Anda di halaman 1dari 3

Afective Neuroscience: Ketika Perasaan Menjelaskan Siapa Kita

Saat Anda membaca tulisan ini, perasaan apa yang sedang berkecamuk dalam
pikiran Anda? Marah? Sedih? Jengkel? Bosan? Takut? Senang? Apa sebab suatu
perasaan bisa muncul dalam pikiran Anda? Bagaimana prosesnya?
Psikologi sebagai sebuah ilmu memiliki tujuan, yaitu menjelaskan proses mental dan
perilaku. ari serangkaian materi kuliah yang telah Anda pelajari sebagai
mahasis!a, mata kuliah apa yang bisa dijadikan alat untuk menjelaskan mengapa,
bagaimana suatu perasaan "baca# a$eksi% muncul? Ada satu hal yang relati$
&terabaikan' dalam studi Psikologi, khususnya di (ndonesia, yaitu $okus studi yang
menempatkan emosi)a$eksi sebagai unsur penting dan $undamental dalam
memahami cara kerja mind. Sementara kita tahu bah!a sebagai organisme hidup,
manusia tidak bisa melepaskan dirinya dari emosi. Perasaan emosional yang intens,
disebut sebagai a$ek, selalu muncul dalam kesadaran kita sejak lahir dengan
keragaman jenisnya. *arena emosi)a$eksi selalu mengambil porsi dasar dalam
proses mental dan perilaku, maka memelajari emosi)a$eksi menjadi kenicayaan.
Pada derajat tertentu, emosi)a$eksi telah dipelajari sejak lama dalam Psikologi. +al
yang membedakan antara studi klasik)tradisional emosi)a$eksi dengan studi terkini
adalah pada basis data yang digunakan. Studi mutakhir telah menggunakan data
biologis yang terukur. Tidak hanya struktur otak, namun juga $ungsionalnya.
Perkembangan teknologi yang sangat cepat memungkinkan dilakukan penelitian
emosi pada tingkat ini.
isiplin ilmiah yang meneliti proses emosi)a$eksi pada le,el biologis ini dinamakan
afective neuroscience, bertujuan untuk memahami bagaimana emosi)a$eksi
muncul dengan mengamati jejaring sara$ yang berlokasi di bagian ba!ah neocorte-
"subcorte-%. .eocorte- "neo# baru% adalah bagian otak bagian atas yang ber$ungsi
sebagai generator kemampuan kogniti$ dimana secara e,olusioner baru
berkembang belakangan, setelah perkembangan daerah subcorte-. Sebagai suatu
sistem, neocorte- tidak ber$ungsi tanpa dukungan dari subcorte- yang berada di
ba!ahnya. ari struktur dan proses ini dapat dipahami bah!a setiap proses kogniti$
pasti disertai elemen a$eksi sebagai dasarnya.
Menurut Panksepp "/01/%, seorang pioneer dalam bidang afective neuroscience,
daerah subcortical otak mamalia memiliki tujuh emosi dasar, yaitu S22*(.3
"ekspektansi%, 42A5 "kecemasan%, 5A32 "kemarahan%, 67ST "seksualitas%, 8A52
"pengasuhan%, PA.(8935(24 "kesedihan%, dan P6A: "sosialisasi%. 2mosi dasar ini
dipelajari melalui pengamatan pada tidak hanya pada amygdala, hippocampus,
namun juga &titik' lain yang posisinya lebih ba!ah, yaitu peria;ueductal gray "PA3%
yang selama ini tidak terlalu banyak dibahas $ungsinya.
Pada tingkat proses primer, emosi dasar tertanam secara mendalam di dalam otak
dimana tidak perlu proses belajar untuk mengakti$kannya. Pengamatan terhadap
munculnya 42A5 pada he!an menunjukkan bah!a dengan memberikan stimulus
tertentu agar muncul ketakutan, he!an yang sebelumnya tidak mengenal stimulus
tersebut akan lari ketakutan. *apasitas subjek untuk mengalami rasa takut dan
emosi dasar lainnya pada dasarnya independen terhadap pengalaman lingkungan.
Pengalaman a$eksi pada a!alnya bersi$at objectless, setelah melalui proses belajar,
objek ketakutan kemudian berkembang.
Beberapa emosi dasar lainnya, seperti 8A52, 67ST, dan P6A: tidak terekspresi
segera setelah lahir. 2mosi dasar tersebut muncul setelah ekspresi emosi S22*(.3,
5A32, dan 42A5. Sedangkan emosi yang berupa PA.(8935(24 lebih ber,ariasi antar
spesies.
engan memelajari proses emosi dasar berbasis data biologis otak pada le,el
subcorte- ini diharapkan kita mampu memahami bagaimana cara kerja mind
sebagai sebuah proses yang kompleks dimulai dari akar paling $undamental.
Wahyu Wicaksono