Anda di halaman 1dari 10

PROPOSAL

PEMETAAN GEOLOGI
Desa Banjarpanepen dan sekitarnya
Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah








OLEH :

ARIF PURNANDA
12.307.001







TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN
MEDAN
BAB I
PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang
Mata pelajaran Geomorfologi merupakan salah satu mata pelajaran wajib yang
harus diambil oleh mahasiswa Teknik Geologi Institut Teknologi Medan. Melalui mata
pelajaran Geomorfologi diharapkan mahasiswa Teknik Geologi Institut Teknologi
Medan dapat memahami betul tata cara kegiatan lapangan seorang geologi dalam
membuat Peta Geologi.
Pada persiapannya menjadi seorang ahli geologi, pelaksana harus mengetahui
dasar-dasar apa saja yang menjadi landsan pembuatan Peta Geologi. Para ahli Geologi
dalam melaksanakan tugasnya, hampir selalu berhadapan dengan masalah-masalah
lapangan. Oleh karena itu, kemahiran untuk bekerja di lapangan merupakan syarat
mutlak yang harus dikuasai sepenuhnya oleh mereka yang berniat untuk menjadi ahli
geologi.
Berdasarkan atas sifatnya, geologi merupakan ilmu yang sifat dasarnya adalah
pengamatan (observation science). Sifat ini mengharuskan untuk mengembangkan
kemampuan obeservasi, yang sangat diperlukan untuk memperoleh data yang lengkap
dan menyeluruh, sehingga dapat dilakukan penafsiran yang logis.
Latihan melakukan observasi harus dimulai sejak tingkat awal dari proses
pendidikan. Meskipun ada pelaksanaan praktikum di laboratorium, peragaan yang ada
umumnya menunjukan keadaan yang ideal atau mudah dimengerti, namun sangat
berbeda bila dilihat di alam. Oleh karena itu, Pemetaan Geologi ini menjadi langkah
awal pelaksana menjadi seorang ahli geologi dalam menafsirkan kenampakan alam
dalam pemahaman yang telah dipelajari dala bangku perkuliahan.

1.2 Batasan Masalah
Pada kegiatan Pemetaan Geologi masalah yang di amati yaitu kondisi daerah
pemetaan geologi meliputi pengamatan Geomorfologi, Geologi Struktur, Sedimentologi,
Statigrafi, Mineralogi, dan Petrologi. Dari pengamatan ini diharapkan pelaksana dapat
memahami sejarah geologi daerah pemetaan serta memberi hasil berupa manfaat serta
kerugian dari geologi untuk daerah pengamatan.

1.3 Rumusan Masalah
Permasalahan geologi daerah Pemetaan Geologi ini dirumuskan dalam pendekatan
aspek geologi meliputi penentuan titik pengataman, pengamatan singkapan, pengambilan
sampel, Tectonic Section, pengukuran struktur bidang dan garis serta analisa
laboratorium. Melalui data tersebut pelaksana diharapkan dapat membantu mengatasi
batasan masalah.

1.4 Maksud dan Tujuan
Maksud kegiatan Pemetaan Geologi yaitu untuk memenuhi syarat mendapatkan
gelar sarjana, dimana para mahasiswa harus dapat melakukan Kuliah/Kerja Lapangan
yaitu Kuliah Lapangan (KL) dan Pemetaan Geologi yang tercantum dalam kurikulum
pendidikan S-1 Program Studi Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral Institut
Teknologi Medan.
Tujuan dari pemetaan ini adalah untuk menyusun sejarah geologi daerah pemetaan,
dan menjelaskan potensi geologi, terutama yang berkaitan dengan sumber daya alam dan
bencana alam di daerah pemetaan. mengetahui kondisi suatu daerah dengan melihat
aspek stratigrafi, geomorfologi, struktur geologi dimana nantinya dapat untuk membuat
perencanaan survey geologi dan menghasilkan peta geologi yang dapat dipertanggung
jawabkan secara akademik dan melakukan penelitian lebih lanjut guna mempelajari
proses geologi yang terjadi serta hasil dari proses tersebut.

1.5 Manfaat Penelitian
Pemetaan Geologi yang dilakukan ini diharapkan memberi manfaat berupa data
tertulis geologi dan data fisik Geologi daerah diamati. Meliputi daerah rawan bencana,
potensi sumber daya serta kegunaan lainnya.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA



2.1 Kondisi Geomorfologi


Gambar 2.1: Lokasi Daerah Kegiatan

Gambar 2.2: Peta Kontur Daerah Kegiatan Desa Banjarpanepen,
Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas, Jawa
Tengah

Kondisi Geomorfologi Daerah Pemetaan Geologi ini berada di Desa
Banjarpanepen dan sekitarnya, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas
Provinsi Jawa Tengah. Menurut Van Bemmelen (1949), secara fisiografis
daerah Jawa Tengah dibagi menjadi 6 zona fisiografi, yaitu : Daratan Aluvial
Jawa Utara, Deperesi Jawa Tengah, Antiklinorium Bogor Serayu Utara
Kendeng, Depresi Jawa Tengah, Pengunungan Serayu Selatan dan
Pengunungan Selatan Jawa. Berdasarkan proses geologi bekerja termasuk ke
bentukan bentang alam asal endogen dan satuan geomorfologinya yaitu yang
bentuk asal struktural (A. Handaya dan Hindartan, 1992).
2.2 Kondisi Geologi

Gambar 2.3: Peta Geologi Daerah Kegiatan
Secara fisiografis, daerah Jawa Tengah oleh van Bemmelen, (1949) dibagi
menjadi 6 zona fisiografi, yaitu: Dataran Aluvial Jawa Utara, Gunungapi Kuarte,
Antiklinorium Bogor Serayu Utara Kendeng, Depresi Jawa Tengah,
Pegunungan Serayu Selatan dan Pegunungan Selatan Jawa (Gambar 2.1).
- Dataran Aluvial Jawa Utara, mempunyai lebar maksimum 40 km
kearah selatan. Semakin kea rah timur, lebarnya menyempit hingga 20
km.
- Gunungapi Kuarter di Jawa Tengah antara lain G. Slamet, G. Dieng, G.
Sundoro, G. Sumbing, G. Ungaran, G. Merapi, G. Merbabu dan G
Muria.
- Zona Serayu Utara memiliki lebar 30-50 km. Di selatan tegal, zona ini
tertutupi oleh produk gunungapi kwarter dari G. Slamet. Di bagian
tengah ditutupi okeh produk volkanik kwarter G. Rogojembangan, G.
Ungaran dan G. Dieng. Zona ini menerus ke Jawa Barat menjadi Zona
Bogor dengan antara keduannya terletak di sekitar Prupuk, Bumiayu
hingga Ajibarang, persis di sebelah barat G. Slamet, sedangkan kea
rah timur membentuk Zoa Kendeng. Zona Antiklinorium Bogor terletak
di selatan Dataran Aluvial Jakarta berupa Antiklinorium dari lapisan
Neogen yang terlipat kuat dan terintrusi. Zona kendeng meliputi daerah
yang terbatasantara Gunung Ungaran hingga daerah sekitar
Purwodadi dengan singkapan batuan tertua berumur Oligosen-Miosen
Bawah yang diwakili oleh Formasi Pelang.
- Zona Depresi Jawa Tengah menempati bagian tengah hingga selatan.
Sebagian merupakan dataran pantai dengan lebar 10-25 km. morfologi
panati ini mencakup kontras dengan pantai selatan Jawa Barat dan
Jawa Timur yang relative lebih terjal.
- Pegunungan Selatan Jawa memamnjang di sepanjang pantai pantai
selatan Jawa membentuk morfologi pantai yang terjal. Namun di Jawa
Tengah, zona ini terputus oleh Depresi Jawa Tengah.
- Pegunungan Serayu Selatan terletak di antara Zona Depresi Jawa
Tengah yang membentuk kubah dan pegunungan. Di bagian barat dari
Pegunungan Serayu Selatan yang berarah barat-timur dicirikan oleh
bentuk anticlinorium yang berakhir di timur pada suatu singkapan
batuan tertua terbesar di Pulau Jawa, yaitu daerah Luk Ulo, Kebumen.
Berdasarkan pembagian zona ini, daerah kegiatan Pemetaan Geologi
termasuk kedalam Pegunungan Serayu Selatan yang terletak di antara Zona
Depresi Jawa Tengah yang membentuk kubah dan Pegunungan.

2.3 Kondisi Statigrafi
Kondisi stratigrafi yang dipergunakan adalah stratigrafi regional yang
mengacu kepada (S. Asikin, A. Handoyo, B. Pristhisto, dan S. Gafoer 1992).
Statigrafi daerah pengamatan Banyumas menunjukkan bahwa runtunan formasi
batuan dari yang tertua hingga termuda, uraian selengkapnya formasi-formasi
tersebut, yaitu:
Formasi Penosogan
Formasi Penosogan terutama terdiri oleh perselingan lapisan
napal, tuff, batu pasir, batu lempung, dan kalkarenit, berdasarkan
distribusi besar butir, kandungan karbonat, jumlah material tuffaan
dan struktur sedimen yang berasosiasi dengannya dapat dikenal
adanya tiga bagian dari formasi ini. Batuan-batuan itu, umumnya di
endapkan di lingkunag turbit atas.
Formasi Halang
Formasi haling terutama tersusun oleh tuff berbutir halus yang
berselingan dengan napal. Dalam formasi ini juga ditemukan
lapisan-lapisan breksi volkanik yang berbutir kasar, formasi haling
dicirikan dengan kelimpahannya akan struktur nebdat, sebagian
diantaranya berukuran raksasa, yang mengindiksaikan bahwa
formasi ini diendapkan dalam cekungan yang menurun secara cepat
dan dibatasi oleh berbagai jenis sesar atau sesar tumbuh. Bidang-
bidang erosi yang khas dengan jelas tampak pada kontak antara
breksi volkanik dengan batuan lain yang berbutir lebih halus, hal
mana mengindentifikasikan bahwa breksi tersebut merupakan
endapan channel dalam suatu kipas bawah laut.

2.4 Kondisi Struktur Geologi
Pulau Jawa secara tektonik dipengaruhi oleh dua lempeng besar, yaitu
Lempeng Eurasia di bagian utara dan Lempeng Indo-Australia dibagian selatan.
Pergerakan dinamis dari lempeng-lempeng ini menghasilkan perubahan tatanan
tektonik Jawa dari waktu ke waktu. Secara berurutan, rejim tektonik Jawa
mengalami perubahan yang dimulai dengan kompresi, kemudian mengalami
regangan dan kembali mengalami kompresi.
Pulunggono dan Martodjojo (1994) menjelaskan bahwa tektonik kompresi
terjadi pada Kapur Akhir-Eosen (80-52 juta tahun yang lalu), yang diakibatkan
oleh penunjaman berarah timurlaut-baratdaya dari Lempeng Indo-Australia ke
bawah Lempeng Eurasia. Tektonik regangan terjadi pada Kala Eosen-Oligosen
Akhir akibat dari berkurangnya kecepatan gerak Lempeng Indo-Australia.
Tektonik Kompresi kembali terjadi pada kala Oligosen-Miosen Awal, akibat
terbentuknya jalur penunjaman baru di selatan Jawa. Pada Eosen Akhir-Miosen
Awal pusat kegiatan magma berada di Pegunungan Serayu Selatan, Bayat, dan
Parangtritis. Kegiatan magma yang lebih muda yang berumur Miosen Akhir-
Pliosen bergeser ke utara dengan dijumpai singkapan batuan volkanik di daerah
Karangkobar, Banjarnegara (Asikin, 1992). Pada kala Miosen Tengah-Pliosen
Awal, posisi tektonik Cekungan Serayu Utara merupakan bagian dari cekungan
belakang busur (Kartanegara dkk., 1987).


BAB III
METEDOLOGI PENELITIAN




3.1 Lokasi Penelitian

Gambar 3.1: Lokasi Daerah Kegiatan
Lokasi penelitian Pemetaan Geologi berada di daerah Desa
Banjarpanepen, Desa Bogangin dan Desa Ketanda, Kecamatan Sumpiuh,
Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis daerah
penelitian terletak pada: 07 32' 10.5"- 07 34' 53.5" LS dan 109 20' 55.9"-
109 24' 12.4" BT. Luas daerah kegiatan adalah 30 km
2
dengan ukuran 6 km x
5 km.

3.2 Metedologi Penelitian
Pada kegiatan Pemetaan Geologi ini, Metedologi penelitian yang
digunakan yaitu 1) Tahap persiapan dan studi pustaka, 2) Tahap pengumpulan
data primer atau tahap Pemetaan Geologi, 3) Tahap analisa data dan 4) Tahap
penyusunan laporan dan kolokium.
3.2.1 Tahap persiapan dan studi pustaka
Tahap persiapan dan studi pustaka dilakukan untuk
menunjang tahap pengumpulan data primer atau tahap pemetaan.
Tahap persiapan dan studi pustaka berupa pengumpulan informasi
yang dibutuhkan dalam mencari referensi-referensi yang
berhubungan dengan kegiatan yang dilakukan. Mulai dari membaca
literatur yang berhubungan dengan daerah kegiatan, penentuan
tempat bermukim, penentuan lintas yang akan dilewati nantinya
serta persiapan fisik.
3.2.2 Tahap pengumpulan data primer atau tahap pemetaan geologi
Tahap pengumpulan data primer atau Tahap pemetaan
Geologi merupakan inti dari kegiatan yang akan dilakukan di
daerah kegiatan. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan berupa
pengumpulan data-data lapangan dengan pendekatan rumusamn
masalah dan nantinya dapat memberikan hasil yang diharapkan
untuk menjawab batasan masalah.
3.2.3 Tahap analisa data
Tahap analisa data merupakan tahap lanjutan setelah Tahap
pengumpulan data primer telah dilakukan. Pada tahap ini dilakukan
analisa terhadap sampel batuan, fosil, mikrofosi dan analisa
struktur yang diambil saat pengumpulan data primer. Analisa
batuan dan fosil dilakukan dengan menggunakan mikroskop
analisis. Hasil dari pengataman dibawah mikroskop nantinya dapat
memberi data yang lebih akurat untuk mendukung data primer yang
telah dikumpulkan.
3.2.4 Tahap penyusunan laporan dan kolokium
Setelah melakukan tahap analisa data selanjutnya dilakukan
tahap penyusunan laporan. Tahap ini merupakan tahap penulisan
hasil data yang diperoleh dilapangan serta analisa data yang telah
dilakukan di laboratorium . Penulisan data yang didapatkan berupa
laporan geologi, nantinya setelah selesai melakukan laporan
geologi dilanjutkan dengan kegiatan kolokium
BAB IV
WAKTU DAN RENCANA



4.1 Waktu

Waktu kegiatan dimulai dari minggu kedua Juni 2014 hingga awal
September 2014 meliputi pembuatan proposal, persiapan lapangan, lapangan
(pemetaan). Selanjutnya dilanjutkan rencana kegiatan pada tahun akademik
baru yaitu kegiatan laboratorium pada minggu ketiga September 2014,
disambung dengan Penyusunan Laporan pada minggu pertama bulan oktober
2014 hingga minggu ketiga bulan Desember 2014 dan yang terakhir yaitu
kegiatan Kolokium pada minggu kedua bulan januari.


4.2 Rencana



1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Proposal
2 Persiapan Lapangan
3 Lapangan (Pemetaan)
4 Laboratorium
5 Penyususnan Laporan
6 Kolokium
Januari Desember
No Kegiatan
Juni Juli Agustus September Oktober November