Anda di halaman 1dari 3

PANCASILA IDEOLOGI TERBUKA

PERGULATAN PEMIKIRAN DENGAN LIBERALISME


Liberalisme dapat diartikan sebagai paham kebebasan, yaitu paham yang menghendaki adanya
kebebasan individu, sebagai titik tolak dan sekaligus tolok ukur dalam interaksi sosial. Menurut paham liberal,
individu mempunyai kedudukan sangat fundamental, maka kebebasan individu harus dijamin negara.
Sebagai reaksi terhadap kondisi zamannya, liberalisme mulanya berorientasi pada kebebasan politik,
kemerdekaan agama dan ekonomi
Pada kehidupan agama, liberalisme dimulai pada masa Renaisanse yang memperjuangkan kebebasan manusia
dari kungkungan gereja/agama. Pada kehidupan ekonomi, liberalisme menentang monopoli atau !ampur
tangan pemerintah dalam berusaha, dengan kata lain menuntut ekonomi bebas. Semboyan mereka " Laisser
#aire, Laisser Passer, Le Monde $a %e Lui Meme&. 'Produksi bebas, perdagangan bebas, hukum kodrat kalau
akan menyelengarakan harmoni dunia(.. Liberalisme ekonomi merupakan antitesis dari sistem perdagangan
yang menggunakan sistem merkhantilisme. Pedagang besar sering disebut borjuis, mereka ingin memperoleh
kebebasan dalam melakukan usaha. Pertumbuhan ekonomi akan ditentukan oleh hukum permintaan dan
pena)aran. Mereka menyatakan bah)a pemerintahan yang paling baik seharusnya paling sedikit ikut !ampur
dalam bidang ekonomi. Pandangan ini dikemukakan oleh Adam Smith (Bapak Ekonomi liberal kapitalis) yang
menyatakan bahwa hukum pasar akan diatur oleh invisible hands.
*egara menurut paham liberalisme tradisional fungsinya sebagai penjaga malam. %an menuntut adanya,
kemerdekaan pers, kemerdekaan berbi!ara, kemerdekaan mengeluarkan pendapat, dan beragama . %alam
sistem liberalisme peluang tumbuhnya sistem kapitalisme sangat besar. Sejak timbulnya kapitalisme dan
kemenangan paham liberalisme, imperialisme barat berubah menjadi imperialisme modern.
+iri imperialisme modern adalah"
,. %aerah jajahan sebagai pensuplai bahan baku.
-. Masyarakat jajahan sebagai sasaran penjualan hasil produksi.
Pada kehidupan politik melahirkan pengertian tentang negara yang demokrasi. Pada bidang politik penganut
ajaran liberalisme menginginkan adanya pembatasan kekuasaan negara. Monarki absolut dianggap tidak
relevan. %alam bidang ini liberalisme berkaitan dengan demokrasi. %alam hubungannya dengan perkembangan
nasionalisme di negara .sia / .frika, liberalisme memberikan gambaran kontradiktif dari bangsa penjajah '0ropa
pada )aktu itu(. 1al ini berarti di satu sisi mendengungkan kebebasan, namun di daerah jajahan sama sekali
tidak memberi kebebasan pada bangsa yang dijajah. Libelarisme mun!ul di 0ropa abad ke ,2, memun!ak pada
abad ke ,3 . 4stilah liberalisme ini berasal dari kata liberales 'bahasa Spanyol(, yaitu nama partai pada abad ke
,3 yang memperjuangkan pemerintahan konstitusional untuk Spanyol. 5aktu itu masyarakat 0ropa ingin
berontak terhadap kehidupan politik, budaya serta agama yang !enderung bersifat absolut. Masyarakat ingin
membebaskan diri dari belenggu absolutisme yang di!iptakan golongan bangsa)an dan agama)an.
'))).edukasi.net(
Liberalisme adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada
pemahaman bah)a kebebasan adalah nilai politik yang utama. Se!ara umum, liberalisme mengusahakan suatu
masyarakat yang di!irikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu, pembatasan kekuasaan, khususnya dari
pemerintah dan agama, penegakan hukum , pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung
usaha pribadi 'private enterprise( yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang transparan, yang di
dalamnya hakhak kaum minoritas dijamin. %alam masyarakat modern, kaum liberal lebih menyukai demokrasi
liberal dengan pemilihan umum yang terbuka dan adil, di mana semua )arga negara mempunyai hak yang
sederajat oleh hukum dan mempunyai kesempatan yang sama untuk berhasil
&6Liberalisme6 didefinisikan sebagai suatu etika sosial yang menganjurkan kebebasan dan kesetaraan se!ara
umum.& +oady, +. .. 7. Distributive Justice, . +ompanion to +ontemporary Politi!al Philosophy, editors 8oodin,
Robert 0. and Pettit, Philip. 9la!k)ell Publishing, ,33:, p.;;<. 9" &=ebebasan itu sendiri bukanlah sarana untuk
men!apai tujuan politik yang lebih tinggi. 4a sendiri adalah tujuan politik yang tertinggi.& Lord .!ton.
http"//id.)ikipedia.org/)iki/Liberalisme
Menurut .lonzo L. 1amby, Ph%, Profesor Sejarah di >niversitas ?hio, liberalisme adalah paham ekonomi dan
politik yang menekankan pada kebebasan ' reedom (, persamaan ' e!uality (, dan kesempatan ' opportunity (.
=aum liberal menyakini bah)a akar historis ide liberal berpangkal dari sejarah @unani =uno. Menurut mereka,
masyarakat @unani =unoA.thena dan beberapa negara kotaAtelah menjalankan prinsip pemerintahan
demokratik yang menjunjung tinggi hakhak sipilB .thena dan beberapa negara kota dianggap sebagai benih
a)al masyarakat demokratik 'liberal(. Menjelang tahun ,3C<an, liberalisme mulai berkembang tidak hanya
meliputi kebebasan berpolitik saja, tetapi juga men!akup kebebasankebebasan di bidang lainnyaB misalnya
ekonomi, sosial, dan lain sebagainya. Dahun ,3;,, Presiden #ranklin %. Roosevelt mendeklarasikan empat
kebebasan, yakni kebebasan untuk berbi!ara dan menyatakan pendapat ' reedom o speech (, kebebasan
beragama ' reedom o religion (, kebebasan dari kemelaratan ' reedom rom want (, dan kebebasan dari
ketakutan ' reedom rom ear (. Pada tahun ,3;E, P99 mengeluarkan "niversal Declaration o #uman $ights
yang menetapkan sejumlah hak ekonomi dan sosial, di samping hak politik. %ari sini dapat dipahami, sejak
tahun ,3<<an, politik dan ekonomi liberal memiliki hubungan yang sangat erat. 8agasan ekonomi liberal
didasarkan pada sebuah pandangan bah)a setiap individu harus diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan
kegiatan ekonominya tanpa ada intervensi dan !ampur tangan dari negara. =aum liberal per!aya, bah)a
ekonomi akan melakukan regulasi sendiri 'the invisible hand(. .tas dasar itu, !ampur tangan negara tidak
diperlukan lagi. 8agasan sema!am ini diadopsi dari pemikiranpemikiran .dam Smith dan menjadi landasan
sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan di dunia saat ini.
7ika liberalisme a)al 'early liberalism( lebih menekankan pada hakhak politik, sejak tahun ,3<<an, liberalisme
telah men!akup hampir seluruh dimensi kehidupan, termasuk di dalamnya liberalisasi pemikiran. Pada
dasarnya, liberalisasi pemikiranAdalam arti perla)anan terhadap doktrindoktrin agamaAberpangkal pada
historisitas kelam kaum =ristiani. %ogma gereja yang !enderung memusuhi rasionalitas serta dominasi kaum
agama)an terhadap tafsir agama telah memi!u perla)ananperla)anan radikal. 1al inilah yang menjadi pemi!u
terjadinya liberalisasi pemikiran se!ara radikal di seluruh 0ropa dan .merika. .khirnya, dogma agama digeser
oleh ideologi Fkematian tuhanG '%od is dead( dan sekularisme. Lebih dari itu, !ara pandang manusia terhadap
kehidupan tidak lagi didasarkan pada doktrin agama, tetapi diganti dengan prinsip sekularistik&materialistik.
=eadaan ini semakin diperparah dengan mun!ulnya gagasangagasan yang se!ara terangterangan menyerang
eksistensi agama dan menganggap agama sebagai bentuk pelarian yang tidak produktif alias refleksi dari
ketidakberdayaan manusia. #eurba!h, dengan teori alienasinya, menyatakan bah)a agama itu merupakan
tanda keterasingan manusia dari dirinya sendiri. .gama itu lahir dari keterasingan manusia dari dirinya sendiri
dan masyarakat. 4a juga menyatakan, bah)a Duhan itu adalah khayalan yang di!iptakan oleh manusia. ?leh
karena itu, manusia menurut #eurba!h, adalah pen!ipta Duhan, bukan sebaliknya. Pendapat #eurba!h ini
diamini oleh pemikirpemikir lain semisal D.1 8rafton, 8eorge 1 Mead, +harles +ooley, dan 7ohn %e)ey.
Pandangan lain tentang agama yang serupa dengan pandangan #eurba!h adalah gagasan yang dikemukakan
oleh %urkheim. Menurut %urkheim, agama adalah hipostatisasi masyarakat yang mendukung moral manusia,
tetapi juga melanggar manusia sebagai sesuatu yang lain 'the other(. Menurut Sigmund #reud, agama adalah
ilusi manusia. 9aginya, agama itu lahir dari keinginan untuk membuat manusia yang tidak berdaya itu bisa
ditoleransi. .dapun .ntonio D. 9oisen menyatakan, bah)a seseorang harus melampaui fase psikopat 'kegilaan(
terlebih dulu sebelum ia memeluk agama.
Menurut Syamsuddin Arif, P!D, Liberalisme dapat berkembang ke segala aspek kehidupan. %i zaman
Pen!erahan, kaum intelektual dan politisi 0ropa menggunakan istilah liberal untuk membedakan diri mereka dari
kelompok lain. Sebagai adjektif, kata FliberalG dipakai untuk menunjuk sikap anti feodal, anti kemapanan, rasional,
bebas merdeka 'independent(, berpikiran luas lagi terbuka 'open&minded( dan, oleh karena itu, hebat
'magnanimous(.
%alam politik, liberalisme dimaknai sebagai sistem dan ke!enderungan yang berla)anan dengan dan
menentang FmatimatianG sentralisasi dan absolutisme kekuasaan. Mun!ulnya republikrepublik
menggantikan kerajaankerajaan konon tidak terlepas dari liberalisme ini.
%i bidang ekonomi, liberalisme merujuk pada sistem pasar bebas dimana intervensi pemerintah dalam
perekonomian dibatasi /jika tidak dibolehkan sama sekali. %alam hal ini dan pada batasan tertentu,
liberalisme identik dengan kapitalisme.
%i )ilayah sosial, liberalisme berarti emansipasi )anita, penyetaraan gender, pupusnya kontrol sosial
terhadap individu dan runtuhnya nilainilai kekeluargaan. 9iarkan )anita menentukan nasibnya sendiri,
sebab tak seorang pun kini berhak dan boleh memaksa ataupun melarangnya untuk melakukan sesuatu.
%alam urusan agama, liberalisme berarti kebebasan menganut, meyakini, dan mengamalkan apa saja,
sesuai ke!enderungan, kehendak dan selera masingmasing. 9ahkan lebih jauh dari itu, liberalisme
mereduksi agama menjadi urusan privat. '))).1idayatullah.!om(
9agi bangsa 4ndonesia,terutama Pan!asila,Liberalisme merupakan an!aman. Pendapat 7 =artini Soedjendro,H
%unia yang menghadirkan gerak globalisasi dan universalitas nilainilai liberalisme telah men!iptakan perubahan
yang begitu besar dalam tata !ara pergaulan internasional. %ampaknya telah dirasakan oleh semua negara di
dunia termasuk 4ndonesia. .tas kenyataan ini sikap politik yang harus diambil suatu bangsa sangat bergantung
dari ideologi yang dianut.
9agi bangsa 4ndonesia, liberalisme jelas merupakan ideologi yang dapat mengan!am kelangsungan
kebangsaan 4ndonesia karena se!ara material, di dalamnya terkandung nilainilai sosialpolitik yang tidak sesuai
dan bertentangan dengan sikap politik bangsa 4ndonesia dalam me)ujudkan !ita!ita, berlandaskan Pan!asila
dan >>% ,3;:.
*ilainilai sosialpolitik ideologi liberalisme yang bersifat ekstrem dan bertentangan dengan ideologi Pan!asila
tersebut adalah sebagai berikut"
Pertama. ideologi liberalisme mena)arkan prinsip kebebasan individual se!ara mutlak. Sementara dalam
Pan!asila adalah pengakuan kebebasan/ kemerdekaan yang tetap berpijak pada nilainilai moral, kesusilaan,
dan mempertimbangkan aspek keadilan sosial
%ua, ideologi liberalisme menghendaki adanya sistem pengelolaan perekonomian se!ara bebas dan tidak
menghendaki adanya keterlibatan negara 'pemerintah( dalam men!iptakan kesejahteraan sosialekonomi
rakyat. =esejahteraan masyarakat akan ter!ipta jika mekanisme pasar berjalan se!ara efisien, dan agar dapat
berjalan se!ara efisien pemerintah tidak perlu terlibat terlalu jauh dalam pengelolaan makro ekonomi negara.
Menurut ideologi Pan!asila, kesejahteraan sosialekonomi rakyat merupakan tujuan dari hakikat nation state itu
didirikan, sehingga men!iptakan kemakmuran rakyat menjadi tanggung ja)ab politik negara melalui
keterlibatannya dalam pengelolaan perekonomian.
Diga, ideologi liberalisme menganut sistem nilai demokrasi yang menggunakan ukuran pembenaran berdasarkan
kebutuhan diktator mayoritas, sehingga untuk men!apainya !ukup dengan ukuran :<I ditambah , selesai.
*amun demokrasi yang di!ita!itakan ideologi Pan!asila tidaklah begitu, per)ujudan demokrasi harus tetap
memberikan perlindungan terhadap eksistensi kepentingan kelompok minoritas sehingga proses penentuan
keputusan menurut Pan!asila tidak bisa atau tidak !ukup dengan hanya :<I ditambah , tetapi harus melalui
musya)arah untuk merumuskan sebuah keputusan dalam perspektif kepentingan bersama yang berkeadilan.
Meskipun begitu dalam praktiknya nilainilai liberalisme di 4ndonesia tetaplah tidak menemui hambatan yang
berarti untuk dijalankan dan diterapkan, bahkan harus diakui intensitasnya sekarang ini sudah dapat
dikategorikan telah melembaga !ukup kuat, baik dalam tatanan kehidupan masyarakat maupun dalam praktik
penyelenggaraan negara. Sebagian masyarakat 4ndonesia sekarang ini sudah mulai !enderung untuk bersikap
kebaratbaratan, sok kapitalis dan membenarkan prinsip liberalisme demi mengejar tujuan hidup yang hanya
mementingkan kepuasan material saja. 9agi mereka nilai sosialbudaya yang dita)arkan oleh gerakan
globalisasi dianggap lebih modern, lebih maju dan lebih memiliki kelas sosial yang tinggi. Padahal jika disikapi,
masyarakat 4ndonesia 'kita( hanya ditempatkan sebagai peniru untuk kemudian digiring kedalam pola pikir
pragmatis, dan dijerembabkan pada tingkat ketergantungan yang tinggi. tanpa adanya kepekaan politik terhadap
identitas nasional dan lokal. ?leh karena itu jika hal ini dibiarkan, akan menjadi bentuk cultural imperialism baru
yang mengan!am eksistensi identitas kultural nasional dan lokal tersebut, padahal identitas nasional dan lokal
merupakan dasar bagi ketangguhan nation state.
=eterjebakan kedalam pemikiran liberal juga terjadi pada praktik penyelenggaraan pemerintahan, hal ini dapat
dilihat dari kebijakankebijakan ekonomi yang dijalankan negara yang lebih berorientasi pada kepentingan pasar
global ketimbang untuk melindungi kepentingan domestik. >kuranukuran yang selalu menjadi dasar adalah
demi meningkatkan efisiensi ekonomi dan efektivitas kepentingan pasar.
+ontoh kasusnya adalah pada ran!angan >> Penanaman Modal,
Menilik dari pengertian di atas, sudah !ukup gamblang bagi bangsa 4ndonesia bah)a gerakan globalisasi
dengan ideologi liberalismenya se!ara material adalah upaya sistematis taktis dari negara barat yang diarahkan
untuk meruntuhkan kesepakatan politik bangsa 4ndonesia dalam memandang hakikat nation state 4ndonesia.
'))).suaramerdeka.!om/harian/<J<2/,E/opi<C.htm(.