Anda di halaman 1dari 312

Saatnya Hati Bicara

i
Saatnya Hati Bicara
ii
Judul:
Saatnya Hati Bicara
Editor:
Ahmad Arif
Setting/Layout:
Bagasdanisa
Desain Sampul:
Bagasdanisa
Cetakan Pertama, 2013
Penerbit:
Sekretariat Perusahaan
PT PLN (Persero)
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi
buku ini ke dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari penerbit
(All Rights Reserved)
Saatnya Hati Bicara
iii
Pengantar
Komitmen manajemen untuk menjadikan PLN sebagai
perusahaan yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan
nepotisme sudah bulat. Perusahaan ini harus dibawa ke arah
sana. Semua unsur di perusahaan perlu menyatukan suara, sikap,
komitmen dan perilaku untuk bersama-sama menuju ke sana.
Gerakan ini sudah kita mulai dan harus terus digalakkan.
Saya yakin di kalangan internal gerakan PLN bersih
mendapatkan dukungan luas dari pegawai. Hal ini karena pegawai
PLN secara umum adalah orang-orang yang baik, bersih dan
berjiwa melayani. Banyak testimoni atau pengakuan dari anggota
masyarakat yang merasa surprise dan puas setelah mendapatkan
pelayanan atau berhubungan dengan orang-orang PLN.
Perilaku bersih ini harus terus dikumandangkan ke
seluruh pegawai agar menginspirasi kita semua dalam bekerja
menjalankan roda perusahaan dan melayani masyarakat. Dengan
landasan itu maka kita akan dapat bekerja dengan tenang,
menjalankan misi kita sebagai pegawai perusahaan layanan
publik ini. Bekerja di PLN bukan untuk bisa tenar, kaya atau
berkuasa. Bekerja di PLN adalah untuk menjalankan misi hidup
yang sebenarnya yaitu melayani orang lain.
Sejalan dengan program PLN bersih, buku yang
berisi kumpulan pengalaman pegawai ini disusun untuk
mendokumentasikan dan menularkan semangat bersih dan
melayani ke seluruh pegawai PLN. Dengan demikian virus bersih
Saatnya Hati Bicara
iv
dan melayani akan dengan cepat menjalar ke seluruh anggota
perusahaan dan perilaku bersih kita akan memunculkan binar-
binar dari seluruh penjuru nusantara. Pada saatnya respek
masyarakat akan kita tuai.
Direktur Utama,
Nur Pamudji
Saatnya Hati Bicara
v
Pengantar Penerbit
Pada rapat mingguan dengan kawan-kawan Transparency
International Indonesia (TII) ide membuat buku ini tercetus.
Dalam rangka kerja sama PLN dan TII, rapat mingguan memang
rutin dilaksanakan untuk membahas program-program terkait.
Kemudian ide itu terus kita matangkan dan tindak lanjuti dengan
sejumlah langkah. Dukungan manajemen dan TII juga begitu
besar. Sangat mengejutkan sekaligus mengharukan, karena
ternyata sambutan para pegawai pun begitu antusias ketika
diminta menulis pengalaman dan harapannya akan PLN bersih
dan melayani. Praktis pada proses pengumpulan naskah tidak
ada hambatan berarti. Memang beberapa pegawai karena
kesibukannya belum sempat menulis sampai batas waktu yang
ditentukan. Namun setelah kita tagih beberapa kali akhirnya
terkirim juga tulisannya.
Buku ini berisi kisah dan pengalaman para pegawai PLN
dalam menegakkan integritas, melawan korupsi dan suap serta
meningkatkan pelayanan.
Pengalaman pegawai PLN dalam menolak suap dan korupsi
ternyata sangat beragam. Ada supervisor dilabrak pelanggan yang
tersinggung karena suguhan minumnya bagi petugas gangguan
ditolak. Ada pula pegawai yang terpaksa harus mengancam untuk
mengakhiri hubungan pertemanan dan hubungan professional
supaya rekanan mambatalkan pemberiannya kepada si pegawai.
Seorang general manager sempat tercenung dan
memikirkan sistem pengadaan yang sudah sesuai aturan agar
diperoleh efisiensi lebih besar. Akhirnya general manager ini
Saatnya Hati Bicara
vi
mengubah cara pengadaan trafo dengan membeli langsung ke
pabriknya dan diantar langsung ke gardu induk. Dengan cara ini
ditambah sedikit perubahan cara pembayaran, ternyata harga
trafo bisa turun drastis menjadi tinggal sepertiganya. General
Manager itu kini menjadi Direktur Utama PLN.
Seorang manajer area sempat dilarang masuk kesuatu desa
untuk sosialisasi karena khawatir kongkalikong antara aparat
desa dengan suatu CV untuk menipu masyarakat dalam hal biaya
penyambungan terungkap. Pesan singkat dan telepon bernada
ancamanpun diterima.
Pengalaman dan percikan pemikiran para pegawai tentang
pemberantasan korupsi yang ternyata cukup banyak ini memang
sayang untuk dilewatkan. Karena itu kami berinisiatif untuk
mendokumentasikan dan menyebarkannya dalam bentuk sebuah
buku.
Selain terbit dalam edisi cetak, buku ini juga terbit
dalam edisi elektronik (e-book) yang bisa dibaca diblog
www.plnbersih.com.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kami
sampaikan kepada unsur pimpinan TII dan direksi PLN yang telah
mendukung terlaksananya penerbitan buku ini. Terima kasih juga
kepada para penulis yang berkontribusi dalam penulisan buku
ini. Kepada editor dan desainer buku tak lupa kami ucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya.
Kiranya buku ini dapat memberikan sumbangan berarti,
sekecil apapun sumbangan itu, bagi proses transformasi PLN
menuju perusahaan yang modern yang diantaranya ditandai
dengan tumbuhnya budaya anti korupsi dan suap.
Penerbit
Saatnya Hati Bicara
vii
Daftar Isi
Pengantar
Direktur Utama ........................................................................ iii
Penerbit ................................................................................. v
Pengadaan Yang Bersih
1 Bersih Dalam Pengadaan, Berkualitas Dalam Pelayanan
Nur Pamudji ................................................................... 3
2 PLN Bersih di Proyek 10.000 MW
Syah Darwin Siregar ...................................................... 9
3 Menuju PLN Bersih dan Melayani
Titi Bejane ...................................................................... 15
4 Merajut Mimpi di PLN
Risan Dananjaya ............................................................ 21
5 Sosok Impianku, PLN Bersih
Misbakul Munir ............................................................. 25
6 Awas Jebakan Korupsi Ada Dimana-mana
Ridho Hutomo ................................................................. 31
7 Disandera Karena Korupsi atau Korupsi Karena Disandera
I Nyoman Sujana ............................................................ 37
8 Jangan Sampai Terbujuk
Helmi Najamuddin ........................................................ 43
9 Pancing Ikan Tak Perlu Lagi Umpan Ikan
Eko Soedartanto.............................................................. 49
10 Tetap Bertahan
Imam Muttaqien ............................................................ 55

Saatnya Hati Bicara
viii
Integritas
11 Menuju PLN Bersih di Proses Keuangan
Setio Anggoro Dewo ....................................................... 61
12 Nggak Bersih? Gue Copot Lu !
Denny Pranoto ................................................................ 69
13 Menolak Suguhan, Hingga Satpam Sakit Hati
Agus Kuswardoyo ........................................................... 75
14 Say No! To Calo
Saeful Hikmat ................................................................. 83
15 Its OK Son, Everybody Does It
Adi Supriono ................................................................... 89

Karir
16 Harga Sebuah Kehormatan
K. Yogaster S.................................................................... 97
17 PLN Dulu, Kini dan Masa Depan
Abdurrachman ............................................................... 103
18 Mimpi, Berharap dan Bertindaklah
Galih Chrissetyo ............................................................ 109
19 Pemetaan Kompetensi Pegawai
Fara Sofah Intani ............................................................ 115
20 PLN Bersih, PLN Dicintai Rakyat
Muhammad Darwing Samsudin ................................... 121
21 Cantik di Dalam, Cantik Pula di Luar
Yusuf Indra Wibowo ....................................................... 127
22 Kadus
Bagus Setiawan............................................................... 131

Saatnya Hati Bicara
ix
Anti Gratifikasi
23 Bersih Dimulai Dari Diri, Mulai Hari Ini
Firman Ansyari .............................................................. 139
24 Segelas Kopi dan Sirih untuk PLN
Yuniarto Hadi Prayitno .................................................. 147
25 Role Model Itu Datang dari Seorang Petugas Yantek
Agus Yuswanta ................................................................ 151
26 Gratifikasi Ala Bebek Peking Goreng
Benny Marbun ................................................................ 157
27 Tidak Jauh dari Kita!
Supriyadi ........................................................................ 163
28 Teguh Bersikap untuk PLN Bersih
I Putu Eka Widarma ....................................................... 169
29 Petty Korupsi dan Gratifikasi yang Menggoda
Bintang Gemilang .......................................................... 173
30 Cukup dengan SIPP
Titiek Tjahjaningsih ...................................................... 179
31 Kami Tidak Kaya Raya, Namun Punya Harga Diri
Mundhakir ...................................................................... 183
32 Harus Berani Menolak
Iryanto Hutagaol ............................................................ 191
33 Anti Gratifikasi
Riyo Supriyanto .............................................................. 197
Pelayanan Pelanggan
34 Pungutan Lagi, Pungutan Lagi... Adukan Saja !
Ngurah Adnyana ............................................................. 205
35 Denting Lonceng Perubahan
Moch. Sulastyo ............................................................... 211
36 PLN Semakin Baik
Daniel S. Bangun ............................................................ 217
Saatnya Hati Bicara
x
37 Melayani atau Mengakali?
Nyoman S Astawa ........................................................... 223
38 PLN Bersih No Suap Menghindar dari Sekedar Slogan
Bambang Dwiyanto ........................................................ 229
39 Menyalakan Desa-desa di Nusa Penida
Denny Hendry Wijaya .................................................... 235
40 PLN Sebagai Roda Depan
Benny Marbun ................................................................ 239
41 Mari Buat Pelanggan Kita Tersenyum
Nurnazmah Koto ............................................................ 245
42 Menuju PLN Bersih dan Melayani
Irma S. Harahap ............................................................. 251
43 Tulus Berkarya untuk Perbaikan Citra
Eko Sudaryono ................................................................ 255
44 Pegawai Sebagai Sales
Edy Suseno ...................................................................... 259
45 Pembawa Terang
Dian Putri ...................................................................... 265
46 Transparansi Biaya Pasang Baru Listrik
Grahaita Gumelar .......................................................... 269
47 PLN Adalah Perusahaan Besar
Aulia Taufiqu Rahman ................................................... 275
48 Proyek PLN, Jangan Molor Donk.....
Sapto Triono Widiastoto ................................................. 279
49 Refleksi Tiga Dekade Pengabdian di PLN
Wawan Gunawan ............................................................ 283
50 Kerja Keras PLN dalam Melayani
Marwan Yudi Samukti .................................................... 291
51 Aku Adalah Mimpimu
Setiawati .......................................................................... 295
Pengadaan
Yang Bersih
Saatnya Hati Bicara
3
Bersih Dalam
Pengadaan,
Berkualitas Dalam
Pelayanan
Nur Pamudji*
Saatnya Hati Bicara
4
M
asih terbayang peristiwa empat tahun silam, tatkala
saya masih menjadi GM Penyaluran dan Pusat
Pengatur Beban (P3B) Jawa-Bali. Ketika itu saya harus
menandatangani kontrak pengadaan barang atau jasa dengan
rekanan terpilih beralamatkan di ruko-ruko seputar kota Jakarta.
Saya tercenung, kenapa PLN, sebuah perusahaan besar,
harus mengeluarkan uang puluhan miliar rupiah untuk membeli
satu buah trafo, atau circuit breaker ratusan juta rupiah per buahnya,
atau arrester puluhan juta rupiah sebuah, dari perusahaan yang
beralamat di ruko? Apakah perusahaan itu memproduksi sendiri
barang-barang tersebut?
Permenungan itu saya ungkapkan ke para manajer P3B.
Meskipun cara ini sah secara aturan, tidak adakah cara yang lebih
baik? Kenapa tidak langsung membeli dari pabrik?
Sejak itulah saya terus memikirkan tata cara pengadaan
barang dan jasa PLN agar lebih mencerminkan sebuah
perusahaan yang modern, yaitu cepat dan ringkas, barang atau
layanan yang didapat berkualitas dan oleh rekanan PLN yang
terpercaya, namun efisien dari segi biaya.
Akhirnya, di triwulan terakhir 2009, cara baru membeli trafo
dicoba di P3B JB, dengan menerapkan empat hal baru. Pertama,
beli langsung ke perusahaan pembuat trafo, kemudian meminta
agar trafo itu diantar langsung ke gardu induk. Kedua, karena ini
barang impor, maka dibayar dengan mata uang asing, sehingga
pemasok PLN terbebas dari risiko kurs. Ketiga, alih-alih pemasok,
PLN-lah yang membuka letter of credit, sehingga biaya yang
ditanggung pemasok juga turun. Keempat, termin pembayaran
dijadikan empat atau lima tahap sehingga cost of money yang
ditanggung pemasok turun drastis.
Sebelumnya, trafo dibayar setidaknya 18 bulan setelah
kontrak ditandatangani. Bayangkan berapa biaya bunga yang
Saatnya Hati Bicara
5
harus ditanggung pemasok. Semua biaya dan risiko yang
ditanggung pemasok itu pada akhirnya akan dibebankan ke
PLN dalam bentuk harga trafo. Dengan cara baru ini, mungkin
ditambah kondisi pasar global saat itu, harga trafo anjlok hampir
setengahnya, dan ketika PLN kemudian konsisten menerapkan
cara ini, harga trafo 500 kV nyaris tinggal sepertiga harga semula,
dan harga trafo 150 kV menjadi setengah harga semula.
Namun, taat aturan saja tidak cukup dan belum tentu juga
lebih efisien. Proses pengadaan barang jasa juga perlu kreatifitas.
Kreatifitas untuk memperoleh
harga yang efisien dan cara yang
praktis. Kreatifitas untuk terus
memikirkan proses pengadaan
yang mencerminkan korporasi
besar seperti PLN.
Saya sering menceritakan,
jika penyedia barang jasa hanya
ada dua perusahaan, apakah layak
untuk dilakukan pelelangan?
Jika lelang tetap dilakukan,
kemungkin-an yang terjadi
adalah terjadinya kongkalikong
di antara keduanya, atau sebaliknya, keduanya saling membunuh.
Karena itu cara pengadaan open book dipandang lebih tepat
dengan kondisi ini.
Perbaikan tata cara pengadaan barang dan jasa seperti
saya kisahkan di atas, hanyalah satu dari sederet perbaikan yang
tengah dilakukan PLN yang saat ini sedang bertransformasi
menjadi perusahaan bersih dan bebas korupsi. Untuk lebih
mempercepat transformasi itu, direksi berinisiatif untuk menjalin
kerja sama dengan jaringan international anti korupsi yaitu

PLN tercatat menjadi BUMN


pertama di Indonesia yang
membuka diri untuk menjalin kerja
sama dengan LSM anti-korupsi.
lingkup kerja sama PLN-TII adalah
kaji ulang proses bisnis pengadaan
dan pelayanan pelanggan agar di
kedua proses itu benar-benar tidak
ada lagi potensi korupsi
dan suap.

Saatnya Hati Bicara


6
Saatnya Hati Bicara
7
Transparency International Indonesia (TII).
PLN tercatat menjadi BUMN pertama di Indonesia yang
membuka diri untuk menjalin kerja sama dengan LSM anti-
korupsi. lingkup kerja sama PLN-TII adalah kaji ulang proses
bisnis pengadaan dan pelayanan pelanggan agar di kedua
proses itu benar-benar tidak ada lagi potensi korupsi dan suap.
Proses pengadaan PLN juga harus berstandar internasional serta
mencerminkan pendekatan sebuah korporasi besar, fleksibel
dan menjunjung tinggi asas efisiensi, bukan pendekatan sebuah
instansi pemerintah yang lebih mengedepankan proyek.
Sedangkan proses pelayanan pelanggan harus modern
dan didukung teknologi informasi yang canggih. Teknologi
itu telah dimulai dengan pemberlakuan layanan online untuk
penyambungan baru, penambahan daya dan sambungan
sementara melalui contact center PLN 123 yang menyediakan
lima channel yaitu website, email, call center, facebook dan twitter.
Kini, untuk meminta sambungan listrik tidak perlu lagi
harus datang ke loket pelayanan PLN. Ketiadaan pertemuan dan
tatap muka antara petugas PLN dan pelanggan/calon pelanggan
akan meminimalkan potensi terjadinya praktek penyuapan atau
pungutan liar.
PLN harus diarahkan menjadi perusahaan yang modern
yang salah satu cirinya adalah bebas dari korupsi. Saya sangat
ingin kita semua menjadi bangga bisa bekerja di perusahaan
besar dengan peran yang sangat strategis di Indonesia dan
terkenal bersih dan bebas dari korupsi. Semoga!
* Direktur Utama
PT PLN (Persero)
Saatnya Hati Bicara
8
Saatnya Hati Bicara
9
PLN Bersih di Proyek
10.000 MW
Syah Darwin Siregar*
Saatnya Hati Bicara
10
M
asyarakat telah mengetahui proyek pembangkit
percepatan 10.000 Mega Watt tahap I. Melalui proyek
ini, diharapkan nantinya masyarakat bisa menikmati
listrik lebih baik dan tidak ada lagi pemadaman bergilir. Selain
itu, masyarakat yang belum pernah mengecap listrik pun bisa
merasakan nikmatnya. Itulah mengapa proyek pembangkit ini
sangat diharapkan segera selesai.
Namun, pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW
tahap I yang seluruhnya merupakan Pusat Listrik Tenaga Uap
(PLTU) berbahan bakar batu bara, sebagian besar ternyata tidak
selesai tepat pada waktunya. Kontrak yang ditandatangani tahun
2007 pun sampai sekarang masih banyak yang belum mencapai
COD (Commercial Operation Date). Banyak hambatan yang terjadi,
baik dari sisi PLN maupun kontraktor. Pengalaman kontraktor yang
masih minim dalam membangun PLTU, kesulitan finansial, hingga
kualitas material yang kurang baik menyebabkan terlambatnya
penyelesaian proyek.
Unit Induk Pembangunan (UIP) Pembangkit Sumatera II
memiliki wilayah kerja dari Sumatera Barat terus turun ke selatan,
Bangka Belitung, sampai ke Kalimantan Barat bertugas mengelola
proyek pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW tahap I dan
proyek regular lainnya, antara lain PLTP dan PLTGU. Pengawasan
telah dimulai sejak dari sisi desain, pelaksanaan konstruksi dan
penyelesaiannya sampai dapat menghasilkan listrik. Dengan kata
lain, pengawasan telah dilakukan sejak dari lahan kosong di suatu
tempat tertentu sampai berdiri suatu bangunan kokoh penghasil
listrik untuk memenuhi keperluan pelanggan. Hambatan dalam
pelaksanaan mulai dari akses ke lokasi yang sulit dijangkau serta
kendala pada kontraktor menjadi tantangan bagi setiap insan
proyek.
Tegas dan sikap melayani merupakan cara kami dalam
Saatnya Hati Bicara
11
berhubungan dengan kontraktor. Kami tidak ingin peristiwa
penumpukan peralatan/material mekanikal/ elektrikal terulang
kembali. Pengiriman barang ke lokasi proyek harus disesuaikan
dengan kondisi di lapangan dan peralatan mekanikal/elektrikal
tidak boleh dikirim sebelum pekerjaan sipilnya dilaksanakan.
Peralatan yang terlalu lama di lay down area dapat menurunkan
kualitas apalagi penyimpanannya tidak baik. Barang yang akan
dikirim harus diberitahukan terlebih dulu oleh kontraktor, dan
baru boleh dikirim setelah ada
persetujuan.
Proses ini sudah
menjadi komitmen seluruh
staf kami dan disepakati oleh
kontraktor dan konsultan.
Pernah juga ada kontraktor
yang mencoba mengirim
barang mekanikal tanpa
pemberitahuan, namun
dengan tegas barang tersebut
tidak diterima dan progresnya
tidak diproses sehingga
kontraktor tidak mendapatkan
pembayaran atas pengiriman
barang tersebut. Walaupun pahit, namun sikap ini diharapkan bisa
memberikan pelajaran bagi kontraktor tersebut untuk bekerja
lebih baik lagi.
Informasi ini rupanya menjalar ke kontraktor lainnya.
Tentunya menjadi hal yang biasa kalau ada yang menyikapinya
sebagai sesuatu yang positif, selain ada juga yang menganggap
terlalu sadis dengan alasan dapat mematikan kontraktor. Namun,
menurut kami, ketegasan seperti itu sangat perlu, dan hal

walau banyak pihak yang selama


ini menganggap proyek sebagai lahan
basah, tapi bagi kami proyek adalah
kawah candradimuka yang menuntut
untuk harus berjalan tegak dan lurus
di jalur supaya tidak terjatuh di kawah
tersebut. berbelok sedikit, pasti jatuh,
pasti hancur! begitu kami dapat bekerja
profesional tanpa takut tekanan dari
pihak manapun. berani karena benar...
yah..komitmen untuk berada di jalur
yang bersih dan benar.

Saatnya Hati Bicara


12
Saatnya Hati Bicara
13
ini rupanya menjadi pemicu terjadinya proses percepatan di
lapangan. Kontraktor yang sudah telanjur mengirim barang dan
tidak diproses progresnya akhirnya berusaha untuk mempercepat
penyelesaian pekerjaan sipilnya.
Meskipun tegas, tetapi kami mengimbanginya dengan
sikap melayani dengan memberikan pelayanan yang baik dan
cepat kepada kontraktor. Setiap ada masalah diupayakan untuk
dicarikan solusi yang tepat dan terbaik. Jika invoice datang, proses
pembayaran pun tidak perlu menunggu lama. Biasanya tidak
sampai 2 minggu dan rata-rata kurang dari 1 minggu sudah dapat
diselesaikan. Hal ini menjadi penilaian sendiri bagi kontraktor.
Dari sisi pengadaan barang dan jasa, kami mempunyai
pekerjaan pendukung diluar kontrak utama. Walaupun
pekerjaannya tidak banyak namun proses pengadaannya
dilakukan melalui e-procurement. Dengan e-procurement peluang
kontak langsung antara penyedia barang jasa dengan panitia
pengadaan menjadi semakin kecil. Proses menjadi transparan dan
waktu memutuskan dapat lebih cepat dan terjadi kompetisi harga.
Namun, karena lokasi proyek yang jauh dari kota (remote
area) sering kali terjadi lelang ulang dan bahkan lelang dibatalkan
karena tidak ada peserta lelang yang memasukkan penawaran.
Selain itu pernah juga terjadi peserta lelang yang menang tidak
mau menandatangani kontrak dan meminta negosiasi harga
untuk naik, namun hal ini ditolak dengan tegas sehingga calon
pemenang lelang mengundurkan diri dengan konsekuensi
jaminan penawarannya dicairkan.
Walau banyak pihak yang selama ini menganggap proyek
sebagai lahan basah, tapi bagi kami proyek adalah kawah
candradimuka yang menuntut kami harus berjalan tegak dan
lurus di jalur supaya tidak terjatuh di kawah tersebut. Berbelok
sedikit, pasti jatuh, pasti hancur! Begitu kami dapat bekerja
Saatnya Hati Bicara
14
* General Manager
PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan
Pembangkit Sumatera II
profesional tanpa takut tekanan dari pihak manapun. Berani
karena benar...yah..komitmen untuk berada di jalur yang bersih
dan benar.
Dan Alhamdulillah, berkat kerja keras dan komitmen dari
seluruh pihak, salah satu proyek kami yaitu PLTP Ulubelu 2 x 55
MW telah selesai tepat waktu. COD Unit I tanggal 9 Oktober 2012
dan Unit II tanggal 23 Oktober 2012 lalu. Dengan beroperasinya
PLTP Ulubelu ini menambah pasokan daya ke sistem Sumatera
khususnya sistem Lampung sebesar 110 MW dan memberikan
penghematan pemakaian BBM 660.000 liter atau lebih kurang
Rp 5,6 miliar per hari. Dalam setahun bisa dilakukan penghematan
sekitar Rp 2 triliun atau sama dengan harga investasi proyek.
Selain itu satu unit PLTU Lampung 100 MW dan satu
unit PLTU Bangka 30 MW sudah sinkron dan diharapkan awal
Desember 2012 memasuki Realibility Run Test dengan harapan
semuanya berjalan dengan lancar karena telah beberapa kali
menjalani perbaikan. Memang kualitas barang buatan Cina
kelihatannya lebih rendah dari buatan Jepang.
Yah...dari hal sekecil apa pun, ketegasan dan sikap
melayani perlu dilakukan semua insan PLN demi mewujudkan
PLN yang bersih. Hal ini bisa terwujud tentunya dimulai dari hal
yang kecil untuk sesuatu yang besar dan komitmen bersama
untuk menjadi yang lebih baik.
Saatnya Hati Bicara
15
Menuju PLN Bersih
dan Melayani
Titi Bejane
Saatnya Hati Bicara
16
K
etika mulai bergabung dengan PLN lebih dari 30 tahun yang
lalu (pada waktu itu masih berbentuk perusahaan umum),
beruntung sekali saya ditempatkan dalam satu unit (sebut
saja unit A) yang dipimpin oleh seseorang yang sangat tegas dan
terkenal dengan integritasnya. Sampai saat ini saya masih sangat
terkesan dengan sikapnya, terutama dalam memegang prinsip
bersih dari korupsi. Bingkisan apapun yang diberikan oleh
pemborong atau pihak manapun yang diperkirakan mempunyai
kepentingan dengan PLN akan dikembalikannya.
Beberapa waktu kemudian saya dimutasikan ke unit PLN
lainnya (sebut saja unit B). Astaga, ternyata bos saya yang semula
di unit A dimutasikan juga menjadi salah satu unsur pimpinan di
unit B. Pimpinan tertinggi di unit B itu juga orang yang bersahaja
dan dikenal bersih dari korupsi. Pesan pimpinan tertinggi di unit
B yang masih terngiang di telinga mantan anak-anak buahnya
adalah, Jangan meminta hadiah atau balas jasa, jangan memeras
dan jangan mempersulit kontraktor.
Kalau digabung dengan sikap mantan bos di unit A, maka
lengkaplah semboyan antikorupsi yang menjadi pegangan korps
kami di unit B yang menangani pekerjaan dengan nilai raksasa,
yaitu, Jangan meminta, bahkan diberi hadiah-pun dari kontraktor,
jangan...!
Bisa dibilang periode balita (bawah lima tahun) pengalaman
kerja saya memberi kesan bahwa PLN itu bersih. Pendewasaan
berlangsung ketika saya harus mutasi ke unit PLN yang lain lagi
(sebut saja unit C). Unit tersebut merupakan suatu unit organisasi
yang telah terbentuk cukup lama dengan lingkup pekerjaan yang
relatif tetap dan berulang-ulang. Di unit ini (lebih dari 25 tahun
yang lalu) saya baru mengetahui belang lingkungan kerja yang
sesungguhnya. Ternyata, tidak semua unsur di dalam PLN itu
bersih.
Saatnya Hati Bicara
17
Ada oknum dari unsur-unsur tertentu dalam unit C yang
kemungkinan bekerjasama untuk memanfaatkan sebagian
anggaran tahunan unit C untuk kepentingan diri sendiri ataupun
kelompoknya. Pada waktu itu ada yang memberitahu saya bahwa
di institusi lainnya, kerjasama kotor tersebut lazim dijumpai.
Untuk setiap transaksi, pemberi pekerjaan akan menerima komisi
sekian persen. Di sini saya baru dapat memahami makna berita
di media massa yang terkadang memuat topik tentang komisi
sepuluh persen, tentang kebocoran anggaran, dan sebagainya.
Dalam kodisi seperti ini, setiap
pegawai yang berada di dalam suatu
institusi atau unit seperti di unit C
tersebut, memperoleh ujian yang
sesungguhnya; yaitu tetap bertahan
dalam posisi tetap bersih atau
berperan menambah warna hitam
dalam lembaran kehidupan PLN.
Ketika beberapa waktu yang
lalu pemerintah menyuarakan sikap
tegas dalam pemberantasan korupsi,
saya sempat beranggapan bahwa
sejak saat itu pula praktek-praktek
korupsi dapat dieliminasi sampai
ke titik nadir. Namun, kenyataan bicara lain. Di awal tahun ini,
seorang pegawai yang sudah bekerja di PLN sekitar tujuh tahun,
dari suatu bagian yang banyak berinteraksi dengan perusahaan
lain, mencurahkan isi hati kepada saya tentang sulitnya tetap
bersih di lingkungannya yang kotor.
Dia pun bercerita tentang hadiah yang pernah disodorkan
oleh seseorang. Apa yang harus saya lakukan dengan hadiah
itu? dia bertanya gamang.

apabila pimpinan tertinggi


memberi warna hitam, maka
kemungkinan besar seluruh
unit tersebut akan turut
berwarna hitam. mungkin
tetap akan ada beberapa
pegawai yang sanggup
bertahan dengan prinsip hidup
bersih. namun, dia tak akan
bisa berbuat banyak.


Saatnya Hati Bicara
18
Saatnya Hati Bicara
19
Saya menjawab, Jangan diterima. Anda akan merasa lebih
berbahagia kalau Anda mampu menolak pemberian tersebut,
dibandingkan kalau Anda menerima.
Dia terlihat berpikir serius. Saya berharap agar dia dapat
bertahan tetap bersih.
Mencermati kondisi yang diuraikan di atas, saya
menyimpulkan bahwa untuk mewujudkan kondisi yang bersih di
dalam suatu unit, maka peran pimpinan tertinggi di unit tersebut
sangat menentukan. Apabila pimpinan tertinggi memberi warna
hitam, maka kemungkinan besar seluruh unit tersebut akan turut
berwarna hitam. Mungkin tetap akan ada beberapa pegawai
yang sanggup bertahan dengan prinsip hidup bersih. Namun, dia
tak akan bisa berbuat banyak.
Apabila pimpinan tertinggi memberi warna putih bersih,
maka unit tersebut dipastikan akan memiliki kondisi bersih.
Mungkin ada segelintir pegawai yang mencoba mencoreng
dengan warna hitam. Namun, dengan pengawasan tersistem,
warna hitam itu tentunya bisa dilokalisir.
Kondisi bersih pada hakekatnya merupakan hasil dari
implementasi sikap hidup yang melayani dan mensyukuri
kasih karunia dan anugerah Tuhan dalam kehidupan seseorang.
Kebijakan PLN dalam memberikan penghasilan yang memadai
bagi para pegawai sesuai dengan tingkat jabatannya, yang
dilengkapi dengan fasilitas pemeliharaan kesehatan, seyogyanya
sudah membuat para pegawai dapat bekerja dengan tenang
dan penuh rasa syukur. Rasa bersyukur atas segala sesuatu yang
telah diterima dari PLN, seharusnya dapat diwujudkan oleh para
pegawai dengan sikap melayani; Saya melayani pelanggan saya
karena memang saya sudah dibayar untuk maksud tersebut.
Upaya untuk menanamkan nilai-nilai bersyukur tampaknya
memang tidak biasa bagi sebuah perusahaan. Nilai-nilai itu lebih
Saatnya Hati Bicara
20
sering diutarakan dalam acara-acara ibadah. Akan tetapi demi
perwujudan PLN Yang Bersih dan Melayani, kiranya para pimpinan
tertinggi dari Unit-unit PLN tidak segan-segan dan tidak bosan-
bosan menanamkan nilai rasa syukur di lingkungan kerja unitnya.
Saatnya Hati Bicara
21
Merajut Mimpi
di PLN
Risan Dananjaya*
Saatnya Hati Bicara
22
S
enin, 4 Januari 2010 adalah hari pertama saya menginjakkan
kaki di Kabupaten Sikka, Maumere, Pulau Flores. Di pulau
inilah saya mengawali karir sebagai pegawai PLN Wilayah
NTT Area Flores Bagian Timur. Selama tiga tahun berkarya di unit
ini, banyak kisah menarik untuk diceritakan.
Saat On the Job Training (OJT) satu minggu pertama,
saya belajar banyak hal mulai dari distribusi, pembangkitan,
administrasi keuangan, dan terakhir memperdalam ilmu niaga
dan pelayanan pelanggan. Namun, saya sempat kaget saat
pengangkatan pegawai PLN pada Surat Keputusan (SK) tertulis
assitant officer kesejahteraan SDM, yang tentu saja tidak sesuai
dengan bidang OJT saya.
Akan tetapi saya harus siap
ditempatkan di manapun, bekerja
dan belajar sebaik-baiknya. Setelah
setahun lebih di kepegawaian,
saya dimutasi jabatan lagi sebagai
assistant analyst. Lagi-lagi ilmu baru
harus saya pelajari.
Tahun 2011 saya tergabung
dalam Tim Pemeriksaan Barang dan
Jasa. Pada suatu hari saya ditelepon
oleh seorang perantara. Tiba-
tiba dia menyampaikan, ada salah
seorang rekanan yang meminta nomer rekening saya. Saya tanya,
Untuk apa ?
Perantara itu menjawab, Sebagai ucapan terima kasih.
Saya kembali menjawab, Saya tidak bisa menerima. Saya
hanya bekerja sewajarnya sesuai dengan SOP dan aturan yang
berlaku. Sebaiknya kita bekerja saja yang baik-baik, terima
kasih.

manajemen PLN telah


menyampaikan bahwa rekanan
dilarang memberikan sesuatu
kepada karyawan pln, tetapi
nyatanya masih juga dilakukan.
maka dari itu, benteng awal
adalah diri kita masing-masing.
kita harus bersih dan melayani
rekanan dan pelanggan dengan
baik dan sopan


Saatnya Hati Bicara
23
Saatnya Hati Bicara
24
Manajemen PLN telah menyampaikan bahwa rekanan
dilarang memberikan sesuatu kepada karyawan PLN, tetapi
nyatanya masih juga dilakukan. Maka dari itu, benteng awal
adalah diri kita masing-masing. Kita harus bersih dan melayani
rekanan dan pelanggan dengan baik dan sopan.
Sebagai karyawan, selain berusaha bekerja sesuai
ketentuan dan etika yang berlaku, para pegawai muda PLN Area
Flores Bagian Timur (FBT) juga banyak berdiskusi secara terbuka
tentang harapan dan perubahan yang kami inginkan di unit ini.
Beberapa harapan itu mulai dari perbaikan mesin, jaringan,
transaksi energi, kepegawaian, hingga sistem mutasi. Misalnya,
untuk menduduki jabatan supervisor seharusnya seluruh pegawai
memiliki kesempatan yang sama dan berdasarkan fit and proper
test, bukan hanya karena ditunjuk melalui rapat pimpinan. Kami
juga ingin semua unit PLN memiliki fasilitas olahraga yang
lengkap, seperti lapangan futsal, bola voli, tenis, badminton,
dan tenis meja. Selain itu kami juga butuh acara seperti kumpul
keluarga setiap tiga bulan sekali. Dan terutama, kami berharap
setiap pegawai PLN memiliki kesempatan yang sama terkait
program pengembangan pegawai.
Semoga saja segala impian dan cita-cita demi masa depan
PLN yang lebih baik, baik sebagai sebuah perusahaan maupun
kumpulan individu yang bekerja di dalamnya bisa terwujud.
* Assistant Analyst Kinerja, Area Flores Bagian Timur
PT PLN (Persero) Wilayah Nusa Tenggara Timur
Saatnya Hati Bicara
25
Sosok Impianku,
PLN Bersih
Misbakul Munir*
Saatnya Hati Bicara
26
S
enin, 19 November 2012. Para wakil Penyedia Barang/Jasa
(PBJ) Proyek Sumber Dana APBN tahun anggaran 2012
satuan kerja Unit Induk Pembangunan (UIP) berkumpul di
ruang rapat lantai III Kantor PLN UIP Jaringan Sulawesi Maluku
Papua (Sulmapa). Mereka diundang untuk mempresentasikan
rencana penarikan APBN mengingat batas akhir pengajuan Surat
Perintah Membayar (SPM) ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan
Negara (KPPN) akan jatuh pada tanggal 17 Desember 2012.
Saya diminta bergabung. Sang wakil PBJ dengan suara
lantang sebesar badannya berorasi, bahwa tidak akan ada
penarikan kecuali pembayaran MOS (material on site) dibuat
sebagai kebijakan. Mukjizat datang, habis istirahat, Keputusan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor : 3106
K/90/MEM/2012 tanggal 9 November 2012 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Kegiatan Kontrak
Tahun Jamak SubSektor Ketenagalistrikan pun diterima. Ini yang
kemudian mau dijadikan payung untuk melakukan Amandemen
Tata Cara Pembayaran dari terpasang menjadi MOS.
Karena saya tidak paham Perpres (Peraturan Presiden),
sehari berikutnya, saya pun berguru ke pakarnya: Panitia
Pengadaan Barang dan Jasa. Saya ditunjukkan salah satu bagian
dari Lampiran III Perpres No 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah, Pembayaran dilakukan senilai pekerjaan
yang telah terpasang, tidak termasuk bahan/material dan peralatan
yang ada di lokasi pekerjaan. Sebagai penguat, saya dibukakan
Pasal 129 Ayat (3) Perpres 70 2012 tentang Perubahan Kedua Atas
Perpres 54 2010, Pengaturan Pengadaan Barang/Jasa yang dibiayai
APBN, apabila ditindaklanjuti dengan Keputusan Menteri/Pimpinan
Lembaga/Institusi Pengguna APBN, harus tetap berpedoman serta
tidak boleh bertentangan dengan ketentuan Peraturan Presiden in.
Mencium indikasi melawan hukum/abuse of power yang
Saatnya Hati Bicara
27
merupakan salah satu Tindak Pidana Korupsi (TPK) berdasarkan
UU 31/99 jo UU 20/2001 pasal 2, dalam benak spirit idealisme
saya menjerit, Seandainya saya seorang dari Pejabat Pembuat
Komitmen/General Manager (PPK/GM), saya tidak akan pernah
mengeluarkan amandemen demikian karena ia tampak jelas
menyalahi kekuatan Perpres.
Walaupun saya akan dibenci,
dikucilkan atau dipecat. saya harus
tetap maju. Berani. Cegah korupsi.
Namun,seorang senior justru
mengatakan sebaliknya, Orang
saklek macam kamulah yang
membawa PLN pada kemunduran.
PBJ adalah mitra, jadi harus dibantu
cash flow-nya untuk menyelesaikan
proyek.
Lalu uang muka (UM) yang
sudah diterima dipakai untuk
apa? pikir saya.
Ternyata betul pendapat
Tim Audit Inspektorat awal tahun
ini bahwa sebelum memberi uang
muka (UM), mintalah terlebih dulu
rencana pemakaian UM tersebut.
Namanya juga pengusaha, pastilah uang tersebut dipakai untuk
proyek yang segera akan menghasilkan uang berikutnya. Alibi
kedua, PLN perlu penyerapan tinggi supaya tahun depan diberi
anggaran lagi. Haruskan kita melanggar aturan supaya dapat
proyek? Bukankah ini APBN, uang rakyat? Tidak berdosakah kita
membelanjakannya sesuka kita? Apakah pendapat saya salah?
Pertanyaan itu tak terjawab. Dan mungkin tidak akan pernah

mencium indikasi melawan


hukum/abuse of power yang
merupakan salah satu tindak
pidana korupsi (tpk) berdasarkan
uu 31/99 jo uu 20/2001 pasal
2, dalam benak spirit idealisme
saya menjerit, seandainya saya
seorang dari pejabat pembuat
komitmen/general manager (ppk/
gm), saya tidak akan pernah
mengeluarkan amandemen
demikian karena ia tampak jelas
menyalahi kekuatan peraturan
perpres. walaupun saya akan
dibenci, dikucilkan atau dipecat.
saya harus tetap maju. berani.
cegah korupsi



Saatnya Hati Bicara
28
Saatnya Hati Bicara
29
mendapatkan jawabannya. Tetapi, saya pun tidak akan diam, akan
terus mempertanyakannya.
Yang jelas Proyek PLTP (Pembangkit Listrik tenaga Panas)
Lahendong selesai tepat jadwal tanpa perpanjangan waktu
(extension of time/EOT), meskipun proses administrasi kontraknya,
dilaksanakan dengan prinsip kepatuhan (compliance) pada Pakta
Integritas Tata Kelola Perusahaan yang Baik dan Bersih (Good
Corporate Governance/GCG) dan berlangsung lama karena
melewati beberapa lapis verifikasi di PLN UIP dan Pusat.
Bahkan di tahun 2009, terjadi penundaan pembayaran
akibat Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (Subsidiary Loan
Agreement/DIPA-SLA) diblokir oleh DPR. Tetapi, kontraktor terus
bekerja, bekerja dan bekerja demi menjaga profesionalisme dan
reputasi. Alhasil, proyek pun selesai tepat jadwal.
Saya teringat serunya pembahasan tentang penyesuaian
harga antara Tim PLN dan Kontraktor di tahun 2011. Kekejaman
dan ketegasan Tim PLN saya yakin bukan karena dendam bahwa
kita pernah dijajah oleh negara asal sang kontraktor, tapi akibat
tingginya rasa memiliki terhadap PLN, Bangsa dan Negara.
Pertemuan pertama, 25 Januari 2011, PLN minta Indeks
harga bahan bakar didasarkan dari Pertamina, bukan OPEC,
sesuai kontrak. Pertemuan kedua, 9 Maret 2011, PLN minta
jaminan (insurance) dan pelatihan (training) tidak masuk dalam
penyesuaian. Desain juga diminta tidak dirubah. Konsultan
Implementasi Proyek (Project Implementation Consultant/PIC)
diminta mereview dan memberikan rekomendasi. Pertemuan
ketiga, 13 April 2011, PLN setuju dengan hasil review dan
rekomendasi nilai penyesuaian harga (price adjustment) dari
PIC yang kemudian disampaikan ke BPKP (Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangunan) untuk diaudit.
Bulan Mei 2011 adalah bulan puasa SPPD (surat
Saatnya Hati Bicara
30
* Assistant Engineer Kontrak International
Bidang Operasi Konstruksi
PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Jaringan
Sulawesi, Maluku dan Papua.
perintah perjalanan dinas) di PLN. Tanpa SPPD, saya harus ke
PLTP Lahendong IV menemani Tim Audit BPKP melakukan
pemeriksaan fisik dalam rangka audit penyesuaian harga. BPKP
minta perhitungan penyesuaian harga direvisi total. Pembahasan
antara BPKP dan PLN versus kontraktor berlangsung alot. Saking
serunya, nilai penyesuaian harga baru rampung Agustus. Begitu
bangga saya dengan Tim PLN plus BPKP, penuh semangat anti
korupsi, tidak akan dibiarkan dana DIPA SLA dipakai di luar aturan.
PLN Bersih, ibarat sosok impian saya.
Move on. Youre not alone. Ribuan jiwa anti korupsi akan
menerbangkanmu. Jikapun suatu saat tubuh pemilik jiwa-jiwa
tersebut mati. Semua akan baik-baik saja. Karena jiwa itu akan
terus hidup.
Saatnya Hati Bicara
31
Awas
Jebakan Korupsi Ada
Dimana-mana
Ridho Hutomo*
Saatnya Hati Bicara
32
S
elepas menuntaskan sebuah proyek, tiba-tiba ada amplop
putih tebal disodorkan seseorang kepada saya. Ini Pak,
ada sedikit ucapan terima kasih.
Muka saya memerah. Campur aduk antara marah dan
merasa dipermalukan. Namun
saya menahan diri. Mohon
maaf. Saya bekerjasama
dengan Ibu karena kerja
perusahaan Ibu memang
bagus. Tolong Ibu ambil lagi.
Kalau masih mau kerjasama
dengan saya, jangan pernah
hal seperti ini dilakukan lagi.
Oh, mohon maaf Pak,
soalnya yang sudah-sudah
biasanya seperti ini....
Saya bukan orang yang sudah-sudah ya Bu!
Setelah beberapa waktu saya berpikir, kalau hal ini
diperjelas dari awal, tentu saya bisa menegosiasikan harga yang
lebih baik agar biaya yang dikeluarkan perusahaan lebih efisien.
Saya yakin bukan hanya saya sendiri yang pernah mengalami hal
seperti ini.
Akronim KKN, mungkin hampir semua orang sudah
mengerti kepanjangannya, Korupsi, Kolusi, Nepotisme. Dan
belakangan sebuah akronim lain yang terkait dan populer adalah
KPK, Komisi Pemberantasan Korupsi.
Masyarakat bilang PLN sarangnya korupsi, tapi orang PLN
bilangnya korupsi sekarang sudah berkurang, kalaupun ada itu
hanya kasus tertentu saja. Apapun dalihnya korupsi tetap terjadi
dan sesungguhnya mewujud dalam kehidupan sehari-hari.

masa dibayar tinggi hanya untuk


menagih-nagih kerjaan. sudah
mengeluh di jam kantor, menyita
waktu orang yang mendengarkan,
menyebarkan virus negatif pula. nanti
pas pulang kantor maunya on time.
orang ini tidak sadar sudah melakukan
korupsi pekerjaan.


Saatnya Hati Bicara
33
Coba kita renungkan, ketika seorang karyawan digaji tinggi
tapi tidak menjalankan tugasnya. Atau masuk kantor kerjanya
cuma mengeluh, mengobrol, curhat, menyalahkan orang lain,
nonton tv, baca koran. Apa ini namanya?
Suatu kali pernah seorang pegawai senior datang
menghampiri saya, dan berkata, Coba lihat itu mas, masa
pemimpin kok tidak bla...bla... Intinya mengeluh.
Kemudian saya bertanya, Lalu apa yang Bapak dan Ibu
bisa lakukan? Pegawai senior itu cuma berkata, Saya kan cuma
fungsional, tidak punya jabatan, kerjaan saya cuma nagih-nagih
kerjaan saja, kalau tidak ditagihin, orang-orang pada gak mau
nyetor hasil kerjaannya. Saya tidak cocok menjadi pemikir, kan
sudah ada si anu. Dia menyebut orang lain. Ada lagi contoh
nyeleneh, Ah... saya kan sudah tua, biar yang muda-muda saja
lah yang mengerjakan itu!
Bukankah orang yang sudah tinggi level jabatannya,
seharusnya membantu perusahaan memberikan solusi
permasalahan yang terjadi. Bukan cuma menyalahkan orang
saja. Masa dibayar tinggi hanya untuk menagih-nagih kerjaan.
Sudah mengeluh di jam kantor, menyita waktu orang yang
mendengarkan, menyebarkan virus negatif pula. Nanti pas pulang
kantor maunya on time. Orang ini tidak sadar sudah melakukan
korupsi pekerjaan.
Korupsi yang juga jamak terjadi adalah korupsi waktu.
Banyak karyawan yang digaji setiap bulan dan tidak pernah
dipotong penghasilan bulanannya meskipun datang ke kantor
telat atau tidak masuk. Misalnya si karyawan masuk kantor jam
8 pagi, padahal jam kerja seharusnya pukul 7.30 sampai dengan
pukul 16.00.
Alasannya macet di jalan. Pas istirahat siang jam 12.00,
Saatnya Hati Bicara
34
Saatnya Hati Bicara
35
sholat, makan, ngobrol, masuk kantor lagi jam 14.00. Sehari bisa
korupsi waktu kurang lebih 2 jam. Belum lagi pas jam bekerja
melayani obrolan tidak penting, buka-buka internet, dan lain-lain.
Bisa jadi dalam sehari efektif bekerja cuma 2-3 jam. Apa kalau
bukan korupsi waktu ini namanya?
Contoh korupsi yang juga sering dilakukan adalah saat
perjalanan dinas. Nah, yang namanya dinas itu kan bekerja,
bukan jalan-jalan atau mencari tambahan penghasilan. Nyatanya
masih ada saja pegawai yang melakukan perjalanan dinas entah
untuk menghadiri rapat atau pelatihan, tapi saat rapat tidak
berkontribusi atau saat pelatihan tidak serius. Pokoknya dapat
kesempatan jalan-jalan, dapat duit tambahan, dan tidak bekerja.
Masalah lainnya terkait jabatan. Kalau untuk yang satu ini
ngomongnya agak berat, karena implikasinya besar sekali. Ada
pemimpin yang kerjanya marah-marah saja, menyalahkan anak
buah. Padahal tidak pernah memberikan arahan, boro-boro
arahan, visinya sebagai pemimpin saja tidak ada, kalau ditanya
anak buahnya pada tidak tahu. Akibatnya anak buahnya bekerja
tidak produktif, dan kinerja perusahaan melempem. Belum lagi
kalau bicara soal pengadaan barang dan jasa, dengan alasan
kepepet dan mendesak, maka ada pesan-pesan kalau vendor-
nya harus ini dengan harga sekian. Boro-boro cari pembanding,
panitia pengadaannya saja belum ada. Kepepet kok rutin
dilakukan setiap tahun.
Membiarkan, acuh, atau cuek terhadap sesuatu yang sudah
diketahui adalah bentuk dari korupsi tanggung jawab jabatan.
Orang muslim kalau tidak sengaja makan babi karena tidak tahu
masih dimaafkan, tapi kalau sudah tahu itu daging babi, masih
dimakan dengan alasan pura-pura tidak tahu, sudah pasti ini dosa.
Saya berharap semua orang mengenal bahwa itu semua
Saatnya Hati Bicara
36
adalah bentuk dari korupsi. Untuk menghilangkan korupsi
katanya berawal dari pemimpin, namun sesungguhnya semua itu
berawal dari diri sendiri. Mengapa? karena setiap orang adalah
pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri.
* Deputy Manajer Pengembangan Organisasi dan SDM
PT PLN (Persero) Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Saatnya Hati Bicara
37
Disandera Karena
Korupsi atau Korupsi
Karena Disandera
I Nyoman Sujana*
Saatnya Hati Bicara
38
S
ejak beberapa tahun terakhir, semangat antikorupsi dan
good corporate governance telah menjadi komitmen PLN.
Timbullah berbagai aturan, rambu-rambu dan koridor,
baik yang tertuang secara tertulis atau hanya merupakan logika
kerja atau himbauan moral untuk menghindari halhal yang
kontraproduktif dengan efisiensi dan antikorupsi. Kita pun
bersemangat untuk tidak
melakukan pemborosan
ataupun korupsi, tetapi,
seringkali tanpa sadar kita
kerap melanggarnya.
Saya ingin
mengisahkan pengalaman
tidak mengenakkan itu,
sehingga hati ini merasa
berdosa telah melakoninya.
Bukannya hendak
menyalahkan siapa pun,
tetapi, mari bersama-sama berefleksi dan mengoreksi diri.
Ini adalah salah satu pengalaman pribadi yang kami
alami dalam program pengadaan mesin sewa di salah satu
sistem kelistrikan. Pada proses pelaksanaannya, terjadilah
penyimpangan atas target waktu yang direncanakan. Rapat
evaluasi kemajuan pekerjaan sering dilakukan, namun pihak
pelaksana lebih sering hanya membuat janji baru. Tiada henti
kami bersama temanteman memacu pihak pelaksana agar
mempercepat pekerjaannya.
Walaupun terlambat, mesin yang merupakan bagian utama
dari obyek sewa itu pun akhirnya tiba. Tetapi, sekali lagi, kami
direpotkan karena mesin itu tak bisa dioperasikan. Perlengkapan
mesin tersebut ternyata tak segera tiba.

sangatlah mudah menyimpulkan


bahwa hal itu terjadi karena mitra kerja kita
tidak profesional, tapi tentu kita pun ikut
terlibat. ini harus dimulai dengan proses
memprofesionalkan diri dan mereka,
hingga suatu saat nanti kita hanya
berhadapan dengan pilihan yang mudah
karena semua pilihan sudah semakin
profesional.


Saatnya Hati Bicara
39
Ingin rasanya bertindak tegas mencari solusi lain,
misalnya dengan memutus kontrak dan melakukan tender ulang.
Tapi apakah itu lebih baik? Apakah itu lebih cepat mengatasi
krisis daya yang terjadi mengingat program sudah berada di
pertengahan atau bahkan hampir di penghujung jalan?
Seandainya saja mesinnya belum datang, mungkin lebih
enteng untuk mengambil langkah. Tetapi, bukankah kita juga
yang membantu mendorong percepatannya, sehingga mesinnya
datang? Mungkinkah berpengaruh juga hal-hal non teknis yang
timbul sebagai efek dari kemampuan marketing para mitra kerja
yang begitu baik menjangkau level yang sangat luas?
Semua pemikiran itu menyandera kami, hingga belakangan
baru kami sadari bahwa begitu lama pekerjaan itu tertunda dan
begitu banyak waktu tersia-siakan akibat pikiran, waktu, dan
perhatian tercurah lebih banyak hanya kepada satu pekerjaan
itu. Bukankah itu bagian dari inefisiensi dan korupsi waktu?
Bukankah, sebagaimana kata pepatah, waktu adalah uang?
Sangatlah mudah menyimpulkan bahwa hal itu terjadi
karena mitra kerja kita tidak profesional, tapi tentu kita pun ikut
terlibat. ini harus dimulai dengan proses memprofesionalkan
diri dan mereka, hingga suatu saat nanti kita hanya berhadapan
dengan pilihan yang mudah karena semua pilihan sudah semakin
profesional.
Kita rupanya disandera oleh diri kita sendiri sehingga
melakukan korupsi waktu. Jadi apakah kita disandera karena
korupsi atau kita korupsi karena tersandera? Mari kita renungkan
dan satukan frekuensi karena tidak mudah membebaskan diri
dari belenggu sandera yang telah sekian lama mengakar dalam
budaya kerja kita.
Apa yang harus kita lakukan? Tentu kita harus berbenah
guna meningkatkan profesionalisme kita. Ada satu hal yang
Saatnya Hati Bicara
40
Saatnya Hati Bicara
41
menarik yaitu ternyata mitra kerja kita tidak takut oleh gertakan
kita yang mengancam keberlangsungan usaha mereka, mungkin
karena mereka yakin dengan kekuatan atau kemampuan
marketing dan jejaring bisnis mereka yang semakin kokoh.
Akan tetapi, pengusaha yang bermitra dengan kita tentu
mempergunakan uang bank atau lender untuk menjalankan
usahanya. Janganjangan mereka lebih takut kepada bank
daripada kepada kita. Ini adalah peluang untuk membenahinya,
akankah para pengusaha itu mau berbenah lebih cepat bila kita
informasikan kondisi cara kerja mereka kepada pihak bank?
Ini barangkali ide kecil tapi bisa berdampak besar
terhadap perbaikan profesionalisme para pengusaha mitra
kerja kita. Mampukah ide ini kita jalankan karena taruhannya
jabatan dan karier? Tapi, tunggu dulu, janganjangan keraguan
untuk menjalankan ide karena alasan ini dan itu adalah sebuah
belenggu baru.
Mari kita bersamasama membebaskan diri dari sandera
sandera maya yang membelenggu. Baik yang berada pada
tingkat organisasi PLN terkecil sampai organisasi puncak harus
menciptakan iklim yang tidak semakin memperkuat belenggu
yang sudah begitu menggurita dalam budaya kerja kita.
* Manajer Bidang Teknik
PT PLN (Persero) Wilayah Nusa Tenggara Timur
Saatnya Hati Bicara
42
Saatnya Hati Bicara
43
Jangan Sampai
Terbujuk
Helmi Najamuddin*
Saatnya Hati Bicara
44
S
ejak saya menjabat sebagai Kepala Divisi (Kadiv) Batu Bara
PLN setahun lebih yang lalu. Sejak itu, sudah lebih dari dua
puluh kali harus menghadapi itikad tidak baik dari oknum
pemasok batu bara. Rata-rata setiap bulan, ada saja oknum
pemasok yang membujuk saya untuk menerima suap.
Saya masih ingat, ketika baru seminggu menjabat Kadiv
Batu Bara PLN, salah satu pemasok batu bara menawarkan acara
syukuran atas pengangkatan saya. Mungkin karena melihat saya
selalu pakai kopiah dan berjenggot, si pemasok itu menawarkan
untuk pengajian di hotel atau di masjid dengan mengundang
penceramah yang bagus. Waktu itu saya bilang tidak usah.
Mungkin, pengajiannya bagus, tapi menurut saya tidak usah
diadakan syukuran seperti itu.
Tidak lama setelah kejadian itu, tepatnya seminggu
kemudian, pemasok yang sama kembali mendatangi saya. Dia
meminta kebijakan saya agar batu bara yang mereka kirim
diterima saja walaupun kualitasnya tidak bagus. Dengan tegas
saya katakan, PLN tidak akan menerima batu bara yang tidak
sesuai spesifikasi. Kalau batubaranya jelek, ya harus bilang jelek,
jangan mau dibilang bagus.
Biasanya, pemasok batubara selalu melakukan kerjasama
dengan PLN dalam kontrak jangka panjang sekitar 20 tahunan.
Bisa jadi dalam pengiriman pertama, kualitas batubara sesuai
dengan spesifikasi yang tertuang dalam perjanjian itu. Akan tetapi,
namanya hasil tambang, tidak semua batu bara mulus terus. Ada
kalanya kualitas batubara menurun dan si pemasok tetap ingin
mengirimnya untuk PLN. Karena itu pada pengiriman berikutnya
biasanya disertai bujukan agar PLN bersedia menerimanya. Seperti
kebun mangga, ada buahnya yang manis dan ada pula yang kecut.
Suatu ketika pemasok mengirimkan yang kecut padahal dalam
perjanjiannya minta dikirim manis, ya kita harus menolaknya.
Saatnya Hati Bicara
45
Untuk kasus-kasus seperti ini saya berprinsip jangan
pernah kita memberikan celah bagi pemasok nakal. Kita harus
berani menolak walaupun iming-iming menarik di depan mata.
Untung saja tawaran acara syukuran pengajian minggu
sebelumnya itu saya tolak. Kalau tidak bisa-bisa kemudian saya
merasa hutang budi dan akhirnya berkompromi menerima saja
batubara berkualitas rendah itu.
Pemasok batubara yang
seperti ini, pada dasarnya bukan
seorang dermawan, tapi kikir,
baik hati ataupun materi. Mereka
hanya berorientasi mengambil
uang rakyat lebih banyak dengan
pengeluaran yang lebih sedikit.
Bayangkan, satu tongkang
isinya 8 ribu ton batubara yang
nilainya sekitar Rp 6 miliar. Padahal
dalam sebulan pengiriman bisa
mencapai 20 tongkang dan itu
artinya PLN harus berbelanja
batubara mencapai 57 juta ton
setahun atau sekitar sekitar Rp 35
triliun lebih. Belum lagi untuk tahun depan akan mencapai sekitar
64,1 juta ton batubara atau sekitar Rp 42 triliun lebih. Jumlah ini
besar sekali dan melibatkan uang banyak, yang bisa membuat
orang tergelincir jika tidak hati-hati.
Tidak hanya sekali. Ada juga oknum pemasok batubara lain
yang menawarkan kepemilikan saham sekian persen atas kapal
pengangkutan batubaranya.
Intinya, ada banyak cara yang mereka lakukan, melalui
pendekatan ajakan main golf-lah atau makan siang, dan semacamnya.

PLN akan selalu menjadi lahan


basah bagi mereka yang ingin
meraup keuntungan. dan setan
pun senantiasa menggoda kita dari
berbagai arah agar memberikan
kemudahan yang tidak wajar. sudah
semestinya kita sadar, hal-hal kecil
bisa menjerumuskan kita ke lembah
kenistaan. syukurlah, manajemen
PLN lebih dini membentengi
anggotanya untuk menghindari
tindakan-tindakan korupsi.


Saatnya Hati Bicara
46
Saatnya Hati Bicara
47
Saya jadi bertanya-tanya, buat apa mereka menawarkan hal itu kalau
bukan ada pamrih sesuatu yang lebih besar untuk didapatkan?
PLN akan selalu menjadi lahan basah bagi mereka yang
ingin meraup keuntungan. Dan setan pun senantiasa menggoda
kita dari berbagai arah agar memberikan kemudahan yang
tidak wajar. Sudah semestinya kita sadar, hal-hal kecil bisa
menjerumuskan kita ke lembah kenistaan. Syukurlah, manajemen
PLN lebih dini membentengi anggotanya untuk menghindari
tindakan-tindakan korupsi.
Saya cukup gembira ada program PLN Bersih. Mudah-
mudahan bisa dijalankan oleh seluruh pegawai PLN mulai
dari tingkat atas hingga bawah. Kita harus terus gencar
mensosialisasikannya, karena PLN Bersih pun harus didukung
semua pihak termasuk para vendornya.
* Kepala Divisi Batubara
PT PLN (Persero)
Saatnya Hati Bicara
48
Saatnya Hati Bicara
49
Pancing Ikan
Tak Perlu Lagi
Umpan Ikan
Eko Soedartanto*
Saatnya Hati Bicara
50
K
alau mau mancing ikan, umpannya harus ikan
juga. Itulah ungkapan yang dulu sering menjadi
gurauan manakala sudah tiba saatnya menghadapi
penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).
Ungkapan itu untuk menyindir para atasan pemegang cap dan
otoritas, yang kerap harus diberi upeti agar mau mengesahkan
RKAP yang diajukan.
Pembahasan RKAP biasanya dilakukan sedemikian rinci,
dihadapan panitia yang khusus terdiri dari berbagai pihak
terkait, mulai dari unsur teknis, keuangan, dan unsur lainnya.
Pembahasan teknis, tidak menjadi masalah karena tim dari unit
yang berangkat ke Jakarta sudah melakukan persiapan maksimal,
bahkan sering bermalam-malam harus mengurangi waktu tidur
guna memberikan data yang sejelas-jelasnya saat presentasi.
Ganjalan hati muncul saat minta persetujuan atas hasil
pembahasan, walaupun hanya berupa paraf diujung kertas sebelah
kanan, tapi untuk mendapatkannya perlu upaya maksimal, mulai
dari bermanis-manis untuk menjelaskan, maupun menyelipkan
amplop pada berkas yang perlu diparaf.
Sungguh menggelikan, jika sang pemilik paraf kurang
berkenan dalam suatu hal, bisa serta-merta marah dan
mengobrak-abrik berkas RKAP yang sudah tersusun rapi. Jika hal
ini terjadi, sudah barang tentu, malamnya akan begadang lagi,
menyusun ulang sesuai dengan kemauan sang pemilik paraf.
Bayangkan kalau ada tiga saja pemilik paraf, melakukan hal
yang sama, maka dapat dibayangkan betapa pusingnya staf yang
mendapatkan tugas untuk menyusun RKAP unit.
Belum lagi, jika sang pemilik paraf mempunyai ruang
tersendiri alias sudah menjabat sebagai kepala dinas atau
bahkan lebih tinggi lagi. Mengetuk pintu pun harus dilakukan
pelan-pelan. Walaupun sudah sangat sopan, mengetuk pintu
Saatnya Hati Bicara
51
sangat pelan, bersejingkat saat melangkah, dan bermanis muka,
tetap saja masih sering disambut muka masam dan disalahkan
karena dianggap mengganggu kesibukan mereka. Ah, betapa
timpangnya status sosial kami.
Kesengsaraan saat menyusun RKAP kerap membuat saya
tak jemu berharap, andai saya yang duduk dalam posisi yang
ikut dalam proses penyusunan RKAP, proses semacam ini harus
diubah secara total. Penyusunan dan perubahan RKAP harus
jauh lebih sederhana dan tidak perlu bertele-tele dan yang
bertanggungjawab tidak perlu sebanyak itu.
Syukur, Alhamdullillah!
Doa dan harapan saya akhirnya
terkabul.
Saat ini, proses
penyusunan maupun
perubahan RKAP tidaklah
seheboh dulu. Rapat dapat
dilaksanakan dengan
cara lebih sederhana,
pembahasannya tidaklah
bertele-tele, dan yang paling
penting sudah tidak ada lagi
amplop yang terselip dalam
berkas RKAP, sementara target-target yang harus dicapai dapat
dievaluasi secara transparan dan efisien dalam pemanfaatan
biaya.
Namun, perbaikan proses penyusunan RKAP barulah
langkah awal perbaikan. Masih ada sederet pekerjaan rumah
yang harus dilakukan untuk mewujudkan PLN Besih. Tahap
selanjutnya adalah bagaimana mempersiapkan dokumen
persyaratan teknis yang jelas, tidak mengarah kepada satu produk,

proses pelelangan dilakukan


dengan cara yang transparan dan
panitia harus tegar menghadapi
tekanan-tekanan dari pihak luar
maupun internal, serta kewajiban para
manajemen atas atau siapapun yang
mempunyai kewenangan besar untuk
tidak menitipkan siapa pun juga,
untuk dapat dimenangkan dalam suatu
proses pengadaan.


Saatnya Hati Bicara
52
Saatnya Hati Bicara
53
dan semua calon rekanan dapat menerjemahkan persyaratan
teknis yang telah ditentukan tanpa ditambah dengan faktor resiko
yang berlebihan. Di lain pihak, PLN juga harus membuat harga
perkiraan sendiri yang realistis.
Demikian juga proses pelelangan dilakukan dengan cara
yang transparan dan panitia harus tegar menghadapi tekanan-
tekanan dari pihak luar maupun internal, serta kewajiban para
manajemen atas atau siapapun yang mempunyai kewenangan
besar untuk tidak menitipkan siapa pun juga, untuk dapat
dimenangkan dalam suatu proses pengadaan.
Proses selanjutnya adalah proses pembayaran, harus
dilakukan secara cepat dan tepat, dalam arti, cepat prosesnya
dan tepat jumlahnya, tanpa menunda dengan berbagai alasan,
terutama pembayaran yang sifatnya masih interim, sementara
pembayaran yang sifatnya final, harus dilakukan secara hati-hati.
Jika hal-hal tersebut dilakukan secara konsisten dan terus
menerus, maka para rekanan PLN akan menurunkan faktor resiko
dan cost of money dalam setiap penawaran harganya.
Siapa yang diuntungkan jika kondisi ini terjadi? Pasti PLN,
ujung-ujungnya akan dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Itulah
mimpi dan doa-doa saya sebagai karyawan PLN. Semoga bisa
terwujud!
* Kepala Divisi Konstruksi dan IPP Jawa Bali
PT PLN (Persero)
Saatnya Hati Bicara
54
Saatnya Hati Bicara
55
Tetap Bertahan
Imam Muttaqien*
Saatnya Hati Bicara
56
T
ahun 2011, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di
Pulau Bali. Bersama dua rekan, kami sama-sama bertugas di
Kepanitiaan Lelang. Untuk pertama kalinya pula, kepanitiaan
diisi oleh orang non-struktural dan sebagian besar anak-anak baru.
Pekerjaan terasa berat bukan hanya karena umur dan pengalaman
yang minim, tapi juga jumlah paket pekerjaan yang harus dilelang
saat itu mencapai 56 paket. Sebanyak 17 pekerjaan pembangkit, 26
transmisi, dan sisanya gardu induk.
Selain itu beban juga muncul dalam bentuk tekanan mental.
Jika kita bicara lelang, maka kita bicara tentang nasib sebuah
perusahaan dan uang. Ketika
sebuah perusahaan tidak
mendapatkan pekerjaan atau
kalah dalam pelelangan, artinya
mereka tidak mendapatkan
uang. Apa yang terjadi ketika
sekolompok orang tidak
kebagian uang itu?
Hampir setiap hari
peserta lelang silih berganti
berkunjung ke ruang panitia.
Tujuannya macam-macam,
ada yang sekadar ngajak
ngobrol, konsultasi pelelangan,
bertanya perkembangan
pelelangan, sampai keluhan
dan ancaman. Bahkan, ada
beberapa peserta yang
mencoba memengaruhi kami.
Katanya sudah tahu perusahaan
mana saja yang lulus, tidak
lulus, yang lengkap, dan yang

panitia yang masih anak kemarin


sore dan bukan struktural ini, menjadi
sasaran empuk para peserta lelang
nakal, asosiasi jadi-jadian, hingga
wartawan gadungan. mereka mencoba
menggoyang keputusan kami, dengan
tangan gemulai hingga tangan besi.
banyak orang mengira, menjadi panitia
lelang itu enak dan banyak duitnya.
hal itu karena selama ini panitia lelang
dianggap identik dengan adanya dana
sekian persen yang masuk brangkas
kami tiap kali ada tandatangan kontrak,
adanya pengaturan perusahaan tertentu
untuk selalu menang, adanya restu
sana-sini untuk memenangkan lelang.
saya katakan bahwa semua anggapan
itu salah. setidaknya, itu yang kami
buktikan saat menjadi panitia lelang di
bali pada tahun 2011

Saatnya Hati Bicara


57
tidak didukung. Padahal, evaluasi pun belum selesai dilakukan.
Saya curiga, sepertinya ada mata-mata yang menyamar jadi office
boy di kantor kami.
Bayangkan saja betapa berat beban kami: sebanyak 56
paket yang harus dievaluasi; kedatangan tamu hampir tiap hari;
mendapat keluhan lewat telepon pribadi ataupun surat resmi; umur
dan pengalaman sebagian besar panitia yang masih minim.
Masalah tambah berat saja saat hasil evaluasi diumumkan.
Kami pun harus bersiap-siap menerima surat pengaduan, yang
tembusannya bisa sampai ke KPK, Kejaksaan, Polri, bahkan
Presiden. Panitia telah bekerja atas dasar peraturan dan hukum.
Maka, ketika salah melangkah, juga harus diselesaikan secara
hukum.
Mungkin itulah salah satu alasan kenapa kami
diberangkatkan ke Bali. Penyegaran, menghilang dari keramaian
kantor dan mendapatkan ilmu-ilmu baru lewat pelatihan langsung
di lapangan. Walaupun demikian, tetap saja ditengah-tengah
kegiatan, salah satu penerima surat tembusan memanggil panitia
ke Jakarta untuk klarifikasi. Padahal kami jauh-jauh diasingkan di
Bali. Duh, Gusti.
Panitia yang masih anak kemarin sore dan bukan struktural
ini, menjadi sasaran empuk para peserta lelang nakal, asosiasi jadi-
jadian, hingga wartawan gadungan. Mereka mencoba menggoyang
keputusan kami, dengan tangan gemulai hingga tangan besi.
Banyak orang mengira, menjadi panitia lelang itu enak dan
banyak duitnya. Hal itu karena selama ini panitia lelang dianggap
identik dengan adanya dana sekian persen yang masuk brangkas
kami tiap kali ada tandatangan kontrak, adanya pengaturan
perusahaan tertentu untuk selalu menang, adanya restu sana-sini
untuk memenangkan lelang.
Saya katakan bahwa semua anggapan itu salah. Setidaknya,
itu yang kami buktikan saat menjadi panitia lelang di Bali pada
tahun 2011.
Saatnya Hati Bicara
58
* Assistant Analyst Pengadaan Barang Jasa Bidang Perencanaan
PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Jaringan
Sulawesi, Maluku dan Papua
Saya menyendiri malam itu. Pelatihan sudah selesai sedari
sore. Dua teman saya masih dalam perjalanan pulang dari Jakarta.
Kawasan Legian sedang pesta-pora. Namun hujan menelan riuhnya.
Menyejukkan, walau penghuni bumi sedang berbuat keributan.
Kebenaran tetap kebenaran. Walau pelakunya seringkali diracuni
di atas pesawat atau diculik dan diasingkan di pulau tak bertuan.
Kami akan tetap bertahan.
Saatnya Hati Bicara
59
Integritas
Saatnya Hati Bicara
60
Saatnya Hati Bicara
61
Menuju PLN Bersih di
Proses Keuangan
Setio Anggoro Dewo*
Saatnya Hati Bicara
62
K
ejujuran dan keikhlasan adalah nilai-nilai universal
yang perlu dimiliki seorang pemimpin. Kompetensi
dan keahlian dapat diperbaiki dan ditingkatkan seiring
berjalannya waktu, namun kejujuran dan keiklasan adalah bagian
dari watak seseorang yang sulit diubah.
Padahal untuk mewujudkan proses keuangan PLN yang
bersih atau sering disebut proses bisnis yang berintegritas
haruslah melibatkan pengambil keputusan yang jujur dan ikhlas.
Untuk mewujudkan mimpi PLN bersih itu, kami melakukan
beberapa terobosan. Sejak Maret 2008, siapapun yang akan
duduk dalam posisi struktural di direktorat keuangan mulai dari
kepala divisi, direktur keuangan di anak perusahaan, manajer
senior, manajer bidang keuangan di unit, semua diberi kartu
kuning saat menerima surat pengangkatan. Artinya bila dalam
melaksanakan tugasnya di kemudian hari terbukti melakukan
transaksi tidak berintegritas, maka yang bersangkutan harus
bersedia digantikan oleh orang lain.
Selain itu, transaksi yang berintegritas harus dimulai sejak
dari perencanaan hingga eksekusi. Dan untuk membangun
proses transaksi keuangan yang bersih tidak bisa dikerjakan
sendiri dengan waktu singkat. Kita harus membangun sistem dan
juga jejaring dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK), Lembaga Kebijakan Pengadaan
Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP), Badan Pengawasan Keuangan
dan Pembangunan (BPKP), Kantor Akuntan Publik (KAP) big
four, bank-bank yang bereputasi baik (bank komersial dan
bank investasi), konsultan yang memiliki reputasi kelas dunia,
kontraktor Engineering Procurement Construction (EPC) serta
investor.
Saatnya Hati Bicara
63
PLN telah menerbitkan global bond dan global MTN
(surat hutang) yang seluruh investornya berasal dari luar negeri
dengan institusi dari Amerika Serikat sebagai investor dominan.
Investor global seperti ini hanya mengenal Kantor Akuntan Publik
(KAP) big four. Prime global investors hanya mau melakukan
transaksi dengan PLN melalui
bank investasi dan komersial
yang memiliki reputasi baik,
dan hanya akan mendanai
proyek yang pengembangnya
telah lolos saringan know your
customer (KYC) yang sangat
ketat. Demikian pula kontraktor
EPC yang akan disaring oleh
bank, sehingga menghasilkan
kualitas pekerjaan yang diinginkan. Konsultan berkelas dunia
akan independen dan profesional atas penugasannya.
Berdasarkan hasil komunikasi dengan KPK, untuk proses
bisnis yang berintegritas dari intervensi-intervensi yang
merugikan negara, maka perlindungan harus dimulai dari awal
proses bisnis transaksi yaitu perencanaan, pengganggaran dan
pengadaaan. Pada tahap ini, sejak tahun 2010 KPK diberikan
akses 24 jam dalam 7 hari secara on line ke proses e-procurement
PLN. Selain itu, proses bisnis pengadaan juga dirubah dengan
hanya mengundang pabrikan yang dapat berpartisipasi dalam
tender. Juga banyak melakukan konsultasi dengan LKPP.
Kombinasi inisiatif ini menghasilkan efisiensi pengadaan
Rp 2,4 triliun dari total pengadaan Rp 19 triliun yang didanai
dana PLN pada tahun 2010. Pemanfaatan IT untuk e-procurement

... untuk proses bisnis yang


berintegritas dari intervensi-intervensi
yang merugikan negara, maka
perlindungan harus dimulai dari
awal proses bisnis transaksi yaitu
perencanaan, pengganggaran dan
pengadaaan

Saatnya Hati Bicara


64
dan join procurement meminimalisasi interaksi karyawan dengan
pemasok.
Di ujung akhir transaksi adalah pelaporan keuangan. Di
titik kritis ini, PLN menjadi BUMN pertama yang membuka akses
online kepada BPK atas data-data akuntansi sejak tahun 2010 untuk
tujuan audit subsidi. Sehingga bila BPK datang ke PLN, bertujuan
untuk sampling dokumentasi dan konfirmasi hal-hal yang
diperlukan. Untuk lebih meningkatkan akuntabilitas pelaporan
keuangan, saat ini telah dimulai inisiatif untuk memperkuat sistem
pengendalian internal melalui pengembangan Internal Control
over Financial Reporting (ICoFR).
Bila ujung awal proses bisnis transaksi dapat dimonitor
secara elektronik baik oleh KPK dan ujung akhir oleh BPK, maka
proses yang terjadi di antara kedua titik tersebut telah, sedang
dan akan dilakukan beberapa inisiatif untuk perbaikan proses
bisnis pendapatan, proses bisnis pembelanjaan, tata kelola terkait
protokol perusahaan terbuka, pendanaan, penempatan dana, dan
sistem IT.
Untuk proses pendapatan telah dilakukan revenue assurance
yang dilakukan oleh salah satu big four accounting firm di unit
distribusi se Jawa Bali yang dilakukan pada tahun 2010-2012. Inti
dari revenue assurance adalah memastikan tereliminasinya titik-
titik kebocoran pada proses pendapatan. Proses pendampingan
oleh konsultan sudah selesai. Saat ini dan seterusnya, proses ini
melekat dalam program Organization Performance Improvement
(OPI) serta telah disiapkan organisasi permanennya yang berada
pada Divisi Niaga (DIVAGA). Bila telah selesai di distribusi se-
Jawa Bali, maka akan di-rollout ke unit wilayah di Indonesia Barat
dan Indonesia Timur.
Saatnya Hati Bicara
65
Inisiatif yang sangat penting, mendasar dan bersejarah bagi
pengamanan proses bisnis pendapatan PLN adalah diterapkannya
program Pengelolaan dan Pengawasan Arus Pendapatan secara
Terpusat/cash pooling (P2APST) yang dimulai tahun 2010 dan
program Aplikasi Pelayanan Pelanggan Terpusat/billing system
(AP2T) yang dimulai tahun 2011. Kedua hal ini diprakarsai dan
dirancang oleh Direktur Perencanaan, Niaga dan Manajemen
Resiko.
Dengan P2APST yang bekerja sama dengan perbankan
nasional, maka seluruh pembayaran pelanggan dari seluruh unit
sudah masuk ke rekening PLN kantor pusat pada hari berikutnya.
Dalam pengelolaan pembelanjaan operasi dan investasi
harian di unit-unit, PLN Pusat menetapkan kebijakan notional
pooling (sentralisasi kas di rekening kantor pusat). Unit dapat
melakukan transaksi pembayaran sesuai pagu mingguan. Saldo
harian pada rekening unit dibatasi maksimal Rp.1.100.000,00 dan
apabila saldo rekening unit melebihi batas maksimal tersebut,
maka di-sweeping ke rekening kantor pusat setiap jam 15.00 WIB
secara otomatis, sehingga saldo kas rekening kantor pusat dapat
dioptimalkan ke dalam instrumen perbankan yang memberikan
nilai tambah yang lebih baik bagi perusahaan.
Dalam memenuhi kebutuhan uang di unit-unit untuk
kegiatan-kegiatan yang insidentil dan mendesak disediakan
fasilitas cash card yaitu kartu debet virtual yang dapat digunakan
hanya untuk pengambilan uang tunai di ATM peserta bank
imprest, ATM bersama, ATM prima dan ATM link. Dengan inisiatif
ini, likuiditas PLN menjadi lebih mudah dikelola, transparan,
akuntabel, efisien dan profitable.
Proteksi lainnya adalah penyiapan PLN menjadi non listed
Saatnya Hati Bicara
66
Saatnya Hati Bicara
67
public company yang telah dimulai pada awal tahun 2012. Dengan
status ini, maka PLN akan patuh pada protokol pasar modal
terutama pada aspek tata kelola dan transparansi.
Inisiatif terkait pendanaan, selain hanya berinteraksi
dengan bank-bank bereputasi baik, maka dalam proses internal
telah dibakukan SOP pendanaan yang sangat transaparan baik
dalam kriteria maupun proses bisnis yang dijalani dengan
melibatkan beberapa divisi untuk menjamin adanya pengawasan
silang yang menjadi basis utama pengendalian internal yang
efektif dan efisien.
Seperti BUMN lainnya, hal yang sensitif adalah penempatan
dana. Inisiatif yang telah dilakukan adalah dengan membakukan
SOP penempatan dana, baik kriteria maupun proses yang
menjamin tata kelola yang baik dan transparansi serta dapat
dipertanggungjawabkan.
Bagi kami, IT adalah alat untuk membuat proses bisnis
menjadi efisien, transparan, dengan keakuratan data yang
dapat dipertanggungjawabkan. Untuk menghindari Garbage in
Garbage Out (GIGO), maka transaksi harus melalui proses bisnis
yang berintegritas.
Dengan penerapan ERP, maka sudah terbuka kotak pandora.
Keberhasilan implementasi P2APST, notional pooling dan cash card
merupakan hasil kombinasi dari penerapan ERP dan pemanfaatan
IT PLN dan perbankan. Sejalan dengan itu, penerapan ERP juga
meliputi program Pemusatan Pengelolaan Fungsi Administrasi/
back office (PPFA). Pada akhirnya pemanfaatan IT ini bertujuan
untuk meminimalkan interaksi karyawan dengan uang dan
efisiensi SDM.
Inisitiatif terkait IT yang bersifat big bang atas proses
Saatnya Hati Bicara
68
bisnis pendukung PLN adalah pembentukan Shared Service Unit
(SSU) untuk mengelola proses bisnis akuntansi, IT, pembayaran,
dan SDM. Program ini masih dalam tahap pengadaan di salah satu
Anak Perusahaan PLN dengan hanya mengundang world class
shared services provider.
Pembentukan SSU adalah salah satu world class practices
untuk perusahaan dengan coverage sebesar PLN. Diharapkan
SDM yang ada akan fokus dan berdedikasi pada pelayanan
kepada pelanggan, karena sudah tidak ada isu, tantangan dan
masalah pada kegiatan pendukung (back office).
* Direktur Keuangan
PT PLN (Persero)
Saatnya Hati Bicara
69
Nggak Bersih?
Gue Copot Lu!
Denny Pranoto*
Saatnya Hati Bicara
70
B
ulan Mei 2012 ketika saya diberi tanggung jawab untuk
menahkodai PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten sebagai
General Manager, yang paling mengganggu pikiran adalah
nilai integritas layanan publiknya yang luar biasa jeleknya. Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) tega memberi nilai empat untuk
unit dengan pelanggan terbanyak se-Indonesia ini.
Standar minimal integritas yang ditetapkan oleh KPK
sebesar 6,00 dari skala 0 - 10,00. Semakin besar nilai, semakin
baik integritasnya. Gila nggak tuh PLN?
Demi melihat kenyataan di lapangan, siang itu saya
bertandang ke PLN Rayon Cileungsi. Di depan kantor, ada
semacam ruangan untuk petugas layanan teknis. Kepulan asap
rokok silih berganti keluar dari mulut dua petugas di sana. Heh!
Kamu tau nggak kalau di area kantor nggak boleh merokok?!
Teguran keras saya hanya dijawab dengan langkah seribu.
Setali tiga uang dengan ruang pelayanan teknis,
pemandangannya pun membuat jeri. Segala macam tumpukan
berkas seolah menertawakan konsep 5S (Seiri, Seiton, Seiso,
Seiketsu, Shitsuke/Sort, Set in Order, Shine, Standarize, Sustain) dan
seperti mencibir kerja para desainer interior. Bagaimana PLN
bisa melayani pelanggan dengan baik jika penyusunan dokumen
dan penataan ruang kerja saja sedemikian kacau? Kenyataan ini
memaksa saya menantang manajer rayonnya, Lu bisa beresin
nggak ni ruangan dalam satu minggu? Kalau nggak, gue geser lu!.
Nyatanya ruangan itu berhasil tertata seperti selayaknya
dua hari kemudian. Kalau menyangkut jabatan, orang PLN bisa
bekerja lebih efektif juga, ya?
Lain hari saya kembali naik mobil menyusuri jalur
pegunungan di kawasan Bandung Barat. Saat melewati kantor
PLN Rayon Rajamandala saya mampir menyaru sebagai calon
pelanggan yang akan melakukan pasang baru listrik. Di ruang
Saatnya Hati Bicara
71
pelayanan tak seorang pun terlihat berniat membantu saya,
si calon pelanggan. Setelah lima menit menunggu, seorang
satpam mendekati dan mengajak saya ke luar. Pak, daripada
lama menunggu di kantor PLN, mending di sini saja, lebih cepat,
katanya sambil mengarahkan saya ke kantor Biro Instalatir, sekitar
50 meter di samping kanan kantor PLN.
Satpam itu lalu
menjelaskan persyaratan
administrasi dan biaya yang
harus dibayarkan. Pastinya
lebih mahal dari harga resmi
PLN. Aha! Angka empat
dari KPK ternyata bukan
asal-asalan. Tanpa banyak
cingcong, beberapa minggu
kemudian manajer rayon
tersebut saya ganti.
Sukses menemukan
calo pasang baru listrik
membuat saya ketagihan
jadi mystery guest. Target
selanjutnya adalah kantor PLN
Cianjur. Namun saya kurang
beruntung. Kedatangan saya
rupanya sudah terendus.
Saat mobil saya memasuki
halaman kantor, satpam sudah
berderet rapi menyambut
dan mempersilakan masuk. Sadar tak mungkin lagi berpura-
pura menjadi calon pelanggan, saya ubah haluan dengan
mengumpulkan karyawan muda di sana.

dalam diskusi spontan dengan


mereka, sekonyong-konyong seorang
karyawan perempuan menodong
saya, pak, saya bertugas di bagian
pemeliharaan jaringan, saya beberapa
kali menemukan material palsu
yang digunakan oleh PLN. sehingga
menyebabkan sering terjadi kerusakan
dan gangguan. bagaimana kebijakan
bapak sebagai gm menyikapi hal ini?
bukankah dalam bod note disebutkan
jangan sampai kita beli mobil kijang
dengan harga mercy? pertanyaan
tajam ini mengagetkan hati nurani saya.
memang sudah waktunya paradigma
lawas harus diganti. PLN tak boleh lagi
mengorbankan kualitas demi harga
yang murah. mulai sekarang, mohon
maaf kepada para pemasok material tak
bermutu, lu-gue end!

Saatnya Hati Bicara


72
Saatnya Hati Bicara
73
Dalam diskusi spontan dengan mereka, sekonyong-konyong
seorang karyawan perempuan menodong saya, Pak, saya
bertugas di bagian pemeliharaan jaringan, saya beberapa kali
menemukan material palsu yang digunakan oleh PLN. Sehingga
menyebabkan sering terjadi kerusakan dan gangguan. Bagaimana
kebijakan Bapak sebagai GM menyikapi hal ini? Bukankah
dalam BoD Note disebutkan jangan sampai kita beli mobil kijang
dengan harga mercy? Pertanyaan tajam ini mengagetkan hati
nurani saya. Memang sudah waktunya paradigma lawas harus
diganti. PLN tak boleh lagi mengorbankan kualitas demi harga
yang murah. Mulai sekarang, mohon maaf kepada para pemasok
material tak bermutu, lu-gue end!
Memperbaiki integritas PLN tidak akan semudah membalik
telapak tangan. Diperlukan kesungguhan hati segenap manajemen
dan karyawan dalam memegang teguh komitmen agar tak goyah
oleh rayuan apapun. Tapi harus diingat bahwa sebagus apapun
sistem, sehebat apapun program, jika pola pikir manusianya tak
berubah, semua itu nonsense. Perubahan pola pikir karyawan
harus dikawal terus oleh manajemen. Adalah tugas manajemen
untuk turun ke lapangan, memberi perhatian, melakukan
Coaching, Mentoring, Consulting (CMC), dan memberi dukungan
penuh kepada para karyawan. Saat ini banyak program bagus
yang diluncurkan, tapi tak semua diketahui dan dipahami anggota
perusahaan. Inilah pentingnya manajemen yang membumi.
Dukungan sederhana manajemen berupa fasilitas kerja
yang layak juga jangan disepelekan. Saya harap tak ada lagi
kejadian seperti kantor PLN di Pelabuhan Ratu, di mana ada satu
komputer yang digunakan bergantian oleh lima orang karyawan.
Bukankah keberadaan program, sistem, maupun fasilitas kerja
ditujukan untuk sebaik-baik pelayanan pelanggan?
Tak kalah penting untuk menegakkan integritas PLN butuh
Saatnya Hati Bicara
74
sokongan dari semua pihak, terutama pelanggan dan mitra
kerja. Jika ada pihak internal PLN Jawa Barat dan Banten yang
meminta gratifikasi baik secara sembunyi atau terang-terangan,
silakan laporkan langsung kepada saya. Seorang karyawan PLN
Bandung baru-baru ini dipecat karena terindikasi akan meminta
biaya di luar biaya resmi. Ini bukti bahwa integritas di PLN bukan
sebatas slogan.
Saya yakin dan percaya, angin segar perubahan ini akan
terus berhembus. Masih banyak anak muda yang peduli pada
integritas PLN. Mereka adalah tunas-tunas harapan untuk PLN lebih
baik di masa depan. PLN yang kembali pada khitahnya, menerangi
nusantara, menemani putra bangsa belajar dan mengejar cita-cita,
memberi cahaya pada doa-doa yang terlantun di tempat ibadah,
dan mendorong pembangunan untuk terciptanya lapangan kerja
yang lebih luas. Semoga Tuhan senantiasa menolong kita dalam
mengemban tugas mulia ini. Aamiin!
* General Manager
PT PLN (Perserto) Distribusi Jawa Barat dan Banten
Saatnya Hati Bicara
75
Menolak Suguhan,
Hingga
Satpam Sakit Hati
Agus Kuswardoyo*
Saatnya Hati Bicara
76
P
LN berintegritas dan menjadi pelayan publik yang baik
barangkali gampang diucapkan. Namun, ternyata hal
ini sangat sulit diwujudkan. Mulai dari sulitnya menolak
suguhan minuman, dilarang masuk desa oleh perangkat desa,
hingga satpam sakit hati, mewarnai perjalanan.
Tahun 2010, adalah titik awal program Integritas Layanan
Publik (ILP) digemakan di kantor area dan rayon PLN. Program
ini mencakup semua unsur mulai dari pejabat sampai bagian
pelayanan teknik. Mereka dilarang menerima suap dan gratifikasi.
Mitra kerja juga diminta untuk tidak menggoda dengan iming-
iming yang menggoyahkan moral pegawai PLN. Ketegasan untuk
tidak memberi hati pada wartawan amplop dan LSM pemeras
juga dijalankan.
Namun, kadang-kadang terjadi juga hal yang konyol,
misalnya ada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mencari-
cari kesalahan lalu membawanya ke Kejaksaan dan DPRD. Pernah
juga suatu kali ada wartawan datang ke ruangan saya untuk
mencari berita. Ujungnya minta uang bensin. Kebetulan TV yang
ada di ruangan menyala dan ada teks berjalan di layar wartawan
kami tidak menerima imbalan dari nara sumber.
Saya tunjuk tulisan itu pada wartawan tersebut, Tuh saya
hormati kode etik Anda. Lalu dia menjawab dengan nada datar,
seolah tanpa merasa berdosa,Kalau kami wartawan lepas Pak,
yang terikat kode etik itu ya wartawan yang masuk anggota
asosiasi wartawan.
Saya hanya bisa menggelengkan kepala.
Berikut adalah kisah ketika saya masih bertugas di PLN
Distribusi Jawa Timur. Ketika bertugas di Jember tahun 2010,
bersama pegawai tetap dan pegawai outsourcing (pegawai
kontrak), semua menyepakati 5 Sikap Isin Yen (Lima sikap malu).
Salah satunya Isin Yen Njalukan malu kalau meminta-minta.
Saatnya Hati Bicara
77
Pengertiannya, malu menerima sesuatu dari pelanggan atau mitra
kerja.
Pihak yang sering menikmati gratifikasi, ruang geraknya
pun menyempit. Mereka lalu menggunakan cara sembunyi-
sembunyi dengan kesepakatan lisan dan saling jaga mulut. Kalau
sampai terbuka keluarlah dalih, Kan, saya tidak minta.
Namun, gebrakan untuk bersih-bersih benar-benar
dijalankan di PLN Distribusi Jawa Timur. Anak-anak muda yang
menjadi agen perubahan berperan sebagai intel ILP. Mystery
guest (tamu dadakan dan rahasia ) diterjunkan. Mereka turun
di titik-titik pelayanan,
mewawancarai pelanggan,
calo, satpam, petugas
pelayanan, dan pegawai.
Ruang gerak tindakan
tercela, yang dulunya
dianggap biasa, semakin
sempit. Dalam setiap
rapat di kantor distribusi,
ditayangkanlah wajah buruk
pelayanan dan transaksi
liar yang masih saja terjadi.
Dampaknya, beberapa
orang dari berbagai level
dicopot dari jabatannya.
Tenaga pelayanan dan
satpam di salah satu rayon
di Malang yang menyambi sebagai calo diberhentikan dengan
rekomendasi hitam untuk tidak boleh bekerja lagi di PLN seluruh
wilayah Jawa Timur.
Namun cerita tenaga satpam yang dipecat ini tidak berhenti

pelayanan tanpa suap, tanpa tips, tidak


boleh minum di rumah pelanggan, adalah
beberapa kode etik yang ditanamkan
kepada petugas lini depan, khususnya
petugas yantek yang sering berinteraksi
langsung dengan pelanggan. namun, hal
ini ternyata sulit diterapkan. dalam adat
budaya timur, sajian segelas kopi atau
teh manis kepada orang yang berkunjung
ke rumah adalah penghormatan dan
ketulusan. bahkan, bagi komunitas
tertentu, penolakan terhadap sajian bisa
berarti penghinaan.


Saatnya Hati Bicara
78
Saatnya Hati Bicara
79
sampai di situ saja. Belakangan mantan satpam ini memanfaatkan
akses sms dan website, mengadu dan berpura-pura menjadi
pelanggan yang telah dilayani dengan buruk dan diperas. Dia
pun menuduh manajer rayon, tempatnya dulu bekerja. Usut punya
usut, diketahui dan didatangi ke rumahnya akhirnya mengaku,
sakit hati karena dipecat.
Pelayanan tanpa suap, tanpa tips, tidak boleh minum di
rumah pelanggan, adalah beberapa kode etik yang ditanamkan
kepada petugas lini depan, khususnya petugas pelayanan teknik
(Yantek) yang sering berinteraksi langsung dengan pelanggan.
Namun, hal ini ternyata sulit diterapkan. Dalam adat budaya
timur, sajian segelas kopi atau teh manis kepada orang yang
berkunjung ke rumah adalah penghormatan dan ketulusan.
Bahkan, bagi komunitas tertentu, penolakan terhadap sajian bisa
berarti penghinaan.
Beragam cara dilakukan petugas untuk menegakkan kode
etik ini. Awalnya ada petugas yang kikuk tak bisa menolak, ada
yang bisa, ada juga yang setelah menyelesaikan pekerjaannya,
pura-pura tidak mendengar tawaran tuan rumah. Belakangan
mulailah diajarkan tata cara untuk mengatasi benturan budaya ini,
dengan cara memberikan pemahaman pada pelanggan bahwa
petugas PLN tidak boleh menerima imbalan, termasuk minuman.
Semuanya harus disampaikan sebelum memulai pekerjaan.
Perlahan, sikap teguh untuk menolak segenap pemberian
itu tertanam. Ada suatu kisah nyata. Saat itu lebaran 2011. Seorang
pejabat kantor distribusi datang ke rayon dengan membawa oleh-
oleh. Datang layaknya seorang bapak yang membawa bingkisan
bagi anak-anaknya yang piket di hari lebaran.
Namun, anak-anak Rayon Blimbing menolak. Sang bapak
membujuk, bahwa ini tidak termasuk gratifikasi. Sungguh, ini
murni dari bapak untuk anak, katanya meyakinkan.
Saatnya Hati Bicara
80
Maaf Pak, kami menjalankan ILP, kata mereka dengan
kompak.
Bingkisan lebaran pun kembali masuk mobil sang bapak.
Mungkin dalam perjalanan, diserahkannya pada orang yang
benar-benar membutuhkan.
Dilarang Masuk Desa
Ada ujian lain untuk menerapkan ILP yang tak kalah seru
untuk dikisahkan. Waktu itu, masyarakat pedesaan merasa jauh
dan sulit mengakses layanan PLN. Jauh sebelum Pejabat Pembuat
Komitmen (P2K) merealisasikan pembangunan listrik pedesaan,
banyak CV (perusahaan) sebagai pemain lapangan yang
berperan aktif meyakinkan masyarakat untuk merealisasikan
listrik masuk desa dengan biaya yang mereka sepakati.
Modusnya ada CV yang bergerilya di kawasan-kawasan
tersebut. Dengan meyakinkan aparat desa, dibentuklah panitia
desa. Masyarakat lalu dibebani biaya pembelian tiang. Masyarakat
desa yang tak tahu apa-apa pun rela dan antusias. Ketika tiang
listrik desa dipasang (atas biaya APBN tentunya), panitia desa
menyampaikan berita ke masyarakat bahwa tiang itu adalah hasil
pembelian mereka. Selanjutnya, masyarakat diminta membayar
untuk pembelian kawat penghantar, dan lain sebagainya.
Demikianlah yang terjadi, kesannya pasang listrik mahal!
Meski banyak tangan yang berperan dalam proses
pemasangan listrik, PLN menjadi tertuduh. Namun setengahnya
adalah dosa PLN karena kurangnya sosialisasi pada masyarakat.
Ketika akhirnya PLN melakukan sosialisasi ke masyarakat
untuk meruntuhkan dinding pemisah yang menghalangi
pelanggan bertemu langsung dengan PLN, banyak masyarakat
yang terkejut. Aparat desa kehilangan kepercayaan warganya.
CV kawan mereka bekerjasama pergi entah kemana. Dampaknya,
beberapa perangkat desa melarang PLN masuk untuk sosialisasi.
Saatnya Hati Bicara
81
Bahkan, beberapa sms berisi ancaman agar PLN tidak merusak
zona kenyamanan mereka pun kami terima.
Calo Bermutasi
Tantangan berikutnya berasal dari para calo. Program
bebas calo di seluruh unit pelayanan PLN Distribusi Jawa Timur
dikumandangkan sejak 1 Juli 2012. Banyak mitra kerja yang
bertanya, tersinggung, dan protes dengan kebijakan ini. Kok,
menginjak kaki di PLN tidak boleh. Bagaimana kalau mengurus
ini dan itu.
Jawabannya sederhana saja. Yang masuk kategori atau
definisi calo yang tidak boleh datang ke PLN. Biarkan mereka
berpikir sendiri, aku calo bukan ya?
Walaupun calo sudah tidak ada yang berani datang ke
kantor PLN, sampai saat ini mereka sebenarnya belum sepenuhnya
terkalahkan. Belantara hubungan calo dan pelanggan tak terawasi
sepenuhnya oleh PLN. Para calo memanfaatkan keengganan
pelanggan untuk mengurus sendiri, selain keterbatasan
akses mereka ke PLN. Calo pun kini sudah pandai internet,
membuka website dan memanfaatkan fasilitas sms center untuk
mendaftarkan pelanggan.
Tanpa memperlihatkan wajah, sebagian masyarakat
menikmati jasa mereka (atau menjadi korbannya?). Namun
selalu yang dikomplain tetap saja PLN. Jika ada survei pelanggan
membayar lebih, bisa dipastikan membayar lebihnya kepada calo.
Layanan Satu Atap
Memang banyak soal yang dihadapi untuk teguh menjalani
ILP. Namun, dalam ilmu gelar perang konvensional, dimana
pasukan besar berhadap-hadapan dikenal strategi supit urang.
Menjepit lawan dengan supit (jepitan) sehingga tidak ada ruang
Saatnya Hati Bicara
82
gerak dan akhirnya dikalahkan.
Bagaimana bila diciptakan layanan PLN satu atap saja?
Ini diibaratkan supit urang. Transaksi-transaksi yang biasanya
terjadi di belantara yang tak terawasi siapa pun, dilokalisir dalam
layanan satu atap.
Layanan satu atap penyelenggaranya bisa gabungan para
kontraktor listrik dan lembaga penerbit SLO. Tidak ada PLN
di situ. Kaitan dengan PLN hanya pada link informasi melalui
komputer. Informasi ini bisa diakses oleh komputer di layanan
satu atap. Apakah pelanggan yang telah melakukan pembayaran
Biaya Pasang (BP) layak disambung oleh PLN atau tidak. Jika tidak
layak, PLN akan melakukan restitusi BP. Jika layak sambung, PLN
langsung menyambung. Dengan demikian, pelanggan hanya
cukup datang di satu tempat saja, urusan jelas, transparan, pasti
dan tidak perlu kesana kemari.
Jalan menuju PLN Bersih terbentang. Komitmen dari CEO
sedemikian kuat. Hal ini ditunjukkan dengan tindakan direksi
menggandeng Transparancy International Indonesia (TII). Semoga
seluruh kekuatan terus hidup agar perubahan bukan sekedar
angan-angan.
* Manajer Area Bekasi
PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten
Saatnya Hati Bicara
83
Say No! to Calo
Saeful Hikmat*
Saatnya Hati Bicara
84
P
erjalanan pertama saya memimpin di PLN adalah saat
ditugaskan sebagai Manajer Unit Pelayanan dan Jaringan
Cipanas pada tahun 2004. Selama lima tahun bertugas
sebagai manajer unit ada pengalaman tak mengenakkan yang
terus menghantui saya, yaitu pelayanan kita terhadap masyarakat
ternyata sangat dipengaruhi oleh pihak ketiga, salah satunya para
calo.
Tahun 2005, saat menjabat sebagai Manajer UPJ
Leuwiliang-Bogor, saya menemukan kenyataan tentang kinerja
losses (penyusutan jaringan) yang mencapai 37 persen. Angka
itu sangat besar. Setelah saya teliti, ternyata akar penyebabnya
adalah karena banyaknya pencurian tenaga listrik oleh golongan
non-konsumen (NK).
Kenapa bisa banyak NK di unit ini?
Ternyata ini akibat ulah calo. Mereka banyak berkeliaran
di dalam kantor. Berbekal pengetahuan umum pelayanan
PLN, mereka menawarkan jasa dengan menarik biaya kepada
pelanggan di luar ketentuan yang berlaku. Pelanggan dilayani
lebih cepat dengan menarik jaringan langsung ke calon
pelanggan tanpa kWh meter, namun proses adminitrasi dilakukan
belakangan. Akibatnya, calon pelanggan tersebut dapat langsung
menikmati listriknya tanpa terukur oleh kWh meter. Inilah yang
menyebabkan losses menjadi tinggi.
Setelah mengetahui penyebab utamanya, dengan dibantu
oleh pihak kepolisian dan peran serta LSM setempat, segera
saya ambil tindakan tegas kepada enam oknum yang bertindak
sebagai calo dengan sanksi PHK dan proses secara hukum.
Cerita menarik lainnya belum lama ini terjadi, yaitu saat saya
menjabat Manajer Area Gunung Putri. Saat itu Asisten Manajer
(Asman) Perencanaan Gunung Putri berencana melakukan
Saatnya Hati Bicara
85
penambahan daya sebuah masjid di dekat tempat tinggalnya dari
daya 450 VA menjadi 1300 VA. Seharusnya, setelah melakukan
permohonan dan membayar biaya penyambungan, proses
penambahan daya bisa dilakukan dengan cukup mengganti MCB
(mini circuit breaker/pengaman dan pemutus arus listrik) yang
lama dengan MCB baru
sesuai permohonan. Namun,
yang didapati saat itu di kWh
meter masjid terpampang
nomor HP yang harus
dihubungi. Rupanya ada
pihak yang mau mengambil
keuntungan pribadi dari
proses pelayanan ini.
Asman Perencanaan
pun mencoba menghubungi
nomor tersebut dan
meminta untuk bertemu. Si
pemilik nomor HP rupanya
tidak tahu kalau yang
mengajak bertemu adalah
salah seorang pejabat PLN
Area Gunung Putri. Dari pertemuan itu Asman yang berpura-pura
sebagai pelanggan, diminta ini-itu diluar ketentuan PLN. Setelah
berbincang-bincang agak lama, akhirnya si calo mengetahui
bahwa calon pelanggan yang dihadapi adalah pejabat PLN, dan
berniat melaksanakan proses penambahan daya sesuai prosedur
dan ketentuan biaya resmi.
Hal-hal seperti inilah yang menyebabkan citra PLN di mata
masyarakat menjadi buruk, terlebih jika dikaitkan pada Indeks
Layanan Publik (ILP). Oleh karena itu, perlu dilakukan langkah-

cara lain penyampaian informasi


pelayanan PLN adalah melalui media
elektronik seperti televisi dan internet.
televisi merupakan media yang dianggap
paling efektif dalam menyampaikan
informasi maupun edukasi kepada
masyarakat. namun, saat ini hampir
tidak pernah ada tayangan komersial pln
mengenai pelayanan tenaga listrik muncul
di televisi. harapan saya, suatu saat nanti
PLN menayangkan iklan komersial di
stasiun-stasiun televisi nasional mengenai
pelayanan tenaga listrik serta biaya-biaya
yang tercantum di dalamnya

Saatnya Hati Bicara


86
Saatnya Hati Bicara
87
langkah untuk menanggulanginya. Pemberantasan calo bisa
diawali dengan cara memaksimalkan efektifitas penyampaian
informasi PLN kepada masyarakat luas.
Salah satu caranya adalah dengan kegiatan pemasaran
keliling dan edukasi pelanggan (Sarling Elang). Sarling Elang
merupakan program sosialisasi kepada masyarakat dengan
cara membuka posko pelayanan yang letaknya strategis dapat
dijangkau dengan mudah oleh masyarakat sehingga memudahkan
dalam pemberian informasi dan pelayanan.
Cara lain penyampaian informasi pelayanan PLN
adalah melalui media elektronik seperti televisi dan internet.
Televisi merupakan media yang dianggap paling efektif dalam
menyampaikan informasi maupun edukasi kepada masyarakat.
Namun, saat ini hampir tidak pernah ada tayangan komersial PLN
mengenai pelayanan tenaga listrik muncul di televisi. Harapan
saya, suatu saat nanti PLN menayangkan iklan komersial di stasiun-
stasiun televisi nasional mengenai pelayanan tenaga listrik serta
biaya-biaya yang tercantum di dalamnya.
Semoga dengan cara ini cukup efektif dalam mengedukasi
pelanggan dan calon pelanggan sehingga pada akhirnya biaya
pelayanan tenaga listrik tersampaikan dengan lebih transparan.
Dengan demikian diharapkan pelanggan lebih terbuka
wawasannya dan menghindari calo dalam pengurusan pelayanan
tenaga listrik.
* Manajer Area Purwakarta
PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten
Saatnya Hati Bicara
88
Saatnya Hati Bicara
89
Its OK Son,
Everybody Does It
Adi Supriono*
Saatnya Hati Bicara
90
A
rtikel dengan judul di atas ditulis oleh Jack Griffin di
harian Chicago Sun Times bertahun-tahun yang lalu.
Meskipun sudah bertahun-tahun, artikel ini masih terus
diacu oleh penulis atau pembicara tentang etika. Saya tidak
membaca langsung dari harian tersebut, namun membaca dari
text book kuliah Etika Bisnis saat mengambil S-2 di tahun 1999,
tiga belas tahun yang lalu. Jadi bisa dibayangkan bahwa artikel
ini tentu sudah ditulis jauh sebelumnya, dibahas ulang selama
bertahun-tahun dan kita di PLN saat ini masih berkutat dengan
hal yang sama.
Artikel ini menceritakan kejadian yang sampai saat ini masih
relevan dan sering kita alami dalam keseharian. Hal-hal seperti ini
kadang menjadi pilihan yang sulit bila kita harus menghadapinya
tanpa kita mempunyai ketegaran sikap yang didukung nilai-nilai
yang anti terhadap penyuapan dan kecurangan.
Saya kira cukup banyak hal sejenis yang kita alami dengan
berbagai versinya, seperti bagaimana orang tua yang khawatir
anaknya mengalami kesulitan saat berurusan dengan polisi, lalu
membekali anaknya dengan sejumlah uang karena mengendarai
sepeda motor tanpa kelengkapan SIM. Nak.., Simpan uang ini,
jangan gunakan kecuali kamu tertangkap razia sepeda motor.
Ironis! Di usia dini yang seharusnya diisi dengan pendidikan
budi pekerti yang tinggi, justru diisi dengan pendidikan
menyuap.
Walaupun kita tahu bahwa di sekitar kita hal seperti ini
masih sangat banyak, sebagaimana disebut dalam artikel Jack
Griffin bahwa, everybody does it, tidak pada tempatnya melakukan
pendidikan yang buruk kepada anak-anak. Dengan mengajari
anak untuk menyuap, dapat dimaklumi ketika ayahnya Johny
tertangkap polisi karena overspeed, ia langsung memberikan
uang kepada polisi.
Seorang teman menceritakan anekdot lain. Ketika text book
Saatnya Hati Bicara
91
Its OK, Son, Everybody Does It
By Jack Grifn
When Johnny was six years old, he was with his father when they were
cought speeding. His father handed the ofcer a$20 bill with his drivers
license. Its OK, son, his father said as they drove of.Every body does
it.
When he was eight, he was present at a family council, presided over by
Uncle George, on the surest means to shave points of the income tax
return. Its OK, son, his uncle said.Everybody does it.
When he was nine, his mother took him to his frst theater producton.
The box ofce man couldnt fne any seat untl his mather discovered
an extra $5 in her purse which she gave him. Iss OK, son, she
said.Everybody does it.
When he was 12, he broke his glasses on the way to school. His Aunt
Francine persuaded the insurance company that they had been stolen,
and they collected $75. Its OK, kid, she said.Everybody does it.
When he was 15, he made right guard on the high school football team.
His coach showed him how to block and at the same tme grab the
opposing end by the shirt so the ofcial couldnt see it.Its OK, kid, the
coach said. Everybody does it.
When he was 16, he took his frst summer job at the supermarket. His
assignment was to put the overripe strawberries in the botom of the
boxes and the good ones on the top where they would show. Its OK,
kid, the manager said. Everybody does it.
When he was 18, Johnny and a neighbor applied for a college scholarship.
Johnny was a marginal student. His neighbor was in the upper three
percent of his class, but he couldnt play right guard. Johnny got the
scholarship. Its OK, son, his parents said. Everybody does it.
When he was 19, he was approached by an upperslassman who ofered
answers to a test for $50.Its OK, kid, he said,Everybody does it.
Johnny was caught an sent home in disgrace. How could you do this to
your mother and me ? his father said. You never learned anything like
this at home. His aunt and uncle were also shocked.
If theres one thing the adult world cant stand, its kid who cheats.
Update from the Chicago Sun Times

Saatnya Hati Bicara
92
Saatnya Hati Bicara
93
masih dirasakan mahal atau antrian di perpustakaan kampus
masih saja panjang karena terbatasnya buku, seorang ayah
menawarkan jasa. Sudah.., mana bukunya. Nanti di-copy di kantor
saja sekalian dijilid. Gratis koq.. Dengan melakukan ini, sang
ayah sudah membuat 3 kesalahan yaitu pembajakan hak cipta
dari buku yang di-photo copy, penggunaan fasilitas dan kertas
milik kantor untuk keperluan di luar dinas, dan memberikan
pendidikan yang keliru kepada generasi muda. Cerita lain ketika
seorang ibu membelikan anaknya kertas dan alat tulis, sang ayah
mengatakan Lho.., koq ngga bilang kalo butuh kertas dan pensil.
Kalo bilang kan, bisa dibawakan dari kantor Banyak koq.
Hal-hal kecil seperti ini, memang tidak mempunyai nilai
ekonomi yang tinggi, namun memberikan pendidikan karakter
dan budi pekerti yang salah dan di masa depan dapat terus
bereskalasi dengan nilai ekonomi yang makin tinggi sejalan
dengan kesempatan yang diperoleh sang anak ketika sudah
bekerja dan menjadi pimpinan di unti kerjanya. Karakter
seseorang tidak terbentuk secara tiba-tiba dengan hanya
mengatakan hal-hal yang baik pada waktu-waktu tertentu. Namun
contoh dan praktek yang dialami anak sejak masa kecil akan
berakumulasi dan ikut membentuk pribadi dan karakter anak-
anak di masa depan.
Everybody does it atau semua orang juga begitu, merupakan
frase yang sering digunakan untuk melakukan pembenaran
ketika seseorang dengan sadar melakukan kesalahan dan bila
terus berlanjut, orang akan tidak lagi menyadari bahwa yang
dilakukan merupakan sesuatu yang keliru.
Mungkin kita juga bagian dari cerita-cerita di atas.
Bertobatlah!! demi masa depan anak yang lebih baik.
* Sekretaris Perusahaan
PT PLN (Persero)
Saatnya Hati Bicara
94
Saatnya Hati Bicara
95
Karir
Saatnya Hati Bicara
96
Saatnya Hati Bicara
97
Harga Sebuah
Kehormatan
K. Yogaster S.*
Saatnya Hati Bicara
98
M
ataram, Nusa Tenggara Barat, suatu hari di tahun 2004.
Saat itu saya menjadi koordinator panitia penerimaan
calon pegawai baru tingkat pendidikan sekolah
menengah atas untuk menempati posisi di PT PLN Wilayah XI.
Seorang lelaki paruh baya yang mengaku sebagai pejabat,
persisnya Sekwilda di Pulau Sumbawa, tiba-tiba datang ke hotel
tempat saya menginap. Dia meminta waktu untuk bertemu empat
mata.
Saya bingung
karena merasa tidak kenal
dengannya. Saya menolak
bertemu, tapi lelaki itu
tetap memaksa dan tidak
mau beranjak pergi
dari hotel sebelum saya
menemuinya. Akhirnya
saya pun menemuinya dan
menanyakan maksud dan
tujuannya. Rupanya putra
kandungnya ikut mendaftar
pegawai baru.
Dia meminta tolong agar putranya bisa lulus test. Saat itu
juga, dia langsung mengeluarkan buku tabungan dan meminta
nomer rekening saya. Saya perhatikan, di dalam buku tabungannya
ada uang sekitar Rp 15 juta. Dia mengatakan, akan mentransfer
seluruh uang itu ke rekening saya jika saya bisa membantu agar
anaknya lolos tes.
Jujur ketika saya tahu bahwa kedatanganya adalah untuk
menyuap, saya marah dan merasa terhina. Tetapi, bila saya
bertindak kasar dengan mengusir yang bersangkutan maka saya
khawatir jiwa saya akan terancam dan akan timbul dampak buruk

jujur ketika saya tahu bahwa


kedatanganya adalah untuk menyuap, saya
marah dan merasa terhina. tetapi, bila saya
bertindak kasar dengan mengusir yang
bersangkutan maka saya khawatir jiwa saya
akan terancam dan akan timbul dampak
buruk lainnya. apalagi beliau mengatakan
bahwa biasanya di instansi lain sudah
lumrah terjadi suap-menyuap agar bisa
diterima


Saatnya Hati Bicara
99
lainnya. Apalagi beliau mengatakan bahwa biasanya di instansi
lain sudah lumrah terjadi suap-menyuap agar bisa diterima.
Akhirnya saya menolak secara halus permintaan beliau
dengan mengatakan bahwa saya bukan orang munafik yang tidak
suka dengan uang. Akan tetapi, saya mencari uang dengan cara
yang benar dan halal. Bukan dari suap. Hal yang lebih penting lagi
adalah seseorang bisa jadi pegawai PLN itu karena kompetensi
yang dimiliki dan restu Tuhan, bukan karena koordinator
rekrutmennya.
Saya juga menjelaskan bahwa proses rekrutmen telah
melibatkan lembagalembaga yang independen dan profesional
sehingga tidak dapat diintervensi oleh siapapun. Seluruh tahapan
rekruitmen dilaksanakan dengan sistem gugur dan diumumkan
lewat media masa.
Setelah saya jelaskan dengan gamblang dan rinci dia
akhirnya bisa menerima. Lalu saya jadi penasaran untuk mengorek
keterangan lebih jauh tentang awal mulanya hingga berniat mau
menyuap saya. Ternyata putra beliau adalah pelajar teladan di
salah satu SMA Negeri di Sumbawa. Setelah tamat sekolah sang
anak sempat bekerja satu tahun di Korea. Rupanya uang Rp 15
juta yang tertera di buku tabungan itu adalah hasil keringat dari
putranya selama bekerja di Korea. Putranya pulang ke tanah air
karena merasa tidak nyaman bekerja di negeri orang dan sangat
ingin menjadi pegawai PLN.
Saya kaget juga setelah mendapat cerita itu. Saya katakan,
Berarti anaknya pintar dong, Pak. Kenapa kok jadi nggak pede
sehingga harus menyuap segala?
Dia lalu menjawab bahwa selama ini kalau ada lowongan
PLN yang melamar banyak sekali, tapi yang lulus sangat sedikit.
Nah, inilah yang membuat bapak beranak ini kehilangan rasa
percaya diri.
Saatnya Hati Bicara
100
Saatnya Hati Bicara
101
Saya berusaha memulihkan kepercayaan diri Sang Bapak,
bahwa yang penting adalah berusaha belajar yang baik dan terus
berdoa. Jika Tuhan sudah mengijinkan tidak ada satu orangpun
yang akan merintangi.
Akhirnya lelaki itu cukup puas setelah menerima
penjelasan saya dan memohon maaf berkali-kali karena
mencoba menyuap.
Dan kesungguhan berusaha itu akhirnya menemukan
ganjaran yang setimpal. Dari hasil tes tertulis, putra pejabat itu
ternyata meraih angka tertinggi. Saat ini sang putra tersebut
sudah menjadi salah satu pegawai PLN Wilayah Nusa Tenggara
Barat.
Kisah ini barangkali hanya cerita kecil, yang mungkin tidak
banyak berarti bagi orang lain. Tetapi, bagi saya ini merupakan
kebanggaan besar. Setidaknya saya telah memberikan pengertian
kepada masyarakat bahwa proses rekrutmen di PLN sudah sangat
transparan dan tidak ada lagi intervensi dari siapapun dalam
menentukan lulus tidaknya seseorang lebih-lebih dengan suap.
Selain itu, saya bangga telah meluluskan pegawai PLN dengan
kualitas terbaik dan melalui serangkaian tahapan seleksi yang
transparan dan bebas suap.
* Manajer Bidang SDM dan Organisasi
PT PLN (Persero) Distribusi Bali
Saatnya Hati Bicara
102
Saatnya Hati Bicara
103
PLN Dulu, Kini, dan
Masa Depan
Abdurrachman*
Saatnya Hati Bicara
104
S
ejak zaman dulu, sekarang, hingga ke depan tugas
PLN relatif ajeg, yaitu membangkitkan, menyalurkan,
mendistribusikan dan melayani masyarakat di bidang
kelistrikan. Bedanya, dulu satu organisasi PLN praktis menangani
semua tugas tersebut (PLN Distribusi, PLN Wilayah, PLN KITLUR,
PLN Proyek dan PLN Pusdiklat). Sekarang, organisasi PLN telah
berkembang secara lebih spesifik dengan munculnya sejumlah
anak perusahaan.
Terkait pengelolaan PLN selaku otoritas kelistrikan, publik
menuntut transparansi, baik dari sisi investasi, operasional, serta
pelayanan. Semuanya harus sesuai dengan Good Corporate
Governance (GCG) yang praktis belum maksimal sebelum
Direktur Utama dijabat Dahlan Iskan, tahun 2010.
Mengubah budaya membutuhkan energi besar, kesabaran,
serta waktu. Selain itu juga dibutuhkan elemen-elemen
perusahaan yang berkarakter kuat, berkomitmen, serta berani
melawan arus, seperti dicontohkan Pak Dahlan Iskan.
Ketika saya pertama kali masuk PLN 1984, kondisi
perusahaan masih sederhana. Anggaran PLN seperti tidak terbatas
karena ada anggapan perusahaan ini merupakan infrastruktur
serta lokomotif ekonomi negeri. Tidak ada kata efisiensi. Losses
dan kebocoran penggunaan listrik belum dianggap kerugian.
Prinsipnya, bangkitkan, salurkan, distribusikan, dan layani. Itu
saja tugas PLN.
Dulu, kalau mau menyambung listrik juga relatif mudah.
Semua bisa diatur instalatir. PLN tidak terlalu mementingkan
uang biaya penyambungan (BP) dan uang jaminan langganan
(UJL) karena nominalnya kecil. Justru yang kaya adalah instalatir
dan oknum PLN yang menetapkan biaya sambung sesuai
kesepakatan, tanpa standar harga.
Saat itu gaji pegawai PLN termasuk yang terendah
Saatnya Hati Bicara
105
dibandingkan BUMN lainnya. Walau begitu, masih banyak
pegawai yang tetap bekerja dengan semangat pengabdian luar
biasa. Mereka hanya bermodal pendidikan sekolah dasar (SD),
Sekolah Teknik (setingkat SMP), dan STM, namun rata-rata para
pekerja keras.
Saya pernah diskusi
dengan pensiunan PLN era
delapan puluhan, lulusan
Sekolah Teknik. Dia bercerita,
Saya lama jadi teknisi PLTD
Boom Baru. Sangat pantang
melihat tetesan oli di mesin
dan lantai ruang PLTD. Mesin
PLTD dianggapnya sebagai
anak kedua. Telinganya sangat
sensitif ketika mendengar
suara aneh mesin. Dia pun
akan otomatis bertindak saat ada keanehan.
Bandingkan dengan SDM sekarang yang pendidikannya
relatif tinggi, tapi keterampilan, kepedulian dan kecintaan kepada
PLN jauh meluntur, katanya lagi. Mereka telah beralih menjadi
ahli-ahli tender. Sekarang yang ahli justru para rekanan PLN.
Hingga dekade terakhir, citra PLN sebagai lahan basah
korupsi masih begitu erat melekat. Proses pengadaan barang
dan jasa salah satunya. Dalam bidang pelayanan, orang PLN
berlaku seperti raja ketika menghadapi calon pelanggan yang
mau menyambung listrik. Padahal, menurut prinsip pemasaran
modern, pelangganlah yang harusnya menjadi raja.
Untuk menelepon ke bagian dinas gangguan saja susah
sekali masuk. Kalaupun masuk jawabannya agak ketus dan kurang
ramah. Janji mau segera datang ke tempat gangguan, nyatanya

impian saya ke depan, pelanggan


datang ke kantor PLN seperti masuk
kantor berarsitektur khas, otentik, dan
berkarakter. disambut ramah oleh
satpam, resepsionis, lalu diarahkan
dengan baik sesuai kebutuhan.
ruangan kantor nyaman berpendingin,
dengan musik menenangkan


Saatnya Hati Bicara
106
berjam-jam. Tarif pasang baru, tambah daya, semua tidak jelas.
Pelanggan seperti masuk ruang gelap. Itulah potret pelayanan
PLN selama ini.
Namun, lima hingga enam tahun terakhir, citra tersebut
mulai berubah seiring paradigma baru PLN yang mengagungkan
Saatnya Hati Bicara
107
transparansi. Jargon PLN Listrik Untuk Kehidupan Yang Lebih Baik
dan Sahabat Setia Unjuk Kemajuan serta nilai Saling Percaya,
Integritas, Peduli dan Pembelajar telah banyak mempengaruhi
pola pikir dan tindakan insan PLN.
Pengadaan barang dan jasa telah dilakukan melalui
perangkat teknologi informasi yang bisa diakses oleh siapa saja
dan kapan saja. Sosok Dahlan Iskan telah mampu mengangkat
citra dan persepsi publik terhadap PLN. Menurut saya, PLN
sekarang sudah berada di jalur yang benar, tinggal konsistensi
dan kesadaran seluruh insan PLN untuk menjaganya dan lebih
meningkatkan lagi kualitasnya.
Impian saya ke depan, pelanggan datang ke kantor PLN
seperti masuk kantor berarsitektur khas, otentik, dan berkarakter.
disambut ramah oleh satpam, resepsionis, lalu diarahkan dengan
baik sesuai kebutuhan. ruangan kantor nyaman berpendingin,
dengan musik menenangkan.
Tamu bisa mengambil minuman ringan sesuai selera.
Kemudian mendapatkan informasi cepat dan jelas. Segala
pelayanan, baik permintaan sambungan baru, penambahan daya,
pengaduan, atau rekanan yang mau memasukan penawaran, bisa
berlangsung cepat dan prima. Biaya yang harus dikeluarkan
sesuai Standard Operating Procedure (SOP) dan tarifnya yang
jelas. Bahkan, bagi yang sibuk bisa akses ke internet dengan
administrasi lewat SMS Banking atau ATM. Semoga terwujud!
* Deputi Manajer SDM
Bidang Keuangan, SDM & Administrasi
PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan
Pembangkit Sumatera II
Saatnya Hati Bicara
108
Saatnya Hati Bicara
109
Galih Chrissetyo*
Mimpi, Berharap dan
Bertindaklah
Saatnya Hati Bicara
110
H
ari itu akan selalu saya ingat. Jumat, 15 Februari 2008.
Pengumuman rekrutmen pegawai PLN akhirnya tiba.
Bagi saya, ini adalah pengumuman kedua kalinya yang
sangat menentukan. Banyak cerita mengharukan dalam proses
perjalanan berkarya di PLN. Perjalanan itu dimulai saat menjadi
peserta rekrutmen terbuka di kota Bandung.
Sebagai lulusan teknik
industri saya bersiap mengikuti
test untuk mengisi posisi di
bagian Human Resources (HR).
Tapi tes dimana saya terdaftar
hari itu ternyata diadakan untuk
posisi Pelaksana Keuangan
(PKU). Panitia rekrutmen
harus berkoordinasi untuk
menentukan apakah saya boleh
mengikuti tes itu atau tidak.
Saat yang lain sudah memulai
ujian saya masih menunggu hasil rapat.
Tiga puluh menit menunggu ketidakpastian nasib, akhirnya
saya diizinkan untuk mengikuti ujian. Masih menggunakan nomor
test rekrutmen posisi PKU, tetapi dengan materi ujian HR sesuai
yang saya lamar.
Hasilnya diumumkan keesokan hari, saya tidak lolos di
pengumuman test untuk posisi HR. Saya pulang tertunduk lesu
menyusuri jalanan kota Bandung yang mulai beranjak malam.
Sedih dan kecewa, hingga kira-kira tiga kilometer berjalan, tiba-
tiba saya terdorong untuk kembali dan melihat sekali lagi hasil
test itu. Waktu menunjukkan pukul 18:08 WIB.
Febuari adalah bulan yang basah di Bandung. Demikian pula
pada hari itu. Hujan membasahi kota Bandung, menambah dingin.

saya merasakan dan membuktikan


sendiri perjalanan rekrutmen di PLN
semakin terbuka dan adil. tidak ada
sepeser pun biaya yang harus saya
keluarkan untuk mengikuti test masuk
hingga menjadi pegawai pln. padahal,
ketika itu ada putra pejabat PLN yang
gagal di test kesehatan dan tetap tidak
diterima


Saatnya Hati Bicara
111
Sekali lagi saya menuju lokasi pengumuman test. Kecurigaan saya
benar. Saya masih teridentifikasi dengan nomor peserta test PKU
dan nama saya ada di daftar paling atas. Saya lulus test.
Namun, jalan berikutnya tidaklah mulus. Test berikutnya,
yaitu cek kesehatan, menempatkan saya pada peserta test yang
lulus dengan kategori B, artinya keberangkatan prajabatan
ditangguhkan. Saya diberi kesempatan selama enam bulan untuk
bisa memenuhi syarat test kesehatan yang belum terpenuhi.
Setelah enam bulan menunggu, saya akhirnya menjalani
test kesehatan ulang. Syukur, akhirnya saya dinyatakan lolos, dan
dipanggil untuk mengikuti Diklat Prajabatan Angkatan 10, tahun
2008.
Saya merasakan dan membuktikan sendiri perjalanan
rekrutmen di PLN semakin terbuka dan adil. Tidak ada sepeser
pun biaya yang harus saya keluarkan untuk mengikuti test masuk
hingga menjadi pegawai PLN. Padahal, ketika itu ada putra pejabat
PLN yang gagal di test kesehatan dan tetap tidak diterima.
Saya mungkin tidak mengalami masa-masa sebelum PLN
berubah. Masa-masa itu, menurut sejumlah pegawai senior sangat
berbeda dengan saat ini, yang suasananya terbuka, objektif,
kesejahteraan pun lebih baik. Bisa dikatakan saya terlahir di PLN
ketika angin perubahan mulai berhembus.
Bidiklah bulan!! Bahkan jika meleset jatuhnya pun akan
tetap berada di antara bintang-bintang, kata Donal Trump
yang menjadi inspirasi bagi saya. Begitulah kata-kata, memiliki
kekuatan dalam menanamkan benih perubahan dalam hidup.
Perusahaan kelas dunia adalah impian setiap orang di PLN
termasuk saya yang antusias bermimpi, berharap, dan bertindak.
Dulu PLN adalah sebuah perusahaan yang banyak dicaci-maki
karena buruk pelayanannya. Banyak masyarakat mengeluh
dengan pelayanan PLN.
Saatnya Hati Bicara
112
Menginjak usianya yang ke 67 sangat penting bagi bangsa
Indonesia mendapat pelayanan PLN yang lebih baik. Tetapi,
jalan masih panjang. Masih butuh kerja lebih keras. Memastikan
penyambungan pelanggan baru melalui gerakan sejuta
sambungan menjadi terobosan dan harapan baru.
Program Pusat Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan lampu
hemat energi adalah terobosan lain untuk mengantisipasi
susahnya mengaliri listrik antar pulau.
Ada banyak pekerjaan rumah yang masih harus dibenahi
PLN. Di antaranya, PLTS yang harus mampu menerangi 1.000
keluarga di daerah kepulauan, usaha untuk memulihkan
kepercayaan masyarakat, hingga menjawab tantangan survey
KPK yang menyatakan PLN adalah sarang korupsi.
Gerakan integritas telah dibangun, dengan cara mengisi
PLN dengan orang-orang terpilih berkemampuan baik,
komunikatif, dan mampu menahan godaan yang selama ini
telah mencoreng nama baik perusahaan. Dimulai dari lini yang
bersentuhan dengan pelanggan, saya sebagai salah satu bagian
dari bidang Perencana Karir, Sistem Pembinaan Karir dan
Kompetensi, berusaha terbuka dan objektif dengan proses yang
akan menghasilkan pejabat yang amanah.
PLN juga berusaha menanamkan pola pikir kepada
pegawainya untuk tidak melakukan tindak korupsi. Mulai dari
pemasangan tanda larangan gratifikasi, serta slogan-slogan di
poster, dan pin yang selalu disematkan di baju setiap pegawai
yang menyatakan dengan tegas; kami melayani tanpa korupsi.
Itulah dinamika yang saya alami sebagai generasi muda
PLN, yang membuat saya sangat antusias untuk bekerja. Tahun
2011, unit kami ditantang menjadi agen-agen PLN yang langsung
terjun di lapangan, meskipun itu bukan ruang lingkup tugas
kami. Selama enam bulan kami bersaing satu dengan yang lain
Saatnya Hati Bicara
113
untuk memasarkan tambah daya dan pasang baru. Disanalah
kami melihat kenyataan, mengapa banyak oknum-oknum
tidak bertanggungjawab yang mengatasnamakan PLN bebas
berkeliaran melakukan pungutan liar.
Sedih tentunya, tetapi semangat itu muncul ketika kami
diberikan kesempatan melakukan sosialisasi untuk perbaikan. Kami
pun mengatakan, bahwa PLN sedang berubah, bahwa mengurus
Saatnya Hati Bicara
114
listrik di PLN seharusnya bisa dengan mudah dan transparan.
Beberapa langkah dicanangkannya, misalnya program
perang padam, mengatasi kemungkinan gangguan trafo, dan
penyulang yang menjadi sebab pemadaman. Langkah-langkah
kecil yang dibuat dengan terus melaksanakan pemeliharaan
dan menyisir terus menerus penyulang-penyulang yang dimiliki,
paralonisasi, dan penebangan dahan-dahan yang menyentuh
kabel-kabel listrik.
***
Di tahun pertama saat bekerja di PLN ada kalimat yang
mengusik saya, Find and have a good reason why youre working
and your vision in life. Apakah hidup hanya mencari uang saja?
Apakah saya bekerja karena harus bekerja?
Kini, saya mulai menemukan jawabannya. Saya bekerja
agar bermanfaat bagi banyak orang, diberkati untuk memberkati.
Masih ingat dalam ingatan ketika Spanyol mencetak
sejarah di Euro 2012. La Furia Roja menjadi tim pertama dalam
sejarah yang berhasil memenangi tiga turnamen besar secara
beruntun, yaitu Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012, juga
tim pertama yang sukses mempertahankan trofi Henri Delaunay.
Selain itu, mereka juga menang dengan selisih gol terbesar
sepanjang sejarah final Piala Eropa. Kemenangan ini tentu tak
diraih dengan mudah. Butuh kerja keras bertahun-tahun untuk
mencapai kesuksesan itu.
Saya berharap, PLN bisa mencetak sejarah dan bisa
mengubah sejarah menjadi perusahaan yang terus terbang
tinggi sebagaimana tim sepakbola Spanyol favorit saya: PLN
(semoga) menjadi terang yang sesungguhnya, menerangi
seluruh nusantara.
* Assistant Analyst Perencanaan Karir
PT PLN (Persero) Distribusi Jakarta dan Tangerang
Saatnya Hati Bicara
115
Pemetaan
Kompetensi Pegawai
Fara Sofah Intani*
Saatnya Hati Bicara
116
T
idak pernah terbayangkan di benak saya jika akhirnya
harus bekerja di Pulau Bali, yang selama ini identik dengan
daerah tujuan pelancong dan bulan madu. Paling enak jika
ke Bali memang untuk melancong, bukan untuk bekerja. Tetapi,
inilah resiko menjadi pegawai PLN, harus bersedia ditempatkan
bekerja di mana saja.
Selama tiga bulan
pertama bertugas di kantor
dinas Denpasar, kami harus
mengikuti On The Job Training
(OJT). Untuk mendapatkan
pembekalan mengenai proses
bisnis di PLN Distribusi Bali,
sekaligus praktek kerja. Kami
juga diminta untuk membuat
semacam makalah yang dikenal
dengan Telaahan Staff (TS),
berisi analisa permasalahan
yang ada di lingkungan
kerja PLN Bali, sekaligus
bagaimana memecahkan soal
itu. Kemudian kami ini harus
mempresentasikan TS ini di
depan penguji sebagai penentu
lulus atau tidaknya menjadi pegawai PLN.
Tiga minggu di Denpasar, saya dipindahtugaskan ke
Singaraja, kota di ujung utara Pulau Bali. Di sini saya dilibatkan
dalam proses fit & proper test yang bertujuan untuk menyeleksi
pegawai yang akan menduduki posisi struktural tertentu. Saya
membantu membuat lembar evaluasi yang nantinya digunakan
untuk penilaian.

jenis kompetensi yang


dipersyaratkan sebagian besar
merupakan perilaku atau yang
disebut juga soft competency. namun
sayangnya pertanyaan-pertanyaan
yang dilontarkan lebih kepada
pengetahuan dan keterampilan yang
disebut juga hard competency.
jika saya analogikan, proses
penilaian ini seperti memberi soal
ujian matematika untuk menggali
kemampuan bahasa indonesia.
informasi yang didapatkan tidak
lengkap dan tidak dapat mewakili untuk
dijadikan dasar penilaian. lebih-lebih
lagi untuk menggali kualitas level
kompetensi seseorang


Saatnya Hati Bicara
117
Saatnya Hati Bicara
118
Lembar evaluasi tersebut berisi persyaratan kompetensi
yang harus dimiliki oleh pegawai yang akan menduduki jabatan
tertentu. Kompetensi yang tertera ada tiga kategori, yaitu,
Kompetensi Inti, Kompetensi Peran, dan Kompetensi Bidang.
Kompetensi inti adalah kompetensi dasar yang harus dimiliki
oleh setiap pegawai. Kompetensi Peran adalah jenis kompetensi
yang berkaitan dengan fungsi, peran, dan jabatan pegawai.
Kompetensi Bidang adalah kompetensi yang berkaitan dengan
bidang kerja pegawai secara teknis atau keahlian.
Berdasarkan panduan buku Kebutuhan Kompetensi Jabatan
(KKJ), saya membuat form penilaian untuk mengevaluasi kualitas
kompetensi pegawai yang akan diuji untuk menduduki posisi
supervisor dasar
Masalah muncul saat proses penilaian berlangsung.
Pertanyaan yang ditujukan untuk menggali informasi mengenai
kompetensi yang dimiliki oleh pegawai ternyata tidak dapat
menggali informasi kompetensi secara maksimal.
Jenis kompetensi yang dipersyaratkan sebagian besar
merupakan perilaku atau yang disebut juga soft competency.
Namun sayangnya pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan lebih
kepada pengetahuan dan keterampilan yang disebut juga hard
competency.
Jika saya analogikan, proses penilaian ini seperti memberi
soal ujian Matematika untuk menggali kemampuan Bahasa
Indonesia. Informasi yang didapatkan tidak lengkap dan tidak
dapat mewakili untuk dijadikan dasar penilaian. Lebih-lebih lagi
untuk menggali kualitas level kompetensi seseorang.
Ternyata memang masih belum ada metode khusus untuk
mengukur jenis dan level kompetensi seseorang. Maka dari itu
pada Telaahan Staff, saya mencoba untuk merumuskan sebuah
metode untuk mengukur jenis dan level hard competency
Saatnya Hati Bicara
119
* Assistant Analyst Pengembangan Kompetensi
PT PLN (Persero) Distribusi Bali
seseorang. Akhirnya saya dan tim dari bidang SDM & Organisasi
PLN membuat metode untuk mengukur hal tersebut yang disebut
Pemetaan Kompetensi Pegawai Distribusi Bali (MASI GADIS
BALI).
Saya rasa pengukuran kompetensi yang benar sangat
penting sebagai dasar pengembangan SDM di PLN. Hasil
pengukuran kompetensi yang objektif dan valid dapat
memberikan informasi yang jelas mengenai kekurangan dan
kelebihan yang ada pada diri pegawai. Hal ini juga dapat dijadikan
dasar yang kuat dalam menyusun rencana pengembangan
pegawai dan manajemen. Dengan dasar kepegawaian yang
kuat, kerja PLN dalam menerangi nusantara pun bisa lebih baik.
Semoga!
Saatnya Hati Bicara
120
Saatnya Hati Bicara
121
Muhammad Darwing Samsudin*
PLN Bersih, PLN
Dicintai Rakyat
Saatnya Hati Bicara
122
H
ari itu cukup tenang. Seperti biasa para pegawai
menjalankan aktifitas sesuai tugas masing-masing.
Namun, ketenangan itu pun pecah, ketika dengan tiba-
tiba Kepala Seksi Operasi masuk ke ruang saya dan mengajak
mendiskusikan perkara yang berkaitan dengan salah satu
tugasnya sebagai koordinator pelaksanaan Penertiban
Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) di Unit PLN Cabang.
Selama ini, dalam
pandangan saya, pelaksanaan
P2TL berjalan lancar dan
tanpa gejolak berarti. Namun,
ia menyampaikan perlu
adanya penggantian tugas di
tim P2TL. Saya mendengarkan
laporannya dan bertanya,
Adakah petugas tim P2TL
yang melakukan hal yang
merugikan perusahaan atau
pelanggan, atau ada rencana
gugatan dari pelanggan? Saya
tahu P2TL memang sangat
rentan terhadap gugatan, suap,
gratifikasi ataupun gangguan
keselamatan petugas di lapangan.
Pak, Seluruh tim P2TL kami memiliki integritas yang
baik dan kami sangat menghargai mereka semua. Tetapi, untuk
mengoptimalkan pelaksanaan tugas P2TL, kami mengusulkan agar
petugas yang bernama si Fulan (nama samaran ) dipindahkan saja
ke pekerjaan lain yang lebih cocok, katanya dengan nada serius.
Saya pun menanggapinya dengan tak kalah serius,Bukankah
yang bersangkutan orang yang jujur dan tidak pernah ada laporan

dari cerita tersebut saya belajar


bahwa ketepatan menempatkan
pegawai sangat penting. pekerjaan
yang berhubungan langsung dengan
pelanggan membutuhkan pribadi
berkarakter kuat dan penempatan
yang meminimilasi peluang yang dapat
membangkitkan sisi merugikan dari
seorang individu, seperti kolusi, suap,
juga emosi negatif. jika semua syarat
itu terpenuhi, PLN bersih bukan lagi
mimpi. dan dengan pln bersih, pln pun
akan dicintai rakyat


Saatnya Hati Bicara
123
negatif tentang dirinya baik dari karyawan maupun masyarakat?
Benar, Pak. Tetapi, yang bersangkutan terkadang tidak
bisa mengendalikan emosinya pada saat berhadapan dengan
pelanggan yang terindikasi atau terbukti melakukan pelanggaran
penyambungan tenaga listrik sehingga membahayakan keselamatan
diri dan petugas P2TL lainnya, jawab Kepala Seksi (KS) Operasi.
Saatnya Hati Bicara
124
Saya mengerti bahwa usulan Kepala Seksi Operasi tersebut
bukan karena dia tidak suka kepada si Fulan, tetapi untuk
mengoptimalkan kinerja yang bersangkutan, termasuk juga
kinerja timnya. Si Fulan merupakan sosok pegawai yang sangat
baik, memiliki integritas, dan kemampuan teknis yang cukup
sebagai petugas P2TL.
Namun integritas dan kejujuran saja tidak cukup. Dituntut
antara lain memiliki ketenangan dan kemampuan berkomunikasi
dengan baik pada saat menghadapi pelanggan bermasalah.
Kejadian si Fulan yang cenderung bersitegang dengan pelanggan
yang bermasalah memang membahayakan keselamatan tim.
Beberapa hari kemudian SK mutasi si Fulan pun dikeluarkan.
Namun, persoalan rupanya tidak berhenti di situ. Siang itu
telepon berdering, Kepala Seksi Operasi menyampaikan bahwa si
Fulan akan datang ke tempat saya untuk memprotes SK mutasinya.
Tak berselang lama, yang bersangkutan pun masuk ke ruang saya
dan mulai menanyakan alasan mutasinya dengan wajah tegang.
Saya menyambutnya dengan tenang dan menjelaskan
alasannya, Anda di mutasi ke seksi tera karena saya percaya
anda orang yang jujur dan memilki kemampuan teknis yang
cukup sesuai kebutuhkan di seksi tera.
Mendengar penjelasan saya, perlahan-lahan ketegangan di
wajahnya mulai berkurang.
Kalau alasannya begitu, saya terima mutasi ini, katanya.
Dia pun keluar dari ruang saya dengan tenang. Dari hasil
pemantauan di tempatnya yang baru (Seksi Tera), si Fulan telah
bekerja dengan sangat baik. Atasannya pun cukup puas dengan
hasil kerjanya.
Dari cerita tersebut saya belajar bahwa ketepatan
menempatkan pegawai sangat penting. Pekerjaan yang
berhubungan langsung dengan pelanggan membutuhkan
Saatnya Hati Bicara
125
* Deputi Manajer Manajemen Enjiniring Transmisi & Distribusi
PT PLN (Persero) Pusat Enjiniring Ketenagalistrikan
pribadi berkarakter kuat dan penempatan yang meminimilasi
peluang yang dapat membangkitkan sisi merugikan dari seorang
individu, seperti kolusi, suap, juga emosi negatif. Jika semua
syarat itu terpenuhi, PLN bersih bukan lagi mimpi. dan dengan
PLN bersih, PLN pun akan dicintai rakyat.
Saatnya Hati Bicara
126
Saatnya Hati Bicara
127
Cantik di Dalam,
Cantik Pula di Luar
Yusuf Indra Wibowo*
Saatnya Hati Bicara
128
B
eraneka perasaan yang saya alami semenjak tiga tahun
terakhir bergabung bersama PLN Wilayah Maluku dan
Maluku Utara. Awalnya senang, karena terpilih dari ribuan
orang pelamar. Sempat kecewa saat mendapat penempatan yang
jauh sekali dari kampung halaman. Sempat pula bersedih, karena
harus meninggalkan orang-orang tercinta. Namun, tertawa
adalah cara paling sederhana menikmati semua pengalaman dan
melupakan kesedihan.
Setelah bergabung
dengan PLN, barulah saya
sadari bahwa perusahaan
tempat saya bekerja ini
ternyata besar sekali. Ratusan
cabang/unit PLN tersebar
diseluruh wilayah Indonesia.
Di tiap propinsi pasti ada
kantor PLN. Saya pikir PLN
juga pasti kaya-raya. Kalau
tidak, mana ada perusahaan
di dunia sebesar ini mampu
terus bertahan dengan kondisi
keuangan yang hampir selalu
merugi tiap tahunnya.
Nah, lain lagi pendapat
masyarakat umum, PLN itu payah. Penyebabnya tidak lain karena
kualitas pelayanan yang belum memuaskan dan prosesnya
berbelit-belit. Pemadaman byar-pet masih kerap terjadi. Bahkan
di kota besar, proses pasang baru bertele-tele, pencatatan meter
tidak sesuai, dan sederet keluhan lainnya.
Walaupun sekarang ini sudah ada banyak langkah
perbaikan seperti diadakannya program Payment Point Online

selama berkarir, fokus perhatian


saya adalah pengelolaan sumber
daya manusia (SDM). dari mulai
proses regenerasi pegawai, mutasi,
promosi, diklat kompetensi, hingga
pemberian penghargaan dan sanksi
(reward and punishment). pembenahan
sektor SDM sangat penting karena
dengan SDM yang bagus, target bisa
tercapai, pelayanan membaik, dan
dapat meminimalisasi praktek-praktek
tercela.


Saatnya Hati Bicara
129
Bank (PPOB), Aplikasi Pelayanan Pelanggan Terpusat (AP2T),
Listrik Pintar, dan lain sebagainya, stigma buruk tersebut masih
belum juga hilang.
Selama berkarir, fokus perhatian saya adalah pengelolaan
sumber daya manusia (SDM). Dari mulai proses regenerasi
pegawai, mutasi, promosi, diklat kompetensi, hingga pemberian
Saatnya Hati Bicara
130
penghargaan dan sanksi (reward and punishment). Pembenahan
sektor SDM sangat penting karena dengan SDM yang bagus, target
bisa tercapai, pelayanan membaik, dan dapat meminimalisasi
praktek-praktek tercela.
Namun, bekerja di kota kecil di luar Jawa, ada satu hal
yang kerap kali diminta pegawai, yaitu mutasi. Dengan beragam
alasan, mulai dari kangen kampung halaman, iri dengan teman-
teman di unit kota besar, karir mandek, hingga kehilangan gairah
dan tantangan bekerja. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagian
SDM seperti saya.
Ada kasus, seorang pegawai asal Yogyakarta, katakan saja
namanya Anto, seorang sarjana akuntansi, sudah tujuh tahun
berkarir di PLN Maluku, tetapi masih sebagai supervisor cabang.
Padahal, kompetensinya sudah lebih. Anto membandingkan
dirinya dengan teman seangkatannya yang berkarir di wilayah
lain yang kebanyakan sudah menjabat sebagai asisten manajer
atau sudah menjabat di struktur manajemen atas. Timbullah
keinginan untuk mutasi karena motif cemburu. Namun, sayang
sulit sekali, permintaannya sulit dipenuhi perusahaan. Sebagai
SDM, hal ini membuat saya bersedih.
Akan lebih baik apabila perusahaan membuat perencanaan,
berapa lama waktu maksimal seorang pegawai bertugas di suatu
daerah untuk kemudian dimutasi. Hal ini penting dilakukan untuk
menghindari menurunnya kinerja pegawai tersebut.
Bukankah, permasalahan pegawai seperti ini secara tidak
langsung akan memiliki dampak juga bagi terpenuhinya cita-cita
PLN dalam memperbaiki pelayanannya terhadap masyarakat?
Semoga PLN semakin cantik, baik di dalam, maupun di luar.
* Junior Analyst Akutansi
PT PLN (Persero) Wilayah Maluku dan Maluku Utara
Saatnya Hati Bicara
131
Kadus
Bagus Setiawan*
Saatnya Hati Bicara
132
S
aya bersyukur pernah bertemu Pak Teguh dalam
perjalanan karir saya. Saat itu usia saya belum genap 40
tahun. Meski sebelumnya tidak pernah bertemu, kami
cepat akrab. Pak Teguh jauh lebih senior dari saya dan sudah
sangat berpengalaman. Kematangannya terlihat dari pesan-
pesannya yang berbobot, selalu dikemas dalam cerita-cerita
menarik. Suatu hari beliau bercerita tentang Kadus, cerita yang
tidak pernah saya lupakan.
Kadus adalah seorang kepala dusun dari daerah terpencil
di kaki gunung. Warganya hidup miskin dan tertinggal. Mereka
menggantungkan hidup dari berladang di musim hujan yang
singkat. Bulan-bulan selebihnya, dusun itu hanyalah tanah gersang
dengan tetumbuhan meranggas dan tikus-tikus yang bersarang
di retakan tanahnya. Sedemikian tandusnya, dusun itu dinamai
dusun Tanah Retak.
Kadus prihatin dengan keadaan dusunnya. Suatu hari ia
jalan mengelilingi dusunnya. Lalu ia menyadari bahwa sungai
kecil tempat warga sering menimba air, sebenarnya tidak
terlampau jauh dari dusunnya dan airnya pun tidak pernah
kering sepanjang tahun. Di bagian ini ia menemukan bentang
alam yang cocok untuk dijadikan waduk kecil. Ketinggiannya pun
memungkinkan untuk dibangun saluran irigasi menuju dusunnya.
Ia berhitung, waduk kecil itu bisa dibangun secara swadaya. Selain
tenaga kerja, bahan baku seperti batu, lempung, pasir, kayu dan
bambu, banyak terdapat di dusunnya. Hanya saja, apakah warga
mau gotong royong tanpa upah?
Kadus memaparkan gagasannya di depan warga dusun.
Ia memang cakap membumikan mimpi. Bahasanya lugas dan
sederhana. Rancangan waduk dan irigasinya dapat dipahami
dengan gamblang oleh semua warga. Pokoknya, apa yang
ia impikan dan apa yang warga bayangkan sudah sama dan
Saatnya Hati Bicara
133
sebangun. Langkah dan target sudah jelas dan siap dilaksanakan.
Singkat cerita, Kadus berhasil memperoleh dukungan bulat
seluruh warga dusun Tanah Retak.
Di acara peletakan batu pertama Kadus berpesan singkat
padat, Saudaraku sedusun, katanya. Segera setelah musim
hujan tiba, dusun kita akan
subur lestari. Kita akan segera
memiliki waduk yang mengalir
darinya air menuju dusun kita
sepanjang tahun. Kita akan
bisa memanen padi dari sawah
kita dua atau tiga kali setahun.
Kita bisa menanam sayur mayur, berternak unggas dan domba
atau budidaya ikan. Ayo kita kerja. Jangan tanya apa yang sudah
dusun ini berikan kepada kita, tapi tanyakan, apa yang sudah
kita berikan kepadanya, lanjutnya menyitir kata-kata Paman
Sam yang tidak pernah dikenalnya. Tidak ada upah yang pantas
untuk kita selain terwujudnya harapan bahwa sepanjang tahun
kita akan memiliki air yang akan mengisi celah retakan di tanah
kita, ucapnya. Dan jangan khawatir dengan kebutuhan sehari-
hari. Pamong akan menyiapkan segala yang kita butuhkan.
Warga bergotong-royong penuh semangat mewujudkan
harapan bersama. Dan ketika tiba saat istirahat siang, makanan
telah siap. Meskipun hanya beras jagung dan sayur urap, warga
menyantap dengan lahap. Sambil jalan keliling, Kadus menyapa
renyah menyemangati warganya, Selamat menikmati dan
mensyukuri nikmat hari ini.
Kadus senang melihat warganya tetap semangat meski
gotong-royong telah berlangsung beberapa pekan, sampai
akhirnya seorang pamong membuat kejutan tanpa setahu Kadus.
Hari itu pamong menyediakan lauk daging di samping nasi

waspadalah, tekad menuju cita-


cita yang tinggi dapat dilemahkan oleh
kebutuhan yang paling rendah

Saatnya Hati Bicara


134
jagung dan sayur urap. Tentu saja warga senang dan semakin
bersemangat melahap hidangan hingga habis tanpa sisa. Dan
seperti biasa Kadus menyapa renyah. Bagaimana menu kita hari
ini? sapanya. Enaak!, sahut warga serempak.
Tiba-tiba pamong berkata, Tahukah saudara sekalian,
dengan sedikit kreatifitas, sesuatu yang tampak tidak bermanfaat
bisa disulap menjadi bermanfaat? kata sang pamong percaya
diri. Menu kita hari ini adalah daging tikus!
Kadus terkesiap. Wajah beberapa orang pucat pasi lalu
muntah tak terkendali, yang lain marah karena merasa tertipu
lalu mencolokkan jari ke mulutnya agar bisa muntah. Mereka
langsung pulang sebagai bentuk protes mereka.
Tapi yang agak melegakan Kadus, ternyata sebagian besar
warga tidak bereaksi seekstrim itu, mereka hanya menyatakan
menyesal atas kejadian hari itu lalu memintanya untuk tidak lagi
menyajikan menu serupa. Tentu saja Kadus segera minta maaf atas
kesalahan pamongnya yang berjanji tidak akan mengulangi lagi.
Hanya saja ada yang membuatnya masygul, sebagian kecil warga
yang lain ternyata malah terkekeh-kekeh sambil berceloteh, Ha
ha ha, enjoy aja, tadi bilangnya enak, kan?
Keesokan harinya terjadi keributan di lokasi waduk. Warga
mendapati waduk dan saluran irigasi yang tengah mereka bangun
seperti sengaja dirusak tangan jahil. Kadus cepat tanggap dan
segera memotivasi warga agar tetap semangat. Tetapi kali ini
Kadus merasakan suasana kebatinan yang berbeda, rupanya
keadaan telah berubah semenjak insiden daging tikus. Dan hari-
hari berikutnya menjadi hari kelabu bagi dusun Tanah Retak.
Pasalnya, setiap ada kemajuan di sore hari, setiap pagi warga
mendapati perusakan. Akhirnya, warga yang ikut gotong-royong
pun semakin berkurang.
Kadus dan sebagian warga yang masih bersemangat pun
Saatnya Hati Bicara
135
melakukan ronda malam. Mereka terkejut. Pelakunya ternyata
warga dusun mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang
tertawa mengejek saat insiden tempo hari. Rupanya mereka telah
tahu enaknya daging tikus. Mereka berburu tikus lalu merusak
waduk karena mereka tidak ingin tikus-tikus itu punah jika waduk
Saatnya Hati Bicara
136
dan salurannya terwujud. Dan para pemburu tikus itu, makin hari
makin bertambah banyak. Bahkan akhirnya mereka tidak segan
lagi berburu di siang hari bolong.
Kadus kembali ke titik nol. Ia mencoba mengumpulkan
lagi warganya, memotivasi, dan memaparkan langkah-langkah
selanjutnya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Di mata warga, waduk
dan salurannya hanyalah mimpi yang melelahkan. Daging tikus
itulah kenyataan. Dan Kadus pun sampai pada kesadaran, bahwa
menjelaskan kepada warganya tentang dusun subur lestari
adalah seperti menjelaskan indahnya pelangi kepada orang buta.
Kadus yang putus harapan terhadap warganya, berpesan
kepada anak-anak yang berhasil ia selamatkan dari daging tikus,
Nak, berhati-hatilah kamu menjaga hidupmu. Lipat gandakan
kehati-hatianmu itu jika kelak kamu menjadi pemimpin.
Waspadalah, tekad menuju cita-cita yang tinggi dapat dilemahkan
oleh kebutuhan yang paling rendah. Pikir baik-baik apa yang
akan kamu berikan. Ketahuilah, betapapun joroknya, segala
pemberian akan selalu disambut baik oleh mereka yang lapar.
Bahkan mereka yang merasa jijik sekalipun, pada akhirnya akan
terbiasa.
Ya, Pak Teguh Sanjaya, saya mengerti, kata saya. Terima
kasih.
* Kepala Divisi Pengembangan SDM
PT PLN (Persero)
Ditulis ulang secara bebas dari ide cerita Bapak Teguh Sanjaya, staf
PLN Wilayah Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu
Saatnya Hati Bicara
137
Anti Gratifikasi
Saatnya Hati Bicara
138
Saatnya Hati Bicara
139
Bersih Dimulai dari
Diri, Mulai Hari Ini
Firman Ansyari*
Saatnya Hati Bicara
140
A
lkisah, seorang pegawai dengan masa kerja kurang
lebih dua tahun baru diangkat sebagai kepala ranting
(sekarang manajer rayon), di sebuah kota kecil di
Sumatera. Ketika baru mulai bekerja di kantor barunya, dia heran
dengan daftar pegawai yang hanya dua puluh orang. Padahal
yang bekerja jumlahnya lebih dari itu. Setelah tanya sana sini
termasuk ke kepala STU (Seksi Tata Usaha sekarang Supervisor)
menjelaskan, para pegawai lain ini digaji dari dana taktis.
Hah dana apa pula ini? tanya kepala ranting.
Dengan tenang sang kepala seksi menjelaskan. Pak, karena
kita kekurangan pegawai kita merekrut pegawai tambahan dan
mereka kita bayar dengan uang yang dikutip dari pelanggan
pasang baru (PB) dan perubahan daya (PD).
Jadi, menurut keterangan kepala seksi, pelanggan dikenakan
biaya lain di luar biaya penyambungan (BP) dan uang jaminan
langganan (UJL). Uangnya dikumpulkan untuk menggaji karyawan
non pegawai PLN, dan untuk ongkos mengambil material.
Ongkos apa lagi ini? kepala ranting semakin
kebingungan.
Begini Pak, lanjut sang senior menambahkan, Kita butuh
uang untuk diberikan kepada kepala bagian Pelayanan Pelanggan
(KBPP) sekarang setingkat asisten manajer. Setiap mengambil
material, kita harus menggunakan formulir TUG 5 dan harus
disetujui dia. Tarif untuk KBPP sekian rupiah dikali jumlah calon
pelanggan. Untuk staf gudang lain lagi Pak, dan tentu untuk kita
juga, untuk memberi sangu dan oleh-oleh kalau ada tamu
Wah yang benar? Kalau kita tidak memberi KBPP
bagaimana? tanya sang kepala ranting.
Bakalan tidak akan diberi material Pak, jawab sang kepala
STU. Dan ini berlaku untuk semua Ranting, Pak, tambahnya.
Wahboleh dicoba nih, pikir kepala ranting
Saatnya Hati Bicara
141
Singkat kata, beberapa
hari kemudian sang kepala
ranting menyiapkan dokumen
TUG 5 berisi permintaan
material seperti kWh meter
dan lain-lain. Dia datang
sendiri dan tanpa angpao
menghadap sang KBPP.
Ia dipersilakan masuk
dengan ramah. Dokumen
pun diserahkan, kemudian
tuan rumah meminta kepala
ranting menunggu sebentar
di ruangannya. Namun, hingga
lebih dari dua jam menunggu,
sang KBPP tidak kunjung
kembali ke ruangannya.
Dokumen tersebut pun
terlantar di ruangannya
berminggu-minggu kemudian,
tanpa kejelasan.
Akibatnya, selama
beberapa bulan, pelayanan
pasang baru di unit tersebut
terpaksa ditutup karena
ketiadaan material. Banyak calon pelanggan masuk dalam daftar
tunggu dengan alasan kWh meter tidak ada.
Suatu hari, tiba-tiba di satu permukiman yang masuk
wilayah kerja kepala ranting tadi telah dipasangi listrik lengkap
dengan kWh meter. Pemasangan langsung dilakukan oleh
pelaksana dari kantor cabang, tanpa diketahui ranting setempat.

hingga suatu ketika, dibutuhkan


material khususnya lvtc 2x10 mm
2
dalam
jumlah sangat besar dan setiap unit harus
segera mengadakannya masing-masing.
pak gm segera mengadakan pengarahan
dan dihadiri oleh para manajer bidang.
seperti biasa sang gm mengarahkan
dengan kata-kata yang penuh makna dan
tak lupa dengan kutipan ayat-ayat sucinya.
namun, setelah rapat selesai, seorang
deputinya menitipkan kertas kecil berisi
nomor ponsel dan nama seseorang.
dengan bergaya bloon, sang manajer area
bertanya, maksudnya apa ya pak?
sang deputi menjelaskan, itu nama
seseorang dari pabrik kabel merk x, teman
dekat sang big boss dan kabel harus dibeli
dari sana.
keluar ruang rapat, manajer tersebut
langsung mencari tong sampah lalu
membuang kertas kecil tadi. hmm, ilmu
lama lempar batu sembunyi tangan
lain di mulut, lain implementasi, gerutu
sang manajer.


Saatnya Hati Bicara
142
Tidak lama, sekitar dua puluh orang mendatangi kantor ranting.
Mereka protes keras kepada kepala ranting atas perlakuan
pelayanan yang berbeda dari PLN.
Pucuk di cinta ulam tiba, pikir sang kepala ranting baru
ini. Dengan tenang sang kepala ranting mengambil bolpoin
dan kertas, menuliskan nama, jabatan dan alamat kantor KBPP
kepada pemimpin rombongan, lalu mempersilahkan pemimpin
rombongan untuk langsung protes ke alamat yang tepat.
Selanjutnya, kurang dari tiga jam sang KBPP menelepon
kepala ranting untuk segera menerima BP dari calon pelanggan
dan meminta staf segera mengirim dokumen TUG 5 untuk
disetujui sang penguasa material. Sejak itu sang KBPP tidak
berani menunggu angpao dari unit sang kepala ranting. Tidak
tahu kalau dari unit lain.
Lebih dari sepuluh tahun kemudian, sang kepala ranting
menjadi pemimpin unit pelaksana. Baru menjabat satu bulan,
sang pemimpin unit bertemu dengan general manager (GM)
setempat. Big boss baru sangat berkharisma, dalam setiap
pengarahannya dengan santun selalu mengingatkan agar tidak
menerima apapun dari rekanan.
Hingga suatu ketika, dibutuhkan material khususnya LVTC
2x10 mm
2
dalam jumlah sangat besar dan setiap unit harus segera
mengadakannya masing-masing. Pak GM segera mengadakan
pengarahan dan dihadiri oleh para manajer bidang. Seperti biasa
sang GM mengarahkan dengan kata-kata yang penuh makna.
Namun, setelah rapat selesai, seorang deputinya menitipkan
kertas kecil berisi nomor ponsel dan nama seseorang. Dengan
bergaya bloon, sang Pemimpin Unit bertanya, Maksudnya apa ya
Pak?
Sang deputi menjelaskan, Itu nama seseorang dari pabrik
kabel merk X, teman dekat sang Big boss dan kabel harus dibeli
Saatnya Hati Bicara
143
dari sana.
Keluar ruang rapat, manajer tersebut langsung mencari
tong sampah lalu membuang kertas kecil tadi. Hmm, ilmu lama
Lempar batu sembunyi tangan Lain di mulut, lain implementasi,
gerutu sang manajer.
***
Di lain hari, seorang mahasiswa sedang berdiskusi dengan
beberapa rekannya di rumah kakeknya. Di tengah rehat, rekan
sang cucu yang sejak tadi mengamati isi rumah bertanya, Wah
.. kakek kamu kerja dimana? Banyak sekali penghargaan dari
beberapa perusahaan multinasional dan nasional.
Sang cucu menjawab, Sekarang sih sudah mengundurkan
diri dan mengisi waktunya mengelola yayasan sosial yang
bekerja untuk kepentingan orang banyak. Dulu dia pernah
menjadi direksi dan komisaris di BUMN besar dan perusahaan
asing terkenal termasuk 100 perusahaan terbaik versi Fortune.
Dengan pandangan kagum dan penasaran sang teman
melanjutkan bertanya bagaimana bisa sang kakek mencapai
posisi puncak di beberapa perusahaan bonafid.
Sang cucu dengan bangga menjelaskan, Kakek awalnya
bekerja sebagai staf biasa di salah satu BUMN terbaik di Indonesia,
dimana alumninya dicari banyak perusahaan karena reputasinya
yang baik. Perusahaan itu perintis transparansi di Indonesia
dengan indeks korupsi terendah versi TII.
Perusahaan apa itu? sang tamu mulai tak sabar.
Awalnya perusahaan itu biasa saja, hingga terjadi perubahan
besar budaya perusahaan dari dilayani menjadi budaya melayani,
dan bertahap menjadi perusahaan terbersih di Indonesia. Dari
BUMN inilah Kakek meniti karier dan banyak belajar banyak hal
mulai dari profesionalisme, tanggung jawab, integritas tinggi,
termasuk budaya melayani itu. Setelah keluar dari perusahaan
Saatnya Hati Bicara
144
Saatnya Hati Bicara
145
* Manajer Area Pondok Gede
PT PLN (Persero) Distribusi Jakarta dan Tangerang
itu, kakek diangkat beberapa kali menjadi Direksi BUMN, bahkan
CEO di salah satu perusahaan swasta nasional besar dan akhirnya
menjadi Direksi di perusahaan multinasional.
Makin penasaran saja sang rekan, Memangnya kakek
kamu awalnya bekerja dimana, sih?
Dengan bangga sang cucu menjawab, PLN, Perusahaan
Listrik Negara.
Tidak jelas bagaimana respon rekan sang cucu itu, karena
tiba-tiba dunia serasa runtuh, Pakbangun Pak, Bapak mimpi
ya? Sudah subuh... Istri tercinta membangunkan dari mimpi
indah. Pagi ini kan Bapak mau dinas ke luar kota, lanjutnya.
Huh, jadi tadi hanya mimpi? Dan aku masih bekerja dan
belum jadi kakek-kakek? Ah, bagaimana mewujudkan mimpi ini
jadi kenyataan? BUMN terbaik dengan reputasi terbersih, dimulai
dari para pegawai level atas ke bawah, atau dari bawah ke atas?
Kata pak ustad, mari mulai dari diri sendiri, mulai hari ini,
dan mulai dari yang kecil sekalipun.
Saatnya Hati Bicara
146
Saatnya Hati Bicara
147
Segelas Kopi dan
Sirih untuk PLN
Yuniarto Hadi Prayitno*
Saatnya Hati Bicara
148
D
i pinggiran desa dekat hutan jati Watu Kanggoro, Nusa
Tenggara Timur pada suatu hari yang terik. Kendaraan
roda empat dengan tangga bambu di bak belakangnya,
berhenti di kiri jalan. Dua orang berpakaian kaos dan celana
panjang kain warna coklat tua, bergegas turun. Keduanya berjalan
cepat menuju ke salah satu rumah tinggal beratap daun rumput
ilalang dan berlantai tanah liat.
Setelah menyapa pemilik
rumah, kedua petugas tersebut
lalu melepas tangga yang
di bak belakang kendaraan.
Salah seorang petugas lalu
menyiapkan tangga dan mulai
melaksanakan pekerjaan
perbaikan kabel tarikan listrik
dari tiang menuju rumah
ilalang. Sepertinya kabel
tersebut putus akibat tertimpa
pohon tumbang setelah terjadi
angin kencang beberapa
hari sebelumnya. Tak lama
kemudian, perbaikan pun
selesai.
Pemilik rumah pun
bertanya, Kira-kira berapa biayanya?
Hampir bersamaan, kedua petugas itu menjawab, Gratis.
Hal ini sudah menjadi tugas kami. Kami tidak boleh menerima
biaya diluar administrasi resmi dari kantor.
Pemilik rumah seolah tak percaya dengan jawaban itu. Dia
pun kembali menanyakan, Benarkah demikian? Kalau begitu
mari minum kopi dahulu.

seperti motto perusahaan yaitu sipp


(saling percaya, integritas, peduli dan
pembelajar) yang telah kami baca dan
kami pelajari selama ini, dalam setiap
pelayanan harus didasari integritas
setiap petugasnya. namun, tradisi dan
hubungan kekeluargaan yang tertanam
di masyarakat pedesaan masih sangat
kental. jika kami tolak suguhan kopi
dan sirih pinang tersebut, itu artinya
kami seperti melawan tradisi dan
adat istiadat daerah. tetapi, jika kami
terima terasa di dalam hati berlawanan
dengan janji, komitmen untuk
memperbaiki citra perusahaan dengan
pelayanan tanpa imbalan.


Saatnya Hati Bicara
149
Dua gelas kopi disuguhkan, didampingi kotak kayu berisi
daun sirih, kapur, lengkap dengan buah pinangnya.
Itulah cermin pelayanan kami di desa-desa terpencil yang
berada jauh dari kota Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara
Timur. Dengan segenap hati, kami belajar melayani berlandaskan
jiwa pelayanan terhadap pelanggan. Dengan motto yang selalu
didengungkan untuk menjadi pelayanan bagi pelanggan listrik,
Saatnya Hati Bicara
150
tanpa mengharap imbalan.
Tapi apa yang harus kami hadapi di lapangan?
Masyarakat dengan pola hidup sederhana pun masih
dengan sukarela dan berbesar hati memberikan imbal balik,
yang kadang sulit ditolak karena bisa menyinggung perasaan
mereka. Imbalan itu tak berbentuk nilai rupiah, tapi berbentuk
panganan sirih pinang. Bagaimana kami harus menolaknya?
Seperti motto perusahaan yaitu saling percaya, integritas,
peduli dan pembelajar (SIPP) yang telah kami baca dan kami
pelajari selama ini, dalam setiap pelayanan harus didasari integritas
setiap petugasnya. Namun, tradisi dan hubungan kekeluargaan
yang tertanam di masyarakat pedesaan masih sangat kental. Jika
kami tolak suguhan kopi dan sirih pinang tersebut, itu artinya kami
seperti melawan tradisi dan adat istiadat daerah.Tetapi, jika kami
terima terasa di dalam hati berlawanan dengan janji, komitmen untuk
memperbaiki citra perusahaan dengan pelayanan tanpa imbalan.
Kami menyadari, untuk merealisasikan harapan yang selalu
didengungkan itu, kita harus bisa mulai dari yang kecil, dari diri
kita sendiri dan mulainya dari sekarang.
Komitmen ini harus terpatri kuat sehingga mampu
menghindarkan kita dari tuntutan pemenuhan ekonomi yang tidak
sesuai dengan pendapatan pada diri sendiri, keluarga maupun
orang lain. Sehingga keinginan untuk melakukan hal-hal yang
merugikan perusahaan juga merugikan negara bisa di minimalisir.
Bagaimana dengan pelayanan yang dekat dengan kota,
dekat dengan pusat pemerintahan? Apakah masih disuguhkan
dengan segelas kopi dan kotak berisi sirih pinang?
* PLT Manajer Rayon Sumba Jaya
PT PLN (Persero) Wilayah Nusa Tenggara Timur
Saatnya Hati Bicara
151
Role Model itu
Datang dari Seorang
Petugas Yantek
Agus Yuswanta*
Saatnya Hati Bicara
152
S
iang itu, seorang pelanggan datang ke Rayon Tanjungsari
untuk melabrak Heru Budiarso, Supervisor Teknik PLN
Rayon Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Saumur-umur kakara saya kahina jeung teu dihargaa, semprot
si pelanggan dalam bahasa sunda medok yang artinya, Seumur-
umur saya baru kali ini merasa terhina dan tidak dihargai.
Mendapatkan sarapan pagi berupa omelan menohok itu
membuat Heru kebingungan. Dia berupaya tetap tenang dan
bertanya pelan, Ada apa gitu, Pak?
Namun, si pelanggan membalasnya dengan nada tinggi,
Eta petugas yang kemarin datang ke rumah, dikasih minum dan
diberi rokok ditolak. Apa kurang gede pemberian saya?
Mendengar jawaban itu, Heru yang awalnya bersiap-siap
mengklarifikasi perilaku anak buahnya di lapangan, berubah
sumringah. Yang dikerjakan petugas sudah benar, karena petugas
tidak boleh menerima apalagi meminta imbalan apapun dari
pelanggan atas segala layanan yang diberikan, ungkap Heru.
Oh, sekarang aturannya begitu, kata si pelanggan sambil
manggut-manggut. Saya baru tahu.
Setelah pelanggan itu pergi, Heru yang penasaran
kemudian mencari tahu, siapa pegawai bidang pelayanan teknis
atau kerap disingkat yantek yang diadukan sang pelanggan
itu. Akhirnya diketahui bahwa orang yang dimaksud adalah Dedi
Junaedi. Peristiwa itu, menurut pengakuan Dedi, terjadi pada
awal September 2012. Dia diminta seorang pelanggan untuk
mengubah daya listrik dari 900 VA ke 1300 VA.
Dedi mengaku menolak pemberian berupa minuman dan
rokok dari pelanggan itu karena ingin menjalankan apa yang
telah dibahas dalam Code of Conduct (CoC) Rayon Tanjung Sari
agar tidak menerima pemberian dari pelanggan dalam bentuk
apa pun.
Saatnya Hati Bicara
153
Budaya Memberi
Kisah Dedi ini bukanlah mengada-ada. Sikap tegasnya untuk
menolak pemberian minum dan rokok dari pelanggan barangkali
bisa dianggap kontroversial. Namun, sesungguhnya, tindakan itu
bermakna besar. Bagi saya, Dedi Junaedi adalah sosok petugas
layanan PLN berintegritas tinggi yang layak menjadi contoh bagi
karyawan lainnya.
Dedi telah menjalankan kode etik yang disepakati dalam
pertemuan informal seluruh karyawan PLN Rayon Tanjung
Sari. Padahal, seandainya Dedi menerima pemberian rokok
dan minuman dari pelanggan tersebut, secara legal formal dia
barangkali akan lolos dari
pelanggaran pasal gratifikasi
sebagaimana termaktub dalam
Undang-undang No.20 Tahun
2001 tentang Pemberantasan
Korupsi. Sebagaimana ter-
sebut dalam pasal 12b ayat
(1) undang-undang itu, setiap
gratifikasi atau pemberian
kepada pegawai negeri atau
penyelenggara negara dianggap
suap apabila berhubungan
dengan jabatannya dan yang
berlawanan dengan kewajiban
atau tugasnya. Dedi pastinya
tetap bekerja, baik ada maupun tidak adanya rokok dan minuman
itu. Lagi pula, berapa sih harga secangkir minuman dan sebatang
rokok?
Namun, Dedi berpegang pada kode etik Rayon Tanjungsari
yang telah disepakati bersama oleh seluruh karyawan. Kode
etik tersebut disepakati melalui mekanisme Code of Conduct

saya sendiri tidak bersih, namun


dedi memberikan inspirasi bagi saya
untuk berubah mulai dari saya sendiri.
kisahnya mengajarkan saya bahwa
menerima pemberian dari pihak
yang kita layani berat dihilangkan
namun bisa! ada saja rintangan untuk
menentangnya, ada rasa seganlah,
tidak enaklah kalau menolak, atau
bahkan berpikir saya merasa butuh
pada saat itu. dedi bisa melakukannya,
saya yakin saya dan seluruh pegawai
PLN yang lain pun bisa!


Saatnya Hati Bicara
154
Saatnya Hati Bicara
155
(CoC) di PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten. Kode etik di
Rayon Tanjungsari ini mungkin berbeda di tempat lain yang
kesepakatannya, hanya boleh menerima suguhan makanan dan
minuman saja, pemberian uang harus ditolak
Yang kedua, budaya masyarakat kita memang sangat permisif
dengan pemberian penghargaan apabila petugas melayani dengan
memuaskan. Saya pun masih memberikan tip apabila mekanik
bengkel selesai menyervis motor saya dengan baik. Budaya seperti
ini dianggap sebagai rintangan dalam semangat anti gratifikasi.
Namun, Dedi membuktikan bahwa dengan konsisten menolak
pemberian tersebut justru akan memberikan kesan yang sangat
mendalam bagi pelanggan yang dilayaninya.
Saya sendiri tidak bersih, namun Dedi memberikan
inspirasi bagi saya untuk berubah mulai dari saya sendiri.
Kisahnya mengajarkan saya bahwa menerima pemberian dari
pihak yang kita layani berat dihilangkan namun bisa! Ada saja
rintangan untuk menentangnya, ada rasa seganlah, tidak enaklah
kalau menolak, atau bahkan berpikir saya merasa butuh pada
saat itu. Dedi bisa melakukannya, saya yakin saya dan seluruh
pegawai PLN yang lain pun bisa!.
Harapan saya, kita sebagai pegawai dan institusi PLN
memiliki suatu kode etik antigratifikasi dan antikorupsi. Kode
etik yang secara rinci mengupas etika dalam berinteraksi untuk
menghindari gratifikasi dan korupsi sekecil apapun. Selain itu,
dibutuhkan sikap pimpinan di PLN yang bisa menjadi panutan,
sebagaimana perilaku terpuji yang ditunjukkan Pak Dedi, seorang
pegawai rendahan yang telah menginspirasi rekan-rekan lainnya,
terutama saya. Dengan dua hal tersebut mewujudkan PLN Bersih
akan semakin mudah.
* PLT. Supervisor Humas
Bidang Komunikasi, Hukum dan Administrasi
PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten
Saatnya Hati Bicara
156
Saatnya Hati Bicara
157
Gratifikasi Ala
Bebek Peking
Goreng
Benny Marbun*
Saatnya Hati Bicara
158
S
iang itu, sederet nomor muncul di HP. Ada tulisan incoming
call di layarnya, yang berarti ada telepon masuk dari
seseorang yang nomornya belum terekam. Awalnya, saya
enggan menerima telepon masuk dari nomor yang belum saya
kenal. Namun, karena ada tanggung-jawab melayani, maka
akhirnya saya terima juga.
Singkat cerita, itu adalah telepon dari seorang pengusaha
yang sebelumnya sudah pernah bertemu dengan saya sekitar
sebulan sebelumnya untuk suatu permintaan agar pabrik
tempatnya akan bekerja dibantu mendapatkan sambungan
listrik lebih cepat dari waktu normal. Pada pembicaraan yang
lalu itu, saya sudah menegaskan bahwa permintaannya tidak
bisa dipenuhi karena PLN melayani seluruh konsumen dengan
layanan sama, tidak boleh ada diskriminasi, kecuali konsumen
itu adalah konsumen premium. Namun dia keberatan dengan
layanan premium karena harga listriknya lebih mahal dari harga
yang dikenakan bagi konsumen reguler.
Nah, pengusaha yang menelepon siang ini mengajak
makan malam dengan pimpinan perusahaannya yang baru
datang dari negara yang jaraknya sekitar lima jam penerbangan
dari Jakarta, sekaligus mendengar rencana pembangunan pabrik
mereka. Awalnya, saya menolak ajakan makan malam dengan
mengatakan saya bersedia datang ke kantor mereka, atau mereka
boleh datang ke kantor PLN untuk bertemu, kapan saja. Namun,
dengan alasan bahwa mereka juga mengajak tamu lainnya untuk
makan malam dan waktu dari pimpinannya tidak lama di Jakarta,
akhirnya saya menyetujui undangan makan malam.
Malam itu, saya datang sendiri diantar pengemudi ke
restoran yang ada di salah satu mal di Jakarta Selatan.
Ketika saya tiba, ternyata diajak bergabung di ruang
khusus. Di dalamnya sudah ada empat orang menunggu saya,
Saatnya Hati Bicara
159
termasuk seorang pemuda bergaya politikus, yang mengaku dari
Medan. Tidak ada yang saya kenal kecuali si pengusaha yang
sebulan lalu pernah bertemu itu.
Singkat cerita, berbagai jenis makanan lezat langsung
disuguhkan dan kami mulai makan. Makanan yang disuguhkan
memang cocok dengan selera saya. Saya sempat mengatakan,
bahwa anak saya juga menyukai
sekali makanan bebek gorengnya.
Sambil makan, kami
ngobrol ke sana ke mari dan
hampir tidak ada pembicaraan
menyangkut rencana pem-
bangunan pabrik. Saya sedikit
merasa aneh, mengapa tidak ada
pembicaraan soal kebutuhan
listrik. Bahkan, dari bahasa
tubuh mereka, terutama pemuda
yang mengaku dari Medan itu,
bertingkah polah tidak selazimnya
seseorang yang berada pada
posisi membutuhkan orang lain.
Sikap mereka saya rasakan tidak
pantas dan pongah.
Hampir dua jam kami menikmati makan malam sambil
ngobrol kiri kanan dan akhirnya saya izin pamit dan berterima
kasih.
Ketika itu, langsung si bos juga berdiri dan mengatakan akan
mengantar saya hingga ke kendaraan. Saya sudah mengatakan
untuk tidak usah repot-repot mengantar saya, karena saya nyaman
saja untuk jalan sendiri ke lobi mal sambil menunggu jemputan
mobil. Namun si bos tetap berkeras menemani saya. Saya pikir,

namun, pelajaran yang dapat


saya ambil dari kasus itu adalah,
betapa mereka yang membutuhkan
listrik sangat tersiksa dengan
ketidakpastian perolehan listrik,
sampai-sampai mau berkorban
menyiapkan uang ratusan juta rupiah
untuk memastikan dan mempercepat
penyediaan istrik. yang kedua,
betapa direndahkannya martabat
seseorang yang mau disuap, pun
masih dalam tahap direncanakan
akan disuap


Saatnya Hati Bicara
160
hemm... ini mungkin etika pengusaha yang mengundang makan
seseorang.
Ketika masuk ke mobil, ternyata si bos memberikan
satu tentengan agak besar sambil mengatakan, Ini Pak untuk
dinikmati dengan keluarga. Saya terima saja, karena berpikir
tentengan itu adalah bebek goreng seperti yang sempat terlontar
sambil makan.
Baru saja mobil bergerak, saya pikir tentengan makanan
ini baiknya diletakkan di bagasi saja agar ruangan mobil tidak
bau nantinya. Lalu, saya ingin mengetahui makanan apa sih yang
diberikan? Tangan saya masuk ke dalam bungkusan dan ternyata
bukan bungkusan makanan, melainkan seperti lembar uang
kertas. Saya katakan seperti karena saya tidak membukanya,
tidak melihatnya, hanya menjamahnya. Ya, beberapa gepok uang.
Kalau melihat ukuran bungkusannya, dan andai gepok itu adalah
uang lembar Rp 100 ribu rupiahan, maka paling tidak jumlahnya
kira-kira Rp 200 sampai Rp 300 juta.
Jantung saya berdegup kencang. Tidak saya biarkan
keraguan muncul lama. Saya ambil keputusan: berhenti dulu!
Saya minta pengemudi menghentikan kendaraan, masih di
sekitar mal. Saya telepon pengusaha yang sudah kenal satu bulan
lalu itu, karena saya tidak punya nomor telepon dari si bos yang
menyerahkan tentengan uang.
Saya katakan, bahwa saya tidak bisa menerima pemberian
uang. Tadi saya kira tentengan itu berisi bebek goreng. Saya tanya
lokasinya di mana agar saya bisa mengembalikan tentengan berisi
uang. Si pengusaha merayu saya untuk tetap menerima, bahkan
mengatakan bahwa ia sudah dekat Pancoran (haaah..., baru saja
selesai makan malam bersama kok sudah sampai Pancoran?) Lalu
saya minta cari SPBU untuk berhenti dan menunggu saya untuk
menerima bungkusan. Kalau dia tidak mau menerima kembali, maka
Saatnya Hati Bicara
161
saya tidak bersahabat dengannya lagi. Akhirnya, melihat keseriusan
saya, dia meminta saya kembali saja ke mal, dan ia akan minta
bosnya untuk juga kembali ke lobi mal untuk menerima tentengan.
Singkat cerita, tentengan kembali ke si bos tanpa saya
Saatnya Hati Bicara
162
buka isinya. Saya katakan, kita tetap bersahabat. Anda tidak perlu
melakukan hal seperti ini.
Setelah jalan pulang ke rumah, barulah saya mulai
memahami mengapa bahasa tubuh mereka berempat, termasuk si
pemuda Medan, sangat tidak pantas. Mungkin, di benak mereka,
yang diundang makan bersama mereka ini adalah pejabat yang
nantinya akan menerima suap beberapa gepok uang.
Syukurlah, godaan itu teratasi dan berlalu.
Namun, pelajaran yang dapat saya ambil dari kasus
itu adalah, betapa mereka yang membutuhkan listrik sangat
tersiksa dengan ketidakpastian perolehan listrik, sampai-sampai
mau berkorban menyiapkan uang ratusan juta rupiah untuk
memastikan dan mempercepat penyediaan istrik. Yang kedua,
betapa direndahkannya martabat seseorang yang mau disuap,
pun masih dalam tahap direncanakan akan disuap.
Tentu, ke depan perlu ditinjau prosedur penyambungan
konsumen agar dapat ditetapkan lama waktu perkiraan pekerjaan
penyambungan baru, lalu disiapkan sistem komunikasi agar
calon investor atau calon konsumen memperoleh informasi
yang lengkap sejak dini perihal persyaratan dan lama waktu
penyambungan.
Tentu, perlu juga disiapkan aplikasi yang mencatat dan
menyajikan laporan perkembangan pekerjaan penyambungan,
sehingga informasi kemajuan kerja tersaji secara terbuka kepada
calon konsumen dan pihak yang berkepentingan.
Semoga!
* Kepala Divisi Niaga
PT PLN (Persero)
Saatnya Hati Bicara
163
Tidak Jauh dari Kita!
Supriyadi*
Saatnya Hati Bicara
164
P
emberian itu adalah tanda terima kasih, bukan
korupsi. Bahkan kalau kita tolak berarti kita menolak
rezeki. Yang penting pekerjaan sudah selesai dengan
baik, dan kita tidak memintanya kok.
Pembicaraan seperti itu beberapa kali saya dengar di
lapangan, baik setelah pengadaan, maupun setelah selesainya
penyambungan pelanggan baru. Terkadang disampaikan dalam
situasi bercanda, terkadang memang sangat serius.
Sejak reformasi yang
lalu, rasanya tidak ada seorang
pun di negeri ini yang tidak
ikut bicara tentang korupsi.
Hampir setiap orang jadi
pintar berkomentar tentang
korupsi. Apalagi dengan
adanya berita-berita besar
tentang penindakan pelaku
korupsi. Rasanya korupsi
adalah mereka, korupsi
bukanlah kita.
Seseorang di sebuah
kompleks perumahan berapi-
api menghujat program konversi minyak tanah ke gas elpiji yang
tidak tepat sasaran, lalu ternyata semua rumah di kompleksnya
yang real estate itu juga mendapatkan jatah gratis elpiji 3 kg. Dia
marah-marah kepada ketua RT. Bukan karena protes salah sasaran,
tapi karena dia belum kebagian jatah. Begitulah seringkali kita
menganggap korupsi sebagai mereka dan korupsi bukanlah kita.
Empat belas tahun yang lalu, sebagai Kepala Bagian
Distribusi, saya membawahi Dinas Gangguan (DG). Katanya tugas
sebagai teknisi DG tersebut lebih menarik dibandingkan teknisi

kini angin sejuk perubahan pln


berhembus ke arah semangat bersama
anti korupsi. lalu bagaimana dengan
kita yang pernah atau malah masih
melakukan korupsi? apakah masih
dapat berbalik arah mengikuti arah
angin? masih adakah kesempatan
memperbaiki diri? saya rasa masih
banyak kesempatan, yang penting
motivasinya untuk bertobat dan berhenti
dari korupsi mulai detik ini juga.


Saatnya Hati Bicara
165
Saatnya Hati Bicara
166
pemeliharaan. Saya tanyakan tentang hal tersebut kepada seorang
staf. Ternyata alasan kenapa DG dianggap menarik karena pada
saat piket, orang-orang DG hampir selalu mendapatkan ceperan
dari pelanggan yang dilayaninya. Kini terus terang saya menyesal,
karena dahulu memaklumi itu sebagai hal yang wajar sehingga
tidak melarangnya. Ya Allah ampunilah dosa-dosaku.
Sewaktu anak saya nomor empat yang saat itu masih kecil
sakit dan berobat ke dokter langganan PLN, saya sodorkan
sejumlah uang untuk biaya berobat. Namun apa respon dokter?
Pak, bikin aja atas nama kakaknya, enggak usah bayar. Saat
itu yang saya pikirkan adalah ini bukan haknya. Akhirnya saya
abaikan anjuran dokter itu dan tetap membayar. Menariknya
kejadian seperti ini tidak hanya sekali saya hadapi selama
berpindah tempat tugas.
Korupsi itu terjadi sehari-hari di depan mata, dalam
berbagai bentuknya. Namun, sebagian besar di antara kita
beranggapan bahwa itu hal biasa dan bukanlah korupsi. Kiranya
perlu ada contoh-contoh yang sangat rinci oleh agama, negara,
maupun KPK, tentang perilaku yang bisa digolongkan sebagai
korupsi, sehingga tidak ada lagi perbedaan persepsi.
Kini angin sejuk perubahan PLN berhembus ke arah
semangat bersama anti korupsi. Lalu bagaimana dengan kita yang
pernah atau malah masih melakukan korupsi? Apakah masih dapat
berbalik arah mengikuti arah angin? Masih adakah kesempatan
memperbaiki diri? Saya rasa masih banyak kesempatan, yang
penting motivasinya untuk bertobat dan berhenti dari korupsi
mulai detik ini juga.
Saatnya Hati Bicara
167
* Manajer Senior Risk Infrastruktur
PT PLN (Persero) Kantor Pusat
Betapa menyejukkan analogi ini :
Hidup manusia laksana BUKU TULIS.
Sampul depan adalah saat lahir, dan sampul belakang
adalah saat pulang ...
Tiap lembarannya adalah hari-hari dalam hidup kita.
Ada buku yang tebal, tapi ada pula yang tipis...
Hebatnya ...
Seburuk apa pun halaman sebelumnya,
selalu tersedia halaman berikutnya yang bersih,
baru, tanpa cacat ...
Sama dengan hidup kita.
Seburuk apa pun masa lalu, Allah selalu menyediakan hari
yang baru untuk kita...
Kesempatan baru untuk melakukan sesuatu yang benar,
memperbaiki kesalahan...
dan memperbaiki alur cerita hidup kita.
Jangan putus asa!
Karena Allah tiada bosan menanti taubat kita ...
Saatnya Hati Bicara
168
Saatnya Hati Bicara
169
Teguh Bersikap untuk
PLN Bersih
I Putu Eka Widarma*
Saatnya Hati Bicara
170
S
aat itu tahun 2004. Saya menjabat sebagai kasir di
unit ranting Kefamenanu, di Kabupaten Timor Tengah
Utara, Nusa Tenggara Timur. Suatu hari, manajer ranting
mengajukan pencadangan anggaran (PA) untuk pekerjaan
di jaringan di suatu daerah. Namun, setelah saya cek kepada
supervisor distribusi, dia mengaku tidak tahu-menahu pekerjaan
dimaksud.
Akhirnya, dengan segenap keberanian yang saya punya,
permintaan itu pun saya tolak. Saya tidak mau membayar PA
tersebut, walaupun pengajuannya langsung datang dari manajer
ranting. Saya sangat loyal
terhadap perusahaan, namun
saya berani mengatakan tidak
untuk hal yang tidak benar,
walaupun itu datang dari
atasan sekalipun.
Ada tata nilai yang sudah
dicetuskan oleh para senior
di PLN Pusat, seperti saling
percaya, integritas, peduli,
pembelajar. Inilah pedoman
saya dalam menjalankan tugas
sebagai pelayan masyarakat.
Pengalaman lain, saya
alami saat menjabat sebagai
supervisor distribusi di ranting Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa
Tenggara Timur. Saat itu sekitar tahun 2010. Kami memiliki
kontrak kerja dengan rekanan. Saya amati, rekanan itu lalai dalam
tugasnya dan bekerja tidak sesuai dengan kontrak.
Namun, saat saya sampaikan temuan itu, saya justru
mendapatkan tekanan dari asisten manajer distribusi. Katanya,

saya sangat loyal terhadap


perusahaan, namun saya berani
mengatakan tidak untuk hal yang tidak
benar, walaupun itu datang dari atasan
sekalipun.
ada tata nilai yang sudah dicetuskan
oleh para senior di PLN Pusat, seperti
saling percaya, integritas, peduli,
pembelajar. inilah pedoman saya
dalam menjalankan tugas sebagai
pelayan masyarakat


Saatnya Hati Bicara
171
Saatnya Hati Bicara
172
saya harus berlaku baik-baik terhadap rekanan tersebut.
Saya bersikukuh. Saya menolak menandatangani berita acara
penyelesaian pekerjaan.
Akibat kejadian itu, saya pun diperiksa bagian kontrol
intern. Setelah melalui pemeriksaan di lapangan dan administrasi,
akhirnya saya dinyatakan di pihak yang benar. Sebaliknya,
rekanan itu diharuskan membayar pekerjaan yang tidak dapat
diselesaikan. Pekerjaan tersebut kemudian saya alihkan pada
mitra kerja yang lain untuk segera dituntaskan.
Demikian pengalaman saya yang berhubungan dengan
korupsi, kolusi, dan nepotisme di PLN. Memang tidak mudah,
tetapi, saya membuktikan, kita bisa melakukan hal yang baik,
setidaknya dari hal-hal kecil yang ada di depan mata kita sendiri.
Cita-cita saya ke depan, PLN bisa melayani dengan lebih
transparan, mudah, dengan kualitas yang bagus sehingga bisa
pelanggan puas. PLN harus berbenah dimulai dari perilaku
pegawai PLN sendiri dan mitra kerja sehingga tidak lagi ada yang
berani melakukan pungli, menerima suap, menekan mitra kerja,
dan berbuat merugikan lainnya.
* Supervisor Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB)
Area Kupang
PT PLN (Persero) Wilayah Nusa Tenggara Timur
Saatnya Hati Bicara
173
Bintang Gemilang
Petty Korupsi dan
Gratifikasi yang
Menggoda
Saatnya Hati Bicara
174
S
uatu hari saya diingatkan untuk persetujuan SPPD staf yang
akan pergi dinas ke suatu kota (di luar ibukota propinsi).
Namun ketika akan approve kulihat di SAP yang muncul di
kota tujuan adalah ibukota propinsi terdekat. Lantas kuhubungi
kawan ini. Iya pak, biar dapat uang hariannya 100%. Kalau luar
ibukota propinsi khan hanya dapat 80% katanya. Lholho
lho.Kutanya lagi memang sebenarnya perginya ke mana? Ya
ke kota di luar ibukota propinsi itu. Kalau begitu sesuaikan saja
sesuai dengan kota tujuannya. Tidak apa-apa mendapat uang
harian 80% tapi berkah kataku.
Urusan korupsi kecil (petty corruption) seperti ini rasanya
masih cukup banyak di kantor kita. Apakah boleh ditolerir?
Menurut saya jangan. Sesuatu yang besar biasanya dimulai dari
yang kecil. Karena itu yang kecil-kecilpun perlu dibenahi.
Di waktu yang lain saya menerima notifikasi email tentang
biaya SPPD dari mitra kerja yang pergi ke luar kota bersama saya
dengan kendaraan dinas. Yang aneh, kami perginya bersama-
sama, naik kendaraan dinas bersama-sama, pulang juga bareng,
tapi biaya SPPD dia jauh lebih besar. Ketika ditelusuri ternyata
moda angkutan (transportasi yang dipergunakan) berbeda. Saya
menggunakan kendaraan dinas dan dia tertulis menggunakan
kendaraan umum. Saya tanya ke staf yang membuat SPPD katanya
untuk dia memang tertulis kendaraan umum kemudian numpang
di kendaraan dinas yang saya pinjam.
Loh kok begitu ya. Lantas saya minta agar direvisi dan
disesuaikan dengan kenyataannya saja. Kalau dia ternyata
menggunakan kendaraan dinas ya harus tertulis dinas, jangan
ditulis kendaraan umum. Kalau memang direncanakan pakai
kendaraan umum ya ditulis kendaraan umum. Jangan direncanakan
nebeng naik kendaraan dinas yang dipinjam salah satu pegawai
lantas yang lain ditulis naik kendaraan umum supaya mendapat
Saatnya Hati Bicara
175
ongkos bus. Kalau seperti ini namanya akal-akalan. Bukankah
kendaraan dinas kita memang kapasitasnya bisa menampung
beberapa orang sekaligus?
Saya memang bukan orang yang bersih-bersih amat. Tapi
bolehlah kita berusaha menyebarkan virus-virus kebaikan ke
orang-orang di sekitar kita.
Hal ini mudah-mudahan bisa
menjadi fondasi yang kokoh
bagi perjalanan PLN menuju
cita-cita terwujudnya PLN
bersih.
Saya kadang merasa
heran jika ada unit masih suka
menyiapkan oleh-oleh untuk
tamunya. Dari mana didapat
uang untuk membeli oleh-oleh
tersebut? Bukan dahulu sudah
ada edaran direksi untuk tidak
membelikan oleh-oleh? Sebaiknya hal-hal seperti ini dihindari.
Suatu hari seorang mitra mengantarkan dus lumayan besar
tertutup rapat ke ruangan kantor. Sepertinya sih minuman khas
dari suatu daerah karena saya tahu mitra ini baru saja kembali
dari kota tersebut untuk urusan dinas dengan PLN. Wah pasti
mak nyus.Kebetulan saya juga penggemar minuman khas kota
tersebut. Pikiran bergejolak, saya ambil saja, dibuka sama-sama
kawan se ruangan dan dinikmati ramai-ramai atau dikembalikan
ke pengirim.
Bisa saja misalnya saya kirim sms ke pengirim kenapa harus
repot-repot mengirim oleh-oleh seperti ini dan lain kali tidak usah
repot-repot, kemudian kiriman ini dibuka dan dinikmati beramai-
ramai. Namun jika saya pilih seperti itu maka akan dipahami mitra

untuk berhubungan dengan PLN


tidak perlu repot-repot dengan oleh-
oleh dan bingkisan. Pesan bahwa
dalam berhubungan profesional dengan
perusahaan yang namanya PLN tidak
perlu lagi harus menyiapkan dana
ekstra bagi orang PLN, apalagi sampai
harus menggelembungkan harga
kontrak


Saatnya Hati Bicara
176
Saatnya Hati Bicara
177
kerja sebagai basa basi garing tanpa makna.
Akhirnya saya sms ke pengirim sebagai berikut : Selamat
malam. Saya bintang dr PLN. Saya mengucapkan terima kasih atas
perhatiannya dengan mengirimkan bingkisan tadi sore. Namun
mhn beribu maaf, saya tidak bisa menerima ini. Mhn dengan sangat
utk dapat diambil kembali ya. Tks n semoga sukses selalu salam.
Saya pikir dengan sms seperti itu pesan kuat kepada mitra
kerja akan tersampaikan. Bukan sekedar pesan untuk mengambil
kembali bingkisan tersebut. Bukan sekedar pesan bahwa
kita menolak pemberiannya. Namun juga pesan bahwa untuk
berhubungan dengan PLN tidak perlu repot-repot dengan oleh-
oleh dan bingkisan. Pesan bahwa dalam berhubungan profesional
dengan perusahaan yang namanya PLN tidak perlu lagi harus
menyiapkan dana ekstra bagi orang PLN, apalagi sampai harus
menggelembungkan harga kontrak.
Ini juga kebanggaan bagi kita. Ketika kita menerima
pemberian dari mitra kerja, pada dasarnya kita sedang
menggadaikan kebanggaan itu. Kebanggaan bahwa kita bekerja
di perusahaan yang bersih dan bebas korupsi, bebas suap dan
bebas gratifikasi
Saatnya Hati Bicara
178
Saatnya Hati Bicara
179
Cukup Dengan
SIPP
Titiek Tjahjaningsih*
Saatnya Hati Bicara
180
S
uatu pagi, dering telepon di meja kerja berbunyi. Ketika
diangkat terdengar suara merdu seorang wanita yang
memperkenalkan diri sebagai sekretaris salah satu
stakeholder PLN.
Kami ingin menanyakan siapakah dari PLN yang akan ikut
serta dalam rombongan kami, bla..bla..bla katanya dengan
manis. Namun, ujung-ujungnya dia meminta PLN berpartisipasi
menanggung biaya perjalanan dinas yang menurut sang
sektretasis masih kurang ratusan juta rupiah.
Telepon serupa tidak hanya pernah kami terima dari satu
stakeholder. Jika hal ini dituruti sekali saja, permintaan sejenis
akan terus muncul dan dianggap hal yang lumrah. Beginilah
gambaran pungutan liar dari stakeholder kepada pegawai PLN.
PLN sebetulnya sudah
memberi pedoman kepada
karyawan untuk menghadapi
peristiwa seperti saya
kisahkan tadi dalam bentuk;
Buku Pedoman Perilaku.
Hanya karena dicetak sebagai
buku saku bukan berarti
ia dimaksudkan sebagai
penghuni atau penghias saku
saja. Justru isinya penting
untuk dipelajari, dipahami dan
dijadikan rujukan perilaku pegawai PLN.
Buku ini berisi lengkap tentang bagaimana pegawai PLN,
baik pemimpin maupun yang dipimpin, seharusnya bersikap
sesuai dengan budaya organisasi yang dikenal dengan SIPP
(Saling Percaya, Integritas, Peduli dan Pembelajar).
Saling Percaya, artinya saling menghargai, beritikad

iintegritas berarti jujur dan menjaga


komitmen, taat aturan dan bertanggung
jawab, serta keteladanan. hal ini
diwujudkan dengan kata, perbuatan,
dan niat di hati. dengan menyatunya
tiga hal tersebut, kita selalu bisa
dijadikan teladan dan terjaga dari hal
yang buruk ketika masih aktif sebagai
pegawai PLN bahkan sampai nanti
setelah purnakarya


Saatnya Hati Bicara
181
baik dan transparan. Nah, untuk bisa mencapai tingkat saling
percaya, pertama yang harus dilakukan adalah menjadikan diri
sendiri orang yang bisa dipercaya. Kalau yang pertama ini bisa
dilakukan, yang berikutnya akan mudah dilaksanakan bahkan
ngikut dengan sendirinya.
Saatnya Hati Bicara
182
Integritas berarti jujur dan menjaga komitmen, taat aturan
dan bertanggung jawab, serta keteladanan. Hal ini diwujudkan
dengan kata, perbuatan, dan niat di hati. Dengan menyatunya tiga
hal tersebut, kita selalu bisa dijadikan teladan dan terjaga dari
hal yang buruk ketika masih aktif sebagai pegawai PLN bahkan
sampai nanti setelah purnakarya. Loyalitas kita adalah pada
perusahaan dan kemudian kepada atasan. Perlu digaris bawahi
loyalitas kepada atasan bukan berarti menuruti semua perintah
dan kemauan atasan. Namun berpartisipasi memberikan masukan
yang benar dan bertanggung jawab serta menjaga atasan tetap
aman dunia akhirat selama aktif sampai non aktif.
Peduli berarti proaktif dan saling membantu, memberi
yang terbaik dan menjaga citra perusahaan. Semua pegawai PLN
harus peduli pada kinerja perusahaan, memberikan kontribusi
yang terbaik,optimal dalam bekerja. Kalau dikaitkan dengan
loyalitas pada paragraf sebelumnya, sikap peduli pada kinerja
dan citra perusahaan seiring dengan kepedulian kepada atasan
dan rekan sekerja agar semuanya aman dan bisa tidur nyenyak
sepanjang hidup dan bahagia di dunia sana.
Sedangkan pembelajar artinya belajar berkelanjutan
dan beradaptasi, berbagi pengetahuan dan pengalaman, serta
berinovasi. Manusia diciptakan untuk beribadah dan salah
satu bentuknya adalah belajar terus menerus sepanjang hidup.
Beradaptasi dengan perubahan yang terjadi tanpa meninggalkan
nilai-nilai agama dan moralitas yang diyakini. Berbagi
pengetahuan dan pengalaman kepada orang lain.
Marilah kita jadikan SIPP sebagai pedoman dalam kerja
sehari-hari
Bersih kita, bersih PLN. Sukses pelayanan PLN, sukses kita
semua!


* Manajer Bidang Keuangan, SDM dan Administrasi
PT PLN (Persero) Jasa Manajemen Konstruksi
Saatnya Hati Bicara
183
Kami Tidak Kaya
Raya, Namun Punya
Harga Diri
Mundhakir*
Saatnya Hati Bicara
184
S
osialisasi di aula PLN baru saja usai. Sebagian peserta
masih sembahyang, dan lainnya makan nasi kotak
yang disediakan panitia. Tidak lama kemudian telepon
genggam berdering. Dari seberang manajer rayon Nunukan
menanyakan jadwal pengiriman material pasang baru ke
daerahnya, sekaligus meminta penyambungan kantor gabungan
dinas (gadis) Nunukan.
Ketika itulah, datang seorang lelaki diantar satpam. Wajah
lelaki itu terlihat tegang. Dia tetap berdiri walaupun sudah
dipersilakan duduk. Begitu dipersilakan masuk ruangan, tiba-tiba
dia berkata dengan suara menggelegar, Inikah pejabat PLN yang
diagungkan itu? Beginikah cara orang terhormat menerima rakyat
jelata? Beginikah pelayanan yang baik terhadap masyarakat?
Anda dibayar oleh negara untuk melayani rakyat, tetapi yang
terjadi Anda menghina rakyat. Saya datang bukan untuk meminta-
minta.. Kalau bukan karena Bupati yang menyuruh saya datang ke
pejabat PLN, saya tidak mau menginjakkan kaki disini. Dihadapan
pejabat yang tidak menghargai orang lain..
Saat berkata-kata dengan kasar itu, tangannya sambil
menunjuk-nunjuk. Dia terus berkata dengan keras dan kasar,
Untung negara Indonesia tidak diperintah orang macam Saudara.
Kalau Saudara yang memerintah, maka akan rusak negara ini, dan
sengsara rakyatnya.
Dia menghela nafas sejenak, lalu kembali
melanjutkan,Saudara mestinya menghargai orang lain, bukan
mempermainkan orang lain. Tidak selamanya Saudara jadi
pejabat, nanti akan merasakan akibatnya jika Saudara seperti ini.
Saudara akan merasakan sakitnya dihina dan dipermainkan.
Pelayanan macam apa seperti ini. Kalau bukan karena pesan
Bupati, saya tidak mau datang.
Kami membiarkan dia menghabiskan kata-katanya.
Saatnya Hati Bicara
185
Suasana hening sesaat. Maaf Bapak, dengan segala kerendahan
hati kami mohon maaf jika pelayanan kami mengecewakan Bapak.
Kami mohon maaf jika Bapak tidak berkenan. Akan tetapi, kalau
kami boleh tahu, sebenarya apa yang terjadi. Jujur kami masih
bingung, sehingga Bapak begitu tersinggung dengan pelayanan
kami. Mungkin kami bisa bantu Bapak ? kata seorang petugas
PLN sambil menyodorkan minuman. Silahkan Bapak diminum,
semoga lebih menenangkanSilakan Bapak bisa menyampaikan
keluhannya sehingga kami bisa membantu.
Saya kecewa, karena
untuk ketemu pimpinan saja,
mulai kemarin tidak dilayani.
Dipingpong kesana kemari,
dibilang keluarlah, rapatlah.
Kami ini orang sibuk, bukan
ini saja urusan kami...Kami
sudah lama mengajukan
listrik, tetapi sampai sekarang
belum dikasih. Malah tiang
saja tidak dipasang-pasang.
Nih, saya bawa rekomendasi
dari Bupati untuk Saudara agar
dibantu, dan kalau petugas
PLN perlu uang, kami siap
untuk menyediakannya, katanya sambil menyodorkan aplop
besar dengan tangan yang gemetar.
Baik Bapak, coba kami bantu. Tetapi simpan dulu amplop
itu. Mohon bisa dimasukkan kembali dalam tas Bapak. Kalau
boleh tahu siapa nama Bapak dan di mana rumah yang mau
dipasang? Kapan Bapak daftar ke PLN ya ? tanya petugas PLN.
Namaku Barata, orang orang PLN sudah sama mengenalku.

sudah terlalu banyak korupsi


di negeri ini dan rakyat menderita
karenanya. jangan diberikan jalan
dan diberi peluang kepada kami untuk
menjadi koruptor. biarkanlah kami
tetep menjadi pribadi yang utuh, yang
mempunyai kebanggaan terhadap apa
yang kami miliki. biarkan kami tetap
melayani masyarakat tanpa menodai
hati nurani. biarkanlah kami bangga
dengan apa yang ada pada kami


Saatnya Hati Bicara
186
Rumahku di Jl. Murjani II Gg Wiro masuk, belok kanan, terus kiri
yang ujung. Tanya saja orang sana nanti tahu. Aku sudah suruh
orang untuk mendaftarkan, sudah lama itu, katanya dengan suara
lantang.
Maaf Pak Barata, bagaimana kalau sekarang kita lihat
lokasi tempat Bapak saja, sekaligus kami ingin tahu kondisi
jaringan listrik terdekat. Apa Bapak tidak keberatan kalau kita ke
lokasi sekarang ? pinta petugas PLN.
Ayolah kalau mau kesana katanya, sambil berdiri.
Wajah mulai melunak.
Lokasi rumah Barata ternyata jauh dari jaringan listrik PLN.
Rumahnya besar terletak di ujung pesimpangan gang. Diperlukan
perluasan jaringan Tegangan rendah sepanjang 1.230 meter.
Setelah diukur dengan range finder dan GPS, dibuatkan gambar
kasar, lalu kami menjelaskan kepadanya bahwa dibutuhkan
investasi jaringan listrik. Rasanya ini sudah masuk rencana
Distamben. Kemaren kami dapat infonya dari Ibrahim, sela Pak
Tono petugas PLN lainnya.
Saat itu pula kami hubungi Kepala Seksi Listrik Distamben
(Rusdi), Ass. Pak Rusdi sibukkah? Di gang Wiro Murjani III
itu sudah masuk perencanaan sampean, ya ? Kapan rencana
realisasinya?
Dari seberang, Rusdi pun menjawab dengan mantap,
Sudah pak, sudah masuk perencanaan kami. Rencana awal tahun
mau dilelang, masuk ABT tahun ini.
Mendengar percakapan itu, Barata tersenyum. Makasih
Pak, atas bantuannya. Kami ada harapan untuk segera dapat listrik.
Mohon maaf kalau kata-kata kami tadi tidak enak didengar dan
tidak sepantasnya kami berkata begitu kepada Bapak. Makasih
atas perhatian Bapak mau mendatangi kami langsung. Terus janji
kami untuk memberikan tali asih kepada Bapak tetap akan saya
Saatnya Hati Bicara
187
Saatnya Hati Bicara
188
berikan. Juga akan kami sampaikan ke Bapak Bupati, katanya
sambil menjabat tangan dan membungkukkan badan.
Kami berkata dengan tenang, Bapak Barata yang baik,
justru kami berterima kasih atas perhatian Bapak pada PLN.
Dengan perhatian itu kami akan terus berbenah. Kami sampaikan,
bahwa kontrol serta masukannya sangat kami harapkan.
Terkadang kami merasa bahwa layanan kami sudah maksimal,
tetapi yang dirasakan oleh masyarakat sangat berbeda. Tanpa
kontrol, kritik, dan masukan masyarakat, kami tidak pernah tahu
kekurangan dan tidak bisa meningkatkan layanan kami. Kami
sangat berterima kasih pada bapak. Saya yakin situasi tadi terjadi,
karena ada yang Bapak rasa kurang pas, sehingga sangat wajar
bapak bersikap seperti itu. Kami sangat memahaminya Bapak.
Kami yang seharusnya minta maaf. Juga untuk teman-teman loket
dan satpam.
Lalu kami sampaikan, jika berkeinginan memasang listrik,
mohon langsung saja menghubungi PLN. Syaratnya mudah hanya
dengan menunjukkan identitas diri dan foto copy pelanggan
terdekat. Tidak harus dengan rekomendasi bupati atau siapa
pun, dan tidak perlu memberi apa pun. Kalau untuk memasang
listrik saja harus dengan rekomendasi bupati, kasihan yang
tidak mengenal bupati, nanti susah dapat listriknya. Dan kasihan
bupati kalau harus mengurusi hal hal seperti ini. Kemudian kalau
rekomendasinya nanti tidak kami penuhi, kasihan beliaunya
seolah beliau tidak ada harganya.
Kami tegaskan bahwa petugas PLN sudah digaji perusahaan
dan itu telah cukup untuk kami dan keluarga. Kalaulah untuk
memasang listrik harus memberikan sesuatu kepada petugas
PLN, kasihan masyarakat kurang mampu, dia tidak akan pernah
mendapat listrik. Padahal listrik sangat mereka butuhkan.
Kemudian bagi si kaya dengan mudahnya dapat listrik. Dia bisa
Saatnya Hati Bicara
189
seenaknya mempergunakan subsidi negara. Ini sangat tidak adil,
Ini menyakitkan. Kasihan mereka yang kekurangan.
Kami meminta Barata agar memberi kesempatan kepada
kami untuk bekerja dengan ikhlas dalam melayani masyarakat.
Biarkan kami menjadi pegawai yang professional tanpa ternodai
tindakan yang tidak terpuji. Kami memang tidak kaya raya, tetapi
biarkanlah kami tetap mempunyai harga diri.
Sudah terlalu banyak korupsi di negeri ini dan rakyat
menderita karenanya. Jangan diberikan jalan dan diberi peluang
kepada kami untuk menjadi koruptor. Biarkanlah kami tetep
menjadi pribadi yang utuh, yang mempunyai kebanggaan
terhadap apa yang kami miliki. Biarkan kami tetap melayani
masyarakat tanpa menodai hati nurani. Biarkanlah kami bangga
dengan apa yang ada pada kami.
Bapak yang baik, Mohon bapak tidak henti hentinya
mengingatkan kami kalau ada yang salah ataupun kurang, beri
masukan kami agar senantiasa bisa meningkatkan kualitas
layanan kami, beri kritik agar kami tahu diri. Makasih Bapak,
maafkanlah kami semua yang belum bisa melayani masyarakat.
Makasih Bapak, kata saya.
Barata memeluk erat dan meneteskan air mata. Dengan
suara berat dia berkata,Maafkan kami. Kami sudah tua, tetapi
kurang bisa menjaga tata karma. Maafkanlah kami Bapak, ya.
Sebelum berpisah, kami menyampaikan kepada Barata
bahwa rumah pak bupati di Jalan Mawar pun belum juga kami
sambung. Soal ini sudah kami sampaikan langsung ke bapak
bupati. Beliau mengerti karena memang tidak mendesak.
Pertemuan hari itu sudah hampir terlupakan, ketika
memasuki Ramadhan 1433 H, Barata tiba-tiba mengirim pesan
pendek,Terima kasih Bapak yang tak tehingga, rupanya kami
diberi hadiah lebaran lebih awal. Tiang listrik sudah mulai berdiri
Saatnya Hati Bicara
190
sampai di depan rumah kami. Terima kasih atas perhatian Bapak.
Kami semua mendoakan semoga Allah memberikan balasan
yang berlipat dan yang terbaik bagi Bapak dan teman-teman PLN
semua.
Saya pun hanya bisa berucap terima kasih kepada Barata
yang telah menyadarkan kami semua dan membuat kami masih
memegang teguh harga diri. Terima kasih...
* Asisten Manajer Transaksi Energi, Area Berau
PT PLN (Persero) Wilayah Kalimantan Timur
Saatnya Hati Bicara
191
Harus Berani
Menolak
Iryanto Hutagaol*
Saatnya Hati Bicara
192
S
ebagai auditor tugas saya bersama tim auditor lainnya
adalah melakukan pemeriksaan ke unit-unit PLN di
daerah. Usai melakukan pemeriksaan, tidak jarang kami
ditawari hadiah atau pemberian oleh-oleh seperti makanan
khas daerah, pakaian atau pernak-pernik lainnya dari orang unit
yang baru diperiksa. Sebagai ucapan terimakasih karena telah
mengingatkan mereka untuk menghindari resiko dan segala
kesalahan, begitu alasan mereka.
Melakukan pemeriksaan adalah kewajiban kami sebagai
auditor. Namun jika kemudian ada embel-embel di belakangnya,
kita patut mempertanyakan. Apakah yang mereka berikan
sebagai ucapan terima kasih itu sesuai aturan?
Rupanya masih banyak
pegawai kurang memahami
masalah gratifikasi. Sehingga
memberi hadiah sebagai
ucapan terimakasih itu masih
dianggap biasa. Jika menilik
pasal 12B Undang-Undang
No 20 Tahun 2001, gratifikasi
adalah pemberian dalam
arti luas, yakni meliputi
pemberian uang, barang,
rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan,
fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma
dan fasilitas lainnya.
Memang sulit menolak pemberian atau melarang unit-unit
itu memberikan hadiah, karena hal tersebut telah menjadi budaya.
Namun, kita bisa menjelaskan perlahan-lahan di awal dengan
bahasa yang baik agar unit yang biasa memberikan hadiah tidak
perlu melakukannya. Kalau pun kemudian terjadi, kita harus bisa

unit yang keukeuh membayarkan


kita uang penginapan, justru patut
dicurigai karena saat ini unit PLN tidak
ada pos untuk biaya hotel karyawan.
yang ada adalah biaya hotel ditagihkan
ke karyawan dan karyawan wajib
membayarnya dengan uang perjalanan
dinas

Saatnya Hati Bicara


193
menolaknya dengan bahasa yang bijak. Auditor dan auditee atau
unit terkait harus memiliki pemahaman yang sama mengenai
hal ini. PLN Bersih bukan hanya sebatas pengetahuan saja, tetapi
mewujud pada implementasi.
Tindakan yang memiliki unsur gratifikasi ini, tidak hanya
pemberian oleh-oleh ketika pejabat pusat berkunjung ke daerah.
Suatu ketika saat berkunjung ke satu unit, biaya hotel juga dibayari
oleh PLN unit itu. Padahal, biaya penginapan sudah termasuk
dalam uang dinas. Biasanya, jika mau berangkat ke unit tertentu di
daerah, saya selalu minta tolong dipesankan terlebih dahulu atas
nama PLN. Karena hotel selalu memberikan tarif khusus yang lebih
rendah jika mengatasnamakan perusahaan dibanding individu.
Namun, sewaktu mengurus pembayaran hotel, saya kaget karena
hotel sudah dibayari unit PLN di daerah itu.
Karena sudah terlanjur dibayari biasanya kita lupa atau
malah keenakan, lalu tidak mengembalikan uang hotel atau
penginapan yang ditalangi dulu oleh unit PLN. Padahal dengan
uang dinas yang diberikan kepada kita, semua fasilitas sudah
terjamin. Untuk itu, kita wajib mengembalikan atau membayar
uang hotel kepada unit yang telah menalangi.
Unit yang keukeuh membayarkan kita uang penginapan,
justru patut dicurigai karena saat ini unit PLN tidak ada pos untuk
biaya hotel karyawan. Yang ada adalah biaya hotel ditagihkan
ke karyawan dan karyawan wajib membayarnya dengan uang
perjalanan dinas.
Bentuk gratifikasi juga kita temukan ketika unit PLN akan
melakukan operasi Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL).
Tidak sedikit masyarakat yang menunggak sekian rupiah atau
denda sekian rupiah, lalu berharap bisa selesai dengan memberi
sejumlah uang pada oknum-oknum petugas PLN. Kejadian
seperti ini harus ditindak tegas, bukan hanya dikenakan sanksi
Saatnya Hati Bicara
194
Saatnya Hati Bicara
195
perusahaan, namun dapat diteruskan kepada pihak berwajib.
Ada beberapa karyawan PLN aktif, yang sedang dalam proses
hukum karena kasus seperti ini.
Demikian juga dalam proses pengadaan barang dan jasa,
tidak sedikit perusahaan pihak ketiga (vendor) berlomba-lomba
untuk mendapatkan proyek dari PLN. Biasanya, setelah proses
pengadaan barang dan jasa selesai, vendor pemenang akan
memberikan sesuatu sebagai ucapan terimakasih.
Hal-hal seperti ini harus dihindari oleh pegawai PLN.
Sekarang bukan zamannya memanfaatkan jabatan atau pekerjaan
untuk memperkaya diri atau kelompok tertentu. Jika saja ada
auditor di bawah garis komando saya ada yang bertindak seperti
ini, saya tidak segan untuk memprosesnya sesuai peraturan
perusahaan.
Sanksi bagi auditor yang terbukti menerima gratifikasi bisa
berupa pemecatan, teguran atau surat peringatan, tergantung dari
berat atau ringannya pelanggaran. Dari dua ratus lebih auditor
PLN saat ini, beberapa oknum yang pernah memanfaatkan jabatan
demi kepentingan pribadi tidak lagi saya berikan kewenangan
untuk mengaudit walaupun jabatannya sebagai auditor. Hasil
audit sebelumnya yang dia lakukan pun akan diverifikasi ulang.
Marilah kita tumbuhkan budaya bersih tanpa suap.
Beranikan diri untuk menolak gratifikasi dan semacamnya. Jangan
pernah menerima apa yang bukan hak kita. Setiap peraturan
bukan hanya untuk diketahui semata, tapi dilaksanakan. Dan
perbuatan baik adalah sebaik-baiknya contoh untuk pertama-
tama diketahui kemudian ditiru oleh teman kerja terdekat, yang
semoga menyebar ke lingkaran lebih besar.
* Kepala Satuan Pengawas Internal
PT PLN (Persero)
Saatnya Hati Bicara
196
Saatnya Hati Bicara
197
Anti
Gratifikasi
Riyo Supriyanto*
Saatnya Hati Bicara
198
K
ejadian itu berlangsung pada tahun 1998. Tim penertiban
pemakaian tenaga listrik (P2TL) menemukan pelanggaran
pemakaian listrik oleh konsumen besar (pabrikan) yang
kemudian dikenakan denda Tagihan Susulan (TS) milyaran
rupiah. Ternyata modus pencurian listrik ini melibatkan pegawai
PLN. Terhadap pegawai tersebut dikenakan sanksi pelanggaran
disiplin pegawai berupa pemecatan, penggantian kerugian
perusahaan dan kasusnya dilaporkan ke polisi.
Kami yang saat itu bertugas menangani kasus ini diberikan
iming-iming uang cukup besar oleh pihak ketiga asal tindak
pidananya tidak dilaporkan ke polisi. Si pegawai yang membantu
pencurian listrik pelanggan besar tersebut tetap bersedia dipecat
dan mengembalikan kerugian perusahaan.
Kami tegas menolak iming-iming tersebut karena citra
perusahaan telah tercoreng. Kasus tetap diproses ke polisi dan
sampai ke pengadilan. Si pegawai kemudian divonis enam tahun
penjara. Itulah sekelumit pengalaman saya belasan tahun lalu
terkait gratifikasi.
Akhir-akhir ini kata gratifikasi sudah sering terdengar di
telinga kita baik didapat melalui media massa cetak maupun
elektronik. Apalagi banyak kasus pidana yang terjadi menimpa
pejabat publik gara-gara memperoleh pemberian gratifikasi dari
seseorang.
Yang menerima hadiah atau pemberian apapun dalam
bentuk apapun yang langsung maupun tidak langsung
berhubungan dengan tugas jabatannya, orang awam menyebutnya
penerima gratifikasi. Sedangkan seseorang yang memberikan
gratifikasi, orang awam menyebutnya sebagai penyuap. Dalam
kacamata hukum keduanya termasuk melakukan perbuatan
tindak pidana korupsi.
PLN sudah lama mendengungkan bahwa pengelolaan
Saatnya Hati Bicara
199
perusahan dilaksanakan dengan prinsip good corporate
governance (GCG). Bisa dikatakan bahwa sudah ada niat
dan kebulatan tekad untuk menjadikan PLN kita sebagai
perusahaan yang transparan
pengelolaannya dan bersih
dari hal-hal yang tidak
mencerminkan GCG. Oleh
karena itu seluruh pegawai
tanpa kecuali dimulai dari
diri sendiri, lingkungan kerja
terkecil sampai unitnya secara
serentak bisa melakukan
gerakan anti gratifikasi
dalam melaksanakan
tugas pekerjaannya. Hal ini sangat dimungkinkan mengingat
penghasilan pegawai sudah cukup baik sehingga sudah saatnya
tidak ada lagi ruang untuk menerima gratifikasi.
PLN sebagai pengelola ketenagalistrikan dalam penyediaan
dan pelayanan kepada masyarakat pasti berhubungan dengan
banyak pihak di setiap jenjang organisasi. Di sinilah dimulai
interaksi dengan pihak ketiga, baik rekanan, masyarakat dan
lainnya. Selama seluruh jajaran manajemen dan seluruh pegawai
memegang prinsip GCG dan prinsip pedoman perilaku, maka
dalam menjalankan tugas pekerjaannya yang berhubungan
dengan pihak lain akan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Gerakan anti gratifikasi harus dimulai dari top manajemen
yaitu direksi, kepala divisi, general manager, manajer senior,
manajer bidang, deputi manajer, manajer unit, asisten manajer
dan supervisor dengan konsisten menunjukkan kepada seluruh
pegawainya bahwa dirinya bersih (clean) dari pemberian
gratifikasi. Hal ini tentu akan diikuti oleh seluruh pegawai. Sanksi

Apabila ada ketegasan seluruh


pejabat dan pegawai untuk menolak
segala bentuk gratifkasi, saya yakin
pihak lain lama kelamaan juga
memahami dan tidak berani lagi
memberikan gratifkasi dalam bentuk
apapun

Saatnya Hati Bicara


200
penegakan disiplin harus tegas dilaksanakan melalui tindakan
nyata dan bukan retorika dengan membuat pernyataan kebulatan
tekad anti gratifikasi di atas selembar kertas saja.
Sangat dibutuhkan integritas dan keberanian pejabat
untuk berkata : TIDAK, TIDAK, TIDAK terhadap pihak pihak
yang berupaya dengan segala cara baik langsung maupun tidak
langsung memberikan gratifikasi yang berkaitan dengan tugas
pekerjaannya. Mana ada pihak lain yang mau memberikan sesuatu
gratifikasi kalau tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.
Apabila ada ketegasan seluruh pejabat dan pegawai untuk
menolak segala bentuk gratifikasi, saya yakin pihak lain lama
kelamaan juga memahami dan tidak berani lagi memberikan
gratifikasi dalam bentuk apapun.
Pihak lain yang melakukan transaksi bisnis dengan PLN
tentu akan memperhitungkan keuntungan namun seharusnya
dalam kondisi keuntungan yang wajar sehingga tidak berdampak
merugikan PLN. Hal-hal kecil yang mulanya dianggap biasa lama
kelamaan bisa menjadi kebiasaan, misal pejabat atau pegawai
yang senang olah raga diajak pihak ketiga untuk berolah raga,
yang senang berwisata/travelling diajak berwisata baik di dalam
atau di luar negeri, yang senang kuliner diajak menjelajahi kuliner
dan lain sebagainya. Jika kebiasaan seperti ini tidak dihentikan,
maka pihak ketiga akan sangat mudah memberikan gratifikasi
yang berakibat secara tidak sadar akan mempengaruhi cara
kerja pejabat dan pegawai yang bersangkutan.
Harus diciptakan sistem terutama yang berkaitan dengan
interaksi dengan pihak ketiga sehingga dimungkinkan dibatasinya
interaksi pejabat/ pegawai dengan pihak ketiga untuk proses-
proses pekerjaan yang rawan terjadinya pemberian gratifikasi,
seperti pada proses pengadaan barang dan jasa, pelayanan
kepada masyarakat dan proses pembayaran keuangan.
Saatnya Hati Bicara
201
Saatnya Hati Bicara
202
Diperlukan saling mengawasi antara atasan dan bawahan
dan sebaliknya serta antara pegawai dengan pegawai untuk tidak
melakukan kegiatan yang menyimpang dari ketentuan yang
akhirnya dapat menguntungkan diri sendiri atau orang lain.
Meskipun sistem sudah dibangun dan kontrol sudah
dilakukan pada akhirnya kembali kepada manusianya. Pegawai
PLN harus berintergritas tinggi, jujur dan berani untuk kebaikan.
Diperlukan upaya perubahan budaya kerja yang tidak semata-
mata mencari materi tapi bekerja dengan cerdas, iklhas dan
hati nurani. Semua ini mudah diucapkan namun kadang sulit
dilaksanakan. Namun tidak ada pilihan lain, hal ini harus dimulai
dari sekarang, jika kita ingin berubah sesuai harapan masyarakat
dan pemangku kepentingan lainnya.

* Expert Audit I - Jawa Bali
Satuan Pengawas Internal
PT PLN (Persero)
Saatnya Hati Bicara
203
Pelayanan
Pelanggan
Saatnya Hati Bicara
204
Saatnya Hati Bicara
205
Pungutan Lagi,
Pungutan Lagi
Adukan Saja!
Ngurah Adnyana*
Saatnya Hati Bicara
206
P
ertengahan Juli 2012. Saya berada di Surabaya, ketika Pak
Dewo, Direktur Keuangan PLN mengirim pesan via black
berry messenger (bbm), Pak Ad, temanku tanya apakah
setelah membayar BP (Biaya Penyambungan) ke PLN harus bayar
lagi saat menyambung saluran rumah dan memasang meter
kWh? Bayar BP nya sudah langsung ke PLN tidak ada masalah.
Pembayaran tambahan ini diminta petugas saat survei mau
menyambung meter kWh nya.
Pertanyaan itu membingungkan saya. Lho sudah bayar
BP ke PLN kok harus bayar
lagi? Saya awalnya menduga,
pungutan ini mungkin untuk
biaya pemasangan instalasi
rumah atau bayar pengujian
instalasi. Kalau bayar instalasi
rumah tentu saja ke kontraktor
listrik. Kalau bayar biaya
pengujian instalasi, tentu ke
lembaga penguji instalasi yaitu
Konsuil atau Perkumpulan
Perlindungan Instalasi Listrik
Nasional (PPILN).
Karena masih ragu-ragu,
saya balik bertanya kepada Pak
Dewo,Diminta bayar berapa? Bayarnya kemana, dan untuk apa?
Pak Dewo pun menjawab,Awalnya diminta Rp 350.000
per pintu, setelah ditawar disepakati menjadi Rp 150.000 per pintu.
Yang minta petugas PLN yang datang survei ke rumah yang mau
disambung listriknya. Katanya sih untuk biaya pemasangan meter
kWh dan untuk orang dalam PLN.
Karena saya masih tidak jelas, akhirnya saya minta bicara

uang pungutan liar pun


dikembalikan oleh petugas kontraktor
yang minta uang kepada pelanggan.
dia datang diantar direktur perusahaan
tempatnya bekerja. tetapi, itu tidak
cukup. PLN kemudian meminta kepada
kontraktor agar petugas survei yang
nakal tersebut diberi sanksi tegas. dia
tidak boleh bekerja lagi untuk PLN.
selain itu, perusahaan kontraktor pun
diberi sanksi satu tahun tidak diberi
pekerjaan PLN


Saatnya Hati Bicara
207
langsung saja sama temannya Pak Dewo. Tetapi, pembicaraan itu
harus ditunda dulu karena sang teman sedang di Eropa.
Minggu depannya, setelah berbicara dengan sang teman,
saya baru mengerti duduk perkaranya. Dia rupanya bikin rumah
kos-kosan, sejumlah 42 kamar atau pintu.
Proses permohonan pasang baru dan bayar BP ke PLN
sudah sesuai standar PLN. Kemudian ada petugas PLN melakukan
survei awal untuk menyambung saluran ke rumah dan memasang
meter kWh nya. Nah, kesempatan itu rupanya digunakan oleh si
petugas PLN untuk meminta uang tambahan dari pelanggan PLN.
Sebetulnya biaya pemasangan saluran rumah dan meter
kWh yang diborongkan kepada kontraktor PLN itu menjadi
tanggungan PLN. Sudah termasuk dalam Biaya Penyambungan
(BP). Hebatnya lagi, si petugas PLN ini memberikan nama dan
nomor HP-nya ke pelanggan untuk meyakinkan bahwa permintaan
uang itu resmi adanya. Wahmeyakinkan!
Mendapat info ini saya minta manajer area setempat
mencari tahu siapa petugas PLN yang meminta uang tambahan
atau pungutan itu. Berbekal nama dan nomor HP yang diberikan
sang teman, akhirnya diketahui si petugas PLN itu rupanya
petugas kontraktor PLN yang akan menyambung saluran rumah
dan memasang meter kWh.
Selanjutnya tindakan penertiban dilakukan oleh Pak Bimo,
Manajer Area Serpong. Walaupun badannya kecil, tindakan Pak
Bimo ini seperti Bima: tegas tanpa tedeng aling-aling!
Uang pungutan liar pun dikembalikan oleh petugas
kontraktor yang minta uang kepada pelanggan. Dia datang
diantar direktur perusahaan tempatnya bekerja. Tetapi, itu tidak
cukup. PLN kemudian meminta kepada kontraktor agar petugas
survei yang nakal tersebut diberi sanksi tegas. Dia tidak boleh
bekerja lagi untuk PLN. Selain itu, perusahaan kontraktor pun
Saatnya Hati Bicara
208
diberi sanksi satu tahun tidak diberi pekerjaan PLN.
Kasus ini berangkali tak akan terungkap jika pelanggan
tidak bertanya langsung soal pungutan uang itu kepada kami.
Sebaliknya, jika sang pelanggan diam saja atau tidak memiliki
akses langsung kepada orang PLN, sangat mungkin dia bakalan
ditipu mentah-mentah oleh petugas kontraktor. Uang pelanggan
hilang dan nama PLN rusak!
Dari cerita di atas bisa disimpulkan, jika PLN ingin
membangun citra positif dalam melayani pelanggan, tidaklah
cukup hanya dengan menertibkan perilaku internal pegawai
di perusahaan ini. Tetapi, perilaku mitra kerja PLN juga harus
tertib. Caranya dengan membuka akses seluas-luasnya kepada
pelanggan untuk bisa berhubungan langsung ke PLN melalui
teknologi informasi terkini dan membangun sistem kendali pada
proses bisnis di PLN.
Sebenarnya, beberapa cara telah ditempuh. Kini,
mengajukan permohonan pasang baru, ubah daya, sambungan
sementara dan lain-lain sudah bisa dengan Contact Center 123,
website, SMS, Konmuter (loket permohonan dan pembayaran
dengan mobil keliling) atau datang sendiri ke loket PLN. Akses
pembayaran rekening listrik pun diperluas melalui loket-loket
bank, ATM, Konmuter atau bayar langsung ke PLN. Cara ini
sudah banyak dimanfaatkan sehingga pelanggan tidak harus
berhubungan dengan perantara atau calo.
Sedangkan dalam hal menertibkan kontraktor listrik,
sudah dimulai dengan menerapkan konsep spesialisasi. Dengan
konsep ini, lingkup kerja kontraktor listrik dibatasi secara spesifik.
Kalau dulu semua kontraktor listrik boleh melaksanakan seluruh
pekerjaan jaringan distribusi, mulai dari memasang instalasi
rumah, memasang saluran rumah (SR), memasang meter kWh,
membangun jaringan distribusi JTR, JTM dan gardu. Sekarang
kontraktor listrik yang memasang SR dan meter kWh tidak
Saatnya Hati Bicara
209
boleh membangun jaringan distribusi. Begitu juga sebaliknya
kontraktor listrik yang membangun jaringan distribusi tidak
boleh memasang SR dan meter kWh.
Dengan pengaturan seperti ini diharapkan para kontraktor
pemasang SR dan meter kWh bisa lebih fokus, lebih ahli di
bidangnya, dan lebih bertanggung jawab. Mereka juga diharuskan
punya kendaraan khusus pengangkut meter kWh. Tidak boleh
lagi mengangkut meter kWh dengan karung goni sehingga bisa
merusakkan materialnya. Petugas yang memasang meter kWh
juga harus memiliki sertifikat kompetensi memasang meter
Saatnya Hati Bicara
210
kWh. Harapannya, meter kWh sebagai titik transaksi PLN dengan
pelanggan betul-betul dijaga akurasinya. Mereka pun diikat
dengan SLA (perjanjian) integritas. Tidak boleh meminta uang
dari pelanggan dalam memasang SR dan meter kWh. Kalau di Jawa
Timur, jenis pekerjaan ini disebut Bung Sigap, kepanjangan dari
penyambungan singkat nggak pakai suap.
Akan tetapi, sistem apapun yang diterapkan pada akhirnya
kembali kepada manusia yang melaksanakannya. Maka, dibutuhkan
upaya sungguh-sungguh dan terus menerus untuk membangun
kualitas manusia yang berperilaku jujur dan berintegritas, baik
internal PLN maupun mitra kerja PLN. Mulai dari pelaksana sampai
pada para pemimpin tanpa kecuali. Mulai dari unit pelaksana, unit
induk sampai ke kantor pusat dan direksi PLN. Di Jawa Bali program
ini disebut membangun budaya saling percaya dengan tiga fokus,
yaitu integritas data, integritas personal, dan budaya kualitas.
Untuk mendorong membangun budaya saling percaya itu,
PLN juga menggandeng Transparency International Indonesia (TII).
Fokus kerjasama ini adalah perbaikan dua persoalan yang paling
banyak menjadi sorotan publik, yaitu proses pengadaan barang
agar menjadi transparan dan akuntabel, serta pelayanan pelanggan
agar berkualitas.
Dalam konsep ini, akan ada tim penerima keluhan dari
pelanggan atau masyarakat, atau yang kerap disebut sebagai
whistle blower system. Tim ini punya akses langsung dengan direksi
PLN dan mudah dihubungi oleh semua orang. Jadi pelanggan
atau masyarakat yang merasa dirugikan oleh tindakan PLN dapat
mengadu ke tim ini sehingga permainan dalam pengadaan
barang atau permintaan uang tambahan seperti cerita di atas bisa
diadukan secara langsung. Tidak perlu kenal Pak Dewo atau direksi
lainnya untuk bisa mengadukan keluhan kepada direksi PLN.

* Direktur Operasi Jawa Bali
PT PLN (Persero)
Saatnya Hati Bicara
211
Denting Lonceng
Perubahan
Moch. Sulastyo*
Saatnya Hati Bicara
212
T
anggal 4 Oktober 1983 adalah hari yang indah. Saya resmi
menjadi calon pegawai PLN dan mengawali tugas di kota
Ujung Pandangsekarang bernama Makassar. Tidak
terasa hari itu sudah berlalu dua puluh sembilan tahun. Banyak
tangis haru dan bahagia saya rasakan, dan terakhir ketika kembali
ke Jakarta sebagai general manager, tantangan dan kompleksitas
permasalahan membuat adrenalin bergejolak 100 kali lipat.
PLN memasuki babak baru, sejak tekad perubahan
digelorakan oleh para direksi melalui sejumlah program pada
tanggal 4 November 2009. Program itu terdiri perbaikan kapasitas
dan pendanaan, energi primer, operational excellence, procurement
excellence, commercial excellence, manajemen stakeholders dan
pengelolaan regulasi, peningkatan budaya kerja yang tinggi dan
kepemimpinan, serta yang terakhir pembangunan citra positif.
Namun, di setiap kesempatan saya selalu mengingatkan,
Buatlah orang lain percaya padamu melalui tindakanmu, bukan
melalui perkataanmu. Satu ons tindakan nyata lebih berharga
dibandingkan dengan tiga ton teori. Kita memang tidak butuh
banyak slogan dan berteori, tetapi tindakan nyata.
Perlahan, angin perubahan itu berhembus. Dulu, seorang
pemimpin wilayah bertemu dengan kepala bagian adalah hal yang
langka. Hal-hal yang terjadi di level bawah tidak tersampaikan
ke atas dengan baik. Para pegawai PLN di daerah seolah berjalan
sendirian. Saya teringat perjuangan ketika masih bertugas di
Makassar, betapa susahnya membangun jaringan distribusi. Belum
lagi harus sendirian menghadapi masyarakat berdemo. Syukurlah,
saat ini keadaan sudah sangat berubah. Manajemen semakin sering
bertemu pegawai di level terbawah.
Ketika saya bertugas di Jawa Timur, kami punya slogan Yok
Opo Carane Kudu Isok (Bagaimana pun caranya harus bisa) dengan
catatan, tetap dalam koridor integritas. Teman-teman di Jawa
Saatnya Hati Bicara
213
Timur waktu itu bekerja luar biasa dalam menanggapi keinginan
pelanggan yang sebenarnya sangat sederhana, yaitu bagaimana
caranya jika terjadi mati lampu bisa cepat menyala lagi.
Februari 2012, saya kembali menghirup udara kota Jakarta.
Kota ini mempunyai dinamika masalah dan tekanan kerja yang besar.
Jakarta ibarat etalase negeri. Kita tidak boleh melakukan kesalahan
di sini. Hal itu membuat saya sejak dini menyiapkan generasi muda
PLN Disjaya (Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang) agar segera
berbenah.
Setahun sebelum saya bertugas di Jakarta, PLN di seluruh
Indonesia melakukan program tambah daya gratis. Program
ini menjadi tantangan besar bagi generasi muda Disjaya untuk
menjadi seorang penjual
yang handal. Mareka dituntut
untuk membujuk pelanggan
agar melakukan tambah
daya secara gratis sekaligus
mensosialisasikan program-
program PLN lainnya. Tentu,
pekerjaan ini tidak mudah
dilakukan pegawai PLN yang
belum memiliki pengalaman
seperti pegawai bank yang terbiasa mencari nasabah baru.
Sebanyak 565 generasi muda PLN Disjaya ditargetkan untuk
mendatangi empat pelanggan setiap hari. Mereka dibekali Rute
Baca Meter (RBM). Semua dilakukan di luar jam kerja dalam kurun
waktu enam bulan. Hasilnya luar biasa. Mereka tidak hanya berhasil
memasarkan tambah daya gratis tetapi juga mampu memasarkan
listrik prabayar yang saat ini berganti nama menjadi listrik pintar.
Saat turun di lapangan, para generasi muda PLN Disjaya juga
menemukan banyak pengaduan dari pelanggan yang tertipu oknum-

buatlah orang lain percaya


padamu, melalui tindakanmu, bukan
melalui perkataanmu. satu ons tindakan
nyata lebih berharga dibandingkan
dengan tiga ton teori kita memang tidak
butuh banyak slogan dan berteori, tetapi
tindakan nyata

Saatnya Hati Bicara


214
Saatnya Hati Bicara
215
oknum yang mengatasnamakan petugas PLN. Oknum ini biasa
memungut biaya lebih saat menambah daya, padahal jelas-jelas
programnya gratis. Pada kesempatan seperti inilah para generasi
muda PLN menjelaskan agar masyarakat menghindari calo. Mereka
juga meyakinkan pelanggan bahwa mengurus listrik di PLN itu
mudah, transparan, dan cepat karena sudah ada sistem pendaftaran
melalui website dan contact centre. Banyak juga pegawai muda
yang sukses menggandeng ketua RT atau RW dan dibuatkan forum
sosialisasi sehingga semakin mendekatkan PLN dengan pelanggan.
Belakangan, PLN Disjaya meluncurkan program Sahabat
PLN. Program ini dimotori oleh generasi muda PLN bekerjasama
dengan aparat setempat dan ketua RT/ RW. Tujuannya adalah untuk
membangun pola pikir masyarakat agar bebas dari tunggakan,
bebas penerangan jalan umum (PJU) liar, serta bebas cantolan
listrik liar pada fasilitas sosial dan fasilitas umum.
Meski perbaikan terus dilakukan, namun tetap saja masih
banyak hal yang harus dilakukan untuk mewujudkan PLN Bersih.
Mengutip pesohor, Donald Trump, Hal terpenting dalam kehidupan
adalah mencintai apa yang Anda lakukan, karena itu satu-satunya
cara agar Anda mencapai hasil yang sangat baik dalam pekerjaan
Anda. Oleh karena itu cintailah PLN dan banggalah terhadap PLN
maka kita akan membawa PLN jauh lebih baik, Insya Allah.
* General Manager
PT PLN (Persero) Distribusi Jakarta dan Tangerang
Saatnya Hati Bicara
216
Saatnya Hati Bicara
217
PLN Semakin Baik
Daniel S. Bangun*
Saatnya Hati Bicara
218
S
aya mau nyambung baru listrik nih di rumah baru saya,
kata adik saya di ujung telpon sekitar empat tahun lalu.
Saya tercenung sejenak sebelum menjawab. Terbersit
perasaan kurang nyaman, adik saya sendiri yang memerlukan
layanan PLN di kota tempatnya berdomisili di Kota B, kenapa
malah menghubungi saya yang jauh di pulau Sumatera.
Sebenarnya sudah cukup lama saya memikirkan dan
merasa prihatin adanya persepsi yang melekat di masyarakat,
bahwa kalau mau berurusan dengan pelayanan PLN, alih-alih
melalui jalur-jalur resmi seperti loket dan telepon, akan jauh lebih
cepat bila melalui orang yang kenal orang PLN. Atau sekalian
melalui orang PLN, syukur-syukur kalau pejabat.
Sudah hubungi PLN terdekat? tanya saya. Kan bisa
langsung ke loket atau melalui telepon dulu.
Saya berasumsi bahwa PLN di kota B yang notabene kota
besar di pulau Jawa tentunya layanannya jauh lebih baik.
Wah, justru karena sudah bermasalah makanya jauh-jauh
menghubungi Abang, sahut adik saya dengan nada suara sedikit
meninggi.
Setelah itu berhamburanlah cerita dari seberang telepon,
sehingga terasa panas di telinga ini. Katanya, sehari sebelumnya
dia sudah menghubungi PLN melalui telepon. Maksudnya
hendak menanyakan kemungkinan dan segala persyaratan yang
diperlukan. Nomornya saya peroleh dari koran, lho,, katanya,
menegaskan bahwa dia sudah masuk lewat pintu resmi yang
dibuka oleh PLN sendiri.
Wanita yang melayani di call center PLN cukup ramah,
sehingga mulanya dia merasa yakin urusannya akan mudah dan
lancar. Memang, percakapan seputar data calon pelanggan dan
persyaratan teknis dengan terinci diinformasikan petugas PLN
dan dipahami adik saya. Akan tetapi, keganjilan mulai terasa
Saatnya Hati Bicara
219
ketika adik saya menanyakan biaya.
Bapak punya dana berapa? tutur adik saya menirukan
petugas penerima telepon yang malah balik bertanya. Setelah
itu pembicaraan benar-benar sudah keluar jalur. Bukannya
memberi info biaya resminya terlebih dahulu, tetapi si petugas
memberikan rayuan agar adik saya menyerahkan saja urusan
sambungan listriknya kepada dia dan tidak perlu repot-repot
datang ke kantor PLN.
Sore harinya, setelah
kontak telepon pertama itu,
petugas yang sama malah
berinisiatif menghubungi
adik saya, bahkan diulangi
lagi pada malam harinya.
Dia menawarkan jasa untuk
mengurus sambungan listrik
tersebut sampai dipastikan
menyala. Menghadapi rayuan
gencar itu tentu saja adik
saya merasa terganggu. Dia
juga jadi khawatir apabila dia
tidak mengurus lewat petugas
telepon yang merangkap calo
itu, penyambungan listriknya
akan dipersulit.
Makanya sekarang terpaksa minta bantuan Abang,
katanya sekali lagi, dengan nada kesal.
Kemudian dia menambahi bahwa sebenarnya dia bisa
maklum bila dicegat calo yang berada di sekitar kantor PLN yang
terbilang tempat umum. Tetapi, ini kan petugas telepon yang resmi
dan sepenuhnya dalam kendali PLN pun ada calonya? katanya.

pelajaran paling membekas buat


saya dari kisah nyata di atas adalah
betapa kualitas layanan sangat
bergantung pada manusia di ujung
tombak yang berada pada simpul
moment of truth, yakni saat pelanggan
berinteraksi dengan PLN. betapa
pentingnya mekanisme internal untuk
memastikan bahwa pelayanan yang
langsung dirasakan oleh pelanggan
berjalan sesuai dengan yang dipikirkan
oleh para manajer. dalam mekanisme
itu haruslah termasuk uji petik langsung
ke lapangan

Saatnya Hati Bicara


220
Semula terpikir oleh saya untuk mencandai adik saya
itu dengan kalimat,Maksud orang itu baik lho, membantu
masyarakat. Atau dengan kalimat lain, Khan bagus, cukup
telepon listrik nyala. Tetapi, karena menyadari adik saya yang
sedang kesal dan masalahnya memang serius, saya tidak lagi
berani bergurau.
Ketika saya mencoba memberi saran agar dia menulis saja
surat pembaca di koran, adik saya bukan saja menolak mentah-
mentah tetapi malah mengkritik saya. Menurut dia kalau mau
maju PLN jangan mengandalkan komplain pelanggan untuk
memperbaiki pelayanannya tetapi harus dengan mekanisme
pengawasan internal. Tidak semua pelanggan yang tidak puas
mau komplain. Pada umumnya pelanggan yang tidak puas,
alih-alih komplain, kebanyakan memilih berhenti membeli
dan berpindah ke pesaing yang tentu saja berakibat fatal bagi
perusahaan yang ditinggalkan itu. Untung PLN belum punya
pesaing, pungkasnya menyindir, yang membuat saya KO.
Pelajaran paling membekas buat saya dari kisah nyata di atas
adalah betapa kualitas layanan sangat bergantung pada manusia
di ujung tombak yang berada pada simpul moment of truth, yakni
saat pelanggan berinteraksi dengan PLN. Betapa pentingnya
mekanisme internal untuk memastikan bahwa pelayanan yang
langsung dirasakan oleh pelanggan berjalan sesuai dengan yang
dipikirkan oleh para manajer. Dalam mekanisme itu haruslah
termasuk uji petik langsung ke lapangan. Sejak peristiwa itu,
ghost shopping alias belanja siluman yang dalam teori pemasaran
artinya menyamar jadi pelanggan, menjadi andalan saya untuk
menilai kualitas pelayanan unit PLN di tempat saya bertugas.
Untunglah pengalaman buruk yang dialami oleh adik
saya itu tidak pernah lagi saya dengar sampai saat ini. Bisa jadi
karena komplain saya mengatasnamakan adik saya dulu sudah
Saatnya Hati Bicara
221
ditindaklanjuti dengan perbaikan. Selain itu, dalam benak saya
sendiri kisah tadi sudah memiliki tandingannya yang kali ini
menyenangkan dan saya alami sendiri.
Sekitar lima bulan lalu, pada pagi hari Minggu, saat sedang
berjalan-jalan santai di kebun, saya dikagetkan suara trafo di
sebelah rumah yang mendengung cukup keras. Sesuai kebiasaan
yang sudah terbentuk, cepat-cepat saya menelpon staf saya yang
bertanggungjawab di bidang teknik. Nada sambung terdengar
tapi tidak kunjung diangkat. Saya ubah panggilan kepada orang
nomor dua di area yang punya urusan. Tidak diangkat juga.
Sedikit kebingungan karena biasanya telepon seperti itu
Saatnya Hati Bicara
222
selalu menyelesaikan masalah, akhirnya saya mengirimkan pesan
pendek saja kepada mereka berdua. Sambil menunggu balasan
pesan pendek atau telepon, tiba-tiba terpikir oleh saya untuk
menelpon call center 123. Setelah melalui tahapan tekan angka 2,
terdengar suara agen wanita menyahut.
PLN 123, selamat pagi, ada yang bisa dibantu? suara
yang ramah dengan artikulasi yang meyakinkan. Tanpa mengaku
identitas, saya melaporkan tentang trafo mendengung tadi. Sang
agen mendengarkan dan kesan saya ia mencatat laporan saya
karena beberapa kali ia bertanya untuk memperjelas laporan
yang didengarnya. Kemudian dia menjanjikan akan segera
mengirim petugas ke lokasi. Benar saja, dalam waktu kurang dari
setengah jam, saya melihat sudah ada mobil dengan warna khas
PLN dan petugas yang seketika itu juga memanjat tiang trafo.
Terus terang saya tidak mengira petugas datang secepat
itu, bahkan sebelum saya menerima balasan pesan pendek
maupun telepon balik dari staf saya. Padahal, terus terang, semula
pemikiran spontan saya, dengan menelepon staf saya urusan
akan beres jauh lebih cepat.
Tidak lama setelah petugas datang, ponsel saya berdering.
Bukan dari staf teknik saya, tetapi saya ditelepon oleh agen
call center yang mengecek apakah petugas PLN sudah datang.
Demikian pula ketika perbaikan trafo sudah beres, kembali saya
ditelepon oleh petugas call center tadi untuk memastikan apakah
suara mendengung tadi sudah tidak terdengar lagi. Layanan call
center dan dukungan back office yang luarbiasa!
Siapa bilang PLN tidak semakin baik? Masih banyak
kekurangan, masih banyak yang harus diperbaiki, tetapi PLN
sudah semakin baik! Go PLN!
* General Manager
PT PLN (Persero) Wilayah Kalimantan Barat
Saatnya Hati Bicara
223
Melayani atau
Mengakali?
Nyoman S Astawa*
Saatnya Hati Bicara
224
D
alam perjalanan saya sebagai pegawai PLN, sangat
banyak saya temukan calon pelanggan/pelanggan
yang seharusnya dilayani malah ditipu oleh oknum
tertentu untuk mengeruk keuntungan materi. Bahkan mereka
tidak ada perasaan iba sedikitpun bila korban mereka terpaksa
menjual ternak atau meminjam uang ke sanak-saudara untuk bisa
mendapatkan sambungan tenaga listrik dari PLN. Karena itu saya
sangat mendukung gerakan PLN Bersih dan Melayani. PLN harus
hadir untuk pelayanan yang memuaskan bagi pelanggan dan
calon pelanggan.
Banyaknya calon pelanggan yang harus berhadapan
dengan daftar tunggu dan ketidakpastian untuk mendapat
sambungan, menimbulkan peluang yang dengan mudah
dimanfaatkan oleh oknum-oknum (internal/eksternal PLN)
untuk mengeruk keuntungan pribadi. Keinginan untuk cepat
mendapat sambungan pun membuat calon pelanggan mencari
alternatif yang memudahkan, entah melalui calo-calo yang bisa
menjanjikan sambungan atau melalui kenalan dan keluarga yang
bekerja di PLN.
Salah satu kiat untuk memerangi calo-calo sambungan
baru adalah dengan menghapuskan daftar tunggu. Gerakan
Sehari Sejuta Sambungan (GRASSS) 1 dan 2 sukses dilaksanakan
sehingga daftar tunggu sambungan baru dapat dikurangi secara
signifikan. Akan tetapi setelah kegiatan tersebut selesai daftar
tunggu mulai tumbuh lagi.
Ada beberapa alasan kenapa calon pelanggan tidak
dapat segera dilayani, diantaranya ketidaktersediaan material
untuk memenuhi sambungan baru tersebut, keterbatasan daya,
petugas survey yang kurang, dan trafo yang sudah over load.
Anehnya sering sekali alasan-alasan tersebut bisa hilang
dengan memberikan sejumlah uang kepada oknum PLN. Material
Saatnya Hati Bicara
225
tiba-tiba ada, trafo jadi bisa diberi tambahan beban pelanggan
baru, hingga petugas survey yang tiba-tiba bisa melaksanakan
pekerjaannya dalam waktu yang sangat singkat.
Saya masih ingat, suatu ketika ada anggota instalatir
yang mengirim surat bahwa
ada perusahaan yang akan
menyumbangkan satu gardu
distribusi untuk dimanfaatkan
PLN melayani sambungan
baru di suatu daerah. Saya
curiga dan meyakini pasti ada
sesuatu dibalik pemberian
tersebut, maka saya coba
telusuri sehingga ditemukan
bahwa ada ratusan pelanggan
yang sudah dipasang
intalasinya oleh perusahaan tersebut dan sudah tersambung
melalui gardu baru yang mau diserahkan kepada PLN. Ketika saya
tanya masyarakat mengenai berapa besarnya biaya yang mereka
habiskan untuk bisa menjadi pelanggan PLN, mereka menyebut
angka tertentu yang kalau saya kira-kira, jumlah uang semua
calon pelanggan tersebut lebih dari cukup untuk membangun
gardu dan jaringan yang akan melayani calon pelanggan. Jadi
masyarakat yang dibebani biaya pembangunan gardu dan
jaringan yang akan di sumbangkan tersebut.
Ada juga masyarakat di suatu daerah transmigrasi yang
ditipu dengan mengatakan bahwa mereka harus urunan sejumlah
uang tertentu agar bisa dilayani PLN. Caranya masyarakat diminta
membangun jaringan sendiri karena jaringan PLN belum sampai
ke desa mereka. Padahal, oknum tersebut tahu bahwa tahun
tersebut akan ada program pembangunan jaringan yang didanai

banyaknya calon pelanggan


yang harus berhadapan dengan
daftar tunggu dan ketidakpastian
untuk mendapat sambungan,
menimbulkan peluang yang dengan
mudah dimanfaatkan oleh oknum-
oknum (internal/eksternal PLN) untuk
mengeruk keuntungan pribadi



Saatnya Hati Bicara
226
APBN, sehingga jaringan yang dibangun tersebut seolah-olah
menggunakan uang masyarakat.
Tidak cukup halaman buku ini untuk menuliskan
kejadian-kejadian dimana masyarakat yang seharusnya dilayani
dengan baik oleh PLN justru menjadi obyek penipuan oknum.
Dan melawan satu-persatu oknum-oknum seperti itu akan
menghabiskan energi kita karena mereka selalu berusaha
Saatnya Hati Bicara
227
untuk mencari celah, terutama memanfaatkan ketidaktahuan
masyarakat.
Praktek-praktek seperti itu harus dihilangkan dengan cara
terus melakukam sosialisasi kepada masyarakat dan pelanggan.
Selain itu juga diperlukan sistem pelayanan pelanggan yang
dapat memperkecil praktek-praktek pencaloan atau diskriminasi
pelayanan berdasarkan pungutan liar yang didapat.
Monitoring kecepatan pelayanan pelanggan melalaui
Aplikasi Pelayanan Pelanggan Terpusat (AP2T) dapat mengurangi
kondisi-kondisi tersebut. Setiap permintaan pelanggan dapat kita
monitor kecepatan layanannya dan dapat kita ketahui alasannya
apabila ada penangguhan pelayanan pelanggan tersebut.
Memastikan bahwa tidak ada trafo yang berbeban di
atas 80 persen dan adanya ketersediaan material pendukung
sambungan baru akan mengurangi alasan pelanggan
ditangguhkan permohonan sambungan barunya.
Sistem yang mengontrol semua tahapan bisnis proses
dalam melayani harus dibuat, sehingga ada transparansi dan
kepastian pelayanan. Tidak ada lagi akal-akalan yang memberi
peluang petugas untuk mengeruk uang pelanggan.
Perbaikan system, tanpa peningkatan sumberdaya orang
yang mempunyai komitmen untuk melayani juga tidak akan
berarti apa-apa. Karenanya tetap harus dilakukan sosialisasi dan
penyadaran kepada petugas-petugas dan pejabat PLN untuk
meningkatkan pelayanan mereka. Pada saat perusahaan lain
sudah mulai meningkatkan kualitas layanan mereka dengan tidak
lagi hanya sekedar memberikan pelayanan kepada pelanggan
tetapi sudah meningkat menjadi keperdulian, maka seharusnya
PLN juga mulai berubah.
* General Manager
PT PLN (Persero) Wilayah Kalimantan Timur
Saatnya Hati Bicara
228
Saatnya Hati Bicara
229
PLN Bersih No Suap
Menghindar dari
Sekedar Slogan
Bambang Dwiyanto*
Saatnya Hati Bicara
230
K
eriuhan peringatan hari antikorupsi internasional tanggal
9 Desember 2012 usai sudah. Syukurlah, PLN bisa ambil
bagian dalam peringatan kali ini dengan berbagai acara.
Terharu hati ini menyaksikan kawan-kawan di garda terdepan
mengenakan baju bertuliskan PLN Bersih No Suap, No
Korupsi, No Gratifikasi, sambil melayani masyarakat. Mereka
juga menyebar brosur di jalan-jalan dan membubuhkan tanda
tangan kebulatan tekad untuk mendukung dan mensukseskan
program PLN Bersih.
Untuk memberikan sinyal kepada masyarakat tentang
gerakan ini, kami juga menampilkan kegiatan peringatan melalui
berbagai media, termasuk di antaranya di laman media sosial
facebook dengan account PLN123. Foto-foto kegiatan dengan
bangga kami pampang di laman facebook itu, lengkap dengan
poster besar PLN Bersih No Suap.
Namun, layaknya media sosial yang sangat kental dengan
interaksi, tanggapan yang kami terima pun beragam. Ada yang
mendukung dan ada pula yang melecehkan. Beberapa tanggapan
yang menohok di antaranya berasal dari seseorang mengaku
bernama Bara Kumbara sebagai berikut; Instansi yang banyak
tersandung kasus korupsi malah merayakan hari antikorupsi
sedunia wwkwkwkwkw.....(ketawa sampek guling2)....
Komentar lain tak kalah sinis datang dari Afif Muhdam;
PLN BERSIH...NO SUAP!!! Preeeettttt.....Di tempatku memang
gak suap, tapi gueddee bayarannya per bulan!!!
Sebagai orang PLN, hati ini panas juga dikomentari begitu.
Namun, saya mencoba meresponnya dengan kepala dingin.
Kepada Bara Kumbara saya sampaikan terimakasih atas ketawa
sampek guling2-nya. Lalu saya jelaskan, bahwa sudah menjadi
tekad manajemen dan seluruh karyawan PLN untuk menjadikan
perusahaan ini bersih dari korupsi, suap dan gratifikasi. Itu
Saatnya Hati Bicara
231
adalah hak kami. Dan hak Anda juga untuk berpendapat. Namun,
pendapat itu tidak akan menyurutkan tekad kami. Memang di
perusahaan dengan 40 ribu karyawan, mungkin saja masih ada
satu atau dua oknum yang merusak tekad ini. Namun, manajemen
sudah bertekad bulat jika ada korupsi di perusahaan ini akan
disikat habis. Karena itu, jika Anda punya data dan info dugaan
korupsi di PLN laporkan ke kami dan akan kami teruskan ke
direksi untuk ditindaklanjuti. PLN BERSIH, No SUAP, NO KORUPSI,
NO GRATFIKASI. Salam....
Tak ada respon dari
penjelasan saya yang panjang.
Juga belum ada tanggapan atas
tantangan untuk melaporkan
jika menemukan korupsi di
PLN. Hanya ada satu tanda
like di jawaban yang saya
buat itu.
Sedangkan kepada Afif
Muhdam, saya pun mula-mula
menyampaikan termakasih
atas preeeeet-nya. Lalu saya
terangkan bahwa, PLN Bersih No Suap adalah soal serius. Saya
sebutkan juga bahwa saat ini PLN sedang bersih-bersih menuju
perusahaan yang bersih. Bayar gede per bulannya bukanlah
korupsi, tapi mungkin memang pemakaiannya besar atau ada
kesalahan catat meter. Lebih baik sampaikan nomor identitas
pelanggan bapak supaya kita cek. Prinsipnya, PLN sangat
transparan karena alat ukur ada di tempat pelanggan dan setiap
saat bisa diawasi oleh pelanggan. PLN juga sangat fair, apa yang
wajib dibayar pelanggan hanya sesuai pemakainnya.

pertama, masyarakat mungkin


sudah sedemikian apriori terhadap
PLN, sehingga pesan tentang
antikorupsi yang kita suarakan pun
masih dianggap sebagai sesuatu yang
negatif, bahkan dinilai sebagai dagelan
serta omong doang (omdo). kedua,
masyarakat menunggu bukti dan
realisasi, bukan sekedar slogan


.
Saatnya Hati Bicara
232
Seperti jawaban sebelumnya, tak ada respon. Hanya ada
satu tanda like di jawaban yang saya buat itu.
Walaupun dua komentar di atas itu terasa menyakitkan,
namun kita di PLN tidak boleh sakit hati, juga tak boleh berciut
nyali. Apa yang bisa kita petik dari fenomema ini?
Pertama, masyarakat mungkin sudah sedemikian apriori
terhadap PLN, sehingga pesan tentang antikorupsi yang kita
suarakan pun masih dianggap sebagai sesuatu yang negatif,
bahkan dinilai sebagai dagelan serta omong doang (omdo).
Kedua, masyarakat menunggu bukti dan realisasi, bukan sekedar
slogan.
Bersih-bersih PLN juga harus dilakukan dengan
langsung bersih-bersih. Dan bersih-bersih tidak boleh hanya
di pagarnya saja. Ketika saya posting program bersih-bersih ini,
di kesempatan lain, seorang kawan di sosial media, yang juga
pegawai PLN berkomentar, Pak, kalau bersih-bersih jangan
hanya di pagar saja, tapi juga harus masuk ke dalam pekarangan.
Komentar ini ada benarnya juga. Memang tidak ada
jalan lain. Mari kita bersih-bersih secara total. Kita wujudkan
secara nyata program bersih-bersih tersebut di lingkungan
pekarangan kita masing-masing. Mari kita bangun pulau-
pulau integritas. Kita bisa menjadikan unit kita sebagai pulau
integritas diantara gugusan pulau-pulau (unit) yang ada.
Integritas adalah salah satu diantara empat nilai
perusahaan. Menurut buku Budaya Perusahaan, integritas
adalah wujud dari sikap anggota perusahaan yang secara
konsisten menunjukkan kejujuran, keselarasan antara perkataan
dan perbuatan, rasa tanggung jawab terhadap pengelolaan
perusahaan dan pemanfaatan kekayaan perusahaan untuk
kepentingan jangka pendek maupun jangka panjang, serta rasa
Saatnya Hati Bicara
233
Saatnya Hati Bicara
234
tanggung jawab terhadap semua pihak yang berkepentingan.
Jika kita petakan, saat ini sudah banyak unit yang
konsisten membangun kepercayaan publik. Sudah banyak unit
yang bisa membangun integritas dengan baik. Karena itu, mari
kita lanjutkan.
Lantas, apakah komunikasi keluar tidak perlu? Sangat
perlu. Ini dimaksudkan untuk memberikan sinyal ke masyarakat
bahwa kita memang telah berubah. Ini juga dimaksudkan untuk
meminta dukungan stakeholders dan agar turut mengawal
perubahan yang kita perjuangkan.
Jadi yang paling tepat kita lakukan, barangkali, aksi
nyata dengan bersih-bersih dan membangun pulau integritas
dan mengkomunikasikan apa yang kita lakukan ke seluruh
stakeholder di luar PLN agar masyarakat juga mengerti, bahwa
perusahaan ini telah berubah, setidaknya berupaya keras untuk
berubah menjadi lebih baik, lebih bersih...
* Manajer Senior Komunikasi Korporat
PT PLN (Persero) Kantor Pusat
Saatnya Hati Bicara
235
Menyalakan
Desa-desa
di Nusa Penida
Denny Hendry Wijaya*
Saatnya Hati Bicara
236
B
ali telah dikenal dunia sejak dulu kala sebagai kiblat
pariwisata Indonesia. Namun, hingga tahun 2011, di pulau
Nusa Peninda, sebelah tenggara pulau Bali yang dipisahkan
dengan selat Badung, masih belum sepenuhnya teraliri listrik.
Setidaknya masih ada
lima desa yang dihuni 900
keluarga belum berlistrik
di pulau tetangga Bali ini.
Bertahun-tahun berbagai
upaya ditempuh agar listrik
bisa masuk ke desa mereka.
Bahkan, banyak warga yang
memberikan iming-iming
hadiah tertentu apabila listrik
dapat menyala ke seluruh desa.
Menanggapi keinginan
warga desa tersebut saya selaku manajer baru pun tertantang.
Secara bertahap, selama empat bulan, kami melaksanakan proses
menyalakan seluruh desa tersebut dengan jaringan PLN.
Hampir setiap hari seorang oknum kepala dusun menelpon
dan berjanji akan memberikan sesuatu apabila penyalaan listrik
bisa sesuai keinginannya. Dia mengatur daerah mana yang harus
dinyalakan. Namun, penyalaan tetap kami prioritaskan untuk
pelanggan yang jaringannya terlebih dahulu dipasang, bukan
sesuai keinginan oknum tersebut.
Akhirnya, seluruh desa pun menyala dengan cahaya listrik.
Jika dikerjakan dengan baik, ternyata tak susah juga menyalakan
desa-desa di Nusa Penida.
Setelah listrik menyala, beberapa warga desa di Nusa
Penida berkali-kali menyatakan mau datang ke kantor dan
mengundang untuk bertemu. Tetapi, saya bersikeras tidak mau

hampir setiap hari seorang


oknum kepala dusun menelpon dan
berjanji akan memberikan sesuatu
apabila penyalaan listrik bisa sesuai
keinginannya. dia mengatur daerah
mana yang harus dinyalakan. namun,
penyalaan tetap kami prioritaskan
untuk pelanggan yang jaringannya
terlebih dahulu dipasang, bukan sesuai
keinginan oknum tersebut


Saatnya Hati Bicara
237
Saatnya Hati Bicara
238
menemui dan menolak menerima hadiah tertentu karena sudah
kewajiban kami untuk melayani.
Dari pengalaman itu, saya belajar beberapa hal berharga.
Pertama, sebagai pegawai PLN, kita wajib menerapkan
transparansi pelayanan kepada pelanggan dengan integritas
layanan publik, yaitu tidak menerima suatu imbalan apapun dari
pelanggan dengan motto TOP TANPA TIP.
Kedua, kita berkewajiban memperbaiki citra PLN di mata
pelanggan dengan percepatan penyalaan dengan motto Cepat
Nyala.... Nyala Terus. Dan ketiga, dengan terpasangnya prepaid
meter di pulau Nusa Peninda, maka program unggulan PLN Bali
Timur menjadikan pulau Nusa Peninda sebagai pulau dengan
100 persen pelanggan prabayar atau listrik pintar dapat segera
terwujud.
Saya bangga menjadi pegawai PLN, karena adanya
dukungan dalam kebebasan mengembangkan ide-ide dan
kreativitas untuk perubahan yang lebih baik. Misalnya kami
pernah menerapkan program Change To Great di PLN distribusi
Bali khusunya di area Bali Timur (area BATUR).
Dengan dilaksanakannya program Change to Great, pola
pikir pegawai berubah menjadi positif, semangat kerja meningkat,
koordinasi yang baik, menajamkan fokus kerja, visi, misi, nilai dan
moto kerja lebih baik, fasilitas dan sarana kerja pegawai sudah
terpenuhi, suasana kerja nyaman dan membuahkan prestasi yang
mebanggakan bagi semua pihak.
Semoga kreativitas yang membawa perubahan di dalam
PLN secara internal ini bisa mekar keluar dan berdampak kepada
pelayanan masyarakat yang lebih baik.
* Manajer Area Semarang
PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Tengah dan DIY
Saatnya Hati Bicara
239
PLN Sebagai
Roda Depan
Benny Marbun*
Saatnya Hati Bicara
240
P
ak, tolong dong didesak orang proyek supaya
trafonya bisa dioperasikan. Kasihan Pak, konsumen
sudah satu tahun beroperasi dengan genset, dan
perluasan pabrik belum dapat dilaksanakan karena listrik belum
ada. Ratusan tenaga kerja tidak bekerja. Demikian rengekan
suara telepon Jumat sore itu dari deputi manajer Niaga.
Siapa penanggungjawab proyeknya, dan berapa nomor
HP-nya? tanya saya.
Setelah memperoleh nama dan nomor kontak, segera saya
hubungi manajer proyek yang bertanggungjawab menyelesaikan
pembangunan trafo 150/20 kV di gardu induk (GI) yang berlokasi
di bagian barat Jakarta.
Pak, saya mendapat informasi tertundanya penyalaan
satu pabrik sepatu karena trafo 150/20 kV di GI belum
dapat dioperasikan. Pak, pemerintah berjuang mendorong
pertumbuhan perekonomian, mendorong penyediaan lapangan
pekerjaan, mendorong peningkatan kesejahteraan rakyat melalui
penyediaan kesempatan kerja. Apa yang bisa kita lakukan agar
trafo tenaga 150/20 kV itu bisa segera beroperasi? tanya saya.
Dari seberang, si manajer proyek menjawab bahwa ada
kekurangan beberapa material bantu. Hari Senin saya undang
Bapak untuk membahasnya! katanya.
Hah? Hari gini masih ngajak rapat? Bagaimana kalau
tidak perlu menunggu rapat lagi, Pak. Hubungi saja per telepon
untuk konsultasi ke atasan dan koordinasi dengan jajaran terkait.
Bagaimana kalau hari Minggu ini sudah bisa dinyalakan? sergah
saya.
Tidak bisa Pak. Harus kami rapat dulu, karena menyangkut
administrasi proyek, dia tetap ngotot dengan ajakan rapat.
Dengan sedikit basa-basi, saya tutup pembicaraan alot
itu. Kemudian, segera saya hubungi General Manager (GM)
Saatnya Hati Bicara
241
PLN P3B Jawa-Bali, menceritakan kebutuhan mendesak untuk
bisa mengoperasikan trafo tenaga 150/20 kV agar satu calon
konsumen industri bisa segera menyala. Kekurangan material
antara lain arrester dan relai proteksi.
Tanpa bertanya panjang lebar, sang GM mengatakan,
Saya sudah paham yang Bapak sampaikan, dan sebentar akan
saya hubungi kembali.
Selang lima menit
kemudian, sang GM
menelepon balik. Pak, saya
sudah minta beberapa staf
teknik segera meluncur ke
GI untuk melihat material
apa saja yang diperlukan
mengoperasikan trafo tenaga
itu. Secara bersamaan, saya
sudah minta supaya dicek
persediaan material di gudang
kami atau di gudang Unit P3B
Sumatera apakah material
yang diperlukan tersedia.
Luar biasa GM yang satu
ini. Dia melakukan lebih dari yang diharapkan. Dia melakukannya
bukan karena takut kepada saya, melainkan karena memahami
betapa kompetensi unitnya diperlukan untuk mewujudkan misi
PLN, Menjadikan tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan
ekonomi, dan sebagai media untuk meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat.
Dan benar, dengan kerja keras dan kerja bersama,
trafo tenaga 150/20 kV dapat dioperasikan pada hari Minggu.
Konsumen pun dapat menikmati aliran listrik keesokan harinya.

kalau dulu, untuk melakukan


penyambungan baru dilakukan dengan
sistem ban berjalan, atau bidang
tertentu menunggu permintaan dari
bidang niaga. sekarang, kita bisa
melakukannya secara paralel, yaitu
langsung dilakukan tanpa menunggu
diminta. kepedulian dan sikap proaktif
ini juga diyakini dapat memotong
peluang suap yang ditawarkan
calon konsumen agar mempercepat
layanan


Saatnya Hati Bicara
242
Tanpa rapat-rapat lagi. Ratusan tenaga kerja sudah mulai bekerja,
dan ratusan bahkan mungkin ribuan jiwa keluarga di belakang
pekerja tersebut tentu bisa mulai tersenyum.
Dari contoh nyata di atas dapat terlihat, sebagian pegawai
PLN masih juga bekerja dengan cara lama, yang berlama-lama
dan banyak rapat. Sedangkan yang lain, ternyata sanggup bekerja
secara cepat dan taktis.
Semangat bekerja dan membuat terobosan sebenarnya
semakin sering dikedepankan sejak akhir 2009. Beberapa
langkah di luar kebiasaan yang mengubah pola pikir lama, antara
lain penyambungan sejuta pelanggan dalam satu hari, puasa SPPD
satu bulan, serta deklarasi bebas padam. Ketika pada awalnya
dicanangkan langkah-langkah tersebut, sebagian orang memang
menanggapinya dengan perkataan, Tidak mungkin!!!.
Pekerja PLN terbiasa berpikir seperti yang biasa diajarkan
di bangku sekolahan, sesuai tahapan suatu proses. Setelah
melakukan ini, baru itu, dst. Atau, untuk melakukan ini, harus
dilakukan dulu ini itu dan lain sebagainya. Ternyata, sesuatu yang
awalnya tidak mungkin menjadi mungkin setelah pola pikirnya
diubah.
Kembali ke contoh nyata di atas. Sudah saatnya cara bekerja
PLN berubah. Kebutuhan masyarakatlah yang harusnya menjadi
penggerak seluruh aktivitas PLN. Tidaklah ada gunanya kerja keras
PLN bila tidak memberi dampak perbaikan untuk kesejahteraan
rakyat. Tidak ada gunanya mendapat tepuk tangan dari forum
internasional, kalau listrik tetap byar-pet, penyambungan baru
tetap sulit, rekening tagihan listrik tidak akurat, dll.
Kalau dulu, untuk melakukan penyambungan baru
dilakukan dengan sistem ban berjalan, atau bidang tertentu
menunggu permintaan dari bidang niaga. Sekarang, kita bisa
melakukannya secara paralel, yaitu langsung dilakukan tanpa
Saatnya Hati Bicara
243
Saatnya Hati Bicara
244
menunggu diminta. Kepedulian dan sikap proaktif ini juga
diyakini dapat memotong peluang suap yang ditawarkan calon
konsumen agar mempercepat layanan.
Kalau dulu menggunakan pola pikir, Saya akan lakukan
setelah diminta, maka sekarang harusnya berpikir, Apa yang
bisa saya/kami lakukan untuk mempercepat penyelesaian.
Tentu perubahan pola pikir ini bukan karena ingin mendapat
pujian, ingin mendapat reward, namun karena menyadari bahwa
keberadaan saya, keberadaan kami, keberadaan PLN adalah
untuk menjadikan tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan
ekonomi dan sebagai media untuk meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat Indonesia.
Semoga ini menjadi tekad bersama yang dapat
menggerakkan unit PLN di seluruh Indonesia.
* Kepala Divisi Niaga
PT PLN (Persero)
Saatnya Hati Bicara
245
Mari Buat Pelanggan
Kita Tersenyum
Nurnazmah Koto*
Saatnya Hati Bicara
246
O
ktober datang, Hari Listrik Nasional (HLN) menyapa.
Ingatan saya terbang ke peringatan HLN dua tahun
terakhir, begitu menyenangkan penuh kejutan. Gerakan
Sehari Sejuta Sambungan (GRASSS), Listrik Pra Bayar (LPB)
serta penggantian kWh Meter Tua yang manfaatnya langsung
menyentuh pelanggan membuat HLN terasa spesial. Padahal,
biasanya HLN hanya diperingati dengan upacara bendera dan
jalan santai.
Lonceng perubahan
itu dimulai pada akhir pekan
di bulan Maret 2011. Sesuatu
yang berbeda terjadi di
PLN Area Bengkulu. Kami
bersepakat untuk melakukan
sosialisasi tentang LPB di salah
satu pusat perbelanjaan. Kami
begitu bersemangat, seluruh
pegawai dilibatkan, tua
muda, pria wanita, pegawai maupun tenaga outsourcing. Saking
semangatnya jam tujuh pagi ibu-ibu sudah berkumpul di kantor
untuk menuju lokasi sosialisasi. Hampir 20 tahun saya kerja di
PLN baru kali ini ada sosialisasi di mall, kata seorang pegawai
wanita berbisik.
Kegiatan tatap muka dengan pelanggan di mall hari
itu meninggalkan banyak cerita. Banyak pengunjung merasa
binggung, heran, antusias serta terkagum-kagum atas produk
baru PLN ini.
Pengunjung, yang sore itu berasal dari beberapa kabupaten
di provinsi Bengkulu, bertanya tentang perbedaan LPB dengan
yang biasa digunakan, apa keuntungannya serta bagaimana
cara penggunaanya. Salah satu pengunjung berkata, Wah, PLN

yang jelas saya sangat senang


menjadi bagian dari gerakan itu,
bersentuhan langsung dengan
pelanggan, merasakan kebahagiaan
mereka. Merasakan dapat memberikan
pelayanan bukan dilayani


Saatnya Hati Bicara
247
sekarang beda ya, sudah maju sejak Dirutnya Pak Dahlan Iskan.
Bagus, bagus, biasanya PLN kan mau ngapa-ngapain ngantri,
pelayanannya lama, trus banyak pungutan pula. Kami hanya bisa
menjawab dengan senyuman.
Oh PLN ku seburuk itukah citramu dimata pelanggan,
pikir saya.
Setelah mendengar penjelasan kami, banyak pengunjung
yang langsung daftar migrasi ke LPB hari itu juga. Dengan antusias
mereka pun berupaya melengkapi sejumlah persyaratan. Hari
sudah larut saat stand ditutup. Antusiasme pengunjung membuat
rasa letih pun tidak terasa lagi. Sejak saat itu, sosialisasi terjadi dari
mulut ke mulut di antara pelanggan. Banyak juga pelanggan yang
kemudian datang langsung ke kantor pelayanan PLN terdekat.
***
Pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat itu
membuat kecanduan. Pada HLN 2011, telah ditetapkan agendanya
adalah Penggantian kWh Meter Tua. Begitu selesai apel HLN
2011 kami langsung ke lapangan, dibagi dalam beberapa
tim. Manajer, asisten manajer, supervisor, staf maupun tenaga
outsourcing semua membaur dengan tujuan bersama mengganti
kWh meter yang telah uzur. Tak lupa kami mempromosikan
berbagai produk PLN lainnya ke masyarakat.
Rinai hujan yang turun tak menghalangi langkah kami.
Ketika menjumpai target, kami langsung memberi penjelasan
kepada pelanggan dan langsung melakukan penggantian kWh
meter tua dengan yang baru, tentu setelah meminta persetujuan
terlebih dahulu. Kami terkadang harus berlama-lama menjelaskan.
Maklum, sebagian pelanggan target kami adalah orang-orang tua
yang tinggal di rumah-rumah panggung tua, setua kWh meternya.
Saatnya Hati Bicara
248
Ada pula pelanggan yang menolak karena takut dikenakan
biaya. Ada yang takut nantinya tagihan jadi membengkak. Bahkan,
ada seorang bapak-bapak yang marah-marah kepada kami
Saatnya Hati Bicara
249
karena lampu jalan di depan rumahnya sudah lama rusak, padahal
ia tidak pernah menunggak bayar listrik. Semua kami anggap
tantangan, setelah kami jelaskan, allhamdulillah kebanyakan
pelanggan setuju.
Hari ini PLN ulang tahun, jadi nenek mendapat kado
ganti meteran baru gratis, tapi jangan lupa bayar rekening tepat
waktu ya, begitu kata kami menjelaskan kepada seorang nenek.
Senyumnya mengembang menampakkan gigi-gigi merah karena
pinang-sirih.
Banyak juga pelanggan yang mengajukan naik daya gratis
dengan senang kami layani karena kebetulan kantor pelayanan
PLN sangat jauh dari lokasi pelanggan tersebut. Tak terasa sore
telah menyapa dan target yang diberikan kepada kami sudah
tercapai. Dengan hati puas kami kembali ke kantor area.
Saya sangat senang menjadi bagian dari gerakan
itu, bersentuhan langsung dengan pelanggan, merasakan
kebahagiaan mereka. Merasakan dapat memberikan pelayanan
bukan dilayani. Pernah di suatu kesempatan yang dihadiri
manajer area, kepada para asisten manajer saya menyampaikan
target PLN Area Bengkulu versi saya sendiri. Begini kata saya,
Pak, kalau Pak DIS targetnya mengalahkan kelistrikan Malaysia
bagaimana kalau target kita mengalahkan atau minimal menyamai
pelayanan bank?
Harapan akan perubahan itu masih ada, mari kita berbuat,
sekecil apa pun perubahan yang kita lakukan sangat berarti bagi
PLN yang tentunya bagi kita juga.
* Junior Analyst Keuangan Cabang Bengkulu
PT PLN (Persero) Wilayah Sumatera Selatan Jambi dan Bengkulu
Saatnya Hati Bicara
250
Saatnya Hati Bicara
251
Menuju PLN Bersih
dan Melayani
Irma S. Harahap*
Saatnya Hati Bicara
252
B
angga, tapi benci, itulah jawaban jika saya ditanyakan
mengenai kesan selama hampir dua tahun bekerja di PLN.
Sebagai anak muda yang ditempatkan di bagian
pelayanan, rasa bangga saya pada PLN terus berkurang. Kenapa
harus ada calo? Kenapa harus ada instalatir yang seharusnya
mengurus instalasi, tapi kerjaannya justru jualan kWh? Kenapa
ada ucapan terimakasih dalam bentuk materi untuk pegawai
PLN?
Saya kerap menanyakan
itu kepada nurani sendiri.
Akhirnya, pada satu titik, saya
berkesimpulan: sistem di PLN-
lah yang memberi peluang
semua itu terjadi.
Kenapa ada istilah
pelanggan langsung dan
tak langsung? Kenapa
begitu banyak keluhan dari
masyarakat bahwa pasang
listrik atau menaik-turunkan
daya itu mahal? Kenapa
banyak masyarakat pedesaan
yang terpaksa pasang listrik
secara kredit dan sangat mahal
melalui calo?
Jika pelanggan datang langsung, selalu ada kalimat, Oh
PLN sedang harga promo, ya Mba?
Saya tidak paham dengan keadaan begini, mungkin sudah
tradisi dari dulu. Tetapi, apakah memang tidak bisa dibenahi?
Sayang sekali doktrin-doktrin tentang integritas ketika diklat
prajabatan dan disiplin di Kopassus, perlahan hilang dengan

percuma manajemen pusat


berkali-kali membuat bahan teori untuk
membersihkan pln, karena praktek di
lapangannya masih jauh dari peraturan.
tidak perlu dijelaskan panjang lebar,
kita semua pihak internal PLN pasti
mengakui jika pelayanan di PLN masih
banyak yang bolongnya.
harapan saya pada manajemen PLN,
bersama-sama melatih hati teman-
teman di pelayanan untuk menjaga
integritas, menjalani sesuai prosedur.
harapan saya pada pihak manajemen
PLN berani dan tegas merealisasikan
PLN bersih



Saatnya Hati Bicara
253
Saatnya Hati Bicara
254
ritme lingkungan kerja yang rusak.
Percuma manajemen pusat berkali-kali membuat bahan
teori untuk membersihkan PLN, karena praktek di lapangannya
masih jauh dari peraturan.
Tidak perlu dijelaskan panjang lebar, kita semua pihak
internal PLN pasti mengakui jika pelayanan di PLN masih banyak
bolongnya.
Harapan saya pada manajemen PLN, bersama-sama
melatih hati teman-teman di pelayanan untuk menjaga integritas,
menjalani sesuai prosedur. Harapan saya pada pihak manajemen
PLN berani dan tegas merealisasikan PLN bersih.
Bagaimana caranya agar pelanggan puas. Bagaimana
caranya agar harga listrik tidak terkenal mahal, terutama bagi
masyarakat pedesaan. Jika hal itu dipenuhi, barulah kami para
pegawai bangga memperkenalkan diri sebagai pekerja di PLN.
Harapan saya, tidak ada pelanggan langsung dan non
langsung. Tidak ada istilah listrik promo lagi. PLN adalah abdi
masyarakat, bukan abdi para calo dan instalatir.
* Junior Analyst Pelayanan Pelanggan Rayon Tais
PT PLN (Persero) Cabang Bengkulu
Saatnya Hati Bicara
255
Tulus Berkarya untuk
Perbaikan Citra
Eko Sudaryono*
Saatnya Hati Bicara
256
M
asuk di PLN merupakan kebanggan buat saya.
Menciptakan senyum pelanggan setelah menerima
pelayanan adalah salah satu harapan kami. Kalimat
Melayani Tanpa Suap terpampang cantik pada pin yang
di pakaian petugas PLN di Sumba sehari-hari. Selain untuk
memperindah penampilan, pin ini juga berfungsi sebagai rambu
pengingat agar mereka bertindak sesuai peraturan sekaligus
memberi informasi kepada masyarakat agar jangan sampai
berhubungan dengan oknum yang tidak bertanggung jawab.
Hal ini tampak kecil, namun berdampak yang besar terhadap
pelayanan kami.
Suatu malam saya
pernah ngobrol santai bersama
teman-teman pelayanan
teknik di rayon Sumba Timur
setelah melayani pelanggan
yang tergangu listriknya.
Sudah minum kopi ko
tadi di lapangan? tanya saya.
Dengan spontan pe-
tugas itu menjawab Tidak
dapat apa-apa Bapak, kering.
Dari jawaban tersebut saya
menduga pelanggan sudah mengetahui kalau mengurus listrik
memang sudah tanggung jawab PLN, dan mereka tidak perlu
repot-repot menyuguhkan apapun saat melayani.
Keikhlasan kami teruji saat harus memasang lampu super
ekstra hemat energi (SEHEN) di rumah pelanggan yang jauh dari
jaringan dan di daerah terpencil. Saat itu tanggal 21 Februari
2012. Desa Kotak Kawau berjarak 45 km dari jaringan. Akses ke
lokasi masih tanah bebatuan. Kami memasang lampu SEHEN di 21

warga sangat antusias. setelah


kami memasang lampu sehen dirumah
mereka, seluruh anggota keluarga
berkumpul di depan rumah seperti ada
syukuran. wajah mereka memancarkan
rasa senang dan gembira. ada seorang
pelanggan yang langsung membuang
lampu semprongnya keluar rumah
sambil berkata, tidak pakai lagi kau


Saatnya Hati Bicara
257
Saatnya Hati Bicara
258
rumah pelanggan yang selama ini belum menikmati penerangan.
Warga sangat antusias. Setelah kami memasang lampu
SEHEN dirumah mereka, seluruh anggota keluarga berkumpul di
depan rumah seperti ada syukuran. Wajah mereka memancarkan
rasa senang dan gembira. Ada seorang pelanggan yang langsung
membuang lampu semprongnya keluar rumah sambil berkata,
Tidak pakai lagi kau!
Pemasangan lampu SEHEN itu selesai jam sembilan malam.
Lelah kami rasanya langsung hilang melihat keceriaan anak-anak
dan senyum dari wajah-wajah yang memancarkan kegembiraan.
Ini adalah sebuah pelayanan kecil yang berarti, sementara warga
masih berharap jaringan listrik suatu saat benar-benar masuk ke
wilayah mereka. Inilah gambaran betapa besarnya kebutuhan
masyarakat di luar Jawa dan Bali terhadap PLN.
Semoga seluruh insan PLN memiliki kepedulian yang tinggi,
melayani tanpa membeda-bedakan jauh dekat lokasi pelanggan,
tanpa pamrih, memposisikan mereka seperti keluarga kita sendiri
yang membutuhkan pertolongan.
Kami bertekad untuk meningkatkan pelayanan PLN Sumba
agar lebih baik, bersih dengan cara memelihara integritas dan
menjalankan komitmen secara konsisten.
* Asisten Manajer Pelayanan dan Administrasi, Area Sumba
PT PLN (Persero) Wilayah NTT
Saatnya Hati Bicara
259
Pegawai Sebagai
Sales
Edy Suseno*
Saatnya Hati Bicara
260
S
ekitar tiga bulan lalu, pada suatu Rabu sore. Dari
handphone saya terdengar ada nada pesan masuk. Saya
lihat pengirimnya teman sekolah saya di Surabaya. Dia
sekarang menjabat Manager ME di sebuah perusahaan nasional.
Bos, tolong dong aku dikasih nomor HP-nya manager
(PLN) Bintaro, demikian pesan singkat yang dikirim.
Mendapat pertanyaan itu, saya tidak segera menjawab.
Justru balik bertanya,Memangnya ada perlu apa, Bos?
Dia adalah karib saya, kami pun biasa saling menyapa
dengan panggilan Bos. Mungkin karena berasal sama-sama
dari Jawa Timur, sehingga kami terbiasa apa adanya. Tak ada
yang disembunyikan.
Tak lama dia membalas, Begini, besok Sabtu aku kan mau
punya hajat, listrik nggak kuat Bos. Aku mau tambah daya. Kasih
nomor HP manajernya, donk. Biar nanti dipercepat, waktunya
mepet nih .
Saya jadi berpikir, kenapa harus repot-repot meminta
nomor HP manajer PLN Bintaro hanya agar dilayani dengan
cepat. Tentu saja, nama saya akan dijadikan referensi kalau teman
sekolah ini saya kasih nomor HP manajer Bintaro, yang kebetulan
juga teman saya. Saya pun menolak permintaan nomor HP.
Bos, ngapain tambah daya saja perlu ke manager area,
daftar aja lewat call center 123 atau lewat website PLN.
Rupanya dia terkejut dengan jawaban saya, Lho
memangnya bisa yah?
Coba saja sekarang Bos, ya! Saya meyakinkan.
Oke Bos, aku coba nanti malam yah! Dia mengakiri
percakapan via handphone.
Yes! saya memungkasi percakapan hari itu dengannya.
Keesokan paginya saya berniat mengontaknya, ingin
memastikan kalau dia tidak menemui kesulitan mendaftar tambah
Saatnya Hati Bicara
261
daya lewat website. Tetapi, rupanya saya kalah duluan.
Beres bos tadi malam sambil kerja aku sudah buka website
PLN dan langsung daftar. Tapi rupanya istriku belum bayar listrik
nih, ketahuan dia, budget listrik kan di istriku, tapi pagi ini aku
bayar kok dan langsung mau daftar ulang tambah dayanya,
demikian pesan panjang yang
dikirimnya.
Rupanya dia sudah
mulai percaya tentang adanya
kemudahan layanan baru PLN
ini. Pada hari Sabtunya dia
menulis pesan lagi, Beres bos,
tambah daya sudah OK, bravo
untuk PLN yah!
Tidak puas dengan
pesan itu, akhirnya saya
telepon dia. Saya jelaskan
bahwa reformasi pelayanan
PLN telah dilakukan sejak dua
tahun terakhir ini.
Dari peristiwa ringan
tadi timbul pertanyaan, apakah
orang sekelas teman saya tadi
tidak tersentuh gencarnya
iklan PLN terkait reformasi
pelayanan? Padahal, iklan layanan lewat call center 123 dan
website ini sudah secara gencar disampaikan kepada konsumen.
Ada yang lewat brosur, spanduk, banner, baliho, temu pelanggan,
media cetak dan lain sebagainya. Bagaimana ini, yang salah PLN
atau teman saya?
Tidak perlu mencari siapa yang salah, yang jelas konsumen

setiap pegawai adalah sales bagi


perusahaan. ya, hendaknya semua
pegawai PLN, secara pribadi adalah
juga menjadi seorang sales bagi
perusahaan. diantara tugas sebagai
seorang sales adalah mempromosikan
produk baru, memperkenalkan produk
yang dijual, melakukan edukasi kepada
konsumen, membentuk kepercayaan
konsumen dan menjawab pertanyaan
konsumen, dengan demikian terjalin
hubungan yang harmonis dan saling
menguntungkan antara perusahaan
dengan para konsumennya. hal
lain yang diperoleh adalah semakin
loyalnya konsumen kepada
perusahaan


Saatnya Hati Bicara
262
kita yang sekelas dia sangatlah banyak. Mereka bagian dari 45
juta penduduk kelas menengah di negeri ini. Mereka memiliki
pengaruh, juga punya power. Mereka sanggup bayar listrik
dengan tarif non subsidi. Tentu, amatlah ringan tugas kita apabila
konsumen dari kelompok ini menjadi pengguna pertama atau
menerima informasi pertama atas layanan baru PLN.
Kenapa ringan? Ya, mereka punya akses yang sangat luas,
paling tidak mereka akan merekomendasikan pada jaringan
sosialnya apabila ada pertanyaan tentang layanan PLN, entah itu
pasang baru, tambah daya, dan lain-lain.
Lalu bagaimanakah cara kita mengenalkan produk-produk
PLN kepada kalangan ini, juga kepada konsumen yang lain
dengan cara-cara selain yang sudah dilakukan selama ini ?
Setiap pegawai adalah sales bagi perusahaan. Ya, hendaknya
semua pegawai PLN, secara pribadi adalah juga menjadi seorang
sales bagi perusahaan. Diantara tugas sebagai seorang sales
adalah mempromosikan produk baru, memperkenalkan produk
yang dijual, melakukan edukasi kepada konsumen, membentuk
kepercayaan konsumen dan menjawab pertanyaan konsumen,
dengan demikian terjalin hubungan yang harmonis dan saling
menguntungkan antara perusahaan dengan para konsumennya.
Hal lain yang diperoleh adalah semakin loyalnya konsumen
kepada perusahaan.
Oke lah kalau tidak semua tugas seorang sales bisa
diemban oleh seluruh pegawai, karena pekerjaan masing-
masing pegawai memang berbeda. Tetapi, paling tidak tugas
mengenalkan produk baru dan menjawab pertanyaaan
konsumen seputar pelayanan adalah dua hal yang harus dikuasai
dan bisa dilakukan. Tentu saja jika sekedar menjawab pertanyaan
bagaimana cara pasang baru dan tambah daya dan cara bayar
rekening tidaklah harus menguasai Tata Usaha Langganan (TUL)
Saatnya Hati Bicara
263
Saatnya Hati Bicara
264
terlebih dulu sebagaimana pegawai yang memang ditugaskan di
pelayanan.
Sebenarnya kebanyakan pertanyaan dari konsumen adalah
tentang tata cara. Seringkali kalau mendapatkan pertanyaan dari
konsumen dan kebetulan bukan bidang kita, pertanyaan akhirnya
tidak terjawab karena kita merasa itu bukan pekerjaan saya.
Akhirnya apa? Pertanyaan ditujukan kepada pihak yang tidak
tepat (misalnya kepada calo) dan akhirnya bukan jawaban yang
semestinya yang diperoleh. Seringkali nama PLN terbawa-bawa
kalau pelanggan tidak puas karena salah tempat bertanya.
Media untuk mengenalkan produk baru tentu saja banyak,
misalnya menyampaikan pesan ke lingkungan tempat tinggal
masing-masing, kepada keluarga, teman atau bahkan kepada
organisasi/komunitas secara langsung. Media lain adalah
mengenalkan produk baru bisa melalui media sosial di dunia
maya, facebook, twitter, pesan melalui BlackBerry dan lain
sebagainya.
Alangkah dahsyatnya apabila peran sebagai sales ini
dilakukan oleh sekitar 50.000 pegawai PLN. Konsumen akan
melakukan akses secara langsung ke media yang telah disediakan
oleh perusahaan ketika mengajukan pasang baru, tambah daya
atau yang lain. Dengan demikian, pekerjaan fisik akan berkurang.
Betapa besar manfaat tersebut, niscaya memberikan kepuasan
kepada konsumen yang berjumlah lebih dari 49 juta, tidaklah
menjadi pekerjaan yang berat. Semoga.
* Senior Specialist II PSO dan Tarif, Divisi Niaga
PT PLN (Persero) Kantor Pusat
Saatnya Hati Bicara
265
Pembawa Terang
Dian Putri*
Saatnya Hati Bicara
266
B
erapa sih biaya untuk menaikkan daya dari 450 VA
ke 900 VA? Bagaimana sih proses pasang baru dan
berapa biayanya? Berapa lama? Kalau turun daya
biayanya berapa ya? Kalau geser tiang harus bayar tidak?
Begitulah berondongan pertanyaan yang terus menerus
dilontarkan oleh pelanggan saat sosialisasi PLN. Pelanggan
rupanya sangat haus informasi tentang PLN. Keingintahuan
itu kebanyakan karena banyak hal gelap di PLN yang tidak
dimengerti dengan baik oleh masyarakat.
Untungnya telah banyak
inovasi yang digulirkan
PLN untuk mendekatkan
diri kepada pelanggannya,
diantaranya pelayanan Call
Center 123, website, atau juga
melalui media sosial yang
saat ini sedang berkembang
seperti facebook dan twitter.
Arus informasi
mempengaruhi kinerja PLN
terutama dalam beberapa
hal yang sensitif bagi
pelanggan. Seperti tentang
kejelasan biaya dan waktu
tunggu pemasangan setelah
mendaftar. Segala upaya dan inovasi tadi diharapkan mampu
memaksimalkan penyampaian informasi kepada pelanggan.
Seperti peraturan Pasang Baru, Perubahan Daya, P2TL (Penertiban
Pemakaian Tenaga Listrik), dan lain sebagainya yang segala
informasi sebelumnya mudah dikaburkan oleh para calo.
Bagai sebuah gelas kaca bening. Seperti itulah pelanggan

membangun kepercayaan
masyarakat adalah harga mati PLN
jika ingin menjadi sebuah perusahaan
yang menerapkan prinsip gcg (good
corporate governance). kepercayaan
tersebut dapat dibangun melalui
transparansi informasi. jika yang
tampak adalah sebuah gelas bening,
maka noda kecil pun akan terlihat.
demikian juga dengan PLN, dengan
transparansi informasi maka akan
terlihat sebersih apa PLN di mata
pelanggan


Saatnya Hati Bicara
267
memandang PLN ketika telah terwujud transparansi informasi.
Dengan transparansi informasi juga, PLN telah mengedukasi
pelanggan untuk turut serta menjadi kritikus terdepan apabila
timbul penyelewengan peraturan PLN.
Seringkali penyelewengan terjadi ketika pelanggan
tidak paham pada peraturan yang sebenarnya. Selain itu,
ketika pelanggan telah paham dengan peraturan PLN, maka
kesalahpahaman antara PLN dengan pelanggan akan berkurang.
Saatnya Hati Bicara
268
Transparansi informasi juga harus ditanamkan kepada
mitra PLN yang turut serta mengiringi proses bisnis PLN dalam hal
pelayanan pelanggan, baik itu BTL (Biro teknik Listrik) ataupun
Konsuil (Komite Nasional Keselamatan Untuk Instalasi Lisrik).
Transparansi informasi yang dimaksud di sini adalah penyekatan
lingkup kerja antara PLN dengan BTL dan Konsuil, yang mencakup
transparansi informasi peraturan mulai dari biaya hingga alur
proses masing-masing. Terkait hal tersebut maka diharapkan
agar masyarakat tidak rancu akan batas tanggungjawab antara
PLN dengan rekan mitra kerja seperti sekarang ini yang masih
sering dijumpai.
Membangun kepercayaan masyarakat adalah harga mati
PLN jika ingin menjadi sebuah perusahaan yang menerapkan
prinsip GCG (Good Corporate Governance). Kepercayaan tersebut
dapat dibangun melalui transparansi informasi. Jika yang tampak
adalah sebuah gelas bening, maka noda kecil pun akan terlihat.
Demikian juga dengan PLN, dengan transparansi informasi maka
akan terlihat sebersih apa PLN di mata pelanggan.
PLN bersih merupakan suatu angan-angan saya semenjak
saya masuk ke perusahaan ini. Sebuah inspirasi muncul dari
sebuah iklan produk minuman di mana seorang anak dengan
bangganya bercerita di depan kelas tentang ayahnya dan
menyebut sang ayah sebagai pengantar kegembiraan. Padahal
ayahnya hanyalah seorang pengantar minuman. Hal ini karena
setiap orang yang didatangi sang ayah merasa gembira.
Demikian juga saya berandai-andai, suatu saat anak saya
dengan bangganya menyebut saya pembawa terang karena
bekerja di PLN. Listrik ada bukan untuk mempersulit masyarakat
namun menerangi kehidupan dan menjadikannya lebih baik.
* Assistant Analyst Manajemen Mutu Area Yogyakarta
PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Tengah dan DIY
Saatnya Hati Bicara
269
Transparansi Biaya
Pasang Baru Listrik
Grahaita Gumelar*
Saatnya Hati Bicara
270
S
uatu hari datang dua orang calon pelanggan ke kantor
PLN dan bertanya kepada petugas di loket, Mbak, berapa
biaya pemasangan lampu daya 900 VA?
Dijawab oleh petugas loket, Biaya PLNnya Rp 675.000,
Pak! Namun itu belum termasuk biaya instalasi dan jaminan
konsuilnya.
Calon pelanggan pun
lanjut bertanya Terus berapa
biaya untuk instalasi dan
jaminan konsuilnya?
Untuk hal tersebut
Bapak bisa menanyakan
langsung pada instalatir yang
terdaftar di PLN, daftarnya
ada kami pasang di depan,
jawab petugas loket sambil
menunjukkan sebuah baner.
Dengan masih
kebingungan, kedua calon
pelanggan itu pun membaca
daftar nama instalatir yang terpajang di depan kantor PLN. Salah
seorang diantaranya kemudian menghubungi salah satu nomor
telepon Instalatir untuk menanyakan biaya instalasi dan konsuil
sambil bertanya dalam hati, Kok biayanya bermacam-macam
ya? Saya mau jadi pelanggan PLN kok malah disuruh tanya ke
Instalatir, wah jangan-jangan ada kerjasama ini antara PLN dan
Instalatir.
Seorang instalatir menjawab telepon calon pelanggan
tersebut, Biaya pemasangan satu titik Rp 150.000 untuk pasangan
luar dan Rp 250.000 untuk pasang tanam rumah beton, jaminannya
Rp 77.000.

dengan adanya biaya yang masuk


ke masing-masing instalatir (bukan
rekening terpusat) yang biayanya
berbeda-beda disetiap daerah, juga
masih memungkinkan terjadinya
percaloan. selain itu juga membuka
peluang kolusi antara pihak PLN
dengan instalatir yang diuntungkan
dengan adanya pemasangan listrik
baru seperti yang dipikirkan oleh salah
satu calon pelanggan diatas


Saatnya Hati Bicara
271
Kemudian calon pelanggan tersebut mencoba
menghubungi instalatir lain dan dijawab,Biasanya Rp. 2.500.000
untuk 4 lampu dan 1 stop kontak,
Ada juga instalatir yang menjawab,Sesuai yang disepakati
DPRD untuk kabupaten disini Rp 1.800.000 untuk yang sudah
terpasang instalasi dan Rp. 2.800.000 jika belum terpasang
instalasinya.
Kemudian kedua orang calon pelanggan tersebut saling
berdiskusi. Salah seorangnya berkata, Wah mahal juga, ya
masang lampu di rumah, memang biaya PLN-nya murah cuma
Rp 675.000 saja, tapi masih ada biaya instalasi dan jaminan
konsuil, bisa-bisa mereka memang kerjasama.
Jawab calon pelanggan satunya, Aku ini taunya listrik
dirumahku bisa nyala, aku harus bayar berapa? Bukan diputar-
putar ke sana ke sini, ke PLN lah, ke instalatir lah.
Seiring dengan kemauan PLN untuk membuka diri
dan berusaha transparan kepada calon pelanggan dengan
memisahkan antara biaya pasang baru dan instalasi, namun
tanggapan masyarakat berbeda-beda, seperti gambaran tersebut
diatas.
Adanya biaya yang bermacam-macam dan harus
dibayarkan ke beberapa pihak (apalagi sekarang biaya non-
tagihan listrik tidak diterima loket PLN) membuat kurang
transparan dimata pelanggan. Rata-rata pelanggan menginginkan
agar listrik di rumahnya bisa segera nyala dan sepengetahuan
mereka semua itu urusan PLN. Pokoknya yang pelanggan tahu,
kalau urusan lampu, ya PLN.
Dengan adanya biaya yang masuk ke masing-masing
instalatir (bukan rekening terpusat) yang biayanya berbeda-beda
di setiap daerah, juga masih memungkinkan terjadinya percaloan.
Selain itu juga membuka peluang kolusi antara pihak PLN dengan
Saatnya Hati Bicara
272
Saatnya Hati Bicara
273
instalatir yang diuntungkan dengan adanya pemasangan listrik
baru seperti yang dipikirkan oleh salah satu calon pelanggan di
atas
Harapan kami sebagai salah satu ujung tombak PLN,
seharusnya manajemen PLN jeli menghadapi permintaan calon
pelanggan. Hal itu karena pelanggan adalah raja.
Kami berharap agar biaya-biaya pemasangan baru dan
instalasi bisa disatukan dengan harga yang jelas, diatur oleh
undang-undang dan dibayarkan hanya pada satu pintu loket yaitu
di PLN atau lewat bank.
Jika kita perhatikan beberapa tahun yang lalu, Telkom
ketika masih berjaya dengan PSTN-nya, mereka menawarkan
pemasangan telepon rumah lengkap dengan pesawat teleponnya.
Mereka tidak lagi mengharuskan pelanggan membayar biaya
instalasi kabel telepon dan biaya pesawat teleponnya.
Harapan kami PLN bisa seperti itu, pelanggan cukup
membayar satu kali saja dengan harga yang sudah ditetapkan
dengan undang-undang, PLN yang menyelesaikan semuanya
hingga lampu di rumah pelanggan menyala. Biaya pasang baru
bisa transparan dan tidak terjadi perbedaan harga di tiap daerah
serta mengurangi adanya gratifikasi antara PLN dengan instalatir/
rekanan.
Untuk jaminan instalasi pun menurut kami tidak juga
diperlukan lagi, atau kalau mau lebih baik diganti dengan
asuransi, sehingga jika terjadi kebakaran atau kerusakan akibat
arus pendek, jelas penanggung jawabnya dan pelanggan tidak
merasa dirugikan.
* Manajer Rayon Samboja
PT PLN (Persero) Cabang Balikpapan
Saatnya Hati Bicara
274
Saatnya Hati Bicara
275
PLN Adalah
Perusahaan Besar
Aulia Taufiqu Rahman*
Saatnya Hati Bicara
276
S
uatu ketika saat menonton TV di rumah, istri saya bertanya,
Ayah, kok iklan PLN nggak pernah nongol di TV ya?
Pertanyaan itu sederhana, namun cukup menyentil.
Hampir semua masyarakat Indonesia adalah pelanggan
PLN. Tapi sampai saat ini, masih banyak dari mereka yang bingung
dengan aturan-aturan PLN. Pelanggan masih kurang nyambung
dengan PLN.
Kemudian saya pikir, seandainya saja PLN beriklan di
televisi, mungkin situasinya akan lebih baik. Memperkenalkan
produk-produk PLN melalui tayangan di televisi adalah salah
satu cara agar masyarakat semakin mengenal PLN. Mereka bisa
mengetahui apa saja produk-produk PLN, betapa mudah dan
murahnya proses pasang baru atau menambah daya. Lewat iklan
juga kita bisa mengenalkan
cara perhitungan rekening
listrik dan cara mengontrol
stan meteran pasca bayar.
Kasus yang sering
saya temui, kebanyakan
calon pelanggan PLN atau
masyarakat awam tidak dapat
membedakan fungsi petugas
instalatir dengan petugas PLN
pada saat mengajukan pasang
baru.
Kebanyakan calon
pelanggan menganggap
bahwa pemasangan instalasi
pada bangunan adalah tanggung jawab PLN. Bahkan ada yang
menganggap bahwa petugas Instalatir sama dengan petugas
PLN. Hal ini menyesatkan dan merugikan. Calon pelanggan akan

memperkenalkan produk-produk
PLN melalui tayangan di televisi adalah
salah satu cara agar masyarakat
semakin mengenal PLN. mereka
bisa mengetahui apa saja produk-
produk pln, betapa mudah dan
murahnya proses pasang baru atau
menambah daya. lewat iklan juga kita
bisa mengenalkan cara perhitungan
rekening listrik dan cara mengontrol
stan meteran pasca bayar


Saatnya Hati Bicara
277
Saatnya Hati Bicara
278
menganggap bahwa ongkos yang dikeluarkan untuk Instalatir
sama dengan ongkos yang dikeluarkan untuk PLN. Seolah-olah
biaya penyambungan listrik dari PLN tidak transparan, karena
tidak termasuk ongkos pemasangan di dalamnya.
Harus ada informasi dan pendidikan ke masyarakat
bahwa instalatir dan PLN adalah dua perusahaan yang berbeda.
Wewenang PLN adalah dari kWh meter ke atas. Sedangkan
instalasi bangunan adalah wewenang dari instalatir.
Ketika masyarakat sudah teredukasi, pasti mereka akan
mengetahui bahwa sebenarnya proses pasang baru tidaklah
seruwet yang dibayangkan selama ini.
Sering juga ketika saya menumpang di kereta, bus atau
pesawat, penumpang di sebelah saya mengeluh tentang aturan
PLN yang terkesan berbelit-belit dan tidak jelas. Kebanyakan
mereka yang tahu saya bekerja di PLN marah akibat informasi
yang didapat dari kantor PLN di daerah mereka kurang oke.
Ketika ada kejadian seperti ini, saya selalu bilang ke
penumpang di sebelah saya tersebut, Anda sebagai pelanggan
atau calon pelanggan tidak usah bingung, Pak. Apabila
menemukan ketidakjelasan informasi atau indikasi kecurangan
dari oknum PLN silahkan untuk menulis surat pembaca di media
cetak atau online untuk membantu agar PLN lebih baik lagi di
masa mendatang.
PLN memang masih butuh bantuan dari masyarakat untuk
mengawasi kinerjanya agar lebih baik dan lebih bersih dalam
melayani pelanggan. Saatnya PLN untuk berlari mengejar
ketertinggalan yang ada selama ini dan menjadi pendorong bagi
Bangsa Indonesia dalam meraih mimpi !
* Supervisor Transaksi Energi Listrik Area Kupang
PT PLN (Persero) Wilayah Nusa Tenggara Timur
Saatnya Hati Bicara
279
Proyek PLN,
Jangan Molor Donk...
Sapto Triono Widiastoto*
Saatnya Hati Bicara
280
P
LN Bersih dan Melayani. Alangkah sejuk dan menyenangkan
ungkapan itu.
Sejak tahun delapan puluhan, saat populer kegiatan
gugus kendali mutu (GKM), warga PLN sudah akrab dengan istilah
manajemen melayani. Prinsipnya jangan sampai kawan-kawan
yang bekerja di depan pelanggan mukanya masam, bersungut-
sungut, apalagi sampai mengumpat.
Di sisi lain ada cerita soal proyek PLTU buatan kontraktor
China yang pengerjaannya berlarut-larut. Sudah enam tahun
sejak terbit Peraturan Presiden
tahun 2006. Dari dua puluh
lima proyek di luar Jawa,
yang sudah beroperasi tidak
sampai hitungan jari tangan.
Memang proyek di pulau Jawa
lebih diprioritaskan karena
kapasitasnya besar-besar
dan jualan listrik PLN di Jawa
paling besar. Repotnya, para
gubernur dan bupati di luar
Jawa suaranya lantang dan
tidak kenal kompromi.
Para general manager,
pimpinan unit operasi PLN
wilayah di luar Jawa hanya bisa harap-harap cemas menunggu
hasil kerja kontraktor yang rata-rata tidak paham bahasa
Indonesia dan diawasi oleh pihak PLN Proyek.
Jika ditanyai kawan-kawan yang menangani proyek,
ternyata mereka tidak kalah pusing. Selain kendala bahasa,
apa yang mereka awasi itu juga tidak gampang. Proyek mereka
molek di luar, tapi keropos di dalam. Beberapa proyek jika dilihat

jika ditanyai kawan-kawan yang


menangani proyek, ternyata mereka
tidak kalah pusing. selain kendala
bahasa, apa yang mereka awasi itu
juga tidak gampang. proyek mereka
molek diluar, tapi keropos di dalam.
beberapa proyek jika dilihat secara
fsik kelihatannya hampir selesai, tapi
fnalisasinya bisa bertahun-tahun. dan
kalau pun akhirnya PLTU yang baru itu
bisa beroperasi, seringkali PLN harus
menangai berbagai cacat bawaan



Saatnya Hati Bicara
281
secara fisik kelihatannya hampir selesai, tapi finalisasinya bisa
bertahun-tahun. Dan kalau pun akhirnya PLTU yang baru itu
bisa beroperasi, seringkali PLN harus menangai berbagai cacat
bawaan.
Saatnya Hati Bicara
282
Untungnya cacat bawaan ini sudah dimaklumatkan jauh
sebelumnya. Sudah ada keterlibatan calon operator saat proyek
mendekati penyelesaian. PLN Wilayah sudah siap-siap dengan
sederet rencana perbaikkan.
Namun, seringkali saat pembangunan proyek, terjadi
perselisihan. Ada barang yang kurang atau sulit dicari. Waktu
pun terbuang untuk berselisih. Kadang pula karena sudah terlalu
akrab, tidak tega menegur kesalahan kontraktor.
Padahal soal janji proyek biasanya optimis luar biasa.
Proyek diprediksi selesai enam bulan, bahkan tiga bulan. Untuk
mengisi kekurangan pasokan listrik sementara, PLN Wilayah
biasanya menyewa mesin. Kalau hanya tiga bulan, mereka
pasti sanggup, walaupun harus membayar sewa mesin diesel
yang mahal. Belum lagi harga bahan bakar minyak (BBM) yang
menguras kocek. Parahnya jika janji penyelesaian proyek tiga
bulan melar menjadi setahun, bahkan bisa lebih. PLN Wilayah
paling dirugikan. Kalau PLTU batubara belum operasi, mereka
harus terus-terusan membakar bahan bakar minyak (BBM) untuk
melayani listrik masyarakat.
Tak salah kalau kawan-kawan PLN Wilayah tak putus-
putusnya mengingatkan koleganya di bagian proyek untuk juga
bersikap melayani terhadap pelanggan PLN Wilayah. Mereka
dituntut membangun pembangkit sebaik-baiknya, tepat waktu
seperti yang dijanjikan, agar bisa segera dioperasikan oleh PLN
Wilayah.
Kalau pun belum bisa melayani secara maksimal paling
tidak mencoba mengerti besarnya harapan agar proyek PLTU itu
cepat diselesaikan. Semoga semangat PLN melayani tetap ini ada
di hati semua insan PLN.
* Kepala Divisi Pembangkitan Indonesia Timur
PT PLN (Persero)
Saatnya Hati Bicara
283
Refleksi Tiga Dekade
Pengabdian di PLN
Wawan Gunawan*
Saatnya Hati Bicara
284
P
erjalanan tiga dekade sudah saya lalui di PLN. Di sini saya
mengabdi, juga menggantungkan nasib untuk menafkahi
keluarga. Menjadi bagian dari PLN di bidang distribusi
sangat membanggakan, baik secara pribadi maupun keluarga.
Perusahaan ini telah memberikan banyak, bahkan lebih dari
cukup bagi kesejahteraan para pegawainya.
Seperti tubuh dan jiwa saya, kebijakan strategis
perusahaan ini pun berubah secara dinamis dari waktu ke waktu
waktu. Pemicunya adalah tuntutan perubahan itu sendiri yang
bersumber dari kebutuhan atau kesesuaian internal maupun
ekternal perusahaan. Di zaman ketika PLN ditetapkan sebagai
perusahaan umum (perum) di bidang jasa kelistrikan, model
pelayanan kepada masyarakat atas jasa produknya belum menjadi
tujuan utama. Saat itu, kami lebih fokus kepada perusahaan.
Kemudian di era tahun 90-an, PLN berubah dari perum
menjadi perseroan terbatas (PT). Arah kebijakan perusahan mulai
bergeser, dari company oriented menjadi customer oriented.
Perubahan itu disusul pembenahan visi dan misi perusahaan,
pengenalan tata kelola perusahaan yang baik good corporate
governance (GCG), serta pengenalan budaya perusahaan
yang diikuti dengan internalisasi kepada anggota perusahaan
melalui penerbitan buku Pedoman Perilaku (Code of Conduct)
dan sosialialisasi secara langsung kepada seluruh anggota
perusahaan.
Proses alih generasi sumber daya manusia pun telah
dilakukan dengan baik oleh perusahaan, terbukti sudah banyak
generasi dari angkatan 90 ke atas yang mendapat amanah untuk
duduk sebagai pucuk pimpinan di beberapa unit PLN, bahkan
ada yang ditugaskan di luar PLN. Hal ini menunjukkan bahwa citra
baik perusahaan sudah diakui di kalangan industri sejenis .
Proses perubahan untuk mewujudkan cita-cita perusahaan
Saatnya Hati Bicara
285
sesuai visi dan misi yang dilandasi dengan GCG terus digelorakan.
Secara berkala jajaran direksi PLN mengomunikasikan sesuatu
hal yang dianggap penting untuk disampaikan kepada seluruh
anggota perusahaan melalui CEO Note, BOD Note, tele confrence,
dan melalui media PLN Kita. Hal ini sangat efektif karena secara
cepat semua anggota perusahaan bisa mengetahui apa yang
menjadi topik bahasan, walaupun pada hakekatnya eksekusinya
ada di kita masing-masing.
Kemajuan teknologi informasi yang didukung dengan
SDM yang kompeten telah meningkatkan efisiensi bisnis di PLN,
seperti yang dikembangkan dalam bidang pelayanan pelanggan.
Di bidang ini, pengembangannya disesuaikan dengan kesiapan
infrastruktur yang ada di masing masing unit seperti Pengelolaan
dan Pengawasan Arus Pendapatan Secara Terpusat (P2APST),
Aplikasi Pengelolaan Pelanggan Terpusat (AP2T) yang sudah
berjalan di seluruh indonesia, dimana pelanggan bisa melakukan
transaksi sesuai produk layanan yang ada secara on line melalui
Contact Centre 123, atau melalui email. Selain itu di beberapa
daerah di Jawa Tengah, model layanan bisa melalui mobil
Konsumen Mudah Terlayani (Konmuter), yang dibangun atas
kerjasama PLN dengan mobil layanan internet dari Kementerian
Komunikasi dan Informasi.
Sebagai wujud tanggung jawab terhadap integritas
layanan publik (ILP) atas produk layanan telah disediakan email
kontak kami yang bisa menampung saran dan keluhan dari
masyarakat terhadap layanan PLN, sehingga segera ditindaklanjuti
proses penyelesaiannya. Pembentukan tim ILP di masing-masing
area dan di kantor induk, dan survei ILP oleh PLN kantor induk
bekerjasama dengan beberapa lembaga perguruan tinggi di
daerah pun dilaksanakan setiap triwulan.
Semua langkah ini merupakan bentuk evaluasi atas
Saatnya Hati Bicara
286
pelayanan yang diberikan PLN sekaligus juga sebagai umpan
balik untuk upaya peningkatan mutu pelayanan tersebut. Selain
itu hasil dari survei ini sebagai pembanding terhadap survei
yang sama yang dilaksanakan oleh Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK). Dari hasil survei tentang pelayanan PLN Distribusi
Jawa Tengah & DIY di semester I tahun 2012 menunjukkan bahwa
dalam layanan pasang baru masih menunjukkan ada perantara/
calo, kurangnya informasi yang diserap oleh masyarakat tentang
prosedur layanan, biaya yang
belum transparan serta masih
kurangnya informasi anti
korupsi yang berkaitan dengan
bebas calo, transparansi biaya,
dan larangan pemberian tip
kepada petugas.
Informasi ini menjadi
tantangan sekaligus peluang
perbaikan layanan yang
harus digulirkan terus melalu
proses pemberdayaan bagi
para pelaku di ujung tombak
(PLN dan mitra kerja). Program
manajemen penyambungan
sebagai langkah upaya
perbaikan dalam bidang pelayanan pelanggan seperti pasang
baru, perubahan daya, migrasi, layanan bongkar/pasang meter
sementara, layanan penerangan sementara/pesta dan lainnya,
bekerja sama dengan vendor dengan persyaratan khusus dimana
lingkup pekerjaannya tertentu seperti layanan tersebut di atas
dan tidak boleh mengerjakan bidang pekerjaan lainnya, yang
didukung dengan para pekerja profesional dan bersertifikat

perubahan menuju pln bersih


dan melayani memerlukan komitmen
bersama mulai dari anggota
perusahaan, mitra kerja, dan
masayarakat. butuh sosok pemimpin
yang menjadi panutan yang bisa
memberikan penguatan untuk maju
bersama, mampu membuat mereka
bisa hidup dengan kekuatannya
sendiri, bisa menjadi seorang bapak
yang menyejukkan hati ketika anaknya
gelisah dan menjadi hakim yang adil
ketika anaknya salah


Saatnya Hati Bicara
287
pelatihan pemasangan sambungan rumah (SR)/alat pembatas
dan pengukur (APP), serta pengukuran kinerjanya disepakati
dengan service level agrement (SLA) yang sejalan dengan upaya
perbaikan ILP.
Mengawal sebuah program percepatan mementum
perubahan menjadi hal sangat mengesankan yang kami alami.
Bulan April 2011, kami masuk di jajaran direktorat Jawa Bali,
tepatnya di Area Kudus Distribusi Jateng & DIY. Nuansa semangat
menuju layanan kelas dunia mulai diimplimentasikan melalui
kegiatan seperti CAP (Change Acceleration Program) yang di
dalamnya ada CoC, visum, quick win.
Setiap pagi kami berdoa bersama untuk memberikan
penguatan lahir maupun batin, bahwa manusia hanya berusaha,
Tuhan-lah yang berkehendak atas semuanya. Diinformasikan
beberapa perkembangan harian dari aktifitas yang mendukung
secara langsung. Misalnya, untuk program penekanan susut,
dibacakan progres harian pendapatan P2TL masing masing rayon,
juga progres harian dari kegiatan pemutusan dan penyambungan
(tusbung) gropyokan untuk pencapaian umur piutang.
Kami juga berbagi informasi secara terbuka di kalangan
pegawai. Selain itu, juga rutin melakukan supervisi ke semua
rayon untuk memastikan berjalannya kegiatan, tidak hanya di
area saja tetapi juga berjalan di semua rayon. Alhamdulillah, PLN
Area Kudus di semester I 2011 mendapat predikat kinerja terbaik
I. Keberhasilan ini memperkuat kepercayaan diri pegawai,
bahwa dengan melakukan sesuatu dengan sabar dan ihklas, akan
diberikan yang terbaik oleh-Nya.
Dalam sebuah kunjungan kerja, direktur operasi (dirop)
Jawa Bali di wilayah Jateng dan DIY menyempatkan mampir
di area Kudus dan berdiskusi dengan seluruh pegawai. Dalam
dialognya, dirop Jawa Bali menyampaikan bahwa dalam tata
Saatnya Hati Bicara
288
kelola perusahaan yang baik ada tiga hal penting yang perlu
diperhatikan, yaitu adalah mind set, capability, leadership (MCL),
manajemen infrastucture (MI) dan technical system (TS).
Direktur operasi Jawa Bali memberikan tugas agar paparan
presentasi yang telah disampaikan diubah sistematikanya dengan
tiga hal tersebut dan dalam waktu satu bulan hasilnya diemailkan.
Dengan antusias saya jawab siap, walaupun saat itu baru tahu
sedikit tentang hal tersebut yaitu saat tim Operation Performance
Improvement (OPI) area Yogya menyampaikan progress OPI di
raker semester I 2011.
Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, area Kudus
learning by doing tentang OPI, datang ke area Yogyakarta. Kami
berdiskusi dengan regional coach OPI Distribusi Jawa Tengah dan
DIY. Segala aktivitas yang ada di semester II 2011 kami selaraskan
dengan tiga aturan main OPI dan secara konsisten kami eksekusi
rencana kerjanya, sekaligus juga diberikan sosialisasi OPI,
dilakukan audit kesiapan OPI. Di luar dugaan hasilnya telah
memenuhi syarat untuk implementasi OPI di area Kudus, dan
yang lebih membanggakan lagi, adalah kami mendapat kinerja
terbaik I di Semester II 2011.
Perjalanan OPI area Kudus masuk di wave 3, yang diawali
proses pengenalan OPI di Desember 2011, kemudian kick off OPI,
boot Camp I, diagnose pada bulan Maret sampai dengan April
2012, kemudian boot camp II, design di bulan Mei sampai dengan
Juli 2012 dan boot camp III dan deliver pada bulan Agustus sampai
dengan Desember 2012.
Perkiraan pendapatan secara perhitungan selama setahun
dari kegiatan tagihan susulan (TS) sebesar 31.661.682 kWh atau
setara dengan Rp 24.651.785.953 dimana sampai dengan bulan
Oktober 2012 telah tercatat realisasi sebesar 40 persen dari
Saatnya Hati Bicara
289
Saatnya Hati Bicara
290
rencana tersebut. Sedangkan dari workstean MI ditemukan dua
aktivitas yang mendukung pencapaian kinerja perusahaan yaitu
material inventory and tracker (MINT) dan hour four 5S environment
(HOUSES).
Di sisi lain sebagai nilai tambah yang sangat positif adalah
bahwa dengan implementasi OPI dimana anggotanya adalah para
generasi muda, membuktikan ini telah sesuai dengan program
Leadership Engine for Execution Capability Improvement (LE4ECI),
menuju yang muda yang berkarya.
Perubahan menuju PLN Bersih dan melayani memerlukan
komitmen bersama mulai dari anggota perusahaan, mitra kerja,
dan masayarakat. Butuh sosok pemimpin yang menjadi panutan
yang bisa memberikan penguatan untuk maju bersama, mampu
membuat mereka bisa hidup dengan kekuatannya sendiri, bisa
menjadi seorang bapak yang menyejukkan hati ketika anaknya
gelisah dan menjadi hakim yang adil ketika anaknya salah.
Harapan optimis bisa dicapai yang harus diawali dari perubahan
diri sendiri Insya Allah
* Manajer Area Kudus
PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Tengah dan DIY
Saatnya Hati Bicara
291
Kerja Keras PLN
dalam Melayani
Marwan Yudi Samukti*
Saatnya Hati Bicara
292
P
ertengahan Oktober 2012. Sudah seminggu mati lampu
mendera sebagian kabupaten Seluma, Bengkulu.
Gangguan biasanya terjadi setiap subuh, membuat petugas
pelayanan teknik (YANTEK) dan pegawai PLN sibuk luar biasa di
pergantian hari.
Sebelumnya, mungkin
banyak yang belum kenal
dengan kabupaten Seluma.
Karena itu, lebih baik saya
ceritakan dulu tentang Seluma.
Kabupaten ini baru terbentuk
berdasarkan Undang-undang
No 3, tahun 2003 bersama
dengan pembentukan empat
kabupaten lainnya. Sebelum
1998, provinsi Bengkulu yang
terkenal dengan bunga langka
rafflesia arnoldi ini hanya
terdiri atas tiga kabupaten
dan satu kota: kota Bengkulu, kabupaten Bengkulu Utara, Rejang
Lebong, dan Bengkulu Selatan. Kini sudah ada 9 kabupaten dan 1
kota. Lima kabupaten, yakni Mukomuko, Kaur, Lebong, Kepahiang,
dan Seluma terbentuk pada 2003, sedangkan Bengkulu Tengah
terbentuk pada 2008.
Sebagai daerah pemekaran yang belum genap 10 tahun
usianya, Seluma termasuk kawasan tertinggal. Selain posisi
yang agak terisolasi serta kurangnya sarana dan prasarana yang
menghubungkan antar kota, desa dan wilayah, kawasan ini juga
minim infrastrukturnya. Listrik merupakan salah satu kemewahan
di Seluma. Karena itu, kami berjuang keras agar mati listrik tiap
subuh itu bisa diatasi.
Setelah beberapa hari, titik gangguan akhirnya ditemukan.

sebagai daerah pemekaran yang


belum genap 10 tahun usianya, seluma
termasuk kawasan tertinggal. selain
posisi yang agak terisolasi serta
kurangnya sarana dan prasarana yang
menghubungkan antar kota, desa
dan wilayah, kawasan ini juga minim
infrastrukturnya. listrik merupakan salah
satu kemewahan di seluma. karena itu,
kami berjuang keras agar mati listrik
tiap subuh itu bisa diatasi

Saatnya Hati Bicara


293
Ternyata kabel termination outdoor PDAM bocor. Kejadian itu
kami sampaikan ke kantor area, dan rencananya akan ditangani
esok harinya. Setelah kami pertimbangkan, akhirnya kami
putuskan untuk segera melaksanakan pertolongan sementara
terhadap kabel termination tersebut. Walaupun urusan air bukan
tugas kami, namun demi menyelamatkan suplai air yang sangat
penting bagi penduduk kota Bengkulu, kami pun turut serta.
Listrik kami padamkan jam setengah satu siang, namun
tiba-tiba turun hujan lebat, hingga pekerjaan tertunda sampai sore
menunggu terang. Sore menjelang magrib baru bisa dimulai hingga
selesai jam sembilan malam. Selanjutnya dilakukan pengisian energi
Saatnya Hati Bicara
294
selama satu jam, dan beberapa pekerjaan lain yang menguras
tenaga, sehingga PDAM dapat beroperasi kembali tepat pukul
sebelas malam dan suplai air di pagi harinya kembali normal.
Dari analisa kejadian, menurut dugaan awal gangguan
disebabkan oleh akar pepohonan. Saat itu juga kami diintruksikan
melakukan pembersihan jaringan. Tanpa berpikir dua kali, kami
pun segera menjawab,Siap pak akan kami laksanakan.
Kemudian saya berkoordinasi dengan supervisor teknik.
Dia mengatakan,Untuk jalur bandara sudah agak lumayan,
karena sejak awal Sepetember sudah dilaksanakan pembersihan
jaringan. Kegiatan itu memang dilakukan untuk menghadapi
musim hujan di bulan September hingga Desember.
Kemudian saya mencoba menanyakan ke staf lain yang
bertugas sebagai pengawas di daerah tersebut. Salah seorang
di antaranya, Pak Tri. Memang ada beberapa lokasi yang belum
ditengok dalam bulan ini Pak, yaitu di daerah PT Perkebunan
Nusantara VII, katanya. PT PN ini memiliki kebun sawit yang subur,
sehingga pertumbuhan dahan ke jaringan menjadi cepat. Biaanya
kawasan PT PN ini memang rutin di inspeksi tiap bulan. Namun, untuk
bulan Oktober ini memang belum dilaksanakan. Direncanakan akan
dilakukan pekan depan, sebelum kejadian mati listrik itu terjadi.
Bekerja di daerah seperti Seluma, memang tak boleh istirahat. Kami
dituntut bekerja keras melakukan yang terbaik.
Dan kerja keras untuk tetap menjamin pasokan listrik tetap
terjaga walupun hujan lebat mengguyur Kabupaten Seluma itu
kami lakukan dengan ikhlas. Ini demi mempertahankan citra PLN
bersih dan melayani yang sangat didambakan oleh semua orang.
Sukses buat PLN-ku. We love PLN.
* Manajer Rayon Tais, Cabang Bengkulu
PT PLN (Persero) Wilayah Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu
Saatnya Hati Bicara
295
Aku
Adalah Mimpimu
Setiawati*
Saatnya Hati Bicara
296
M
impi.??? Jelassudah lama kamu memimpikan Aku.
Karena mimpi merupakan sesuatu yang mutlak untuk
dimiliki oleh seseorang yang ingin memiliki masa
depan yang baik, begitu juga kamu, hai PLN.
Aku adalah Aplikasi Pelayanan Pelanggan Terpusat yang
disingkat AP2T. Aku adalah mimpi besarmu. Karena dengan Aku,
kamu dapat melayani pelangganmu secara transparan sehingga
semua mata bisa melihat langsung segala aktivitasmu. Namun,
harus disadari bahwa mewujudkan mimpi besar tidaklah semudah
memiliki mimpi itu sendiri. Ada banyak tantangan dan hambatan
yang selalu siap menghadang langkahmu menuju mimpi besar
mu. Aku yakin tidak sedikit orang yang menyerah di tengah jalan
karena begitu hebatnya hambatan yang harus dilewati. Mimpi
itu harus dikejar dan diraih apalagi sebuah mimpi besar karena
mimpi tidak akan tiba-tiba datang ke pangkuan. Oleh sebab itu,
kalimat yang paling tepat menurut Aku adalah JANGAN TAKUT
MENGEJAR MIMPI.
Mimpi dapat terwujud selama ada komitmen. Jadi betapa
besarnya dampak sebuah komitmen untuk mengejar mimpi
bersama. Karena dengan Komitmen tidak perlu takut untuk
mengambil keputusan apapun. Tidak ada satupun kamus yang
mengatakan salah mengambil keputusan di dalam mengejar
mimpi, yang ada hanyalah ambil keputusan dan jalankan.
Dalam pelaksanaannya tentu saja tidak segampang
pengucapannya. Kalaupun kamu tahu bahwa mimpi harus dikejar,
harus ada komitmen dan segala macamnya tapi untuk memulainya
terkadang bingung harus dimulai dari mana, gimana cara
mengejarnya, harus ke arah mana mengejarnya, dan seterusnya.
Dan yang lebih parahnya lagi, sudah ada bayang-bayang takut
gagal kemudian dicemooh oleh orang banyak.
Saatnya Hati Bicara
297
Ada pelajaran menarik yang bisa menjadi penyemangat bagi
kamu yang sedang mengejar mimpi, yaitu belajar dari keputusan
nekat yang diambil oleh Bill Gates ketika memutuskan keluar
dari Harvard, Universitas paling bergengsi di Amerika Serikat.
Semua orang akan bangga apabila bisa kuliah di Universitas
paling bergengsi tersebut.
Bahkan mungkin sebagian
rela menjadi mahasiswa abadi
demi sebuah gengsi. Namun
tidak dengan Bill Gates, dia
rela keluar dari Harvard untuk
mengejar mimpi besarnya
dengan mendirikan Microsoft
Corporation.
Begitu juga ketika
kamu memutuskan dan
berupaya sekuat tenaga
untuk mewujudkan Aku. Itu merupakan suatu keputusan gila
dan berani yang kamu ambil. Banyak orang yang menyangsikan
keputusanmu. Banyak orang yang ragu dan tidak percaya bahwa
Aku bisa kamu wujudkan karena selain aku single aplication
berbasis Web, aku juga didisain sebagai aplikasi pelayanan
pelanggan dengan database terpusat. Wowbenar-benar suatu
keputusan gila dan sangat berani.karena pelangganmu sangat
besar dan tersebar.
Dengan Aku, proses bisnis pelayanan dimana kamu
berada menjadi standar. Aku bisa dikatakan sebagai jantungnya
pelayanan. Dengan Aku, kamu bisa memberikan alternatif
pilihan layanan yang bisa dipilih sesuka pelangganmu sehingga
dengan banyaknya pilihan layanan maka tidak ada lagi antrian
panjang pelangganmu di depan loket yang kumuh hanya untuk

calon pelangganmu yang ingin


pasang baru tidak perlu datang ke
loket dan ketemu orang-orang yang
berprofesi mencari keuntungan pribadi,
karena pelangganmu bisa mengajukan
permohonan lewat call center 123 atau
lewat Web PLN yaitu www.pln.co.id.
Pelangganmu bisa memantau sendiri
secara langsung di Web PLN, posisi
proses permohonanya


Saatnya Hati Bicara
298
Saatnya Hati Bicara
299
membayar tagihan listrik atau berlama-lama menunggu jawaban
atas mengajuan permohonan pasang baru yang sudah pasti
jawabannya adalah tidak pasti atau ingin mengajukan tambah daya
dengan jawaban yang berbelit-belit merupakan paket komplit
gambaran layananmu kala itu. Panjangnya antrian tentunya sangat
menyita waktu pelangganmu ditambah lagi bonus ketidakpastian
layanan yang kamu berikan kepada pelangganmu serta suasana
tempat layanan yang hiruk-pikuk terakumulasi sehingga
pelangganmu menjadi gerah dan berusaha mencari jalan pintas.
Kondisi semacam ini, dimanfaatkan dengan baik oleh calo/orang-
orang yang berprofesi mencari keuntungan pribadi. Namun
dengan kehadiran Aku semua itu akan berubah, karena niat
Aku tulus.memberikan yang terbaik untuk pelangganmu juga
untukmu.
Modal Aku sangat sederhana yaitu BISNIS PROSES
YANG STANDAR dan MENGEDEPANKAN KEJUJURAN melalui
TRANSPARANSI. Dengan Aku calon pelangganmu yang ingin
pasang baru tidak perlu datang ke loket dan ketemu orang-
orang yang berprofesi mencari keuntungan pribadi, karena
pelangganmu bisa mengajukan permohonan lewat call center
123 atau lewat Web PLN yaitu www.pln.co.id. Pelangganmu bisa
memantau sendiri secara langsung di Web PLN, posisi proses
permohonanya. Kalau begitukeberadaanku..Masalah buat
lo? Tentu saja tidak bagi kamu yang sepaham dengan Aku,
tetapi bagi kamu yang tidak sepaham tentu keberadaan Aku
menimbulkan masalah karena kamu tidak lagi bisa ngakal-
ngakali pelangganmu untuk kepentingan pribadi dan ruang
gerakmu semakin dan semakin sempit untuk bisa poles-memoles
data agar kinerjamu tampak cantik.
Aku masih ingatbetapa berat kamu mewujudkan Aku.
Kamu tetap tak bergeming ketika awal kemunculanku, aku selalu
Saatnya Hati Bicara
300
* Asisten Manajer Billing Terpusat, Divisi Niaga
PT PLN (Persero) Kantor Pusat
dicela, dicaci-maki dan di olok-olok dengan memanggil Aku
AP2T sebagai Aplikasi Putus Putus Terus. Berkat kesabaran,
usaha dan kerja kerasmu mewujutkan Aku, akhir tahun 2012
Aku akan berada di seluruh Indonesia sehingga kamu bisa
memberikan kemudahan, kepastian layanan secara transparan
kepada pelangganmu dari Sabang sampai Merauke tanpa adanya
diskriminasi. Dengan Aku, seluruh pelangganmu bisa memilih
apakah untuk mendapatkan layananmu mau menggunakan Call
Center 123 atau melalui Web PLN bagi mereka yang internet
mania atau menggunakan iSMS bagi mereka yang jari jemarinya
sudah terbiasa menari lincah di keyboard Hand Phone atau
menggunakan komputer bagi mereka yang senang bersosialisasi
dengan orang lain. Dengan Aku pelangganmu mendapat
kemudahan, kamupun dimudahkan.
Kamu telah berupaya sekuat tenaga mewujudkan mimpi
besarmu yaitu Aku AP2T. Jadi, Sangat wajar kankalau aku
harus bilang Wow.. gitu..???.

Saatnya Hati Bicara
301
e-book Saatnya Hati Bicara dapat dilihat di
www.plnbersih.com
setelah selesai membaca buku ini agar diteruskan
ke pegawai lain supaya semua pegawai bisa ikut
membaca dan mengambil hikmahnya
Saatnya Hati Bicara
302