Anda di halaman 1dari 21

Universitas Gadjah Mada

3. KAMERA UDARA

Di dalam fotogrametri terdapat sedemikian banyak instrumen penting, hingga
tidak mudah untuk menyatakan mana yang paling penting. Akan tetapi ra merupakan
salah satu instrumen terpenting karena kamera digunakan membuat foto yang
merupakan alat utama di dalam fotogrametri. Untuk memahami ilmu fotogrametri,
terutama geometri foto udara harus dipahami pengertian dasar tentang kamera dan
cara kerjanya.
Persyaratan bagi kamera udara sangat berbeda dengan kamera amatir biasa.
Yang utama adalah sebuah lensa yang kualitas geometrinya tinggi. Kamera udara
harus dapat digunakan untuk pemotretan sejumlah besar foto dengan pergantian
secara cepat dan tepat. Fungsi ini harus dipenuhi karena pesawat yang juga bergerak
cepat, maka waktu pemotretan uiang harus singkat, lensa bekerja cepat, serta penutup
bekerja secara efisien. Karena itu karema harus mampu memenuhi fungsi tersebut di
dalam kondisi cuaca ekstnm maupun dalam keadaan pesawat bergetar. Kamera udara
pada umumnya dilengkapi dengan gulungan film dan magasen berkapasitas 200 kaki
hingga 400 kaki atau Iebih.

1. Jenis Kamera Udara
Ada empat jenis kamera udara, yang pertama adalah kamera kerangka
berlensa tunggal, merupakan yang paling banyak digunakan untuk pemetaan.
Kamera ini juga sering diklasifikasikan lagi berdasarkan besar sudut pandangnya
seperti tabel berikut
Jenis Kamera Panjang focus Sudut liputan
Narrow Angle
Normal Angle
Wide angle
Super-wide angle
12 inchi=304,8mm
8,25 inchi = 209,5 mm
6 inchi = 152,4 mm
3,5 inch = 88,9 mm
60
60- 75
75- 100
100









Kedua adalah kamera kerangka multilensa, yang lensanya berjumlah dua
atau lebih, juga akan menghasilkan dua foto udara atau lebih. Jenis
populer digunakan untuk pemantauan lingkungan, pemetaan sumberdaya alam
dan cultural dan sebagainya. Dalam hal
sama secara bersamaan, akan
kepekaannya tertentu. Kamera
foto yang dihasilkan merupakan
dan penafsiran yang terpotret
sebagai multilensa, karena memotret secara bersamaan dan mengha
sekaligus. Gambar berikut adalah contoh kamera multilensa berlensa enam.


Gambar 3.3 Kamera multilensa merk MPC. (Seizin ITEK Optical System).

Kedua adalah kamera kerangka multilensa, yang lensanya berjumlah dua
atau lebih, juga akan menghasilkan dua foto udara atau lebih. Jenis kamera ini
digunakan untuk pemantauan lingkungan, pemetaan sumberdaya alam
dan cultural dan sebagainya. Dalam hal ini semua kamera memotret daerah yang
sama secara bersamaan, akan tetapi masing-masing bensi emulsi film yang
kepekaannya tertentu. Kamera ini disebut dengan kamera multispektral. Perbedaan
merupakan kunci penting yang berguna di dalam identifikasi
dan penafsiran yang terpotret. Kamera konvergen dapat pula diklasiflkasikan
multilensa, karena memotret secara bersamaan dan mengha
sekaligus. Gambar berikut adalah contoh kamera multilensa berlensa enam.

ambar 3.3 Kamera multilensa merk MPC. (Seizin ITEK Optical System).

Kedua adalah kamera kerangka multilensa, yang lensanya berjumlah dua
kamera ini
digunakan untuk pemantauan lingkungan, pemetaan sumberdaya alam
semua kamera memotret daerah yang
masing bensi emulsi film yang
ngan kamera multispektral. Perbedaan
kunci penting yang berguna di dalam identifikasi
asiflkasikan
multilensa, karena memotret secara bersamaan dan menghasilkan dua
sekaligus. Gambar berikut adalah contoh kamera multilensa berlensa enam.
ambar 3.3 Kamera multilensa merk MPC. (Seizin ITEK Optical System).
Ketiga adalah kamera strip, yang membuahkan sebuah foto panjang yang
daerah sempit memanjang di b
dengan menggerakkan film di atas celah sempit pada bidang
kecepatan gerak film sesuai dengan kecepatan relatif gambaran
Meskipun tidak digunakan secara luas, pemotretan
jalan raya, jalan kereta api,
Terakhir adalah kamera panoramic, yang memotret jalur medan yang
memotret jalur medan yang
terbang.. Meskipun konstruksi k
dipandang serupa, sehingga dapat disusun pemerian umum yang
Kamera kerangka terdiri dari t
tubuh kamera, dan (3) kerucut kamera.


Ketiga adalah kamera strip, yang membuahkan sebuah foto panjang yang
daerah sempit memanjang di bawah pesawat terbang. Pemotretannya
dengan menggerakkan film di atas celah sempit pada bidang fokal kamera
kecepatan gerak film sesuai dengan kecepatan relatif gambaran pada bidang fokal.
Meskipun tidak digunakan secara luas, pemotretan taat dalam studi jalur unt
jalan raya, jalan kereta api, jaringan pipa dan sebagainya.
Terakhir adalah kamera panoramic, yang memotret jalur medan yang
memotret jalur medan yang oleh dua cakrawala dengan jalur menyilang arah
terbang.. Meskipun konstruksi kamera udara agak berbeda-beda, secara umum
dipandang serupa, sehingga dapat disusun pemerian umum yang mencirikannya
Kamera kerangka terdiri dari tiga komponen dasar yang berupa: (1) magasen
tubuh kamera, dan (3) kerucut kamera.


Ketiga adalah kamera strip, yang membuahkan sebuah foto panjang yang
awah pesawat terbang. Pemotretannya dilakukan
fokal kamera dengan
pada bidang fokal.
at dalam studi jalur untuk
Terakhir adalah kamera panoramic, yang memotret jalur medan yang
oleh dua cakrawala dengan jalur menyilang arah
beda, secara umum
mencirikannya.
(1) magasen, (2)
2. Tanda Tepi
Tanda tepi (fidusial) kamera pada umumnya berjumlah empat atau delapan
buah, dan letaknya pada bagian tengah pinggiran bidang fokal, pada sudut
sudutnya, atau antara dua tempat itu. Tanda
pencetakan gambar. Tanda tepi
melakukan koreksi terhadap pengkerutan atau pengembangan bahan fotografik.
Contoh Iengkap tanda fidusial dan informasil Iainnya disajikan pada gambar berikut


tepi (fidusial) kamera pada umumnya berjumlah empat atau delapan
buah, dan letaknya pada bagian tengah pinggiran bidang fokal, pada sudut
sudutnya, atau antara dua tempat itu. Tanda ini digambarkan pada negatif saat
pencetakan gambar. Tanda tepi ini mempunyai beberapa fungsi, termasuk untuk
melakukan koreksi terhadap pengkerutan atau pengembangan bahan fotografik.
Contoh Iengkap tanda fidusial dan informasil Iainnya disajikan pada gambar berikut

tepi (fidusial) kamera pada umumnya berjumlah empat atau delapan
buah, dan letaknya pada bagian tengah pinggiran bidang fokal, pada sudut-
digambarkan pada negatif saat
nyai beberapa fungsi, termasuk untuk
melakukan koreksi terhadap pengkerutan atau pengembangan bahan fotografik.
Contoh Iengkap tanda fidusial dan informasil Iainnya disajikan pada gambar berikut

3. Kalibrasi Kamera
Setelah selesai dibuat dan sebelum digu
secara cermat untuk menentukan
umumnya konstanta ini disebut unsure orientasi bagian dalam, yang
untuk menentukan data foto yang akurat. Metode kalibrasi kamera umumnya
dibedakan menurut satu diantara tiga kategori dasar, yaitu: (1) laboratorium, (2)
metode lapangan, dan (3) metode steller.
Unsur orientasi bagian dalam yang ditentukan melalui kalibrasi kamera
panjang focus ekivalen, panjang focus terkalibrasi, distorsi r
distorsi tangensial lensa, lokasi titik utama, jarak antara dua tanda ldusial yang
berhadapan, sudut perpotongan garis fidusial, dan kerataan bidang fokal. Resolusi
(ketajaman gambar) pada umu
kamera, yang didasarkan pada pengamata
dihasilkan oleh lensa tertentu. Cara kerja untuk penentuan
berbeda-beda, bergantung pada metodenya, namun bagaimanapun juga
perhitungan/ matematika pada pekerjaan kali



Setelah selesai dibuat dan sebelum digunakan, kamera udara dika
cermat untuk menentukan nilai yang tepat bagi sejumlah konstantanya.
disebut unsure orientasi bagian dalam, yang
untuk menentukan data foto yang akurat. Metode kalibrasi kamera umumnya
dibedakan menurut satu diantara tiga kategori dasar, yaitu: (1) laboratorium, (2)
metode lapangan, dan (3) metode steller.
Unsur orientasi bagian dalam yang ditentukan melalui kalibrasi kamera
panjang focus ekivalen, panjang focus terkalibrasi, distorsi radial lensa
distorsi tangensial lensa, lokasi titik utama, jarak antara dua tanda ldusial yang
berhadapan, sudut perpotongan garis fidusial, dan kerataan bidang fokal. Resolusi
(ketajaman gambar) pada umumnya juga diperoleh sebagai bagian kalibr
kamera, yang didasarkan pada pengamatan dan pengukuran gambar yang
dihasilkan oleh lensa tertentu. Cara kerja untuk penentuan unsur
beda, bergantung pada metodenya, namun bagaimanapun juga
/ matematika pada pekerjaan kalibrasi kadangkala cukup rumit.

nakan, kamera udara dikalibrasi
yang tepat bagi sejumlah konstantanya.
diperlukan
untuk menentukan data foto yang akurat. Metode kalibrasi kamera umumnya
dibedakan menurut satu diantara tiga kategori dasar, yaitu: (1) laboratorium, (2)
Unsur orientasi bagian dalam yang ditentukan melalui kalibrasi kamera
adial lensa rata-rata.
distorsi tangensial lensa, lokasi titik utama, jarak antara dua tanda ldusial yang
berhadapan, sudut perpotongan garis fidusial, dan kerataan bidang fokal. Resolusi
bagian kalibrasi
dan pengukuran gambar yang
unsur-unsur itu
beda, bergantung pada metodenya, namun bagaimanapun juga
asi kadangkala cukup rumit.
Universitas Gadjah Mada
Tabel 3.1 Kemampuan foto kamera metrik untuk pemetaan
Skala foto
Resolusi Simpangan baku (m)
Interval garis
tinggi (m)
m/pasangan
garis
m/piksel Posisi Elevasi
1 : 1.000.000
1 : 500.000
1 : 250.000
1 : 100.000
1 : 50.000
1 : 25.000
250
125
63
25
12,5
6,3
100
50
25
10
5
2,5
300
150
75
30
15
7,5
30
15
8
6
3
1,5
100
50
25
20
10
5
Sumber : Doyle, 1983, dengan perubahan

Table 3.2 Resolusi spasial pada foto udara
Skala Dengan IMC Tanpa IMC
1 : 10.000
1 : 25.000
1 : 50.000
1 : 100.000
0,250
0,625
1,25
2,50
0,071
0,179
0,357
0,714
Sumber : Konecny, 1987

Keterangan :
IMC(Image Motion Compansation) = kompensasi gerak gambaran objek.
Kamera modern pada umumnya dilengkapi dengan IMC (LiIlesand dan Kiefer,
1979). Bila digunakan pesawat terbang dengan baling-baling yang terbang
tinggi maka IMC tidak mutlak perlu adanya. Gerak yang lambat dengan
kedudukan yang tinggi menyebabkan IMC kecil. IMC perlu untuk pesawat Jet.

4. GEOMETRI FOTO UDARA

1. Geometri Foto Udara Tegak
Syarat-syarat, kenampakan, dan geometri
dengan terhadap foto udara tegak. Hubungan geometri obyek di lapangan
foto udara termasuk sumbu koordinat dan rumus
terjadinya rona dan geometri yang berkebalikan antara foto udara
udara positif serta efek-efek yang mengikutinya. Perbandingan
tegak dengan foto udara sendeng, serta pemanfaatannya.
foto udara yang menggunakan wahana dan

2. Elemen Foto Udara Tegak
Berbagai elemen penting yang terdapat pada foto udara tegak serta
kegunaannya, seperti tanda tepi
negatif dan lain-lain. Perihal proyeksi sentrai pa
sela barbagai masalah terkait dengan penyadapan informasi da
serta pemetaannya.

3. Skala Foto Udara
Definisi skala menurut pengertian umum, kegunaan dan perhitungannya
foto udara. Menyatakan skala dengan berb
pengertiannya. Metode dan bermacam cara perolehan skala pada beragam
4. GEOMETRI FOTO UDARA
Geometri Foto Udara Tegak
syarat, kenampakan, dan geometri foto udara tegak. Pengaruh nilai
engan terhadap foto udara tegak. Hubungan geometri obyek di lapangan
foto udara termasuk sumbu koordinat dan rumus-rumus yang terkait.
adinya rona dan geometri yang berkebalikan antara foto udara negative
efek yang mengikutinya. Perbandingan antara
tegak dengan foto udara sendeng, serta pemanfaatannya. Bagian terakhir adalah
akan wahana dan ruang angkasa.
Elemen Foto Udara Tegak
Berbagai elemen penting yang terdapat pada foto udara tegak serta
kegunaannya, seperti tanda tepi, titik prinsipal. ground nadir, isocenter, bidang
lain. Perihal proyeksi sentrai pada foto udara dan sifat dasarnya
sela barbagai masalah terkait dengan penyadapan informasi dari permukaan bumi
Definisi skala menurut pengertian umum, kegunaan dan perhitungannya
foto udara. Menyatakan skala dengan berbagal bentuk penyajian dan
Metode dan bermacam cara perolehan skala pada beragam
foto udara tegak. Pengaruh nilai
engan terhadap foto udara tegak. Hubungan geometri obyek di lapangan dengan
rumus yang terkait. Proses
negative foto
antara foto udara
terakhir adalah

Berbagai elemen penting yang terdapat pada foto udara tegak serta
isocenter, bidang
da foto udara dan sifat dasarnya
permukaan bumi
Definisi skala menurut pengertian umum, kegunaan dan perhitungannya
agal bentuk penyajian dan
Metode dan bermacam cara perolehan skala pada beragam bentuk
permukaan medan serta contoh
lokal pada foto udara tegak.

4. Koordinat Medan Foto Udara
Pengertian sistem koordinat pada foto udara, penggunaan
medan. Salib sumbu di atas medan dan pada foto udara serta bentuk
persamaannya. Berbagai metode untuk mengukur koordinat, peralatan yang
nakan. Kandungan kesalahan sistematik pada pen
cara perbaikannya. Masalah pengkerutan dan pemekaran pada film pun kertas foto
dan cara koreksinya.

permukaan medan serta contoh-contohnya. Pengertian skala rata-rata
lokal pada foto udara tegak.
Koordinat Medan Foto Udara
Pengertian sistem koordinat pada foto udara, penggunaan system koordinat
b sumbu di atas medan dan pada foto udara serta bentuk
aannya. Berbagai metode untuk mengukur koordinat, peralatan yang
nakan. Kandungan kesalahan sistematik pada penentuan koordinat foto
cara perbaikannya. Masalah pengkerutan dan pemekaran pada film pun kertas foto


dan skala
system koordinat
b sumbu di atas medan dan pada foto udara serta bentuk
aannya. Berbagai metode untuk mengukur koordinat, peralatan yang
entuan koordinat foto udara dan
cara perbaikannya. Masalah pengkerutan dan pemekaran pada film pun kertas foto

5. PENGAMATAN STEREOSKOPIK

1. Sistem Mata Manusia
Persamaan dan perbedaan siste
dan film, bagian penyusun serta iungsinya masing
dalam menangkap sinar dan bayangan obyek. Basis mata dan metode
pengamatan secara monoskopis, serta kemampuan mata didalam mendeteksi
sudut.
Gambar5.1 Penampang lintang mata manusia.

2. Persepsi Kedalaman Stereoskopik
Pengertian tentang persepsi kedaiaman stereoskopik, dan kedudukannya
didalam fotogrametri. Pembentukan model stereo tiga dimensional. Menentukan
tinggi obyek dan variasi medan berdasarkan persepsi kedalaman. Perubahan
besarnya sudut paralaks yang berpengaruh pada persepsi kedalaman.

3. Pengamatan Foto Udara Stereoskopik
Mekanisme pengamatan stereoskopik (fenomena tiga dimensional) foto
udara. Persyaratan foto udara untuk pengamatan kenampakan stereoskopiknya.
Elemen-elemen yang diperlukan didalam pengamatan stereoskopik. Susunan foto
udara dalam pengamatan stereoskopik.

5. PENGAMATAN STEREOSKOPIK
Persamaan dan perbedaan sistem mata manusia dengan sistem kam
film, bagian penyusun serta iungsinya masing-masing. Cara kerja sistem
dalam menangkap sinar dan bayangan obyek. Basis mata dan metode
secara monoskopis, serta kemampuan mata didalam mendeteksi

Gambar5.1 Penampang lintang mata manusia.
Persepsi Kedalaman Stereoskopik
Pengertian tentang persepsi kedaiaman stereoskopik, dan kedudukannya
fotogrametri. Pembentukan model stereo tiga dimensional. Menentukan
tinggi obyek dan variasi medan berdasarkan persepsi kedalaman. Perubahan
nya sudut paralaks yang berpengaruh pada persepsi kedalaman.
Pengamatan Foto Udara Stereoskopik
Mekanisme pengamatan stereoskopik (fenomena tiga dimensional) foto
udara. Persyaratan foto udara untuk pengamatan kenampakan stereoskopiknya.
yang diperlukan didalam pengamatan stereoskopik. Susunan foto
udara dalam pengamatan stereoskopik.
m mata manusia dengan sistem kamera
masing. Cara kerja sistem
dalam menangkap sinar dan bayangan obyek. Basis mata dan metode
secara monoskopis, serta kemampuan mata didalam mendeteksi
Pengertian tentang persepsi kedaiaman stereoskopik, dan kedudukannya
fotogrametri. Pembentukan model stereo tiga dimensional. Menentukan
tinggi obyek dan variasi medan berdasarkan persepsi kedalaman. Perubahan
Mekanisme pengamatan stereoskopik (fenomena tiga dimensional) foto
udara. Persyaratan foto udara untuk pengamatan kenampakan stereoskopiknya.
yang diperlukan didalam pengamatan stereoskopik. Susunan foto




4. Stereogram dan Stereoskop
Pengertian dan cara pembuatan model stereoskopik (tiga dimensional)
penggunaannya. Stereoskop sebagai alat bantu dalam pengam
opik. Elemen yang diperlukan, sistem kerja, pemeliharaan dan macam
Efek pandangan pseudoskopik dalam pengamatan.

5. Perbesaran Skala Vertikal
Pengertian tentang perbesaran skala perbesaran skala vertikal. Hal
yang berpengaruh terhadap perbesaran skala vertical. Peran rasio fotografik antara
basis udara dengan tinggi terbang pada perbesaran skala vertical. Persamaan
yang digunakan dan contoh perhitungan.





ram dan Stereoskop
Pengertian dan cara pembuatan model stereoskopik (tiga dimensional)
unaannya. Stereoskop sebagai alat bantu dalam pengamatan foto udara
opik. Elemen yang diperlukan, sistem kerja, pemeliharaan dan macam stereoskop.
Efek pandangan pseudoskopik dalam pengamatan.
Skala Vertikal
Pengertian tentang perbesaran skala perbesaran skala vertikal. Hal
terhadap perbesaran skala vertical. Peran rasio fotografik antara
basis udara dengan tinggi terbang pada perbesaran skala vertical. Persamaan
yang digunakan dan contoh perhitungan.
Pengertian dan cara pembuatan model stereoskopik (tiga dimensional)
atan foto udara
stereoskop.
Pengertian tentang perbesaran skala perbesaran skala vertikal. Hal-hal
terhadap perbesaran skala vertical. Peran rasio fotografik antara
basis udara dengan tinggi terbang pada perbesaran skala vertical. Persamaan




6. PARALAKS STEREOSKOPIK

1. Pengertian Paralaks
Pengertian tentang paralaks yang menyangkut dengan kejadian, proses,
pembentuknya. Terjadiriya paralaks stereoskopik pada pasangan dan unsur
terkait. Kedudukan sumbu jalur terbang dan tanda
apung untuk penentuan nilai paralaks (bed



6. PARALAKS STEREOSKOPIK
tentang paralaks yang menyangkut dengan kejadian, proses,
pembentuknya. Terjadiriya paralaks stereoskopik pada pasangan dan unsur
terkait. Kedudukan sumbu jalur terbang dan tanda sumbu jalur terbang dan tanda
penentuan nilai paralaks (beda paralaks).
tentang paralaks yang menyangkut dengan kejadian, proses,
pembentuknya. Terjadiriya paralaks stereoskopik pada pasangan dan unsur-unsur
sumbu jalur terbang dan tanda

2. Metode Penentuan Paralaks
Metode monoskopis dan metode stereoskopis untuk pengukuran paralaks.
Peralatan dan instrumen untuk penentuan paralaks. Persamaan paralaks dan
penggunaannya dalam penentuan beda ketinggian. Koreksi paralaks dan
kesalahan perhitungan. Pembuatan peta topografi menggunakan
stereoskopik.


Penentuan Paralaks
Metode monoskopis dan metode stereoskopis untuk pengukuran paralaks.
dan instrumen untuk penentuan paralaks. Persamaan paralaks dan
dalam penentuan beda ketinggian. Koreksi paralaks dan
kesalahan perhitungan. Pembuatan peta topografi menggunakan prinsip paralaks


Metode monoskopis dan metode stereoskopis untuk pengukuran paralaks.
dan instrumen untuk penentuan paralaks. Persamaan paralaks dan
dalam penentuan beda ketinggian. Koreksi paralaks dan
prinsip paralaks

Formula perhitungan paralak disajikan dibawah
TR R
TR R
TR
P P
. H'
H

=
Dimana :
H
TR
= beda tinggi titik T dan titik R
H
R
= tinggi terbang relative di atas
P
R
= paralaks absolute titik R
P
TR
= beda paralaks titik T dan titik R

Persamaan di atas biasa disebut persamaa
dipergunakan sebagai dasar untuk perhitungan beda tinggi antar titik. Parataks
terjadi sejajar terhadap jalur terbang, sumbu fotografik untuk pengukuran paralaks
harus sejajar terhadap jalur terang bagi masing
stereo. Bagi foto tegak pasangan stereo, jalur
menghubungkan titik utarni dan titik utama ber
pasangan stereo menentukan sumb
jalur terbang dan rneaui titik utama pada setiap foto merupakan sumbu foto y untuk
pengukuran paralaks.


Pehitungan Beda Ketinggian Berdasarkan

tungan paralak disajikan dibawah ini.

beda tinggi titik T dan titik R
tinggi terbang relative di atas R
paralaks absolute titik R
beda paralaks titik T dan titik R
Persamaan di atas biasa disebut persamaan parataks. Persamaan ini selanju
dasar untuk perhitungan beda tinggi antar titik. Parataks
jalur terbang, sumbu fotografik untuk pengukuran paralaks
sejajar terhadap jalur terang bagi masing-masing foto suatu pasangan
tegak pasangan stereo, jalur terbang merupakan garis yang
nghubungkan titik utarni dan titik utama berikutnya. Jalur terbang pada
pasangan stereo menentukan sumbu koordinat foto. Garis yang ditarik tegak Iurus
jalur terbang dan rneaui titik utama pada setiap foto merupakan sumbu foto y untuk
Pehitungan Beda Ketinggian Berdasarkan Persamaan Paralak

selanjutnya
dasar untuk perhitungan beda tinggi antar titik. Parataks
jalur terbang, sumbu fotografik untuk pengukuran paralaks
masing foto suatu pasangan
terbang merupakan garis yang
ya. Jalur terbang pada
koordinat foto. Garis yang ditarik tegak Iurus
jalur terbang dan rneaui titik utama pada setiap foto merupakan sumbu foto y untuk

7. PENGUKU

1. Sistem Koordinat Fotografik
Pengertian tentang sistem koordinat fotografik pada foto udara. Dan
penentuan koordinat berbagal titik di medan. Peran dan kedudukan sistem salib
sumbu foto udara serta penentuannya. Persamaan didalam sistem koordinat foto
udara dan contoh penerapannya.

2. Pengukuran Jarak, Arah dan Luas
Pengukuran berbaga
berbagai kondisi foto udara dan kondisi medan. Penentu
yang didasarkan pada besarnya sudut, serta pengaruh topografi terhadap
penentuan arah. Pengukuran luas pada berbagai
medan. Berbagai instrumen dan peralatan yang digunakan untuk pengukuran.
Kelebihan dan keterbatasan pengukuran luas menggunakan foto udara.
7. PENGUKURAN PADA FOTO UDARA TEGAK
Sistem Koordinat Fotografik
Pengertian tentang sistem koordinat fotografik pada foto udara. Dan
penentuan koordinat berbagal titik di medan. Peran dan kedudukan sistem salib
penentuannya. Persamaan didalam sistem koordinat foto
udara dan contoh penerapannya.

Gambar 7.1
Arah dan Luas
Pengukuran berbagai aspek metrik dari foto udara. Penentuan jarak pada
berbagai kondisi foto udara dan kondisi medan. Penentuan arah pada foto udara
yang didasarkan pada besarnya sudut, serta pengaruh topografi terhadap
h. Pengukuran luas pada berbagai jenis foto udara dan kondisi
medan. Berbagai instrumen dan peralatan yang digunakan untuk pengukuran.
keterbatasan pengukuran luas menggunakan foto udara.
Pengertian tentang sistem koordinat fotografik pada foto udara. Dan
penentuan koordinat berbagal titik di medan. Peran dan kedudukan sistem salib
penentuannya. Persamaan didalam sistem koordinat foto
foto udara. Penentuan jarak pada
an arah pada foto udara
yang didasarkan pada besarnya sudut, serta pengaruh topografi terhadap
jenis foto udara dan kondisi
medan. Berbagai instrumen dan peralatan yang digunakan untuk pengukuran.


Gambar 7.2
Cara menentukan arah pada foto udar
3. Pengukuran Kelerengari dan Volume
Pengukuran lereng berdasarkan ja
Pengukuran kelerengan menggunakan slopemeter. Penentuan volume yang
didasarkan pada luas dan ketinggian. Keterbatasan penggunaan foto udara u
pengukuran luas dan volume. Contoh
penerapannya.







Cara menentukan arah pada foto udara dengan bantuan kompas dan peta

Pengukuran Kelerengari dan Volume
Pengukuran lereng berdasarkan jarak mendatar dan jarak vertical.
kelerengan menggunakan slopemeter. Penentuan volume yang
didasarkan pada luas dan ketinggian. Keterbatasan penggunaan foto udara u
gukuran luas dan volume. Contoh-contoh perhitungan dan pengukuran serta
a dengan bantuan kompas dan peta
rak mendatar dan jarak vertical.
kelerengan menggunakan slopemeter. Penentuan volume yang
didasarkan pada luas dan ketinggian. Keterbatasan penggunaan foto udara untuk
contoh perhitungan dan pengukuran serta


Pengertian dan prinsip triangulasi serta perannya dida
triangulasi garis radial dan pema
planimetrik. Metode reseksi dan interseksi untuk menentukan isi/koordinat. Instrumen
dan peralatan yang dapat digunakan untuk pekerjaan
titik kontrol untuk penyusunan peta topografi penerapan prinsip
didalam menentukart Digital Terrain


8. TRIANGULASI UDARA
Pengertian dan prinsip triangulasi serta perannya didalam fotogrametri. Azas
triangulasi garis radial dan pemanfaatannya untuk kontrol mendatar didalam pemetaan
planimetrik. Metode reseksi dan interseksi untuk menentukan isi/koordinat. Instrumen
tan yang dapat digunakan untuk pekerjaan tringulasi foto udara. Penentuan
titik kontrol untuk penyusunan peta topografi penerapan prinsip-prinsip triangulasi
didalam menentukart Digital Terrain Model (DTM).
lam fotogrametri. Azas
lam pemetaan
planimetrik. Metode reseksi dan interseksi untuk menentukan isi/koordinat. Instrumen
ngulasi foto udara. Penentuan
prinsip triangulasi

1. Triangulasi Udara Analog
Prinsip kerja triang
Penentuan dan fungsi titik penerus tepi pada pekerjaan triangulasi
Penggunaan instrumen universal untuk triangulasi udara. Kelebihan dan
keterbatasan berbagai peralatan y
Gambar 82 (a) Letak titik
secara analog. (b) Letak titik
bersebelahan

2. Triangulasi Udara Semianalitik
Prinsip dan tata kerja peke
kedudukan dan cara penentuan koordinat titik pusat perspektif. Kelebihan
pekerjaan triangulasi udara semianalitik dibandingkan triarigulasi analog.

triangulasi udara analog dan peralatan yang dapat digunakan
Penentuan dan fungsi titik penerus tepi pada pekerjaan triangulasi
strumen universal untuk triangulasi udara. Kelebihan dan
peralatan yang digunakan.
tak titik-titik penerus secana ideal bagi perluasan kontrol
secara analog. (b) Letak titik-titik penerus di dalam model stereo yang
Triangulasi Udara Semianalitik
Prinsip dan tata kerja pekerjaan pada triangulasi udara semianalitik.
kedudukan dan cara penentuan koordinat titik pusat perspektif. Kelebihan
jaan triangulasi udara semianalitik dibandingkan triarigulasi analog.
digunakan.
Penentuan dan fungsi titik penerus tepi pada pekerjaan triangulasi analog.
strumen universal untuk triangulasi udara. Kelebihan dan

titik penerus secana ideal bagi perluasan kontrol
titik penerus di dalam model stereo yang
aan pada triangulasi udara semianalitik. Peran,
kedudukan dan cara penentuan koordinat titik pusat perspektif. Kelebihan


3. Triangulasi Analitik
Prinsip dan tata kerja pekerjaan triangulasi udara analitik. Hal
perlu diperhatikan dalam triangulasi udara analitik, seperti : kebersamaan garis,
kebersamaan bidang, titik penerus tepi, koordinat foto, pemumian koordinat foto,
penyusunan jalur, penyesuaian jalur, blok foto udara, persyaratan titik kontrol,
menggunakan kornputet. dan analisis data. Kelebihan dan keterbatasan triangulasi
udara analitik terhadap metode lain.
Prinsip dan tata kerja pekerjaan triangulasi udara analitik. Hal
diperhatikan dalam triangulasi udara analitik, seperti : kebersamaan garis,
kebersamaan bidang, titik penerus tepi, koordinat foto, pemumian koordinat foto,
penyusunan jalur, penyesuaian jalur, blok foto udara, persyaratan titik kontrol,
kornputet. dan analisis data. Kelebihan dan keterbatasan triangulasi
terhadap metode lain.

Prinsip dan tata kerja pekerjaan triangulasi udara analitik. Hal-hal yang
diperhatikan dalam triangulasi udara analitik, seperti : kebersamaan garis,
kebersamaan bidang, titik penerus tepi, koordinat foto, pemumian koordinat foto,
penyusunan jalur, penyesuaian jalur, blok foto udara, persyaratan titik kontrol,
kornputet. dan analisis data. Kelebihan dan keterbatasan triangulasi