Anda di halaman 1dari 27

DR. Harrizul Rivai, M.

S
Lektor Kepala Kimia Analitik
Fakultas Farmasi
Universitas Andalas
28/03/2013 Harrizul Rivai 1
ANALISIS KUANTITATIF
Analisis kuantitatif dengan metode
spektrofotometri UV-Vis dibagi dalam
dua cara pelaksanaan :

Analisis kuantitatif zat tunggal
Analisis kuantitatif campuran dua atau
lebih zat (Analisis multi komponen)
28/03/2013 Harrizul Rivai 2
ANALISIS KUANTITATIF ZAT TUNGGAL
Analisis kuantitatif zat tunggal dengan
spektrofotometri UV-Vis berdasarkan pada
besarnya harga absorban

Hubungan konsentrasi dengan absorban dapat
dihitung berdasarkan pada :
1. Perbandingan absorban sampel dengan
absorban standar
2. Penggunaan kurva kalibrasi
3. Penggunaan Hukum Lambert-Beer
28/03/2013 3 Harrizul Rivai
Absorbansi zat yang dianalisis (sampel) dibandingkan dengan
absorban larutan standar pada kondisi dan pada
max
tertentu.
Persyaratannya harga absorbansi larutan sampel dan larutan standar
dalam pengukuran tidak boleh jauh bedanya.



28/03/2013 Harrizul Rivai 4
) (
) ( ) (
) (
) ( ) ( ) ( ) (
) (
) (
) (
) (
) (
) (
) (
) (
) ( ) ( ) ( ) (
. .
. .
. . . .
ST
ST SP
SP
ST SP SP ST
ST
SP
ST
SP
ST
SP
ST
SP
ST ST SP SP
A
C A
C
C A C A
C
C
A
A
C b a
C b a
A
A
C b a A C b a A

=
=
= =
= =
A
(SP)
= absorbansi larutan
sampel
C
(SP)
= konsentrasi larutan
sampel
A
(ST)
= absorbansi larutan
standar
C(ST) = konsentrasi larutan
standar

1. Perbandingan absorban sampel dengan absorban
standar
Berdasarkan Persamaan Hukum Lambert-Beer:
28/03/2013 Harrizul Rivai 5
Contoh (Watson, 2010)
Serbuk untuk injeksi kloksasilin
ditetapkan kadarnya dengan
menggunakan reaksi merkuri-imidazol
dengan membandingkan absorbannya
dengan absorban baku kloksasilin.
Sampel maupun baku kloksasilin
diencerkan dalam 500 mL air dan
kemudian masing-masing larutan
diambil 25 mL dan diencerkan dengan
air sampai 100 mL. Sebanyak 2 mL
larutan sampel dan baku direaksikan
dengan pereaksi merkuri-imidazol. Dari
data berikut ini, hitunglah jumlah
kloksasilin per vial.
Bobot kandungan 10 vial = 2,653 g
Bobot sampel diambil = 0,1114 g
Bobot baku kloksasilin diambil = 0,1015 g
Absorban larutan sampel = 0,111
Absorban larutan baku = 0,106
Dalam perhitungan ini, pengenceran dapat
diabaikan sehingga diperoleh:
g 1063 , 0
106 , 0
1015 , 0 111 , 0
) (
) ( ) (
) (
=

=
ST
ST SP
SP
A
C A
C
Bobot 1 vial = 2,653 g/10 = 0,2653 g
g 2563 , 0
g 1063 , 0
1114 , 0
2653 , 0
n/vial kloksasili Jumlah
=
=
Cara kurva kalibrasi digunakan
untuk mengurangi atau
menghilangkan kesalahan
akibat dari galat alat (noise)
Kurva kalibrasi dibuat dengan
menggunakan senyawa murni
pada beberapa konsentrasi
Rentang konsentrasi yang
digunakan harus melingkupi
konsentrasi sampel
Konsentrasi sampel dihitung
berdasar persamaan Regresi
Linier yang diperoleh dari data
tersebut.

28/03/2013 6 Harrizul Rivai
2. Penggunaan kurva kalibrasi
28/03/2013 Harrizul Rivai 7
Langkah-langkah analisis kuantitatif dengan kurva kalibrasi:
Langkah 1. Penentuan panjang gelombang serapan maksimum (
max
)
Penentuan
max
dilakukan pada
larutan standar dengan
konsentrasi yang memberikan
serapan dengan kesalahan
fotometrik terkecil, yaitu
sekitar A = 0,4343.
Konsentrasi tersebut dapat
dihitung dari nilai
absorptivitas molar (c) dari
literatur.
Contoh: Nifedipin dalam
metanol pada 235 nm
mempunyai c = 21.590 (The
Merck Index, 2001)
Spektrum serapan nifedipin BPFI (7 mcg/mL dalam metanol)
Dari hasil pengukuran diperoleh A = 0,4370 pada
max
= 235 nm
(Sumber: Sirait, 2009)
Alat: Spectrophotometer UV Mini 1240 Shimadzu
28/03/2013 Harrizul Rivai 9
Langkah 2. Pembuatan Kurva Kalibrasi
Kurva Kalibrasi dibuat dengan menyiapan sederetan larutan
standar dan serapan masing-masing larutan itu diukur pada
panjang gelombang maksimum.
Contoh: Larutan standar nifedipin BPFI 4, 6, 8, 10 dan 12 mcg/mL
dalam metanol diukur pada
max
235 nm (Sirait, 2009)
Kurva kalibrasi nifedipin BPFI
28/03/2013 Harrizul Rivai 10
Perhitungan Persamaan Regresi Nifedipin BPFI (Sirait, 2009)
Persamaan garis regresi: Y = 0,052807 X + 0,002798
Kriteria penerimaan
koefisien korelasi: r >
0,995 (Clark, 2011)
28/03/2013 Harrizul Rivai 11
Langkah 3. Pengukuran konsentrasi larutan sampel
Larutan sampel dibuat dengan cara melarutkan sampel dalam
pelarut yang sama dengan pelarut untuk pembuatan kurva
kalibrasi dan dengan konsentrasi yang diperkirakan mempunyai
serapan sekitar A = 0,4343. Kemudian serapan diukur pada
max

dan hasilnya dimasukkan ke Persamaan Regresi sehingga diperoleh
kadar larutan sampel.

Contoh: Absorban larutan serbuk tablet Adalat dalam metanol =
0,4625 (Sirait, 2009).
Persamaan garis regresi: Y = 0,052807 X + 0,002798
0,4625 = 0,052807 X + 0,002798
X = 8,70532315791467 mcg/mL
Jadi kadar larutan nifedipin = 8,7 mcg/mL
Kadar nifedipin dalam tablet Adalat dihitung dengan
mempertimbangkan faktor pengenceran.
1. Menggunakan Hukum Lambert-Beer berdasarkan
nilai absorptivitas Spesifik yang tertera dalam
Farmakope atau textbook dan membandingkan
dengan nilai absorbansi zat yang dianalisis
menggunakan pelarut tertentu.



1%
Nilai E menyatakan suatu zat diukur pada
1cm
konsentrasi 1% (1 g/100 ml) memakai kuvet
1 cm pada
max
dan pelarut tertentu.
Nilai dapat dilihat dalam Farmakope atau
textbook.
28/03/2013 Harrizul Rivai 12
b E
A
C C b E A
cm
cm
.
. .
% 1
1
% 1
1
= =
% 1
1cm
E
3. Penggunaan Hukum Lambert-Beer
CONTOH : Dalam buku Identifikasi Obat, oleh :
Auterhoff & Kovar, cara penentuan kadar asetilsalisilat
(asetosal) menggunakan metode spektrofotometri
tercantum seperti berikut:
dalam HCl 0,1 N = 485 pada 228 nm dan 65 pada
275 nm.

Bila larutan sampel dalam HCl 0,1 N diukur pada =
228 nm absorbansinya = 0,500, hitunglah kadar
asetosal dalam larutan sampel!
28/03/2013 Harrizul Rivai 13
% 1
1cm
E
g/mL 10,3093 mg/mL 0,0103093
ml mg/100 1,03093 mL 100 / 00103093 , 0 % 00103093 , 0
% 00103093 , 0
1 485
500 , 0
.
. .
% 1
1
% 1
1
= =
= = =
=

= = =
g C
b E
A
C C b E A
cm
cm
2. Menggunakan Hukum Lambert-Beer berdasarkan
nilai absortivitas molar (c)
Absortivitas molar dihitung dari harga absorptivitas
spesifik yang tercantum dalam Farmakope atau
textbook dengan persamaan berikut:
28/03/2013 Harrizul Rivai 14
mol/L) (
10
1 1%
cm 1
b
A
C C b A
BM E

= =
=

c
c
c
Buat larutan sampel, ukur absobansi dan
masukkan dalam persamaan di atas, sehingga
konsentrasi larutan sampel dapat dihitung.
28/03/2013 Harrizul Rivai 15
CONTOH : Dalam buku Identifikasi Obat, oleh : Auterhoff & Kovar,
cara penentuan kadar asetilsalisilat (asetosal) menggunakan
metode spektrofotometri tercantum seperti berikut:
dalam HCl 0,1 N = 485 pada 228 nm dan 65 pada 275 nm.

Bila larutan sampel dalam HCl 0,1 N diukur pada = 228 nm
absorbansinya = 0,500, hitunglah kadar asetosal dalam larutan
sampel!
% 1
1cm
E
mol/L 0000621 , 0
1 8051
0,500
C
mol/L) (
8051 10 166 485 10
1 1 1%
cm 1
=

=

= =
= = =

b
A
C C b A
BM E
c
c
c
Contoh penetapan kadar furosemid dalam tablet
Sebanyak 20 tablet furosemid ditimbang beratnya
1,6560 g. Sampel ditimbang sebanyak 0,5195 g dan
dicampurkan dengan 300 mL NaOH 0,1 N, lalu
diencerkan sampai 500,0 mL dengan NaOH 0,1 N.
Sejumlah ekstrak disaring dan diambil 5,0 mL lalu
diencerkan dengan NaOH 0,1 N sampai 250,0 mL.
Absorbansi dibaca pada 271 nm dengan blanko
NaOH 0,1 N ternyata absorbansinya 0,596.
Jika E
1%
1cm
Furosemid pada
max
271 nm = 580,
Hitung kadar Furosemid tiap tabletnya ?
28/03/2013 16 Harrizul Rivai
28/03/2013 Harrizul Rivai 17
Penyelesaian
Kadar furosemid dalam ekstrak tablet yang diencerkan:
mL mg/100 1,028 mL g/100 001028 , 0
580
596 , 0
.
. .
% 1
1
% 1
1
= = =
= =
C
b E
A
C C b E A
cm
cm
Faktor pengenceran = 250 mL/5 mL = 50
Kadar furosemid dalam ekstrak awal = 50 x 1,028/100 mL =
51,40 mg/100 mL
Volume ekstrak awal = 500 mL, sehingga jumlah furosemid
dalam ekstrak awal = 500 mL x 51,40 mg/100 mL = 257 mg
Jumlah furosemid dalam 20 tablet = 1,6560 g/0,5195 g x 257
mg = 819,2 mg.
Kadar furosemid tiap tablet = 819,2 mg/20 = 40,96 mg/tablet
28/03/2013 Harrizul Rivai 18
ANALISIS KUANTITATIF CAMPURAN DUA
ATAU LEBIH ZAT (ANALISIS
MULTIKOMPONEN)
Untuk larutan yang mengandung dua komponen yang menyerap,
x dan y, serapan diukur pada dua panjang gelombang. Ketelitian
yang tinggi didapatkan dengan memilih
max
, karena dengan
pergeseran sedikit pada kurva serapan tidak banyak pengaruhnya
terhadap serapan.
Jumlah komponen dalam campuran dapat mencapai 8 komponen
dengan syarat selisih panjang gelombang maksimum antara antar
komponen minimal 5 nm. Jika jumlah komponen dalam sampel
lebih dari 3 maka untuk menghitung kadar digunakan software
multikomponen pada alat spektrofotometer UV-Vis.
28/03/2013 Harrizul Rivai 19
Prinsip dasar analisa multikomponen dengan spektrometri
molekular adalah total absorbansi dari larutan adalah jumlah
absorbansi dari tiap-tiap komponen.
Ini berlaku jika komponen-komponen tidak saling berinteraksi
Prinsip Analisis Multikomponen
28/03/2013 Harrizul Rivai 20
Anggap suatu larutan terdiri dari komponen X dan Y, maka hasil
absorpsi akan tampak seperti di bawah ini.
Pada
1
, A
1
= a
x1
C
x
+a
y1
C
y

Pada
2
, A
2
= a
x2
C
x
+a
y2
C
y
A
1
adalah absorbansi pada
1
A
2
adalah absorbansi pada
2
a
x1
adalah absorptivitas zat x pada
1
a
x2
adalah absorptivitas zat x pada
2
a
y1
adalah absorptivitas zat y pada
1
a
y2
adalah absorptivitas zat y pada
2
Jika a
x1
, a
x2
, a
y1
dan a
y2

diketahui, maka dengan
pengukuran A
1
dan A
2
,
dapat dihitung C
x
dan C
y
28/03/2013 Harrizul Rivai 21
Contoh
Penentuan kadar campuran Paracetamol (PCM), Propyphenazone
(PP) dan Caffeine (CAF) secara simultan.
28/03/2013 Harrizul Rivai 22
Spektrum serapan PCM, PP dan CAF dalam air
28/03/2013 Harrizul Rivai 23
28/03/2013 Harrizul Rivai 24
28/03/2013 Harrizul Rivai 25
28/03/2013 Harrizul Rivai 26
Dengan menggunakan hukum Lambert-Beer, absorbansi
campuran pada masing-masing panjang gelombang didapatkan
sebagai berikut:
Absorptivitas ketiga obat itu pada ketiga panjang gelombang
ditentukan dari kurva kalibrasi sehingga persamaan di atas
dapat ditulis sebagai berikut:
28/03/2013 Harrizul Rivai 27
Oleh karena persamaan di atas mempunyai 3 faktor yang tidak
diketahui, maka metode matriks digunakan untuk menyelesaikan
sistem persamaan dengan tiga faktor tidak diketahui. Ketiga
persamaan di atas digambarkan dalam bentuk matrik dan
kemudian Kaidah Cramer digunakan untuk menyelesaikan matriks
itu. Hasilnya adalah konsentrasi PCM, PP dan CAF dalam larutan
sampel.