Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
ILUSTRASI KASUS

I. IDENTITAS
Data Pasien Ayah Ibu
Nama An.TS Tn. R Ny. N
Umur 3 bulan 32 tahun 30 tahun
Jenis Kelamin Laki-laki Laki-laki Perempuan
Alamat Kelapa 2 RT 02/08 Padurenan - Mustika
Agama Islam Islam Islam
Suku bangsa Sunda Sunda Sunda
Pendidikan - SMK SMK
Pekerjaan - Swasta Ibu rumah tangga
Penghasilan - - -
Keterangan Hubungan dengan
orang tua : Anak
kandung

Tanggal Masuk RS 20 September 2014

II. ANAMNESIS
Dilakukan sacara Alloanamnesis kepada ibu pasien.
a. Keluhan Utama :
Pasien datang dengan batuk
b. Keluhan Tambahan :
Muntah, mata merah, demam, pilek
c. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke IGD RSUD Kota Bekasi dengan rujukkan dari RSU Multazam
dengan batuk panjang, tidak berhenti sejak 2 hari SMRS. Batuk disertai dengan dahak
berwarna putih, sedikit jumlahnya, agak encer berwarna putih. Setelah batuk yang
panjang tersebut os merasa pengap sampai menunduk-nunduk ke bawah yang disertai
dengan keluarnya air mata seperti orang menangis. Terkadang os muntah setelah
batuk terjadi, namun kejang setelah batuk disangkal. Saat batuk mata tidak menonjol,
lidah tidak menjulur, dan tidak ada bintik-bintik merah di wajah.
2

Sejak 2 hari SMRS juga mata os menjadi merah seperti orang yang sedang sakit
mata, berair, tidak terdapat nyeri dan gatal, jarang terdapat kotoran mata, sekalipun
ada kotoran mata tidak kental, hanya berwarna putih, dan jumlahnya sedikit.
1 minggu SMRS os juga pernah batuk-batuk dengan dahak berwarna putih, batuk
tidak dipicu oleh cuaca ataupun debu. Batuk tidak terlalu panjang dan tidak terdengar
keras, hanya batuk biasa. Batuk juga disertai dengan pilek dengan keluar lendir agak
encer warna agak putih-bening, kemudian disertai juga demam yang tidak terlalu
tinggi (sumeng-sumeng), naik turun. Kemudian orangtua membawa os ke dokter
kemudian diberi obat berupa puyer dan sirup, keluhan-keluhan sempat mereda
kemudian timbul kembali.

a. Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit Umur Penyakit Umur Penyakit Umur
Alergi - Difteria - Jantung -
Cacingan - Diare - Ginjal -
DBD - Kejang - Darah -
Thypoid - Maag - Radang paru -
Otitis - Varicela - Tuberkulosis -
Parotis - Asma - Morbili -

b. Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada keluarga satu rumah atau teman main pasien mengalami hal yang
serupa seperti pasien. Tidak ada keluarga pasien yang menderita sakit mata.

c. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran :
KEHAMILAN
Morbiditas kehamilan Anak ketiga dari 3 bersaudara
Perawatan antenatal Setiap bulan periksa ke bidan,
suntik TT 2x, USG 1x (tidak ada
kelainan)
KELAHIRAN
Tempat kelahiran Puskesmas
Penolong persalinan Bidan
Cara persalinan Normal, spontan
3

Masa gestasi 9 bulan


Keadaan bayi
Berat lahir 2750 gr
Panjang badan 48 cm
Lingkar kepala tidak ingat
Langsung menangis
Nilai apgar tidak tahu
Tidak terdapat kelainan bawaan


d. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan :
Psikomotor
Tengkurap : belum bisa (normal: 3-4 bulan)
Duduk : belum bisa (normal: 6 bulan)
Berdiri : belum bisa (normal: 9-12 bulan)
Bicara : belum bisa (normal: 9-12 bulan)
Berjalan : belum bisa (normal: 13 bulan)

e. Riwayat Makanan
Umur
(bulan)
ASI/PASI Buah/biskuit Bubur susu Nasi tim
0-2 +
2-4 +
4-6 - -
6-8 -/- -/- - -
8-10 -/- -/- - -


f. Riwayat Imunisasi :
Vaksin Dasar (umur) Ulangan (umur)
BCG -
DPT -
POLIO Lahir
4

CAMPAK -
HEPATITIS B Lahir

g. Riwayat Keluarga
Ayah Ibu
Nama Tn. R Ny.N
Perkawinan ke Pertama Pertama
Umur 32 30
Keadaan kesehatan Baik Baik

h. Riwayat Perumahan dan Sanitasi :
Tinggal dirumah sendiri dengan 5 anggota keluarga (ayah, ibu, 2 anak, dan nenek) di
pemukiman yang padat penduduk, tembok dengan tetangga hampir menempel.
Rumah terdiri dari 3 buah jendela, kadang-kadang dibuka. Matahari cukup banyak
masuk ke rumah.

I. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan umum : tampak sakit sedang
b. AVPU : alert
c. PAT
o A : (+), speech (+), dapat berkoordinasi dengan baik
o B : sesak (-), napas cuping hidung (-), retraksi (-)
o C : pucat (-), mottled (-), cyanosis (-)
d. Tanda Vital
- Kesadaran : compos mentis
- Tekanan darah : 100/70 mmHg
- Frekuensi nadi : 96x/menit
- Frekuensi pernapasan : 24x/menit
- Suhu tubuh : 36,9
o
C
e. Data antropometri
- Berat badan : 31 kg
- Tinggi badan : 124 cm
- Status Gizi menurut WHO:
5

o BB/U = z score
o TB/U = z score
o BB/TB = z score

f. Kepala
Bentuk : normocephali
Rambut : rambut hitam, tidak mudah dicabut, distribusi merata
Mata : edema palpebra +/+ conjungtiva anemis -/-, sklera
ikterik -/-, perdarahan subconjunctiva +/+,
perdarahan aktif -/-, secret -/-, pupil bulat isokor,
RCL+/+, RCTL +/+


6


Telinga : normotia, membran timpani intak, serumen -/-
Hidung : bentuk normal, sekret -/-, nafas cuping hidung -/-
Mulut : bibir kering kemerahan, pucat -, T1/T1 detritus -/-,
kripta tidak melebar, faring hiperemis -
Leher : KGB tidak membesar, kelenjar tiroid tidak membesar

g. Thorax
- Inspeksi : pergerakan dinding dada simetris, retraksi (-)
- Palpasi : gerak napas simetris, vocal fremitus simetris
- Perkusi : sonor pada kedua ekstremitas
- Auskultasi : SN vesikuler, ronchi +/+, wheezing -/-
Cor BJ I & II normal, murmur -/-, Gallop -/-
h. Abdomen
- Inspeksi : perut cembung
- Auskultasi : bising usus (+) normal 3x/menit
- Palpasi : supel, nyeri tekan -, hepar dan lien tidak teraba
membesar
- Perkusi : shifting dullness -, nyeri ketok -
i. Kulit : ikterik -, petechie -
7

j. Ekstremitas : akral hangat, cyanosis (-), oedem (-), turgor kulit
cukup,
Rumple Leed (-), ptechie(-), CRT <2detik

II. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Laboratorium darah tanggal 19 Juli 2014
Jenis Hasil Satuan Nilai Normal
HEMATOLOGI
Darah lengkap
Leukosit 13,3 ribu/uL 5-10
Eritrosit 5 juta/uL 4-5
Hemoglobin 13,3 g/dL 11-14,5
Hematokrit 41,9 % 37-47
Trombosit 395 ribu/uL 150-400
I ndeks Eritrosit
MCV 82,8 fL 75-87
MCH 26,3 Pg 24-30
MCHC 31,7 % 31-37
KIMIA KLINIK
GDS 92 mg/dL 60-110
Elektrolit
Natrium (Na) 140 mmol/L 135-145
Kalium (K) 5,0 mmol/L 3,5 5,0
Clorida (Cl) 101 mmol/L 94 111

b. Pemeriksaan Radiologi Foto Thorax (18 Juli 2014)

Skeletal normal
Cor, sinuses dan diafragma normal
Pulmo : corakan normal. Tampak infiltrate di parakardial dan parahiler
bilateral
Kesan : Bronchopneumonia duplex
8

III. RESUME
a. Anamnesis
Pasien datang dengan rujukkan dari RS Mitra Bekasi dengan keluhan batuk
panjang, tidak berhenti sejak 2 hari SMRS. Batuk disertai dengan dahak berwarna
putih, sedikit jumlahnya, agak encer berwarna putih. Setelah batuk yang panjang os
merasa pengap sampai menunduk-nunduk ke bawah yang disertai dengan keluarnya
air mata seperti orang menangis. Terkadang os muntah setelah batuk terjadi. Mata
merah sejak 2 hari SMRS yang semakin lama semakin merah.
1 minggu SMRS os juga pernah batuk-batuk dengan dahak berwarna putih.
Batuk tidak terlalu panjang dan tidak terdengar keras, hanya batuk biasa. Batuk juga
disertai dengan pilek dengan keluar lendir agak encer warna agak putih-bening,
kemudian disertai juga demam yang tidak terlalu tinggi (sumeng-sumeng), naik turun.
Kemudian orangtua membawa os ke dokter kemudian diberi obat berupa puyer dan
sirup, keluhan-keluhan sempat mereda kemudian timbul kembali.

b. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : tampak sakit sedang
AVPU : alert
BB/TB : kesan gizi obesitas
Mata : edema palpebra +/+ perdarahan subconjunctiva +/+
Thoraks : ronchi +/+

c. Pemeriksaan penunjang
Laboratorium darah
Leukositos (13.300 uL)

III. DIAGNOSIS KERJA
Pertussis stadium paroksismal dengan bronchopneumonia duplex

IV. PENATALAKSANAAN
Non Medika Mentosa
9

Rawat inap dengan lingkungan perawatan pasien yang tenang untuk menilai
kemajuan penyakit dan kemungkinan kejadian yang mengancam jiwa pada
puncak penyakit, mencegah atau mengobati komplikasi
Edukasi orangtua mengenai penyakit yang diderita
Pembersihan jalan nafas
Istirahat yang cukup
Oksigen terutama pada serangan batuk yang hebat disertai sianosis
Nutrisi yang cukup, hindari makanan yang sulit ditelan. Bila penderita
muntah-muntah sebaiknya diberikan cairan dan elektrolit secara parentral

Medika Mentosa
Tridex 27 A 480 cc/24 jam
Inj Azitromisin 1 x 300 mg
Inj Ceftriaxon 2 x 1 gr
Ambroxol syrup 3 x 1 cth
Codein 3 x 3 mg
Metilprednisolon tab 3x1 tab

V. PROGNOSIS
- Ad vitam : ad bonam
- As fungsionam : ad bonam
- Ad sanationam : ad bonam










10

BAB III
ANALISIS KASUS

Pada pasien ini ditegakkan diagnosis yaitu Pertusis berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Berdasarkan anamnesis didapatkan keluhan
batuk panjang yang tidak berhenti dan berulang-ulang sejak 2 hari SMRS. Batuk disertai
dengan dahak berwarna putih, sedikit jumlahnya, agak encer berwarna putih. Setelah batuk
yang panjang os merasa pengap sampai menunduk-nunduk ke bawah yang disertai dengan
keluarnya air mata seperti orang menangis. Terkadang os muntah setelah batuk terjadi. Mata
merah sejak 2 hari SMRS yang semakin lama semakin merah. Dimana pada pertusis sendiri
gejala klinis yang dialami oleh pasien termasuk ke dalam stadium paroksismal. Adapun
stadium-stadium dalam pertusis adalah sebagai berikut :
Stadium Kataral (1-2 minggu)
Gejala awal menyerupai gejala infeksi saluran napas bagian atas yaitu timbulnya
rinore ringan (pilek) dengan lendir yang cair dan jernih, injeksi pada konjungtiva,
lakrimasi, batuk ringan dan panas tidak begitu tinggi. Pada stadium ini biasanya
diagnosis pertusis belum dapat ditetapkan karena sukar dibedakan dengan common
cold.
Selama stadium ini sejumlah besar organisme tersebar dalam inti droplet dan anak
sangat infeksius, pada tahap ini kuman paling mudah diisolasi.

Selama masa ini
penyakit sering tidak dapat dibedakan dengan common cold.

Batuk yang timbul mula mula malam hari, kemudian pada siang hari dan menjadi
semakin hebat. Sekret pun banyak dan menjadi kental dan melengket. Pada bayi
lendir dapat viskuos mukoid, sehingga dapat menyebabkan obstruksi jalan napas, bayi
terlihat sakit berat dan iritabel.
Stadium Paroksismal (2 sampai 4 minggu)
Selama stadium ini, batuk menjadi hebat yang ditandai oleh whoop (batuk yang
berbunyi nyaring) sering terdengar pada saat penderita menarik napas pada akhir
serangan batuk. Frekuensi dan derajat batuk bertambah, khas terdapat pengulangan 5
sampai 10 kali batuk kuat selama ekspirasi yang diikuti oleh usaha inspirasi masif
yang mendadak dan menimbulkan bunyi whoop akibat udara yang dihisap melalui
11

glotis yang menyempit. Pada anak yang lebih tua dan bayi yang lebih muda, serangan
batuk hebat dengan bunyi whoop sering tidak terdengar. Selama serangan, muka
merah dan sianosis, mata menonjol, lidah menjulur, lakrimasi, salivasi dan distensi
vena leher bahkan sampai terjadi ptekie di wajah (terutama konjungtiva bulbi).
Episode batuk paroksismal dapat terjadi lagi sampai mucous plug pada saluran napas
menghilang. Muntah sesudah batuk paroksismal cukup khas, sehingga sering kali
menjadi tanda kecurigaan apakah anak menderita pertusis walaupun tidak disertai
bunyi whoop. Anak menjadi apatis dan berat badan menurun. Batuk mudah
dibangkitkan dengan stres emosional (menangis, sedih, gembira) dan aktivitas fisik.
Juga pada serangan batuk nampak pelebaran pembuluh mata yang jelas, di kepala dan
leher, bahkan terjadi petekie di wajah, perdarahan subkonjungtiva dan sclera, bahkan
ulserasi frenulum lidah.

Walaupun batuknya khas, tetapi di luar serangan batuk, anak akan keliatan seperti
biasa. Setelah 1 2 minggu serangan batuk makin meningkat hebat dan frekuen,
kemudian menetap dan biasanya berlangsung 1 3 minggu dan berangsur angsur
menurun sampai whoop dan muntah menghilang.

Stadium Konvalesen / Penyembuhan (1 sampai 2 minggu)
Stadium penyembuhan ditandai dengan berhentinya whoop dan muntah dengan
puncak serangan paroksismal yang berangsur-angsur menurun. Batuk biasanya masih
menetap untuk beberapa waktu dan akan menghilang sekitar 2 sampai 3 minggu. Pada
beberapa pasien akan timbul serangan batuk paroksismal kembali. Episode ini terjadi
berulang-ulang untuk beberapa bulan dan sering dihubungkan dengan infeksi saluran
napas bagian atas yang berulang.

1 minggu SMRS os juga pernah batuk-batuk dengan dahak berwarna putih. Batuk
tidak terlalu panjang dan tidak terdengar keras, hanya batuk biasa. Batuk juga disertai dengan
pilek dengan keluar lendir agak encer warna agak putih-bening, kemudian disertai juga
demam yang tidak terlalu tinggi (sumeng-sumeng), naik turun. Kemudian orangtua membawa
os ke dokter kemudian diberi obat berupa puyer dan sirup, keluhan-keluhan sempat mereda
kemudian timbul kembali. Pada saat keadaan ini pasien kemungkinan pertusis stadium
kataral, atau kemungkinan common cold yang dimana antara keduanya sulit dibedakan.
12

Pada pemeriksaan fisik didapatkan perdarahan subconjunctival pada kedua mata
dengan lakrimasi. Hal tersebut menunjukkan gejala klinis pertusis pada stadium paroksismal.
Kemudian pada pemeriksaan auskultasi thoraks didapatkan ronchi di kedua lapang paru.
Pada pemeriksaan penunjang didapatkan peningkatan leukosit (13.300 uL),
peningkatan tersbut tidak spesifik pada pertusis dimana terjadi peningkatan kadar leukosit
20.000 sampai dengan 50.000 uL dengan limfositosis absolute yang khas pada akhir stadium
kataral dan selama stadium paroksismal. Untuk pemeriksaan penunjang anjuran untuk
mendiagnosis pertusis ialah dengan isolasi B.pertussis dari secret nasofaring, dimana biakan
akan menunjukkan hasil positif pada stadium kataral 95-100%, stadum paroksismal 94%
pada minggu ke-3 dan menurun sampai 20% untuk waktu berikutnya. Namun hal yang paling
sensitive dan spesifik untutuk mengetahui infeksi alami dan sudah di imunisasi yakni dengan
pemeriksaan IgG toksin pertusis.
Sedangkan pada pemeriksaan foto thoraks didapatkan gambaran bronchopneumonia
duplex dimana hal tersebut merupakan penyulit dari pertusis.

Berat badan menurun 16,8%
Bronkitis akut 9,8%
Atelektasis 0,3%
Bronkopneumonia 0,88%
Apnea 1,1%
Kejang 0,6%
Otitis media 7,5%
Penyulit Pertussis

Penatalaksanaan pada kasus pertusis ini diberikan antibiotik untuk membatasi
penyebaran infeksi dan mengeliminasi organism dari nasofaring. Eritromisin, 40-50
mg/kg/24 jam, secara oral dalam dosis terbagi empat (maksimum 2 gr/24 jam) selama 14 hari
merupakan pengobatan baku atau diberikan ampisilin 100 mg/kgBB/hari. Pemberian
Azitromisin, Claritomisin, Ampisillin, Rifampin, Trimethoprim-Sulfametoksasol cukup efektif
dalam beberapa penelitian.
13

Kemudian pada pasien diberikan kortikosteroid dengan tujuan untukmengurangi
batuk paroksismal walaupun belum terbukti dalam penelitian kontrol.
Pemberian edukasi mengenai pencegahan pertusis juga penting kepada keluarga. Cara
terbaik untuk mengontrol penyakit ini adalah dengan imunisasi. Pencegahan dapat dilakukan
melalui imunisasi pasif dan aktif.
Imunisasi Pasif
Dalam imunisasi pasif dapat diberikan human hyperimmune globulin. Namun berdasarkan
beberapa penelitian di klinik terbukti tidak efektif sehingga akhir-akhir ini human
hyperimmune globulin tidak lagi diberikan untuk pencegahan.

Imunisasi Aktif
Diberikan vaksin pertusis dari kuman B.pertussis yang telah dimatikan untuk mendapatkan
kekebalan aktif. Imunisasi pertusis diberikan bersama-sama dengan vaksin difteria dan
tetanus. Dosis imunisasi dasar dianjurkan 12 IU (International Unit) dan diberikan 3x sejak
umur 2 bulan, dengan jarak 8 minggu. Jika prevalensi pertusis di dalam masyarakat tinggi,
imunisasi dapat dimulai pada umur 2 minggu dengan jarak 4 minggu. Anak umur lebih dari 7
tahun tidak lagi memerlukan imunisasi rutin. Hasil imunisasi pertusis tidak permanen oleh
karena proteksi menurun selama adolesens, walaupun demikian infeksi pada pasien yang
lebih besar biasanya ringan, tetapi dapat menjadi sumber penularan infeksi pertusis pada bayi
non imun. Vaksin pertusis monovalen (0,25 ml/ im) telah dipakai untuk mengontrol epidemi
di antara orang dewasa yang terpapar.

Efek samping sesudah imunisasi pertussis termasuk manifestasi umum seperti
eritema, indurasi, dan rasa sakit pada tempat suntikan dan sering terjadi panas, mengantuk,
dan jarang terjadi kejang, kolaps, hipotonik, hiporesponsif, ensefalopati, anafilaksis. Untuk
mengurangi terjadinya kejang demam dapat diberikan asetaminofen (15mg/kg BB, per oral)
pada saat imunisasi dan setiap 4-6 jam untuk selama 48-72 jam.
(2,4,6,12)
Anak dengan kelainan
neurologik dengan riwayat kejang 7,2x lebih mudah terjadi kejang setelah imunisasi DTP dan
4,5x lebih tinggi bila hanya mempunyai iwayat kejang dalam keluarga. Maka pada keadaan
anak yang demikian hanya diberikan imunisasi DT (Difteri Tetanus).

Kontraindikasi pemberian vaksin pertusis yaitu anak yang mengalami ensefalopati
dalam 7 hari sebelum imunisasi, kejang demam atau kejang tanpa demam dalam 3 hari
sebelum imunisasi, menangis lebih dari 3 jam, high pitch cry dalam 2 hari, kolaps atau
14

hipotensif hiporesponsif dalam 2 hari, demam lebih dari 40,5
o
C selama 2 hari yang tidak
dapat diterangkan penyebabnya.
Prognosis tergantung usia, pada anak yang lebih tua mempunyai prognosis lebih baik.
Pada bayi risiko kematian 0,5-1% disebabkan ensefalopati. Pada observasi jangka panjang,
apnea atau kejang akan menyebabkan gangguan intelektual di kemudian hari.





























15

BAB III
DAFTAR PUSTAKA
1. Soedarmo, Sumarmo S. Garna H, Hadinegoro SRS, Satari HI. Pertusis. Buku ajar
infeksi & pediatri tropis. 2
nd
ed. Jakarta : Badan Penerbit IDAI ; 2010. h. 331-7.
2. Departmen Kesehatan RI. Difteri. Buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah
sakit. Jakarta : Departemen Kesehatan RI ; 2008.
3. Nelson E Waldo , Behrman E Richard, Kliegman Robert, Arvin M Ann. Nelson
Textbook Of Pediatric. Edisi 15, volume 2, cetakan I. Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta, 2000. Hal : 960 965