Anda di halaman 1dari 25

ASUHAN KEBIDANAN II | 1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Tingginya angka kematian ibu dan anak umumnya akibat ahli kebidanan atau bidan terlambat
mengenali, terlambat merujuk pasien ke perawatan yang lebih lengkap, terlambat sampai di
tempat rujukan, dan terlambat ditangani.
Penanganan rujukan obstetri merupakan mata rantai yang penting, menjadi faktor penentu
dari hasil akhir dari kehamilan dan persalinan. Kurang lebih 40% kasus di RS merupakan kasus
rujukan. Kematian maternal di RS pendidikan 80-90% merupakan kasus rujukan. Kematian
perinatal di RS pendidikan kurang lebih 60% berasal dari kelompok rujukan.
Oleh karena itu bidan wajib mempelajari materi ini untuk dapat mencegah dan menangani
langsung komplikasi-koplikasi yang mungkin terjadi pada persalinan kala III.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa macam macam komplikasi persalinan kala III?
2. Mengetahui pengertian, jenis, gejala, tanda tanda dan cara mencegah atonia uteri?
3. Mengetahui pengertian, jenis, gejala, tanda-tanda dan cara penanganan retensio plasenta?
4. Mengetahui pengertian, jenis, gejala, tanda-tanda, dan cara penanganan perlukaan jalan
lahir?
5. Apa saja tindakan tindakan kala III?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui macam-macam komplikasi persalinan kala III.
2. Mengetahui pengertian, jenis, gejala, tanda-tanda dan cara mencegah atonia uteri.
3. Mengetahui pengertian, jenis, gejala, tanda-tanda dan cara penanganan retensio plasenta.
4. Mengetahui pengertian, jenis, gejala, tanda-tanda, dan cara penanganan perlukaan jalan lahir.
5. mengetahui tindakan tindakan pada kala III


ASUHAN KEBIDANAN II | 2

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Mendeteksi adanya komplikasi persalinan pada kala III
2.1.1 Pendarahan pada kala III
Perdarahan pada kala III umum terjadi dikarenakan terpotongnya pembuluh-pembuluh
darah dari dinding rahim bekas implantasi plasenta. Jumlah darah yang umum keluar tidak
lebih dari 500cc atau setara dengan 2,5 gelas belimbing. Apabila setelah lahirnya bayi darah
yang keluar melebihi 500cc maka dapat dikategorikan mengalami perdarahan pascapersalin
primer. Pada pasien yang mengalami perdarahan pada kala III atau mengalami pengeluaran
darah sebanyak lebih 500cc, tanda-tanda yang dapat dijumpai secara langsung diantaranya
perubahan pada tanda-tanda vital seperti pasien mengeluh lemah, limbung, berkeringat dingin,
menggigil, hiperpnea, sistolik <90 mmHg, nadi >100 x/mnt, kadar Hb <8 g%.
Beberapa penyebab perdarahan pascapersalinan primer yang sering terjadi adalah :
A. Atonia uteri
Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan pospartum dini (50%),
dan merupakan alasan paling sering untuk melakukan histerektomi postpartum.
Kontraksi uterus merupakan mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan setelah
melahirkan. Atonia terjadi karena kegagalan mekanisme ini.
Perdarahan pospartum secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut
miometrium yang mengelilingi pembuluh darah yang memvaskularisasi daerah
implantasi plasenta. Atonia uteri terjadi apabila serabut-serabut miometrium tidak
berkontraksi dan bila ini terjadi maka darah yang keluar dari bekas tempat melekatnya
plasenta menjadi tidak terkendali.
a. Penyebab :
Atonia uteri dapat terjadi pada ibu hamil dan melahirkan dengan faktor
predisposisi (penunjang ) seperti :
1) Overdistention uterus seperti: gemeli makrosomia, polihidramnion, atau paritas
tinggi.
2) Umur yang terlalu muda atau terlalu tua.
3) Multipara dengan jarak kelahiran pendek
ASUHAN KEBIDANAN II | 3

4) Partus lama / partus terlantar
5) Malnutrisi.
6) Penanganan salah dalam usaha melahirkan plasenta, misalnya plasenta belum
terlepas dari dinding uterus.

b. Gejala Klinis:
1) Uterus tidak berkontraksi dan lunak
Gejala ini merupakan gejala terpenting atau khas atonia uteri dan yang
membedakan atonia dengan penyebab perdarahan yang lainnya.
2) Perdarahan segera setelah plasenta dan janin lahir .
Perdarahan yang terjadi pada kasus atonia uteri sangat banyak dan darah tidak
merembes. Yang sering terjadi adalah darah keluar disertai gumpalan. Hal ini
terjadi karena tromboplastin sudah tidak lagi sebagai anti pembeku darah.
3) Fundus uteri naik
Disebabkan adanya darah yang terperangkap dalam cavum uteri dan menggumpal
4) Terdapat tanda tanda syok
Tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ektremitas dingin, gelisah,
mual dan lain-lain.

c. Pencegahan atonia uteri.
Atonia uteri dapat dicegah dengan Managemen aktif kala III, yaitu pemberian
oksitosin segera setelah bayi lahir (Oksitosin injeksi 10U IM, atau 5U IM dan 5 U
Intravenous atau 10-20 U perliter Intravenous drips 100-150 cc/jam.
Pemberian oksitosin rutin pada kala III dapat mengurangi risiko perdarahan
pospartum lebih dari 40%, dan juga dapat mengurangi kebutuhan obat tersebut
sebagai terapi.
Menejemen aktif kala III dapat mengurangi jumlah perdarahan dalam
persalinan, anemia, dan kebutuhan transfusi darah.Oksitosin mempunyai onset yang
cepat, dan tidak menyebabkan kenaikan tekanan darah atau kontraksi tetani seperti
preparat ergometrin.
ASUHAN KEBIDANAN II | 4

Masa paruh oksitosin lebih cepat dari Ergometrin yaitu 5-15 menit.
Prostaglandin (Misoprostol) akhir-akhir ini digunakan sebagai pencegahan
perdarahan postpartum.

d. Manajemen atonia uteri
a. Resusitasi
Apabila terjadi pendarahan postpartum banyak, maka penanganan awal
yaitu resusitasi dengan oksigenasi dan pemberian cairan cepat, monitoring
saturasi oksigen. Pemeriksaan golongan darah dan crossmatch perlu dilakukan
untuk persiapan tranfusi darah.
b. Masase dan kompresi bimanual
Masase dan kompresi bimanual akan menstimulasi kontraksi uterus yang
akan menghentikan perdarahan. Pemijatan fundus uteri segera setelah lahirnya
placenta maksimal 15 detik. Jika uterus berkontraksi maka lakukan evaluasi. Jika
uterus berkontraksi namun perdarahan tetap berlangsung, periksa apakah
perineum, vagina dan serviks mengalami laserasi.
c. Uterotonika
Uterotonika prostaglandin merupakan sintetik analog 15 metil
prostaglandin. Dapat diberikan secara intramiometrikal, intraservikal,
transvaginal, intravenous, IM, dan rectal. Pemberian secara IM atau IMM 0,25 mg
yang dapat diulang setiap 15 menit sampai dosis maksimum 2 mg. Pemberian
secara rectal dapat dipakai untuk mengatasi perdarahan postpartum ( 5 tablet
200 g = 1 g ).
d. Operatif
Beberapa penelitian tentang ligasi arteri uterina menghasilkan angka
keberhasilan 80 - 90%. Pada teknik ini dilakukan ligasi arteri uterina yang
berjalan disamping uterus setinggi batas atas segmen bawah rahim. Jika dilakukan
SC, ligasi dilakukan 2-3 cm dibawah irisan segmen bawah rahim. Untuk
melakukan ini diperlukan jarum atraumatik yang besar dan benang absorbable
yang sesuai.
ASUHAN KEBIDANAN II | 5

Arteri dan vena uterina diligasi dengan melewatkan jarum 2-3 cm medial
vasa uterina, masuk ke miometrium keluar di bagian avaskular ligamentum latum
lateral vasa uterina. Saat melakukan ligasi hindari rusaknya vasa uterina dan ligasi
harus mengenai cabang asenden arteri miometrium, untuk itu penting untuk
menyertakan 2-3 cm miometrium. Jahitan kedua dapat dilakukan jika langkah
diatas tidak efektif dan jika terjadi perdarahan pada segmen bawah rahim. Dengan
menyisihkan vesika urinaria, ligasi kedua dilakukan bilateral pada vasa uterina
bagian bawah, 3-4 cm dibawah ligasi vasa uterina atas. Ligasi ini harus mengenai
sebagian besar cabang arteri uterina pada segmen bawah rahim dan cabang arteri
uterina yang menuju ke servik, jika perdarahan masih terus berlangsung perlu
dilakukan bilateral atau unilateral ligasi vasa ovarian.

e. Penatalaksanaan Atonia Uteri





Ya

Tidak






1. Massase fundus uteri segera setelah
lahirnya plasenta (minimal 15 menit)
Uterus
berkontraksi?
Evaluasi rutin. Jika uterus
berkontraksi tapi pendarahan
terus berlangsung,periksa
apakah perineum, vagina, dan
serviks mengalami laserasi
jahit atau segera rujuk
2. Bersihkan bekuan darah atau selaput ketuban dari vagina dan lubang serviks.
3. pastikan bahwa kandung kemih ibu kosong. Jika penuh atau dapat dipalpasi, lakukan
katerisasi kandung kemih dengan menggunakan teknik aseptic
4. Lakukan kompresi bimanual internal selama 5 menit
ASUHAN KEBIDANAN II | 6



Ya


Tidak








Ya



Tidak




Uterus
berkontraksi?
Terusan KBI selama dua menit
Keluarkan tangan perlahan-lahan
Pantau kala empat, dengan ketat
5. Anjurkan keluarga untuk membantu melakukan kompresi bimanual eksternal
6. Kelurkan tangan perlahan-lahan
7. Berikan ergomentrim 0,2 mg I.M atau misoprostol 600-1000 mcg per rectal. Ergomentrim tidak
untuk ibu hipertensi.
8. Pasang infuse menggunakan jarum ukuran 16/18 dan berikan 500 cc ringer laktat ditambah 20
unit oksitosin. Habiskan 500 cc pertama secepat mungkin
9. Ulangi KBI

Uterus
Berkontraksi?
Pantau Ibu dengan seksama
selama persalinan kala empat
10. Segera rujuk
11. Dampingi ibu ke tempat rujukan
12. Lanjutkan infuse ringer laktat ditambah 20 unit oksitosin dalam 500 cc larutan dengan laju
500 cc per jam hingga tiba di tempat rujukan atau hingga menghabiskan 1,5 liter infuse.
Kemudian, berikan 125 cc per jam. Jika tidak tersedia cairan yang cukup, berikan 500cc kedua
dengan kecepatan sedang dan berikan minuman untuk rehidrasi.
ASUHAN KEBIDANAN II | 7

B. Retensio Plasenta
Retensio plasenta adalah plasenta yang belum lahir setengah jam setelah bayi lahir
(Wiknjosastro, 1999). Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta
hingga atau melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir. (Abdul Bari S, 2001:178)
a. Penyebab Retensio Plasenta

1. Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena melekat dan tumbuh lebih
dalam.
2. Plasenta sudah terlepas dari dinding rahim namun belum keluar karena atoni
uteri atau adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim (akibat
kesalahan penanganan kala III) yang akan menghalangi plasenta keluar (plasenta
inkarserata). Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan
tetapi bila sebagian plasenta sudah lepas maka akan terjadi perdarahan. Ini
merupakan indikasi untuk segera mengeluarkannya. Plasenta mungkin pula tidak
keluar karena kandung kemih atau rektum penuh. Oleh karena itu keduanya
harus dikosongkan.

b. Tindakan penanganan retensio plasenta :

1. Memberikan informasi kepada ibu tentang tindakan yang akan dilakukan
2. Mencuci tangan secara efektif
3. Melaksanakan pemeriksaan umum
4. Mengukur vital sign,suhu,nadi,tensi,pernafasan
5. Melaksanakan pemeriksaan kebidanan
a. inspeksi,
b.palpasi,
c.periksa dalam
6. Memakai sarung tangan steril
7. Melakukan vulva hygiene
8. Mengamati adanya gejala dan tanda retensio plasenta
ASUHAN KEBIDANAN II | 8

9. Bila placenta tidak lahir dalam 30 menit sesudah lahir,atau terjadi perdarahan
sementara placenta belum lahir,maka berikan oxytocin 10 IU IM. Pastikan bahwa
kandung kencing kosong dan tunggu terjadi kontraksi,kemudian coba melahirkan
plasenta dengan menggunakan peregangan tali pusat terkendali
10.Bila dengan tindakan tersebut placenta belum lahir dan terjadi perdarahan
banyak,maka placenta harus dilahirkan secara manual
11.Berikan cairan infus NACL atau RL secara guyur untuk mengganti cairan

c. Manual plasenta :

1). Memasang infus cairan dekstrose 5%.
2). Ibu posisi litotomi dengan narkosa dengan segala sesuatunya dalam keadaan suci
hama.
3). Teknik : tangan kiri diletakkan di fundus uteri, tangan kanan dimasukkan dalam
rongga rahim dengan menyusuri tali pusat sebagai penuntun. Tepi plasenta dilepas
disisihkan dengan tepi jari-jari tangan bila sudah lepas ditarik keluar.
Lakukan eksplorasi apakah ada luka-luka atau sisa-sisa plasenta dan bersihkanlah.
Manual plasenta berbahaya karena dapat terjadi robekan jalan lahir (uterus) dan
membawa infeksi

d. Komplikasi
Perdarahan menyebabkan syok hemoragik yang berakibat pada kematian.Retensio
Plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga atau melebihi waktu 30
menit setelah bayi lahir . (Prawirohardjo,2002)

e. Jenis-jenis retensio Plasenta :

a) Plasenta adhesiva adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga
menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis.
b) Plasenta akreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki sebagian
lapisan miomentrium.
ASUHAN KEBIDANAN II | 9

c) Plasenta inkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai/memasuki
miomentrium.
d) Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan
otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.
e) Plasenta inkaserata adalah tertahannya plasenta didalam kavum uteri, disebabkan
oleh kontriksi ontium uteri.


C. Robekan / Perlukaan Jalan Lahir
a. Pengertian Robekan Jalan Lahir
Perdarahan dalam keadaan dimana plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi
rahim baik, dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan jalan lahir.
Perlukaan jalan lahin terdiri dari :
a) Robekan Perinium
Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak
jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum umumnya terjadi di
garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut
arkus pubis lebih kecil daripada biasa, kepala janin melewati pintu panggul bawah
dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkumferensia suboksipito bregmatika.
ASUHAN KEBIDANAN II | 10

Perinium merupakan kumpulan berbagai jaringan yang membentuk perinium
(Cunningham,1995). Terletak antara vulva dan anus, panjangnya kira-kira 4 cm
(Prawirohardjo, 1999). Jaringan yang terutama menopang perinium adalah
diafragma pelvis dan urogenital. Diafragma pelvis terdiri dari muskulus levator ani
dan muskulus koksigis di bagian posterior serta selubung fasia dari otot-otot ini.
Muskulus levator ani membentuk sabuk otot yang lebar bermula dari permukaan
posterior ramus phubis superior, dari permukaan dalam spina ishiaka dan dari fasia
obturatorius
Serabut otot berinsersi pada tempat-tempat berikut ini: di sekitar vagina dan
rektum, membentuk sfingter yang efisien untuk keduanya, pada persatuan garis
tengah antara vagina dan rektum, pada persatuan garis tengah di bawah rektum dan
pada tulang ekor.
Diafragma urogenitalis terletak di sebelah luar diafragma pelvis, yaitu di
daerah segitiga antara tuberositas iskial dan simpisis phubis. Diafragma urogenital
terdiri dari muskulus perinialis transversalis profunda, muskulus konstriktor uretra
dan selubung fasia interna dan eksterna (Cunningham, 1995).
Luka perinium adalah perlukaan yang terjadi akibat persalinan pada bagian
perinium dimana muka janin menghadap (Prawirohardjo S,1999).

Luka perinium, dibagi atas 4 tingkatan :

Tingkat I : Robekan hanya pada selaput lender vagina dengan atau tanpa
mengenai kulit perinium
Tingkat II : Robekan mengenai selaput lender vagina dan otot perinea
transversalis, tetapi tidak mengenai spingter ani
Tingkat III : Robekan mengenai seluruh perinium dan otot spingter ani
Tingkat IV : Robekan sampai mukosa rektum




ASUHAN KEBIDANAN II | 11

Umumnya terjadi pada persalinan karena :

1. Kepala janin terlalu cepat lahir
2. Persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya
3. Jaringan parut pada perineum
4. Distosia bahu

Tanda dan Gejala yang selalu ada :

1. Pendarahan segera
2. Darah segar yang mengalir segera setelah bayi hir
3. Uterus kontraksi baik
4. Plasenta baik

Gejala dan tanda yang kadang-kadang ada

1. Pucat
2. Lemah
3. Menggigil

b. Rupture Uteri
Ruptur uteri merupakan peristiwa yang paling gawat dalam bidang kebidanan
karena angka kematiannya yang tinggi. Janin pada ruptur uteri yang terjadi di luar
rumah sakit sudah dapat dipastikan meninggal dalam kavum abdomen.
Menurut Sarwono Prawirohardjo pengertian ruptura uteri adalah robekan atau
diskontinuitas dinding rahim akiat dilampauinya daya regang mio metrium. Penyebab
ruptura uteri adalah disproporsi janin dan panggul, partus macet atau traumatik.
Ruptura uteri termasuk salah satu diagnosis banding apabila wanita dalam
persalinan lama mengeluh nyeri hebat pada perut bawah, diikuti dengan syok dan
perdarahan pervaginam. Robekan tersebut dapat mencapai kandung kemih dan organ
vital di sekitarnya.Menurut waktu terjadinya, ruptur uteri dapat dibedakan:
ASUHAN KEBIDANAN II | 12

1. Ruptur Uteri Gravidarum adalah rupture yang terjadi waktu sedang hamil,
sering berlokasi pada korpus.
2. Ruptur Uteri Durante Partum adalah rupture yang terjadi waktu melahirkan
anak, lokasinya sering pada SBR. Jenis inilah yang terbanyak.

Ruptur uteri dapat dibagi menurut beberapa cara :
Menurut lokasinya:

1. Korpus uteri, ini biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami
operasi seperti seksio sesarea klasik ( korporal ), miemoktomi
2. Segmen bawah rahim ( SBR ), ini biasanya terjadi pada partus yang sulit dan
lama tidak maju, SBR tambah lama tambah regang dan tipis dan akhirnya
terjadilah ruptur uteri yang sebenarnya
3. Serviks uteri ini biasanya terjadi pada waktu melakukan ekstraksi forsipal
atau versi dan ekstraksi sedang pembukaan belum lengkap
4. Kolpoporeksis, robekan-robekan di antara serviks dan vagina


Menurut robeknya peritoneum

1. Rupture uteri Kompleta : robekan pada dinding uterus berikut peritoneumnya
( perimetrium ) ; dalam hal ini terjadi hubungan langsung antara rongga perut
dan rongga uterus dengan bahaya peritonitis
2. Rupture uteri Inkompleta : robekan otot rahim tanpa ikut robek
peritoneumnya. Perdarahan terjadi subperitoneal dan bisa meluas ke ligamen
latum





ASUHAN KEBIDANAN II | 13

Menurut etiologinya

Ruptur uteri spontanea menurut etiologinya dikarenakan dinding
rahim yang lemah dan cacat, bekas seksio sesarea, bekas miomectomia, bekas
perforasi waktu keratase.

Pembagian rupture uteri menurut robeknya dibagi menjadi :
1. Ruptur uteri kompleta
a. Jaringan peritoneum ikut robek
b. Janin terlempar ke ruangan abdomen
c. Terjadi perdarahan ke dalam ruangan abdomen
d. Mudah terjadi infeksi

2. Ruptura uteri inkompleta
a. Jaringan peritoneum tidak ikut robek
b. Janin tidak terlempar ke dalam ruangan abdomen
c. Perdarahan ke dalam ruangan abdomen tidak terjadi
d. Perdarahan dapat dalam bentuk hematoma

2.2.2 Tindakan-tindakan Kala III
A. Kompresi Bimanual
Kompresi uterus secara bimanual merupakan usaha untuk menyehatkan perdarahan
sementara, dengan jalan melipat uterus yang lembek antara dua tangan ( di dalam) dan tangan
luar yang melipat uterus dari luar pada fundus uteri. Sementara itu pemasangan infus dan upaya
tranfusi tetap di laksanakan.

1. Kompresi Bimanual Aorta Abdominalis

Peralatan yang di perlukan untuk dapat melakukan kompresi aorta abdominalis tidak
ada, kecuali sedapat mungkin teknik yang benar, sehingga aorta benar-benar tertutup untuk
sementara waktu sehingga perdarahan karena otonia uteri dapat di kurangi.
ASUHAN KEBIDANAN II | 14





Tata cara komperesi aorta abdominalis:
1. Tekanlah aorta abdominalis diatas uterus dengan kuat dan dapat dibantu dengan
tangan kiri selama 5 s/d 7 menit.
2. Lepaskan tekanan sekitar 30 sampai 60 detik sehingga bagian lainnya tidak terlalu
banyak kekurangan darah.
3. Tekanan aorta abdominalis untuk mengurangi perdarahan bersifat sementara
sehingga tersedia waktu untuk memasang infus dan memberikan uterotonika secara
intravena.

Teknik Penekanan Aorta

Berikan tekanan kebawah dengan tekanan tangan diletakan diatas pers abdominalis
aorta melalui dinding abdomen
Titik kompresi tepat diatas umbilikus dan agak kekiri
Denyut aorta dapat diraba dengan mudah melalui dinding abdomen anterior segera
pada periode pascapartum
ASUHAN KEBIDANAN II | 15

Dengan tangan yang lain palpasi denyut nadi femoral untuk memeriksa keadekuatan
kompresi
Jika denyut nadi teraba selama kompresi tekanan yang dikeluarkan kepalan tangan
tidak adekuat
Jika denyut nadi femoral tidak teraba tekanan yang dikeluarakan kepalan tangan
adekuat
Pertahanan kompresi sampai darah terkontrol
Jika pendarahan berlanjut walaupun kompresi telah dilakukan
Lakukan ligasi uteria dan ligasi ateri uteri
Bila tidak berhasil, histerektomi adalah langkah terakhir



2. Kompresi Bimmanual Internal
Kompresi bimanual interna adalah tangan kiri penolong dimasukan ke dalam
vagina dan sambil membuat kepalan di letakan forniks anterior vagina. Tangan kanan
diletakn pada perut penderita dengan memegang fundus uteri dengan telapak tangan dan
dengan ibu jari jari lain dibelakang uterus. Sekarang korpus uteri terpegang antara 2
tangan antara lain, yaitu tangan kanan melaksanakan massase pada uterus dan sekalian
menekannya terhadap tangan kiri.


ASUHAN KEBIDANAN II | 16

Tahap tahapannya :
a. Pakai sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi atau steril, dengan lembut masukkan
secara obstetric (menyatukan kelima ujung jari) melalui intoitus dan ke dalam vagina
ibu
b. Periksa vagina dan serviks. Jika ada selaput ketuban atau bekuan darah pada kavum
uteri mungkin hal ini menyebabkan uterus tidak dapat berkontraksi secara penuh.
c. Kepalkan tangan dalam, dan tempatkan pada vorniks anterior, tekan dinding anterior
uterus, ke arah tangan luar yang menahan dan mendorong dinding posterior ke arah
depan sehingga uterus ditekan dari arah depan dan belakang.
d. Tekang kuat uterus diantara kedua tangan. Kompresi uterus ini memberikan tekanan
langsung pada pembuluh darah yang terbuka (bekas implantasi plasenta) di dinding
uterus dan juga merangsang miometrium untuk berkontraksi.
e. Evaluasi keberhasilan:
i. Jika uterus berkontraksi dan perdarahan berkurang, teruskan lakukan KBI
selama 2 menit, kemudian perlahan-lahan keluarkan tangan dan pantau ibu
secara melekat selama kala IV.
ii. Jika uterus berkontraksi tapi pendarahan masih berlangsung, periksa ulang
perineum, vagina, dan serviks. Apakah terjadi laserasi?. Jika demikian, segera
lakukan penjahitan untuk menghentikan pendarahan
iii. Jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu 5 menit, ajarkan keluarga untuk
melakukan kompresi bimanual eksterna kemudian lakukan langkah-langkah
pelaksanaan atonia uteri selanjutnya. Minta keluarga untuk mulai menyiapkan
rujukan








ASUHAN KEBIDANAN II | 17




3. Kompresi Bimmanual Eksterna
Kompresi bimanual eksterna merupakan tindakan yang efektif untuk
mengendalikan pendarahan misalnya akibat atonia uteri. Kompresi bimanual ini di
teruskan sampai uterus dipastikan berkontraksi dan pendarahan dapat dihentikan.
a. Letakkan satu tangan pada dinding abdomen dan dinding depan korpus uteri dan
diatas simpisis pubis
b. Letakkan tangan lain pada dinding abdomen dan dinding belakang korpus uteri,
sejajar dengan dinding depan korpus uteri. Usahakan untuk mencakup atau
memegang bagian belakang uterus seluas mungkin.
c. Lakukan kompresi uterus dngan cara saling mendekatkan tangan deoan dan
belakang agar pembuluh darah di dalam anyaman miometrium dapat di jepit
secara manual. Cara ini dapat menjepit pembuluh darah uterus dan membantu
uterus untuk kontraksi.


ASUHAN KEBIDANAN II | 18



4. Plasenta Manual
Plasenta manual adalah tindakan untuk melepas plasenta secara manual
menggunakan tangan dari tempat implantasinya dan kemudian melahirkannya keluar dari
kavum uteri, yaitu dengan tindakan invasi dan manipulasi tangan penolong yang masuk
kedalam kavum uteri. Pada umumnya di tunggu sampai 30 menit dalam lahirnya plasenta
secara spontan dan dengan tekanan ringan pada fundus uteri yang berkontraksi. Bilsa
selama 30 menit plasenta belum dapat dilahirkan atau jika dalam waktu menunggu terjadi
pendarahan yang banyak plassenta sebaiknya di keluarkan dengan segera.
Manual plasenta merupakan tindakan operasi kebidanan untuk melahirkan retensio
plasenta. Teknik operasi plasenta tidaklah sukar, tetapi harus diperkirakan bagaimana
persiapan agar tindakan tersebut dapat menyelamatkan pasien

Prosedur plasenta manual
Persiapan :
pasang set dan cairan infuse
Jelaskan pada ibu prosedur dan tujuan tindakan
Lakukan anastesi verbal atau anastesi local
Siapkan dan jalankan prosedur pencegahan infeksi

ASUHAN KEBIDANAN II | 19

Tindakan penetrasi ke dalam kavum uteri
1. Pastikan kandung kemih dalam keadaan kosong
2. Jepit tali pusat dengan klem pada jarak 5-10 cm dari vulva, tegangkan dengan
satu tangan sejajar lantai
3. Secara obstetric, masukkan tangan lainnya (punggu tangan menghadap ke
bawah) ke dalam vagina dengan menelusuri sisi bawah tali pusat

4. Setelah mencapi bukaan serviks, minta seorang asisten atau penolong lain untuk
memegangkan klem tali pusat kemudian pindahkan tangan luar untuk menahan
fundus uteri
5. Sambil menahan fundus uteri, masukkan tangan dalam hingga ke kavum uteri
sehingga mencapai tempat implantasi plasenta
6. Bentangkan tangan obstetric menjadi datar seperti pemberi salam (ibu jari
merapat ke jari telunjuk dan jari-jari lain saling merapat)

ASUHAN KEBIDANAN II | 20




Mengeluarkan plasenta dari dinding uterus
7. Tentukan implantasi plasenta, temukan tepi plasenta paling bawah
Bila plasenta berimplantasi di korpus belakang, tali pusat tetap disebelah atas dan
sisipkan ujung jari-jari tangan diantara plasenta dan dinding-dinding uterus
dimana punggung tangan menghadap ke bawah posterior ibu.
Bila di korpus depan maka pindahkan tanagn kesebelah atas tali pusat dan
sisipkan ujung jari-jari tangan diantara plasenta dan dinding uterus dimana
punggung tangan menghdap ke atas anterior ibu
8. Setelah ujung ujung jari masuk diantara plasenta dan dinding uterus maka
perluas pelepasan plasenta dengan jalan menggeser tangan ke kanan dan ke kiri
sambil digeserkan ke atas (cranial ibu) hingga semua perlengkatan plasenta
terlepas dari dinding uterus

ASUHAN KEBIDANAN II | 21


Catatan :
Bila tepi plasenta tidak atau plasenta berada pada dataran yang sama tinggi
dengan dinding uterus maka hentikan upaya plasenta manual karena hal itu
menunjukkan plasenta inkreta (tertanam dalam miometrium)
Bila hanya sebagian dari implantasi plasenta dapat dilepaskan dan bagian
lainnya merekat erat maka hentikan pula plasenta manual karena hal tersebut
adalah plasenta akreta. Untuk keadaan ini sebaiknya ibu diberi uterotonika
tambahan (misoprostol 600 mcg per rectal) sebelum dirujuk ke fasilitas
kesehatan rujukan


Mengeluarkan plasenta
9. Sementara satu tangan masih didalam kavum uteri, lakukan eksporasi untuk
menilai tidak ada plsenta yang tertinggal
10. Pindahkan tangan luar dari fundus ke supra simfisis (tahan segmen bawah uterus)
kemudian instruksikan asisten untuk menarik tali pusat sambil tangan dalam
membawa plasenta keluar
11. Lakukan penekanan (dengan tangan yang menahan supra simfisis) uterus ke arah
dorsal cranial setelah plasenta dilahirkan dan tempatkan plasenta di dalam wadah
yang telah disediakan
ASUHAN KEBIDANAN II | 22


















ASUHAN KEBIDANAN II | 23

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perdarahan pada kala III umum terjadi dikarenakan terpotongnya pembuluh-pembuluh
darah dari dinding rahim bekas implantasi plasenta. Jumlah darah yang umum keluar tidak
lebih dari 500cc atau setara dengan 2,5 gelas belimbing. Apabila setelah lahirnya bayi
darah yang keluar melebihi 500cc maka dapat dikategorikan mengalami perdarahan
pascapersalin primer.
Beberapa penyebab perdarahan pascapersalinan primer yang sering terjadi adalah :
A. Atonia uteri
Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan pospartum dini (50%), dan
merupakan alasan paling sering untuk melakukan histerektomi postpartum. Kontraksi
uterus merupakan mekanisme utama untuk mengontrol perdarahan setelah melahirkan.
B. Retensio plasenta
Retensio plasenta adalah plasenta yang belum lahir setengah jam setelah bayi
lahir (Wiknjosastro, 1999). Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya
plasenta hingga atau melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir. (Abdul Bari S,
2001:178)
C. Perlukaan jalan lahir
Perdarahan dalam keadaan dimana plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi
rahim baik, dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan jalan lahir.
Perlukaan jalan lahin terdiri dari :
a) Robekan Perinium
Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak
jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum umumnya terjadi di
garis tengan dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut
arkus pubis lebih kecil daripada biasa, kepala janin melewati pintu panggul bawah
dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkumferensia suboksipito bregmatika

ASUHAN KEBIDANAN II | 24

b) Rupture Uteri
Ruptur uteri merupakan peristiwa yang paling gawat dalam bidang kebidanan
karena angka kematiannya yang tinggi. Janin pada ruptur uteri yang terjadi di luar
rumah sakit sudah dapat dipastikan meninggal dalam kavum abdomen.
Tindakan-tindakan Kala III
Kompresi Bimanual
Kompresi uterus secara bimanual merupakan usaha untuk menyehatkan
perdarahan sementara, dengan jalan melipat uterus yang lembek antara dua tangan ( di
dalam) dan tangan luar yang melipat uterus dari luar pada fundus uteri. Sementara itu
pemasangan infus dan upaya tranfusi tetap di laksanakan.

1. Kompresi Bimanual Aorta Abdominalis

Peralatan yang di perlukan untuk dapat melakukan kompresi aorta abdominalis
tidak ada, kecuali sedapat mungkin teknik yang benar, sehingga aorta benar-benar
tertutup untuk sementara waktu sehingga perdarahan karena otonia uteri dapat di kurangi.
2. Kompresi bimanual interna
Kompresi bimanual interna adlah tangan kiri penolong dimasukan ke dalam
vagina dan sambil membuat kepalan di letakan forniks anterior vagina. Tangan kanan
diletakn pada perut penderita dengan memegang fundus uteri dengan telapak tangan dan
dengan ibu jari jari lain dibelakang uterus. Sekarang korpus uteri terpegang antara 2
tangan antara lain, yaitu tangan kanan melaksanakan massase pada uterus dan sekalian
menekannya terhadap tangan kiri.
3. Kompresi bimanual eksterna
Kompresi bimanual eksternal merupakan tindakan yang efektif untuk
mengendalikan pendarahan misalnya akibat atonia uteri. Kompresi bimanual ini di
teruskan sampai uterus dipastikan berkontraksi dan pendarahan dapat dihentikan.
4. Plasenta manual
Plasenta manual adalah tindakan untuk melepas plasenta secara manual
menggunakan tangan dari tempat implantasinya dan kemudian melahirkannya keluar dari
kavum uteri, yaitu dengan tindakan invasi dan manipulasi tangan penolong yang masuk
ASUHAN KEBIDANAN II | 25

kedalam kavum uteri. Pada umumnya di tunggu sampai 30 menit dalam lahirnya plasenta
secara spontan dan dengan tekanan ringan pada fundus uteri yang berkontraksi. Bilsa
selama 30 menit plasenta belum dapat dilahirkan atau jika dalam waktu menunggu terjadi
pendarahan yang banyak plassenta sebaiknya di keluarkan dengan segera.

3.2 Saran

Kepada klien agar lebih mengetahui macam-macam komplikasi persalinan kala III baik
pengertian, gejala, tanda-tanda,serta penanganan macam-macam komplikasi persalinan
kala III meliputi atonia uteri, retensio plasenta dan perlukaan jalan lahir sehingga apabila
dijumpai tanda dan gejala dari atonia uteri, retensio plasenta dan perlukaan jalan lahir
maka klien harus segera ke tempat pelayanan kesehatan.

Kepada tenaga kesehatan terutama bidan agar dapat memberi penanganan segara bila
menemui kasus macam-macam komplikasi yang berlanjut.

Kepada pembaca agar memahami tindakan-tindakan apa saja yang terjadi dalam
komplikasi persalinan kala III.