Anda di halaman 1dari 56

October 2014

Free Issue 59
Laporan Utama
+ Barat danTimur Bertemu di
Adelaide Showground
Travel
+ Discover South Australia
Liputan
+ Project O:
Gabungan Seni dan Edukasi
+ Soundsekerta 2014:
Limitless Indonesia
Art
+ Chinese Whispers
Daftar Isi
10
14
6
15
6INFO Batman Market, Pasar
Keluarga di Akhir Pekan
10NEWS Sumba Eye Program 2014
14LIPUTAN Project O: Gabungan
Seni dan Edukasi
15LAPORAN UTAMA Adelaide:
Gerbang Budaya Indonesia
(bilingual)
18LAPORAN UTAMA Barat dan
Timur bertemu di Adelaide Show-
ground (bilingual)
34BAHASA INDONESIA Indone-
sian for Foreign Learners (BIPA)
38LIPUTAN Lebih Akrab dengan
artis Soundsekerta 2014.
39ART Chinese Whispers
42LIPUTAN Soundsekerta:
Limitless Indonesia
46TRAVEL Discover South Aus-
tralia
34
39 42
18
4 ozip.com.au
38
46
BUSHIDO, WAY OF THE SAMURAI
NGV International, 180 St Kilda Road
Finish on 4 Nov 2014
FREE
Tidak perlu jauh-jauh pergi ke Jepang untuk melihat
Samurai karena sampai awal bulan November NGV
akan menampilkan Bushido yang mengeksplorasi
dunia menarik dari para samurai yang menjadi
prajurit, penguasa dan elite bangsawan masyarakat
Jepang selama lebih dari 800 tahun.
Dari abad ke-12 sampai akhir periode Edo tahun 1868, Shogun, penguasa regional dan
prajuritnya memerintah negara dan hidup dengan kode etik yang ketat. Aristokrasi militer ini
bercita-cita untuk hidup yang selaras antara seni perang dan juga seni rupa.
Pameran kali ini menampilkan warisan Bushido melalui baju besi, helm, pedang dan peralatan
berkuda, gulungan kaligra, benda lacquer, peralatan teh dan harta peninggalan lainnya.
5 ozip.com.au
Whats On
Daftar Isi
EVENT CALENDAR
MELBOURNE FESTIVAL
10-26 October 2014
Booking and Info:
Melbourne Festival Ofce (9am 5pm)
ph. 03 9662 4242
Melbourne Festival adalah salah satu
alasan mengapa kota indah ini menjadi
tempat terbaik untuk kesenian.
Festival ini eksklusif diadakan untuk para pencinta kesenian sebagai ajang untuk debut
perdana dan wadah bagi seniman lokal terbaik untuk unjuk gigi. Pengunjung akan dihibur
dengan tarian nasional dan internasional, teater, musik, seni visual dan multimedia.
Acara tertentu dapat dinikmati secara gratis serta pengunjung pun dapat membeli tiket
untuk menonton berbagai ragam pentas hiburan yang ditawarkan.
Courtesy Photo: www.melbournefestival.com.au
PIAZZA ITALIA
Lygon Street Car Park,
Carlton VIC 3053
204 218 Lygon Street
Carlton (opposite car park)
Cost: $5.00 all day
Car park times: 11am 11pm
Ride your bike to the Festa.
Bike racks will be available to
chain your bike up.
26 October 2014
11am 8pm

FREE EVENT
Info: info@rinaldo.com.au
www.carltonitalianfesta.
org.au
Festival Ini akan membawa
semua Melbournians
bersama-sama untuk
merayakan segala sesuatu
yang berbau Italia. Tampilan
musik, tari dan pertunjukan
komedi bersama dengan
demo masak, olahraga dan
kegiatan anak-anak tentunya
akan menghibur para
pengunjung. Dan yang tidak
ketinggalan makanan Italia
yang lezat untuk dinikmati,
yumm!
MOTORCLASSICA
THE AUSTRALIAN
INTERNATIONAL CONCOURS
DELEGANCE &
CLASSIC MOTOR SHOW
Royal Exhibition Building
Nicholson St, Carlton, Victoria 3053
24 - 26 October 2014
Adult: $30, Children (5-15 years) $20
Info and Ticketing: www.motorclassica.com.au
The Royal Exhibition Building Melbourne kembali akan menjadi tuan rumah acara tahunan
Motorclassica. Di tempat ini pecinta mobil akan dimanjakan dengan kendaraan dari yang paling
langka di dunia, mobil klasik yang indah dan bergengsi, vintage, maupun mobil veteran.
Courtesy Photo: www. motorclassica.com.au
PEONIS AND DRAGONS:
Chinese inspirations in Indonesian Arts
Museum of Indonesian Art (MIA) kembali menggelar pameran dan serangkaian diskusi
dari 20 September hingga 31 Oktober 2014. Bertempat di Fo Guang Yuan Art Gallery, 141
Queen Street, Melbourne. Kali ini mengambil tema PEONIES and DRAGONS: Chinese
inspirations in Indonesian Arts.
Courtesy Photo: Museum of Indonesian Arts
Lokasi: 14-22 Gaffney Street, Coburg, VIC 3058
Jam buka: 09:00-03:00 setiap hari Sabtu dan Minggu
A
khir pekan adalah saat bersantai bersama keluarga. Tapi itu
juga waktu untuk berbelanja keperluan seminggu ke depan.
Bagaimana dong? Coba datangi Batman Market, kawasan
perbelanjaan baru yang menawarkan belanja sambil bersantai
bersama keluarga. Anda bisa mendapatkan kebutuhan sehari-hari:
buah segar, sayuran, susu, telur dan roti, serta makanan dan
minuman multikultural dari berbagai etnik, juga aneka kerajinan.
Sambil menikmati makan siang seusai berkeliling pasar, anda bisa
menikmati hiburan musik. Konsep pasar ini ingin mendorong
pengusaha untuk mendukung seniman dengan bakat terbaik yang ada
di Melbourne melalui ruang multikultural yang tersedia.
Batman Market menyediakan 123 kios di luar ruangan yang diisi oleh
vendor-vendor berkualitas. Kawasan ini didesain mirip dengan
Borough Market, London. Sambil mengitari pasar, anda akan mencium
aroma menggoda dari berbagai hidangan eksotis dan masakan
internasional. Anda akan menjumpai Pamir Kebab dari bagian utara
China, vegetarian lunch box dari Taoists, traditional skewers dari dae-
rah selatan Italia - Stick on Grill, roti seperti Woodfrog Bakery St Kilda,
India dosa dari Overdosa, quesadillas Meksiko dari Treat Yo Self Cart,
dan masih banyak lagi.
Ingin ikut berjualan?
Penjual musiman juga diharapkan akan ikut meramaikan pasar baru
ini sesuai dengan program yang dijalankan. Terbuka juga peluang
untuk Stallholders baru yang ingin berpartisipasi. Pembeli potensial-
nya adalah 330.000 penduduk sekitar, turis ke kota Melbourne yang
melalui bandara Tullamarine, dan pengunjung dari kawasan suburb
lainnya. Setidaknya 3000 pengunjung diharapkan datang setiap
pekan. Warga yang berasal dari Italia, Yunani, Arab, Indonesia dan Cina,
merupakan calon pembeli potensial diharapkan ikut meramaikan
pasar ini.
Batman Market akan menjadi ikon baru Moreland, kota yang memi-
liki populasi 160.000 jiwa dan salah satu kota dengan pertumbuhan
penduduk tertinggi di Victoria. 25% penduduknya adalah pindahan
dari wilayah lain dalam 5 tahun terakhir. Warga baru ini adalah para
profesional muda berusia 25-35 tahun dan keluarga muda usia 35-50
tahun.
Menuju lokasi
Batman Market bisa dicapai 15 menit berkendara dari Bandara
Melbourne. Hanya 8 km dari Melbourne CBD. Terletak tepat di
sebelah Batman Train Station di persimpangan Sydney Road dan
Gaffney Street. Pengunjung bisa menuju lokasi dengan tram no.19 dari
pusat kota. Atau naik kereta api Upeld line. Beberapa rute bus juga
melewati kawasan ini. Lokasinya tak jauh dari Coburg, pusat-pusat
olahraga, dan taman. Sangat nyaman untuk berjalan bersama
keluarga, sambil berbelanja, berolah raga dan menimai makan siang
dengan menu internasional.
Batman Market Pasar Keluarga di Akhir Pekan
6 ozip.com.au
Sumber gambar: http://batmanmarket.com.au/index.php/Stalls
Basa-Basi Redaksi
Sebuah rekor dunia baru saja ditorehkan oleh warga Adelaide, Australia
Selatan. Lalu, apa hubungannya dengan kita? Ya, karena itu adalah rekor
bermain angklung terbanyak di dunia. 6.358 orang bermain angklung
bersama sekitar 5 menit di arena utama Royal Adelaide Show (13/9/14).
Untuk ukuran Australia, jumlah itu sangat fantastis. Untuk sebuah promosi
budaya, event itu menjadi momentum sangat penting bagi pengenalan
budaya dan memperkokoh hubungan antara warga Indonesia dan
Australia.
Dari Adelaide kita mendapat pelajaran berharga. Promosi budaya
Indonesia harus mendapatkan mitra lokal yang penuh kepedulian, punya
intensitas yang tinggi untuk mempromosikan budaya Indonesia, dan
tertantang untuk menciptakan momentum baru. Diaspora Indonesia di
South Australia terbukti berhasil menjadi bagian dari denyut kehidupan di
tengah lingkungannya. Mereka tak sekedar menumpang atau singgah,
melainkan ikut aktif sebagai bagian seutuhnya dari warga South Australia.
Semoga prestasi warga Adelaide itu dapat memacu negara bagian
lain untuk menghasilkan karya yang tak kalah spektakulernya, dalam
mempromosikan khazanah budaya Nusantara.
Design Contributors:
Ray Gamaliel | Aditya Hiracahya | Adela Saputra
Column Contributors:
Andrew Chan | Adrian Pranata | Andrie Wongso | Jane Lim
Joceline Fanjaya | Nuim Khaiyath | Nuni Berger
Priscilla Handoko | Yapit Japoetra | Hendrarto Darudoyo
Aland Juanda | Emmanuel Setyawan | Marcella Flaorenzia
Photographers:
Andrew S | Ineke Iswardojo |
| Andreas Budiman | Windu Kuntoro | Steven Tandijaya
The views and reviews expressed in this publication are not
necessarily those of the OZIP Magazine and the publisher,
nor do we endorse the advertisements or the contents.
Any materials (statements, views, opinions, articles, photographs,
advertisements) supplied to OZIP magazine by any contributor
or advertiser are at their own risk or responsibility and do not
necessarily represent the views of the publisher,
OZIP magazine and its staf. As we accept no liability for any
inaccuracy, misstatement, misrepresentations or omissions.
No part of this publication can be produced in whole part or
part without permission of OZIP.
Lydia Johan
Iip Yahya
Patricia Dara
Widi Baskoro
Daniel M Lim
Inez Johan
Iip Yahya
Andreas Budiman
Ivan Ciputra Halim
Patricia Dara
Maria Serenade Sinurat
Christsan Tandika
Larasati
Narita Sarastia
Ineke Iswardojo
EXECUTIVE EDITOR
EDITOR
PUBLIC RELATION
DESIGNERS
ADMINISTRATION
JOURNALISTS
PHOTOGRAPHER
Forsper Vi ctori a Pty Ltd
P.O. Box 3211
Wheel ers Hi l l , VI C 3150
t. 61 3 9780 777
i nfo@ozi p. com. au | www. ozi p. com. au
VICTORIA: ABBOTSFORD: Ying Thai Rest | BRUNSWICK: Mix Groceries
| CARLTON: Killiney Kopitiam, Indomix, Es Teler 77 | CARNEGIE: Kimchi
Grandma Rest | CAULFIELD: Nusantara Rest, Cauleld Grocery, Salero
Kito | IPC Church | CHADSTONE: Bamboe Caf & Rest | CITY: KJRI
Melbourne, Mid City Internet, Es Teler 77, Laguna Oriental Market, Nelayan
Indo Rest, Nusantara Rest, Kantor Garuda Indonesia, Blok M Express,
Shalom Rest, Kedai Satay, Bali Bagus Rest, Extragreen | CLAYTON: Hui Li
Asian Groceries, Warung Gudeg, Dapur Indo | GLENHUNTLY: Indosari
Rest | GLEN WAVERLEY: Kimchi Hut | GEELONG: Geelong International
Fellowship | HAWTHORN: Indomart, Laguna, Nelayan Rest, Wantilan Bali |
MT WAVERLEY: Alfamart I POINT COOK: Glory Asian Grocery, Point Cook
Town Center | SOUTH MELBOURNE: Garamerica Rest, Meetbowl Rest,
Ayam Penyet Ny. Ria I RESERVOIR: Broadway Asian Toko
SYDNEY: CITY: Shalom Indo Rest, Garuda Indonesia | KINGSFORD:
White Lotus Grocery, Rosebery Martabak Baksos House, Shalom Indo Rest,
Ayam Goreng 99, Rest Indorasa | MAROUBRA: KJRI Sydney, Mie Kocok
Bandung Rest | RANDWICK: Randwick Oriental Supermarket
CANBERRA: Indonesian Embassy
BRISBANE: Shalom | Sunnybank | Yuens Market | Malindo | Makanan
Indo | Sendok Garpu | Jakarta Rest
FROM THE
EDITOR
DISTRIBUTION POINTS
Advertorial and Sales Related Enquiries
Lydia
Phone: 0430 933 778
E-mail: lydia@ozip.com.au
Articles Related and General Enquiries
Iip Yahya
E-mail: ozipeditor@gmail.com
Cover Photos: Courtessy KBRI Canberra and Ozip documentation.
9 ozip.com.au Sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/b5/Melbourne_by_night.jpg
Nuim Khaiyath
Writer
Utopia yang dimaksud dalam tulisan ini bukanlah sinetron ABC yang sejak beberapa
waktu lalu ditayangkan di televisi. Dalam sinetron itu, kisah Utopia lebih bersifat
komedi dan sentilan, khas gaya Australia. Utopia dalam tulisan ini mengacu pada
suatu bentuk kehidupan yang mendekati kesempurnaan.
Sebagaimana diketahui, kota Melbourne (Victoria, Australia) untuk kesekian kalinya
kembali dinobatkan sebagai The Most Livable City in the World kota yang
paling layak huni di dunia. Atau menurut istilah orang Medan, Apa yang tak ada di
Melbourne ini? Hanya Emak dan Bapak saja yang tidak ada di sini. Begitulah, konon,
lengkapnya Melbourne hingga dianggap sebagai kota yang paling ramah dan penuh
kemudahan. Di tengah-tengah kotanya menjamur rumah makan Indonesia. Lezat
dan murah. Mau apa lagi?
Dalam bahasa klasiknya, Melbourne ini sudah mendekati Utopia istilah yang
mulanya diperkenalkan oleh tokoh Inggris Sir Thomas Moore dalam abad ke-16.
Dalam kisah khayal ini Sir Thomas Moore mengidamkan sebuah masyarakat
yang hidup rukun damai dan aman tentram lagi makmur di sebuah pulau di Lautan
Atlantik.
Jauh hari sebelum Sir Thomas Moore mengarang Utopia-nya itu, losof
Yunani Plato juga sudah mendambakan sebuah masyarakat yang mendekati
kesempurnaan yang para anggotanya dibagi dalam 4 bagian: kelas emas, kelas
perak, kelas perunggu dan kelas besi. Mirip sistem perkastaan di India? Wallahu
alam.
Dalam khazanah budaya Tiongkok juga dikenal Utopia yang disebut Datong yang
intisarinya adalah, Sebuah bumi milik semua. Agaknya yang dimaksudkan adalah,
Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Ada juga Shangrila, dan bagi Umat Kristen,
salah satu ayat dalam Bab Kejadian, dianggap sebagai pengejawentahan dari
Utopia, yakni The Garden of Eden (Taman Firdausi) - And the Lord God planted a
garden eastward in Eden; and there he put the man whom he had formed. And out
of the ground made the Lord God to grow every tree that is pleasant to the sight,
and good for food; the tree of life also in the midst of the garden, and the tree of
knowledge of good and evil.
Cuma menurut sejumlah pakar Bible, Taman Firdaus yang dimaksud dalam ayat di
atas hanya ada di akhirat.
Dalam Islam juga ada Utopia di permukaan bumi ini, yakni Baldatun thayyibatun,
wa rabbun ghafur (al Quran Surat 34 (Saba) ayat ke-15), yang tafsirnya kira-kira:
Negeri yang sejahtera dan Tuhan yang Maha Pengampun. Negeri seperti ini baru
akan tercipta apabila penghuninya tahu mensyukuri rezeki yang diberikan Allah.
Sebagai catatan sejarah, dalam tahun 800 Era Kristiani, di Timur Tengah (Dunia
Islam) terdapat 13 kota dengan penduduk masing-masing lebih dari 50-ribu jiwa,
sementara di Eropah hanya ada satu kota seperti itu Roma. (Islam without
Extremes Mustafa Akyol hal. 77). Dalam pedoman hidup bangsa Indonesia,
sebagaimana tertuang dalam Muqaddimah/Pembukaan Undang-Undang Dasar
45, terwujudnya sebuah negara yang Adil dan Makmur merupakan tujuan.
Menarik, bahwa keadilan lebih diutamakan daripada kemakmuran. Mungkin karena
itulah terjadi pergolakan dalam tahun 1998 menentang Orde Baru, karena meski
pun ada persepsi waktu itu dan bahkan sampai kini - bahwa Indonesia sudah
makmur dengan derap laju pembangunan yang konon sangat menonjol, namun
keadilan dinikmati hanya oleh segelintir elit. Juga jumlah jalur pemerataan yang
diusung dan digembar-gemborkan oleh Orde Baru secara terus menerus tidak
mampu menimbulkkan kemakmuran yang merata dan keadilan yang menyeluruh.
Namun Orde Baru tetap yakin bahwa pada akhirnya Indonesia yang tanahnya
habis dibetoni demi pembangunan niscaya akan tetap makmur, antara lain
karena Presiden-nya (Suharto) punya dukun yang sangat sakti. (Dalam buku riwayat
hidupnya Suharto mengungkapkan bahwa sebenarnya orang yang di masyarakat
waktu itu disangka sebagai dukun Suharto Sujono Humardani sebaliknya
mengakui berguru pada Suharto).
Nah, ketika 4 tahun berturut-turut Melbourne dinobatkan sebagai Kota Paling
Layak Huni di Dunia, banyaklah yang kembang kempis hidungnya, berbunga-bunga
hatinya. Yang menjadi penyelenggara kekuasaan di Melbourne, seperti Lord Mayor
(Walikota) Robert Doyle, tentu saja merasa sangat beralasan dan dapat dibenarkan
untuk membusungkan dada dengan bangga; kita-kita ini yang sudah terlanjur
menjadi penghuni Melbourne, mengangguk-angguk saja (meski kebanyakan di
antara kita secara teknis sebenarnya bukan penduduk Melbourne an sich, melainkan
Metropolitan Melbourne di pinggir-pinggir ibukota negara Bagian Victoria ini). Yang
namanya Melbourne itu sebenarnya adalah suatu wilayah yang luasnya tidak sampai
40 kilometer persegi dengan penduduk hanya sekitar 100 ribu jiwa.
Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai pelajaran ilmu bumi tentang Melbourne,
melainkan sebagai suatu pertanyaan, suatu keheranan kenapa di tengah-tengah
segala kehebatan dan puja puji yang disampaikan kepada kota Melbourne (dan
sekitarnya) itu, masih saja banyak kalangan yang benar-benar masygul, karena begitu
sering terlihat para pengemis, khusus di pusat kota, padahal perbuatan mengemis
dan memberi uang kepada pengemis berlawanan dengan hukum di Australia
ini. Masih banyak mereka yang tuna wisma, yang benar-benar hidup beratapkan
langit dan berselimutkan embun, biar pun di musim dingin dan terlebih lagi begitu
banyaknya penderita gangguan jiwa dalam segala bentuknya (seperti depresi), serta,
last but not least, tidak sedikit pula yang melakukan perbuatan nekat, alias bunuh
diri? Gangguan jiwa atau mental illness oleh Profesor Patrick McGorry dinilai sebagai
masalah terbesar yang dihadapi umat Manusia di Melbourne dan sekitarnya banyak
yang sudah mati 20 tahun lebih dini dari seharusnya, kata sang Profesor.
Sudah jenuh para pakar di bidangnya membicarakan keanehan ini, pertolak-
belakangan ini, namun kenyataannya belum banyak berubah. Apakah memang di
dunia ini tidak ada (dan tidak bisa ada) yang seratus persen sempurna? Tidak ada,
dan tidak mungkin ada, Utopia?
Pada suatu ketika Mikhail Gorbachev, pemimpin dari apa yang waktu itu dikenal
sebagai salah satu adikuasa dunia, yakni Uni Sovyet, sewaktu berkunjung ke Amerika
yang membanggakan dirinya sebagai Biang Kapitalisme, menanyakan kepada
tuan rumah Presiden Ronald Reagan, bagaimana bisa di negara yang dikenal begitu
makmur, begitu adikuasa, masih saja banyak orang yang tuna wisma, yang harus tidur
di luar ruangan, hingga di musim dingin tidak sedikit di antaranya pagi-pagi ditemukan
sudah mati beku. Sampai sekarang pun tidak sedikit keluarga di Amerika yang tinggal
dalam mobil masing-masing karena tidak mampu menyewa rumah, meski Amerika
begitu mampu menghamburkan demikian banyak uang, lebih 3,5 miliar dolar
saban tahun kepada Israel, dan lebih 1 miliar dolar kepada Mesir, misalnya. Pada hal
bukankah seharusnya lebih dahulu mengurus kerabat dekat baru orang lain? Jangan
Anak beruk di hutan disusui, anak sendiri di rumah kehausan. Lagi-lagi semua ini
membuktikan bahwa memang di dunia ini tidak ada yang sempurna.
Dikisahkan, di zaman lalu, para pembuat permadani di Iran, apabila selesai merajut
sebuah karpet yang sangat aduhai di mata setiap yang melihatnya, suka menggunting
atau mengoyak sedikit salah satu ujung permadani tersebut, agar dengan demikian
hasil karya itu jangan sampai terlanjur menjadi sempurna. Kata mereka ini, Yang
sempurna itu hanyalah Tuhan.
Namun segala ini tidak menghalangi atau mencegah banyak masyarakat untuk
mendambakan sebuah negeri yang Gemah ripah loh jinawi aman tentram,
makmur dan subur tanahnya. Sebuah negeri yang sempurna, yang sayangnya
sampai kapan pun niscaya tidak bakalan terwujud.
Barangkali ungkapan dan subur tanahnya itu mencerminkan bahwa bangsa Jawa
memang sangat kental kedekatannya dengan tanah, sebagai masyarakat agraris.
Meski, konon, dalam batin orang Jawa bergemuruh tekad untuk mangan ora
mangan asal ngumpul biar tidak makan namun tetap bersama, akan tetapi godaan
tanah yang subur dan luas yang masih belum digarap diseberang laut, di luar Jawa,
mendorong banyak di antara mereka yang akhirnya rela bertransmigrasi. Sementara
orang Minang (Sumatra Barat) lebih suka menggunakan istilah merantau, bukan
bertransmigrasi untuk mencari Utopia baru. Karena orang Jawa yang lebih banyak
jumlahnya maka pemerintah membentuk Departemen Transmigrasi, namun tidak
pernah ada departemen atau direktorat khusus untuk mengurus mereka yang ingin
merantau. Kasihan orang awak!
Ada yang berpendapat bahwa dengan terjadinya transmigrasi, dan sebelumnya
tradisi merantau, tampang dan perawakan orang Indonesia dari hari ke hari semakin
meningkat, disebabkan oleh kawin campur yang terjadi antara anggota satu
suku dengan anggota suku lainnya yang menghasilkan anak yang pada tubuh dan
tampangnya berbaur dua ciri berbeda hingga terjadilah sinergi! Beda dengan di
zaman lalu ketika yang lebih sering terjadi adalah pernikahan antara orang dari
sesama suku. Itulah, konon, sebabnya dewasa ini begitu banyak selebritas di
Indonesia yang tampangnya tidak kalah dari yang teraduhai yang dapat ditonjolkan
oleh Hollywood, meski, kabarnya, dibanding dengan Bollywood, kita masih harus lebih
berbenah lagi. Kata orang Inggris, Beauty is in the eye of the beholder cantik tidak
cantik terpulang maklum kepada yang melihat. Wallahu alam.#
(Organisasi amal untuk kandidat bunuh diri dan gangguan jiwa
dapat dihubungi pada tel. No: 1300 651 257 dan 131 114).*
UTOPIA
10 ozip.com.au
Sumba Eye Program 2014
Sekelompok dokter mata dan dan ahli kacamata dari Melbourne
yang terhimpun dalam Sumba Eye Program (SEP), baru saja
menyelesaikan bakti sosial di Waikabubak, Sumba Barat, NTT.
Kegiatan sosial ini sudah mereka lakukan sejak 2007 dan mendapatkan
sambutan sangat baik dari masyarakat setempat. Bagi warga Sumba,
kedatangan Tim SEP adalah bantuan yang sangat berharga. Selama ini,
hanya warga Sumba yang kaya yang bisa melakukan operasi katarak di
Bali atau Surabaya. Oleh karena itu, kedatangan Tim SEP setiap tahunnya
selalu dinantikan.
Tim yang dipimpin oleh Mark Ellis ini melaksanakan baksos pada 15-20
September 2014. Dan kali ini Tim SEP berhasil melakukan operasi katarak
untuk 98 pasien dan memeriksa (screen) mata 886 orang. Selain dibantu
oleh Sumba Foundation dan Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya,
SEP juga bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanud-
din, Sulawesi Selatan. Tim SEP juga didampingi oleh staf KJRI Melbourne
Budi Winarto yang ikut menjadi salah satu relawan.
Dalam perjalanan kali ini, saya sempat melawat beberapa waktu ke Juru-
san Ophthalmology Fakultas Kedokteran Unhas, ujar Mark. Dokter mata
yang berpraktik di Hawtorn Eye Clinic ini sangat senang dengan perkem-
bangan programnya yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Foto: dok. SEP
ASEAN Games 2014
Acara tahunan yang diadakan oleh
MASCA Victoria ini diadakan pada
tangga; 12-14 September 2014
yang lalu. ASEAN Games menjadi
sebuah acara yang sangat ditunggu-
tunggu oleh banyak masyarakat
ASEAN di Australia.
Berbeda dari tahun-tahun sebelum-
nya, ASEAN games tahun ini menye-
diakan Sembilan cabang olah raga
yaitu futsal, netball, bulu tangkis,
tenis meja, basket, squash, voli, tenis
dan Ultimate Frisbee. Tim Indonesia
sendiri mengirimkan pemain ke cabang olah raga futsal, basket dan
bulu tangkis.
Dapat terlihat dari ramainya penonton dan sorakan disetiap pertand-
ingan, bahwa banyak masyrakat ASEAN yang sangat tertarik dengan
acara ini. Yeo Sheh Tyne, Project Director dari ASEAN games 2014
menyatakan, acara ini ingin berusaha menjunjung tinggi keberagaman
latar belakang dari seluruh negara di Asia Tenggara. Oleh karena itu
panitia dari acara ini tidak hanya berasal dari Malaysia saja namun juga
dari berbagai negara lain seperti Indonesia dan Singapure. Semua ini
kami lakukan untuk menyediakan keberagaman ras di ASEAN games
ini.
Menurut Yeo Sheh Tyne, yang paling mengejutkan dari ASEAN games
tahun ini adalah jumlah peserta yang meningkat drastic. Jumlah
tim yang bertanding untuk cabang olah raga futsal mencapai 31 tim
sedangkan tahun lalu hanya ada sekitar 23 tim. Untuk cabang olah raga
voli pun dapat terlihat banyaknya peminat karena tahun ini terdapat
enam tim yang bertanding, dimana tahun lalu cabang olah raga ini
kurang banyak peminatnya.
Pieter Tjien, salah satu orang Indonesia yang menjadi volunteer untuk
ASEAN games berkata bahwa motivasi awal dia untuk bergabung
dengan ASEAN games adalah untuk mendapatkan teman banyak dari
negara lain dan juga untuk mengasah kemampuannya dalam berba-
hasa inggris. Dia mengaku bahwa para panitia ASEAN games sendiri
sangat akrab dan dekat dengan satu sama lain, hal ini membuatnya
merasa nyaman bergabung dengan ASEAN games.
Dari hasil pertandingan dalam dua hari, Indonesia menduduki juara 3
pada ASEAN games dengan memenangkan 3 medali emas, 2 medali
perak dan 2 perunggu. Tim basket putri Indonesia, Merah Putih, berha-
sil memenangkan juara 1.
Patricia Dara
1Antrian pasien yang sudah dioperasi katarak. 2Tim SEP diterima oleh Bupati Sumba Barat J. P Pandango. 3staf KJRI Melbourne, Budi winarto ikut menjadi relawan. 4Tim SEP bersama para relawan.
Mark Ellis mengawasi jalannya operasi
1 2 3 4
NEWS
Secara umum, seluruh permohonan pelayanan kekonsuleran
sebaiknya dilakukan oleh pemohon dengan datang langsung ke
loket Fungsi Konsuler KJRI Melbourne dengan melengkapi dan
menyerahkan seluruh persyaratan yang telah ditentukan.
Namun, mengingat jarak tempat tinggal pemohon dengan kantor
KJRI Melbourne dan tidak semua pemohon memiliki waktu luang
untuk melakukan aplikasi langsung, maka seluruh permohonan
administrasi kekonsuleran dapat dilakukan melalui proses surat
menyurat.
Bagi pemohon yang akan mengirimkan melalui surat kiranya dapat
mengirimkan seluruh persyaratan disertai amplop balasan tercatat
ke alamat KJRI Melbourne.
Perlu diperhatikan proses permohonan melalui surat akan
memakan waktu lebih lama mengingat adanya proses pengiriman
dan pengembalian surat.
Selain itu perlu juga untuk menjadi perhatian sekiranya terdapat
kerusakan/kehilangan/ keterlambatan selama dalam proses
pengiriman Paspor melalui Pos bukan menjadi tanggung jawab KJRI
Melbourne.
Mengingat wilayah akreditasi KJRI Melbourne maka pelayanan
kekonsuleran KJRI Melbourne hanya dapat dilakukan terhadap WNI
yang tinggal di wilayah negara bagian Victoria dan Tasmania.
Informasi dasar yang perlu diketahui terkait pelayanan KJRI
Melbourne adalah:
ALAMAT SURAT MENYURAT
Konsulat Jenderal RI MELBOURNE,
72 Queens Road,
Melbourne, Vic 3004 - Australia
MENGHUBUNGI KJRI MELBOURNE
Phone: 61 3 9525 2755
Fax: +61 3 9525 1588
E-mail: consular@kjri-melbourne.org
Website: www.kjri-melbourne.org
INFO UMUM PELAYANAN
KEKONSULERAN
KJRI MELBOURNE
13 ozip.com.au
ALAMAT PELAYANAN KEKONSULERAN
Pintu masuk melalui 72 Queens Lane, Melbourne,
Vic 3004
Pelayanan Kekonsuleran dilaksanakan pada hari
Senin- Jumat (kecuali hari libur) pukul 09.30
13.00 untuk pengajuan dan pengambilan aplikasi.
METODE PEMBAYARAN
JASA KEKONSULERAN
KJRI Melbourne tidak menerima pembayaran secara
tunai (cash). Seluruh pembayaran biaya administrasi
dilakukan dengan menggunakan cek (bukan personal
cheque)/money order/ kartu debit/ kartu kredit yang
ditujukan kepada Konsulat Jenderal Indonesia di
Melbourne.
SURAT PERJALANAN LAKSANA PASPOR
Surat Perjalanan Laksana Paspor adalah dokumen
perjalanan yang diberikan dalam keadaan tertentu
yang berlaku selama jangka waktu tertentu.
Keadaan tertentu di sini yaitu apabila paspor tidak
dapat diberikan untuk pemulangan Warga Negara
Indonesia apabila paspor ybs hilang atau rusak serta
pemulangan WNI bermasalah.
Untuk penerbitan SPLP, diperlukan kelengkapan
sebagaimana diperuntukan untuk penerbitan Paspor,
sebagai berikut:
a. Menyertakan Paspor Asli
b. Formulir Imigrasi RI Perdim 14 yang telah diisi
secara lengkap dan ditandatangani oleh pemohon
c. Pas foto terbaru fokus muka sebanyak 2 (buah)
ukuran standar international paspor (warna latar
belakang bebas, diutamakan putih)
d. Bukti visa terakhir;
e. Fotokopi Akte Kelahiran / KTP / SIM Indonesia
yang dikeluarkan oleh pemerintah RI yang masih
berlaku /Mengisi Formulir Pernyataan tidak
membawa Bukti Pengenal Indonesia.
Selain itu, mengingat SPLP adalah surat perjalanan
untuk keadaan tertentu, maka yang bersangkutan
wajib melakukan wawancara serta mengisi Berita
Acara Pemeriksaan. Perlu diperhatikan juga bahwa
Berita Acara Pemeriksaan hanya merupakan sebuah
dokumen administrative sebagai bagian dari prosedur
yang perlu dilengkapi.
14 ozip.com.au
B
agaimana cara memperkenalkan Indonesia yang begitu bera-
gam? Indonesia macam apa yang harus ditampilkan? Sekelom-
pok anak muda yang bergabung dalam Perhimpunan Pelajar
Indonesia Australia RMIT melakukannya dengan menggabungkan
kegiatan kesenian dan edukasi di bawah Project O 2014. Ini sebena-
rnya proyek berkelanjutan yang diisi dengan berbagai kegiatan seperti
lokakarya tari Saman, memasak makanan Indonesia, membatik, dan
bermain Angklung.
Untuk menandai puncak acara, digelarlah Night of Discoveries,
Sabtu (30/8), di Storey Hall, RMIT, Melbourne, yang dimeriahkan oleh
penampilan musisi jazz muda Indonesia, Barry Likumahuwa. Adapun
70 persen dari hasil penjualan tiket akan didonasikan kepada Yayasan
Cinta Anak Bangsa, organisasi nonprot di Indonesia yang bergerak
dalam pemberdayaan kaum muda.
Project O 2014:
Gabungan Seni dan Edukasi
Mengenalkan Indonesia, harus diakui, tidaklah mudah.
Pada acara puncak, ruangan di Storey Hall disulap men-
jadi galeri interaktif yang menampilkan pulau pulau di
Indonesia. Beberapa pulau yang ditampilkan di anta-
ranya, Java the Paddy Heaven, Sumatra the Gold Island,
dan Nusa Tenggara. Nabila Herzegovina, Media Ofcer
Project O, mengatakan bahwa tim kreatif memang
memfokuskan untuk menampilkan pulau pulau di Indo-
nesia yang besar.
Galeri interaktif ini ibarat makanan pembuka sebelum
acara bincang bincang dan kesenian yang dimulai pukul
19.30. Kendati lebih banyak dihadiri mahasiswa Indonesia, beberapa
wajah lokal tampak antusias mengapresiasi galeri. Brandon Fairbrother
salah satunya. Ketertarikan Brandon pada Indonesia muncul karena dia
mendapatkan pelajaran Bahasa Indonesia sejak tingkat Sekolah Dasar.
Semasa itu, dia bersekolah di Toongabbie, kota kecil yang terletak di
Tenggara negara bagian Victoria, 177 kilometer dari Melbourne. Bayang-
kan, di kota kecil yang jauh dari keramaian ini, Bahasa Indonesia bahkan
telah diperkenalkan sejak dini. Sejak itu saya tertarik pada Indonesia.
Tahun 2010 saya sempat ke Indonesia, tepatnya ke Manado, tukasnya.
Ketertarikan Brandon pada Indonesia membawanya ke Project O dan
berbagai acara yang berkaitan dengan Indonesia. Dia juga hadir di Fed-
eration Square saat perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17
Agustus lalu. Untuk terus mengasah Bahasa Indonesianya, Brandon ber-
gabung pula dengan Australia Indonesia Youth Association. Bagi Brandon,
berbagai acara Indonesia yang digelar di Melbourne cukup mengenalkan
Indonesia kepada masyarakat Melbourne. Acara acara ini cukup me-
nampilkan Indonesia. Tapi tentu sulit untuk benar benar menggambarkan Indonesia yang
sangat beragam dari budaya, orang orang, dan wilayah geograsnya, kata Brandon.
Upaya memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Melbourne bisa dikatakan banyak
yang berasal dari inisiatif warga, baik oleh komunitas yang berdiam di kawasan tertentu
maupun perkumpulan pelajar. Oldrin Lawalata, yang hadir di Project O, mengatakan bah-
wa semakin banyaknya kegiatan yang diinisiasi warga adalah hal yang harus diapresiasi.
Justru sangat bagus artinya masyarakat punya inisiatif untuk membuat berbagai kegiatan
untuk mempromosikan Kegiatan untuk memperkenalkan Indonesia di negeri rantau bisa
mengambil bentuk macam-macam.
Maria Serenade Sinurat
Foto: Windu Kuntoro
H
ow friendly are the Australians? If you ask for an address around
Melbourne, people will hapily help. Some of the older citizens
of Melbourne use Melways aka Melbourne Way, without
hesitation they will show you a street map in the Victorian street guide,
which existed well before the GPS system. Now try the same with the
citizens of Adelaide. They wont think twice to help you. If you still look
confused, they will quickly say, Let me take you there. Thats the
friendly nature of South Australians.
But, where is Adelaide? Indonesians are certainly
familiar with Australia. Cities like Sydney, Mel-
bourne, Perth are already well-known, but Adelaide
... wheres that? Adelaide is the capital city of South
Australia (Australia Selatan or Australia Kidul for
the Javanese). Adelaide covers 984.377 km
and is the fourth largest region in Australia.
The city is surrounded by hills and beautiful
beaches featuring world class facilities and is
a multicultural city that continues to grow and
innovate. In December 2013 the population
reached 1. 677 million people. Around 2, 000
people being immigrants from Indonesia,
both those who have settled in Australia as
well as those currently working or
studying in Australia.
Being aware Adelaide is still
relatively unknown, Indonesians
in South Australia have been very
active in promoting Indonesian
culture. Local residents have also
been involved in the promotion
efforts with the local govern-
ment providing both moral and
nancial support. These
continued efforts have
resulted in the annual Indofest,
held since 2008 it is re-
cognised as the largest
Indonesian festival in Australia.
Ive visited many countries and
witnessed festivals associated with
Indonesia, but Indofest is the most
impressive in my opinion. Such was the
acknowledgment made by
Vinsensius Jemadu, the Minister for
Tourism and Economic Creativity, as
quoted by Kompas Daily.
Besides being recognised as the largest festival, Indofest is also rec-
ognised as the most well organised Indonesian festival overseas. Now
Adelaide has a new achievement, the world record breaking angklung
performance at the Royal Adelaide Show, with 6,358 players in total.
And next year, Indonesia will be the main theme showcased at the
largest cultural festival, OzAsia Festival 2015. It really is no exaggera-
tion to proclaim Adelaide to be: the gateway to Indonesian culture in
Australia.
S
eberapa ramahkah orang Australia? Jika anda menanyakan
alamat di sekitar Melbourne, warga dengan senang hati akan
membantu. Warga yang lebih tua dan masih terbiasa meng-
gunakan Melway alias Melbourne Way, tanpa ragu akan memperlihat-
kan peta jalan di buku tebal yang jadi andalan sebelum ada sistem GPS
itu. Nah, coba lakukan hal yang sama kepada warga Adelaide. Mereka
dengan ringan hati akan membantu. Jika wajah
anda masih kelihatan bingung, mereka akan segera
memutuskan, Mari saya antar sampai tujuan. Itulah
keramahan warga Australia di bagian Selatan.
Namun, di manakah Adelaide? Orang Indonesia pasti
mengenal Australia. Kota-kota seperti Sydney,
Melbourne, Perth sudah cukup familiar, tetapi
Adelaide .. nanti dulu. Adelaide adalah ibukota
Australia Selatan alias Australia Kidul kata orang
Jawa. Luasnya mencapai 984,377 km
2
, wilayah
terbesar keempat di Australia. Kota Adelaide
dikelilingi perbukitan dan pantai yang indah dan
dengan fasilitas kelas dunia dan menjadi kota
multikultural yang terus
tumbuh dan berinovasi.
Pada Desember 2013
penduduknya mencapai
1.677.000 jiwa. Sekitar
2.000 jiwa di antaranya
adalah pendatang asal
Indonesia, baik yang
sudah menetap maupun
sedang menjalani studi
atau bekerja.
Sadar bahwa Adelaide masih
kurang dikenal, warga Indonesia di
South Australia sangat aktif mem-
promosikan budaya Indonesia.
Begitu pula warga lokal ikut terlibat
langsung dalam upaya promosi itu.
Pemerintah setempat juga tanpa
ragu memberikan dukungan moral
dan nansial. Hasilnya adalah acara
tahunan Indofest, yang dihelat sejak 2008 dan kini
diakui sebagai festival Indonesia terbesar di Australia.
Saya sudah mengunjungi banyak negara untuk
menyaksikan festival yang berhubungan dengan
Indonesia, tetapi Indofest adalah yang paling
mengesankan bagi saya. Demikian pengakuan
Vinsensius Jemadu, pejabat di Kementrian Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, sebagaimana dikutip harian Kompas.
Selain diakui sebagai festival terbesar, Indofest juga diakui sebagai
yang terbaik untuk pelaksanaan festival Indonesia di luar negeri. Kini
Adelaide mengukir prestasi baru, pemecahan rekor bermain angklung
terbanyak di dunia di Royal Adelaide Show, dengan jumlah pemain
6.358 orang. Dan tahun depan, tema utama Indonesia akan dihelat
dalam pesta budaya terbesar OzAsia Festival 2015. Sungguh, tak ber-
lebihan jika Adelide kita nobatkan sebagai: Gerbang Budaya Indonesia
di Australia.
15 ozip.com.au
ADELAIDE:
GERBANG BUDAYA INDONESIA
A GATEWAY TO INDONESIAN CULTURE
LAPORAN UTAMA / SPECIAL REPORT
Sumber gambar: http://en.wikipedia.org/wiki/Adelaide
Laporan Utama ini digarap oleh Iip Yahya dan Bintang Marisi, diterjemahkan oleh Tim Flicker.
Photos: KBRI Canberra, Tomy Bawulang, Faruq Ibnul Haqi, Adelindo Angklung &
Ozip documentation.
16 ozip.com.au
Sore itu, 13 September 2014.
W
ajah tegang diperlihatkan oleh Ferry Chandra. Pengelola
Adelindo Angklung itu hilir mudik membawa angklung dan
menawari pengunjung pesta tahunan di Royal Adelaide Show
(RAS). Target 7.000 peserta masih belum tercapai. Angklung masih
menumpuk rapi di dalam boks. Begitu pula Todd Shone, si empunya
hajat hari itu. Beberapa kali menghubunginya melalui telpon seorang
rekan untuk wawancara, tak berbalas. Pasti ia tak kalah tegang.
Anda hanya cukup menggoyangkannya saja nanti, ujar salah seorang
sukarelawan. Mudah sekali, dan Adelaide akan memecahkan rekor
dunia, lanjutnya.
Untunglah MC malam itu sangat membantu. Berkali-kali ia mengajak
para pengunjung yang memadati arena utama Royal Adelaide Show
untuk terlibat dalam pemecahan rekor. Ajakannya manjur. Memasuki
jam 19.00, relawan bergerak ke seluruh penjuru, membagikan angklung.
Saatnya tampil sudah tiba. Tim Adelindo Angklung sudah berada di
lapangan dan bergegas menata posisi peralatan. Wajah tegang Ferry
dan Todd mulai mengendur. Angka 6.000 sudah dilewati. Keduanya
segera memasuki lapangan mengiringi Duta Besar RI Nadjib Riphat Ke-
soema. Supervisor dari Saung Angklung
Udjo, Yayan Mulyana dan Satria Akbar
juga ikut mendampingi.
Ketentuan pemecahan rekor dari
Guinness World Record (GWR) me-
mang sangat ketat. 140 Steward disebar
di antara penonton untuk memastikan
para peserta benar-benar ikut bermain.
Setiap Steward mensupervisi 50 pe-
serta. Sebuah kamera-drone mengitari
lapangan selama acara berlangsung,
dan di setiap gerbang disiapkan kamera untuk menghitung peserta
yang membawa angklung keluar arena sebelum acara dilaksanakan.
Secara ringkas Ferry menjelaskan cara memainkan angklung. Anda
cukup mengikuti angka yang ada di bagian depan angklung. Kita harus
memainkan angklung tanpa henti selama lima menit. Mari kita coba
bersama.
Yayan Mulyana mendekati mikrofon. Bunyikan lebih keras lagi!
teriak putra Mang Udjo itu. Penonton terhipnotis. Gemuruh angklung
terdengar memecah malam. Lebih keras lagiii! Konser kolosal itu pun
dimulai selepas jam 8.00 PM.
Alunan nada Waltzing Matilda dan Happy Birthday terdengar harmonis
dimainkan lebih dari 6.000 pemain angklung dadakan. Tanpa latihan.
Semuanya mengikuti angka notasi yang muncul di layar besar. Permainan
Adelindo Angklung di tengah lapangan ikut menambah kekompakan para
pengunjung. Benar-benar pertunjukan kejutan dan spektakuler. Para pe-
ngunjung tak menyangka mereka telah memainkan alat musik yang baru
dikenalnya malam itu.
Lima menit lebih bunyi musik bambu itu memenuhi udara RAS. Semua
bergembira dan menyatu dalam harmoni. Ketika Ferry memberi aba-aba
untuk berhenti, tepuk tangan dan bunyi angklung bercampur menjadi
gemuruh sukacita. Banyak penonton yang masih ingin memainkan
angklungnya lebih lama lagi. Tetapi waktunya memang sangat singkat.
Sejumlah atraksi malam itu sudah menunggu giliran sebelum ditutup
dengan pesta kembang api.
Secara teknis, permainan angklung malam itu telah memecahkan rekor
dunia yang dibuat di Washington DC dua tahun lalu dengan jumlah 5.182.
Setelah dihitung secara cermat oleh Todd, 6.358 angklung dimainkan
malam itu.
Setelah semua berkas dilaporkan ke kantor pusat
GWR di London, kita menunggu sekitar enam minggu
sampai ada keputusan resmi, papar Todd.
Pilihan untuk mengajak pengunjung RAS memecah-
kan rekor bermain angklung memang cukup masuk
akal. Acara tahunan ini rata-rata dikunjungi 50.000
orang per hari, ujar Tony Hewitt, salah seorang
pegiat Indofest. selama 10 hari, ada sekitar 500.000
ribu pengunjung dan atraksi kembang api di setiap
malamnya.
Semua bergembira malam itu. Mereka telah menjadi bagian dari dunia
angklung, merasakan kebanggaan salah satu khazanah budaya Indonesia
yang sudah menjadi warisan budaya dunia itu. Tak ada satu pun yang
membuang angklung atau meninggalkannya di kursi tribun. Semua pulang
ke rumah masing-masing dan membawa angklung dengan rasa bangga.
Diam-diam, kebanggaan sebagai warga Indonesia kian menebal malam
itu. Sungguh, tak berlebihan jika Adelaide kita nobatkan sebagai: Gerbang
Budaya Indonesia di Australia.
Gemuruh Angklung di Royal Adelaide Show
LAPORAN UTAMA
... permainan angklung
malam itu telah meme-
cahkan rekor dunia ...
6.358 angklung dimain-
kan malam itu.
17 ozip.com.au
Afternoon, 13 September 2014
T
he tension could be seen on Ferry Chandras face, the owner
of Adelindo Angklung, as he offered angklungs to visitors of the
Royal Adelaide Shows (RAS) annual party. The target of 7,000
participants was yet to be achieved. Many of the angklung still piled
neatly in their box. The same tension could be seen on the face of
Todd Shone, whose idea it was to bring the angklung to the Show.
Some colleagues tried to call him several times for an interview, but
they received no response.. The tension was palpable.
All you have to do is hit it once said one volunteer. Its easy, and
Adelaide will break the world record, the volunteer continued.
Fortunately, the MC was extremely helpful that night. The MC invited
many visitors in the main arena of the RAS to get involved and to help
break the record. A powerful invitation. As the clock struck 7 pm,
volunteers moving frantically, handing out the angklungs to anyone
who was willing to perform.
The time for the performance had arrived. The Adelindo Angklung
team was getting into position and rushing to organise all the equip-
ment. Ferry and Todd began to look more relaxed as they accompa-
nied the Indonesian Ambassador Nadjib Riphart Kesoema on to the
stage. Supervisors Saung Angklung Udjo,
Yayan Mulyana and Satria Akbar also joined
them up on stage where over 6,000 people
were ready to perform.
The terms to break a Guinness World
Record (GWR) are very strict. There are 140
stewards placed amongst the audience to
ensure that all participants were actively
involved. Every stewards supervised 50 par-
ticipants. A camera panned the eld during
the event, and each gate had a camera ready before the event began
to calculate the participants leaving the arena with their angklung.
Ferry briey explained how to play the angklung. You simply follow the
numbers on the front of the angklung. We have to play the angklung
for ve minutes without stopping. Lets try it together.
Yayan Mulyana approached the microphone. Play it louder, cried the
son of Mang Udjo. Hypnotizing the audience, the sound of the ang-
klungs rumbling breaking the night sky. Even louder!, he added, as the
enormous concert began shortly after 8pm.
Even without a proper warm-up, the harmonious sounds of Waltz-
ing Matilda and Happy Birthday could be heard from over 6,000 new
angklung players. The Adelindo Angklung performance brought cheer
to the visitors as the notation numbers appear on the big screen in the
middle of the eld. What an amazing and spectacular performance.
That night, visitors who may not have known about angklung before,
suddenly became part of the amazing performance.
Five minutes later the sound of bamboo instruments lled the air
of the RAS. Everyone was happy and in harmony. Finally, when Ferry
signalled everyone to stop, the applause and sound of angklung in the
air was deafening. Many of the angklung players did not want to stop,
but the time had run out and other attractions awaited visitors before
reworks show closing the night.
Technically, the performance that night had eclipsed the world
record set in Washington DC with 5,182 players. Todd meticulously
calculated that the number of angklung players that night was 6,358.
Whether or not the record was broken is yet to be made ofcial.
After all the les are reported to GWR headquarters in London, we
wait about six weeks until a formal decision is made, explained Todd.
The decision to invite visitors of the RAS to help
break the record of playing angklung was
actually quite strategic. This annual event is
visited by an average of 50,000 people per day,
explained Tony Hewitt, an activist of Indofest.
For 10 days, there are about 500,000 visitors
and many attractions including the reworks
every night.
Everyone left happy that night. They had
become part of the world of angklung, feeling the pride and joy of
playing one of Indonesias cultural treasures that has become a part
of the worlds cultural heritage. No one left their angklung under their
chair or in the stands that night as they returned to their homes with a
sense of pride and triumph. Secretly, the pride of Indonesian citizens
covered the nights sky.
The Rumble of Angklung at the Royal Adelaide Show
SPECIAL REPORT
... the performance that
night had eclipsed the
world record ... the num-
ber of angklung players
that night was 6,358.
18 ozip.com.au
tujuan utama. Hal yang lebih penting ialah menjadikan Australia dan
Indonesia lebih dekat, mempromosikan angklung untuk menciptakan
harmony. Memperkenalkan Jawa Barat ke Adelaide dan Royal Adelaide
Show untuk Indonesia.
Sekarang ada 6.358 angklung di rumah-rumah di Australia Selatan.
Angklung yang masih tersisa akan diberikan kepada sekolah di
Australia Selatan yang mengajarkan pelajaran bahasa Indonesia. Kami
berharap bisa membagikan satu set lengkap untuk masing-masing
sekolah sehingga mereka dapat memainkan angklung sebagai bagian
dari pelajaran Bahasa Indonesia. Ini cara yang bagus untuk mempro-
mosikan budaya Sunda sebagai bagian dari budaya Indonesia.
Kami berharap acara ini menciptakan sebuah cerita yang bagus
tentang bagaimana orang-orang dari berbagai negara dan lapisan
masyarakat dapat bekerja sama. Pemenangnya ialah semua orang
yang menikmati permainan angklung pada malam itu. Kami
menerima banyak email dukungan atas keberhasilan acara itu dari
seluruh dunia yang mengucapan selamat kepada tim Angklung
United atas kesusksesan acaranya.
Kami berharap acara ini dapat memperkenal-
kan Australia Selatan dan kegiatan komunitas
terbesar kami, Royal Adelaide Show untuk
jutaan rakyat Indonesia sehingga mereka seka-
rang jadi tahu di manakah gerangan Adelaide
itu. Dan kami juga telah memperkenalkan Jawa
Barat, melalui instrumen angklung, ke lebih dari
satu juta warga Australia Selatan.
Kami percaya bahwa kami telah meletakkan
dasar yang sangat penting bagi penguatan
hubungan antara pemerintah negara bagian
Australia Selatan dan pemerintah provinsi Jawa
Barat, untuk membangun hubungan yang kuat
di bidang budaya, komunitas, bisnis dan hubungan bilateral, untuk
bekerja sama dalam harmoni dalam tahun-tahun mendatang.
Royal Agricultural dan Horticultural Society dapat memainkan peran
penting dalam pengembangan kapasitas warga Indonesia melalui
transfer pengetahuan dan pelatihan teknik agrikultur dan holtikultura,
keahlian yang telah dibuktikan selama 175 tahun.

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang itu telah
membantu sehingga mimpi saya menjadi kenyataan. Itu adalah
malam yang menakjubkan yang tidak akan pernah bisa saya lupakan.
Menjadikan Australia
dan Indonesia
Lebih Dekat Lagi
Todd Shone: Penggagas Angklung United
S
aya pertama kali mengenal Indonesia sekitar 1994 saat belajar
Bahasa Indonesia di sekolah, tetapi pertama kali mengunjungi
Indonesia pada 1997. Sejak itulah saya jatuh cinta pada masyarakat
dan budaya Indonesia. Saya mengunjungi Indonesia antara 50 sampai
60 kali sejak perjalanan pertama saya ke Bali pada 1997 itu. Saya ingin
mendorong warga Australia untuk melihat selain Bali sebab banyak
tempat-tempat lain yang ditawarkan oleh Indonesia. Saya telah me-
lakukan perjalanan ke banyak kota seperti Yogyakarta, Jakarta, Bandung,
Surabaya. Orang Indonesia itu sangat ramah, sangat memerhatikan
keluarga, mendukung masyarakat lokal, menghormati dan menerima
orang yang berbeda, budaya dan keyakinan.
Pada 2013 saya diundang oleh Risa Rosdiana untuk mengunjungi kota
asalnya Bandung, Jawa Barat. Selama kunjungan itu saya diundang ke
Saung Angklung Udjo (SAU). Saat melihat penampilan angklung SAU
itulah sebuah ide hinggap di benak saya, menyaksikan semua orang di
arena utama di Royal Adelaide Show bermain
Angklung bersama-sama. Ini akan menjadi
cara yang bagus untuk menyatukan Australia
Selatan dan Jawa Barat untuk mempromosi-
kan perdagangan bilateral dan persahabatan
antara Indonesia dan Australia.
Musik memiliki kekuatan luar biasa untuk
memecah hambatan bahasa dan instru-
men angklung menjadi sarana yang baik yang
dapat kita coba. Kita dapat saja memainkan-
nya sendirian, tetapi jika semua bekerja dan
bermain bersama, kita dapat membuat
harmony dan suara yang indah. Tidak peduli
apa warna kulit, dari negara mana berasal,
atau agama apa yang kita anut. Jika kita bekerja sama dengan satu
tujuan, kita dapat membuat harmony. Hal inilah yang terlihat pada hari
Sabtu, 13 September 2014 di Royal Adelaide Show.
Kami membagikan 6.358 angklung malam itu dari 7.000 yang telah
disiapkan pada malam itu. Kami memeriksa semua rekaman dan
catatan sebagai bukti yang harus dikirimkan ke Guinness World Record
di London untuk mengkonrmasi jumlah akhir. Namun, kami sangat
yakin bahwa rekor dari 5.182 di Washington DC pada 2011 itu telah
dipecahkan. Kami masih menunggu persetujuan resmi Guinness World
Record untuk mengkonrmasi rekor baru itu, tetapi hal ini bukan lagi
LAPORAN UTAMA
Musik memiliki kekuatan luar
biasa untuk memcah hambatan
bahasa dan angklung menjadi
sarana yang baik yang dapat
kita coba... Jika kita bekerja
sama dengan satu tujuan, kita
dapat membuat harmony...
19 ozip.com.au
I
rst learnt about Indonesia in 1994 whilst studying the language at
School, but it wasnt until I visited Indonesia for the rst time in 1997
that I fell in love with the people and culture of Indonesia. I have been
to Indonesia approximately 50 to 60 times since my rst trip to Bali in
1997. I would encourage people to look beyond Bali as Indonesia has
so much more to offer. I have travelled to many Indonesian cities like
Jogjakarta, Jakarta, Bandung, Surabaya. Indonesians are friendly, family
orientated people that support their local community and are respect-
ful and accepting of different people, their culture and beliefs.
In 2013 I was invited by my friend Risa Rosdiana to visit her home city
of Bandung, West Java. During my visit to Bandung I was invited to the
Udjo Studio, to see the Angklung performance and it was during the
Udjo performance that I had the idea come to me, about having all the
people in the main arena at the Royal Adelaide Show playing Angklung
together. I thought this would be a great way to Unite South Australia
and West Java to promote Bi Lateral trade and friendship between
Indonesia and Australia.
Music is a very powerful force that can break down the language
barrier and the Angklung promoted everything we are trying to
achieve. You can play it alone, but if we all play
together you can create harmony and a sweet
sound. It doesnt matter what colour your
skin is, your nationality or what religion you are
because if we all work together with one goal
you can create harmony. This was achieved
on Saturday 13th at the Royal Adelaide Show.
We had 7,000 Angklung made and handed
out 6,358 Angklung that night. We need to
review the footage and provide evidence to
the Guinness World Record to conrm the
nal number, but we are condent that we have
beaten the record of 5,182 set in Washington DC. We still need to wait
for the ofcial Guinness World Record approval to conrm if we have
ofcially broken the Guinness World Record, but this was not our main
objective. It was about bringing Australia and Indonesia closer togeth-
er, promoting the Angklung to create Harmony. Promoting West Java to
Adelaide and the Royal Adelaide Show to Indonesia.
Each person that participated was given their Angklung as a gift to take
home on the night, so there are now 6,358 Angklung in homes in South
Australia a small piece of West Java for everyone who participated
which is a great way to promote Sundanese culture.
The remaining Angklung will be issued to Schools in South Australia
that teach Indonesian lessons and we hope to provide a full set to the
schools so that they can include the playing of the Angklung as part of
their Indonesian Studies.
We hope that through this event and the Royal Adelaide Show we
have promoted South Australia and our Largest Community Event,
the Royal Adelaide Show to millions of Indonesians. But we have also
introduced West Java and the Angklung Instrument to over a million
South Australians.
We hope that this event created a positive story on how people from
different countries and walks of life can work together! The email
support we have received about the success of the event has been
overwhelming, I have received emails from around the globe
congratulating the Angklung United team
for a successful event.
We believe that we have laid a very
important cultural foundation and aware-
ness for the State Government of South
Australia and the Government of West Java
to build a strong cultural, community, busi-
ness and Government bilateral relation-
ship to work together in harmony for many
years to come. I believe that the Royal
Agricultural and Horticultural Society could
play a signicant role in capacity building for
Indonesia with the transfer of training and knowledge with advance
Agricultural and Horticultural techniques. Something the RA&HS has
been doing for South Australian Farmers for 175 years.

I would personally like to thank everyone that has helped my dream
become reality! It was an amazing night that I will never forget!
Bringing Australia
and Indonesia
Closer Together
Todd Shone with Indonesian Ambassador to Canberra Nadjib Riphat Kesoema
SPECIAL REPORT
Music is a powerful force that
can break down the language
barrier and the Angklung pro-
moted everything we are trying to
achieve... if we all play together
you can create harmony..
20 ozip.com.au
LAPORAN UTAMA / SPECIAL REPORT
Nadjib Riphat Kesoema
Dubes RI di Canberra
Indonesian Ambassador to Canberra
Musik tradisi seperti angklung memang dikenal sebagai ikon budaya
Indonesia. Angklung adalah khazanah asli budaya Indonesia, bukan negara
lain. Alat musik bambu ini memang fenomenal karena mudah dan bisa
dimainkan secara masal. Pemecahan rekor ini akan dikenang bersama
baik oleh warga Indonesia maupun Australia. Rekor ini akan memperkuat
semangat people to people. Sekali lagi acara ini menjadi bukti betapa luar
biasa hebatnya kerjasama antar budaya itu.
Partisipasi KBRI Canberra tidak banyak. Kami memang tidak bisa
mendukung banyak dalam soal dana. Kami hanya mendorong dan
membantu mempromosikan acara ini. Kesiapan itu yang saya sampaikan
ketika Pak Ferry Chandra datang ke Canberra untuk mendiskusikan acara
ini. Saya sampaikan mengenai acara ini dalam berbagai kesempatan di
Canberra dan kota-kota lain yang saya kunjungi. Begitu pula di Adelaide,
saya sampaikan dukungan saya itu kepada semua mitra kerja yang saya
temui.
Adelaide itu memang punya ciri khas yang mandiri. Masyarakat Indonesia
di sini sangat gigih mempromosikan budaya Indonesia dan hal itu
diimbangi oleh kegigihan yang sama dari warga lokal. Maka tidak
mengherankan jika Indofest menjadi festival Indonesia terbesar di
Australia. 20.000 pengunjung datang secara khusus untuk menyaksikan
berbagai sajian budaya Indonesia. Hal itu menandakan keinginan mereka
untuk berpartisipasi dengan denyut budaya Indonesia.
Prestasi warga Adelaide ini tentu layak diapresiasi. Di antaranya dengan
membuka rute penerbangan Jakarta-Adelaide. Sebetulnya rencana
penerbangan langsung ini sudah dibicarakan cukup lama. Dari pihak
Kementrian Perhubungan sudah menjajagi kemungkinan untuk itu
dan menentukan perusahaan mana yang akan terlibat. Namun,
karena ada isu politik yang menghangat (kasus penyadapan,
red), realisasinya menjadi tertunda.
Pemerintah South Australia juga menjadi Indonesia salah satu
prioritas mereka. Mereka sudah lama merencanakan untuk
membuka kantor perdagangan di Jakarta. Premier South
Australia Jay Weatherill menyatakan bahwa mereka akan
konsentrasi pada South East Asia. Sementara Gubernur
Hieu Van Le sangat mengapresiasi masyarakat Indonesia
di Adelaide yang sangat aktif dalam berbagai kegiatan
promosi budaya.
Traditional music such as angklung is known as an icon of Indone-
sian culture. Angklung is a genuine treasure of Indonesian culture,
not seen in any other country. This bamboo musical instrument
is phenomenal because it is easy to play and can be performed
en masse. This record-breaking will be remembered by both
Indonesians and Australians alike. The record will strengthen the
people to people bonds. The event was once again an incredible
testament to the impact of intercultural cooperation.
The participation of the Indonesian Embassy was fairly limited.
In terms of funding we could not offer much support. We could
only encourage and help promote the event. The willingness
to support was what I conveyed to Mr Ferry Chandra when he
came to Canberra to discuss the event. I also discussed the
event in Canberra and other cities that I visited. Also, in Adelaide
I conveyed my support to the partners that I met.
Adelaide has a particular quality of independence. The Indone-
sian community here are very persistent in promoting Indone-
sian culture and this persistence is matched by local residents.
So it is not surprising Indofest is the biggest Indonesian festival
in Australia. 20, 000 visitors came specically to watch the
delights of Indonesian culture. This indicates their desire to participate in
the heart of Indonesian culture.

The achievements of the people of Adelaide is certainly worthy of appre-
ciation. Amongst others, opening a route between Jakarta and Adelaide.
In fact, the direct ight path had already been discussed for a long time.
The Ministry of Transportation had explored the possibility of it and the
companies that would be involved. However, because of sensitive political
issues (the wiretapping case, red) its completion was delayed.
The South Australian government has also made Indonesia one of their
priorities. They have long planned to open a trade ofce in Jakarta. South
Australian Premier Jay Weatherill stated that they would concentrate
on South East Asia. While Governor Hieu Van Le greatly appreciates the
Indonesian community in Adelaide and is very active in the promotion of
cultural activities.

KATA MEREKA
20 ozip.com.au
21 ozip.com.au
KATA MEREKA KATA MEREKA
LAPORAN UTAMA / SPECIAL REPORT
Ferry Chandra
Pengelola Adelindo Angklung / Owner of Adelindo Angklung
Untuk menyukseskan pemecahan rekor ini, kami membentuk
Angklung United. Kunci sukses acara ini ialah adanya kerjasama
yang kompak dari semua pihak. Mulai dari lini produksi angklung
di Jawa Barat hingga semua orang yang hadir dan berpartisipasi
dalam acara ini.
Tentu masih banyak kekurangan dalam acara pertama ini. Di antaranya
perlu meningkatan kwalitas produksi angklung termasuk di dalamnya
pengepakan dan pengiriman hingga tiba di tempat. Juga sosialisasi awal
yang memadai agar pengunjung bisa memainkan angklung dengan benar.
Namun yang lebih penting, masyarakat Adelaide senang dengan musik
bambu ini, terbukti banyak yang berkomentar bahwa waktunya terlalu sing-
kat. Mereka ingin bermain beberapa lagu lagi karena terasa sekali kegembi-
raan saat bermain angklung bersama.
Angklung yang masih tersisa, akan dibagikan ke sekolah-sekolah, tidak
hanya yang mempunyai program bahasa Indonesia, tetapi sekolah mana
saja yang tertarik untuk mengenalkan alat musik angklung kepada siswa-
siswinya. Adelindo Angklung juga akan segera membuka kelas untuk anak-
anak agar momentum pemecahan rekor ini terus diingat dan dikembang-
kan di kalangan generasi muda.
Selain event tahunan Indofest 2015, kita mendapat kehormatan dalam
acara budaya terbesar di South Australia, yaitu OzAsia Festival 2015 yang
secara khusus akan menjadikan Indonesia sebagai tema utama. Kami
merasa diterima dengan tangan terbuka di sini, dan itulah yang mendorong
kami untuk terus berbenah.
To successfully break the record, we formed Angklung United. The key to
success was the cooperation between all the parties involved. Starting
from the angklung production line in West Java to all those who attended
and participated in the event.
Of course there were still many shortcomings in this rst event. This
includes the need to improve the quality of angklung production including
packaging and shipping to arrive at the correct place. Also, more time for
visitors to become familiar with the angklung so that the visitors could play
the angklung correctly.
But more importantly, the Adelaide community were happy to play this
bamboo music, as was evident from the many comments that there was
not enough time! They wanted to play a few more songs because of the
excitement they felt whilst playing angklung together.
The remaining angklungs will be distributed to schools, not only those
teaching Indonesian, but any school interested in introducing angklung
to students. Adelindo Angklung will also soon open a class for children to
continue the record-breaking momentum and to be remembered and
developed amongst the younger generation.
Besides having the annual event Indofest 2015, we have the privilage of the
largest cultural event in South Australia, namely OzAsia Festival 2015. The
event will have Indonesia as the main theme. We feel welcomed with open
arms here, and thats what drives us to improve.
23 ozip.com.au
Ferry Chandra & Yenny Chandra
22 ozip.com.au
Y
ayan Mulyana Udjo tak bisa
menutupi kegelisahan-
nya. Sengaja datang dari
Bandung bersama Satria Akbar,
baru kali ini ia berada di lingkung-
an yang sangat Barat. Di tengah
pameran tahunan pertanian dan
holtikultura yang digabung
dengan pasar malam, Yayan
benar-benar merasa asing. Saya
sudah keliling banyak negara
untuk promosi angklung, tetapi
baru kali ini berada di tengah ke-
ramaian ala Barat, aku penang-
gung jawab bidang penelitian dan
pengembangan Saung Angklung
Udjo itu berterus terang. Saya
tak bisa membayangkan
angklung akan dimainkan di
tengah suasana seperti ini,
lanjutnya.
Aneka tontonan yang menantang
maut memang menjadi sajian
utama malam itu. Ada atraksi
motor yang bersalto di udara.
Ada atraksi mobil yang dipacu
dengan kecepatan tinggi dan
dapat berjalan miring. Ada ke-
terampilan berkuda. Ada juga
atraksi sepeda yang dapat melompati mobil. Dan yang paling
menegangkan ialah penampilan rocketman, si manusia terbang.
Maka ketika lantunan harmoni angklung di Royal Adelaide Show itu
berhasil memecahkan rekor terbaru dunia Guinness World Record
dalam kategori Largest Angklung Ensemble, Yayan tak kuasa
menahan air matanya. Barat dan Timur ternyata bisa bertemu.
Bunyi musik bambu khas Jawa Barat itu ternyata dapat diterima oleh
masyarakat Australia. Angklung adalah alat musik yang membawa
kegembiraan dan malam itu semua orang bergembira memainkan-
nya, tutur Yayan dengan nada haru.
Kesuksesan acara ini tidak lepas dari peran serta masyarakat Australia
dan warga Indonesia yang tinggal di Adelaide. Sebanyak 200 orang
sukarelawan yang terdiri dari warga Indonesia dan Australia, bekerja
sama berusaha mensukseskan acara ini.
Acara ini adalah percobaan pertama pemecahan rekor bermain
angklung terbanyak di Australia, ujar Duta Besar RI untuk Australia,
Nadjib Riphat Kesoema. Menurutnya, dengan
acara seperti ini hubungan Indonesia dan
Australia akan semakin erat dan harmonis
seperti lantunan suara angklung yang mereka
mainkan.
Kerja Tim Angklung United yang terdiri dari warga
Indonesia dan Australia yang bersama-sama
menyukseskan acara ini, adalah contoh sederhana
dalam proses terbinanya kebersamaan dan pengertian
antara kedua negara. Kegiatan ini adalah momen bersejarah bagi
hubungan warga Australia Selatan dan Jawa Barat. Ia juga menyata-
kan bahwa pemerintah Indonesia melalui kedutaan besar di Canberra
mendukungan kuat kegiatan-kegiatan yang melibatkan warga
Indonesia di Australia.
Pengagas acara Todd Shone dari Shone Event Services, seorang
pengusaha Australia dan pecinta budaya Indonesia menyatakan
bahwa ide ini muncul setelah kunjungannya ke Saung Angklung Udjo di
Bandung. Saya sengaja melibatkan masyarakat lokal dan komunitas
Indonesia di Australia Selatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan
besar ini untuk menciptakan hubungan yang baik di antara mereka,
ungkap Todd.
Ia juga menambahkan berdasarkan pengalamannya, pertemanan
yang baik akan menghasilkan hubungan bisnis yang baik. Tidak hanya
hubungan antar pemerintah dan institusi, hubungan baik antara
masyarakat lokal dan komunitas Indonesia juga merupakan hal
penting dalam mempererat hubungan kedua negara.
Mengutip dari The Advertiser, biaya yang dikeluarkan dalam pe-
nyediaan 7.000 buah angklung mencapai angka 289 juta rupiah. Nilai
yang cukup fantastis bagi sebuah upaya yang dilakukan secara
swadaya. Shone meyakini kegiatan ini sangat positif bagi hubungan
kedua negara baik untuk kepentingan ekonomi, sosial budaya,
pendidikan, dan bidang terkait lainnya.
Salah satu warga Adelaide, Melissa, menyampaikan rasa gembiranya
bisa berpartisipasi dalam pemecahan rekor dunia dan memainkan
alat musik dari bambu yang sudah dikenalnya sejak sekolah dasar itu.
Saya senang bisa berpartisipasi menyukseskan usaha pencapaian rekor
terbaru dan memainkan alat musik bamboo ini. Angklung bukan hal
yang baru buat saya karena pernah saya mainkan saat saya di sekolah
dasar dan belajar bahasa dan budaya Indonesia, sebagai mata pela-
jaran pilihan yang saya ambil. Sudah lama saya ingin pergi ke Indonesia.
Mungkin saya akan pergi untuk melihat proses pembuatan angklung
yang sangat indah dan unik ini, kata Melissa.
Barat Dan Timur Bertemu
di Adelaide Showground
LAPORAN UTAMA
SPECIAL REPORT
ozip.com.au
Y
ayan Mulyana Udjo could not hide his anxiety. He came from
Bandung along with Satria Akbar, only this time he was in
a very Western environment. In the midst of the annual
exhibition of agriculture and horticulture alongside a night market,
Yayan really felt out of place. Ive been around many countries to
promote angklung, but this is my rst time encountering a Western
crowd. I am responsible for research and development of Saung
Angklung Udjo. To be honest I could never imagine angklung being
played in the middle of an atmosphere like this he stated.
Various death-defying spectacles were on display that night. There
were motorcycles somersaulting mid air. There were cars driven at
high speed and leaning on just two side wheels. There were horse
shows and bikes jumping over entire cars. Most exciting of all was the
performance of rocketman, the ying man.
The harmonius sounds of the angklung
at the Royal Adelaide Show managed to
break the latest record in the Guinness
Book of Records for Largest Angklung
Ensemble. Yayan could not hold back his
tears. It turns out East and West can meet
after all. The sound of West Javanese
music was well received by the Australian
community. Angklung is a musical
instrument that brings great joy and that
night everyone had great joy playing it
said Yayan with emotion.
The success of this event cannot be
seperated from the local Australian
community and Indonesians living
in Adelaide. As many as 200
volunteers including both
Indonesian and Australian citizens,
working together to make this
event a success.
This event is the rst ever attempt to break the record for the largest
angklung performance in Australia said Ambassador to Australia,
Najib Riphat Kesoema. According to Mr. Kesoema, with events like this
the Indonesia-Australia relationship will continue to become stronger
and more harmonius just like the melodic sounds of the angklung.
The teamwork of Angklung United, including both Indonesian and
Australian citizens, helped make the event a success. This is a
simple example of togetherness and understanding between the two
countries. This activity is a historic moment for the people of South
Australia and West Java. Mr. Kesoema stated that the Indonesian
government through the embassy in Canberra strongly supports
activities involving Indonesian citizens in Australia. The events
founder Todd Shone of Shone Events Services, an Australian
businessman and lover of Indonesian culture stated that the idea
came to him after visiting Saung Angklung Udjo in Bandung. I wanted
to involve the local community and Indonesian community in South
Australia directly in this huge event to create a positive relationship
between them, Todd said.
He added that in his experience, a good personal relationship will
result in a good business relationship. Not just the relationship
between governments and institutions, the relationship between the
local community and Indonesian community is another important
factor in strengthening the relationship between the two countries.
Quoting from The Advertiser, the costs incurred in the purchase of
the 7,000 angklung reached 289 million Rupiah. (approximately
$27, 000 Australian dollars). A fantasic result for an independent
event of this nature. Mr Shone believes this event will have a postive
impact for the two nations econonmically, socio-culturally,
educationally and in other related elds.
One citizen from Adelaide, Melissa, expressed her sense of enjoyment
in particpating in a world record attempt and playing the bamboo
musical instrument, which she had known about since primary school.
Im delighted to participate in this new world record and playing this
bamboo musical instrument. Angklung is not something new for me as
Ive played the instrument in primary school and studied the language
and culture of Indonesia, as an elective at school. Ive wanted to vist
Indonesia for a long time. Maybe I can go and see the process to make
these beautiful and unique angklung said Melissa.

East Meets West at
Adelaide Showground
23
K
epedulian, intensitas,
dan momentum adalah
tiga hal yang terlihat
dari keberhasilan warga
Adelaide memecahkan
rekor bermain angklung
terbanyak di dunia. Tokoh
kunci di balik kesuksesan
acara itu adalah Todd Shone.
Sosok yang sederhana dan
berdedikasi tinggi untuk ter-
ciptanya jalinan budaya
Indonesia-Australia. Todd
tidak hanya membuat konsep
dan menyediakan dana, tetapi
juga bekerja penuh saat hari-H.
Jam 6 pagi seusai acara, ia
sudah kembali ke RAS untuk
memastikan jumlah angklung
yang dimainkan. Ia dan
beberapa saksi memeriksa
satu per satu dus yang dipakai membungkus angklung. Dari penghitun-
gan yang cermat itulah ia sampai pada angka 6.358.
Kepedulian Todd pada pentingnya hubungan warga Indonesia-
Australia melalui jalur budaya diperlihatkannya melalui acara
itu. Mengunjungi berbagai kota dan daerah di Indonesia menunjukkan
intensitasnya dalam mencari bentuk yang paling tepat. Dan pada 2013,
ia terpukau oleh harmoni musik bambu di Saung Angklung Udjo, yang
dilihatnya mampu menyatukan manusia dari berbagai latar bangsa,
agama, suku, dan bahasa. Itulah momentum ketika ide memecahkan
rekor bermain angklung menyelinap dalam benaknya.
Ini pekerjaan yang luar biasa. Sangat melelahkan untuk menyiapkan
semua ini tetapi semuanya terbayar dengan pecahnya rekor. Saya
sudah menemukan gambaran besar hubungan warga kedua negara
ini di masa depan, ujar Todd seusai acara malam itu. Sekarang saya
akan mengambil rehat untuk beberapa pekan, untuk menggarap
agenda selanjutnya, sambungnya sambil tersenyum.Secara resmi
Todd mempersiapkan acara tersebut sejak Januari 2014. Pada bulan
April ia membentuk Tim Angklung United yang terdiri dari: Mr Todd
Shone, Risa Rosdiana, Ferry Chandra dan Yenny Chandra (Adelindo
Angklung), Shone Event Services, AWI, masyarakat Indonesia, AIA,
PPIA, INTAN, dan Brad Ward dari Adelaide Showground.
Dana untuk kegiatan ini, khususnya untuk pembelian angklung, be-
rasal dari perusahaannya Shone Event Services dan AWI (Angklung
Web Institute) melalui Budi Suhardiman. Even ini juga didukung oleh
perusahaan lokal seperti Kwik Kopy Printing, PODS Adelaide dan Royal
Adelaide Show. Menjelang pelaksanaan mereka diperkuat dengan
kehadiran dua supervisor dari Saung Angklung Udjo, Yayan Mulyana
dan Satria Akbar. Dua tokoh angklung inilah yang membantu panitia
untuk memastikan bahwa seluruh angklung dapat dimainkan.
Sosok seperti Todd Shone inilah yang harus ditemukan oleh
para pendatang Indonesia di Australia. Di setiap kota dan negara
bagian dimana warga Indonesia bermukim, pasti ada sosok seperti itu,
dengan kadar yang berbeda-beda. Hal yang dapat dipelajari dari
Adelaide ialah bagaimaan sosok seperti Todd, mendapatkan
ruang berkreasi dan dukungan penuh dari diaspora Indonesia.
Dengan demikian, kepedulian, intensitas dan momentum itu
akan terus tercipta dalam upaya memperkokoh hubungan
warga Indonesia dan Australia.
Photos: dok. Todd Shone
C
oncern, intensity and momentum are three things that
could be seen from the record breaking success of the
residents of Adelaide playing the most angklungs in the
world. The key gure behind the success of this event was Todd
Shone. This simple and highly dedicated gure paved the way for
Indonesia-Australia cultural relationship. Todd not only came up with
the concept and provided funding, but also worked non stop until
D-day. At 6 in the morning after the show, he had already returned to
RAS to determine the amount of angklung that had been played. He
checked one by one the boxes used to wrap the angklung. From his
careful calculation he came to a total of 6, 358.
Todd is aware of the importance of the Indonesia-Australia
relationship particularly through cultural ties as could be seen
in this event. Visiting various cities and towns in Indonesia shows his
intensity in nding the right cultural form. In 2013, he was captivated
by the bamboo musical harmony of Saung Angklung Udjo, which was
able to unite people from various backgrounds, religions, ethnicities
and language groups. That was the moment that the record breaking
angklung performance came to mind.
Its an incredible job. Very tiring to prepare all this, but it paid off
breaking the record. Ive discovered the big picture of the relationship
between the two countries in the future, Todd said after the show
that night. Now Ill take a break for a few weeks, to work out whats
next on the agenda he added with a smile.
Ofcially Todd had been preparing the event since January 2014. In
April he formed the Angklung United team including: Mr. Todd Shone,
Risa Rosdiana, Ferry Yenny Chandra and Chandra (Adelindo
Angklung), Shone Event Services, AWI, the Indonesian community,
AIA, PPIA, INTAN, and Brad Ward of the Adelaide Showground.
Funds for this activity, especially for the purchase of the angklungs,
came from Shone Event Services and AWI (Angklung Web Institute)
via Budi Suhardiman. The event was also supported by local
companies such as Kwik Kopy Printing, PODS Adelaide and the Royal
Adelaide Show. The events were further strengthened by the
presence and supervision from Saung Angklung Udjos Yayan Mulyana
and Satria Akbar. These two gures of angklung helped the committee
determine that all of the angklungs would be played.
Figures such as Todd Shone are those that must be found by
Indonesian migrants in Australia. In every city and state that
Indonesian people reside, there must be gures like him, each with
their own unique characteristics. Something that can be learnt from
Adelaide is how a gure like Todd can access the creativity and
support of the Indonesian diaspora. With that being said, the
awareness, intensity and momentum will need to continue to be
created in order to strengthen the relationship between
Indonesian and Australian citizens.
Belajar Dari Todd Shone
LAPORAN UTAMA / SPECIAL REPORT
ozip.com.au
Todd Shone bermain angklung
di Saung Angklung Udjo, Bandung.
24
26 ozip.com.au
MEDICARE LEVY
Semua warga negara dan penduduk tetap Australia berhak mendapatkan
Medicare yaitu tunjangan kesehatan yang diberikan pemerintah Australia
dengan berbagai fasilitas tanpa dikenakan biaya alias grats. Contohnya
sepert rumah sakit umum, pengobatan ke dokter umum, serta fasilitas
kesehatan lainnya. Hanya saja tdak semua orang yang tnggal di
Australia berhak memperoleh fasilitas tersebut. Bagi individu yang berhak
memperoleh fasilitas medicare, mereka berkewajiban untuk membayar
medicare levy pada saat pelaporan pajak penghasilan setap tahunnya.
Medicare Levy Exempton
Bagi mereka yang tnggal di Australia tetapi tdak berhak atas medicare,
contohnya sepert pemegang visa pelajar, visa tnggal sementara, dan
lainnya, maka mereka dapat mengajukan pembebasan atas medicare levy
(medicare levy exempton). Untuk memperoleh medicare levy exempton,
orang yang bersangkutan harus terlebih dulu mengajukan permohonan
untuk Medicare Levy Exempton Certfcate kepada Medicare Australia.
Medicare Australia akan meminta fotokopi dan legalisir dari semua halaman
passport yang sudah terpakai, misalnya Visa Australia, cap kedatangan dan
keberangkatan ke/dari Australia, dan halaman yang tercetak foto pemegang
passport.
Untuk mendapatkan sertfkat ini, anda harus mengisi formulir permohonan
dan meyerahkan kembali kepada Medicare Australia. Formulir tersebut
akan diproses dan diperiksa kebenarannya. Dari hasil pemeriksaan yang
dilakukan, selanjutnya jika permohonan anda diterima, maka Medicare
Australia akan mengeluarkan medicare levy exempton certfcate. Akan
tetapi jika permohonan anda ditolak, mereka akan menerbitkan surat
pernyataan yang menjelaskan alasan penolakan atas sertfkat tersebut.
Anda tdak berhak untuk mendapatkan medicare levy exempton jikalau
anda termasuk salah satu dari kategori di bawah ini:
memegang visa penduduk tetap (Permanent Residence) atau
telah mengajukan permohonan untuk visa penduduk tetap.
sebelum memasuki Australia berkedudukan di salah satu
negara berikut ini: Inggris, Irlandia, Itali, Malta, Swedia, Belanda,
Finlandia, Belgia, Selandia Baru, Norwegia atau Slovenia.
Penduduk Australia yang tnggal di luar Australia kurang dari lima
tahun.
Medicare Levy Surcharge (MLS)
Medicare Levy Surcharge akan dikenakan kepada individu atau
keluarga yang penghasilannya di atas batas yang telah ditetapkan
dan juga bagi mereka yang tdak memenuhi standard asuransi
yang mencangkup rumah sakit swasta. Biaya ini akan dikenakan
di dalam periode dimana individu atau keluarga tersebut tdak
memenuhi syarat yang telah ditetapkan.
Seseorang tdak perlu membayar Medicare Levy
Surcharge apabila:
orang tersebut atau semua tanggungan (termasuk
pasangan) termasuk dalam kategori medicare levy
exempton selama satu tahun penuh penghasilan.
memiliki asuransi rumah sakit swasta yang jumlahnya
sesuai dengan standard yang telah ditetapkan.
Kapan Harus Membayar MLS?
Seseorang mungkin harus membayar MLS selama tahun
berjalan dimana orang tersebut atau tanggungan mereka
tdak memiliki jumlah asuransi rumah sakit swasta yang
tepat untuk keseluruhan tahun penghasilan. Begitu pula jika
orang tersebut memilik income yang melebihi dari batas yang
ditentukan untuk kewajiban MLS.
Perlu tdaknya anda membayar MLS tergantung dari
kondisi keluarga anda, misalnya batas pendapatan untuk
kewajiban MLS akan lebih tnggi jika anda memiliki anak yang
merupakan tanggungan anda.
Tabel berikut ini merupakan informasi mengenai batas
pendapatan dan tarif MLS yang akan dikenakan bagi wajib
pajak:
Tier 1 Tier 2 Tier 3
Single $88,000
atau
kurang
$88,001 -
$102,000
$102,001 -
$136,000
$136,001
atau lebih
Families $176,000
atau
kurang
$176,001 -
$204,000
$204,001 -
$272,000
$272,001
atau lebih
Medicare
levy sur-
charge rate
0% 1% 1.25% 1.5%
Jika ternyata penghasilan tahunan anda melebihi
batas yang telah ditentukan di atas dan anda harus
membayarkan MLS, maka jumlah tersebut nantnya
akan digabung dengan Medicare Levy dan tertera
sebagai kesatuan jumlah sebagai Medicare levy and
surcharges di dalam Notce of Assessment anda.
Source: Australian Taxaton Ofce
The Materials are provided for general informaton
purposes only and are not intended as professional
advice and should not be substtuted for, or replace,
such professional advice.
FINANCE
27
ozip.com.au
27
ozip.com.au
27
ozip.com.au
Lindungi Diri Anda
Ketika Memesan
Paket Liburan
Sebuah kampanye baru dari lembaga perlindungan konsumen Australia mengingatkan
wisatawan akan langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk melindungi perjalanan
dan pemesanan liburan mereka.
Direktur Urusan Konsumen (Consumer Affairs) Victoria Dr Claire Noone mengatakan bahwa
meningkatnya persaingan dan pertumbuhan pemesanan online telah mengubah cara orang
dalam merencanakan dan membeli paket perjalanan mereka. Bagi sebagian orang, memesan
paket liburan mungkin menjadi proses yang cepat dan sederhana, namun ada pula yang
meluangkan banyak waktu dan usaha dalam merencanakan perjalanan mereka, kata Dr Noone.
Kita tahu bahwa orang Australia senang bepergian, dan banyak yang kembali ke negara asal
mereka untuk mengunjungi keluarga dan teman, sambungnya.
Statistik menunjukkan bahwa orang Australia melakukan sembilan juta perjalanan ke luar negeri
pada tahun lalu.
Sangat mudah untuk menjadi terlalu bersemangat tentang liburan dan melupakan
tindakan pencegahan sederhana yang seharusnya Anda lakukan untuk melindungi
pembelian Anda.
Dr Noone mengatakan bahwa selain perlindungan yang dimiliki semua konsumen di bawah
Hukum Konsumen Australia (Australian Consumer Law), ada beberapa langkah dasar yang
dapat dilakukan untuk melindungi pembelian mereka.
Reputasi dan layanan pelanggan adalah cara yang sangat sederhana untuk memastikan liburan
Anda akan berjalan dengan menyenangkan, ujar Dr Noone.
Lihatlah bagian ulasan dan mintalah rekomendasi dari keluarga, teman dan orang lain di
komunitas Anda. Jika Anda memesan di agen perjalanan, pastikan mereka terakreditasi. Setiap
pemesanan Anda, baik secara langsung atau online, harus menyatakan dengan jelas kebijakan
mengenai pengembalian dana dan keluhan.
Konsumen juga dapat melindungi diri sendiri dengan memilih cara membayar biaya perjalanan.
Kartu kredit mungkin merupakan cara yang lebih mahal untuk membayar pembelian, tetapi cara
ini menawarkan perlindungan karena konsumen dapat meminta pengembalian uang dari bank
mereka jika setelah memesan mereka tidak mendapatkan apa yang dibayarkan.
Konsumen dapat meminta bank mereka untuk mengembalikan uang pembayaran jika pem-
belian itu dilakukan dengan kartu kredit atau dengan memilih cara kredit pada kartu debit
Mastercard atau Visa, namun tidak bisa jika mereka membayar dengan cara cek atau tabungan
melalui kartu debit, tunai, cek, transfer uang, debit langsung atau BPAY.
Wisatawan sangat dianjurkan untuk mengambil asuransi perjalanan yang komprehensif
saat bepergian, dan memeriksa apa saja keadaan dan kegiatan yang tidak tercakup oleh
polis asuransi ini.
Untuk mengetahui tip dan informasi lebih lanjut tentang cara memesan yang aman untuk liburan
Anda berikutnya, kunjungilah www.packsomepeaceofmind.gov.au.
INFO TRAVEL
28 ozip.com.au
29 ozip.com.au 29 ozip.com.au 29 ozip.com.au
VISA PR UNTUK ORANG TUA ANDA
Banyak yang sering menanyakan kepada saya, apakah mereka bisa mensponsori orang tua mereka untuk mendapatkan PR Australia. Mulai
2 Juni 2014, visa permanen untuk orang tua yang bukan contributory telah ditutup untuk aplikasi baru. Di artkel ini kita akan membahas
tentang contributory parent visa yang masih ada.
Untuk mendapatkan visa ini, syarat-syarat yang mest dipenuhi oleh orang tua anda:
1. Orang tua anda harus memenuhi balance of family test, artnya minimum 50% dari anak orang tua anda adalah PR atau warganegara
Australia yang tnggal menetap di Australia Atau jumlah anak yang sudah PR atau warga negara Australia yang tnggal menetap di Australia
adalah lebih banyak dari negara manapun.
2. Orang tua anda biasanya harus disponsori oleh anaknya yang sudah setled (biasanya tnggal minimum 2 tahun) di Australia.
3. Memenuhi test kesehatan.
4. Memenuhi test karakter.
5. Tidak mempunyai utang dengan pemerintah Australia atau telah membuat perjanjian untuk membayar utang kepada pemerintah
Australia (jika ada).
6. Harus menandatangani pernyataan bahwa mereka akan menghormat nilai kehidupan masyarakat Australia dan menaat hukum
Australia.
7. Assurance of Support (AOS) sudah diterima. Untuk AOS ada bond yang harus dibayar yaitu sebesar $ 10,000 untuk orang pertama, dan $
4,000 untuk orang berikutnya yang berusia 18 tahun ke atas.
8. Telah membayar 2nd Visa Applicaton charge sebesar $ 43,600 per orang tua.
Jika 2nd Visa applicaton charge dirasakan terlalu mahal, anda bisa membayarnya dua kali dengan memasukkan aplikasi Contributory
Parent (Temporary) visa dulu untuk dua tahun pertama dan kemudian baru gant ke Contributory Parents (Residence) visa. Dengan demikian
pembayaran 2nd Visa applicaton charge bisa menjadi dua kali, yaitu $ 29,130 sebelum mendapatkan Temporary Contributory Parents visa
dan $19,420 sebelum mendapatkan permanent visa.
Artkel ini ditulis hanya sebagai informasi umum yang dan bukan sebagai penggant nasihat keimigrasian bersadarkan informasi yang ada
sampai 10 September 2014.
Yapit Japoetra MARN 0213101 - YNJ Migration Consultants
K
ebanyakan warga Australia belumlah tentu tahu betul soal
Indonesia, meski negara dengan populasi total mendekati
250 juta itu terbilang tetangga terdekat mereka di utara.
Mereka belum pasti tahu, misalnya, bahwa begitu beragamnya adat
tradisional di Indonesia dan bahwa orang Indonesia masing-masing
punya bahasa nasional dan daerah. Sebagian boleh jadi sempat me-
ngunjungi salah satu atau beberapa daerah tujuan wisata di nusantara,
sementara lainnya belum pernah melihat Bali sekalipun. Sebagian lagi
mungkin sudah tinggal lama untuk bekerja di Jakarta atau beberapa
waktu untuk sekedar kuliah bahasa dan budaya di Yogyakarta,
sedangkan selebihnya bahkan sama sekali tidak pernah menginjakkan
kaki di wilayah manapun dalam NKRI.
Tidak bisa dipungkiri, cukup banyak jumlahnya diantara masyarakat
umum Australia yang masih tergolong buta akan sejumlah informasi
penting dan terpercaya menyangkut Indonesia. Termasuk dalam hal
ini adalah potensi ekonominya sebagai salah satu negara yang patut
diperhitungkan di kawasan Asia. Mereka luput mengikuti segenap
berita tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus melaju.
Saat ini Indonesia tidak pelak merupakan economic powerhouse-nya
ASEAN. Perekonomian Indonesia membentuk hampir separonya
perekonomian kawasan ini, sebagaimana terungkap dari data yang
disuguhkan oleh bos IABC (Indonesia-Australia Business Council)
Kris Sulisto dalam satu presentasinya tahun lalu. Survey UNCTAD me-
nempatkan Indonesia sebagai negara tujuan investasi terpopuler
nomor empat. Jika dua tahun silam Indonesia masih bertengger di
urutan ke-16 perekonomian terbesar dunia, kurang dari dua dekade
negara ini diyakini bakal menjadi perekonomian terbesar ketujuh di
jagad ini.
Lain pemahaman masyarakat umum, lain lagi pandangan komunitas
bisnis Australia. Berdasarkan taksiran Austrade, yang dilansir oleh
Depludag (Departemen Luar Negeri dan Perdagangan) Australia,
sekarang ini lebih dari 250 perusahaan Australia telah hadir di
Indonesia. Banyak diantara mereka sudah menanamkan modal
secara signikan atau mau menambah investasi, mulai dari sektor
asuransi dan perbankan, pertambangan, agribisnis, infrastruktur,
hingga jasa. Singkat kata, para pebisnis Australia menyadari potensi
ekonomi Indonesia yang menjanjikan.
Sebaliknya, kalangan pebisnis Indonesia memandang Australia
sebagai pasar yang relatif kecil dan sulit ditembus. Yang pasti, baik
komunitas bisnis Australia maupun Indonesia sama-sama menuding
kurangnya informasi menyangkut peluang bisnis dan perdagangan
di kedua pasar dan, yang lebih parah, kesalahan informasi selaku
biang keladi utama yang menghambat peningkatan perdagangan dan
investasi antara kedua perekonomian.
Informasi mengenai kinerja ekonomi Indonesia memang kurang ter-
sebar bagi khalayak luas di Australia alias terhenti sampai, contohnya,
seminar atau klinik investasi dan perdagangan, yang khusus di-
rancang buat para pelaku usaha. Pihak Indonesia terlihat sudah
lumayan gencar berpromosi dagang, namun boleh jadi sepi publikasi
di media massa Australia. Segala kegiatan yang sejauh ini dilakukan
untuk memberikan gambaran terkini tentang bisnis dan ekonomi
Indonesia nampaknya tidaklah cukup mengundang perhatian media
massa Australia.
Alih-alih berita soal
Indonesia sebagai
tempat yang menarik
bagi warga Australia buat
berinvestasi, berbisnis,
atau berkarir,
publikasi oleh
media massa Australia
justru kerap kali tidak
sebagaimana harapan
pihak Indonesia. Pada
kenyataannya, media
massa Australia cen-
derung menyukai berbagai isyu politik dan sosial ketimbang ekonomi.
Sebuah studi menunjukkan, dalam kurun waktu tertentu, salah satu
media terkemuka Australia lebih banyak menurunkan liputan me-
ngenai politik domestic Indonesia dan hubungan bilateral Indonesia
dan Australia (yang sering mengalami pasang-surut) dibandingkan
dengan isyu ekonomi. Begitupun setelah seperempat abad berlalu,
berdasarkan penelitian tersebut, isyu-isyu ekonomi masih di belakang
berita politik dalam negeri Indonesia dan hubungan bilateral.
Seandainya perkembangan eko-
nomi makro, regulasi perdagangan,
dan kebijakan terkini pemerintah RI
menyangkut investasi asing terpub-
likasikan luas, para lulusan dan kaum
profesional Australia diharapkan
bakal melirik Indonesia sebagai ajang
potensial untuk berkarir. Disinilah
pengetahuan akan budaya dan ke-
mampuan berbahasa Indonesia akan
terasa perlu.
Hendrarto Darudoyo
Peneliti dan Penulis
30 ozip.com.au
BUSINESS
Bukan Hanya Bali dan Bahasa
Survey UNCTAD menem-
patkan Indonesia sebagai
negara tujuan investasi
terpopuler nomor empat...
negara ini diyakini bakal
menjadi perekonomian
terbesar ketujuh.
MIFA Gelar Pameran di Roma
Melbourne Intercultural Fine Art (MIFA) bersama KBRI Roma menggelar
pameran SHOUT Indonesian Contemporary Art di Roma, Italia, sebagai
bagian dari Asiatica Film Mediale. Pameran ini menampilkan karya 11 seni-
man kontemporer Indonesia dengan kurator Bryan Collie dan Santy Saptari.
Mereka adalah Andita Purnama, Aditya Novali, Angki Purbandono, Bestrizal
Besta, Erika Ernawan, I Gusti Ngurah Udiantara, Gatot Pujiarto, Gusmen Heriadi,
Maria Indriasari, Sigit Santoso, dan Yudi Sulistyo. Pameran menampilkan
karya sculptural, painting, drawing, dan instalasi multimedia. Acara yang
disponsori juga oleh Kabo Lawyers ini berlangsung dari 26 September hingga
9 November 2014.
ART
Foto: dok. MIFA
Tapi, bambu berkata, Aku tidak menyerah, sebut Takuan menyampaikan
losonya. Pada tahun kedua, pakis tumbuh makin subur dan banyak,
tapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu. Tapi kembali
bambu berkata, Aku tidak menyerah. Di tahun ketiga, bambu belum juga
memunculkan sesuatu. Lagi-lagi bambu berkata, Aku tidak menyerah.
Seterusnya di tahun keempat, masih juga belum ada apa pun dari benih
bambu. Ia tetap berkata, Aku tidak menyerah. Kemudian, pada tahun
kelima, muncul tunas kecil. Jika dibandingkan dengan pakis, tunas itu
tampak kecil dan tidak bermakna, jelas Takuan pada Takezo. Tapi, lihatlah
enam bulan kemudian. Bambu tumbuh menjulang sampai 100 kaki!
Begitulah, untuk menumbuhkan akar bambu perlu waktu lima tahun.
Akar tersebut membuat bambu kuat dan memberi apa yang diperlukan
bambu agar mampu bertahan hidup, terang Takuan. Ingat, Sang Pencipta
tak akan memberi cobaan yang tak sanggup diatasi ciptaan-Nya.
Takezo pun termenung mendengar semua ucapan Takuan yang kemudian
melanjutkan nasihatnya, Tahukah kau, Takezo. Di saat menghadapi semua
kesulitan dan perjuangan berat ini, kau sebenarnya sedang menumbuhkan
akar-akar yang kuat? Sebagaimana alam tidak meninggalkan bambu, Sang
Pencipta juga tidak meninggalkan kamu. Jangan membandingkan diri
sendiri dengan orang lain. Bambu mempunyai tujuan yang beda dengan
pakis. Tapi keduanya tetap punya manfaat membuat hutan menjadi
indah.
Nah Takezo, waktu kamu akan datang. Kamu akan menanjak dan
menjulang tinggi. Asal tetap mengandalkan Sang Pencipta dalam setiap
rencana dan jalan hidupmu.
Dear Readers, Cerita tersebut merupakan sepenggal percakapan Takezo
sebelum menjadi Miyamoto Musashi, pendekar Samurai yang sangat
terkenal, yang saya ceritakan ulang dalam tulisan ini. Kisah tersebut
menggambarkan terjadinya proses yang alami, lambat, namun justru di
sanalah mengakar kekuatan yang sebenarnya dari batang-batang bambu.
Itulah penggambaran adanya proses kehidupan yang masing-masing
makhluk punya jalan dan kisahnya sendiri-sendiri. Maka, ketika rasa pahit
dan getir yang kita terima saat ini, jangan pernah putus asa. Sebab, saat
itulah kita sedang berproses untuk mengakar kuat dan saatnya nanti
menjelma menjadi batang bambu yang menjulang ke angkasa. Dan,
dengan akar yang kuat itulah kita akan jauh lebih tegar dan kuat saat
kembali dihempas angin.
Mari, kita lihat kembali berbagai proses yang
kita alami dalam kehidupan. Nikmati, resapi,
hayati, nilai-nilai apa yang bisa menjadi
pegangan bagi kita untuk berbuat lebih baik
dan lebih baik lagi. Jika itu terus kita lakukan,
niscaya hasil apa pun yang kita terima,
sebenarnya kita telah jadi pemenang sejati
kehidupan. Salam sukses, luar biasa!!
Andrie Wongso
Motivator No. 1 Indonesia
Dapatkan cerita dan artikel motivasinya
di www.AndrieWongso.com
32 ozip.com.au
K
ita lahir, hidup, dewasa, hingga mati adalah proses alami kehidupan
yang tak ada satu pun makhluk yang tak mengalami. Dalam proses
itulah, kita menjadi apa adanya hari ini. Sayang, justru proses itu
kadang malah dijauhi karena hanya berorientasi hasil. Padahal sejatinya,
dalam proses itulah tersembunyi kekuatan kehidupan yang sebenarnya.
Hidup hari ini adalah hasil dari apa yang kita lakukan kemarin. Begitu juga
apa yang akan terjadi di esok hari, tergantung pada apa yang kita lakukan
hari ini. Karena itu, hukum sebab akibat menjadi satu perputaran yang
tak kan pernah ada habisnya sebelum ajal menjemput. Maka, jika kita
ingin mendapatkan kebaikan, tanamkanlah kebaikan jauh lebih banyak.
Sebaliknya, jika kita hanya seadanya saja dengan apa yang kita lakukan
atau bahkan setengah-setengah bisa jadi bakat sehebat apa pun yang
kita miliki hanya akan jadi sia-sia belaka.
Itulah kekuatan proses yang harus kita sadari. Yakni, bahwa semua
mengalami perubahan, bahwa semua mengalami perkembangan. Hanya
saja, memang dalam proses itu tidak selalu berjalan lurus. Tak selamanya
yang hari ini dilakukan dengan satu cara tertentu dan menghasilkan
sesuatu di hari berikutnya, jika dilakukan terus-menerus akan menghasilkan
hal yang sama seterusnya. Itulah mengapa, saya selalu mengatakan,
Sukses hari ini bukan berarti sukses esok hari. Begitu juga gagal hari ini
bukan berarti gagal esok hari.
Begitulah, dalam sebuah proses yang terjadi, terdapat perubahan.
Entah menjadi baik atau malah sebaliknya menjadi buruk, tugas kitalah
untuk mencerna-nya. Di sinilah kualitas kita sebagai insan mulia diuji
keberadaannya. Ada yang mencerna dengan nikmat, ada yang merasa
nestapa. Ada yang merasa penuh bahagia, ada yang menyebutnya
sebagai siksa dunia. Padahal, jika kita tahu ilmu proses, apa pun hasil
yang diterima, sebenarnya kita telah jadi pemenang. Yakni, pada saat kita
bisa tetap bersyukur ketika hasil yang diterima belum sesuai harapan, dan
sebaliknya, tetap membumi saat sukses berhasil diraih.
Sayang, banyak orang yang kadang malah kurang menikmati adanya
proses. Bisa jadi, semua itu dipengaruhi oleh lingkungan yang makin hari
makin serba instan padahal, untuk jadi instan pun sebenarnya semua
butuh proses.
Saya teringat sebuah kisah tentang proses yang luar biasa. Begini ceritanya:
Ada seorang pria bernama Takezo. Ia adalah seorang pria yang putus asa
dan mau meninggalkan semuanya, baik pekerjaan, hubungan sosial, dan
bahkan hendak bunuh diri karena merasa sudah tak punya arti dalam
kehidupannya. Sebelum melakukan itu semua, ia menyempatkan pergi ke
hutan untuk berbicara yang terakhir kalinya dengan seorang bijak bernama
Takuan. Ia bertanya, Apakah Takuan bisa memberi aku satu alasan yang
baik untuk jangan berhenti hidup dan menyerah? Mendengar pertanyaan
itu, Takuan dengan kebijakannya menjawab, Coba lihat sekitarmu Takezo.
Apakah kau melihat pohon pakis dan bambu itu? Ya aku lihat itu, jawab
Takezo. Ketika menanam benih pakis dan benih bambu, alam merawat
keduanya secara sangat baik. Alam memberi keduanya cahaya dan
memberi air. Pakis tumbuh sangat cepat di bumi, daunnya yang hijau
segar menutupi permukaan tanah hutan. Tapi ketahuilah, sementara
pakis tumbuh sangat subur, benih bambu tidak menghasilkan apa pun.
PROSES
MOTIVATION
33 ozip.com.au
DRACULA UNTOLD
Director: Gary Shore
Casts: Luke Evans, Sarah Gadon, Diarmaid Murtagh, Dominic Cooper, Samantha Barks
Release Date: 2 October 2014
Genre: Acton, Adventure, Drama, Fantasy, Historical, Romance
Film ini menceritakan kehidupan Vlad Tepes (Luke Evans), pria yang kelak menjadi Dracula. Vlad
merasa tdak sanggup melindungi keluarga tercintanya untuk selamanya hingga akhirnya ia mencari
roh jahat yang dapat memberikan kekuatan untuk mengalahkan musuhnya dengan cara apapun.
ANNABELLE
Director: John R. Leonet
Casts: Annabelle Wallis, Ward Horton, Eric Ladin, Tony
Amendola, Eric Ladin
Release Date: 2 October 2014
Genre: Horror
Kalau kalian pernah nonton The Conjuring, flm kali ini
bercerita mengenai permulaan boneka Annabelle. John Form
memberikan istrinya yang sedang hamil sebuah boneka langka
yang indah berbalut gaun pengantn. Tapi kesenangan Mia
dengan Annabelle tdak berlangsung lama. Pada suatu malam
yang mengerikan, rumah mereka diserang oleh kelompok
pemuja setan yang menyerang John dan Mia. Mereka tdak
hanya meninggalkan teror dan darah, tetapi juga telah
menyihir boneka Annabelle.
THE EQUALIZER
Director: Antoine Fuqua
Casts: Denzel Washington, Chloe Grace Moretz, Melissa Leo, Marton Csokas, David Meunier
Release Date: 25 September 2014
Genre: Acton
Lelah berkelahi dan ingin mencari kehidupan yang tenang, seorang mantan komando operasi hitam
bernama Robert McCall memalsukan berita kematannya. Namun ketka McCall bertemu Teri,
seorang gadis muda di bawah kendali kekerasan gangster Rusia, ia tdak bisa berpangku tangan.
Berbekal keterampilan yang memungkinkan dia untuk membalas siapapun yang melakukan tndakan
brutal terhadap orang tak berdaya, McCall keluar dari masa pensiunnya dan menemukan kembali
hasratnya untuk menegakkan keadilan.
THE ADMIRAL: ROARING CURRENTS
Director: Kim Han-Min
Casts: Choi Min Sik, Ryoo Seung Ryong, Jin Goo, Lee Jung,Kwon Yool, Park Bo-Gum
Release Date: 25 September 2014
Genre: Acton
Film yang diangkat dari kisah sejarah Perang Myeongryang yang terjadi pada 26 Oktober 1597
dimana Admiral Yi Sunshin hanya memiliki 12 kapal. Strategi perang apakah yang akan diterapkan
oleh Admiral Yi Sunshin untuk melawan 300 kapal armada laut Jepang?
THIS IS WHERE I LEAVE YOU
Director: Shawn Levy
Casts: Rose Byrne, Jason Bateman, Abigail Spencer, Tina Fey, Jane
Fonda, Dax Shepard, Ben Schwartz
Release Date: 23 October 2014
Genre: Comedy
Ketka ayah mereka meninggal, empat bersaudara dipaksa untuk
kembali ke rumah tempat mereka menghabiskan masa kecil mereka
dan hidup bersama selama seminggu. Dalam hingar bingarnya hidup
dalam satu atap, mereka akhirnya berhubungan kembali dengan
cara histeris dan emosional di tengah kekacauan, humor dan sakit
hat.
MOVIES
F
oreigners have many reasons to visit or even to live in Indonesia.
Even those who do not have an interest in visiting Indonesia still
dream to spend a holiday in Bali for many different reasons. This
was a joke well known among BIPA teachers in Indonesian recalling
memories of the mid 80s when a group of Australian tourists argued
on board a Garuda airplane whilst lling in a visa application on board.
One of them explained that they did not have any intention to go to
Indonesia, but they wanted to visit Bali for a holiday.
In the past ten years the interest in learning about Indonesia among
foreign students has signicantly increased. Interestingly though only
a few of these students were from Australia as most of them were
from East Asian and ASEAN countries. Southeast Asian students
seem to have clearer goals to come and study Bahasa Indonesia as
a consequence of the ASEAN Economic Community starting in 2015
through which citizens of ASEAN countries can come and work in any
ASEAN country of their choice.
As a professional association of BIPA teachers, the Association of
Indonesian Teachers for Foreign Learners (APBIPA) Indonesia has
always encouraged universities to establish their BIPA Unit to respond
to the need of BIPA programs for foreign students. With regards to
the high demand of BIPA teachers in Indonesia, the Association has
organised BIPA professional development activities three times a year
in the form of BIPA Teacher Certicate Programs.
BIPA has gained very important momentum among university
students from Japan and South Korea and most of them have chosen
Jakarta for their in-country BIPA program. Multimedia Nusantara
University, a private university under the Kompas Group based in
Jakarta, received only one student from Japan in 2011 followed by
three students from South Koreas Youngsan University the following
year. Not long after that MNU admitted 35 students forcing them to
start their BIPA Unit in September 2013 with 70 students. At the
moment, the intake for BIPA students is administered every three
months with at least 100 students per intake split into 8 smaller
classes under three major programs: Regular, Exchange and Business.
Indonesian for Foreign Learners
(BIPA), a window to Indonesia
By Nyoman Riasa, APBIPA Indonesia
34 ozip.com.au
Kolom ini merupakan kerjasama antara OZIP dan APBIPA Indonesia untuk mendukung pengajaran Bahasa Indonesia di Australia.
Unlike MNU, Balai Bahasa UPI in Bandung started its BIPA programs in
1996. Due to its wide contacts with universities in Australia and
America the number of foreign students studying BIPA at UPI has
continued to increase. Between 2013 and 2014 alone BIPA UPI has
hosted a total of 191 students from different countries including
Australia, Japan, South Korea, China, Vietnam, Malaysia, Thailand,
Slovakia, Hungaria, Poland as well as Kenya and Nigeria.
When asked about the purposes of joining an in-country BIPA
program, Cheria Chuang, a post graduate student currently enrolled
at the Education University Bandung (UPI) explained that there were a
number of reasons for Chinese students to undertake Indonesian
language studies. Among popular reasons are strengthening
diplomatic relation between China and Indonesia, fostering business
and trades and enhancing cultural communication between the two
countries.
Learning BIPA is not just about
acquiring the language skills or
learning about the grammar and
vocabulary of Bahasa Indonesia, but it
is a way of learning the rich and diverse
culture of a country with a population of
almost 250 million people.
Photos: dok. APBIPA
BAHASA INDONESIA
ozip.com.au
Jadi Guru itu Harus Kreatif
Menjadi guru itu ditantang untuk selalu kreatif. Mencari cara-cara baru agar para murid menyukai materi yang diajarkan. Apalagi jika pelajaran yang
disampaikan dianggap asing, seperti bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah Australia. Selain menguasai materi pengajaran, guru juga dituntut
untuk menguasai seni dan budaya Indonesia. Oleh karena belajar bahasa juga berarti belajar budaya. Itulah hari-hari yang dijalani oleh
Maria Obrowski, guru Bahasa Indonesia di beberapa sekolah di Victoria.
Saya membuat Indonesian Day di sekolah. Saya mengajari
anak-anak menari dan bernyanyi lagu-lagu Indonesia, ujar
guru yang pandai manari itu. Saya juga mengajak kawan-
kawan musisi muda di Melbourne untuk memperkenalkan
musik Indonesia kepada para siswa, lanjutnya.
Saat Ozip mendatangi Boronia Primary School, salah satu
sekolah tempat Maria mengajar, tampak anak-anak sedang
asyik membuat becak, mewarnai topeng, dan memainkan
alat musik khas Indonesia. Mereka juga diperkenalkan
dengan Orang Utan. Bahkan para siswa secara tidak
langsung menjadi orang tua asuh bagi dua ekor Orang Utan.
Dengan kemajuan teknologi, guru memang tak bisa lagi
berpegang kaku pada kurikulum. Ketika anak-anak semakin
akrab dengan internet dan berbagai gadget, selalu diperlukan
improvisasi untuk membuat suasana kelas selalu
menyenangkan. Indonesia Day adalah resep jitu dari Maria
Obrowski. Guru Bahasa Indonesia yang lain tentu memiliki
cara tersendiri untuk membuat anak-anak kian mencintai
budaya Indonesia. Lain koki lain masakan, beda guru tentu
beda pula kreativitasnya.
Maria Obrowski memandu acara Indonesia Day di Boronia Primary School.
Samuel (kiri) dan Enos (kanan) membantunya memperkenalkan musik Indonesia.
LIPUTAN
35
36 ozip.com.au
Partnered Up
Cari tahu lebih lanjut mengenai kehidupan dalam
kota di Grand Opening Australis Apartments ~
18 s/d 26 Oktober
M
elbourne merupakan kota global yang dinamis yang sedang
mengalami pertumbuhan populasi terbesar dibandingkan
ibukota negara bagian manapun di Australia.Tiap tahun selama 13
tahun terakhir, Melbourne memiliki pertumbuhan populasi tertnggi
dari seluruh kota-kota besar Australia lainnya dan juga berhasil
mempertahankan gelar Kota Paling Layak Huni di Dunia selama 4 tahun
berturut-turut!
Meskipun area metropolitan di sekitar CBD sudah mengalami
pertumbuhan stabil selama beberapa waktu, pertumbuhan populasi
yang paling menonjol berada di area dalam kota CBD dan daerah
sekitarnya. CBD Melbourne sekarang merupakan daerah dengan
pertumbuhan populasi tertnggi dibandingkan daerah manapun di
Australia. Populasi CBD Melbourne telah meningkat dua kali lipat
dalam 9 tahun terakhir, dari 12.700 hingga 29.300.
Jadi apa yang menarik prang-orang untuk tnggal di CBD hingga
menembus rekor? Orang-orang dari Victoria, negara bagian lain dan
luar negeri tertarik untuk hidup dalam kota oleh berbagai pilihan gaya
hidup, pendidikan dan lapangan pekerjaan yang tersedia di pusat kota
Melbourne yang aktf. Kota ini telah membuktkan bahwa mereka
memiliki ekonomi yang tangguh dan gaya hidup yang diinginkan banyak
orang. Ini juga didukung oleh lingkungan bisnis yang kompettf dan
sukses, pusat kesenian dan kebudayaan yang hidup, restoran-restoran
ternama dan pendidikan kelas dunia, olahraga dan hiburan yang
menyenangkan, dan infrastruktur yang dapat diandalkan.
Anda yang mempertmbangkan untuk mengikut tren ke Melbourne
atau Southbank, atau hanya ingin memiliki sebagian dari Melbourne,
mungkin tertarik untuk menghadiri Grand Opening Australis
Apartments oleh developer Melbourne ternama, Central Equity.
Dikenal luas sebagai pionir kehidupan dalam kota Melbourne, Central
Equity berfokus dalam lokasi, kualitas desain dan layanan purna
jual. Keunggulan lain yang mereka miliki adalah pengalaman dalam
mengembangkan propert selama 25 tahun secara lokal.
Antara Sabtu 18 Oktober dan Minggu 26 Oktober Central Equity
mengundang orang dari seluruh penjuru Melbourne untuk datang dan
melihat Australis. Pengunjung Australis dapat menikmat burger dari
Mr Burger, menikmat kopi buatan barista dan menginspeksi berbagai
apartemen dalam display Australis. Penyedia KPR juga akan turut hadir
untuk membantu pengunjung mengenai pertanyaan fnansial pribadi.*
Dengan rancangan arsitektural 46 lantai yang mengesankan berdiri
di Lt Lonsdale Street, Australis menggabungkan desain apartemen
dengan lokasi Melbourne yang kosmopolitan. Penghuni Australis akan
tenggelam dalam kesempatan menikmat gaya hidup, pendidikan dan
lowongan pekerjaan Melbourne yang berkelas dunia. Southern Cross
Staton, legal precinct di kota, kantor pusat korporat, taman yang indah
dan universitas-universitas besar berada tepat di depan pintu.
Apartemen-apartemen ini memiliki keunggulan dalam ketelitan dalam
detail juga peralatan dan perlengkapan berkualitas. Jendela dari atap
hingga lantai dan pilihan warna kontemporer menyediakan ruang
tengah yang terang dan mendapat banyak cahaya. Teras dan balkoni
menyediakan kesempatan bagi penghuni yang beruntung untuk
menikmat sinar matahari.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Central Equity di 1800 638 888
atau Ken 0434 608 346 (Bahasa Indonesia dan Inggris), Anda juga bisa
mengunjungi website: australisapartments.com
Kunjungi kantor pemasaran di 601 Litle Lonsdale Street, Melbourne.
Buka dari hari Senin hingga Sabtu 10am-5pm dan 12-5pm hari Minggu.
*Makanan, kopi, penyedia KPR hanya ada pada akhir pekan.
ADVERTORIAL
MELBOURNE MENANTIKAN GRAND OPENING
AUSTRALIS APARTMENTS, LITTLE LONSDALE ST
Jokowi Selalu Dukung Dunia Musik dan Industry Kreatif
Sebelum tampil di Melbourne Town Hall, para artis Soundsekerta 2014
menjumpai para fans di Ramen Ya (12/9/14). Maliq & DEssentials
(MDE), Sheila on 7 (So7), dan The Dandees bersedia menjawab
pertanyaan reporter OZIP Narita Sarastia. Berikut petikannya:
Apa arti Limitless Indonesia?
Angga (MDE): Kita ingin kasih tahu ke dunia luar bahwa music Indone-
sia itu bukan hanya music traditionalnya saja yang indah. Banyak unsur
lain yang berkembang seperti musik pop dan kontemporer. Banyak
insaninsan berbakatnya. Kita harap dengan Limitless Indonesia bisa
menembus batas itu untuk mengenalkan Indonesia lebih luas lagi.
Duta (So7): Di mana pun kita berada harus bisa tunjukkan kita adalah
orang Indonesia. Akhir-akhir ini lebih banyak orang yang suka menge-
luh soal keadaan Indonesia. Kita harus tunjukkan bahwa meskipun
negara kita banyak masalah, tapi orang-orang di dalamnya banyak
muda-mudi yang kreatif dan berkreasi.
Darto (Dandees): Kita cukup kaget pada saat sampai disini orang-
orang denger dan ikutin siaran & acara TV kita. Experience yang keren
banget tau orang-orang Indonesia di luar masih sangat antusias untuk
keep in touch sama negaranya.
Danang (Dandees): Dari dulu Indonesia di kenal dengan tanpa batas,
untuk kreatitas memang harus dipertahankan terus spirit seperti ini.
Apakah situasi di Indonesia mendukung perkembangan para
artis di industri kreatif?
Angga (MDE): Sangat kondusif sih. Kita suka datang ke sekolah-seko-
lah dan bertanya siapa yang punya cita-cita jadi musisi. Sampai seka-
rang masih banyak yang punya cita-cita itu. Kita sebagai musisi punya
tanggung jawab untuk share bagaimana caranya untuk bisa masuk ke
dunia musik, jangan sampai melihat yang enak-enaknya saja. Banyak
step yang harus dilalui untuk bisa sukses. Situasinya kondusif banget,
tapi karena sekarang kelihatan aksesnya lebih gampang, banyak yang
anggap enteng.
Duta (So7): Kalau dari kita, saat ini kurang kondusif yah. Kita menaruh
banyak harapan pada pemerintahan yang sekarang untuk lebih peduli
dan aware dengan industri kreatif. Kalau support dari pemerintahan
yang seblumnya masih kurang. Untuk membangun industry kreatif ini,
semestinya dukungan untuk produk seni sendiri dan ruang ekspresi
seniman masih banyak dilimitasi.
Darto (Dandees): Kalau di Jakarta sih supportif dan kondusif ya, tapi
mungkin masih kurang merata untuk di daerah-daerah lain. Seperti
industri-industri lain masih banyak kelemahan ya, tapi masih berkem-
bang dan banyak ruang untuk eksplorasi.
Danang (Dandees): Karena Indonesia masih masuk negara berkem-
bang, sampai saat ini industri kreatifnya ya masih dikembangkan.
Apa harapan untuk pemerintahan yang baru?
Angga (MDE): Kalau liat jejak Jokowi selama ini sih dia selalu dukung
dunia musik dan industry kreatif. Ini kita pikir sih bagus dan orangnya
juga casual banget. Tapi bagaimana dia menerjemahkannya dalam
kebijakan, ini yang kita tunggu. Perlu diundang insan-insan musiknya
untuk diskusi, mencari titik temu antara casuality dan praktek di
lapangan. Kita nggak ngarepin harus ada perubahan 180 derajat, tapi
semoga setiap tahun bisa meningkat terus.
Darto (Dandees): Jokowi menyatakan akan dukung industri kreatif.
Ada banyak pelaku industry kreatif seperti Riri Riza, Joko Anwar, Abdee
Negara dan Mira lesmana yang mendukungnya. Semoga Jokowi bisa
melihat teman-teman lainnya di industri kreatif ini sebagai asset untuk
menciptakan atmosr industri kreatif yang lebih menyenangkan.
Danang (Dandees): Kalau gue harapannya sih harus bisa lebih
melek dan menghargai insan-insan dunia kreatif di Indonesia sendiri.
Harus mengapresiasi dan mengembangkan talent-talent dari Indone-
sia sendiri.
Pesan untuk fans di luar negeri?
Angga (MDE): Terus dengerin musik Indonesia, karena musik Indone-
sia makin berkembang banget. Kita di Indonesia juga siap dan terbuka
untuk berkolaborasi dengan teman-teman di luar negri.
Duta (So7): Semoga lagu-lagu Sheila on 7 bisa menghiasi hari hari ka-
lian di saat kalian kangen rumah, kangen orang tua atau pacar, kangen
Indonesia. Semoga pada saat dengar lagu Sheila on 7 bisa serasa ada
di rumah sendiri. Semoga sekolah kalian juga lancar dan cepat dapet
kerja ya.
Eross (So7): Untuk yang sekolahnya sudah selesai dan dapat banyak
ilmu, tidak ada salahnya pulang ke Indonesia untuk membangun Indo-
nesia menjadi lebih baik.
Darto (Dandees): Untuk temen-temen disini sudah bikin acara yang
keren banget, kekompakan dan effort untuk membesarkan budaya
Indonesia di sini, semoga nanti saat kembali ke Indonesia bisa berbuat
hal yang sama dan tidak melupan value-value yang dibangun di sini.
Danang (Dandees): Harus tetap menjaga semangat dan spirit cinta
Indonesia ya teman-teman!
Khusus untuk Sheila on 7 yang sudah tiga kali manggung di
Melbourne, bagaimana response fans di sini?
Duta (So7): Selama ini kita selalu puas manggung disini. Ini menjadi
alasan kenapa kita selalu mau kembali manggung disini. Harapan kita
pada saat manggung bisa bikin penonton senang dan melihat antusi-
asme penonton pada saat kita bermain musik.
Liputan: Narita Sarastia
Foto: Steven Tandijaya
38 ozip.com.au
LIPUTAN
Suasana Meet & Greet Soundsekerta 2014 di RamenYa
Suasana Meet & Greet Soundsekerta 2014 di RamenYa
P
ementasan intalasi karya Rani Pramesti yang berjudul Chinese Whisper: A Maze of Chinese-Indonesian stories di Bluestone Church Arts Space
Footscray Melbourne dari tanggal 23 September hingga 28 September 2014, lahir dari keprihatinannya terhadap kerusuhan rasial yang menim-
pa etnis Tionghoa di Jakarta pada bulan Mei 1998. Instalasi seni ini menggambarkan perjalanan dan pengalaman pribadi Rani, sebagai seorang
pekerja teater, dalam menelusuri jati dirinya sebagai bagian dari etnis Tionghoa Indonesia (dan Australia), mencari akar masalah kerusuhan etnis
tersebut serta dampak psikologis yang dialami oleh etnis Tioghoa, terutama kaum wanitanya yang menjadi korban pembakaran dan pemerkosaan.
Di ujung labirin pencariannya ini, Rani tidak hanya mengungkapkan hasil perenungannya selama ini
tentang identitas Tionghoa, dirinya, serta kerusuhan etnis itu. Ia juga sampai kepada sebuah kesimpulan
bahwa proses penyembuhan psikologis dari dampak kerusuhan itu hanya mungkin dilakukan jika ada
sikap keterbukaan dan keberanian kita semua untuk menghadapi dan menjawab tantangan dari sisi
gelap sebuah sebuah perjalanan sejarah.
Perjalanan perenungan, pencarian dan penyadaran Rani Pramesti tentang siapa dirinya dan peristiwa
kerusuhan itu justru dimulai di Melbourne, tempat ia menimba ilmu teater di Victoria College of Arts
yang menjadi pilihan guna mengeksplorasi dirinya. Perjalanan yang dilambangkan dengan sebuah labirin
atau maze ini berkembang tidak hanya menjadi perjalanan mempertanyakan bagaimana semua itu bisa
terjadi, tetapi juga menjadi perjalanan menelusuri jati dirinya sendiri.
Selama 50 menit, setiap pengunjung instalasi ini akan berjalan menelusuri labirin berbelok-belok yang melambangkan perjalanan dan pengalaman
sang kreator. Perjalanan dalam lorong labirin ini tidak boleh dilakukan secara beramai-ramai, melainkan oleh satu atau dua orang saja agar bisa
mendalami dan meresapi apa yang dilihat, didengar dan disentuh. Untuk itu masing-masing pengunjung dilengkapi dengan sebuah headphone guna
menyimak perjalanan, pengalaman dan perenungan Rani dan pembicaraanya tentang kerusuhan Mei 1998 dengan beberapa orang yang ia temui.
Yang paling menarik di antara obyek-obyek ini bagi saya adalah sebuah rak yang tersusun atas dua bagian. Di rak atas terdapat foto-foto masa kecil
Rani Pramesti. Di sebuah foto, terlihat Rani kecil memakai kostum adat dan sedang duduk bersama teman-temannya. Di bagian rak bawah terdapat
sekumpulan buku tentang etnis Tionghoa di Indonesia. Rak ini menggambarkan dua dunia yang sangat berbeda, dunia masa kecil yang indah dan
dunia orang dewasa yang penuh dengan ketidakpastian serta pencarian jati diri.
Melalui Chinese Whisper, Rani coba memberikan prioritas kepada terjadinya proses penyembuhan dan penyadaran secara kolektif dari trauma
kerusuhan yang pasti tidak mudah untuk dilakukan dan tidak akan terjadi dalam waktu yang singkat. Usahanya ini terasa universal karena menyangkut
jati diri manusia. Melalui labirin Chinese Whispers ini, saya merasa bahwa proses pencarian jati diri bagi Rani Pramesti adalah sebuah proses yang
telah selesai dan ia menerimanya dengan lapang dada. Tapi usaha menyembuhkan dari sisi psikologis akibat dari dampak kerusuhan itu dan merekat-
kan kembali hubungan antara etnis di Indonesia adalah usaha yang tidak berhenti begitu saja. Hal ini dengan baik digambarkan oleh penyair modern
Amerika, Mark Gonzalez, yang dikutip Rani Pramesti: We cannot heal, what we will not face.
Gaston Suhadi
Pengamat Teater dan Film, tinggal di Melbourne
Foto: dok. Chinese Whispers
ozip.com.au 39
Chinese Whispers
Labirin Pencarian Jati Diri Rani Pramesti
ART
... proses penyembuhan psikologis
dari dampak kerusuhan itu hanya
mungkin dilakukan jika ada sikap
keterbukaan dan keberanian kita
semua untuk menghadapi dan men-
jawab tantangan dari sisi gelap se-
buah sebuah perjalanan sejarah.
Salah satu sudut pertunjukan Chinese Whispers
40 ozip.com.au
Kasus keterlambatan beasiswa DIKTI menyita perhatian banyak
pihak. Salah seorang yang paling sibuk dengan soal ini adalah Atase
Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Kedutaan besar Republik
Indonesia di Canberra Prof. Ronny Rachman Noor. Dialah pejabat
resmi yang secara khusus bertugas untuk mengurusi hal-ihwal terkait
pendidikan dan pelajar Indonesia di Australia. Mengurusi 17.000 lebih
pelajar seantero Australia tentu sangat menyita waktunya. Namun,
ternyata ia masih sempat mengembangkan bakat melukisnya.
Berikut penuturan Prof. Ronny kepada OZIP.
S
aya menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan sejak bulan
Mei 2013 untuk masa kerja 3,5 tahun. Sebagai alumni Australia
saya sangat senang dapat kembali bertugas di sini. Hal ini
sangat memudahkan untuk melakukan networking dan negosiasi
dengan berbagai pihak di Australia untuk mengembangkan kerjasama
pendidikan dan promosi budaya. Saya senang dengan lingkungan yang
alami dengan udara yang bersih serta fauna dan satwa liar yang masih
asli di sini. Dalam menjalankan tugas, saya dibantu oleh satu orang
asisten dan satu orang staf lokal. Di samping itu saya dibantu oleh satu
pengiat seni yang sudah memasuki masa pensiun.
Setelah menyelesaikan pendidikan S1 di IPB dalam bidang pemuliaan
ternak, saya melanjutkan studi master dan PhD saya di University
of New England Armidale Australia. Lalu mengambil program Post
Doctoral dalam bidang Genetic Engineering, Ecological Genetic dan
Quantitative genetic di Martin Luther University, Gottingen University
di Jerman; National Institute of Animal Industry dan Tsukuba
University Jepang, North Dakota University, USA; Swedish Agriculture
University (SLU), dan Upsalla University Swedia. Saya sempat menjadi
dosen tamu di Goetttingen University dan SLU. Saya pernah menjadi
Pembatu Dekan III dan Dekan di Fakultas Peternakan IPB dan menjadi
Wakil Kepala LPPM bidang Penelitian di IPB. Saya juga terlibat aktif di
Program Kreativitas Mahasiswa yang diluncurkan oleh DIKTI dan juga
menjadi tim ahli penyetaraan ijasah luar negeri di DIKTI.
MAHASISWA INDONESIA MAMPU
BERSAING DI TINGKAT INTERNASIONAL
PROF. RONNY RACHMAN NOOR
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra
Ruang lingkup wilayah kerja Atdikbud sangat luas, maka komunikasi
awal lebih banyak melalui email dan milis. Kerjasama ini dibangun
sangat baik melalui komunikasi dengan PPIA. Dalam satu hari saya
menghabiskan waktu lebih dari 4 jam di depan komputer untuk
melakukan komunikasi dengan mahasiswa dan mitra kerja lainnya.
Jika ada keluhan, mereka dapat menyampaikan secara langsung
kepada saya, dan biasanya saya usahakan secepatnya untuk
memecahkannya. Permasalahan mahasiswa juga datang dari PPIA
yang melaporkan kondisi rekan-rekannya. Jika harus diselesaikan
oleh pihak Kemendikbud, maka saya akan langsung berkomunikasi
dengan direktur terkait untuk mencarikan jalan keluar. Secara berkala,
saya mengunjungi PPIA di setiap state untuk bertemu langsung dan
mendengarkan perkembangan dan aspirasi mahasiswa. Terkadang
secara khusus wakil PPIA datang berkunjung ke kantor saya di
Canberra untuk melakukan silaturahim.

Sampai dengan Juni 2013, jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar
di Australia sebanyak 17.131. Jumlah ini merupakan yang terbanyak
jika dibandingkan dengan mahasiswa Indonesia yang belajar di
negara negara lain. Dari jumlah sebesar itu hanya 300-an yang bukan
mahasiswa. Tiga state yang memiliki jumlah mahasiswa terbanyak
adalah NSW, Victoria dan WA. Bidang yang paling diminati adalah
bisnis dan commerce. Persentase terbesar mahasiswa Indonesia
adalah yang mengambil program BSc diikuti dengan master dan PhD.
Terdapat trend yang cukup baik dalam peningkatan minat mahasiswa
Indonesia untuk mengambil certicate TAFE.
Hubungan Indonesia - Australia
Pendidikan merupakan jembatan emas untuk menjalin people
to people links. Melalui pendidikan akan terbenti visi, sikap dan
pandangan yang lebih luas dalam memandang hubungan kedua
negara. Pada umumnya baik warga Indonesia yang telah menempuh
pendidikannya di Australia maupun warga Australia yang telah
menempuh studinya di Indonesia, memiliki sudut pandang yang
berbeda dalam memandang hubungan kedua negara dan umumnya
lebih toleran dan terbangun pengertian yang baik.
Demikian pula melalui jejaring dan kerjasama penelitian akan terjadi
networking yang sangat baik antar ilmuwan di kedua negara. Mereka
dapat memberikan sumbangan pemikiran yang signikan dalam
membangun hubungan kedua negara yang lebih baik. Pada umumnya
mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Australia menunjukkan
sikap dan kemampuan akademis yang sangat baik. Hal ini akan
menjadi bahan promosi tersendiri. Di samping itu aktivitas mahasiswa
INTERVIEW
41 ozip.com.au 41 ozip.com.au ozip.com.au 41
MAHASISWA INDONESIA MAMPU
BERSAING DI TINGKAT INTERNASIONAL
PROF. RONNY RACHMAN NOOR
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra
di bidang promosi budaya dan seni sangat membantu meningkatkan
people to people links itu. Dalam berbagai kunjungan ke berbagai
universitas, saya mendapatkan laporan dari pihak universitas bahwa
mahasiswa Indonesia umumnya menjadi penggerak utama aktivitas di
kampus dalam berbagai event.
Sistem pendidikan Australia memang berbeda dengan sistem
pendidikan di Indonesia. Australia mengikuti sistem Commonwealth
System sedang Indonesia lebih ke arah American System. Secara
umum fasilitas pendidikan dan kulitas pengajaran dan penelitian di
Australia memiliki standard sangat baik. Hal ini sangat baik untuk
dipelajari dan diambil oleh pelajar dan peneliti kita.
Kerjasama pendidikan maupun penelitian dalam bentuk join degree,
double degree, vising lecture, join research, antara mahasiswa
dan staf pengajar kedua negara sangat membantu meningkatkan
wawasan dan mengangkat kualitas pendidikan di Indonesia. Langkah
ini harus diambil di tengah upaya pemerintah yang memfasilitasi
dan mendorong universitas-universitas di Indonesia untuk go
international.

Tentang Beasiswa DIKTI
Pada saat ini pemerintah Indonesia sudah mampu menyediakan
berbagai beasiswa dan kerjasama penelitian. Kita dapat berdiri
dengan tegak sekarang dan tidak lagi menjadi bangsa yang terus
menerima bantuan tanpa mampu berupaya sendiri. Kondisi saat ini
sangat berbeda dibandingkan dengan era 80-an dimana sebagaian
karyasiswa Indonesia dibeayai dari dana pinjaman atau bantuan
negara asing.

Mengingat jumlah mahasiswa yang banyak, tentunya sangat
banyak juga permasalahannya. Salah satu permasalahan yang
sedang dihadapi oleh karyasiswa kita di Australia ialah menyangkut
keterlambatan pengiriman beasiswa dan tuition fee dari
beasiswa DIKTI. Permasalahan ini memang harus diselesaikan
di tingkat kementerian. Secara rutin mahasiswa menyampaikan
permasalahnnya kepada saya dan langsung saya komunikasikan ke
Jakarta untuk mencari jalan keluarnya.
Secara langsung saya menghubungi dan juga dihubungi pihak
universitas untuk hal ini dan meminta agar jangan sampai mahasiswa
kita diperlakukan berbeda hanya karena keterlambatan pembayaran
tuition fee ini. Permintaan pihak universitas ke pihak pengelola
DIKTI agar ada surat resmi ke masing masing universitas untuk
memberitahukan keterlambatan ini juga sudah saya komunikasikan
langsung kepada pihak pengelola beasiswa.
Kasus lain yang cukup menonjol saat adalah karyasiswa yang
beasiswanya berasal dari pemerintah daerah dan tanpa
pemberitahuan terlebih dulu kepada Atdikbud. Masalah muncul
ketika terjadi pergantian bupati sehingga kesinambungan pembayaran
beasiswanya terganggu. Kami terus berkomunikasi dengan pihak
Kemendikbud untuk dicarikan jalan agar tidak merugikan mahasiswa.
Mahasiswa Indonesia
Menurut saya mahasiswa Indonesia itu asal diberikan kesempatan,
akan dapat bersaing secara internasional. Pada umumnya mahasiswa
Indonesia tidak mengalami masalah akademik dalam menyelesaikan
studinya. Bahkan beberapa di antara mereka mendapatkan
penghargaan tertinggi dari pemerintah Australia dari hasil penelitian
yang diperolehnya. Dari kunjungan ke berbagai universitas, saya
mendapatkan informasi bahwa mahasiswa Indonesia sangat aktif dan
kualitas akademiknya sangat baik.
Saya sangat bangga sekali dengan aktivitas PPIA baik di tingkat
pusat, cabang maupun ranting. PPIA juga dikenal reputasinya oleh
kementrian luar negeri dan perdagangan Australia (DFAT) sebagai
organisasi yang secara aktif mempromosikan hubungan baik ke dua
negara. Di samping aktif di Australia, PPIA juga menonjol di tingkat PPI
dunia. Pada saat ini (2013-2014) koordinator PPI dunia berasal dari
PPIA.
Sampai saat ini saya menilai langkah dan kiprah PPIA sudah sangat
baik. PPIA bisa disebut sebagai ujung tombak promosi Indonesia di
Australia. Oleh karena itu Atdikbud akan berusaha menunjang aktivitas
mereka dalam bentuk program promosi yang melibatkan lebih banyak
lagi masyarakat Australia.
Dalam setiap pergantian pengurus, biasanya terjadi gap kemampuan
manajemen antara yang lama dan yang baru. Maka, pengurus lama
perlu melakukan pelatihan dan membina calon aktivis PPIA berikutnya
agar estafet kepengurusan berjalan dengan mulus.
Saya bangga kepada seluruh mahasiswa Indonesia yang ada di
Australia atas upayanya yang sangat baik sehingga menjadi ujung
tombak promosi Indonesia. Pergunakanlah kesempatan yang sangat
baik ini untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan membekali
diri dengan soft skill agar sekembalinya ke Indonesia dapat
mengembangkan karirnya dengan baik dan menjadi tokoh-tokoh
Indonesia.
Foto: dok. KBRI Canberra dan PPIA NSW.
.
Lukisan seniman Soegito (kiri bawah) & Dubes Nadjib Riphat Kesoema (kanan bawah) karya Ronny Rachman.
Prof. Ronny di salah satu kegiatan PPIA
42 ozip.com.au
Antrian panjang di depan Melbourne Town Hall (MTH)
menunjukkan antusiasnya masyarakat Indonesia pada
Minggu petang, 14 September 2014 itu. Gate yang di
buka pada jam 6 sore sudah dipenuhi penonton yang
berlomba untuk mengisi kursi paling depan. Acaranya
sih pasti seru, ujar Cindy Olivia, pelajar Monash Uni-
versity. Terutama penampilan Sheila on 7, pasti seru
banget, sambungnya di tengah antrian.
Ada juga penonton yang sengaja datang untuk menyaksikan The
Dandees. Nggak nyangka panitia bisa ngundang The Dandees, pasti
seru banget acaranya. Nggak sabar dengar gaya mereka yang kocak,
tutur Ramadhany Andriyanto, mahasiswa Deakin University. Dan aku
juga ingin nonton Maliq & DEssesntials, lagu-lagu mereka bagus. Aku
suka banget. Makanya dibela-belain datang dari Burwood buat nonton
mereka, sambungnya.
Soundsekerta 2014 dibuka dengan tari saman yang dikreasi dengan hi-
phop. Sajian berbeda ini berhasil memukau penonton. Lalu Ketua PPIA
Monash Randy Mikha dan Stephen Prayogo selaku project manager
bergantian memberikan sambutan. Dan suara tawa mulai meledak
saat duo MC Danang dan Darto dari The Dandees masuk dan berbagi
lelucon khas mereka.
C4KI (Care for Kids Indonesia) dan PIB (Perhimpu-
nan Indonesia Belajar) tampil kemudian. Kehadiran
C4KI dan PIB menunjukkan kepedulian PPIA Monash
terhadap pendidikan Indonesia. PPIA tidak hanya
bersenang-senang dengan mengundang artis, tetapi
ikut peduli juga dengan kondisi masyarakat yang kurang
beruntung di tanah air.
Jam 8 malam tepat waktu Melbourne, Maliq &
DEssentials tampil Pukul 8 malam tepat jam Mel-
bourne, Maliq & DEssentials tampil dengan formasi
Angga, Indah, Widi, JavaFinger, Ilman, dan Lale. Diawali
dengan lagu Setapak Sriwedari, suasana mulai meng-
hangat. Lalu meluncur lagu-lagu Dia, Coba Katakan,
Blow My Mind, Terdiam, Himalaya, Menari, dan lagu
yang ditunggu-tunggu penonton, Untitled.
Panggung lalu kembali ke tangan The Dandees. Mereka
mengumumkan pemenang lomba fotogra. Avid
Ismail (The Explore), Dedy Renaldi (The Old Style)
tampil sebagai juara pertam adan kedua. Sementara
Reger jadi jawara pada kategori Instagram. Pemenang
undian tiket return Garuda Indonesia dengan jalur
Melbourne-Jakarta diraih Drico, dan undian Post Card
yang menyediakan tiket wisata tiga hari dua malam di
Kuta, Bali, dimenangkan oleh Natalia Teguh Putri dan
Fayen Mahdi.
S
O
U
N
D
S
E
K
E
R
T
A
2
0
14
:
L
I
M
I
T
L
E
S
S

I
N
D
O
N
E
S
I
A
By Nyoman Riasa,
APBIPA Indonesia
LIPUTAN
L
I
M
I
T
L
E
S
S

I
N
D
O
N
E
S
I
A
By Nyoman Riasa,
APBIPA Indonesia
Lalu Sheila on 7 mulai menghentak panggung. Duta, Eross,
Adam, Brian dan seorang additional keyboardits membuka
penampilan dengan lagu Pejantan Tangguh. Melbourne Town
Hall berubah seperti raung karaoke raksasa. Penonton larut
menyanyikan bersama lagu-lagu Anugerah Terindah, Itu Aku,
Kita, Sephia, JAP, Saat Aku Lanjut Usia, Bila Kau Tak di
Sampingku, Dan. Sebagai pamungkas, Sheila on 7 menem-
bangkan Sebuah Kisah Klasik.
Penonton pun sangat antusias, bernyanyi dan bergoyang ber-
sama. Ini menarik banget, dari tadi saya menunggu Sheila on 7
tampil, tutur Yulis yang duduk di balkon. Settingan panggung-
nya oke, acaranya seru dan menarik. The Dandees kocak habis
dan Sheila on 7 membawaku bernostalgia bersama lagu-lagu
mereka, sambungnya.
Sedikit keluhan pada kualitas soundsystem disampaikan Dwiki
Ramadhan. Acaranya sih berjalan baik. Maliq & DEssesntials
keren-keren lagunya. Sheila on 7 jangan ditanya lagi, seru
banget. The Dandees gokil habis. Saya kalau pas di Jakarta
suka dengerin acara mereka. Sayang sound systemnya kurang
bagus, jadi agak menggganggu saat dengerin lirik lagu. But so far is
pretty good, tutup Dwiki.
Tak sia-sia para pelajar Monash University itu mempersiapkan
acara selama delapalan bulan. Lebih dari 1.300 tiket terjual. Dan
ketika malam semakin larut, semua penonton pulang dengan
wajah ceria dan puas. Tak nampak rasa lelah sekalipun esok hari
harus kembali ke kampus atau bekerja.
Sampai jumpa di Soundsekerta 2015!
Laporan: Patricia Dara, Larasati, Chritsan Tandika, Narita Sarastia
Foto: Ineke Iswardojo
ozip.com.au 43
Saya akan memulai catatan ini dengan sebuah keyakinan sederhana:
Mereka yang tidak bisa menghargai perbedaan adalah mereka
yang tidak bisa menghargai diri sendiri.
Izinkan saya memberikan ilustrasi sederhana.
Bayangkan kalau semua anggota tubuh kita memiliki nama yang sama.
Misalnya, sebut saja uplik. Maka, di Taman Kanak-kanak, barangkali
akan banyak anak-anak yang kebingungan menyanyikan lagu Dua Uplik
Saya (baca: Dua Mata Saya). Saya membayangkan Maria atau Anto
yang masih TK bernyanyi dengan hati gelisah dan bertanya-tanya
Dua uplik saya, Uplik saya satu
Dua uplik saya, Pakai sepatu baru
Dua uplik saya, Yang kiri dan kanan
Satu uplik saya, Tidak berhenti makan
Jika hal itu terjadi, tentu saja lagu Kepala Pundak Lutut Kaki juga tak
akan pernah bisa dinyanyikan dengan ceria. Bagaimana caranya?
Uplik, uplik, uplik, uplik / Uplik, uplik, uplik, uplik? Tak seperti sebuah
nyanyian, bukan? Lebih mirip mantra penjinak ular!
Tapi, untunglah nenek moyang kita (barangkali, dengan cara yang sulit
dijelaskan, berkat campur tangan Tuhan juga) memberikan nama
yang berbeda-beda bagi anggota tubuh manusia. Rupanya mereka
sadar bahwa tak ada yang lebih menyesatkan sekaligus membingung-
kan dari tindakan-tindakan penyamarataan dan penyeragaman atas
perbedaan-perbedaan. Dan untuk hidup berbahagia, misalnya agar bisa
menyanyikan lagu Dua Mata Saya tanpa merasa gelisah, adalah dengan
menghargai dan merayakan perbedaan-perbedaan itu.
Menghargai perbedaan adalah menghargai diri sendiri. Sekarang begini
saja, jika kita tak suka bentuk hidung kita yang tak sama dengan hidung-
hidung selebriti televisi, kita tak lantas menyesatkan atau melenyapkan-
nya, kan? Akankah kita mengajak anggota tubuh kita yang lain, misalnya
lengan dan rambut, untuk membuat gerakan sekaligus kampanye hidup
tanpa hidung? Ah, ya, itu mungkin tak ada gunanya. Sebab, justru karena
perbedaan-perbedaan itulah semua jadi ada nilai-nya;
Hidup jadi lengkap, jika mungkin belum sempurna, justru dengan
keberadaan hidung kita yang seadanya itu. Dan, bukankah tak ada satu
pun manusia yang sanggup bertahan hidup tanpa fungsi hidung?
Maka, di sinilah mengapa toleransi, multikulturalisme, atau apapun
nama konsep dan teori yang mengajak kita menghargai perbedaan
dan tidak memaksakan persamaan-persamaan jadi menemukan
urgensinya. Bukankah jika perbedaan itu terdapat dalam diri kita
sendiri, kita pun tak sanggup menghindarinya? Misalnya mengapa
ekspresi wajah kita bisa berbeda-beda menghadapi situasi yang
sama? Mengapa persepsi kita tentang sesuatu bisa berubah-ubah dan
berbeda-beda bahkan dalam waktu yang tak terlalu lama? Atau
mengapa suara hati dan suara pikiran seringkali memiliki pendapat
yang berbeda? Itu dia, kita bahkan tak bisa mencegah perbedaan dan
tarik-menarik antara kutub-kutub diri yang berbeda dalam diri kita
sendiri, kan? Lebih dari itu, justru perbedaan-perbedaan itulah yang
membuat kita terus hidup, berkreativitas, belajar menyelesaikan
persoalan hidup dari hari ke hari.
44 ozip.com.au ozip.com.au
Pada titik ini, saya jadi begitu yakin pada tiga hal: Pertama,
memahami perbedaan adalah tentang memahami diri sendiri.
Kedua, mereka yang tidak bisa menghargai perbedaan adalah
mereka yang tidak bisa menghargai diri sendiri. Dan, ketiga,
yang tak mengenal dirinya sendiri adalah yang tak mengenal
Tuhannya.
Maha Besar Tuhan yang menciptakan perbedaan-perbedaan, bahkan
dalam diri kita masing-masing.Hari ini mungkin salah satu sisi dalam
diri kita menginginkan liburan, tetapi sisi diri kita yang lain merasa harus
memenuhi tugas dan tanggungjawabnya sebagai seorang pekerja atau
pelajar atau apa saja. Maka dalam perbedaan itulah kita menciptakan
dialog diri: Menemukan solusi-solusi kreatif yang sebisa mungkin
dapat membahagiakan dan tidak mengecewakan kedua-duanya.
Siang nanti,
mungkin salah
satu sisi dalam
diri kita ingin
makan enak,
ditemani orang
yang kita sayangi,
tetapi sisi diri kita
yang lain menah-
annya: Tersebab
kenyataan-ke-
nyataan yang tak
memungkinkannya. Mau bagaimana lagi? Setiap hari perbedaan-per-
bedaan itu selalu ada dan nyatabahkan dalam diri kita sendiri! Maka,
sederhana saja, satu-satunya hal yang tak boleh kita lupakan adalah dia-
log: Kerendahatian untuk membentangkan ruang-ruang pengertian
satu sama lain, agar hidup jadi lebih indah dan menyenangkan.
Bagaimana
dengan relasi
dan kehidupan
sosial? Mudah-
mudahan
kita bisa lebih
menghargai
perbedaan,
keberagaman,
kebhinekaan.
Mudah-
mudahan kita
bisa dengan ceria menyanyikan lagu Dua Mata Saya meskipun
dengan cara mengambil nada awal yang berbeda-beda, atau men-
gatur tinggi-rendah suara yang kadang tak seirama.
Fahd Pahdepie.
Penulis dan co-founder
Inspirasi.co.
Tulisan-tulisannya bisa
dibaca di
www.fahdpahdepie.com
PARTNERED UP
MENGHARGAI PERBEDAAN
... karena perbedaan-
perbedaan itulah semua jadi
ada nilai-nya
... perbedaan-
perbedaan itulah yang
membuat kita terus
hidup, berkreativitas,
belajar menyelesaikan
persoalan hidup...
... kerendahan hati
untuk membentangkan
ruang-ruang penger-
tian satu sama lain, agar
hidup jadi lebih indah
dan menyenangkan...
45 ozip.com.au 45 ozip.com.au 45 ozip.com.au Sumber gambar: http://www.letsridof.com/wp-content/uploads/2014/07/How-to-Get-Rid-of-Pimples-Overnight.jpg
COMEDONE,
BLACKHEADS DAN
WHITEHEADS
J
erawat atau acne itu ada beberapa bentuk. Ada yang sepert bisul kecil
merah serta infame, dan ada yang dinamakan comedone, yaitu tahap
awal penyumbatan pori-pori, dimana follicle menjadi keras karena
minyak dari sebaceous gland kita dan juga karena kulit mat. Comedone
dikenal dengan dua jenis yaitu blackheads dan whiteheads.
PERBEDAAN ANTARA WHITEHEADS
DAN BLACKHEADS
Whiteheads adalah kategori closed comedone, terisi oleh sebum atau
minyak yang berasal dari kelenjar di bawah kulit. Lubang yang terjadi pada
whiteheads sangat kecil sehingga udara tdak dapat tembus/penetrasi
untuk mengoksidasi minyak yang terbentuk di dalam kulit sehingga
warnanya akan tetap puth. Makanya dinamakan whiteheads.
Sebaliknya, blackheads adalah kategori open comedone, terdapat
pembukaan atau lubang yang agak lebar sehingga udara akan dapat
memasuki atau penetrasi ke dalam sumbatan yang terisi minyak dan skin
cell, dan akan teroksidasi sehingga berubah warna menjadi hitam, sehingga
selanjutnya disebut blackheads.
Baik Blackheads ataupun Whiteheads, keduanya dimulai dari
microcomedone, sebum/minyak yang seharusnya keluar ke permukaan kulit
tersumbat dan bakteri mulai tumbuh.
Microcomedone ini akan menjadi Non Infammed Skin Blemish (kategori
Non Infammatory Acne), yang disebut juga Comedone (black ataupun
white).
Dalam satu kondisi, baik blackhead ataupun whitehead
akan mampu mengeluarkan sumbatan dengan
sendirinya, ataupun dikeluarkan/extract dengan
therapy yang benar, tetapi tdak menutup kemungkinan
blackhead dan whitehead berubah menjadi
Infammatory Acne akibat penderita melakukan
picking dengan jari kita sehingga menjadikan
rupture yang memperburuk keadaan.
TREATMENT UNTUK
WHITEHEADS DAN
BLACKHEADS
Cara terbaik untuk menghindari maupun mengurangi
whiteheads dan blackheads antara lain
Menjaga kebersihan kulit, dengan skin cleanser yang
sesuai jenis kulit setdaknya dua kali sehari.
Hindari penggunaan make up yang oil-based karena
akan memperparah penyumbatan pori-pori.
Pilih produk dengan label non comedonic yang
berart tdak akan menyumbat pori-pori.
Salon treatment sepert peel treatment,
microdermabrasion.
Penggunaan scrub atau exfoliaton setdaknya dua kali
seminggu, konsentrasi pada pori-pori yang melebar.
Hindari melakukan pemencetan dengan paksa
dengan menggunakan tangan atau kuku karena
akan mengakibatkan rusaknya jaringan kulit ataupun
menambah infeksi. Extracton dengan alat khusus di
salon adalah satu cara untuk membersihkan blackheads
ataupun whiteheads.
Jane Lim
Beauty Therapist and Paramedical Aesthetcs
Cantque Skin and Beauty Clinic
HEALTH
46 ozip.com.au
Mengapa South Australia (SA) wajib kita kunjungi? Udaranya hangat,
sangat cocok untuk menghindari Melbourne saat musim dingin.
SA dikenal dengan pemandangan alamnya yang indah dan penghasil
minuman anggur terbesar dengan kebun anggur yang luas.
Central Market, Adelaide
Terletak di Gouger Street berse-
berangan dengan China Town.
Di tempat ini anda bebas masuk.
Menurut sejarahnya, pasar ini sudah
ada sejak tahun 1839. Dengan 80
kios di dalamnya pasar ini merupak-
ah salah satu ikon kota. Di sekitar
pasar merupakah pusat kuliner yang
siap memanjakan lidah anda.
Barossa Valley Jacobs Creek
Bagi penggemar Wine jangan lewat-
kan untuk mengunjungi salah satu
Kebun Anggur terbesar di South
Australia ini.
Glenelg Beach
Hanya 10 km dari pusat kota, lo-
kasi yang pas untuk melihat atau
berenang bersama White Dolphin.
Pantainya bersih dengan pasir putih
dan saat akhir pekan anda dapat
menyaksikan berbagai pertunjukan
di jalanan. Lokasi ini sangat gampang
dijangkau dengan tram yang lang-
sung berhenti di dekat pantai.
Kangaroo Island
Lokasi ini ditempuh dengan mobil
selama 1 jam 30 menit menuju
Cape Jervis. Dari sini anda naik
kapal Sea Link menuju Kangaroo
Island dengan lama perjalanan
adalah 45 menit saja.
Seal Bay Conservation Park
Tempat perlindungan Sea Lion
dimana kita bisa melihat langsung
dari dekat komunitas ini hidup dan
berkembang biak.
St. Peters Cathedral, Adelaide
Salah satu gereja Anglican tertua,
dibangun pada tahun 1869 dan dir-
esmikan pada tanggal 1 Januari 1878.
Lokasinya di 27 King William Road,
North Adelaide.
Umpherton Sinkhole
Dulunya merupakah gua yang ter-
bentuk dari batu kapur. Ketika bagian
atas gua luruh maka terbentuklah
cekungan yang dalam. Cekungan
ini ditemukan dan diperindah oleh
James Umpherson sekitar tahun
1885, dengan taman yang asri. Lo-
kasinya terletak di Jubilee Hwy East,
Mt Gambier.
Hahndorf
Inilah kampung Jerman di Adelaide.
Tempat persinggahan pertama
bangsa Eropa di Selatan Australia
pada tahun 1839. Lokasinya hanya
20 menit berkendara dari kota
Adelaide.
Blue Lake
Danau yang berada di kawah bekas
gunung berapi, merupakah sum-
ber utama air bersih untuk kota
di sekitarnya. Warnanya berubah
dari warna abu-abu menjadi biru
tua dari bulan Desember sampai
bulan Maret setiap tahunnya. The
Blue Lake adalah salah satu dari tiga
danau yang berada di lokasi yang
berdekatan, dua yang lainnya adalah
Valley Lake dan Leg of Mutton Lake.
di Valley Lake, anda dapat naik kapal
dan bersenang-senang dengan
water-skiing activities.
Teks: Lydia
Foto: Kristy C.
Sumber gambar: /blog/need-hibernate-winter/#.VClFsSmSxD4
DISCOVER SOUTH AUSTRALIA
TRAVEL
DISCOVER SOUTH AUSTRALIA
Visit your family and explore Indonesia with
our free domestic add-on
Bookings can be made online at www.garuda-indonesia.com, or call our national reservations line on
1300 365 330 or contact your preferred travel agent.
Fly to Jakarta or Bali and add a domestic flight to selected domestic destinations in Indonesia,
absolutely free!
For more information regarding other domestic destinations, contact your preferred travel agent
Economy Return
ex Sydney
from
ex Melbourne
from
ex Brisbane
from
ex Perth
from
via Jakarta to the following destinations
Bandar Lampung, Banjarmasin, Batam, Bengkulu,
Jambi, Makassar, Malang, Padang, Palembang,
Pangkalpinang, Pekanbaru, Pontianak, Semarang,
Surabaya, Solo, Tanjung Pandan, Tanjung Pinang,
Yogyakarta
$776* $761* $754* $522*
via Bali to the following destinations
Balikpapan, Bandung, Kupang, Labuan Bajo,
Lombok, Makassar, Surabaya, Yogyakarta
$676* $661* $704* $472*
*Conditions apply, prices are per person return Economy in V class. Fare, taxes and fuel surcharge are included and correct as at 29Sep14 and are subject to change without notice. For ex Sydney
and ex Melbourne, fare is valid for the following low season travel dates 04Oct14 -11Dec14, 12Jan15 - 31Mar15. For ex Brisbane fare is valid for the following low season travel dates 04Oct14
- 02Dec14, 12Jan15 - 31Mar15. For ex Perth fare is valid for the following low season travel dates 07Oct14 -11Dec14, 10Jan15 - 31Mar15. Fares are valid for sale until further notice. Ticket is
refundable, cancellation and date change fees apply. Maximum stay abroad is 12 months. Flights from Brisbane to Jakarta will be via Denpasar. Garuda Indonesia reserves the right to amend or change
the promotion at any time. ABN 92 000 861 165

48 ozip.com.au 48 ozip.com.au 48 ozip.com.au 48 ozip.com.au 48 ozip.com.au
B
agi kebanyakan orang, mendapat kesempatan
untuk melanjutkan studi ke luar negeri merupakan
capaian yang sangat berharga. Namun, keputusan
meninggalkan tanah air demi studi itu ditanggapi
berbeda-beda. Beberapa orang melakukannya dengan
senang karena ingin merasakan kehidupan di luar negeri.
Belajar di luar negeri juga dianggap menguntungkan karena
kualitas pendidikan yang lebih bagus. Disisi lain, tidak sedikit
orang yang merasa berat hati untuk meninggalkan tanah air.
Karier yang sedang bagus, pasangan hidup yang tidak bisa
pergi bersama, atau alas an lainnya. Itulah dilema d awal langkah
studi di luar negeri.
Setelah merasakan nikmat dan mudahnya kehidupan di luar negeri,
khususnya di negara yang lebih maju, muncul dilema selanjutnya.
Pulang ke tanah air atau menetap sambil bekerja dan menjadi
permanent residence (PR)? Bagi yang tidak mempunyai ikatan dinas,
tentu pilihan menetap tidak jadi masalah. Tetapi bagi penerima
beasiswa negara seperti PNS, dilema itu sangat terasa. Apalagi jika
mendapat tawaran kerja atau peluang yang lebih baik dibandingkan
pekerjaan di Indonesia.
Erlangga Joedadibrata, lulusan William Angliss Institute di Melbourne
Victoria, mengaku memutuskan untuk menetap di Australia karena
mendapatkan kesempatan itu saat menamatkan kuliahnya pada
akhir tahun 2002. Saya memutuskan untuk menjadi PR di Melbourne
karena hidup di sini lebih teratur, ujar pria yang telah tinggal di
Melbourne selama 13 tahun ini.
Memang, dalam hal keteraturan dan kenyamanan tinggal, berdasarkan
berita yang dirilis oleh ABC, pada tahun 2014 ini Melbourne menjadi
most liveable city in the world selama 4 tahun beturut-turut. Tak heran
jika Melbourne menjadi kota yang sangat diimpi-impikan banyak orang
untuk ditinggali. Sistem pelayanan kesehatan dan pendidikan untuk
anak-anak juga sangat baik, sambung Erlangga mengungkap alasan
lainnya.
Hal berbeda dialami oleh Rasi, lulusan Adelaide University ini mengaku
memutuskan untuk menjadi PR di Australia karena dirinya memiliki
prinsip untuk merantau selagi memiliki kesempatan. Ia ingin mencari
pengalaman sebanyak mungkin dan juga mempelajari budaya dari
berbagai macam orang. Sebaliknya ia juga ingin memperkenalkan
budaya Indonesia di Australia sehingga memutuskan untuk tinggal.
Namun, sepertinya hal diatas tidak berlaku untuk Julian. Mahasiswa
Monash University yang akan melangsungkan graduation ceremony
pada bulan Oktober tahun ini, mengaku bahwa keputusannya untuk
pulang ke Indonesia telah dipertimbangkan matang-matang.
Persyaratan untuk melamar menjadi PR di Australia sangat sulit,
ujar Julian terus terang. Dan mencari kerja dengan status temporary
residence (TR) juga tidak mudah, lanjutnya. Selain masalah status
kependudukan, alasan lainnya yang membulakan tekat Julian untuk
pulang ke Indonesia adalah mahalnya biaya hidup di Australia. Ia
merasa bahwa kesempatan untuk berwiraswasta di tanah air lebih
besar daripada di negeri Kangguru ini.
Begitulah kira-kira segelintir cerita dari beberapa pelajar Indonesia
mengenai dilema untuk tinggal atau pulang ke tanah air. Memang
bukan hal mudah untuk memutuskannya, terlebih lagi apabila kita
memiliki kesempatan baik untuk tinggal maupun pulang ke tanah
air. Banyak hal yang harus dipertimbangkan dan dipersiapkan
dalam menghadapi dilema semacam itu. Bagi mereka yang ingin
memutuskan untuk tinggal di Australia, sebaiknya mulai mencari
tahu persyaratan untuk mendaftar sebagai TR atau PR dan berbagai
kemungkinan pekerjaan yang tersedia. Pertimbangan dan persiapan
yang sama beratnya pun akan berlaku bagi mereka yang akhirnya
memutuskan untuk pulang. Dengan perbedaan antara kondisi
Australia dan Indonesia, mereka yang akhirnya memutuskan untuk
pulang harus mempersiapkan dirinya untuk menghadapi perbedaan
tersebut. Selain itu, bagi mereka
yang belum memiliki pekerjaan saat
pulang ke Indonesia haruslah mulai
mempersiapkan diri dan mencari tahu
kesempatan pekerjaan yang tersedia di
tanah air.
Jadi, mau pilih mana, pulang ke Indo
atau menetap di Oz?
Aran Erma Zudana
Penulis tinggal di Clayton, Victoria.
DILEMA:
PULANG KE INDO
ATAU KERJA
DI OZ?
Erlangga Joedadibrata
& Istrinya Olivia
STUDENT CORNER
54 Lygon Street, Carlton 3053 VIC
Kebaktian Umum: Minggu 5pm (English
interpreter provided)
Sekolah Minggu: Minggu 5pm
Persekutuan Doa: Rabu 7pm
Persekutuan Pemuda: Sabtu 2pm
2.30 pm - 3.30 pm
Minggu III:
Minggu II:
DIBUTUHKAN SEGERA:
WAREHOUSE/OFFICE STAFF, full-tme
Senin-Jumat 10-3pm. Hourly rate + bonus.
Ofce locaton: Cheltenham. E-mail your
resume to sales@mrpack.com.au or call
us on (03) 8609 1589 Senin-Jumat
10-3pm.
50 ozip.com.au 50 ozip.com.au 50 ozip.com.au 50 ozip.com.au 50 ozip.com.au
Theres a Chinese idiom
eyebrow and eyes convey emotion & love.
While in this e-era, Chinese ladies are often addressed as beautiful
eyebrows. Interestingly, you can see how important a role the eyebrows
play in ladies facial appearance.
Gina Park, principal beauty therapist of SKIN&LIGHT Beauty Clinic,
knows this pretty well. With 15 years of professional background in
beauty industry, both in Korea and in Australia, she is also ready to share
the beauty secret of the Korean superstars, which is, 3D Eyebrow
Tattoos, or 3D Eyebrow Embroidery.
People get their eyebrows with tattoos, which are known as 3D Eyebrow
Tattoos, or 3D Eyebrow Embroidery. However, this technique is very
different from other methods
because the tattooing makes
the hair look absolutely natu-
ral. When the eyebrow is done
correctly, it can signicantly
improve the appearance of a
person. Gina explains in her
graceful manners.
The principle of 3D Eyebrow
Tattoos, no different from
other tattoos such as lips,
eye lines, or eyebrows, is to
inject color into skin around
eyebrow area. The only differ-
ence is that the ink material is
deliberately chosen to t this
skin type.
Gina explains that permanent make-up procedures are as follows:
1. Choose the right color, and then draw the design or shape that is
agreed by the client.
2. After local anesthesia, Gina will hand-draw the latest feather
technology to eyebrows , to fulll the most natural make-up.
3. All material & tools used during this process is checked and certied
by TGA, Therapeutic Goods Administration. A skin test is done prior
to the whole treatment.
You may realise that the success of permanent make-up largely de-
pends on the beauty therapist personal experiences, skills & responsi-
bilities. Gina is able to tailor to your own need, based on your own facial
outlines and to highlight the good traits. She also recommends color
based on the clients hair color, pupil color and skin tone.
SKIN &
LIGHT
GINA PARK
Cosmetic Laser Specialist
Besides the abundant expe-
rience in this industry, Ginas
professional experiences
come from her academic
background. Before be-
coming a beauty therapist,
Gina studied for four years
majored in ne drawing as an
artist. Then she started her
own beauty saloon in Korea.
She now has double quali-
cations both in Australia and in Korea. She is a qualied tattoo therapist,
skin care therapist and beauty advisor. And her excellent expertise and
handcraft is spread by word of mouth in Australias major cities such as
Sydney, Melbourne, Brisbane and Perth.
The ink is another issue to take into consideration. Ink used here is simi-
lar material as to eye lining or lipstick tattoos.
Body tattoos are hard to remove, but permanent make-up is so natural
that the color gets fainted as time goes by. On average, the eyebrow tat-
toos can last 2-3 years, lip tattoos for 2-5years, and eye lining tattoos for
more than 5years.
The technique is becoming very popular these days because of how
good it is at imitating the natural look of eyebrows. Every detail is taken
to make the tattoo look natural, rened, and beautiful.
If the procedure is done correctly, it would be
1. Completely Painless
2. No Bleeding
3. No need to take time for healing
4. Take a little over just 1 hour
There will be a slight bit of swelling. In around 3-5 days,
healing will be mostly complete.
So where can we get 3D Eyebrow Tattoos in Melbourne?
Contact Gina today and shell help retain your condence again!
ADVERTORIAL
Reyharp
Bermain Harmonika Dari Hati
Inilah anak muda berbakat yang merintis karir
sebagai pemain harmonika jazz, Reyhan Naufal
alias Reyharp. Awal September lalu ia berkunjung
ke Melbourne untuk rekaman bersama musisi
jazz Ade Ishs. Di sela-sela jadwal rekaman ia
tampil di The Maven Room dan Rubys Music
Room.
Awalnya nggak sengaja menemukan harmonika
di rumah paman, ujar musisi berusia 14 tahun
itu. Wa Pochang, demikian nama sang paman,
kemudian mendorongnya untuk berlatih dan
berlatih. Hari Pochang adalah musisi blues kawakan asal Bandung.
Lewat bimbingan Wa Pochang inilah Reyharp kini tampil sebagai peniup
harmonika handal. Ia menyabet juara satu di ajang Asia Facic
Harmonica Festival (Malaysia, 2012) dan juara IV di World Harmonica
Festival (Jerman, 2014). Ia memainkan kategori diatonic harp. Kepada
sang paman, ia belajar teknik dasar bermain harmonika. Makin lama
ia kian suka dengan alat musik tiup itu. Main musik itu harus dari hati,
demikian petuah Pochang yang selalu diingat Reyharp. Jika kamu ber-
prestasi di musik, itu akan membuat kebanggaan tersendiri.
Bersama Pochang, pada 2012, ia ikut meramaikan ajang Jakarta Blues
Festival. Permainan harmonika memang sudah lazim menjadi bagian
dari musik blues, tapi untuk jazz, masih terbilang langka. Karena itu Rey-
harp termotivasi untuk memainkan hermonika jazz.
Kebetulah ayah suka jazz dan di Jakarta banyak bergaul dengan para
pemain jazz, ujarnya. Di Jakarta, Reyharp biasa ngejam bersama Benny
Likumahuwa dan Barry Likumahuwa. Ia tampil di Java Jazz Festival 2014
bersama Like Father Like Son pimpinan Benny.
Saya ingin memperkenalkan harmonika kecil yang dimainkan untuk jazz.
Menyebarkan virus harmonika ke anak-anak muda.
Di dunia maya, ia bergabung dala grup Pecinta Harmonika melalui Iman
Budi Santoso. Ia juga bergiat di Red White Jazz di kawasan Kemang,
Jakarta, yang dikelola oleh Indra Lesmana. Selain belajar langsung pada
musisi dalam negeri, Reyharp juga menimba ilmu dari musisi luar negeri
melalui dunia maya. Ia mengagumi permainan harmonika Howard Levy
(US) yang bermain untuk grup jazz Bela Fleck and the Flecktones. Ia juga
menyukai permainan harmonika muisisi Kanada Carlos del Junco.
Penonton di Melbourne cukup terpukau denga permainan musisi belia
ini. Mereka mengakui baru kali ini melihat harmonika dimainkan dalam
jazz. Reyharp memang selalu menjiwai setiap lagu yang dimainkan.
Saya hanya bermain dari hari dan mengikuti lagu yang dimainkan,
ujarnya.
Perjalanan ke Melbourne memberinya banyak inspirasi, antara lain se-
buah lagu Melting Pot Blues. Lagu tentang keragaman warga dan budaya
Melbourne yang di matanya tampak seperti blues.
Seorang pemusik kalau belum punya album sendiri, itu namanya belum
musisi yang hebat, tuturnya memberi semangat kepada dirinya sendiri.
Sukses selalu Reyharp!
Foto: Ineke Iswardojo
MUSIC
Reyharp tampil bersama Ade Ishs
Melbourne Offce
G10A / 838 Collins St
VIctoria Harbour VIC 3008
Paul Tirtha 0430 88 2324
MARN 1172003
Visit our website:
MigrasiAustralia.com
Rencanakan situasi anda
sejak dini dan dapatkan FREE
consultation!
FREE MIGRATION SEMINAR / INFORMATION SESSION
OCTOBER 2014
LOCATION: The G-Ground Fl, Lifestyle Working Building,
838 Collins Street, Victoria Harbour, DOCKLANDS VIC 3008
REGISTRATION: email to info@migrasiaustralia.com or
sms 0430 882 324
Fri, 10 OCT 14
15:30
SKILLED MIGRATION-POST
STUDY VISA
Fri, 17 OCT 14
15:30
TEMPORARY WORK VISA
Fri, 24 OCT 14
15:30
FAMILY MIGRATION-PARTNER
VISA
TEMPAT TERBATAS! dalam Bahasa Indonesia, mudah dimengerti dan
FREE consultation
ASSAULT
ST. KILDA
10 AUGUST 2014
A man allegedly smashed a glass into
another mans head at a St Kilda bar on 10
August 2014.
The man was at bar on Acland Street when
a fght broke out on the dance foor and he
hit the other man with a glass around 2am.
He was last seen walking along Barkly
Street towards Carlisle Street.
The man is described as Southern Euro-
pean in appearance, approximately 165cm
to 175cm tall, unshaven and was wearing a
white singlet, black shirt and dark coloured
jeans.
Police have released images of a man whom they be-
lieve may be able to assist them in their enquiries.
(Target Crime 37 / 14 please quote reference number CA 7542)
WANTED
Jason ZERVOUDAKIS
DOB:
14 Aug 1966
HEIGHT:
185 cm
BUILD: Thin
EYES: Brown
HAIR: Black
(baldng)
COMPLEXION:
Fair
Jason ZERVOUDAKIS was
allegedly involved in theft in
Coburg in August 2014.
A warrant for his arrest has
been issued for failing to appear
at the Melbourne Magistrates
Court.
Dentist
Dr. Salim Sjaifuddin
1122 Burke Road
Balwyn North VIC 3104
Melway reference (Mel 45K3)
Ph. 9859 3533
info@beautifulsmile.com.au
www.beautifulsmile.com.au
Cantique
Skin & Beauty
Advanced Facial (untuk jerawat, anti aging,
sensitive, dehydrated)
Microdermabrasion & Peel Treatment
Face Lift & Oxygen Facial
Paket perawatan pra nikah
Make up & Sanggul
Waxing, Manicure, Pedicure, Lulur
www.cantiqueskin.com
Yanti ( Jane Lim)
Beauty Terapist and Paramedical Aesthetics
03 - 9755 6846 / 0413 770 929
Location: Rowville & Point Cook
(by appointment only)
Melbourne
contact - Lydia
mobile - 0430 933 778
Brisbane
contact - Aland
mobile - 0403 730 858
email - adsales@ozip.com.au
Advertise
Here!
Dian mengharapkan dukungan komunitas Indonesia. Dia tidak
datang ke Melbourne untuk menjadi pesaing bisnis sejenis tetapi
untuk membuktikan bahwa dirinya, seorang ibu rumah tangga biasa
dapat menjadi contoh bagi wanita Indonesia lainnya untuk berani
mengambil keputusan dan tidak takut untuk bekerja keras dalam
mencapai apa yang dicita-citakan.

Ayo, kita coba cicipi aneka menu Padang Kitchen. Jangan lupa
berikan komentar dan masukan positif agar restorant baru ini terus
berkembang .
Lydia
Photos: doc. Padang Kitchen
Pada mulanya Dian Bahroelim, wanita Padang berusia 40 tahun
datang ke Australia untuk menemani suami yang bekerja di sebuah
perusahaan pertambangan di Western Australia. Tinggal di sebuah
kota kecil Mackay jauh dari keramaian kota Brisbane, dengan bahan-
bahan yang terbatas, ia tetap berusaha menyajikan masakan
Indonesia untuk suami tercinta.
Bermula dari kegiatan pengajian dimana Dian diminta untuk menyiap-
kan hidangan, mulailah masakan dari dapur rumahnya dikenal teman-
teman dekat sesama orang Indonesia, terutama untuk masakan
Padang yang dipelajarinya dari ibu dan nenek tercinta. Dian mulai
banyak mendapat pesanan untuk masak dalam jumlah besar dalam
kegiatan masyarakat Indonesia di Brisbane.
Pada saat Dian mengambil kelas bisnis
di Tafe Queensland, pengajarnya ber-
cerita mengenai kekagumannya akan
pendatang dari China yang dengan ke-
mampuan Bahasa Inggris yang sangat
terbatas berani membuka usaha baik
itu mini market , milk bar, dan restau-
rant. Saat itulah diam-diam dalam
hatinya timbul keinginan untuk mem-
buka usaha setelah yakin bahwa
masakannya dapat diterima dan
mempunyai modal sendiri.
Kesempatan itu datang setelah
suaminya Joni Adhanto, memberikan
bantuan dan dorongan untuk berani
mencoba membuka usaha restaurant
Indonesia. Mendengar bahwa ada
restaurant Indonesia yang akan dijual
di Melbourne, setelah berunding dan
berdasarkan beberapa pertimbangan,
Dian dan suami memutuskan untuk
pindah ke Melbourne. Dari seorang
ibu rumah tangga biasa dengan tekad
bulat dan semangat tinggi Dian pada
awalnya bekerja sendiri mulai dari
belanja ke pasar, memasak, dan menyiapkan segala sesuatunya. Pada
pertengahan Mei 2014 , tercapailah impiannya untuk membuka usaha
restaurant Indonesia dengan nama Padang Kitchen dan mulai mem-
buka pintunya untuk masyarakat Indonesia di bilangan Prahran, lokasi
yang strategis di depan Prahran Market, dekat Swinburne University.
Dian dengan keramahan dan kerendahan hatinya menyapa pengun-
jung yang datang dan selalu minta pendapat mengenai masakannya
dan berusaha menyesuaikan dan memperbaiki cita rasa masakannya
yang tidak hanya menyajikan masakan Padang tetapi masakan favorit
khas Indonesia lainnya.
PADANG KITCHEN Cooking with Heart
Dapur masakan Indonesia, cita rasa masakan rumahan
FOOD REVIEW
54 ozip.com.au 54 ozip.com.au 54 ozip.com.au 54 ozip.com.au 54 ozip.com.au
114 Lygon Street,
Carlton.
03 9650 9880
Trading Hours:
Tues-Fri: 11.30am to 10pm
Sat-Sun: 11am till late
.c www.killiney-kopitiam om.au


H A L A L
108 Bourke Street,
Melbourne.
03 9663 5818
Trading Hours:
Mon - Sat: 11am to 10pm
Makanan Khas Singapura
dari harga $6.80 - $9.90
Killiney Kaya
Toast Set
$
6
.5
0