yang efisien dengan waktuktu yang bisa efektif dimanfaatkan
sebaik mungkin.
3. Dalam melaksanakan penelitian juga diharapkan peneliti
memperhatikan faktor-faktor luar yang dapat mempengaruhi
keberhasilan proyek seperti kebersihan dan kualitas medium.


DAFTAR RUJUKAN
Corebima, A. D. 2004. Genetika Mendel. Surabaya: Airlangga University Press
Gardner, E.J. dkk. 1991. Priciples of Genetics. John Wiley dan Sons, New York
Kimball, John W. Biologi. Jakarta: Erlangga
Klugh, W.S & Clummings M.R. 2000. Consep of Genetic. Nre Jersey: Pretince
Hall Inc.
Strickberger, M. W. 1985. Genetics Third Edition. New York: Macmillan
Pubishing Company
Strickberger, M. W. 1985. Genetics Third Edition. New York: Macmillan
Pubishing Company
Suryo. 1996. Genetika. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi: Proyek Pendidikan Tenaga Guru.

Anda mungkin juga menyukai