Anda di halaman 1dari 16

FILSAFAT PENDIDIKAN

HAKIKAT ILMU PENDIDIKAN


D
I
S
U
S
U
N
OLEH
KELOMPOK VI
1. DEWI NOVITA SARI / 4123321005
2. DEWI SARTIKA TAMBUNAN / 4123321012
3. JUNI SIBURIAN / 4123321026

FISIKA EKSTENSI A 2012
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM




UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2014
i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wataala, karena berkat
rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul HAKIKAT ILMU
PENDIDIKAN . Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah FILSAFAT
PENDIDKAN.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga
makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna,
Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi
sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi semua dan
bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita
semua. Terima kasih.












Medan , Oktober 2014



Penyusun












ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................... i
DAFTAR ISI .............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................ 2
1.3 Tujuan .................................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pendidikan ......................................................................................... 3
2.2 Tujuan Pendidikan ............................................................................................... 3
2.3 Pilar Pendidikan ................................................................................................... 4
2.4 Aliran Aliran pendidikan .................................................................................. 5
2.5 Hakikat Manusia .................................................................................................. 7
2.6 Eksistensi manusia ............................................................................................... 8
2.7 Pengembangan Dimensi-Dimensi Manusia dalam Proses Pendidikan ................ 10
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .......................................................................................................... 12
3.2 Saran .................................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 13





1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia yang
berfikir bagaimana menjalani kehidupan dunia ini dalam rangka mempertahankan hidup
dalam hidup dan penghidupan manusia yang mengemban tugas dari Sang Kholiq untuk
beribadah.Manusia sebagai mahluk yang diberikan kelebihan oleh Allah Subhanaha
wattaalla dengan suatu bentuk akal pada diri manusia yang tidak dimiliki mahluk Allah yang
lain dalam kehidupannya, bahwa untuk mengolah akal pikirnya diperlukan suatu pola
pendidikan melalui suatu proses pembelajaran.
Berdasarkan undang-undang Sisdiknas No.20 tahun 2003 Bab I, bahwa pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Pendidikan merupakan upaya yang terorganisir memiliki makna bahwa pendidikan
tersebut dilakukan oleh usaha sadar manusia dengan dasar dan tujuan yang jelas, ada
tahapannya dan ada komitmen bersama didalam proses pendidikan itu. Berencana
mengandung arti bahwa pendidikan itu direncanakan sebelumnya, dengan suatu proses
perhitungan yang matang dan berbagai sistem pendukung yang disiapkan. Berlangsung
kontinyu artinya pendidikan itu terus menerus sepanjang hayat, selama manusia hidup proses
pendidikan itu akan tetap dibutuhkan, kecuali apabila manusia sudah mati, tidak memerlukan
lagi suatu proses .
Selanjutnya diuraikan bahwa dalam upaya membina tadi digunakan asas/pendekatan
manusiawi/humanistik serta meliputi keseluruhan aspek/potensi anak didik serta utuh dan
bulat (aspek fisiknon fisik : emosiintelektual ; kognitifafektif psikomotor), sedangkan
pendekatan humanistik adalah pendekatan dimana anak didik dihargai sebagai insan manusia
yang potensial, (mempunyai kemampuan kelebihan kekurangannya dll), diperlukan dengan
penuh kasih sayang hangat kekeluargaan terbuka objektif dan penuh kejujuran serta
dalam suasana kebebasan tanpa ada tekanan/paksaan apapun juga.


2

1.2 RUMUSAN MASALAH

1.2.1 Apa itu Pengertian Pendidikan ?
1.2.2 Apa itu Tujuan Pendidikan ?
1.2.3 Apa itu Pilar Pendidikan ?
1.2.4 Apa itu Aliran Aliran pendidikan ?
1.2.5 Apa itu Hakikat Manusia ?
1.2.6 Apa itu Eksistensi manusia ?
1.2.7 Apa itu Pengembangan Dimensi-Dimensi Manusia dalam Proses Pendidikan ?

1.3 TUJUAN

1.3.1 Kita dapat mengetahui pengertian dari pendidikan
1.3.2 Kita dapat mengetahui Tujuan Pendidikan
1.3.3 Kita dapat Mengetahui Pilar Pendidikan
1.3.4 Kita dapat Mengetahui Aliran Aliran Pendidikan
1.3.5 Kita dapat Mengetahui Hakikat Manusia
1.3.6 Kita dapat Mengetahui Eksistensi Manusia
1.3.7 Kita dapat Mengetahui Pengembangan Dimensi-Dimensi Manusia dalam Proses
Pendidikan







3

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN PENDIDIKAN
Pendidikan berasal dari kata pedagogi (paedagogie, Bahasa Latin) yang berarti
pendidikan dan kata pedagogia (paedagogik) yang berarti ilmu pendidikan yang berasal dari
bahasa Yunani. Pedagogia terdiri dari dua kata yaitu Paedos (anak, pen) dan Agoge yang
berarti saya membimbing, memimpin anak. Sedangkan paedagogos ialah seorang pelayan
atau bujang (pemuda, pen) pada zaman Yunani Kuno yang pekerjaannya mengantar dan
menjemput anak-anak (siswa, pen) ke dan dari sekolah.
Perkataan paedagogos yang semula berkonotasi rendah (pelayan, pembantu) ini,
kemudian sekarang dipakai untuk nama pekerjaan yang mulia yakni paedagoog (pendidik
atau ahli didik atau guru). Dari sudut pandang ini pendidikan dapat diartikan sebagai kegiatan
seseorang dalam membimbing dan memimpin anak menuju ke pertumbuhan dan
perkembangan secara optimal agar dapat berdiri sendiri bertanggungjawab.
2.2 TUJUAN PENDIDIKAN
Tujuan pendidikan secara umum dapat dilihat sebagai berikut:
1. Tujuan pendidikan terdapat dalam UU No2 Tahun 1985 yaitu mencerdaskan
kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya yaitu yang beriman
dan dan bertagwa kepada tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan dan kerampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap
dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan berbangsa.
2. Tujuan Pendidikan nasional menurut TAP MPR NO II/MPR/1993 yaitu
Meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri,
maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja profesional serta
sehat jasmani dan rohani. Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa
patriotik dan memepertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan
dan kesetiakawaan sosial, serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai
jasa para pahlawan, serta berorientasi masa depan.
4

3. TAP MPR No 4/MPR/1975, tujuan pendidikan adalah membangun di bidang
pendidikan didasarkan atas falsafah negara pancasila dan diarahkan untuk membentuk
manusia-manusia pembangun yang berpancasila dan untuk membentuk manusia yang
sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat
mengembangkan kreatifitas dan tanggung jawab dapat menyuburkan sikap demokratis
dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai
budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai
dengan ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945.
2.3 PILAR PENDIDIKAN
Upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa tidak ada cara lain kecuali melalui
peningkatan mutu pendidikan. Berangkat dari pemikiran itu UNESCO mencanangkan empat
pilar pendidikan sekarang dan masa depan yaitu: (1) learning to Know, (2) learning to do (3)
learning to be, dan (4) learning to live together.Untuk mengimplementasikan learning to
know (belajar untuk mengetahui), Guru harus mampu menempatkan dirinya sebagai
fasilitator. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan ganda sebagai kawan berdialog
bagi siswanya dalam rangka mengembangkan penguasaan pengetahuan siswa.
Sekolah sebagai wadah masyarakat belajar seyogjanya memfasilitasi siswanya untuk
mengaktualisasikan keterampilan yang dimiliki, serta bakat dan minatnya agar Learning to
do (belajar untuk melakukan sesuatu) dapat terrealisasi. Walau sesungguhnya bakat dan
minat anak dipengaruhi faktor keturunan namun tumbuh dan berkembangnya bakat dan minat
juga bergantung pada lingkungan. Seperti kita ketahui bersama bahwa keterampilan
merupakan sarana untuk menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan
daripada penguasaan pengetahuan semataPilar ketiga yang dicanangkan Unesco adalah
learning to be (belajar untuk menjadi seseorang).
Hal ini erat sekali kaitannya dengan bakat, minat, perkembangan fisik, kejiwaan,
tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Misal : bagi siswa yang agresif, akan
menemukan jati dirinya bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Dan sebaliknya
bagi siswa yang pasif, peran guru sebagai kompas penunjuk arah sekaligus menjadi fasilitator
sangat diperlukan untuk menumbuhkembangkan potensi diri siswa secara utuh dan maksimal.
Terjadinya proses learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan
bersama), pada pilar keempat ini, kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka,
5

memberi dan menerima perlu dikembangkan disekolah. Kondisi seperti inilah yang
memungkinkan tumbuhnya sikap saling pengertian antar ras, suku, dan agama
Untuk itu semua, pendidikan di Indonesia harus diarahkan pada peningkatan kualitas
kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral. Dengan
kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang demikian maka pada gilirannya akan
menjadikan masyarakat Indonesia masyarakat yang bermartabat di mata masyarakat dunia.
2.4 ALIRAN ALIRAN PENDIDIKAN
1. Aliran empirisme
Tokoh perintis pandangan ini adalah seorang filsuf Inggris bernama John Locke
(1632-1704) yang mengembangkan teori Tabula rasa anak lahir di dunia bagaikan meja lilin
atau kertas putih yang bersih. Pengalaman empiric yang dipoerleh dari lingkungan yang
berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan anak. Menurut pandangan empirisme
(biasa pula disebut environtalisme) pendidik memegang peranan yang sangat penting sebab
pendidikan dapat menyediakan lingkungan pendidikan kepada anak dan akan diterima oleh
anak sebagai pengalaman-pengalaman. Pengalaman-pengalaman itu dapat membentuk
perilaku yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
2. Aliran nativisme
Aliran nativisme bertolak dari Leibnitrian tradition yang menekankan kemampuan
dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan, termasuk faktor pendidikan, kurang
berpengaruh terhadap perkembangan anak. Hasil perkembangan tersebut ditentukan oleh
pembawaan yang sudah diperoleh sejak kelahiran. Lingkungan kurang berpengaruh terhadap
pendidikan dan perkembangan anak, karena hasil pendidikan tergantung pada pembawaan.
Schoompnheaur (filsuf Jerman 1788-1860) berpendpat bahwa bayi itu lahir sudah dengan
pembawaan baik dan pembawaan buruk. Oleh karena itu, hasil akhir pendidikan ditentukan
oleh pembawaan yang sudah dibawah sejak lahir.
Berdasarkan pandangan ini maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak akan
menjadi jahat, dan yang baik akan menjadi baik. Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat
dan pembawaan anak didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak sendiri. Istilah
nativisme dari asal kata natives yang artinya adalah terlahir. Bagi nativisme, lingkungan
sekitar dalam mempengaruhi perkembangan anak. Penganut pandangan ini menyatakan
6

bahwa kalau anak mempunyai pembawaan jahat maka dia akan menjadi jahat, sebaliknya,
kalau anak mempunyai pembawaan baik maka dia akan baik. Pembawaan buruk dan baik ini
tidak dapat diubah kekuatan dari luar.
3. Aliran naturalism
Pandangan yang ada persamaan dengan nativisme adalah aliran naturalism yang
dipelopori oleh seorang filsuf Prancis J.J. Rousseau (1712-1778). Berbeda dengan
Schopenhauer, Rosseau berpendapat bahwa semua anak yang baru dilahirkan mempunyai
pembawaan baik, dan tidak satupun dengan pembawaan buruk. Namun pembawaan baik itu
akan menjadi rusak karena dipengaruhi oleh lingkungan.
Rosseau juga berpendapat bahwa pendidikan yang diberikan orang dewasa malahan
dapat merusak pembawan anak yang baik itu. Aliran ini juga disebut negativism, karena
berpendapat bahwa pendidik wajib membiarkan pertumbuhan anak didik dan diserahkan saja
pada alam. Jadi dengan kata lain pendidikan tidak diperlukan. Yang dilaksankan adalah
menyerahkan anak didik ke alam, agar pembawaan yang baik itutidak menjadi rusak oleh
tangan manusia melalui proses dan kegiatan pendidikan itu. J.J. Rausseau ingin menjauhkan
anak dari segala keburukan masyarakat yang serba dibuat-buat sehingga kebaikan anak-anak
yang diperoleh secara alamiah sejak saat kelahirannya itu dapat berkembang secara spontan
dan bebas.
Ia mengusulkan perlunya permainan bebas kepada anak didik untuk mengembangkan
pembawaanya, kemampuannya, dan kecenderungannya. Pendidikan harus dijauhkan dalam
perkembangan anak karena hal itu berarti dapat menjauhkan anak dari segala hal yang
bersifat berbuat-buat dan dapat membawa anak kembali kea lam untuk mempertahankan
segala yang baik. Seperti diketahui, gagasan naturalism yang menolak campur tangan
pendidikan, sampai saat ini malahan terbukti sebaliknya pendidikan makin lama makin
diperlukan.
4. Aliran konvergensi
William Stern (1871-1939), seorang ahli pendidikan bangsa Jerman yang berpendapat
bahwa seorang anak dilahirkan di dunia sudah disertai pembawaan baik maupun buruk.
Penganut aliran ini berpendapat bahwa ldama proses perkembangan anak, baik faktor
pembawan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting.
7

Bakat yang dibawa pada waktu lanir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya
dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu.
Sebaliknya lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang
optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk
pengembangan itu. Sebagai contoh pada hakikatnya kemampuan anak manusia berbahasa
dengan kata-kata, adalah juga hasil konvergensi. Pada anak manusia ada pembawana untuk
berbicara dan melalui situasi lingkungannya anak belajar berbicaradalam bahasa tertentu.
Lingkungan pun mempengaruhi anak didik dalam mengembangkan pembawaan bahasanya.
Karena itu anak manusia mula-mula menggunakan bahasa lingkungannya.
2.5 HAKIKAT MANUSIA
Hakekat manusia adalah sebagai berikut :
1. Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
2. Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku
intelektual dan sosial.
3. yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan
mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.
4. Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah
selesai (tuntas) selama hidupnya.
5. Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk
mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik
untuk ditempati
6. Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan
dengan potensi yang tak terbatas
7. Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik
dan jahat.
8. Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan
ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusaannya tanpa hidup di
dalam lingkungan sosial.


8

Beberapa pandangan tentang manusia :
1. Aristoteles
Berbeda dengan Plato, ia memandang manusia sebagai satu kesatuan. Tubuh dan jiwa
adalah satu substansi. Perbedaan keduanya bukan perbedaan esensial. Bagi Aristoteles jiwa
manusia tidak terpenjara dalam tubuh. Ketidakbebasan manusia bukan dalam kondisi
terpenjaranya jiwa oleh badan melainkan ketidakmampuan mereka menggunakan
keseluruhan sistem psiko-fisik dalam memahami alam semesta dan ketidakmampuan
mengembangkan dirinya dalam kehidupan sehari-hari,termasuk kehidupan sosial.
2. Plato
Ia memandang manusia terdiri dari jiwa dan tubuh. Dua elemen manusia ini memiliki
esensi dan karakteristik yang berbeda. Jiwa adalah zat sejati yang berasal dari dunia sejati,
dunia idea. Jiwa tertanam dalam tubuh manusia. sementara tubuh manusia adalah zat semu
yang akan hilang lenyap bersamaan dengan kematian manusia. sedangkan ide tetap abadi.
Sesuatu yang abadi terperangkap di dalam sesuatu yang fana, itulah nasib jiwa.
3. Psikoanalisa
Sigmund Freud adalah salah satu tokoh psikologi yang memandang manusia sebagai
makhluk deterministik, dengan kata lain ia melihat manusia tidak bebas. Kepribadian
manusia terdiri dari dua bagian yaitu kesadaran dan ketidaksadaran. Bagian ketidaksadaran
jauh lebih luas dari bagian kesadaran.
4. Psikologi Behaviorisme
Dua tokoh behaviorisme yang terkenal adalah J.B. Watson dan B.F. Skinner.
Keduanya memandang manusia sebagai hasil pembiasaan stimulus-respons. Lingkungan
berperan penting dalam menentukan kepribadian seseorang.
2.6 EKSISTENSI MANUSIA
Eksistensi manusia dalam berbagai dimensi perlu dikenali batas-batasnya. Hal demikian
perlu, karena secara tidak langsung menyoal kita sendiri. Kita butuh referensi mengenai itu.
Eksistensi dapat di kategorikan sebagai berikut :

9

1. Eksistensi manusia dalam seni
Banyak definisi tentang seni pernah didengungkan. Diantaranya hanya menunjukkan
perbedaan peristilahan, di antara yang lain tampak memperlihatkan pertentangan. Namun,
seperti yang ditunjukkan Morris Weitz dalam Philosophy of the Arts (1950 : 2), berbagai
perselisihan yang sia-sia dapat dihindari jika cap estetika tidak ditempelkan pada satu potong
dari seluruh tubuh seni, tetapi dipakai secara terpisah sebagai unsur pokok dari proses
penciptaan, benda estetis, dan pengalaman estetis. Dalam bukunya An Introduction to
Aesthetics (London, 1949), Profesor E.F. Carrit mengutip pendapat sekitar 40 ahli estetika
yang representatif, yang mengungkapkan bahwa seni, sebagai proses kreatif adalah dari
suasana hati, perasaan dan jiwa. Jadi Seni adalah ungkapan atau jiwa, perasaan, dan suasana
hati yang diungkapkan.
2. Eksistensi manusia dalam ilmu
Jika Seni merupakan perwujudan nilai-nilai yang berkaitan dengan jiwa , maka
ilmu lebih bergelut dengan fakta-fakta dan berurusan dengan akal yang mengarahkan dan
membelokkan jiwa kepada hakikat benda.Ciri khas ilmu pengetahuan adalah mencari
hubungan gejala-gejala yang faktawi. Ia tidak puas menyatakan benar sesuatu itu apa; begini
dan begitu. Ia ingin tahu apa sebabnya sesuatu itu ada. Pengetahuan ilmiah mencoba
mengintegrasikan yang terpotong-potong dalam pengetahuan pra ilmiah pada kesatuan.
Dalam mencapai pengertian ilmu pengetahuan maju secara sistematis. Ia tidak bersifat
menunggu saja seolah-olah pada waktunya dan dalam situasi tertentu terang pengetahuan
akan menyingsing dengan sendirinya. Ilmu pengetahuan harus mengusahakan pengertian
melalui penyelidikan. Ilmuwan tidak akan menerima sesuatu apapun sebagai fakta dan
kebenaran kalau.
3. Eksistensi manusia dalam filsafat
Jika kita disadarkan akan fakta-fakta ini dan menemukan bahwa, kendatipun
pengetahuan kita lebih maju, masih tertinggal suatu ketidaktahuan, pintu menjadi terbuka
untuk menggali suatu lapisan mengenal yang berikut, yaitu filsafat.Filsafat merupakan
pemikiran sedalam-dalamnya tentang semua hal yang bersentuhan dengan manusia dan
bagaimanapun juga caranya bersangkut paut dengan dia dan hidupnya. Jadi filsafat akan
berurusan dengan benda-benda, situasi-situasi, pertanyaan dan masalah yang sebelumnya
10

telah dijumpai baik di tingkat pengetahuan pra-ilmiah maupun di tingkat pengetahuan
ilmiah, namun kali ini diselami ke dasar yang lebih dalam.
4. Eksisteni manusia dalam agama
Filsafat dan Agama merupakan dua jalan yang saling berhubungan erat menuju
pengenalan diri. Orang beragama yang berfilsafat tentang diri sendiri dan bertatap muka
dengan banyak soal yang tidak terjawab olehnya, akan menyerahkannya pada Teologi, atau
meninjau dirinya kembali di bawah sorotan cahaya Wahyu Illahi. Kalau filsafat telah
mengubah dia menjadi orang yang bertanya-tanya, sapaan Tuhan akan diberi arti lebih
besar, yakni sebagai bantuan bagi manusia yang bertanya. Kalau dia bukan orang yang
bertanya-tanya di hadapan Allah, Tuhan dan sapaanya-Nya tidak akan dianggap kenyataan
yang hidup.
2.7 PENGEMBANGAN DIMENSI-DIMENSI MANUSIA DALAM PROSES
PENDIDIKAN
1. Pengembangan manusia sebagai mahluk individu
Pendidikan harus mengembangkan anak didik mampu menolong dirinya sendiri.
Pestalozzi mengungkapkan hal ini dengan istilah/ucapan: Hilfe zur selbathilfe,yang artinya
memberi pertolongan agar anak mampu menolong dirinya sendiri.Untuk dapat menolong
dirinya sendiri, anak didik perlu mendapat berbagai pengalaman di dalam pengembangan
konsep, prinsip, generasi, intelek, inisiatif, kreativitas, kehendak, emosi/perasaan,
tanggungjawab, keterampilan ,dll. Dengan kata lain, anak didik harus mengalami
perkembangan dalam kawasan kognitif, afektif dan psikomotor.Sebagai mahluk individu,
manusia memerlukan pola tingkah laku yang bukan merupakan tindakan instingtif, dan hal-
hal ini hanya bisa diperoleh melalui pendidikan dan proses belajar.
2. Pengembangan manusia sebagai mahluk sosial
Disamping sebagai mahluk individu atau pribadi manusia juga sebagai mahluk social.
Manusia adalah mahluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat
mencapai apa yang diinginkan secara seorang diri saja. Kehadiran manusia lain
dihadapannya, bukan saja penting untuk mencapai tujuan hidupnya, tetapi juga merupakan
sarana untuk pengembangan kepribadiannya. Hal ini ditunjukkan oleh adanya manusia
srigala (wolgman), yaitu anak manusia yang berkembang menjadi srigala , karena
11

dibesarkan oleh srigala, dan sama sekali tidak mau menerima kehadiran manusia lainnya. Ia
menjadi bergaya hidup seperti srigala. Kehidupan social antara manusia yang satu dengan
yang lainnya dimungkinkan tidak saja oleh kebutuhan pribadi seperti telah disebutkan di atas,
tetapi juga karena adanya bahasa sebagai alat atau medium komunikasi.
3. Pengembangan manusia sebagai mahluk susila
Aspek yang ketiga dalam kehidupan manusia, sesudah aspek individual dan social, adalah
aspek kehidupan susila. Hanya manusialah yang dapat menghayati norma-norma dalam
kehidupannya sehingga manusia dapat menetapkan tingkah laku yang baik dan bersifat susila
dan tingkah laku mana yang tidak baik dan bersifat tidak susila.Setiap masyarakat dan bangsa
mempunyai norma-norma, dan nilai-nilainya. Tidak dapat dibayangkan bagaimana jadinya
seandainya dalam kehidupan manusia tidak terdapat norma-norma dan nilai-nilai tersebut.














12

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Pada hakikatnya Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan
manusia yang berfikir bagaimana menjalani kehidupan dunia ini dalam rangka
mempertahankan hidup dalam hidup dan penghidupan manusia yang mengemban tugas dari
Sang Kholiq untuk beribadah.Manusia sebagai mahluk yang diberikan kelebihan oleh Allah
Subhanaha wattaalla dengan suatu bentuk akal pada diri manusia yang tidak dimiliki mahluk
Allah yang lain dalam kehidupannya, bahwa untuk mengolah akal pikirnya diperlukan suatu
pola pendidikan melalui suatu proses pembelajaran.
Untuk itu semua, pendidikan di Indonesia harus diarahkan pada peningkatan kualitas
kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral. Dengan
kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang demikian maka pada gilirannya akan
menjadikan masyarakat Indonesia masyarakat yang bermartabat di mata masyarakat dunia.


3.2 SARAN

Kami sadar jika Makalah kami yang berjudul HAKIKAT ILMU PENDIDIKAN masih
memiliki banyak kekurangan atau ketidaksempurnaan , Maka dari itu Kelompok kami sangat
membutuhkan saran para pembaca untuk memperbaiki dan menyempurnakan makalah kami
ini . Terima kasih juga buat para pembaca makalah kami ini , semoga makalah kami ini dapat
bermanfaat bagi saudara saudari yang membaca nya .






13

DAFTAR PUSTAKA

http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2043347-pengertian-
pendidikan/#ixzz1cYCnUXZK
http://bukittingginews.com/2010/10/makalah-dasar-dan-tujuan-pendidikan/ ujuan Pendidikan
(Kemdiknas)
(http://teddykw1.wordpress.com/2008/03/29/dimensi-eksistensi-manusia-dalam-seni-ilmu-
filsafat-dan-agama/ )
(http://tentangkomputerkita.blogspot.com/2010/01/pengembangan-dimensi-dimensi-
pada.html )
(http://www.masbied.com/2010/06/02/aliran-aliran-pendidikan/ )