Anda di halaman 1dari 12

ETNOGRAFI SUKU MADURA

MADURA adalah suatu kelompok etnik penduduk asal Pulau Madura, yang sebagian
menetap juga di daerah pantai utara Jawa Timur, dan sementara yang lain tersebar di Kalimantan
Barat, Kalimantan Selatan, dan lain-lain. Pulau Madura sebagai wilayah asal orang Madura
terletak antara paralel 6 45' LS - 7 15 LS dan pada meredian 112 15' BT - 114 '05 BT. Luas puiau
Madura adalah 547.514 ha atau 5475, 14 km2. Luas ini terbagi atas wilayah Kabupaten Sumenep
seluas 18.448 ha, Kabupaten Pamekasan seluas 79.155 ha, Kabupaten Sampang 137.516 ha, dan
Kabupaten Bangkalan seluas 142,435 ha.
Pulau ini berada pada ketinggian antara 2 - 471 meter di atas permukaan laut. Temperatur
rata-rata adalah 26,61 derajat Celcius; hujan tidak merata sepanjang tahun, dan musim kering
kadang-kadang sangat lama di bagian timur. Sekitar 55 % dari luas pulau ini merupakan tanah
kering, dan sekitar 10 % merupakan tanah kritis, padang alang-alang, dan tanah pasir. Selebihnya
adalah sawah (11 %), tegalan, hutan, kampung, kota, dan lain-lain, yang secara keseiuruhan
pulau ini kurang air tanah dan terbilang kurang subur. Masyarakatnya sebagian besar adalah
petani yang tergantung pada hujan.



Demografi
Jumlah orang Madura menurut sensus penduduk tahun 1930 adalah 4,5 juta jiwa. Ini
berarti suku-bangsa Madura menempati jumlah ketiga terbesar jumlah anggotanya, sesudah
suku-bangsa Jawa dan Sunda. Pada masa terakhir tidak dapat diketahui lagi jumlah mereka,
apalagi mereka sudah tersebar ke berbagai daerah di Indonesia, terutama di Jawa Timur di luar
pulau Madura. Namun dalam sunber tertentu, ada perkiraan jumlah orang Madura sekitar 7,5 juta
jiwa. Di Pulau Madura saja pada tahun 1974 penduduknya berjumlah 2.463.835 jiwa dengan
kepadatan 450 jiwa per km2. Pada tahun 1986 jumlah penduduk Kabupaten Bangkalan : 708.784
jiwa, Kabupaten Sampang : 613.921 jiwa; Kabupaten Pemekasan : 584.243 jiwa, dan Kabupaten
Sumenep : 897.680 jiwa, sehingga seluruhnya berjumlah 2.804.628 jiwa. Berdasarkan data di
atas dapatlah dinyatakan, bahwa sebagian besar orang Madura berada di luar pulau Madura.
Menurut catatan tahun 1974 jumlah penduduk pulau ini yang bukan orang asal Madura tidak
banyak jumlahnya, tanpa bisa menyebutkan jumlah pasti dalam angka. Keturunan campuran
Jawa-Madura terdapat di kabupaten Bangkalan. Sedikit turunan campuran Bali-Madura
mendiami daerah Penggirpanas, Sumenep. Selain dari pada itu orang Bugis dan campuran Bugis-
Madura berdiam di pulau Kangean. Campuran Banjar-Madura berdiam di pulau Karamian dan
Masalembu. Keturunan Cina dan Arab tersebar di pantai utara dan timur pulau ini (Lihat Proyck
Penelitian dan Pencatatan Kebudayuan Daerah, Adat Istiadat Daerah Jawa Timur, Jakarta,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978 ).

Bahasa
Mereka memiliki bahasa sendiri yaitu bahasa Madura. Bahasa ini terkait erat dengan
bahasa Jawa, yang termasuk keluarga bahasa Hesperonesian. Bahasa ini memiliki tingkat-tingkat
bahasa (social levels of speech), sesuai dengan perbedaan status hubungan dari pemakainya.
Tingkatan bahasa itu adalah gaya bahasa ngoko, yang biasa dipakai antara sesama kawan akrab,
gaya bahasa madia yang dipakai dalam suasana resmi, dan gaya bahasa kromo yang dipakai
dalam situasi saling menghormati.
Bahasa Madura mewujudkan beberapa dialek, misalnya dialek Bangkalan, yang dipakai
di kabupaten Bangkalan dan Sampang. Dialek Pamekasan dipakai oleh orang-orang di selatan
Kabupaten Pamekasan dan Madura bagian tengah. Dialek Sumenep dipakai oleh orang-orang di
Kabupaten Sumenep. Selain itu ada dialek Girpapas dan dialek Kangean yang jumlah penuturnya
tidak begitu banyak. Bahasa ini dipakai oleh orang Madura di pulau Madura, penduduk pulau
Sapudi, penduduk kepulauan Kangean, orang-orang Madura di Surabaya, Bondowoso,
Bajuwangi, Lumajang, Jember, Probolinggo, dan lain-lain. Pada masa yang lebih akhir telah
terbit sebuah kamus bahasa Madura yang disusun oleh Asis Safioedin, Kamus Bahasa Madura-
Indonesia (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1977).

Mata Pencaharian
Sebagian besar penduduk hidup dari petani tegalan dengan tanaman utama adalah jagung,
dan sebagian lainnya bersawah. Jagung merupakan makanan pokok mereka. Tanaman penting
lain ialah tembakau. Di tanah pekarangan, mereka bertanam pepaya, pisang, cabai. Daerah ini
juga menghasilkan buah-buahan seperti jambu air, jeruk, salak, nangka. Mereka pun memelihara
sapi, kambing, kuda, kerbau. Dari laut mereka menghasilkan ikan kakap, ekor kuning, tongkol,
tenggiri, cumi-cumi, dan lain-lain. Penghasilan dari garam kini tidak begitu menonjol lagi.
Sebagian orang Madura hidup dari laut dan telah mengembangkan teknologi mata pencaharian
kenelayanan itu. Mereka juga adalah orang-orang yang berani bergulat dengan.laut.
Ketangguhannya di laut mereka buktikan dengan jelajahannya ke pantai-pantai di Nusantara ini,
sampai ke Malaysia, Filipina, Madagaskar, Australia, Cina. Mereka menangkap ikan selama
berhari-hari di laut bebas, dengan menggunakan perahu gole'an yang berawak lebih dari lima
orang. Mereka menggunakan jaring (pajang) yang panjang dan lebar. Cara menangkap ikan yang
lain dengan bagan, bangunan bambu di tengah laut, menjaring kepiting (ajaring), menangkap
ikan kecil-kecil di daerah pantai (ngreket), mencari kerang di dasar laut (ngaled), memancing
(manceng), dan lain-lain.

Teknologi
Teknologi yang dilukiskan di sini terbatas pada rumah, makanan, dan pakaian. Orang
Madura di desa-desa mengenal beberapa macam bentuk rumah, yakni yang disebut model
slodoran, model sedana, dan model sedanan. Model pertama (slodoran atau malang are) adalah
rumah tanpa kamar; yang keseluruhan rumah itu terdiri dari ruang dalam rumah tanpa kamar,
serambi depan, dapur, kandang sapi, dan langgar. Model kedua (sedana) rumah yang mempunyai
ruang-ruang untuk kamar tidur, ada dapur, kandang sapi, dan langgar. Model ke tiga (sedanan)
ada ruangan untuk kamar, ruang dalam serambi belakang merupakan ruang tamu untuk wanita,
ruang dalam serambi depan, serambi depan terbuka, yang khusus untuk ruang tamu pria, serambi
belakang terbuka atau tertutup, pendopo (mandapa), dan langgar. (lihat : denah .....)
Bentuk atap rumah ada yang disebut bentuk gandrih, dengan dua buah bubungan berendeng,
yang menyerupai kepala sapi dengan tanduknya. Bentuk atap yang lain adalah sekodan, dengan
empat tiang pokok. Bentuk atap pacenanan yang pada ujung atapnya diberi hiasan seperti seekor
ular.


Dalam hal makanan mereka mengenal nasi jagung (nase' jagung), ketela pohon yang
dibuat makanan (nase' tenggang), yang keduanya dulu merupakan makanan utama. Makanan
selingan adalah ketela (nase' tela), ubi-ubian, kacang-kacangan. Makanan dan minuman khusus
adalah kerupuk besar dari tepung kanji (tangguk), kerupuk yang terbuat dari ketela pohon (krupu'
tette), dodol ketan (jubada), ketan yang dibakar dalam bambu (lemmeng), tepung beras dengan
gula merah (kocor), soto Madura, sate Madura, makanan dari kerang kecil (lorju'), dan lain-lain.
Minuman yang agak khusus adalah minuman yang dibuat dari tepung beras dicampur rempah
yang disebut gendir, minuman semacam serbat yang dinamakan poka', dan minuman yang
bernama laang.
Orang Madura memiliki busana yang menampilkan ciri sendiri. Pada masa lalu, busana
berbeda antara satu golongan dengan golongan lain dalam masyarakatnya, misalnya orang
kebanyakan, priyai, bangsawan. Busana wanita orang kebanyakan dikenal dengan baju sono atau
baju kurung berwarna hitam; sarung poleng dengan warna hitam atau merah berbelang dengan
warna menyolok. Busana kaum pria berupa baju pesa berwarna hitam, celana gomboran yang
lebar berwarna hitam, ikat kepala (odeng), dan lain-lainnya. Wanita golongan bangsawan
memakai baju sono berenda, berwarna hitam yang umumnya dari bahan beledru. Kaum prianya
memakai baju taqwo dengan warna putih berkancing emas, mengenakan sarung plekat. Masih
ada lagi variasi unsur-unsur pakaian yang menjadi simbol status golongan-golongan tadi di masa
lalu.


Organisasi Sosial
Prinsip keturunan orang Madura bersifat bilateral. Garis keturunan ditarik melalui pihak
laki-laki maupun perempuan. Tetapi sistem pewarisan gelar, yang masih terdapat pada golongan
bangsawan, berlaku secara patrilineal dan diwariskan hanya kepada anak laki-laki. Di Madura
terdapat satuan kekerabatan yang disebut koren, yaitu beherapa keluarga yang menempati suatu
pekarangan tertentu, terpisah dari koren yang lain. Suatu koren biasanya didiami oleh suatu
keluarga sampai empat generasi, dengan rumah yang berjumlah tidak lebih dari 10 buah.
Kesatuan yang lebih besar daripada koren adalah kampung, yang namanya berbeda-beda
antara satu daerah dengan di daerah lain. Di daerah pegunungan, kampung yang disebut
kampong meji terdiri atas 20 rumah, yang didiami oleh lima generasi keturunan. Di daerah
Sumenep, kampung yang disebut tanean lanjeng didiami oleh suatu keluarga besar, dengan
rumah-rumah yang dibangun saling berhadapan. Selain itu, ada juga pamengkang, yaitu
kampung yang terdiri atas paling banyak lima rumah yang didiami oleh tiga generasi keturunan.
Suatu desa di Madura dipimpin oleh seorang kepala desa (kelebun). Dalam menjalankan
tugasnya, kelebun dibantu oleh tiga orang pembantunya, yaitu carek (juru tulis) yang membantu
di bidang administrasi desa; modin yang membantu kepala desa dalam masalah keagamaan,
misalnya perkawinan, perceraian, rujuk; dan apel yang mengepalai sebuah kampung. Selain
tokoh-tokoh formal desa ini, tokoh agama Islam, kiyai dan santri, di Madura mempunyai peranan
sangat besar. Mereka merupakan lapisan sosial tersendiri, yang kedudukannya sangat dihormati
dalam masyarakat.

Daur Hidup
Orang Madura pun mengembang-kan pengetahuan dan kepercayaan-kepercayaan tertentu
dengan berbagai upacara dalam lingkaran hidup individu (daur hidup), mulai dari bayi masih
dalam kandungan dan setelah kematian seseorang. Wanita yang sedang metagandung
dipantangkan dalam hal makanan, tindakan, ucapan tertentu. Wanita hamil tidak boleh makan
jenis ikan yang bersengat seperti kepiting, lele, karena dianggap mengandung racun. Cumi-cumi
juga dipantangkan, karena dianggap akan mendapatkan kesulitan waktu melahirkan. Dilarang
makan nenas dan durian yang bisa menyebahkan keguguran. Makan tebu akan menyebabkan
pendarahan waktu bersalin. Demikian masih ada pantangan lain dalam hal makanan, yang
masing-masing punya latar belakang pengetahuan yang mnngkin diperoleh dari pengalaman.
Pantangan lain berupa tindakan adalah larangan membunuh binatang, tidur melingkar, duduk
diambang pintu, makan sambil menyangga piring, dilarang bersanggama pada malam Selasa,
Rabu, Sabtu, dan Minggu, pada malam hari raya Idul Fitri, malam hari raya Idul Adha. Bagi
suami dilarang mencari makanan hewan (aramba) bila isterinya hamil. Pantangan ini
sesungguhnya hanya merupakan suatu kias agar suami jangan mencari wanita yang lain yang
lebih muda ('daun muda'). Wanita hamil tidak boleh mengolok-olok orang cacat, tidak boehh
bergunjing (san rasanan), dan lain-lain.
Sebaliknya ada hanyak anjuran bagi wanita hamil. Dalam hal makanan dianjurkan makan
kelapa yang dimakan bulan, agar anaknya cantik seperti bulan. Wanita hamil dianjurkan minum
jamu secara teratur pada malam Senin dan Kamis. Pada waktu minum jamu gigi tidak boleh
kelihatan dan tangan kiri melintang di atas buah dada sambil menghadap kiblat. Wanita hamil
yang kebetulan melihat sesuatu yang tidak boleh dilihatnya harus nyebbut, mohon kepada Tuhan
agar dijauhkan dari hal itu, sambil mengelus perut dengan tangan kanan. Suami pun harus
berlaku sopan dan ramah, dan lain-lain anjuran. Semasa mengandung ini ada satu upacara besar,
yang disebut pelct kandung, yaitu pada waktu itu hamil tujuh bulan, di samping ada upacara
kecil pada bulan-bulan sebelumnya (lihat Ny. Adyaryani, Mengenai Adat dan Upacara
Kelahiran di Madura, Surabaya, 1981).
Menghadapi suatu kelahiran dan sesudah kelahiran banyak pengetahuan dan keyakinan
yang mereka terapkan agar sang bayi dan ibunya selamat, yang juga dilukiskan oleh Ny.
Adyaryani (1981) tersebut di atas. Upacara daur hidup lainnya adalah khitanan, khatam Al
Qur'an, papar gigi, haid pertama, perkawinan, dan kematian. Khitanan ada yang mengikuti tata
cara menurut adat, misalnya dengan menanggap wayang, si anak yang akan disunat diarak
seperti penganten (mantan taddhuk). Kebanyakan orang, terutama di desa, menyelenggarakan
sunatan itu dengan sederhana saja. Kalau ada anak yang khatam Qur'an, maka para tetangga dan
kiyayi yang mengajarnya diundang untuk menghadiri selamatan. Anak itu disuruh mengaji dan
para undangan mendengarkan, dan kemudian dibacakan doa. Kepada kiyayi tadi diberi hadiah
(tor-ator), biasanya berupa bahan pakaian, sarong dan kopiah. Pada masa lalu, anak wanita yang
mendapat haid pertama diadakan upacara. Selama tujuh hari tidak boleh menginjak tanah. Ia
dimandikan dengan air wewangian, diminumkan bermacam jenis jamu, diberi pengetahuan
tentang seks. Anak itu diberi tahu bahwa antara pria dan wanita yang tidak muhrim dilarang
hersentuhan. Kehormatan wanita harus dipertahan-kan, dan lain-lain ajaran. Pada hari ke tujuh
ketika haid itu sudah selesai, ada selamatan nasi ketan kuning dengan telor dan sambel yang
disebut nase' ponar. Para gadis yang akan kawin giginya dipapar tanpa ada upacara.

Adat Perkawinan
Perkawinan merupakan salah satu unsur daur hidup yang penting pada hampir semua
masyarakat, termasuk pada masyarakat Madura ini. Banyak aturan adat berdasarkan sistem
pengetahuan dan kepercayaan yang harus dilaksanakan dalam rangka suatu perkawinan. Menurut
adat, tahap-tahap dalam proses perkawinan di Madura dimulai dengan mencari gadis bagi jodoh
anak laki yang disebut nyalabar. Tahap ini dilanjutkan dengan menghubungi pihak wanita
(narabas pagar), dan kalau dapat diterima dilanjutkan dengan pertunangan yang diikat dengan
penyengset. Gadis yang akan memasuki jenjang perkawinannya harus menjalani pingitan selama
40 hari. Selama itu ia harus berada di dalam kamar, segala kebutuhannya diantar, dan wajib
minum jamu dengan maksud agar kehadirannya di pelaminan akan bersinar. Akhirnya
dilangsungkan ijab kabul yang sebelum dan sesudahnya diwarnai dengan tata cara adat, yang
pada masa lalu penuh dengan hal-hal yang bersifat simbolis.
Iring-iringan pengantin pria yang datang ke rumah penganten wanita disebut panganten ngekak
sangger. Rombongan ini biasanya diiringi dengan suara musik hadrah. Mereka membawa
barang-barang bawaan dari pihak pria yang disebut bangiban. Barang itu antara lain sepasang
ayam dari kayu yang melambangkan tekad penganten pria dalam menempuh hidup haru.
Kembang sekar mayang yang menggambarkan harapan terhadap kelimpahan rezeki, dan bawaan
lain yang bersifat simbolis yang mengandung harapan dan makna tertentu. Seusai ijab kabul,
kedua penganten diwajibkan menganyam bambu (ngekak sangger), yang merupakan suatu
perlambang saja. Kedua penganten akan menjadi anggota dan menyatu dalam dua keluarga besar
dan mereka harus menjalin hubungan demi kelestarian rumah tangganya. Sekarang sudah tidak
lagi secara langsung menganyam bambu itu, tapi hanya sekedar meraba-raba anyaman hambu
yang sudah tersedia (Kompas, 16-2-1992).
Adat menetap nikah dalam masyarakat ini cunderung memilih adat matrilokal. Hal ini berkaitan
dengan adat yang mengharuskan orang tua membuat rumah bagi anak-anak perempuan-nya.
Oleh sebab itu sesudah kawin, seorang isteri jarang yang ikut ke lingkungan suaminya. Rumah-
rumah itu dibuat berjajar sesuai dengan jumlah anaknya di sebuah "halaman panjang" (tanian
lanjang). Kelompok kerabat ini merupakan sebuah compound, kelompok keluarga yang berdiam
dalam satu pekarangan.
Seperti yang tampak di desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng. Sumenep, di tanian lanjang ini
semua rumah-rumah menghadap ke selatan yang berjajar dari barat ke timur. Di ujung barat
biasanya berdiri sebuah langgar untuk tempat pertemuan keluarga atau tempat menjamu dan
menginap tamu-tamu yang datang dari jauh. Bersama orang tuanya dan anak yang lebih muda
terus tinggal berurutan arah ke timur. Anak perempuan tertua, bagi masyarakat Madura,
dipandang sebagai mewakili atau gantinya ibu tempat pulang atau berkumpulnya anak-unaknya,
justru orang tua pun memang tinggal di sana. Sekarang pola letak rumah di tanian lanjang mulai
berubah, antara lain karena terbatasnya tapak rumah itu (Kompas, 24-1-1992).

Religi
Sebagian terbesar orang Madura adalah pemeluk agama Islam. Islam yang masuk ke
Madura sekitarnya pertengahan abad ke-15, pengaruhnya amat kuat, baik dari perilaku
masyarakatnya dan terlihat pula dari banyaknya pesantren atau lembaga pendidikan Islam. Bukti
sejarah lain sebagai contoh saja adalah, sebuah mesjid Jami' dengan arsitektur yang indah
didirikan tahun 1763 di Sumenep masih berdiri anggun sampai sekarang. Walaupun demikian,
kepercayaan asli, yaitu kepercayaan terhadap kesaktian roh leluhur, makhluk halus, dan
sebagainya. masih tersisa pada sebagian anggota masyarakatnya.

Karapan Sapi.

Karapan sapi adalah salah satu perminan rakyat Madura. Orang Madura menyebut
permainan itu keraben sapeh. Permainan ini melombakan pasangan-pasangan sapi yang
dikendalikan oleh seorang 'joki' yang disebut penompak. Pasangan sapi itu dilihat dan diukur
kecepatan larinya dalam menempuh jarak sekitar 100-150 meter. Menurut Aries Sudiono (Sinar
Harapan, 5-9-1982) permainan ini konon telah ada pada masa raja Arjawiraja memerintah
kerajaan Madura sekitar abad 12-13 M. yang dilakukan oleh sekelompok petani setelah usai
masa panen, dengan melombakan pasangan sapi itu dari satu pematang ke pematang sawah.
Sekarang karapan sapi itu diselenggarakan di tempat yang telah disediakan lebih khusus.
Permainan ini ada yang dilombakan antar desa untuk tingkat kecamatan, tingkat kabupaten, atau
antar kabupaten yang ada di pulau Madura, yaitu Kabupaten Bangkalan, Sumenep, Sampang,
dan Pamekasan. Sistem pertandingan sudah diatur adanya babak penyisihan dan sampai babak
final yang disebut babak peresan. Suatu perlombaan resmi biasanya disediakan hadiah bagi
pemenangnya. Menurut Sudiono (1982) pada masa yang lebih akhir, pemerintah setempat
mengeluarkan persyaratan di mana sapinya harus asli dari Madura, umur antara 3-7 tahun, berat
rata-rata 200 kg. dan tinggi 120 cm.
Suatu peristiwa perlombaan karapan sapi biasanya menampilkan puluhan pasang yang
berlangsung dari pagi sampai petang. Sebelum perlombaan dimulai, sapi-sapi itu diarak di sekitar
arena dan dikenakan kostum 'warna-warni' dengan kombinasi warna khas Madura. Selama
berlangsung acara itu ada iringan bunyi-bunyian seperti Sronen dan Sandur. Sronen melahirkan
irama gabungan bunyi alat-alat musik kendang, cer-cer, kempol, kenong telo, gong, dan
kejungan.
Ketika sapi akan dilombakan, pasangan-pasangan sapi itu terlebih dahulu "disatukan"
dengan apa yang disebut pengenong. Pengenong itu terbuat dari kayu atau bambu yang
menghubung-kan kedua sapi pada bagian lehernya. Alat ini menjepit dan terikat kukuh pada
leher sapi, sehingga pasangan sapi itu tidak terpisah ketika sedang berlari dalam kecepatan yang
tinggi. Pada pengenong itu terikat pula tiga potong kayu yang menjulur ke belakang di sela-sela
badan kedua sapi, yang dinamakan keleles. Keleles berfungsi antara lain sebagai tempat berjuntai
kaki 'joki' (penompak).
Penompak berperan mengendalikan dan memacu pasangan sapinya agar berlari secepat
mungkin. Upaya memacu sapi ini dengan cara melecut, bahkan menusuk-nusuk punggung sapi
dengan benda tajam, seperti paku yang memang telah disediakan. Punggung sapi karapan itu
memang biasanya penuh luka terkena tusukan jokinya yang mengharapkan sapinya berlari
secepatnya dan menang. Selesai perlombaan luka pada sapi itu diobati dengan cabe, sambel,
spiritus, dan lain-lain.
Permainan karapan ini mempunyai macam-macam aturan, melahirkan berbagai
kebiasaan, dengan latar belakang sistem pengetahuan dan kepercayaan tertentu.Hal itu
melahirkan perilaku di kalangan pemilik sapi, kerabatnya, dan lingkungan sosial lain yang lebih
luas. Aturan dan perilaku tadi terwujud pula pada orang-orang di sekitar arena dan bahkan di luar
arena. Berbagai aktivitas di luar arena sudah dilakukan jauh sebelum perlombaan itu
berlangsung. Perilaku berdasarkan pengetahuan dan kepercayaan tadi sudah mulai tampak sejak
adanya pemilihan sapi yang akan dipelihara untuk kerapan.
Sapi karapan harus menunjukkan ciri-ciri tertentu. Ciri yang tampak lahir antara lain, jantan,
kulit tipis, kaki kecil, lidah kencang, kuping keras, bulu merah. Di samping itu mereka juga
memperhatikan pusar, ekor, telapak kaki (kokot) dengan ciri tertentu pula. Dengan ciri-ciri
tersebut mereka berharap, sapi itu memiliki daya lari yang cepat. Oleh pemiliknya, sapi karapan
itu biasa diberi nama. Nama-nama sapi yang pernah terkenal, misalnya : Si Bintang Madu,
Indrajit, Cumpot, Timang Anak, Roket, Appolo, Si Krakap, Si Belis, Sebuyut, Seracun, dan lain-
lain. Pada nama itu sendiri, mereka menitipkan harapan agar sapinya berlari cepat dan menang.
Memelihara sapi karapan bukanlah pekerjaan yang ringan bagi pemiliknya, meskipun pekerjaan
itu meru-pakan suatu kesenangan. Pemeliharaan itu menyebabkan adanya pengeluaran ekstra
yang cukup besar dan menimbulkan kesibukan tertentu. Biaya yang dikeluarkan antara lain
untuk membeli telor, bahan jamu seperti jahe, kunyit, laos, jeringo, dan lain-lain. Untuk sapi itu
pun disediakan pisang dan gabah. Makanannya harus rumput yang bersih, pohon serta daun
jagung. Semua itu untuk membuat sapi jadi sehat, langsing tubuhnya, tidak galak, dan cepat
larinya.
Jauh-jauh hari sebelum tiba hari perlombaan, pemilik sapi telah dikunjungi oleh para
kerabat, teman-teman, dan orang lain yang punya kepentingan tertentu. Biasanya mereka datang
pada malam hari untuk mengobrol, memberi semangat bagi pemilik sapi, atau mengatur strategi
dalam menghadapi perlombaan yang akan datang. Malam-malam seperti itu, pemilik sapi
menyediakan tamunya makanan, minuman, rokok, dan lain-lain. lnilah yang menambah besarnya
pengeluaran esktra tadi.
Pemilik sapi harus pula mengeluarkan biaya untuk selamatan yang diadakan beberapa hari
sebelum hari perlombaan. Pada acara selamatan ini ada pembacaan doa, mengharap datangnya
berkat dan keselamatan. Pada selamatan itu disyaratkan tidak memotong ayam atau daging
sebagai !auk. Lauk yang dibenarkan adalah ikan, seperti bandeng, tongkol, pindang. Semua
mempunyai alasan tersendiri bagi mereka. Menjelang perlombaan, pemilik sapi tertentu ada yang
pergi nyekar ke kuburan selama beberapa hari, terutama pada malam hari. Semua itu merupakan
sarana untuk menitipkan harapan agar sapinya menang. Kemenangan itu tentu menimbulkan
kepuasan tersendiri, bahkan untuk mengangkat derajat di mata masyarakat lingkungannya.
Orang Madura pada umumnya sangat menyenangi permainan ini. Di antara para penonton tidak
jarang yang bertaruh, dan taruhannya ada yang mencapai jutaan rupiah; dan pihak yang berduit
telah mencemari kemurnian permainan itu (Suara Pembaruan, 22-11-1991). Karapan sapi ini
juga menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk datang ke pulau Madura.




Pustaka
Ahimsa-Putra, Heddy Shri
1987 Etnografi Sebagai Kritik Budaya: Mungkinkah di Indonesia?, Jerat Budaya,
1(1): 1-29.
1997 Antropologi Koentjaraningrat: Sebuah Tafsir Epistemologis, dalam EKM.
Manisambow (ed,), Koentjaraningrat dan Antropologi di Indonesia. Jakarta: AAI
dan Yayasan Obor, hal.25-48.
Budisantosa
1991 Corak Kebudayaan Indonesia. Studi Indonesia, 01:11-62.
Koentjaraningrat
1993 Pendahuluan, dalam Koentjaraningrat, (ed.), Masyarakat Terasing di Indonesia.
Jakarta: Gramedia, hal. 1-18.
Melalatoa, M. Junus
1995 Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
1997a Kajian Etnografi dan Pembangunan di Indonesia, dalam EKM. Mansinambow,
(ed.), Koentjaraningrat dan Antropologi di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia, hal. 93-104.
1997b Muatan Kebudayaan Daerah di Indonesia, dalam M. Yunus Melalatoa, (ed.),
Sistem Budaya Indonesia. Jakarta: Pamator, hal. 249-259.