Anda di halaman 1dari 17

KECEPATAN DISOLUSI

NITA MUSTIKA MUH. ILHAM TOMAGOLA


150 2012 0256

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Difusi bebas atau transport aktif suatu zat melalui suatu cairan, zat
padat atau melalui membran adalah suatu proses yang sangat penting dalam
ilmu farmasi, pokok dari fenomena transport massa yang diterapkan dalam
bidang farmasi adalah disolusi obat dari tablet, serbuk serta granul, liofulisasi,
ultrafiltrasi dan proses mekanik lainnya, termasuk distribusi molekul obat di
dalam jaringan.
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk
sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat penting
artinya bagi ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat
tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum diserap ke dalam tubuh.
Sediaan obat yang harus diuji disolusinya adalah bentuk padat atau semi
padat, seperti salep, kapsul atau tablet
Dalam bidang farmasi, penentuan kecepatan kelarutan di dalam
pelarut suatu zat perlu dilakukan karena karena suatu kecepatan pelarutan
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi absorbsi obat juga sangat
dibutuhkan saat memformulasi obat dalam berbagai bentuk desain mulai
dari tahap formulasi sampai pada tahap produksi.

KECEPATAN DISOLUSI

NITA MUSTIKA MUH. ILHAM TOMAGOLA
150 2012 0256

B. Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum kali ini adalah menentukan kecepatan disolusi
tablet paracetamol dengan menggunakan metode dayung.















KECEPATAN DISOLUSI

NITA MUSTIKA MUH. ILHAM TOMAGOLA
150 2012 0256

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Umum
Disolusi adalah proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk sediaan
padat dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat penting artinya
karena ketersediaan obat sangat tergantung dari kemampuan zat tersebut
melarut dalam media pelarut sebelum diserap ke dalam tubuh. Sediaan obat
yang harus diuji disolusinya adalah bentuk padat atau semi padat yaitu tablet,
kapsul dan salep. Menginformasikan bahwa bentuk sediaan tablet atau kapsul
dapat mengalami disolusi, setelah kejadian ini berlangsung maka baru diserap
ke dalam darah yang selanjutnya menimbulkan efek farmakologi. (Lachman,
L. 1994)
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larutan
dalam cairan pada tempat absorbsi. Sebagai contoh, suatu obat yang diberikan
secara oral dalam bentuk tablet atau kapsul tidak dapat diabsorbsi sampai
partikel-partikel obat larut dalam cairan pada suatu tempat dalam saluran
lambung-usus. Dalam hal dimana kelarutan suatu obat tergantung dari apakah
medium asam atau medium basa, obat tersebut akan dilarutkan berturut-turut
dalam lambung dan dalam usus halus. Proses melarutnya suatu obat disebut
disolusi. (Ansel.1985)
Ketika sebuah tablet dalam bentuk padat dimasukkan dalam sebuah
beaker air atau kedalam saluran cerna. obat tersebut mulai masuk ke dalam
KECEPATAN DISOLUSI

NITA MUSTIKA MUH. ILHAM TOMAGOLA
150 2012 0256

larutan daalam bentuk padatnya. Jika obat tersebut tidak dilapisi polimer,
matriks dapat mengalami desintegrasi menjadi granul-granul, dan granul-
granul mengalami pemecahan menjadi partikel-partikel yang halus.
Desintegrasi, deagregasi dan disolusi bisa berlangsung secara serentak
dengan melepasnya suatu obat dari bentuk dimana obat tersebut diberikan.
(sinko 2005)
Skema ini kemudian diubah untuk memasukkan faktor-faktor lain
yang mendahului proses disolusi bentuk sediaan padat. Carstensen
mengusulkan skema menggabungkannya sebagai berikut:
1. Pelepasan awal
2. Pembasahan dari bentuk sediaan
3. Penetrlltion dari medium disolusi dalam bentuk sediaan.
4. Disintegrasi
5. Degregasi dari bentuk sediaan menjadi bentuk granul-granul.
KECEPATAN DISOLUSI

NITA MUSTIKA MUH. ILHAM TOMAGOLA
150 2012 0256

6. Disolusi
7. Okulasi dari beberapa partikel obat
(Rhemingtons 18
th
1990)
Mekanisme disolusi, tidak dipengaruhi oleh kekuatan kimia atau
reaktivitas partikel-partikel padat terlarut ke dalam zat cair, dengan
mengalami dua langkah berturut-turut:
1. Larutan dari zat padat pada permukaan membentuk lapisan tebal yang
tetap atau film disekitar partikel.
2. Difusi dari lapisan tersebut pada massa dari zat cair.
Langkah pertama,. larutan berlangsung sangat singkat. Langka kedua, difusi
lebih lambat dan karena itu adalah langkah terakhir. (Rhemingtons 18
th
1990)
Pada waktu suatu partikel obat mengalami disolusi, molekul-molekul
obat pada permukaan mula-mula masuk ke dalam larutan menciptakan suatu
lapisan jenuh obat-larutan yang membungkus permukaan partikel obat padat.
Lapisan larutan ini dikenal sebagai lapisan difusi. Dari lapisan difusi ini,
molekul-molekul obat keluar melewati cairan yang melarut dan berhubungan
dengan membrane biologis serta absorbsi terjadi. Jika molekul-molekul obat
terus meninggalkan larutan difusi, molekul-molekul tersebut diganti dengan
obat yang dilarutkan dari permukaan partikel obat dan proses absorbsi
tersebut berlanjut. (Martin, A. 1990)
KECEPATAN DISOLUSI

NITA MUSTIKA MUH. ILHAM TOMAGOLA
150 2012 0256

Jika proses disolusi untuk suatu partikel obat tertentu adalah cepat,
atau jika obat diberikan sebagai suatu larutan dan tetap ada dalam tubuh
seperti itu, laju obat yang terabsorbsi terutama akan tergantung pada
kesanggupannya menembus pembatas membran. Tetapi, jika laju disolusi
untuk suatu partikel obat lambat, misalnya mungkin karena karakteristik zat
obat atau bentuk dosis yang diberikan, proses disolusinya sendiri akan
merupakan tahap yang menentukan laju dalam proses absorbsi. Perlahan-
lahan obat yang larut tidak hanya bisa diabsorbsi pada suatu laju rendah,
obat-obat tersebut mungkin tidak seluruhnya diabsorbsi atau dalam beberapa
hal banyak yang tidak diabsorbsi setelah pemberian oral, karena batasan
waktu alamiah bahwa obat bisa tinggal dalam lambung atau saluran usus
halus. (Martin, A. 1990)
Pemikiran awal dilakukannya uji hancurnya tablet didasarkan pada
kenyataan bahwa tablet itu pecah menjadi lebih luas dan akan berhubungan
dengan tersedianya obat di dalam cairan tubuh. Namun sebenarnya uji hancur
hanya waktu yang diperlukan tablet untuk hancur di bawah kondisi yang
ditetapkan dan lewatnya partikel melalui saringan. Uji ini tidak memberi
jaminan bahwa partikel-partilkel tersebut akan melepas bahan obat dalam
larutan dengan kecepatan yang seharusnya. Untuk itulah sebabnya uji disolusi
dan ketentuan uji dikembangkan bagi hampir seluruh produk tablet.
(Martin, A. 1990)
KECEPATAN DISOLUSI

NITA MUSTIKA MUH. ILHAM TOMAGOLA
150 2012 0256

Laju disolusi dari sediaan dari tablet digambarkan oleh persamaan
Noyes-Whitney


Ketika dw/dt meningkatkan laju dari jumlah material dalam larutan yang
melarut dari sebuah tablet. C
s
adalah kelarutan jenuh pada lapisan difusi dan
C adalah konsentrasi obat dalam larutan bulk, A adalah luas permukaan dari
partikel zat terlarut yang terdapat dalam pelarut, adalah ketebalan difusi
lapisan dan D adalah koefisien difusi koefisien dari terlarut. Persamaan ini
memprediksi:
penurunan laju disolusi karena penurunan D ketika viskositas
medium ditingkatkan.
peningkatan laju disolusi jika ukuran partikel dikurangi dengan
mikronisasi karena peningkatan A
peningkatan laju disolusi dengan pengadukan dalam usus atau dalam
sebuah botol karena adanya penurunan
peningkatan laju disolusi ketika konsentrasi obat menurun dengan
asupan zat cair dan gas , dan dengan menghilangnya obat oleh partisi
atau penyerapan
perubahan laju disolusi ketika cs diubah oleh perubahan pH (jika
obat adalah elektrolit lemah).
(Fastrack.2008)
KECEPATAN DISOLUSI

NITA MUSTIKA MUH. ILHAM TOMAGOLA
150 2012 0256

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju disolusi yaitu: suhu, viskositas,
pH pelarut, pengadukan, ukuran partikel, polimorfisme, sifat permukaan zat,
formulasi,teknik pembuatan sediaan. (Tim penyusun. 2013)




















KECEPATAN DISOLUSI

NITA MUSTIKA MUH. ILHAM TOMAGOLA
150 2012 0256

B. Uraian Bahan
1. Air suling (Ditjen POM, 1979)
NamaResmi : Aqua Destillata
Nama lain : Air suling
RM/BM : H
2
O / 18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai pelarut.
2. Paracetamol (Ditjen POM, 1995)
Nama Resmi : PARACETAMOLUM
Nama Lain : Paracetamol / asetaminofen
RM/BM : C
8
H
9
NO
2
/ 151,6
Pemerian : Serbuk hablur, putih, tidak berbau, sedikit pahit
Kelarutan : Larut dalam air mendidih dan dalam natrium
hidroksida 1 N, mudah larut dalam etanol.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Sebagai sampel uji




KECEPATAN DISOLUSI

NITA MUSTIKA MUH. ILHAM TOMAGOLA
150 2012 0256

C. Prosedur Kerja (Ditjen POM, 1995)
Disolusi
Media disolusi : 900 ml buffer Posfat pH 5,8
Alat tipe : 2 (tipe dayung)
Waktu : 30 menit
Prosedur : lakukan penetapan jumlah paracetamol yang terlarut
dengan mengukur serapan filtrate larutan uji, jika perlu diencerkan dengan
media disolusi danserapan larutan baku paracetamol BPFI dalam media yang
sama pada panjang gelombang seapan maksimum 243 nm. Toleransi dalam
waktu 30 menit harus akurat tidak kurang dari 80% paracetamol dari jumlah
yang tertera pada etiket.

KECEPATAN DISOLUSI

NITA MUSTIKA MUH. ILHAM TOMAGOLA
150 2012 0256

BAB III
METODE KERJA
A. Alat dan Bahan
1.) Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Alat disolusi,
Kuvet, Spektrofotometer, Spoit 5 ml, Vial, Pipet Volum.
2.) Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Aquadest,
Paracetamol, Dapar Fosfat pH 5,8

B. Cara Kerja
1. Diatur kecepatan, waktu, interval waktu dan suhu pada alat disolusi.
2. Dipasang spindle pada alat disolusi, tunggu hingga bunyi beep panjang
yang menandakan alat siap digunakan.
3. Dimasukan tablet paracetamol lalu tekan start pada alat.
4. Diambil sebanyak 5 ml air dalam bejana pada interval waktu 0, 5. 10. 15,
20, 25, dan 30.
5. Diukur serapannya menggunakan spektrofotometer UV-vis
6. Dihitung datanya dan dibuat grafik.


KECEPATAN DISOLUSI

NITA MUSTIKA MUH. ILHAM TOMAGOLA
150 2012 0256

BAB IV
HASIL PENGAMATAN
A. Tabel Hasil Pengamatan
Kurva baku PCT
Konsentrasi (PPM) Absorban
50 0,243
70 0,306
90 0,384
110 0,481
130 0,548
200 0,813
a = 0,045 b= 0,0038 r= 0,999
Kurva disolusi paracetamol
1. %kadar ZA dalam 900ml=



2.


3.


4.


5. *

+

6.
7. (


)


KECEPATAN DISOLUSI

NITA MUSTIKA MUH. ILHAM TOMAGOLA
150 2012 0256







y = 0.0039x + 0.0452
R = 0.9985
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
0 50 100 150 200 250
a
b
s
o
r
b
a
n

konsentrasi
kurva baku paracetamol
absorban (A)
Linear ( absorban (A))
-5
0
5
10
15
20
25
30
35
40
0 5 10 15 20 25 30 35
%
d
i
s
o
l
u
s
i

r
a
t
a
-
r
a
t
a

waktu(menit)
Kurva Disolusi Paracetamol
Series1
KECEPATAN DISOLUSI

NITA MUSTIKA MUH. ILHAM TOMAGOLA
150 2012 0256

B. Pembahasan
Disolusi adalah proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk sediaan
padat dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat penting artinya
karena ketersediaan obat sangat tergantung dari kemampuan zat tersebut
melarut dalam media pelarut sebelum diserap ke dalam tubuh. Sediaan obat
yang harus diuji disolusinya adalah bentuk padat atau semi padat yaitu tablet,
kapsul dan salep. Laju disolusi adalah laju zat aktif untuk melarut dalam
media pelarut sehingga apabila zat aktif memiliki kecepatan melarut yang
cepat maka efek yang ditimbulkan juga cepat dan begitupun sebaliknya.
Ketika sebuah tablet dalam bentuk padat dimasukkan dalam sebuah
beaker air atau kedalam saluran cerna. obat tersebut mulai masuk ke dalam
larutan daalam bentuk padatnya. Jika obat tersebut tidak dilapisi polimer,
matriks dapat mengalami desintegrasi menjadi granul-granul, dan granul-
granul mengalami pemecahan menjadi partikel-partikel yang halus.
Desintegrasi, deagregasi dan disolusi bisa berlangsung secara serentak dengan
melepasnya suatu obat dari bentuk dimana obat tersebut diberikan.
Pada percobaan disolusi kali ini akan dicoba untuk mengamati laju
disolusi dari tabelet paracetamol dan kemudian dibandingkan dengan literatur
yang diperoleh. Untuk melihat disolusi tablet paracetamol digunakan alat
disolusi tipe 2 atau biasa disebut tipe dayung.
Tablet paracetamol ditentukan terlebih dahulu kurva baku dengan
konsentrasi (PPM) bervariasi. Kemudian masing-masing konsentrasi diukur
KECEPATAN DISOLUSI

NITA MUSTIKA MUH. ILHAM TOMAGOLA
150 2012 0256

serapannya pada panjang gelombang maksimal dengan menggunakan alat
spektofotometer. Selanjutnya dibuat kurva antara serapan terhadap
konsentrasi. Konsentrasi yang digunakan adalah 50, 70, 90, 110, 130, dan
200. Suatu kurva baku dikatakan bagus apabila titik koordinat yang
dipertemukan oleh konsentrasi (PPM)x dan absorban A(y) membentuk
sebuah garis lurus.
Pada percobaan ini dilakukan uji disolusi paracetamol dengan
menggunakan alat tipe 2 atau metode dayung dengan medium pendisolusi air.
Alat ini digunakan untuk tablet yang tidak bersalut. Alat disolusi pertama-
tama diatur kecepatan, waktu, interval waktu dan suhu pada alat disolusi.
Kemusian dipasang spindle pada alat disolusi, dan ditunggu hingga bunyi
beep panjang yang menandakan alat siap digunakan. Kemudian dimasukan
tablet paracetamol lalu tekan start pada alat. Setelah itu, diambil sebanyak 5
ml air dalam bejana pada interval waktu 0, 5. 10. 15, 20, 25, dan 30 menit
dimasukkan dalam vial. Sampel dimasukkan dalam kuvet dan diukur
serapannya menggunakan alat spektrofotometer UV-vis kemudian dihitung
datanya dan dibuat grafik.
Hasil yang diperoleh yaitu dalam waktu 30 menit tablet PCT hanya
mampu terdisolusi 37,36% hal ini tidak sesuai dengan syarat disolusi PCT
bahwa dalam waktu 30 menit tidak boleh kurang dari 80% paracetamol yang
terdisolusi. Hal ini disebabkan karena factor pelarut dan pH, pelarut yang
seharusnya digunakan yaitu dapar fosfat pH 5,8.

KECEPATAN DISOLUSI

NITA MUSTIKA MUH. ILHAM TOMAGOLA
150 2012 0256

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari percobaan dapat disimpulkan:
1. Dalam waktu 30 menit tablet PCT hanya mampu terdisolusi 37,36%. Hal
ini tidak sesuai dengan syarat disolusi PCT bahwa dalam waktu 30 menit
tidak boleh kurang dari 80% paracetamol yang terdisolusi.
B. Saran
Sebaiknya untuk praktikum selanjutnya sebaiknya digunakan sampel
yang berbeda sebagai perbandingan, dengan menggunakan metode yang
berbeda pula.












KECEPATAN DISOLUSI

NITA MUSTIKA MUH. ILHAM TOMAGOLA
150 2012 0256

DAFTAR PUSTAKA
Ansel, Howard C.,1985. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : UI
Press Jakarta
Attwood,David dan Florence,T.Alexander.2008.Fastrack phycical pharmacy:
London. pharmaceutical press
Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes RI: Jakarta
Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Depkes RI: Jakarta
Gennaro, A. R., et all., 1990. Remingtos Pharmaceutical Sciensces Edisi
18
th
. Pensylvania : Marck Publishing Company, Easton,
Lachman, leon, 1994.Teori dan Praktek Farmasi Industri, Edisi III. UI
Press: Jakarta
Martin, Alfred. 1993. Farmasi Fisika Jilid II. Jakarta : PT Universitas
Indonesia
Tim Penyusun. 2013. Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. UMI :
Makassar.
Sinco,P., 2005,Martins physical Pharmacy and Pharmaceutical Sience 5
th

Edition, 533-560.Lippincott Williams & Wilkins, Baltimore