Anda di halaman 1dari 2

Praktikum 3 Pencemaran Udara

Asisten : Sri Muslimah


Khariza Dwi Sepriani


KELOMPOK 1

Hari, Tanggal : Senin, 22 September 2014
Nama : Mufridatur Rohmah G24110001
Gigih Bangun W G24110002
Alvin Gustomy G24110065
Ikrom Mustofa G24110066
Nihayatuz Zulfa G24110067

ANALISIS ANGIN : WINDROSE (MANUAL)


HASIL DAN PEMBAHASAN

Praktikum melakukan analisis angin dalam bentuk windrose yang dibuat secara manual. Windrose di gambar
secara manual dengan menggunakan jangka, busur, pensil, spidol warna dan kertas milimeter blok. Data yang
digunakan berupa data kecepatan angin dan tabel Frequency Count pada WRPLOT yang sebelumnya telah di konversi
ke dalam persen. Kemudian, windrose dibuat sesuai dengan data Frequency Count (%).Sebuah windrose terdiri atas
garis yang memancar dari pusat lingkaran dan menunjukkan arah dari mana angin bertiup. Panjang setiap garis
menyatakan frekuensi angin dari arah tersebut. Karena angin merupakan besaran vektor maka angin dinyatakan dalam
distribusi frekuensi dua arah, yaitu arah dan kecepatan angin (Fadholi 2013).
Berdasarkan hasil pada gambar (Lampiran), pada bulan Januari angin dominan bertiup dari Barat Laut dengan
kecepatan dominan 0.5-2.1 m/s, meskipun ada sebagian kecil angin yang bertiup dengan kecepatan 2.1-3.6 m/s. Hal
ini terjadi karena pada bulan Januari posisi matahari berada di belahan bumi selatan (sebelah selatan ekuator) sehingga
tekanan di bagian selatan akan lebih rendah daripada bagian utara ekuator. Pada bulan Februari angin dominan bertiup
dari Barat Laut dengan kecepatan dominan 0.5-2.1 m/s dan sebagian kecil angin bertiup dengan kecepatan 2.1-3.6 m/s.
Karakteristik angin pada bulan Februari hampir sama dengan bulan Januari. Penyebabnya sama yaitu disebabkan posisi
matahari yang menyebabkan perbedaan tekanan. Selanjutnya, pada bulan Maret angin dominan bertiup dari Barat
dengan kecepatan 0.5-2.1 m/s dan sebagian bertiup dengan kecepatan 2.1-3.6 m/s. Posisi matahari pada bulan ini
berada di garis khatulistiwa, sehingga terjadi perubahan angin dari Barat Laut menuju Barat. Bulan April angin
dominan berasal dari Barat laut dengan kecepatan 0.5-2.1 m/s meskipun ada sebagian kecil angin yang bertiup dengan
kecepatan 2.1-3.6 m/s. Posisi matahari bergerak dari ekuator menuju belahan bumi utara sehingga tekanan di bagian
utara akan lebih rendah daripada di bagian selatan ekuator. Angin bergerak dari belahan bumi utara menuju ekuator
dan bersifat kering.
Angin bergerak dominan dengan kecepatan 0.5-2.1 m/s dari arah Barat Barat Laut pada bulan Mei. Namun
ada juga angin yang berasal dari arah Timur Laut dengan kecepatan 3.6-5.7 m/s sebesar 7%. Angin Barat Laut
mendominasi pergerakan angin di bulan Juni dengan kecepatan 0.5-2.1 m/s dengan persentase 40%, sedangkan angin
Selatan Tenggara hanya terjadi sekitar 3% kejadian dengan kecepatan 3.6-5.7 m/s. Kemudian, bulan Juli terjadi puncak
angin Timuran karena pada gambar terlihat pengaruh dari pergerakan angin dari arah Timur Laut yang memberikan
kontribusi sebesar 10%. Sedangkan arah dominan tetap berasal dari arah Barat Daya dengan persentase 20% dengan
kecepatan angin yang terjadi rata-rata 0.5-2.1 m/s. Namun, juga terdapat angin yang berhembus dari arah Timur dengan
kecepatan 2.1-3.6 m/s sebesar 4% dari jumlah total kejadian angin pada bulan Juli. Titik balik musim di Indonesia,
khususnya pulau Jawa terjadi pada bulan Agustus yang ditandai dengan perubahan arah angin Timuran menjadi angin
Baratan. Hasil gambar plot arah dan kecepatan angin di stasiun cuaca Citeko menunjukkan bahwa, angin Baratan masih
mendominasi sebesar 23% dengan kecepatan 0.5-2.1 m/s. Namun, angin dari Utara turut memberikan kontribusi
sebesar 13% dengan kecepatan 3.6-5.7 m/s dan 10% dengan kecepatan 2.1-3.6 m/s.
Pada bulan September angin dominan bergerak dari Barat menuju Timur dengan kecepatan 0.5-2.1 m/s
dengan sebagian kecil angin kecepatan 2.1-3.6 m/s dan 3.6-5.7 m/s. Posisi matahari berada di ekuator, sehingga terjadi
perubahan angin dari Barat Laut menuju Barat. Secara umum, bulan November memiliki karakteristik angin yang
sama dengan bulan Oktober. Bulan Oktober dan bulan November angin dominan bergerak mulai dari Barat Laut
dengan kecepatan dominan 0.5-2.1 m/s dan sebagian kecil angin bertiup dengan kecepatan 2.1-3.6 m/s. Selanjutnya,
bulan Desember angin dominan berada di belahan bumi selatan. Angin tersebut dominan bergerak dari Barat Laut
dengan kecepatan 0.5-2.1 m/s dan sebagian kecil dengan kecepatan 2.1-3.6 m/s. Hal ini menyebabkan tumbuhnya
angin yang bersifat basah dari arah selatan. Belahan bumi selatan lebih banyak berupa lautan, oleh karena itu terjadi
banyak penguapan sehingga angin yang terbentuk bersifat basah.
Berdasarkan hasil tersebut, maka diketahui bahwa daerah yang akan terkena dampak sebaran polutan adalah
daerah sekitar Cisarua, Bogor. Cisarua merupakan daerah yang berada di sebelah Timur hingga Selatan dari stasiun
Citeko (Pemkot Bogor 2014). Angin yang bergerak dari Barat-Utara akan menuju ke arah Timur-Selatan dengan
membawa massa udara yang mengandung polutan. Hal ini dapat terjadi karena adanya perbedaan tekanan dimana


udara bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekenan rendah (Tjasyono, 1999). Berdasarkan topografi,
daerah Citeko lebih rendah daripada daerah Cisarua sehingga Citeko merupakan daerah bertekanan tinggi dan Cisarua
bertekanan rendah. Hal ini menyebabkan angin bergerak dari arah Citeko menuju ke arah Cisarua, dimana apabila
terdapat polutan dari daerah Citeko maka angin akan membawa sebaran polutan ke daerah Cisarua.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisa data kecepatan angin pada windrose di daerah Citeko bulan Januari hingga
Desember 2013, menunjukkan bahwa kecepatan angin dominan berkisar 0.5-2.1 m/s yang bertiup dominan dari arah
Barat Laut ke Tenggara. Polutan yang berasal dari daerah di Barat Laut akan terbawa ke daerah di Tenggara yang akan
menyebabkan polutan pada daerah tersebut menerima dampak paling besar. Berdasarkan hasil tersebut, perencanaan
dan perancangan kota Cisarua harus memungkinkan menjadi lokasi penetralisir polutan. Karena apabila hal tersebut
tidak terlaksana, maka polutan akan terakumulasi di daerah Cisarua.

DAFTAR PUSTAKA

Fadholi, Akhmad. 2013. Analisis data arah dan kecepatan angin landas pacu (runway) menggunakan aplikasi Windrose
Plot (WRPLOT). Jurnal Ilmu Komputer. Vol (IX) 2: 84-91.
[Pemkot Bogor]. 2014. Letak Geografis. WWW Kota Bogor (terhubung berkala)
http://kotabogor.go.id/index.php/page/detail/9/letak-geografis#.VCgMemeSyuI (26 September 2014).
Tjasyono, B. 1999. Klimatologi Umum. Bandung: Institut Teknologi Bandung.