Anda di halaman 1dari 12

Kebudayaan bali

SUKU BALI
Suku Bali adalah sukubangsa yang mendiami pulau Bali, menggunakan bahasa Bali dan
mengikuti budaya Bali. Sebagian besar suku Bali beragama Hindu, kurang lebih 90%. Sedangkan sisanya
beragama Buddha,Islam dan Kristen.
Ada kurang lebih 5 juta orang Bali. Sebagian besar mereka tinggal di pulau Bali, namun mereka
juga tersebar di seluruh Indonesia
Penduduk Bali asli adalah sebagian besar suku Bali menganut agama Hindu Dharma yang sangat terikat
pada segi-segi kehidupan sosial, yaitu
1. kewajiban melakukan pemujaan pura tertentu
2. pada satu tempat tinggal bersama/komunitas
3. pemilikan tanah pertanian dalam subak tertentu
4. pada satu status sosial atas dasar warna
5. pada ikatan kekerabatan menurut prinsip patrilineal
6. pada keanggotaan terhadap sekehe tertentu
7. pada satu kesatuan administrasi desa dinas tertentu

Selain penduduk asli Bali ada juga pendatang dari jawa, madura, nusa tenggara, sumatra, sulawesi
bahkan dari kalimantan. Sebagian besar penduduk yang dari luar pulau bali ke bali karana tugas
pekerjaan dan mencari nafkah di Bali. Tapi ada juga yang sudah turun temurun bertempat tinggal di Bali
sehingga sudah beradaptasi sama kebudayaan di Bali. Seperti kampung Bugis di Serangan, di Kepaon
dan banyak lagi.
MATA PENCAHARIAN
Seperti pada umumnya daerah lain di Indonesia, penduduk bali sebagian besar hidup dari
pertanian. Penduduk yang bertempat tinggal di daerah pesisir biasanya mereka hidup sebagai
nelayan, selain itu juga ada yang sebagai seniman.

Bercocok tanam
Mata pencaharian pokok dari orang Bali adalah bertani. Dapat dikatakan 70 % dari mereka
berpenghidupan bercocok tanam, dan hanya 30 % hidup dari peternakan, berdagang, menadi buruh,
pegawai atau lainnya.
Di daerah Bali bagian utara, tanah dataran sedikit, curah hujan kurang, maka dari itu bercocok
tanam relatif lebih terbatas daripada di Bali bagian selatan. Di samping bercocok tanam di sawh, di
Bali bagian utara sebelah timur dan sebelah baratnya ada usaha menanam buah-buahan (jeruk),
palawija, kelapa dan kopi (di pegunungan).
Kebun kopi rakyat terutama berada di pegunungan daerah Buleleng (Singaraja) dan Tabanan.
Ada dua jenis kopi yang ditanam, yaitu jenis Robusta dan Arabika. Kedua-duanya diekspor baik ke
luar Bali maupun keluar negeri dan ini tidak sedikit artinya bagi perekonomian rakyat. Dilihat dari
segi hasilnya, maka sesudah kopi, penghasilan kelapa merupakan hal yang penting, bahkan hingga
dapat diekspor. Selain untuk membuat kopra, maka batok serta serabut kelapa dipergunakan sebagai
bahan untuk kerajinan rakyat. Adapun hasil penanaman buah-buahan seperti jeruk (terutama di Kab.
Buleleng) serta salak (di Karangasem), diekspor ke luar pulau, terutama di kota-kota besar di Jawa.
Di daerah Bali bagian selatan yang merupakan daerah dataran yang lebih luas, pada umumnya
dengan curah hujan yang cukup baik, penduduk terutama mengusahan bercocok tanam di sawah.
Berkembanglah atas usaha rakyat sistem subak yang mengatur pengairan dan penanaman di sawah-
sawah. Apabila air cukup, maka ditanamlah padi yang terus menerus, tanpa diselingi oleh palawija
(sistem yang demikian disebut di Bali tulak sumur). Sebaliknya, apabila keadaan air kurang cukup,
maka diadakan giliran penanaman padi dan palawija (sistem ini disebut sistem kertamasa). Semua
cara tersebut diatur oleh organisasi pengairan rakyat, subak (lihat subak dalam pembahasan sistem
kemasyarakatan).
Di daerah-daerah yang karena luas tanah pada umumnya tidak mencukupi keperluan
penduduk yang bertambah padat dengan laju yang cepat, terdapat pula sistem penggarapan tanah
yang dikerjakan oleh buruh tani. Dahulu sebelum adanya undang-undang yang mengatur hal ini, ada
pelbagai sistem bagi hasil antara pemilik tanah dan penggarapnya. Sistem-sistem bagi hasil itu adalah
misalnya: nandu, pembagian - , nelon, pembagian 3/5 2/5; ngepit, pembagian 2/5 1/3; dan
merapat , pembagian - , antara pemilik dan penggarap. Di daerah yang airnya kurang atau yang
mendapat air dari hujan, maka ditamnanmlah padi gaga, jagung, kacang-kacangan dan sebagainya.
Demikian keadaan makan penduduk Bali di berbagai daerah berbeda-beda, ada yang makan beras
tulen dan ada yang makan beras campuran (dengan jagung atau dengan ketela rambat, ialah cacah).
Peternakan
Beternak juga merupakan usaha yang penting dalam masyarakat pedesaan di Bali. Binatang
piaraan terutama adalah babi dan sapi. Babi dipelihara terutama oleh para wanita, biasanya sebagai
sembilan dalam kehidupan rumah tangga; sedangkan sapi untuk sebagian dipergunakan dalam
hubungan pertanian, sebagai tenaga pembantu di sawah atau di ladang, dan untuk sebagian
dipelihara untuk dagingnya. Ada juga babi dan sapi yang dikespor keluar negeri seperti ke Hongkong
dan Singapura. Dapat dikatakan bahwa setiap rumah tangga di Bali memelihara Babi sebagai
sambilan, karena pembiakannya relitif kebih cepat dan lebih mudah daripada sapi. Sedangkan untuk
pemeliharaan sapi yang baik terdapat pada daerah-daerah tertentu di Bali yaitu menurut letaknya.
Daerah yang baik adalah kecamatan Penebel dan Marga (Tabanan). Di samping sapi dan babi, juga
dipelihara kerbau, kuda, kambing, tetapi hasilnya relatif jauh lebih kecil
Perikanan
Mata pencaharian lain adalah perikanan baik perikanan darat maupun laut. Perikanan darat
umumnya merupakan mata pencaharian sambilan dari penanaman padi di sawah, terutama di
daerah dengan cukup air. Jenis ikan yang dipelihara adalah ikan mas, karper, dan mujair. Adapun
perikanan laut sudah tentu terdapat di daerah-daerah di sepanjang pantai. Bahkan untuk
pemasarannya antara lain telah ada koperasi perikanan laut. Para nelayan dengan jukung, (perahu
penangkap ikan), berlayar ke laut untuk menangkap jenis-jenis ikan sepeerti ikan tongkol, udang,
cumi-cumi, dan jenis-jenis ikan lainnya dengan alat-alat seperti jala, pancing, dan jerat.

Kerajinan
Di Bali terdapat pula cukup banyak industri dan kerajinan rumah tangga usaha perseorangan,
atau usaha setengah besar, yang meliputi kerajinan pembuatan benda-benda anyaman, patung, kain
tenun, benda-benda mas, perak dan besi, perusahaan mesin-mesin, percetakan, pabrik kopi, pabrik
rokok, pabrik makanan kaleng, tekstil, pemintalan dan lain-lainnya. Usaha dalam bidang ini tentu
memberikan lapangan kerja yang agak luas kepada penduduk.

Pariwisata
Pada akhir abad 19 ini karena adanya kemajuan teknologi, sektor pariwisata kini menjadi salah
satu sektor penting dalam mata pencaharian penduduk Bali. Pada awal tahun 80-an banyak
bermunculan daerah-daerah pariwisata. Untuk menunjang kepariwisataan, amak timbullah
perusahaan-perusahaan seperti perhotelan, taksi, travel, toko kesenian dan sebagainya di daerah-
daerah Denpasar (Badung), Gianyar, Bangli dan Tabanan. Kepariwisataan telah merangsang adanya
pengembangan kerasi-kreasi kesenian baik seni tabuh, seni tari, maupun seni rupa
SISTEM KEKERABATAN
Perkawinan
Perkawinan atau wiwaha adalah suatu upaya untuk mewujudkan tujuan hidup Grhasta Asrama.
Tugas pokok dari Grhasta Asrama menurut lontar Agastya Parwa adalah mewujudkan suatu kehidupan
yang disebut "Yatha sakti Kayika Dharma" yang artinya dengan kemampuan sendiri melaksanakan
Dharma. Seorang grhasta harus benar-benar mampu mandiri mewujudkan Dharma dalam kehidupan ini.
Kemandirian dan profesionalisme inilah yang harus benar-benar disiapkan oleh seorang Hindu yang
ingin menempuh jenjang perkawinan.
Dalam perkawinan ada dua tujuan hidup yang harus dapat diselesaikan dengan tuntas
yaitu mewujudkan artha dan kama yang berdasarkan Dharma. mereka yang telah menikah baru
dianggap sebagai warga penuh dari masyarakat dan mereka memperoleh hak-hak dan kewajiban-
kewajiban sebagai seorang warga komunitas dan warga kelompok kerabat. Bayi yang lahir dari ibu yang
belum dikawini secara sah melalui upacara pawiwahan disebut anak "dia-diu" yang cuntaka (keadaan
kotor/tidak boleh memasuki tempat-tempat suci) selamanya.
Menurut adat lama, sedapat mungkin perkawinan itu dilakukan di antara warga se-klen atau
setidaknya di antara warga yang dianggap sederajat dalam kasta (endogami klen). Sedangkan menurut
orang Bali yang masih kolot perkawinan dilakukan antara anak-anak dari dua orang saudara laki-laki.
Orang orang yang disebut se-klen (tunggal kawitan, tunggal dadia, tunggal sanggah) adalah orang-
orang yang setingkat kedudukannya dalam adat, agama, dan kasta, sehingga perkawinan se-klen dapat
menghindari kemungkinan-kemungkinan adanya ketegangan maupun noda-noda keluarga yang terjadi
akibat perkawinan antar kasta. Dalam hal tersebut dihindari perkawinan antara wanita yang lebih tinggi
kastanya dan pria yang lebih rendah kastanya, karena akan membawa malu bagi keluarga wanita serta
menjatuhkan gengsi kasta anak mereka nantinya. Sebelum tahun 1951, apabila terjadi perkawinan
demikian maka wanita akan keluar dari dadia-nya dan suami-istri akan dihukum buang (maselong) untuk
waktu tertentu. Akan tetapi masa sekarang perkawinan campuran antar kasta telah biasa terjadi.
Bentuk perkawinan yang dianggap pantang adalah perkawinan antara saudara perempuan suami
dengan saudara laki-laki istri (makedengan ngad), karena dapat menyebabkan bencana (panes).
Sedangkan perkawinan yang dianggap pantang karena melanggar norma kesusilaan sehingga
merupakan sumbang yang besar (agamiagemana) adalah perkawinan antara seorang dengan anaknya,
antara seorang dengan saudara sekandung atau tirinya, dan antara seorang dengan keponakannya.
Pada zaman modern dan era globalisasi seperti sekarang ini, peran orang tua barangkali sudah tidak
begitu dominan dalam menentukan jodoh putra-putranya. Anak-anak muda sekarang ini lebih banyak
menentukan jodohnya sendiri. Penentuan jodoh oleh diri sendiri itu amat tergantuang pada kadar
kemampuan mereka yang melakukan perkawinan. Tapi nampaknya lebih banyak ditentukan oleh
pertimbangan duniawi, seperti kecantikan fisik, derajat keluarga dan ukuran sosial ekonomi dan bukan
derajat rohani.
Kehidupan perkawinan di Bali pada jaman dulu mempunyai beberapa jalan :
Ngerorod (kawin lari dan perkawinan turun kasta)
Marikosa (kawin paksa)
Ngatepin (perjodohan)
Meminang
Umumnya orang Bali dapat memperoleh istri melalui dua cara secara adat, yaitu meminang
(memadik, ngidih) kepada keluarga seorang gadis atau dengan melarikan gadis (mrangkat, ngorod).
Namun kini, perkawinan pada saat ini berlaku dengan cara meminta, memadik, dan meminang. Prosesi
pernikahan seperti ini sebagai berikut:
1. Ngecub/Ngetihang (Memberi Tanda)
Dari pihak laki-laki mengutus dua/tiga orang ke rumah si wanita, berbicara dengan
keluarganya bahwa pada tanggak sekian keluarga si laki akan datang untuk bertemu (mohon
kesediaan dari keluarga si wanita. Setelah ada kesanggupan dari pihak keluarga si wanita, maka
pada tanggal yang telah ditentukan diadakanlah pembicaraan untuk meminang.
2. Mapiteges (Mempertegas)
Si laki yang ingin kawin bersama keluarga dan lain-lainnya yang dianggap tokoh di dalam
pembicaraan ini datang ke rumah si wanita kadang-kadang dapat mencapai jumlah 15-25 orang.
Dalam acara mapiteges ini, si laki membawa sesajen Banten Pejati. Jika pada akhir pembicaraan
telah ada kesepakatan, maka dari pihak laki-laki mengajukan lagi permohonan untuk datang lagi
dalam rangka Mebasan Pupur.
3. Mebasan Pupur
Pada waktu acara mebasan pupur, rombongan akan datang lebih besar. Ini disebut
sebagai syarat perlengkapan meminang. Pihak laki membawa berbagai sesajen; satu kotak beauty
case yang didalamnya berisi sarana kecantikan si wanita. Kalau ada acara tukar-menukar cincin
dikasih cincinnya; seperangkat pakaian lengkap untuk calon pengantin wanita; satu bokor untuk
ayah dan ibu si wanita yang terdiri dari 2 bungkusan/dua perangkat pakaian sebagai simbolis alat
penukar air susu ibunya dan cinta kasih ayahnya selama mengasuhnya, dan untuk tidak
melupakan jasa orang tuanya yang telah mengasuh anaknya hingga dewasa.
4. Acara Pengambilan
Menjemput pengantin perempuan untuk diboyong ke rumah pengantin pria, ada
beberapa macam cara yaitu : diambil jauh sebelum (2 sampai 3 hari) puncak acara perkawinan
atau diambil tepat pada acara puncak perkawinan
5. Acara Ngungkab Lawang
Sebelum si wanita akan diboyong, diadakan upacara ngungkab lawang, dimana si wanita
tinggal di dalam kamar sedangkan si pria di luar kamar. Dialog diadakan dengan kekidung yaitu
ada dua kelompok kidung yang satu group tinggal bersama pengantik wanita di dalam kamar, satu
group lagi dari pihak pria di luar kamar saling sahut-sahutan. Kemudian pintu diketok dan setelah
dibuka diadakan serah terima dan pengantin pria membuka kerudung kuning pengantin wanita
untuk memeriksa apakah benar itu calon istrinya. Setelah keduanya keluar dari kamar ada
seorang keluarga yang menabur-naburkan beras kuning yang berisi irisan kembang dan beberapa
kepeng uang bolong. Ketika si wanita sampai di depan rumah si pria maka dihaturkan segehan
agar unsur-unsur negatif tidak ikut masuk.
6. Ayaban Perkawinan
Kedua mempelai menghadapi sesajen dan pemangku/pendeta menghaturkan sesajen
kepada Dewa/Dewi untuk memberitahukan bahwa keduanya telah resmi menikah secara niskala.
Adat perkawinan Bali meliputi suatu rangkaian seperti kunjungan resmi dari keluarga laki-laki
kepada keluarga gadis untuk meminang gadis atau memberitahukan bahwa gadis telah dilarikan untuk
dinikahi; upacara perkawinan (masakapan); dan diakhiri kunjungan resmi lagi keluarga laki-laki ke
keluarga si gadis untuk minta diri kepada ruh nenek moyangnya. Di beberapa daerah juga berlaku adat
penyerahan mas kawin (patukuluh), tetapi terutama di keluarga orang-orang terpelajar adat ini telah
menghilang.
Setelah perkawinan, suami-istri biasanya menetap secara virilokal di komplek perumahan dari
orang tua suami (uma), walaupun ada juga yang menetap secara neolokal dan membangun rumah
sendiri. Di tempat mereka menetap, mereka menentukan perhitungan garais keturunan dan hak waris
keturunan mereka. Bila suami-istri menetap secara virilokal maka keturunan mereka akan
diperhitungkan secara patrilineal(purusa), dan menjadi warga dari dadia si suami serta mewarisi harta
pusaka dari klen tersebut. Hal ini berlaku juga bagi sumi-istri yang menetap secara neolokal. Sebaliknya,
ada pula adat suami-istri menetap di secara uxorilokal di komplek perumahan keluarga si istri (nyeburin).
Keturunan mereka akan diperhitungkan secara matrilineal menjadi warga dadia si isteri dan mewarisi
harta pusaka dari klen itu. Dalam hal ini kedudukan si isteri adalah sebagai sentana (pelanjut keturunan).
RELIGI
Berbicara mengenai Bali, maka tidak akan lepas dari agama yang dominan di anut oleh para
penduduknya dan memberikan ciri khas bagi Bali. Penduduk Bali sebagian besar penduduknya
menganut agama Hindu. Meskipun tetap ada segolongan kecil dari penduduk Bali yang menganut
agama Islam, seperti di Karangaesm, Klungkung dan Denpasar serta yang menganut agama Kriten dan
Katolik, seperti di Denpaar, Jimbaran dan Singaraja. Hindu telah memberikan banyak corak pada
kebudayaan Bali, oleh karena hal itu penting bagi kita untuk mengetahui mengenai Hindu di Bali dalam
tahapan mempelajari kebudayaan Bali.
Agama Hindu adalah agama yang monotheistik, percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa atau
disebut juga sebagai Ida Sang Hyang Widi Waa, Sang Hyang Tunggal atau Sang Hyang Cintya dalam
bentuk konsepTrimurti, Yang Esa, Trimurti ini mempunyai tiga wujud atau manifestasi, ialah wujud
Brahmana, yang menciptakan, wujud Wisnu, yang melindungi serta memelihara, dan wujud Siwa, yang
melebur segala yang ada. Semua ajaran-ajaran itu termaktub dalam sekumpulan kitab-kitab suci yang
bernama Weda serta terdapat pula buku-buku dalam bentuk lontar (dibuat dari daun lontar berhuruf
Bali).
Agama Hindu menganut banyak unsur-unsur lokal yang telah terjalin ke dalamnya sejak dahulu
kala. Di berbagai daerah di Bali, tentu terdapat juga berbagai variasi lokal dari agama Hindu-Bali itu,
walaupun dalam masa yang akan datang, variasi itu berkurang karena adanya proses modernisai yang
dialami oleh agama Hindu-Bali itu, dan karena ada pengaturan dari atas yang dilaksanakan oleh Jawatan
Agama Bagian Hindu, serta oleh majelis agama yang disebut Parisada Hindu Dharma
UPACARA KEAGAMAAN
Agama Hindu dalam ajarannya untuk mencapai tujuan hidupnya, mencapai keseimbangan dan
kedamaian hidup lahir dan batin salah satu usahanya adalah dengan mengadakan upacara-upacara
keagaamaan. Upacara tesebut ditujukan kepada lima aspek:
o Dewa Yadnya, yaitu persembahan suci yang tulus ikhlas kepada Ida Sang Hyang Widhi
Waa dan seluruh manifestasi-Nya dengan mengadakan serta melaksanakan
persembahyangan Tri Sandhya(bersembahyang tiga kali dalam sehari)
serta muspa (kebaktian dan pemujaan di tempat-tempat suci).
Contoh: Melaksanakan persembahyangan di pura dan melaksanakan
upacara melasti (pembersihan patung dewa-dewa ke pantai) yang biasanya dilakukan sebelum
perayaan hari raya Nyepi.
o Pitra Yadnya yaitu persembahan suci yang tulus ikhlas kepada roh-roh suci dan leluhur
(pitra) dengan menghormati dan mengenang jasanya dengan menyelenggarakan
upacara jenazah (Sawa Wedana) sejak tahap permulaan sampai tahap terakhir yang
disebut Atma Wedana.Tujuannya adalah demi pengabdian dan bakti yang tulus ikhlas,
mengangkat serta menyempurnakan kedudukan arwah leluhur di alam surga.
Contoh:upacara ngaben.

Menurut agama Hindu, ketika manusia meninggal yang mati adalah badan kasar
saja, roh/atman-nya tidak. ngaben adalah proses penyucian roh dengan menggunakan sarana api
sehingga bisa kembali ke sang pencipta yaitu Brahma. Api yang digunakan adalah api konkrit
untuk membakar jenazah, dan api abstrak berupa mantra pendeta untuk mem-pralina yaitu
membakar kekotoran yang melekat pada atman/roh.
Tahapan yang dilakukan dalam ngaben:
1. nyiramin layon (memandikan jenazah). Jenazah akan dimandikan oleh kalangan brahmana
sebagai kelompok yang karena status sosialnya mempunyai kewajiban untuk itu. Selesai
memandikan, jenazah akan dikenakan pakaian adat Bali lengkap.
2. ngajum, yaitu prosesi melepaskan roh dengan membuat simbol-simbol menggunakan kain
bergambar unsur-unsur penyucian roh. Pada hari H-nya, dilakukan prosesi ngaben di kuburan
(setra) desa setempat. Jenazah akan dibawa menggunakan wadah, yaitu tempat jenazah yang
akan diusung ke kuburan. Sesampainya di kuburan, jenazah dipindahkan dari wadah tadi ke
pemalungan, yaitu tempat membakar jenazah yang terbuat dari batang pohon pisang ditumpuk
berbentuk lembu.
3. Pralina adalah pembakaran dengan api abstrak berupa mantra peleburan kekotoran atma yang
melekat ditubuh. Kemudian baru dilakukan pembakaran dengan menggunakan api kongkrit.
Zaman sekarang sudah tidak menggunakan kayu bakar lagi, tapi memakai api dari kompor
minyak tanah yang menggunakan angin. Umumnya proses pembakaran dari jenazah yang utuh
menjadi abu memerlukan waktu 1 jam.Abu ini kemudian dikumpulkan dalam buah kelapa
gading untuk dirangkai menjadi sekah. Sekah ini yang dilarung ke laut (atau sungai), karena laut
adalah simbol dari alam semesta dan sekaligus pintu menuju ke rumah Tuhan.
Ada catatan lain yaitu untuk bayi yang berumur dibawah 42 hari dan atau belum tanggal
gigi, jenazahnya harus dikubur. Ngaben-nya dilakukan mengikuti ngaben yang akan ada jika ada
keluarganya meninggal.
Ngaben umumnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Ngaben Niri, melaksanakan upacara ngaben sendiri tanpa ada campur tangan dari Banjar adat
dalam pelakanaannya
2. Ngaben Ngamasa, melaksanakan upacara ngaben secara terjadwal, sesuai situasi dan kondisi
yang dianggap baik bagi mereka yang akan melaksanakan upacara ngaben. Tujuannya untuk
menghemat biaya tanpa mengurangi makna pelakanaan ngaben.
SASTRA DAN BAHASA
Bahasa Bali adalah sebuah bahasa Austronesia dari cabang Sundik dan lebih spesifik dari anak
cabang Bali-Sasak. Di Bali sendiri Bahasa Bali memiliki tingkatan penggunaannya, misalnya ada yang
disebut Bali Alus, Bali Madya dan Bali Kasar. Yang halus dipergunakan untuk bertutur formal misalnya
dalam pertemuan di tingkat desa adat, meminang wanita, atau antara orang berkasta rendah dengan
berkasta lebih tinggi. Yang madya dipergunakan di tingkat masyarakat menengah misalnya pejabat
dengan bawahannya, sedangkan yang kasar dipergunakan bertutur oleh orang kelas rendah misalnya
kaum sudra atau antara bangsawan dengan abdi dalemnya.
Bahasa Bali banyak dipengaruhi oleh bahasa Jawa, terutama bahasa Jawa Kuno banyak menyerap
kata dari bahasa Sansekerta. Pengaruh ini terlihat pada tingkat bahasa dalam bahasa Bali yang mirip
dengan bahasa Jawa. Pengaruh ini terutama disebabkan karena penaklukan Bali oleh Gajah Mada pada
tahun 1343 Masehi, sejak saat itu Bali menjadi tempat aktivitas kolonisasi Majapahit.Secara fonologis,
bahasa Bali juga dipengaruhi oleh bahasa Melayu.
Di masa lampau, bahasa Bali ditulis dengan aksara Carakan, yang merupakan turunan
dari aksara Brahmi di India. Aksara ini hampir serupa dengan aksara Jawa. Akan tetapi aksara Carakan
sudah jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari karena sudah tergeser oleh alfabet latin.

Penelitian yang pernah dilakukan memberikan dugaan kuat aksara Bali berkembang dari huruf
Pallawa yang dikenal dengan nama huruf Bali Kuno. Huruf ini berkembang pada sekitar abad ke-9
sampai abad ke-10 dan terus mengalir sampai kini. Sistem yang digunakan yakni sistem silabik. Artinya,
satu tanda mewakili satu suku kata yang diambil dari huruf awal suku kata yang diambil dari huruf awal
suku kata dimaksud. Tiap suku kata dibentuk dari satu konsonan dan satu vokal.
Dr. Rudolf Gorris menemukan bahwa bahasa Bali Kuno dominan digunakan dalam prasasti-
prasasti periode awal zaman Bali Kuna. Sedikitnya ada 33 prasasti yang menggunakan bahasa Bali Kuna.
Setelah masa pemerintahan Raja Udayana Gunapriyadharmapatni (989-1011) mulailah digunakan
bahasa dan aksara Jawa Kuna. Tatkala masuk pengaruh Majapahit, bahasa Kawi-Bali pun mulai
digunakan, terutama di naskah-naskah lontar.
HARI RAYA DI BALI
Galungan dan Kuningan
Hari Raya Galungan jatuh pada hari Budha (Rabu) Kliwon Dungulan, kemudian disusul oleh Hari
Raya Kuningan setelah sepuluh hari.Pada hakekatnya Galungan adalah perayaan bagi
kemenangan Dharma(kebenaran) melawan Adharma (kebatilan). Tuhan sebagai Pencipta dipuji dan
dipuja, termasuk leluhur dan nenek moyang keluarga diundang turun ke dunia untuk sementara kembali
berada di tengah-tengah anggota keluarga yang masih hidup. Sesajen menyambut kedatangan leluhur
itu disajikan pada sebuah tugu di merajan/sanggah keluarga. Penjor selamat datang dibuat dari bambu
melengkung, dihiasi janur dan bunga kemudian digantungkan pula hasil-hasil pertanian seperti: padi,
jagung, kelapa, jajanan dan lain-lain, juga barang-barang sandang (secarik kain) dan uang. Terakhir diisi
sanggah di bagian bawahnya serta hiasan lamak di pancang di depan pintu masuk rumah masing-
masing.
Siwaratri
Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Sang Hyang Widhi Waa
dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Makna khusus bagi umat Hindu, pada hari tersebut
Sang Hyang Siwa melakukan yoga. Sehubungan dengan itu umat Hindu melaksanakan kegiatan yang
mengarah pada usaha penyucian diri, pembuatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa, dalam usaha
menimbulkan kesadaran diri. Hal itu diwujudkan dengan pelaksanaan brata berupa jagra (tidak
tidur), upawasa (puasa makan/minum) dan monabrata (tidak berbicara).
Nyepi
Hari Raya Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru aka. Hari ini
dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa
intisariamerta (air kehidupan). Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka.
Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Mahaesa, untuk
menyucikan Buana Alit (diri manusia) dan Buana Agung (alam semesta).
Saraswati
Hari Raya Saraswati diperingati sebagai hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati (ilmu
pengetahuan). Hari raya ini diperingati setiap hari Saniscara (Sabtu) Umanis Wuku Watugunung. Dewi
Saraswati adalah Dewi Ilmu Pengetahuan yang merupakan pelindung/pelimpah pengetahuan, kesadaran
(widya), dan sastra. Berkat anugerah Dewi Saraswati, manusia menjadi beradab dan berkebudayaan.
Pada hari raya Saraswati, semua pustaka-pustaka, lontar-lontar, buku-buku dan alat-alat tulis menulis
yang mengandung ajaran atau berguna untuk ajaran-ajaran agama, kesusilaan dan sebagainya,
dibersihkan, dikumpulkan dan diatur pada suatu tempat, di pura, di pemerajan atau di dalam bilik untuk
diupacarai. Upacara ini biasanya dilakukan pada pagi hari dan tidak boleh melewati tengah hari. Selain
itu dilakukan juga persembahyangan pada hari raya Saraswati untuk memuja Dewi Saraswati sebagai
manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Waa (Tuhan Yang Maha Esa).

KESENIAN TRADISIONAL BALI
Seni Tari
Seni tari berfungsi sebagai pengiring upacara dan upakara keagamaan di pura-pura. Setiap upacara
keagamaan dianggap belum lengkap jika tidak diiringi dengan tarian. Seni tari dapat difungsikan sebagai
seni wali, bebali, dan balih-balihan.
Seni Kerawitan
Sama halnya dengan seni tari, seni karawitan juga merupakan seni yang digunakan untuk mengiringi
upacara keagamaan. Seni tabuh/karawitan merupakan bentuk seni pertunjukan yang dominan di Bali,
terutama seni tabuh/karawitan instrumental.
Seni Wali
Yang dimaksud dengan seni wali (religius) adalah seni yang dilakukan di pura-pura atau tempat yang
ada hubungannya dengan upacara dan upakara agama sebagai pelaksana upacara. pada umumnya seni
ini tidak memakai lakon. Kesenian wali sebagai pelaksana upacara selalu dikaitkan dengan kekuatan-
kekuatan niskala, yaitu untuk mendapatkan kekuatan/taksu dan keselamatan.
Seni Bebali
Seni bebali (Ceremonial) yang berfungsi sebagai pengiring upacara dan upakara keagamaan di pura-
pura ataupun di luar pura pada umumnya memakai lakon. Seni tari dan seni tabuh/karawitan yang
dipakai sebagai pengiring upacara keagamaan di Bali, misalnya topeng, gambuh, leko, wayang kulit,
angklung, semar pegulingan, dan baleganjur.
Seni Balih-balihan
Seni balih-balihan (performance) adalah seni yang mempunyai fungsi hiburan di samping
mempunyai unsur dan dasar seni luhur sebagai seni serius dan seni hiburan/tontonan.
Catur Warna
Seperti di India, masyarakat Bali mengenal penggolongan sosial menjadi 4 warna (kasta), yaitu:
Brahmana (pendeta)
Ksatria (bangsawan)
Wesya (pedagang)
Sudra (rakyat biasa)
Namun penggolongan sosial ini tidak seketat dan sekompleks sistem kasta di India.
Pemberian Nama
Orang Bali memiliki sistem penamaan yang khas. Setiap anak dinamai sesuai dengan urutan
kelahirannya, ada empat nama , berturut-turut ialah:
Wayan/Putu/Gede untuk anak pertama
Made/Kadek/Nengah untuk anak kedua
Nyoman/Komang untuk anak ketiga
Ketut untuk anak keempat
Apabila ada lebih dari 5 anak, maka penamaan dimulai lagi dari awal. Misalnya anak ke-5 diberi
nama Wayan dan anak ke-6 dinamai Made, demikian seterusnya.
PURA
Kata "Pura" sesungguhnya berasal dari akhiran bahasa Sansekerta (-pur, -puri, -pura, -puram, -pore),
yang artinya adalah kota, kota berbenteng, atau kota dengan menara atau istana. Dalam perkembangan
pemakaiannya di Pulau Bali, istilah "Pura" menjadi khusus untuk tempat ibadah; sedangkan istilah "Puri"
menjadi khusus untuk tempat tinggal para raja dan bangsawan. Secara umum pura diklasifikasikan
menjadi :
Pura Kahyangan Jagat
Pura Kahyangan jagat tergolong pura untuk umum, sebagai tempat pemujaan Ida Sang Hyang
Widi Wasa - Tuhan Yang Maha Esa dalam segala prabhawa-Nya atau manifestasi-Nya. Di sini pula
tempat memuja roh suci para tokoh masyarakat Hindu. Sad Kahyangan yaitu enam Kahyangan
besar yang berada di enam lokasi seperti Pura Silayukti, Pura Lempuyang, Pura Sakenan, Pura Luhur
Batukaru, Pura Rambut Siwi, dan Pura Luhur Uluwatu. Pura Dang Kahyangan adalah pura-pura
besar yang berkaitan dengan dharma-yatra Dhang Guru terutama Dhang Hyang Dwijendra
termasuk dalam Kahyangan jagat dan juga pura-pura kerajaan yang pernah ada.
Pura Kahyangan Desa
Pura-pura yang disungsung oleh desa adat berupa Kahyangan Tiga yaitu tiga buah pura yang
melingkupi desa ialah Pura Desa atau Bale Agung sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam
prabhawa-Nya sebagai pencipta yaitu Brahma, Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Tuhan dalan
manifestasi-Nya sebagai pemelihara yaitu Wisnu dan Pura Dalem sebagai tempat pemujaan Tuhan
dalam manifestasi-Nya sebagai pelebur yaitu iwa.

Pura Swagina
Pura pura ini dikelompokkan berdasarkan fungsinya sehingga sering disebut pura fungsional.
Pemuja dari pura-pura ini disatukan oleh kesamaan di dalam kekaryaan atau di dalam mata
pencaharian seperti; untuk para pedagang adalah Pura Melanting, para petani dengan Pura Subak,
Pura Ulunsuwi, Pura Bedugul, dan Pura Uluncarik. Masih banyak lagi seperti di hotel hotel,
perkantoran pemerintah maupun swasta.
Pura Kawitan
Pura ini sudah bersifat spesifik di mana para pemujanya ditentukan oleh asal usul keturunan
atau wit dari orang tersebut. Termasuk ke dalam kategori ini adalah; Sanggah-Pemerajan, Pratiwi,
Paibon, Panti, Dadia atau Dalem Dadia, Penataran Dadia, Pedharman dan sejenisnya.