Anda di halaman 1dari 21

BAB II

ISI
A. CACAT LAHIR
Cacat lahir, malformasi kongenital, dan anomali kongenital adalah
istilah-istilah sinonim yang digunakan untuk menjelaskan gangguan struktural,
perilaku, fungsional, dan metabolik yang ada sejak lahir.
Anomali minor terjadi pada sekitar 15% bayi baru lahir. Kelainan
struktural ini, misalnya mikrotia (telinga kecil), bercak berpigmen, dan fisura
palpebra yang pendek, tidak dengan sendirinya merugikan kesehatan, tetapi
pada sebagian kasus, berkaitan dengan cacat mayor. nomali minor
berfungsi sebagai petunjuk untuk mendiagnosis cacat lain yang lebih serius.
!ecara khusus, anomali telinga adalah indicator cacat lain yang mudah
dikenali dan ditemukan pada hampir semua anak dengan malformasi
sindromik.
B. Jenis Abnormalitas
1. Malformasi terjadi selama pembentukan struktur, sebagai contoh, selama
organogenesis. Kelainan ini dapat menyebabkan ketiadaan suatu struktur
secara total atau parsial atau perubahan konfigurasi normal suatu struktur.
"alformasi disebabkan oleh faktor lingkungan dan atau genetik yang
bekerja secara independen atau bersamaan. Kebanyakan malformasi
bera#al pada minggu ketiga samai ke!elaan kehamilan.
2. "isrusi menyebabkan perubahan morfologis pada struktur yang sudah
terbentuk dan disebabkan oleh proses destruktif. $angguan %askular yang
menyebabkan atresia usus dan cacat yang ditimbulkan oleh pita amnion
adalah contoh dari faktor-faktor perusak yang menyebabkan disrupsi.
3. "eformasi terjadi karena gaya mekanis yang &mencetak' suatu bagian
janin dalam jangka lama. Clubfeet, sebagai contoh, disebabkan oleh
penekanan di rongga amnion. (eformasi sering mengenai sistem
muskuloskeletal dan mungkin pulih setelah lahir.
1
4. Sin!rom adalah kumpulan anomali yang terjadi bersamaan dan memiliki
satu penyebab spesifik. Kata ini menunjukkan diagnosis telah ditegakkan
dan resiko kekambuhan (pada kehamilan selanjutnya) diketahui.
!ebaliknya, asosiasi (keterkaitan) adalah kemunculan non-acak dua atau
lebih anomali yang timbul lebih sering dibandingkan jika terjadi hanya
secara kebetulan, tetapi yang penyebabnya belum diketahui. !alah satu
contoh adalah asosiasi )*+,-., (anomali %ertebrata /%ertebral0, anus
/anal0, jantung /cardiac0, trakeoesofagus /tracheoesophageal0, ginjal
/renal0, dan ekstremitas /limb0). "eskipun anomali-anomali itu bukanlah
suatu diagnosis, asosiasi merupakan hal penting karena ditemukannya
salah satu atau lebih komponen yang lain.
#ambar $. #rafik %ang memerlihatkan &aktu !alam kehamilan
's risiko cacat lahir %ang timbul
C. (aktor Lingkungan
!ampai a#al tahun 1123an, diperkirakan bah#a cacat congenital terutama
disebabkan oleh faktor herediter. (engan ditemukannya oleh 4. $regg
bah#a campak 5erman yang mengenai ibu selama a#al kehamilan
menyebabkan kelainan di mudigah, menjadi jelas bah#a malformasi
kongenital pada manusia juga dapat disebabkan oleh faktor lingkungan.
6ada tahun 1171, pengamatan oleh 8. .en9 yang mengaitkan cacat
anggota badan dengan obat sedatif tali!omi! menegaskan bah#a obat
juga dapat mele#ati plasenta dan menimbulkan cacat lahir. !ejak saat itu,
2
banyak obat yang diketahui bersifat teratogen (faktor yang menyebabkan
cacat lahir) 1lihat table :.1).
TAB)L *.$ Teratogen %ang Berkaitan !engan Malformasi a!a
Manusia
Teratogen Malformasi +ongenital
Agen Infeksi
,irus rubela Katarak, glaukoma, cacat jantung,
tuli, kelainan gigi
Sitomegalo'irus "ikrosefalus, kebutaan, retardasi
mental, kematian janin
,irus heres simleks "ikroftalmia, mikrosefalus,
displasia retina
,irus 'arisela ;ipoplasia ekstremitas, retardasi
mental, atrofi otot
HI, "ikrosefalus, retardasi
pertumbuhan
Toksolasma ;idrosefalus, kalsifasi serebrum
mikroftalmia
Sifilis -etardasi mental, ketulian
Agen (isik
Sinar - "ikrosefalus, spina bifida, langit-
langit sumbing, cacat ekstremitas
Hiertermia nensefalus, spina bifida, retardasi
mental, cacat #ajah, kelainan
jantung, omfalokel, cacat
ekstremitas
Bahan +imia
Tali!omi! *acat ekstremitas, malformasi
jantung
Aminoterin nensefalus, hidrosefalus, bibir dan
langi-langit sumbing
"ifenilhi!antion.fenitoin
/
!indrom hidantoin janin< cacat
#ajah, retardasi mental
Asam 'alroat *acat tabung saraf, anomali
jantung=kraniofasial=ekstremitas
Trimeta!ion .angit-langit sumbing, cacat
3
jantung, kelainan urogenital dan
tulang
Litium "alformasi jantung
Amfetamin >ibir dan langit-langit sumbing,
cacat jantung
0arfarin Kondrodisplasia, mikrosefalus
Inhibitor AC)1 -etardasi pertumbuhan, kematian
janin
+okain -etardasi pertumbuhan,
mikrosefalus, kelainan perilaku,
gastroskisis
Alkohol !indrom alkohol janin, fisura
palpebra pendek, hipoplasia
maksila, cacat jantung, retardasi
mental
Isotretinoin .'itaminA/ ,mbriopati %itamin < telinga kecil
dan berbentuk abnormal,
hipoplasia mandibula,langit-langit
sumbing, cacat jantung
2elarut in!ustri >erat badan lahir rendah, cacat
kraniofasial dan tabung saraf
Merkuri organik $ejala neurologis serupa dengan
yang disebabkan oleh cerebral
palsy
Timbal -etardasi pertumbuhan, gangguan
neurologis
Hormon
Bahan an!rogenik
.etisteron, noretisteron/
"askulinasi genitalia #anita< labia
menyatu, hipertrofi klitoris
"ietilstikbestrol .")S/ "alformasi uterus, tuba uterina,
dan %agina bagian atas< kanker
%agina? malformasi testis
"iabetes ibu >erbagai malformasi? tersering
cacat jantung dan tabung saraf
3besitas ibu *acat jantung, omfalokel
@*,, angiotensin-coverting enzyme (en9im pengubah angiotensin)
4
#ambar 4. Contoh (okomelia, hilangn%a tulang5tulang
an6ang ekstremitas
". 2rinsi Teratologi
Aaktor-faktor yang menentukan kapasitas suatu agen untuk
menimbulkan cacat lahir telah didefinisikan dan diajukan sebagai rinsi
teratologi. 6rinsip-prinsip tersebut mencakup <
1. Kerentanan terhadap teratogenesis yang bergantung pada genotie
konsetus dan cara bagaimana komposisi genetic ini berinteraksi dengan
lingkungan. #enom ibu juga penting dalam kaitannya dengan metabolism
obat, resistensi terhadap infeksi, dan proses biokimia#i dan molekular
lainnya yang mempengaruhi konseptus.
B. Kerentaan terhadap teratogen ber%ariasi sesuai sta!ium erkembangan
saat a6anan. 6eriode paling peka untuk timbulnya cacat lahir adalah
minggu ketiga hingga ke!elaan kehamilan, yaitu periode embriogenesis.
!etiap sistem organ mungkin memiliki satu atau lebih tahap kerentanan.
!ebagai contoh, langit-langit sumbing dapat terinduksi pada tahap blastokista
(hari ke-7), selama grastulasi (hari ke-12), pada tahap a#al pembentukan
tunas ekstremitas (minggu kelima), atau saat bilah langit-langit itu sendiri
sedang terbentuk (minggu ketujuh). !elain itu, sementara kebanyakan
kelainan ditimbulkan selama embriogenesis, cacat juga dapat ditimbulkan
sebelum atau setelah periode ini? tidak ada tahap perkembangan yang
benar-benar aman.
5
C. "anifestasi gangguan perkembangan bergantung pada !osis !an lama
a6aan ke teratogen.
2. +eratogen bekerja melalui jalur (mekanisme) spesifik pada sel dan jaringan
yang sedang berkembang untuk memicu kelainan embryogenesis
(atogenesis). "ekanisme ini mungkin melibatkan inhibitor proses
biokimia#i atau molekular tertentu? pathogenesis mungkin melibatkan
kematian sel, penurunan poliferasi sel, atau fenomena sel lainnya.
5. "anifetasi kelainan perkembangan adalah kematian, malformasi, retar!asi
ertumbuhan, dan gangguan fungsional.
Agen Infeksi
gen infeksi yang menyebabkan cacat lahir (tabel :.1) mencakup
sejumlah %irus. Rubela dahulu merupakan masalah besar, tetapi kemampuan
kita untuk mendeteksi titer antibodi dalam serum dan pembuatan %aksin telah
secara bermakna menurunkan insidens cacat lahir akibat %irus ini. !aat ini
sekitar :5% #anita sudah mempunyai kekebalan.
Sitomegalo'irus adalah ancaman serius. Dbu sering tidak
memperlihatkan gejala, tetapi efek pada janin dapat parah. Dnfeksi sering
mematikan, dan jika tidak, dapat terjadi maningoensefalitis %irus yang
menyebabkan retardasi mental.
,irus heres simleks, 'irus 'arisela, dan 'irus imuno!efisiensi
manusia (human immunodeficiency virus, HI,) dapat menyebabkan cacat
lahir. Kelainan disebabkan herpes jarang dijumpai, dan infeksi biasanya
ditularkan ke anak sebagai penyakit kelamin se#aktu proses kelahiran.
(emikian juga, ;D), penyebab sindrom omunodefisiensi didapat (acquired
immunodeficiency syndrome, atau D(!) tampaknya memiliki potensi
teratogenetik yang rendah. Dnfeksi oleh %arisela menyebabkan insidens cacat
lahir sebesar B3%.
Infeksi ,irus Lain !an Hiertermia
"alformasi yang timbul setelah infeksi ibu oleh %irus campak,
gondongan, hepatitis, poliomielitis, echovirus, %irus Coxsackie, dan influen9a
6
pernah dilaporkan. !tudi-studi prospektif menunjukkan bah#a angka
malformasi setelah pajanan ke %irus-%irus ini rendah atau bahkan tidak ada.
Aaktor penyulit yang ditimbulkan oleh %irus-%irus ini dan agen infeksi
lain adalah bah#a kebanyakan bersifat irogenik, dan peningkatan suhu
tubuh (hiertermia) bersifat teratogenik. *acat yang ditimbulkan oleh
meningkatnya suhu tubuh antara lain adalah anensefalus, spina bifida,
retardasi mental, mikroftalmia, bibir dan langit-langit sumbing, defisiensi
ekstremitas, omfalokel dan kelainan jantung. !elain penyakit demam, mandi
berendam di air panas dan sauna dapat menghasilkan peningkatan suhu
yang dapat menyebabkan cacat lahir.
Toksolasmosis dan sifilis menyebabkan cacat lahir. (aging yang
dimasak kurang matang? he#an peliharaan, terutama kucing? dan feses di
tanah yang tercemar dapat mengandung parasit proto9oa Toxoplasmosis
gondii. $ambaran khas infeksi toksoplasma pada janin adalah kalsifikasi otak.
Ra!iasi
Ra!iasi engion mematikan sel-sel yang berploriferasi pesat
sehingga radiasi ini adalah teratogen kuat, menimbulkan hampir semua jenis
cacat lahir bergantung pada dosis dan stadium perkembangan konseptus
saat pajanan terjadi. -adiasi dari ledakan nuklir juga teratogenik. (i antara
para #anita hamil yang selamat dari ledakan bom atom di ;iroshima dan
4agasaki, B:% mengalami abortus, B5% melahirkan anak yang meninggal
dalam tahun pertama kehidupannya, dan B5% melahirkan anak dengan cacat
lahir parah yang mengenai sistem saraf pusat. -adiasi juga adalah agen
mutagenic dan dapat menyebabkan perubahan genetik pada sel
germinati%um dan malformasi selanjutnya.
Bahan +imia
6eran bahan kimia dan obat farmasi dalam pembentukan kelainan
pada manusia sulit di nilai karena dua alasan <
7
1. !ebagian besar penelitian bersifat retrospektif, mengandalkan ingatan ibu
tentang ri#ayat pajanan
B. 8anita hamil mengkonsumsi banyak obat farmasi.
!uatu studi oleh National Institutes of ealth menemukan bah#a
#anita hamil menggunakan 133 obat yang berbeda, dengan rata-rata 2 obat
per #anita. ;anya B3% #anita hamil yang tidak menggunakan obat selama
kehamilan mereka. >ahkan dengan penggunaan bahan kimia yang luas ini,
relati%e sedikit dari banyak obat yang digunakan selama kehamilan yang
terbukti positif bersifat teratogenik. !alah satu contoh adalah tali!omi!, suatu
obat antimual dan obat tidur. 6ada tahun 1171, disadari di 5erman >arat
bah#a frekuensi amelia dan merome!ia (ketiadaan sebagian atau seluruh
ekstremitas), suatu kelainan herediter yang jarang, mendadak meningkat.
6engamatan ini mendorong dilakukannya pemeriksaan terhadap ri#ayat
prenatal anak yang terkena dan menyebabkan terungkapnya fakta bah#a
banyak dari ibu tersebut yang menggunakan talidomid pada a#al kehamilan
mereka. ;ubungan sebab-akibat antara talidomid dan meromeria terungkap
hanya karena obat ini menimbulkan kelainan yang sedemikian tidak la9im.
5ika cacatnya adalah jenis yang la9im dijumpai, misal bibir sumbing atau
malformasi jantung, keterkaitan dengan obat mungkin mudah terle#atkan.
Ebat lain dengan potensi teratogenik adalah anti kejang
!ifenilhi!antion .fenition/, asam 'alroat, dan trimeta!ion, yang
digunakan oleh #anita pengidap eilesi. !ecara spesifik, trimetadion dan
difenilhidantion menimbulkan spektrum kelainan yang luas yang membentuk
pola dismorfogenesis tersendiri yang dikenal sebagai sin!rom trimeta!ion
atau sin!rom hi!antoin 6anin. !umbing di #ajah sering di jumpai pada
sindrom ini. sam %alproat juga menyebabkan kelainan kraniofasial tetapi
memiliki kecendrungan khusus untuk menimbulkan cacat tabung saraf.
3bat antisikotik dan anticemas (masing-masing adalah tranFuili9er
mayor dan minor) dicurigai menimbulkan malformasi kongential. ntipsikotik
fenotia7in dan lutium dilaporkan bersifat teratogenik. "eskipun bukti untuk
teratogenitas fenitia9in saling bertentangan, kekha#atiran akan lutium lebih
8
terdokumentasi dengan baik. >agaimanapun, diduga kuat bah#a pemakaian
obat-obat ini selama kehamilan memba#a risiko tinggi.
6engamatan serupa dijumpai pada obat-obat anticemas merobamat,
klor!ia7eoksi!, dan !ia7eam .'alium/. !uatu penelitian prospektif
memperlihatkan bah#a anomali berat terjadi pada 1B% janin yang terpajan ke
meprobamat dan pada 11% dari mereka yang terpajan ke klordia9epoksid,
dibandingkan dengan B,7% kontrol. (emikian juga, penelitian-penelitian
retrospektif membuktikan bah#a terjadi peningkatan hampir empat kali lipat
kejadian bibir sumbing dengan atau tanpa langit-langit sumbing pada anak
dari ibu yang menggunakan dia9epam selama kehamilan.
Antikoagulan &arfarin bersifat teratogenik, sedangkan hearin
tampaknya tidak. 3bat anti hiertensi yang menghambat en7im engubah
angiotensin .inhibitor AC)/ menyebabkan retardasi pertumbuhan, disfungsi
ginjal, kematian janin, dan oligohidramnion.
Kekha#atiran juga dilontarkan mengenai sejumlah senya#a lain yang
mungkin merusak mudigah atau janin. Gang paling menonjol diantara
senya#a-senya#a ini adalah propiltiourasil dan kalium iodida (gondok dan
retardasi mental), streptomisin (tuli), sulfonamid (kernikterus), anti depresan
imipramin (cacat anggota badan), tetrasiklin (anomali tulang dan gigi),
amfetamin (bibir sumbing dan kelainan kardio%askular), dan kina (tuli). Gang
terakhir, semakin banyak bukti yang menunjukkan bah#a asirin (salisilat),
obat yang paling sering dikonsumsi selama kehamilan dapat membahayakan
janin jika digunakan dalam dosis tinggi.
!alah satu masalah yang semakin besar di masyarakat saat ini adalah
efek obat-obat &pergaulan', misalnya .!( (lysergic acid diethylamide), 6*6
(fensiklidin, atau Hangel dustI), mariyuana, alkohol, dan kokain. 6ada kasus
.!(, pernah dilaporkan anomali anggota badan dan malformasi sistem saraf
pusat. 4amun, suatu ulasan komprehensif terhadap lebih dari 133 publikasi
mengarah kepada kesimpulan bah#a .!( murni yang digunakan dalam dosis
sedang tidak bersifat teratogenik dan tidak menyebabkan kerusakan genetic.
Kurangnya bukti yang menyimpulkan teratogenitas serupa juga dilaporkan
untuk mariyuana dan 6*6. +okain dilaporkan menyebabkan sejumlah cacat
9
lahir, mungkin melalui kerjanya sebagai %asokonstriktor yang menyebabkan
hipoksia.
#ambar 8. #ambaran khas anak !engan sin!rom alkohol 6anin
+erdapat bukti kuat tentang keterkaitan konsumsi alkohol oleh ibu
hamil dan kelainan kongenital. Karena alkohol dapat menyebabkan spektrum
penyakit yang luas, berkisar dari retardasi mental hingga kelainan struktural,
digunakan istilah spektrum penyakit alkohol janin .fetal alcohol spectrum
disorder, (AS"/ untuk setiap cacat akibat alkohol. !indrom alkohol janin
.fetal alcohol syndrome, (AS/ mencerminkan akibat yang parah dari
spektrum ini mencakup cacat struktural, defisiensi pertumbuhan, dan
retardasi mental. $angguan perkembangan saraf terkait alkohol .alcohol-
related neurodevelopmental disorder, AR9"/ adalah yang lebih ringan.
Dnsidens A! dan -4( bersama-sama adalah 1 dari 133 kelahiran hidup.
!elain itu, alkohol meruakan en%ebab utama retar!asi mental.
Merokok belum pernah dilaporkan berkaitan dengan cacat lahir mayor,
tetapi merokok berperan menyebabkan hambatan pertumbuhan intrauterus
dan pelahiran prematur. 5uga terdapat bukti bah#a merokok menyebabkan
gangguan perilaku.
Isotretinoin .asam $85sis5retinoat/, suatu analog 'itamin A,
dibuktikan menyebabkan malformasi dengan pola khas yang dikenal sebagai
embrioati isotretinion atau embrioati 'itamin A. obat ini diresepkan
10
untuk terapi akne kistik dan dermatomis kronis lain, tetapi sangat teratogenik
dan dapat menimbulkan hampir semua jenis cacat. >ahkan retinoid topikal,
misalnya etretinat, berpotensi menimbulkan kelainan. (engan gencarnya
anjuran pemakaian multi%itamin yang mengandung asam folat saat ini, timbul
kekha#atiran bah#a pemakaian berlebihan suplemen %itamin dapat
membahayakan, karena sebagian besar suplemen tersebut mengandung
sekitar :.333 DJ %itamin . "asih diperdebatkan sebenarnya berapa jumlah
%itamin yang dianggap membahayakan, tetapi kebanyakan ilmu#an
sepakat bah#a B5.333 DJ adalah kadar ambang untuk teratogenisitas.
Hormon
E>+ 4(-E$,4DK. (ahulu, progestin sintetis sering digunakan
selama kehamilan untuk mencegah abortus. 6rogestin etisteron dan
noretisteron memiliki akti%itas androgenik yang cukup besar, dan telah banyak
dilaporkan kasus maskulinasi genitalia pada mudigah perempuan. Kelainan
berupa pembesaran klitoris disertai penyatuan lipatan labioskrotum dengan
derajat ber%ariasi.
,4(E*-D4, (D!-J6+,-!. Endocrine disrupters adalah bahan
eksogen yang mengganggu kerja regulatorik normal hormon-hormon yang
mengontrol proses perkembangan. >ahan-bahan ini paling sering
menginter%ensi kerja estrogen melalui reseptornya dan menyebabkan
kelainan perkembangan sistem saraf pusat dan saluran reproduksi. !elama
beberapa #aktu, telah diketahui bah#a estrogen sintesis !ietilstilbesterol
yang dahulu digunakan untuk mencegah abortus, meningkatkan insidens
karsinoma %agina dan ser%iks pada #anita yang terpajan di obat ini se#aktu
di dalam kandungan. !elain itu, banyak dari #anita ini mengalami disfungsi
reproduksi yang sebagian disebabkan oleh malformasi kongenital uterus, tuba
uterina, dan %agina bagian atas. "udigah laki-laki yang terpajan in utero juga
dapat terpengaruhi, seperti dibuktikan oleh meningkatnya malformasi testis
dan kelainan pada hasil analisis sperma. 4amun, berbeda dengan #anita,
pria tidak memperlihatkan peningkatan resiko mengidap karnisoma saluran
genitalia.
11
!aat ini, estrogen dalam lingkunganlah yang menimbulkan
kekha#atiran, dan banyak studi dilakukan untuk menentukan efek bahan ini
pada janin. >erkurangnya hitung sperma dan meningkatnya insidens kanker
testis, hipospadia, dan kelainan lain saluran reproduksi pada manusia,
bersama dengan kelainan sistem saraf pusat (maskulinisasi otak #anita dan
feminisasi otak pria) pada spesies lain akibat pajanan lingkungan yang tinggi,
menimbulkan kesadaran akan kemungkinan efek merugikan dari bahan-
bahan ini. >anyak estrogen yang berasal dari bahan kimia yang digunakan
untuk tujuan industri dan dari pestisida.
KE4+-!,6!D E-.. 2il keluarga berencana, yang mengandung
estrogen dan progesterone, tampaknya memiliki potensi teratogenik yang
rendah. 4amun, karena hormon lain seperti dietilstilbestrol menimbulkan
kelainan, pemakaian kontrasepsi oral harus dihentikan jika dicurigai terjadi
kehamilan.
KE-+D!E4. 6enelitian eksperimental telah berulang kali membuktikan
bah#a kortison yang di suntikkan kedalam mencit dan kelinci pada tahap-
tahap tertentu kehamilan menyebabkan peningkatan insidens langit-langit-
sumbing pada bayi he#an ini. 4amun, pada manusia sulit dibuktikan bah#a
kortison adalah faktor lingkungan yang menyebabkan langit-langit sumbing.
2en%akit Ibu
(D>,+,!. $angguan metabolisme karbohidrat selama kehamilan
pada pengidap diaetes menyebabkan peningkatan insidens lahir-mati,
kematian neonates, bayi yang terlalu besar, dan malformasi kongenital. -isiko
anomali kongetinal pada anak dari ibu pengidap diabetes adalah tiga sampai
empat kali lebih banyak dibandingkan anak dari ibu nondiabetik dan pernah
dilaporkan higga setinggi :3% pada anak dari ibu yang telah lama mengidap
diabetes. "alformasi pernah ditemukan antara lain adalah disgenesis kaudal
(sirenomelia).
Aaktor-faktor yang berperan menimbulkan kelainan ini belum diketahui
pasti, namun bukti-bukti menunjukkan bah#a perubahan kadar glukosa
berperan dan bah#a insulin tidak bersifat teratogenik. (alam hal ini terdapat
12
korelasi signifikan antara keparahan dan lama penyakit ibu dan insidens
malformasi. 6engendalian ketat metabolisme ibu dengan terai insulin yang
agresif sebelum konsepsi dapat mengurangi kejadian malformasi. 4amun,
terapi ini meningkatkan frekuensi dan keparahan eiso!e hioglikemia.
>anyak penelitian pada he#an menunjukkan bah#a se#aktu gastrulasi dan
neurulasi, mudigah mamalia bergantung pada glukosa sebagai sumber
energi, sehingga bahkan episode singkat penurunan gula darah dapat besifat
teratogenik. Karena itu, dalam menangani #anita diabetes yang hamil kita
perlu berhati-hati. 6ada kasus diabetes non-dependen insulin, obat
hioglikemik oral dapat digunakan. Ebat-obat ini antara lain adalah
sulfonilurea dan biguanid. Kedua kelas obat tersebut pernah dilaporkan
sebagai teratogen.
A,4D.K,+E4J-D. Dbu dengan fenilketonuria .2+:/, yaitu defisiensi
en9im fenilalanin serum, berisiko memiliki bayi dengan retardasi mental,
mikrosefalus, dan cacat jantung. 8anita dengan 6KJ yang mengonsumsi diet
rendah fenilalanin sebelum konsepsi dapat menurunkan risiko bagi bayi
mereka setara dengan yang diamati pada populasi umum.
"efinisi gi7i
"eskipun banyak defisiensi nutrisi, terutama defisienti %itamin, telah
terbukti bersifat teratogenik pada he#an percobaan, bukti pada manusia
jarang dikemukakan, karena itu, kecuali kretinisme en!emikyang berkaitan
dengan defisiensi io!ium, belum ada analogi terhadap eksperimen pada
he#an yang pernah ditemukan. 4amun, bukti-bukti menyiratkan bah#a
kekurangan gi9i pada ibu sebelum dan selama kehamilan berperan
menyebabkan berat badan lahir rendah dan cacat lahir.
3besitas
Ebesitas telah mencapai tingkat epidemik di merika !erikat dan
angkanya meningkat hampir dua kali lipat dalam 15 tahun terakhir.
Ebesitas prakehamilan yang didefinisikan sebagai in!eks masa tubuh
.IMT/ KC3kg=m
B
, berkaitan dengan peningkatan dua sampai tiga kali lipat
risiko melahirkan anak dengan cacat tabung saraf. ;ubungan sebab-
13
akibatnya belum dipastikan tetapi mungkin berkaitan dengan gangguan
metabolisme ibu yang mengenai glukosa, insulin, atau faktor lain. !tudi-studi
juga memperlihatkan bah#a obesitas prakehamilan meningkatkan risiko
memiliki bayi dengan cacat jantung, omfalokel, dan anomaly multipel.
Hioksia
6ada berbagai he#an percobaan, hipoksia menginduksi malformasi
kongenital. "asih perlu dibuktikan apakah hal ini juga berlaku pada manusia.
"eskipun anak yang lahir di daratan yang relatif tinggi biasanya berat
badannya lebih ringan dan kecil dibandingkan dengan mereka yang lahir di
dekat atau setinggi permukaan laut, belum ditemukan adanya peningkatan
insidens malformasi kongenital. !elain itu, #anita dengan penyakit
kardio%askular tipe sianotik sering melahirkan bayi kecil, tetapi biasanya
tanpa malformasi kongenital yang nyata.
Logam Berat
>eberapa tahun yang lalu, para peneliti di 5epang mencatat bah#a
sejumlah ibu yang makanannya terutama terdiri dari ikan melahirkan anak
dengan gejala neurologis multipel mirip cerebral palsy. 6emeriksaan lebih
lanjut memperlihatkan bah#a ikan yang mereka konsumsi mengandung
merkuri organic dengan kadar sangat tinggi. "erkuri ini dialirkan ke +eluk
"inamata dan perairan tepi pantai lainnya di 5epang oleh industri-industri
besar. >anyak dari ibu itu sendiri tidak memperlihatkan gejala yang
menunjukkan bah#a janin lebih peka terhadap merkuri dibandingkan dengan
ibu mereka. (i merika !erikat, hal serupa diamati ketika jagung di semprot
oleh fungisida yang mengandung merkuri diberikan kepada babi dan
dagingnya kemudian dimakan oleh #anita hamil. (emikian juga, di Drak,
beberapa ribu bayi terkena setelah ibu mereka mengonsumsi padi-padian
yang diberi fungisida yang mengandung merkuri.
Timbal dilaporkan berkaitan dengan peningkatan angka abortus,
retardasi pertumbuhan, dan gangguan neurologis.
14
). Teratogenesis %ang "ierantarai oleh 2ria
!ejumlah penelitian menunjukkan bah#a pajanan ke bahan kimia dan
bahan lain, misal etilnitrosourea dan radiasi, dapat menyebabkan mutasi pada
sel germinati%um pria. 6enelitian epidemiologis mengaitkan pajanan ke
merkuri, timbal, pelarut, alkohol, merokok, dan senya#a lain dari lingkungan
dan pekerjaan ayah dengan abortus spontan, berat badan lahir rendah, dan
cacat lahir. Jsia ayah yang lanjut adalah faktor yang meningkatkan risiko
cacat ekstremitas dan cacat tabung saraf, sindrom (o#n, serta mutasi-mutasi
dominan otosom baru. Gang menarik, pria yang berusia kurang dari B3 tahun
memiliki risiko relatif lebih tinggi menjadi ayah dari anak cacat lahir. >ahkan
penularan toksisitas yang diperantarai oleh ayah dapat terjadi melalui cairan
semen dan dari pencemaran barang-barang rumah tangga oleh bahan kimia
yang terba#a di baju kerja ayah. 6enelitian juga memperlihatkan bah#a pria
dengan cacat lahir itu sendiri memiliki risiko lebih dari dua kali lipat memiliki
anak yang juga terkena.
(. "IA#939IS 2RA9ATAL
(okter perinatologi memiliki beberapa pendekatan untuk menilai
tumbuh-kembang janin in utero, termasuk ultrasonografi, emeriksaan
en%aring serum ibu, amniosentesis, dan engambilan samel 'ilus
korion. (alam kombinasi, teknik-teknik ini dirancang untuk mendeteksi
malformasi, kelainan genetik, pertumbuhan janin keseluruhan, dan penyulit
kehamilan, misalnya kelainan plasenta atau uterus. 6enerapan dan
perkembangan terapi in utero menimbulkan konsep baru yang
mengemukakan bah#a janin kini adalah seorang pasien.
:ltrasonografi
:ltrasonografi adalah yang relatif non in%asif yang menggunakan
gelombang suara berfrekuensi tinggi yang dipantulkan dari jaringan untuk
menciptakan bayangan. 6endekatannya dapat melalui transabdomen atau
trans%agina. J!$ trans%agina menghasilkan citra dengan resolusi lebih
tinggi. 6ada kenyataannya, teknik ini yang pertama kali dikembangkan pada
tahun 1153an, telah berkembang ke tahap yang dapat mendeteksi aliran
darah di pembuluh besar, mengetahui gerakan katup ke jantung, dan aliran
15
cairan di trakea dan bronkus. +eknik ini aman dan sering digunakan, dengan
sekitar :3% #anita hamil di merika !erikat menjalani paling sedikit satu kali
pemindaian.
6arameter-parameter penting yang terungkap dengan ultrasonografi
antara lain adalah karakteristik usia dan pertumbuhan janin, ada atau
tidaknya anomali kongenital? status lingkungan uterus, termasuk jumlah
cairan amnion? letak plasenta dan aliran darah umbilikus? dan ada tidaknya
kehamilan multipel. !emua faktor ini kemudian digunakan untuk menentukan
pendekatan yang tepat untuk menangani kehamilan yang bersangkutan.
#ambar ;. Contoh efekti'itas ultrasonografi !alam
encitraan mu!igah !an 6anin
"engetahui usia dan pertumbuhan janin sangat penting dalam
merencanakan penatalaksanaan kehamilan, terutama untuk bayi dengan
berat badan lahir rendah. 6ada kenyataannya, studi-studi memperlihatkan
bah#a kehamilan dengan bayi berberat badan lahir rendah yang terkelola dan
yang menjalani pemeriksaan penyaring ultrasonografi memperlihatkan
penurunan angka kematian sebesar 73% dibandingkan dengan kelompok
yang tidak disaring. Jsia dan pertumbuhan janin dinilai dari an6ang uncak
keala5bokong selama usia kehamilan 5 sampai 13 minggu. !etelah itu,
digunakan kombinasi pengukuran-termasuk !iameter biarietal .B2"/
16
tengkorak, an6ang femur, dan lingkaran erut. 6engukuran multipel
terhadap parameter-parameter ini dalam suatu kurun #aktu akan
meningkatkan kemampuan kita menentukan tingkat pertumbuhan janin.
#ambar <. :S# %ang memerlihatkan ukuran mu!igah = 6anin
"alformasi kongenital yang dapat ditentukan dengan ultrasonografi
antara lain adalah cacat tabung saraf anensefalus dan spina bifida? cacat
dinding abdomen, misalnya omfalokel dan gastroskisis? dan cacat jantung dan
#ajah, termasuk bibir dan langit-langit sumbing.
2emeriksaan 2en%aring Serum Ibu
6enelitian untuk mencari penanda-penanda biokimia#i status janin
menyebabkan dikembangkannya u6i en%aring serum ibu. !alah satu dari
pemeriksaan pertama yang digunakan adalah penilaian konsentrasi >5
fetorotein .A(2/ serum. A6 secara normal dihasilkan oleh hati janin,
memuncak kadarnya pada sekitar 12 minggu, dan HbocorI ke dalam sirkulasi
ibu melalui plasenta. Karena itu, konsentrasi A6 dalam serum ibu meningkat
selama trimester kedua dan kemudian mulai terus turun setelah usia
kehamilan C3 minggu. 6ada kasus cacat tabung saraf dan beberapa kelainan
lain, termasuk omfalokel, gastroskisis, ekstrofi kandung kemih, sindrom pita
amnion, teratoma sakrokoksigeus, dan atresia usus, kadar A6 meningkat
dalam cairan amnion dan serum ibu. 6ada kasus lain, konsentrasi A6
menurun seperti kromosom seks, dan triploidi. Keadaan-keadaan ini berkaitan
17
dengan rendahnya konsentrasi gona!otroin korion manusia (human
chirionic gonadotropin, h*$) dan estriol tak5terkon6ugasi dalam serum.
Karena itu, pemeriksaan penyaring serum ibu adalah teknik yang relatif
nonin%asif untuk memberi penilaian a#al kesejahteraan janin.
Amniosentesis
6ada amniosentesis, sebuah jarum dimasukkan memalui dinding
abdomen ke dalam rongga amnion (diidentifikasi dengan ultrasonografi), dan
dilakukan penyedotan B3-C3m. cairan. Karena jumlah cairan yang dibutuhkan
tersebut, tindakan ini biasanya tidak dilakukan sebelum kehamilan 12 minggu,
saat tersedia cairan dalam jumlah memadai tanpa membahayakan janin.
-isiko kematian janin akibat tindakan ini adalah 1% tetapi lebih kecil jika
dilakukan di pusat pelayanan yang terampil dalam teknik ini.
*airan itu sendiri dianalisis untuk berbagai faktor biokimia, misalnya
A6 dan asetilkolinesterse. !elain itu, sel janin yang terlepas ke dalam cairan
amnion, dapat ditemukan dan digunakan untuk penentuan kariotipe metafase
dan analisis genetik lainnya. !ayangnya, sel-sel yang dipanen ini tidak
membelah dengan cepat sehingga harus dibuat biakan sel yang mengandung
mitogen agar dihasilkan sel bermetafase dalam jumlah memadai untuk
analisis. 6embiakan ini memerlukan #aktu : sampai 12 hari, dan karenanya,
penegakan diagnosis tertunda. !etelah kromosom behasil diperoleh, dapat
dideteksi kelainan-kelainan kromosom mayor, misalnya translokasi,
pemutusan, trisomi, dan monosomi. (engan pe#arna khusus ($iemsa) dan
teknik resolusi-tinggi, pola pita kromosom dapat ditentukan. !elain itu, karena
genom manusia telah berhasil diketahui skuensnya, analisis-analisis
molekular yang lebih canggih yang menggunakan reaksi berantai polymerase
(polymerase chain reaction, 6*-) dan penentuan genotipe akan
meningkatkan tingkat kepekaan deteksi kelainan genetik.
2engambilan Samel ,ilus +orion
6engambilan sampel %ilus korion (chorionic villus sampling, C,S)
dilakukan dengan memasukkan sebuah jarum secara transabdomen atau
trans%agina ke dalam massa plasenta dan mengaspirasi sekitar 5 sampai C3
18
mg jaringan %ilus. !el-sel dapat segera dianalisis, tetapi keakuratan teknik ini
dipermasalahkan karena tingginya kesalahan kromosom pada plsenta
normal. Karena itu, sel-sel dari inti mesenkim diisolasi dengan tripsinisasi sel
yang diperoleh, diperlukan B-C hari pembiakan untuk memungkinkan
dilakukannya analisis genetic. Karena itu, #aktu untuk penentuan karakteristik
genetik janin lebih singkat dibandingkan dengan menggunakan
amniosentesis. 4amun, risiko kematian janin akibat *)! adalah sekitar dua
kali lipat lebih besar dibandingkan dengan amniosentesis, dan terdapat
petunjuk bah#a teknik ini memba#a risiko cacat reduksi ekstremitas.
!ecara umum, uji-uji diagnosik prenatal tidak digunakan secara rutin
(meskipun pemakaian ultrasonografi kini mendekati rutin), dan dicadangkan
untuk kehamilan tinggi. Dndikasi untuk menggunakan pemeriksaan-
pemeriksaan ini antara lain adalah <
1. Jsia ibu yang lanjut (C5 tahun atau lebih)
B. -i#ayat masalah genetik dalam keluarga, misalnya orang tua pernah
memiliki anak dengan sindrom (o#n atau cacat tabung saraf
C. danya penyakit ibu, misalnya diabetes
2. Kelainan dalam pemeriksaan ultrasonografi atau pemeriksaan penyaring
serum
#. T)RA2I JA9I9
Transfusi Janin
6ada kasus anemia janin akibat antibodi ibu atau kausa lain, dapat
dilakukan tranfusi darah untuk janin. Jltrasonografi digunakan untuk
menuntun insersi jarum ke dalam %ena umbilikalis dan darah ditransfusikan
langsung kedalam janin.
Terai Me!is Janin
+erapi untuk infeksi, aritmia jantung, gangguan fungsi tiroid, dan
masalah medis janin lain biasanya diberikan melalui ibu dan mencapai janin
setelah mele#ati plasenta. 4amun, pada sebagian kasus obat dapat
diberikan langsung kepada janin melalui penyuntikan intramuskulus ke dalam
regio gluteus atau melalui %ena umbilikalis.
19
2embe!ahan 6anin
>erkat kemajuan dalam prosedur ultrasonografi dan bedah maka
mengoperasi janin kini dapat dilakukan. 4amun, karena risiko dari ibu, janin,
dan kehamilan selanjutnya, tindakan ini hanya dilakukan di pusat pelayanan
dengan tim terlatih dan hanya jika tidak ada alternati%e lain. (apat dilakukan
beberapa jenis pembedahan, termasuk pemasangan pirau (shunt) untuk
mengeluarkan cairan dari organ dan rongga. !ebagai contoh, pada obstruksi
uretra dapat dipasang pirau pigtail ke dalam kandung kemih janin. !alah satu
masalah adalah mendiagnosis kelainan sedini mungkin untuk mencegah
kerusakan ginjal. 6embedahan eks utero, yaitu dengan membuka uterus dan
mengoperasi janin secara langsung, pernah dilakukan untuk memperbaiki
hernia diafragmatika kongenital, mengangkat lesi kistik (adenomatoid) di paru,
dan memperbaiki cacat spina bifida. 6erbaikan hernia dan lesi paru memiliki
prognosis baik jika criteria pemilihan kasus diterapkan dengn benar, dan
salah satu dari criteria pemilihan kasus diterapkan dengan benar, dan salah
satu dari criteria ini adalah kenyataan bah#a jika tanpa pembedahan
tersebut, janin hampir pasti akan meninggal.
6embedahan untuk cacat tabung saraf lebih kontro%ersial karena
kelainan tidak mengancam nya#a. 5uga, bukti yang ada tidak meyakinkan
bah#a perbaikan lesi dapat memperbaiki fungsi neurologis, meskipun
tindakan ini menghindari terjadinya hidrosefalus dengan membebaskan korda
spinalis yang melekat dan mencegah heniasi serebelum ke dalam foramen
magnum
Translantasi Sel Tunas !an Terai #en
Karena janin belum memiliki imunokompetensi sebelum usia
kehamilan 1: minggu, jaringan atau sel dapat ditransplantasikan sebelum
#aktu ini tanpa ditolak. -iset dalam bidang ini befokus dalam sel tunas
hematopoietic untuk mengobati imunodefisiensi dan kelainan hematologi.
+erapi gen untuk penyakit metabolik herediter, misalnya +ay-!achs dan
fibrosis kistik, juga sedang diteliti.
20
"A(TAR 2:STA+A
(re#s.(.1117, Atlas Berwarna & Teks Embriologi,;ipokrates,5akarta
!adler +.8,angman!s "edical Embryology, #$th Edition. "ontana
21