Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI I

OBAT DIURESIS
Tanggal praktikum: 17 Juni 2014


Kelompok 1
1. Asep Taufik Hidayat ( 0661 12 136 )
2. Hana Suryani Said ( 0661 12 147 )
3. Levy Febriyani ( 0661 12 155 )
4. Dhamita Melrabsani ( 0661 12 164 )
5. Novita Andani ( 0661 12 172 )

Dosen Pembimbing:
1. Drh, Mien R., M. Sc., Ph. D.
2. E. Mulyati Effendi., MS.
3. Yulianita., M. Farm

Asisten Dosen:
Maratul Husna






LABORATORIUM FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan
1. Mengetahui cara kerja obat diuresis dan kegunaannya dalam mengatasi dieresis

1.2 Latar Belakang
Obat diuretik adalah sekelompok obat yang dapat meningkatkan laju pembentukan
urin. Ada 5 jenis obat diuretik yaitu diuretik osmotik, inhibitor karbonik anhidrase, loop
diuretik (diuretik kuat), tiazid dan diuretik hemat kalium (potassium sparing diuretik).
Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin. Istilah diuresis
mempunyai dua pengertian, pertama menunjukkan adanya penambahan volume urin yang
diproduksi dan yang kedua menunjukkan jumlah pengeluaran zat-zat terlarut dalam air.
Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan udem yang berarti mengubah
keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstrasel menjadi normal.
Proses diuresis dimulai dengan mengalirnya darah ke dalam glomeruli (gumpalan kapiler)
yang terletak di bagian luar ginjal (cortex). Dinding glomeruli inilah yang bekerja sebagai
saringan halus yang secara pasif dapat dilintasi air, garam dan glukosa. Ultrafiltrat yang
diperoleh dari filtrasi dan mengandung banyak air serta elektrolit ditampung di wadah, yang
mengelilingi setiap glomerulus seperti corong (kapsul Bowman) dan kemudian disalurkan ke
pipa kecil. Di sini terjadi penarikan kembali secara aktif dari air dan komponen yang sangat
penting bagi tubuh, seperti glukosa dan garam-garam antara lain ion Na. Zat-zat ini
dikembalikan pada darah melalui kapiler yang mengelilingi tubuli, sisanya yang tak berguna
seperti sampah perombakan metabolisme protein (ureum) untuk sebagian besar tidak
diserap kembali. Akhirnya filtrat dari semua tubuli ditampung di suatu saluran pengumpul
(ductus coligens), di mana terutama berlangsung penyerapan air kembali. Filtrat akhir
disalurkan ke kandung kemih dan ditimbun sebagai urin.
Pada dasarnya volume dan komposisi urin tergantung pada tiga proses dalam lisiologi
ginjal yaitu liltrasi melalui glomerolu di tubulus ginjal dan sekresi oleh tubulus ginjal.
Samapai sekarang ada kesepakatan bahwa diuretik berefek karena pengaruhnya terhadap
fungsi tubulus ginjal dan tidak seberapa karena efeknya terhadap fungsi glomerolus ginjal.
1.3 Hipotesis
Diuretika terutama digunakan untuk mengurangi sembab atau (edema) yang disebabkan
oleh meningkatnya jumlah cairan luar sel, pada keadaan yang berhubungan dengan kegagalan
jantung kongestif, kegagalan ginjal, oligourik, sirosis hepatik, keacunan kehamilan, glaukoma,
hiperkalsemia, diabetes insipidus dan sembab yang disebabkan oleh penggunaan jangka panjang
kortikosteroid atau estrogen. Diuretika juga digunakan sebagai penunjang pada pengobatan
hipertensi.
























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Obat Diuretik
Ginjal merupakan organ yang sangat luar biasa, mengandung sekitar 1,3 juta nefron
yang tersusun dari glomerulus dan tubulus. Glomerulus sebagai unit filtrasi menerima
sekitar25% darah yang dicurahkan jantung dengan laju filtrasi 100-120 ml/menit. Tubulus
sebagai unit reabsorpsi mampu menyerap sekitar 99% filtrat glomerulus dan hanya 1% yang
diekskresikan sebagai urin.
Obat diuretik adalah sekelompok obat yang dapat meningkatkan laju pembentukan
urin. Ada 5 jenis obat diuretik yang dibahas di sini yaitu diuretik osmotik, inhibitor karbonik
anhidrase, loop diuretik (diuretik kuat), tiazid dan diuretik hemat kalium (potassium sparing
diuretik).

2.2 Diuretik Osmotik
Diuretik osmotik itu mengacu pada zat non elektrolit yang mudah dan cepat
diekskresi oleh ginjal serta menarik air. Ada empat syarat suatu zat dikatakan diuretik
osmotik, yaitu:
Difiltrasi secara bebas oleh glomerulus
Tidak/sedikit direabsorpsi oleh tubulus
Bersifat inert (sukar bereaksi), Contohnya adalah manitol (paling umum), urea, gliserin,
dan isosorbid.
Cara kerja obat diuretik osmotik adalah dengan meningkatkan tekanan osmotik dalam
lumen tubular (makanya namanya diuretik osmotik).

2.3 Inhibitor Karbonik Anhidrase
Karbonik anhidrase adalah enzim yang bekerja pada reaksi CO2 + H2O menjadi
H2CO3 dan sebaliknya. Inhibitor karbonik anhidrase (untuk selanjutnya di singkat IKA)
bekerja pada beberapa tempat. Di ginjal, IKA menghambat reabsorpsi bikarbonat (HCO3-)
dan mengurangi pertukaran Na-H sehingga NaHCO3 di ekskresi bersama air. Inilah efek
diuretiknya. Pada mata, menghambat pembentukan aqueus humor (cairan mata), mengurangi
tekanan intra okuler (terapi pada glaukoma).

2.4 Tiazid
Termasuk kelompok obat ini adalah hidroklorotiazid (HCT), klorotiazid,
bendroflumetiazid, klotalidone, metolazone dan indapamide. Tiazid disekresi oleh tubulus
proksimal namun baru bekerja di tubulus kontortus distal. Ia bekerja dengan menghambat
simporter Na dan Cl dari lumen ke tubular. Pada keadaan normal, simporter ini berfungsi
membawa Na dan Cl dari lumen ke sel epitel tubulus. Akibatnya, ekskresi Na dan Cl akan
meningkat (tentunya disertai dengan ekskresi air juga).

2.4 Loop Diuretik (Diuretik Kuat)
Termasuk dalam kelompok loop diuretik adalah furosemide, torasemide, bumetanide
dan asam etanikrat. Sesuai dengan namanya, loop diuretik bekerja pada ansa henle yaitu
pada segmen tebal pars asendens. Kerjanya dengan menghambat reabsorpsi elektrolit Na, K
dan Cl sehingga ion-ion ini akan di ekskresikan bersama dengan air. Kalsium dan
magnesium pun di tingkatkan ekskresinya.

2.5 Diuretik Hemat Kalium (Potassium Sparing Diuretik)
Termasuk dalam kelompok obat ini adalah (1) Inhibitor kanal Na (amiloride dan
triamteren) serta (2) Antagonis aldosteron (spironolactone, eplerenone). Pada mekanisme
inhibitor kanal Na, obat ini dapat menghambat reabsorpsi Na sekaligus mengurangi sekresi
K. Pada mekanisme antagonisme aldosteron, obat diuretik hemat kalium (DHK) mem-blok
reseptor aldosteron sehingga mengurangi reabsorpsi Na dan K pada hilir tubuli distal dan
duktus koligentes. Dengan demikian, ekskresi K juga berkurang. Karena efeknya yang
relatif lemah, DHK biasanya dikombinasikan dengan diuretik lain. Selain itu, dengan
dikombinasikan bersama obat lain resiko hipokalemia dapat dihindari.




BAB III
METODE KERJA

3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
Gunting
Jarum sonde
Pinset
Timbangan
3.1.2 Bahan
Air
Kafein
Furosemid

3.2 Cara Kerja
1. Disediakan hewan coba tikus
2. Diberikan secara oral masing-masing air 10 ml, kafein 100 mg/kg BB, dan furosemid 10
mg/kg BB
3. Dimasukkan tikus tersebut ke dalam toples yang sudah ada kertas saring di dalamnya
4. Dibiarkan selama 1 jam
5. Diukur volume urin yang terbentuk pada kertas saring.










BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1. Data pengamatan terhadap hewan coba yang sudah diperikan perlakuan
PERLAKUAN VOLUME URIN (ml)
Air
2072 mg
Kafein
160.2 mg
Furosemid
250.3 mg

4.2 Perhitungan
4.2.1 Perlakuan dengan menggunakan kafein 1%


X =


X = 0.00105 gr

Kafein 1% = 1 gr/100ml


y= 0.105 ml

4.2.2 Perlakuan dengan menggunakan furosemid 1%


X =


X = 0.00168 gr

Kafein 1% = 1 gr/100ml


y= 0.168 ml

4.2 Pembahasan
Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin. Istilah
diuresis mempunyai dua pengertian, pertama menunjukkan adanya penambahan volume urin
yang diproduksi dan yang kedua menunjukkan jumlah pengeluaran zat-zat terlarut dalam air.
Pada percobaan kali ini untuk mengetahui efek dieresis digunakan air 10 ml, obat furosemid,
dan kaffein terhadap hewan uji tikus.
Pada tikus pertama yang diberikan aquadest sebanyak 10 ml menunjukkan adanya
urine yang keluar baik pada waktu 30 menit dan 60 menit. Hal ini sesuai ini terjadi karena
volume urin dalam tubuh tikus tersebut melebihi batas normalnya. Maka dari itu walaupun
air ini tidak memiliki efek diuresis, tikus tersebut tetap menunjukkan adanya ekskresi urine.
Hal tersebut saama saja dengan kita selaku manusia, jika kita sering minum air atau minum
dalam jumlah banyak maka akan terjadi rasa ingin kencing. Karena volume urine dalam
tubuh sudah melebihi batas normalnya, maka dari itu tubuh akan mengeluarkan urine
tersebut.
Pada tikus yang lainnya, diberikan obat furosemid dan menunjukkan adanya volume
ekskresi urine pada menit ke 30 yaitu 0,8 ml dan menit ke 60 yaitu 1 ml. Hal ini sesuai
dengan literatur yang menyatakan bahwa Furosemid, adalah obat-obat yang berkhasiat kuat
dan pesat tetapi agak singkat (4-6 jam). Mekanisme kerjanya pada lengkungan henle dengan
cara mereabsorsi kurang lebih 25% semua ion yang telah difiltrasi secara aktif kemudian
disusul dengan reabsorbsi pasif dari dan tetapi pengeluaran air juga diperbanyak. Awal
tindakan setelah oral adalah dalam waktu satu jam,dan diuresis berlangsung sekitar 6-8 jam,
waktu paruhnya tergantung pada fungsi ginjal biasanya waktu paruh obat ini 2 hari.
Sedangkan pada tikus yang diberikan obat kafein juga menunjukkan adanya volume
ekskresi urine. Namun pada kaffein ini volume urin yang dihasilkannya lebih sedikit
dibandingkan furosemid. Volume urine yang paling banyak yaitu pada saat perlakuan
menggunakan air, hal ini disebabkan karena volume air yang digunakan dalam jumlah
banyak yaitu 10 ml, selain itu volume urin dalam tubuh tikusnya juga sudah melebihi
ambang batas normalnya sehingga pengeluaran urinenya juga banyak walaupun air itu
sendiri tak mempunyai efek teurapi sebagai dieresis.


BAB V
KESIMPULAN

1. Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin.
2. Volume urine yang paling banyak urine yang dikeluarkan oleh tikus yaitu perlakuan
dengan menggunakan air ( 2072 mg), yang kedua furosemid ( 250 mg ), dan yang ketiga
adalah kafein ( 160,2 mg ).
























DAFTAR PUSTAKA

Daldiyono. 1990. Diare, Gastroenterologi-Hepatologi. Jakarta : Infomedika.
Departemen Farmakologi dan Terapi UI, 2007. Farmakologi dan Terapi ed 5. Jakarta: UI Press.
Harkness, Richard. 1984. Interkasi Obat. Bandung: ITB.