Anda di halaman 1dari 3

Pelaksanaan Konservasi Burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) berbasis Desa

Pekraman di Kecamatan Nusa Penida Nusa Penida



oleh
Kade paramitha K, Sudiani dan Noviyanti

Jalak Bali (Leucopsar rotschildi) dikenal juga dengan nama Jalak Putih atau orang asing
ada yang mengenal dengan nama Bali mynah merupakan salah satu spesies burung asli Bali.
Saat ini keberadaannya terancam punah sehingga dicantumkan dalam Red Data Book IUCN
sejak tahun 1966, dan di dalam Apendix I CITES. Terkait dengan permasalahan tersebut di
atas, diperlukan sebuah upaya nyata upaya untuk mempertahankan keberadaan kehidupan liar
Jalak Bali dari ancaman kepunahan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk
menyelamatkan jalak bali dari kepunahan adalah dengan melakukan konservasi, yakni
melalui kegiatan dengan mengembangkan burung Jalak Bali ke suatu daerah yang memiliki
kondisi alam yang hampir sama dengan kondisi alam di Taman Nasional Bali Barat, tetapi
aman dari ancaman perburuan liar.
Mengacu pada kriteria hidup dari jalak Bali, maka daerah yang dianggap memiliki
kriteria tersebut oleh para penyelamat burung jalak bali adalah pulau Nusa Penida.
Dipilihnya Nusa penida sebagai tempat konservasi jalak Bali dengan berbagai pertimbangan
diantaranya ; 1) daerahnya memiliki kondisi fisik yang hampir sama dengan habitat aslinya,
2) dari segi letak geografis cukup mengurangi resiko dari pencurian, dan 3) masyarakatnya
masih memegang teguh tradisi kearifan lokal. Salah satu langkah nyata yang dilakukan untuk
melestarikan burung Jalak Bali di Nusa Penida adalah mengajak masyarakat Nusa Penida
untuk melestarikan habitat burung Jalak Bali dengan cara melindungi dan menggiatkan
penanaman pohon-pohon yang menghasilkan pasokan makanan bagi burung Jalak Bali, serta
menghentikan pemburuan, penangkapan, dan perdagangan burung. Dengan mengajak desa
pekraman sebagai basis dalam kegiatan konservasi, maka burung Jalak Bali di Nusa Penida
dapat berkembang dengan baik sehingga populasinya semangkin meningkat.Berdasarkan
uraian diatas, maka penulis mengangkat judul Pelaksanaan Konservasi Burung Jalak Bali
(Leucopsar rothschildi) berbasis Desa Pekraman di Kecamatan Nusa Penida Nusa
Penida sebagai fokus kajian penelitian ini.
Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Mendeskripsikan faktor-faktor pendukung
pelaksanaan konservasi burung Jalak Bali di Nusa Penida dan 2) Mendeskripsikan
pelaksanaan konservasi jalak Bali berbasis desa pekraman di Nusa Penida. Tehnik
Pengumpulan data dilakukan dengan kajian pustaka, pencatatan dokumen dan wawancara.
Metode Analisa Data yang digunakan adalah Analisa Diskriftif Kualitatif. Hasil penelitian
menunjukan sebagai berikut. 1) Faktor-faktor pendukung pelestarian jalak bali di Nusa
Penida adalah sebagai berikut. a) Wilayah Nusa Penida yang terisolasi oleh laut sehingga
kebanyakan burung yang tidak bermigrasi tidak terbang ke Bali atau pulau sekitarnya
sehingga otomatis menjadi kandang yang luas tanpa ada batas, b) Masyarakat Nusa Penida
masih homogen sehingga pendekatan lebih mudah dilakukan, c) Secara keanekaragaman
hayati tidak berbau jauh dengan habitat asli Burung Jalak Bali dan 2) Proses pelaksanaan
konservasi Jalak Bali di Nusa Penida diawali dengan diadakannya kegiatan sosialisasi yang
dilakukan oleh Pemda Bali dan dinas terkait, departemen kehutanan, LSM lokal sampai LSM
Nasional. Kemudian dilanjutkan dengan diadakan penggalangan dukungan untuk membuat
awig-awig atau perarem untuk melindungi burung jalak bali. Selanjutnya dilakukan study
kelayakan dan pembangunan berbagai infrastruktur pendukung kegiatan konservasi jalak bali.
Kemudian dilanjutkan dengan pelepasan burung Jalak Bali. Perkembangan burung Jalak Bali
pasca Konservasi mengalami perkembangan yang pesat. Hasil audit tahun terakhir mencapai
201 ekor. Pelaksanaan konservasi jalak bali berbasis desa pekraman cukup efektif sehingga
perkembangan jalak bali pasca pelepasliaran cukup menggembirakan. Hal ini dibuktikan
dengan keterlibatan masyarakat desa pekraman dalam Pelestarian burung Jalak Bali di Nusa
Penida adalah sebagai berikut. 1) Menerapkan awig-awig tentang pelindungan burung Jalak
Bali, 2) Melakukan pengawasan terhadap perkembangan burung Jalak Bali, dan 3)
Melakukan penanaman pohon sebagai upaya penyediaan habitat bagi Jalak Bali
Terkait dengan hasil penelitian tersebut di atas, dapat direkomendasikan antara lain
sebagai berikut. 1) Mengingat burung Jalak Bali adalah mascot Bali yang terancam punah
diharapkan seluruh lapisan masyarakat Bali mendukung pelaksanaan konservasi Jalak Bali di
Nusa Penida. Dukungan masyarakat terhadap konservasi Jalak bali khususnya Masyarakat
Nusa Penida diharapkan tidak berhenti sampai disini bila perlu ditingkatkan kearah yang
lebih baik, dan 2) Pelaksanaan konservasi jalak bali berbasis desa pekraman diharapkan juga
diterapkan di daerah lain sehingga keaneka ragaman hayati tetap dapat dipertahankan.