Anda di halaman 1dari 14

UU & Etika Kefarmasian

Anggota:
Wina L M I21111002
Maryono I21111003
Wafi L N I21111005
Afria K I21111021
Melda E M I21111025
Ilham I I21111029
Nelli K I21111034
Rizka A P I21111039
Kasus
Seorang bapak memperoleh resep
amoksisilin DS untuk anaknya usia 8
tahun. Petugas yang menyerahkan hanya
menjelaskan bahwa sirup tersebut akan
habis dalam waktu empat hari, diminum 3
kali sehari 5 ml (1 sendok takar), tetapi
ternyata setelah dua hari sakitnya
bertambah parah dan anak tersebut harus
opname di RS
Pelanggaran
1. Tidak memberikan informasi secara
lengkap berkaitan dengan obat yang
diberikan kepada orang tua pasien
2. Tidak melakukan penggalian informasi
secara lengkap yang berkaitan dengan
kondisi pasien
Ulasan
Pelanggaran 1
UU No. 8 thn 1999 ttg Perlindungan
Konsumen, pada BAB III ttg Hak dan
Kewajiban pasal 4
Butir a: hak atas kenyamanan, keamanan, dan
keselamatan dalam mengkonsumsi barang
dan/atau jasa
Butir c: hak atas informasi yang benar, jelas, dan
jujur mengenai kondisi dan jaminan barang
dan/atau jasa
Lebih spesifik pada UU No. 36 thn 2009 ttg
Kesehatan, pada BAB III Tentang Hak dan
Kewajiban pasal 8:
Setiap orang berhak untuk mendapatkan
informasi dan edukasi tentang kesehatan yang
seimbang dan bertanggung jawab.

Pelanggaran 2
Kode Etik Apoteker Indonesia dan
Implementasi Jabaran Kode Etik, BAB I ttg
Kewajiban Umum pasal 7:
Setiap orang berhak untuk mendapatkan
informasi dan edukasi tentang kesehatan yang
seimbang dan bertanggung jawab
Dengan penjabaran:
Seorang apoteker memberikan informasi kepada
pasien/masyarakat harus dengan cara yang
mudah dimengerti dan yakin bahwa informasi
tersebut harus sesuai, relevan dan up to date
Sebelum memberikan informasi apoteker harus
menggali informasi yang dibutuhkan dari pasien
ataupun orang yang datang menemui apoteker
mengenai pasien serta penyakitnya
Seorang apoteker harus mampu berbagi informasi
mengenai pelayanan kepada pasien dengan
tenaga profesi kesehatan yang terlibat.
Seorang apoteker harus senantiasa meningkatkan
pemahaman masyarakat terhadap obat, dalam
bentuk penyuluhan, memberikan infromasi secara
jelas, melakukan monitoring penggunaan obat dan
sebagainya.
Petugas kesehatan (apoteker) dalam
kasus ini melanggar kode etik kefarmasian
sebagai seorang apoteker yang
profesional dan melanggar sumpahnya
pada butir ketiga yang menyatakan bahwa
seorang apoteker harus menjalankan
tugas sebaik-baiknya sesuai dengan
martabat dan tradisi luhur jabatan
kefarmasian
Petugas kesehatan (apoteker) ini harus
mempertanggungjawabkan perbuatannya
sesuai dengan pasal 1243 KUH Perdata
Pemberian hak ganti rugi merupakan
upaya untuk memberikan perlindungan
bagi setiap orang atas suatu akibat yang
timbul karena kesalahan atau kelalaian
tenaga kesehatan.
Hal ini tertuang dalam pasal 58 ayat (1)
UU No. 36 thn 2009:
Setiap orang berhak menuntut ganti rugi
terhadap seseorang, tenaga kesehatan
dan/atau penyelenggaraan kesehatan yang
menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau
kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang
diterimanya.
Kesimpulan
Petugas kesehatan (apoteker) tersebut
telah lalai dalam menjalankan tugas
kefarmasiannya karena kurangnya
informasi pengobatan yang diberikan dan
kurangnya perhatian terhadap kondisi
pasien sehingga menimbulkan kerugian
pada pasien, menunjukkan bahwa
petugas kesehatan (apoteker) melanggar
Undang-Undang dan Etika Kefarmasian.