Anda di halaman 1dari 28

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Status Gizi
2.1.1 Pengertian status gizi
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang
dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorbsi, transportasi,
penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk
mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ,
serta menghasilkan energi (Supariasa dkk, 2002).
eadaan gizi merupakan keadaan akibat dari keseimbangan antara konsumsi
dan penyerapan zat gizi dan penggunaan zat-zat gizi tersebut, atau keadaan
fisiologis akibat dari tersedianya zat gizi dalam seluler tubuh (Supariasa dkk,
2002).
Status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk
!ariabel tertentu, atau per"u#udan dari nutriture dalam bentuk !ariabel tertentu
(Supariasa dkk, 2002).
$ibedakan antara status gizi buruk, baik dan lebih diantaranya%
&. Gizi seimbang adalah sesuai antara suplai dan kebutuhan zat gizi.
2. Gizi kurang adalah suplai tidak mencukupi kebutuhan zat gizi.
'. Gizi lebih adalah suplai melebihi kebutuhan zat gizi.
(da tiga hal yang perlu diketahui yang berhubungan dengan status gizi
seseorang, yaitu nutrition, nutriture dan nutritional status. Nutrition adalah suatu
proses dimana organisme hidup karena penggunaan makanan yang diterima
tubuhnya mulai dari pencernaan sampai dengan dihasilkannya energi. Nutriture
menggambarkan keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran gizi yang
diterima tubuh sehingga menimbulkan nutritional status, yang dapat diukur
dengan !ariabel pertumbuhan tertentu (Supariasa dkk, 2002).
)erdapat dua faktor langsung penyebab gizi kurang pada anak balita, yaitu
faktor makanan dan penyakit infeksi dan keduanya saling mendorong. Sebagai
contoh, anak balita yang tidak mendapat cukup makanan bergizi seimbang
memiliki daya tahan yang rendah terhadap penyakit sehingga mudah terserang
infeksi. Sebaliknya penyakit infeksi seperti diare dan infeksi saluran pernapasan
atas (*S+() dapat mengakibatkan asupan gizi tidak dapat diserap tubuh dengan
baik sehingga berakibat pada gizi buruk. ,leh karena itu, mencegah ter#adinya
infeksi #uga dapat mengurangi ke#adian gizi kurang dan gizi buruk. -erbagai
faktor penyebab langsung dan tidak langsung ter#adinya gizi kurang digambarkan
dalam kerangka pikir ./*012 (&334).
2aktor penyebab langsung pertama adalah makanan yang dikonsumsi, harus
memenuhi #umlah dan komposisi zat gizi yang memenuhi syarat gizi seimbang.
onsumsi pangan dipengaruhi oleh ketersediaan pangan, yang pada tingkat makro
ditun#ukkan oleh tingkat produksi nasional dan cadangan pangan yang
mencukupi5 dan pada tingkat regional dan lokal ditun#ukkan oleh tingkat produksi
dan distribusi pangan. etersediaan pangan sepan#ang "aktu, dalam #umlah yang
cukup dan harga ter#angkau sangat menentukan tingkat konsumsi pangan di
tingkat rumah tangga. Selan#utnya pola konsumsi pangan rumah tangga akan
berpengaruh pada komposisi konsumsi pangan.
.nited /ations (2000) memfokuskan usaha perbaikan gizi dalam kaitannya
dengan upaya peningkatan S$6 pada seluruh kelompok umur, dengan mengikuti
siklus kehidupan. +ada Gambar & dapat dilihat kelompok penduduk yang perlu
mendapat perhatian pada upaya perbaikan gizi. +ada Gambar & ini diperlihatkan
#uga faktor yang mempengaruhi memburuknya keadaan gizi, yaitu pelayanan
kesehatan yang tidak memadai, penyakit infeksi, pola asuh, konsumsi makanan
yang kurang, dan lain-lain yang pada akhirnya berdampak pada kematian. .ntuk
lebih #elas mengetahui faktor penyebab masalah gizi, gambar & (.nicef, &334)
menun#ukkan secara sistimatis determinan yang berpengaruh pada masalah gizi
yang dapat ter#adi pada masyarakat. Sehingga upaya perbaikan gizi akan lebih
efektif dengan selalu mengka#i faktor penyebab tersebut.
Gambar Penyebab Kurang Gizi
Sumber: Unicef, 1998
+erbaikan gizi dan kesehatan sangat penting untuk meningkatkan
produkti!itas ker#a. ,leh karena itu, in!estasi yang bertu#uan untuk perbaikan gizi
dan kesehatan dapat dipandang sebagai salah satu aspek human capital
(Siman#untak, &334 dalam 7idayat, 2008). .nited /ations (2000) memfokuskan
uasaha perbaikan gizi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan Sumber $aya
6anusia (S$6) pada seluruh kelompok umur dengan mengikuti siklus
kehidupan.
2.1.2 Faktor!aktor yang mem"engaru#i status gizi
./*012 telah mengembangkan kerangka konsep gizi makro sebagai salah
satu strategi untuk menanggulangi masalah gizi kurang. $alam kerangka tersebut
ditun#ukan bah"a masalah gizi kurang dapat disebabkan oleh penyebab langsung
dan penyebab tak langsung ((z"ar, 2009).
a. Secara langsung
)imbulnya gizi kurang secara langsung, tidak hanya dikarenakan asupan
makanan yang kurang, tetapi #uga penyakit. (nak yang mendapat cukup
makanan tetapi sering menderita sakit, pada akhirnya akan menderita gizi
kurang. $emikian #uga pada anak yang tidak memperoleh asupan makanan
yang cukup, maka daya ahan tubuhnya akan men#adi lemah dan akan
mudah terserang penyakit ((z"ar, 2009).
b. Secara tidak langsung
(da ' penyebab tidak langsung untuk ter#adinya gizi kurang yaitu %
- etahanan pangan keluarga yang kurang memadai
Setiap keluarga diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan
pangan seluruh anggota keluarganya dalam #umlah yang cukup baik,
#umlah maupun mutu gizinya
- +ola pengasuh anak kurang memadai
Setiap keluarga dan masyarakat diharapkan dapat menyediakan "aktu,
perhatian, dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh kembang
dengan baik (fisik, mental, sosial).
- +elayanan kesehatan lingkungan kurang memadai
Sistem pelayanan kesehatan yang ada diharapkan dapat men#amin
penyediaan air bersih dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang
ter#angkau oleh setiap keluarga yang membutuhkan.
etiga faktor tersebut berkaitan dengan tingkat pendidikan,
pengetahuan, dan keterampilan keluarga. 6akin tinggi tingkat pendidikan,
pengetahuan dan keterampilan, makin baik tingkat ketahanan pangan
keluarga, makin baik pola pengasuhan maka akan makin banyak keluarga
yang memanfaatkan pelayanan kesehatan ((z"ar, 2009).
-erbagai masalah nasional seperti krisis ekonomi, sosial, politik
secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi tingkat
pengetahuan dan tingkat pendidikan, pendapatan serta status kesehatan
masyarakat salah satu diantaranya adalah status gizi. $imana gizi buruk
dapat mengakibatkan berbagai dampak negatif yang cukup fatal dan
berakibat buruk pada masa kehidupan berikutnya yang sulit diperbaiki
((z"ar, 2009).
2.1.$ Peni%aian status gizi
+enilaian status gizi merupakan pen#elasan yang berasal dari data yang
diperoleh dengan menggunakan berbagai macam cara untuk menemukan suatu
populasi atau indi!idu yang memiliki risiko status gizi kurang maupun gizi lebih
(7artriyanti dan )riyanti, 200:).
+enilaian status gizi terdiri dari dua #enis, yaitu %
&. +enilaian ;angsung
a. (ntropometri
(ntropometri merupakan salah satu cara penilaian status gizi yang
berhubungan dengan ukuran tubuh yang disesuaikan dengan umur
dan tingkat gizi seseorang. +ada umumnya antropometri mengukur
dimensi dan komposisi tubuh seseorang (Supariasa, 200&). 6etode
antropometri sangat berguna untuk melihat ketidakseimbangan
energi dan protein. (kan tetapi, antropometri tidak dapat digunakan
untuk mengidentifikasi zat-zat gizi yang spesifik (Gibson, 2008).
b. linis
+emeriksaan klinis merupakan cara penilaian status gizi
berdasarkan perubahan yang ter#adi yang berhubungan erat dengan
kekurangan maupun kelebihan asupan zat gizi. +emeriksaan klinis
dapat dilihat pada #aringan epitel yang terdapat di mata, kulit,
rambut, mukosa mulut, dan organ yang dekat dengan permukaan
tubuh (kelen#ar tiroid) (7artriyanti dan )riyanti, 200:).
c. -iokimia
+emeriksaan biokimia disebut #uga cara laboratorium. +emeriksaan
biokimia pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi adanya
defisiensi zat gizi pada kasus yang lebih parah lagi, dimana
dilakukan pemeriksaan dalam suatu bahan biopsi sehingga dapat
diketahui kadar zat gizi atau adanya simpanan di #aringan yang
paling sensitif terhadap deplesi, u#i ini disebut u#i biokimia statis.
0ara lain adalah dengan menggunakan u#i gangguan fungsional
yang berfungsi untuk mengukur besarnya konsekuensi fungsional
dari suatu zat gizi yang spesifik .ntuk pemeriksaan biokimia
sebaiknya digunakan perpaduan antara u#i biokimia statis dan u#i
gangguan fungsional (-ali"ati, 2009).
d. -iofisik
+emeriksaan biofisik merupakan salah satu penilaian status gizi
dengan melihat kemampuan fungsi #aringan dan melihat perubahan
struktur #aringan yang dapat digunakan dalam keadaan tertentu,
seperti ke#adian buta sen#a (Supariasa, 200&).
2. +enilaian )idak ;angsung
a. Sur!ei onsumsi 6akanan
Sur!ei konsumsi makanan merupakan salah satu penilaian status
gizi dengan melihat #umlah dan #enis makanan yang dikonsumsi
oleh indi!idu maupun keluarga. $ata yang didapat dapat berupa
data kuantitatif maupun kualitatif. $ata kuantitatif dapat
mengetahui #umlah dan #enis pangan yang dikonsumsi, sedangkan
data kualitatif dapat diketahui frekuensi makan dan cara seseorang
maupun keluarga dalam memperoleh pangan sesuai dengan
kebutuhan gizi (-ali"ati, 2009).
b. Statistik <ital
Statistik !ital merupakan salah satu metode penilaian status gizi
melalui data-data mengenai statistik kesehatan yang berhubungan
dengan gizi, seperti angka kematian menurut umur tertentu, angka
penyebab kesakitan dan kematian, statistik pelayanan kesehatan,
dan angka penyakit infeksi yang berkaitan dengan kekurangan gizi
(7artriyanti dan )riyanti, 200:).
c. 2aktor 1kologi
+enilaian status gizi dengan menggunakan faktor ekologi karena
masalah gizi dapat ter#adi karena interaksi beberapa faktor ekologi,
seperti faktor biologis, faktor fisik, dan lingkungan budaya.
+enilaian berdasarkan faktor ekologi digunakan untuk mengetahui
penyebab ke#adian gizi salah (malnutrition) di suatu masyarakat
yang nantinya akan sangat berguna untuk melakukan inter!ensi gizi
(Supariasa, 200&).
2.2 Status Gizi Ba%ita
2.2.1 Pengertian ba%ita
elompok bayi dan anak balita adalah salah satu kelompok umur yang
rentan terhadap penyakit-penyakit kekurangan gizi, oleh sebab itu indikator yang
paling baik untuk mengukur status gizi masyarakat adalah dengan melalui
pengukuran status gizi balita (Supariasa, 2002).
urang gizi pada anak balita tidak mudah dikenali oleh pemerintah atau
masyarakat bahkan keluarga. (rtinya andaikata disuatu desa terdapat se#umlah
anak yang menderita gizi kurang dan tidak segera men#adi perhatian karena anak
tampak tidak sakit. 2aktor timbulnya gizi kurang pada anak balita lebih kompleks,
maka upaya penanggulangannya memerlukan pendekatan dari berbagai segi
kehidupan anak secara terintegrasi. (rtinya tidak hanya memperbaik aspek
makanan sa#a tetapi #uga lingkungan hidup anak seperti pada pegasuhan,
pendidikan ibu, air bersih dan kesehatan lingkungan, mutu layanan kesehatan dan
sebagainya (Supariasa, 2002).
2.2.2 In&ikator status gizi ba%ita
6asa balita merupakan masa yang menentukan dalam tumbuh kembangnya,
yang akan en#adikan dasar terbentuknya manusia seutuhnya. arena itu
pemerintah memandang perlu untuk memberikan suatu bentuk pelayanan yang
menun#ang tumbuh kembang balita secara menyeluruh terutama dalam aspek
mental dan sosial. +ertumbuhan dan perkembangan saling mendukung satu sama
lain perkembangan seorang anak tidak dapat maksimal tanpa dukungan atau
optimalnya pertumbuhan. 6isalnya seorang anak yang kekurangan gizi akan
mempengaruhi perkembangan mental maupun sosialnya, oleh karena itu keduanya
harus mendapat perhatian baik dari pemerintah, masyarakat maupun orang tua.
Salah satu indikator untuk melihat pertumbuhan fisik anak adalah dengan melihat
status gizi anak dalam hal ini balita. Sebagai alat ukur untuk mengetahui tingkat
perkembangan seorang anak dengan menggunakan kartu menu#u sehat (6S)
(Soet#iningsih, 2002).
Semua ke#adian yang berhubungan dengan kesehatan anak se#ak lahir
sampai berumur lima tahun, perlu dicatat dalam 6S, misalnya identitas anak,
tanggal lahir dan tanggal pendaftaran, serta penyakit yang pernah dideritanya.
6S berisi pesan-pesan penyuluhan tentang penanggulangan diare, makanan
anak. Sehingga ibu senantiasa memba"a 6S pada semua kegiatan kesehatan
dan cenderung ingin kontak dengan petugas kesehatan untuk meru#uk anaknya.
7al ini dapat digunakan sebagai pengamatan status gizi anak, disamping
mempunyai kelebihan maupun kekurangannya (Soet#iningsih, 2002).
*ndikator status gizi berdasarkan indeks berat badan menurut umur ada
kelebihan dan kekurangannya. elebihan tersebut diantaranya dapat lebih mudah
dan lebih cepat dimengerti oleh masyarakat umum, dapat mendeteksi kelebihan
maupun kekurangan gizi, sensiti!itas untuk melihat perubahan status gizi,
sedangkan kekurangannya adalah dapat mengakibatkan interprestasi status gizi
yang keliru bila terdapat oedem, memerlukan data umur yang akurat, sering
ter#adi dikesalahan dalam pengukuran, misal karena pengaruh pakaian atau
gerakan anak pada saat penimbangan.
2.2.$ Pengukuran status gizi ba%ita
-eberapa cara mengukur status gizi balita yaitu dengan pengukuran
antropometri, klinik dan laboratorik. $iantara ketiga cara pengukuran satatus gizi
balita, pengukuran antropometri adalah yang relatif sering dan banyak digunakan
(Soegiyanto dan =iyono, 200:). +engukuran antropometri dapat digunakan untuk
mengenali status gizi seseorang. (ntropometri dapat dilakukan beberapa macam
pengukuran yaitu pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan
sebagaimya.
-erdasarkan beberapa pengukuran tersebut, berat badan (--), tinggi badan
()-), dan pan#ang badan (+-) adalah yang paling dikenal. *lmu status gizi tidak
hanya diketahui dengan mengukur -- > )- sesuai dengan umur secara sendiri-
sendiri, tetapi dalam bentuk indikator yang dapat merupakan kombinasi diantara
ketiganya. 6asing-masing indikator mempunyai makna sendiri, misalnya
kombinasi antara -- (berat badan) dan . (umur) membentuk indikator --
menurut . yang disimbolkan dengan -- > .. *ndikator -- > . $apat normal
lebih rendah atau lebih tinggi setelah dibandingkan dengan standar =7,. (pabila
-- > . normal maka digolongkan pada status gizi baik, dan -- > . rendah dapat
berarti berstatus gizi kurang > buruk, serta bila -- > . tinggi dapat digolongkan
berstatus gizi lebih. -aik satus gizi kurang ataupun status gizi lebih, kedua-duanya
mengandung resiko yang tidak baik bagi kesehatan balita. Sedangkan pegukuran
klinik biasanya dilakukan oleh dokter di klinik untuk melihat adanya kelainan-
kelainan organ tubuh akibat 1+, misalnya adanya pembegkakan (oedem),
perubahan "arna, dan sifat rambut, kelainan kulit dan sebagainya.
-erdasarkan =7,-/70S (Supariasa, 2002) menyatakan bah"a kriteria
keerhasilan nutrisi ditentukan oleh status gizi %
)abel &. lasifikasi 1+ menurut Gomes
Kategori '(era)at K*P+ BB,U '- BAKU+
0 ? /ormal ;ebih dari 30@
& ? Aingan 43-:8@
2 ? Sedang :9-B0@
' ? -erat C B0 @
-erdasarkan penilaian D-skor adalah sebagai berikut %
a. -->. (-erat badan menurut .mur berdasarkan D-Score
&) Gizi -uruk % C -' S$
2) Gizi urang % -' S$ sampai -2 S$
') Gizi -aik % -2 S$ sampai E2 S$
9) Gizi ;ebih % F E' S$
b. )->. ()inggi badan menurut .mur berdasarkan D-Score
&) /ormal % F -2 S$
2) Aendah % C -2 S$
c. 6enurut $epkes A* (2008) +arameter -->)- berdasarkan D-Score
diklasifikasikan men#adi %
&) Gizi -uruk (Sangat urus) % C -' S$
2) Gizi urang (urus) % -' S$ sampai C -2 S$
') Gizi -aik (/ormal) % -2 S$ sampai
9) Gizi ;ebih (Gemuk) % F E2 S$
2.2.. Faktor yang mem"engaru#i status gizi ba%ita
&. 2aktor ;angsung
a. (supan 6akanan
onsumsi makanan dan penyakit infeksi yang kurang memenuhi
syarat gizi merupakan faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan
dan status gizi anak. Gangguan gizi yang kronis pada masa anak akan
tampak akibatnya terhadap pertumbuhan pada usia selan#utnya bila
tidak segera ditanggulangi (Soekirman, &333).
-anyak faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang baik
secara langsung berpengaruh maupun yang tidak langsung. Salah satu
faktor yang berpengaruh terhadap status gizi, khususnya anak balita
adalah asupan zat gizi dari konsumsi makan (Soekirman, &333).
eadaan kesehatan gizi tergantung dari tingkat konsumsi zat gizi
yang terdapat pada makanan sehari-hari. )ingkat konsumsi ditentukan
oleh kualitas hidangan. ualitas hidangan menun#ukkan adanya semua
zat gizi yang diperlukan tubuh didalam suatu susunan hidangan dan
perbandingan yang satu terhadap yang lain. ualitas menun#ukkan
#umlah masing-masing zat gizi terhadap kebutuhan tubuh. alau
susunan hidangan memenuhi kebutuhan tubuh, baik dari segi kuantitas
maupun kualitasnya, maka tubuh akan mendapatkan kondisi kesehatan
gizi yang sebaik-baiknya, disebut konsumsi adekuat.
alau konsumsi baik dari kuantitas dan kualitasnya melebihi
kebutuhan tubuh, dinamakan konsumsi berlebih, maka akan ter#adi
suatu keadaan gizi lebih. Sebaliknya konsumsi yang kurang baik
kualitas dan kuantitasnya akan memberikan kondisi kesehatan gizi
kurang atau kondisi defisit. )ingkat kesehatan gizi sesuai dengan
konsumsi, tingkat kesehatan gizi terbaik adalah kesehatan gizi
optimum. $alam kondisi ini #aringan #enuh oleh zat gizi tersebut.
)ubuh terbebas dari penyakit dan mempunyai daya ker#a dan efisiensi
yang sebaik-baiknya, serta mempunyai daya tahan setinggi-
tingginya( Sediaoetama, 2000).
Status gizi atau tingkat konsumsi pangan merupakan bagian
terpenting dari status kesehatan seseorang. )idak hanya status gizi
yang mempengaruhi kesehatan seseorang, tetapi status kesehatan #uga
mempengaruhi status gizi (Suhard#o, 200').
b. +enyakit *nfeksi
*nfeksi bisa berhubungan dengan gangguan gizi melalui beberapa
cara, yaitu mempengaruhi nafsu makan, menyebabkan kehilangan
bahan makanan karena diare>muntah-muntah, mempengaruhi
metabolisme makanan dan banyak cara lain lagi. Secara umum,
defisiensi gizi sering merupakan a"al dari gangguan defisiensi sistem
kekebalan ((lis#ahbana, &348). -eberapa penyakit yang sering
menyerang anak dan merupakan penyebab terpenting dari
pertumbuhan yang buruk antara lain diare, *S+( (*nfeksi Saluran
+ernapasan (kut) dan penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi
seperti )-0, difteri, batuk re#an, tetanus, polio dan campak ($epkes
A*, 200&).
6enurut 6oeh#i (&344), sebagai reaksi pertama akibat adanya
infeksi adalah menurunnya nafsu makan anak sehingga anak menolak
makanan yang diberikan ibunya. +enolakan terhadap makanan berarti
berkurangnya pemasukan zat gizi kedalam tubuh anak. eadaan akan
berangsur memburuk #ika infeksi itu disertai dengan muntah yang
mengakibatkan hilangnya zat gizi. ehilangan zat gizi dan cairan akan
semakin banyak apabila anak #uga menderita diare. eadaan yang
buruk itu masih diperburuk oleh adanya pembatasan makanan yang
tidak #arang dilakukan oleh para orang tua mereka sendiri.
ehilanangan nafsu makan, adanya muntah dan diare akan mengubah
tingkat gizi anak ke arah gizi buruk.
2. 2aktor )idak ;angsung
a. (nggota eluarga Gang 6erokok
-eberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, pada
umumnya melihat hubungan antara orang tua yang perokok dengan
status gizi anak berdasarkan )->. dan -->)-. Seperti penelitian yang
telang dilakukan oleh Semba et al (200B) terhadap anak umur 0-83
bulan yang menderita malnutrisi pada keluarga miskin di daerah
kumuh urban di *ndonesia, dimana dapat diketahui bah"a anak dengan
orang tua yang perokok memiliki risiko bertubuh pendek sebesar &, &&
kali (38@ 0* &,04-&,&9 +C0,000&) dan risiko bertubuh sangat pendek
sebesar &,03 kali (38@ $* &,09-&,&8 +C0,00&) dibanding anak dengan
orang tua yang bukan perokok. $isamping itu, anak dengan orang tua
perokok #uga memiliki risiko sangat gemuk (severe wasting) sebesar
&,&: kali (38@ 0; &,0'-&,&' +?0,0&4) dibanding anak dengan orang
tua yang bukan perokok. )etapi, orang tua yang perokok bukan
merupakan faktor risiko terhadap anak yang underwight.
b. +engetahuan *bu 6engenai (supan Gizi
Suatu hal yang meyakinkan tentang pentingnya pengetahuan gizi
didasarkan pada tiga kenyataan yaitu%
&) Status gizi cukup adalah penting bagi kesehatan dan
kese#ahteraan. Setiap orang hanya akan cukup gizi #ika
makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang
diperlukan untuk pertumbuhan tubuh yang optimal. *lmu gizi
memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat
bela#ar menggunakan pangan dengan baik bagi perbaikan gizi
(Suhard#o, 200' ).
2) +engetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif
mempunyai B tingkatan, yaitu %
- )ahu (kno")
)ahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang
telah dipela#ari sebelumnya. )ermasuk ke dalam tingkat ini
adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang
spesifik dari seluruh bahan yang dipela#ari atau rangsangan
yang telah diterima.
- 6emahami (0omprehension)
6emahami diartikan sebagai suatu kemampuan
men#elaskan secara benar tentang ob#ek yang diketahui, dan
dapat menginterprestasi materi tersebut secara benar.
- (plikasi ((pplication)
(plikasi diartikan sebagai kemampuan untuk
menggunakan materi yang telah dipela#ari pada situasi atau
kondisi riil (sebenarnya). (plikasi disini dapat diartikan
aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode,
prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
- (nalisis ((nalysis)
(nalisis adalah suatu kemampuan untuk men#abarkan
materi atau suatu ob#ek ke dalam komponen-komponen,
tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan
masih ada kaitannya satu sama lain.
- Sintesis (Synthesis)
Sintesis menun#ukkan kepada suatu kemampuan untuk
meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam
suatu bentuk keseluruhan yang baru. $engan kata lain
sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi
baru dari formulasi-formulasi yang ada.
- 1!aluasi (1!aluation)
1!aluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk
melakukan #ustifikasi atau penilaian terhadap suatu materi
atau ob#ek. +enilaian-penilaian itu berdasarkan suatu
kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-
kriteria yang telah ada (/otoatmod#o, &33:).
+engetahuan gizi yang baik akan menyebabkan
seseorang mampu menyusun menu yang baik untuk
dikonsumsi. Semakin banyak pengetahuan gizi seseorang,
maka ia akan semakin memperhitungkan #enis dan #umlah
makanan yang diperolehnya untuk dikonsumsi
(Sediaoetama, 2000).
+engetahuan gizi yang baik akan menyebabkan
seseorang mampu menyusun menu yang baik untuk
dikonsumsi. Semakin banyak pengetahuan gizi seseorang,
maka ia akan semakin memperhitungkan #enis dan #umlah
makanan yang diperolehnya untuk dikonsumsi
(Sediaoetama, 2000).
c. +endidikan *bu
+endidikan ibu merupakan faktor yang sangat penting. )inggi
rendahnya tingkat pendidikan ibu erat kaitannya dengan tingkat
pengetahuan terhadap pera"atan kesehatan, higiene pemeriksaan
kehamilan dan pasca persalinan, serta kesadaran terhadap kesehatan
dan gizi anak-anak dan keluarganya. $isamping itu pendidikan
berpengaruh pula pada faktor sosial ekonomi lainya seperti
pendapatan, peker#aan, kebiasaan hidup, makanan, perumahan dan
tempat tinggal.
)ingkat pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya
seseorang menyerap dan memahami pengetahuan gizi yang mereka
peroleh. 7al ini bisa di#adikan landasan untuk membedakan metode
penyuluhan yang tepat. $ari kepentingan gizi keluarga, pendidikan
diperlukan agar seseorang lebih tanggap terhadap adanya masalah gizi
didalam keluarga dan bisa mengambil tindakan secepatnya (Suhard#o,
200' ).
d. +eker#aan *bu
=anita sebagai peker#a mempunyai potensi dan hal ini sudah
dibuktikan dalam dunia ker#a yang tidak kalah dengan pria. Sebagai
peker#a, masalah yang dihadapi "anita lebih berat dibandingkan pria.
arena dalam diri "anita lebih dahulu harus mengatasi urusan
keluarga, suami, anak dan hal-hal lain yang menyangkut tetek bengek
rumah tangganya. +ada kenyataannya cukup banyak "anita yang tidak
cukup mengatasi masalah itu, sekalipun mempunyai kemampuan
teknis cukup tinggi. alau "anita tidak pandai menyeimbangkan peran
ganda tersebut akhirnya balita akan terlantar ( (noraga, 2008).
*bu yang sudah mempunyai peker#aan penuh tidak lagi dapat
memberikan perhatian penuh terhadap anak balitanya, apalagi untuk
mengurusnya. 6eskipun tidak semua ibu beker#a tidak mengurus
anaknya, akan tetapi kesibukan dan beban ker#a yang ditanggungnya
dapat menyebabkan kurangnya perhatian ibu dalam menyiapkan
hidangan yang sesuai untuk balitanya. arena itu didalam sebuah
penelitian menun#ukkan bah"a seringkali ter#adi ketidaksesuaian
antara konsumsi zat gizi terutama 1nergi dan +rotein dengan
kebutuhan tubuh pada kelompok anak yang berusia diatas & tahun
(6oeh#i, &338).
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi ter#adinya 1+ adalah
para ibu yang menerima peker#aan tetap sehingga harus meninggalkan
balitanya dari pagi sampai sore, anak-anak terpaksa ditinggalkan
dirumah sehingga #atuh sakit dan tidak mendapatkan perhatian, dan
pemberian makanan tidak dilakukan dengan semestinya.
(langkah baiknya bila badan yang bergerak dibidang sosial
menampung bayi dan anak-anak kecil yang ditinggal beker#a seharian
penuh di balai desa, mas#id, gere#a, atau tempat lain untuk dira"at dan
diberi makanan yang cukup baik ( +ud#iadi, 200').
2.. Status Gizi /ansia
2...1 Pengertian %ansia
+enuaan>lansia adalah suatu proses alamiah dan tidak dapat dihindari.
Selan#utnya akan menyebabkan perubahan anatomis, fisiologis dan biokimia pada
tubuh sehingga kemampuan #aringan untuk memperbaiki diri apabila ada
kerusakan yang diderita atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan
fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap #e#as ($armo#o, 200B).
.sia lan#ut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur
kehidupan manusia. Sedangkan menurut +asal & ayat (2), ('), (9) .. /o. &'
)ahun &334 tentang kesehatan dikatakan bah"a usia lan#ut adalah seseorang yang
telah mencapai usia lebih dari B0 tahun (6aryam dkk, 2004).
-erdasarkan defenisi secara umum, seseorang dikatakan lan#ut usia (lansia)
apabila usianya B8 tahun ke atas. ;ansia bukan suatu penyakit, namun merupakan
tahap lan#ut dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan
kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan. ;ansia adalah
keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untuk mempertahankan
keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis. egagalan ini berkaitan dengan
penurunan daya kemampuan untuk hidup serta peningkatan kepekaan secara
indi!idual (1fendi, 2003).
emunduran sosiologis pada lansia sangat dipengaruhi oleh tingkat
pendidikan dan pemahaman lansia atas dirinya sendiri. Status seseorang sangat
penting bagi kepribadiannya di dalam peker#aan. +erubahan status sosial akan
memba"a akibat bagi lansia dan perlu dihadapi dengan persiapan yang yang baik
dalam menghadapi perubahan tersebut ($epkes, 200').
(da banyak istilah yang digunakan untuk manusia yang berusia lan#ut akan
tetapi belum ada yang baku. (da yang menyebutkan manusia usia lan#ut (manula),
lan#ut usia (lansia) ada yang menyebutkan golongan lan#ut umur (glamur) dan usia
lan#ut (usila) (6aryam, 2004).
2...2 K%asi!ikasi %ansia
lasifikasi berikut ini adalah lima klasifikasi pada lansia berdasarkan
$epkes A* (200') dalam 6aryam dkk (2003) yang terdiri dari % pralansia
(prasenilis) yaitu seseorang yang berusia antara 98-83 tahun, lansia ialah
seseorang yang berusia B0 tahun atau lebih, lansia resiko tinggi ialah seseorang
yang berusia :0 tahun atau lebih>seseorang yang berusia B0 tahun atau lebih
dengan masalah kesehatan, lansia potensial ialah lansia yang masih mampu
melakukan peker#aan dan>atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang>#asa,
lansia tidak potensial ialah lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga
hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.
-eberapa tipe pada lansia bergantung pada karakter, pengalaman hidup,
lingkungan, kodisi fisik, mental, sosial, dan ekonominya (/ugroho 2000 dalam
6aryam dkk, 2004). )ipe tersebut di#abarkan sebagai berikut.
&. )ipe arif bi#aksana. aya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri
dengan perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah
hati, sederhana, derma"an, memenuhi undangan, dan men#adi panutan.
2. )ipe mandiri. 6engganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif
dalam mencari peker#aan, bergaul dengan teman, dan memenuhi undangan.
'. )ipe tidak puas. onflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga
men#adi pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit dilayani, pengkritik
dan banyak menuntut.
9. )ipe pasrah. 6enerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan
agama, dan melakukan peker#aan apa sa#a.
8. )ipe bingung. aget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder,
menyesal, pasif, dan acuh tak acuh.
)ipe lain dari lansia adalah tipe optimis, tipe konstruktif, tipe independen
(ketergantungan), tipe defensife (bertahan), tipe militan dan serius, tipe
pemarah>frustasi (kece"a akibat kegagalan dalam melakukan sesuatu), serta tipe
putus asa (benci pada diri sendiri).
2...$ Faktor !aktor yang mem"engaru#i status gizi "a&a %ansia
2aktor H faktor yang mempengaruhi status gizi lansia yaitu %
a. 2aktor ;angsung
&. (supan makan
(supan makan pada lansia tentunya berbeda dengan orang de"asa
maupun anak H anak, dimana pada lansia telah mengalami penurunan
sistem pencernaan yang mulai berkurang, organ lain danhal ini
berpengaruh #uga semakin mudah terkena berbagai penyakit. .ntuk itu
dibutuhkan suatu perhatian dalam hal ini pola makan maupun kualitas
dan kuantitas makanan yang dibutuhkan oleh lansia ((lmatzier, 200&).
2. +enyakit infeksi atau degeneratif
(danya gangguan penyakit infeksi yang diderita lansia pada
umumya ter#adi dikarenakan ter#adi penurunan sistem endokrin
maupun saluran pencernaan. +ada lansia sangat mudah terkena
penyakit degeneratif misalnya $iabetes 6illitus, #antung koroner. Iika
lansia dalam pola makan tidak terpantau maka besar kemungkinan
lansia dapat terkena penyakit tersebut. 7al ini dapat berakibat fatal #ika
penanganan kurang cepat dan tepat akan berdampak pada status
gizinya. ;ansia akan terganggu status kesehatannya #ika perhatian yang
diberikan dari keluarga kurang tepat untuk itu pada keluarga yang
mempunyai lansia, diharapkan untuk men#aga status gizi lansia dengan
lebih perhatian pada pola makan sehari-hari yang adekuat sesuai
dengan keadaan lansia.
6asalah nutrisi pada lansia dipengaruhi oleh fungsi penyerapan
yang melebihi (adanya daya penyerapan yang terganggu). (pabila hal
ini ter#adi pada lansia maka akan mempengaruhi status gizinya yang
berakibat timbulnya penyakit yang diakibatkan oleh asupan makan
yang terganggu (/ugroho, 2000).
b. 2aktor )idak ;angsung
&. .mur
.mur adalah usia yang men#adi indikator dalam kede"asaan di
setiap pengambilan keputusan untuk melakukan sesuatu yang mengacu
pada setiap pengalamannya. .mur seseorang sedemikian besarnya akan
mempengaruhi perilaku, karena semaki lan#ut umurnya, maka semakin
lebih bertanggung#a"ab, lebih tertib, lebih bermoral, lebih berbakti dari
usia muda (/otoatmod#o, 2002). arakteristik pada lansia sangat
berpengaruh terhadap cara penanganan dalam memenuhi kebutuhan
untuk mempertahankan status gizinya dengan baik.
2. )ingkat pendidikan
)ingkat pendidikan turut menentukan mudah atau tidaknya
seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang mereka peroleh.
$ari kepentingan keluarga itu sendiri amat diperlukan seseorang lebih
tanggap adanya masalah kesehatan terutama status gizi lansia di dalam
keluarganya dan biasa mengambil tindakan secepatnya (/otoatmod#o,
200').
'. +endapatan
+endapatan dalam hal ini pendapatan keluarga menentukan
ketersedaan fasilitas kesehatan yang baik serta memenuhi asupan
makanan, dimana semakin tinggi pendapatan keluarga semakin baik
pula fasilitas dan cara pemenuhan kebutuhan lansia akan ter#aga
semakin baik (-erg, &343). +endapatan merupakan faktor yang
menentukan kualitas dan kuantitas asupan makanan lansia, serta
peker#aan berpengaruh pada "aktu dan pendapatan yang didorong
adanya pengaruh yang menguntungkan dari pendapatan yang
meningkatkan, perbaikan asupan makan sehari-hari yang tentunya
berpengaruh pada status gizi (-erg, &343). +endapatan mempengaruhi
lansia melaksanakan pemenuhan makanan sehari-hari, dimana pada
lansia secara umum memiliki pendapatan sendiri cenderung menolak
bantuan orang lain. ;ansia yang tidak memiliki penghasilan akan
menggantungkan hidupnya pada anak atau saudara meskipun status
ekonomi mereka #uga tergolong miskin, dimana lansia menggantungkan
hidupnya terutama pada anak perempuan terdekat (Siroit, &333).
9. +engetahuan
+engetahuan (kno"ladge) merupakan hasil dari tahu, dan ini
ter#adi setelah orang melakuakan penginderaan manusia yakni indera
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba, dimana sebagian
besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. 6enurut
/otoatmod#o (200'). +engetahuan yang dimiliki lansia berpengaruh
pada pemilihan serta kesadaran dalam mencukupi kebutuhan makanan
sehari-hari serta memenuhi pola makan yang tepat khususnya bagi
lansia.
2.... Pengukuran status gizi "a&a %an)ut usia
6enilai status gizi pada lansia memerlukan metode pengukuran yang sesuai
dengan perubahan yang ter#adi pada struktur tubuh, komposisi tubuh serta
penurunan fungsi organ-organ tubuh. 6etode yang bisa dilakukan pada
pengukuran status gizi pada lansia adalah dengan menggunakan 6ini /utritional
(ssessment (6/(). +ada pengukuran dengan menggunakan 6/( ini,
pengukuran antropometri men#adi poin yangdiukur. Selain dengan menggunakan
6/(, pemeriksaan klinis, dan biokimia #uga dapat dilakukan untuk pengukuran
status gizi (Gibson, &333).
6ini /utritional (ssessment (6/() merupakan salah satu alat ukur yang
digunakan untuk menskrining status gizi pada lansia. 7al ini dilakukan untuk
mengetahui apakah seorang lansia mempunyai resiko mengalami malnutrisi akibat
penyakit yang diderita dan atau pera"atan di rumah sakit.
6/( ini banyak digunakan karena sangat sederhana dan mudah dalam
pelaksanaannya. $armo#o (20&0) dalam penelitian yang dilakukan pada 200
pasien preoperasi gastrointestinal menun#ukkan bah"a 6/( dapat dilakukan oleh
klinisi terlatih, mempunyai reprodusibilitas tinggi dan dapat menskrining pasien
yang mempunyai resiko malnutrisi.
+ada tahun 200B Guigoz melaporkan bah"a 6/( telah digunakan di 'B
studi untuk menilai status gizi orang de"asa dira"at di rumah sakit 4.83B di
seluruh dunia5 ini, 80@ sampai 40@ diklasifikasikan sebagai berisiko kekurangan
gizi atau malnutrisi. 7al ini dikemukakan oleh $i6aria-Ghalili, Aose (nn +h$,
A/ (2003) dalam )he (merican Iournal 2or /ursing ((I/). 6/( saat ini
digunakan untuk menilai status gizi orang lan#ut usia di klinik, panti #ompo, dan
rumah sakit.
6ini /utritional (sessment (6/() didesain dan telah dibuktikan bagus
sebagai alat ka#ian tunggal dan cepat untuk menilai status gizi pada lansia. 6/(
ini merupakan kuesioner dalam bahasa *ndonesia dan sudah diu#i !alidasnya
untuk menskrining status gizi lansia. -anyak penelitian-penelitian yang telah
dilakukan menggunakan 6/( sebagai alat ukur untuk menilai status gizi lansia.
$iantaranya (gustiana (200:) melakukan penelitian hubungan 6ini /utritional
(sessment (6/() dengan albumin serum pasien usia lan#ut dimana hasilnya
menun#ukkan melalui skor 6/( diketahui risiko malnutrisi (6/( skor &:-2',8)
49,B@ dan sebesar 9B,2@ mengalami malnutrisi berat #ika dilihat dari albumin
C2,4 mg>dl. Skor 6/( ini dapat menggambarkan kadar albumin serum.
+enelitian lain =ulandari (20&0) mengenai resiko malnutrisi berdasarkan
6ini /utritional (sessment (6/() terkait dengan kadar hemoglobin pasien
lansia yang menun#ukkan hasil bah"a resiko malnutrisi berdasarkan 6/(
memiliki keterkaitan dengan kadar 7b. 7ardini (2008) hubungan status gizi (6ini
/utritional (ssessment) dengan outcome hasil pera"atan penderita di di!isi
geriatri Aumah Sakit $okter ariadi Semarang dimana hasilnya menun#ukkan
80@ lansia yang dira"at di AS#umlah asupan dan konsumsi protein kurang serta
kehilangan nafsu makan dan mengalami stress>penyakit akut. (supan makanan
yang secara kuantitatif rendah mendukung temuan malnutrisi dan risiko malnutrisi
yang diukur dengan skor 6/(.
$armo#o (20&0) dalam studinya mengemukakan bah"a 6ini /utritional
(ssessment (6/() ini meliputi "a"ancara dan pengamatan mengenai berat
badan dan perubahan berat badan B bulan atau 2 minggu terakhir, ada tidaknya
gangguan gastrointestinal, ada tidaknya ggangguan fungsional, status metabolik
dari penyakit, ada tidaknya muscle "asting dan edema. uesioner 6/( terdiri
atas &4 pertanyaan yang terbagi dalam empat komponen% penilaian antropometri,
penilaian asupan makanan, penilaian secara umum mengenai gaya hidup dan
penilaian secara sub#ektif. Skor 6/( bersifat reliabel dan dapat diandalkan untuk
mendeteksi risiko ter#adinya malnutrisi yang kemudian dihubungkan ke dalam
penilaian kualitas hidup dari lansia ((gustiana, 200:).
esimpulan pemeriksaan 6ini /utritional (ssesment (6/() adalah
menggolongkan pasien atau lansia dalam keadaan status gizi baik, beresiko
malnutrisi ataukah malnutrisi berat. 6/( mempunyai dua bagian besar yaitu
screening dan assessment, dimana pen#umlahan semua skor akan menentukan
seorang lansia pada status gizi baik, beresiko malnutrisi, atau beresiko
under"eight ($armo#o, 20&0).
2...0 1asa%a# gizi "a&a %ansia
6asalah gizi pada lansia merupakan rangkaian proses masalah gizi se#ak
usia muda yang manifestasinya timbul setelah tua. Selain itu ada pula masalah gizi
yang ter#adi pada lansia akibat ter#adinya proses penuaan ($epkes A*, 200&).
+ada dasarnya masalah gizi ter#adi akibat dua hal yaitu asupan gizi yang
salah dan ketidakmampuan tubuh untuk memanfaatkan asupan gizi. +erubahan
fisik dan penurunan fungsi organ tubuh akan mempengaruhi konsumsi dan
penyerapan zat gizi dalam makanan. -entuk masalah gizi yang sering di#umpai
pada lansia adalah sebagai berikut %
a. Gizi ;ebih
Gizi berlebih pada lansia banyak ter#adi di negara-negara barat dan
kota-kota besar. ebiasaan makan banyak pada "aktu muda menyebabkan
berat badan berlebih, apabila pada lansia penggunaan kalori berkurang
karena berkurangnya aktifitas fisik. ebiasaan makan itu sulit untuk diubah
"alaupun disadari untuk mengurangi makan.
-erbagai penelitian yang dilakukan pada lansia sebagian besar
merupakan masalah gizi lebih atau kegemukan. -anyak faktor penyebab
ter#adinya kegemukan baik dari faktor dalam maupun dari luar. +re!alensi
gizi lebih pada lansia di *ndonesia adalah sebesar 20,B@ ( $epkes A*, &33:).
7asil sur!ey *6) orang de"asa yang dilakukan oleh $epartemen
esehatan di kota besar di *ndonesia pada tahun &33: menun#ukkan bah"a
pre!alensi gizi lebih dan obesitas di kalangan penduduk F 88 tahun sebesar
&8,'@ pada laki-laki dan 28,3@ pada "anita.
$armo#o (200B) melaporkan proporsia lansia di *ndonesia yang
mengalami status gizi kurang sebesar 24,'@ sedangkan yang menderita
status gizi lebih sebanyak B,:@ dan obesitas sebesar ',9@. eadaan ini
disebabkan pola konsumsi yang berlebihan, yang banyak mengandung
lemak, protein dan tinggi karbohidrat yang tidak sesuai dengan kebutuhan
kalori. enaikan lemak tubuh ini diakibatkan menurunnya #aringan otot
dengan bertambahnya usia. 6asalah gizi lebih atau kegemukan akan
memacu timbulnya berbagai penyakit degeneratif seperti penyakit #antung
koroner, hipertensi, diabetes mellitus, gout (rematik), gin#al, sirosis hati dan
kanker.
b. Gizi urang
Gizi kurang disebabkan oleh masalah-masalah ekonomi dan #uga karena
gangguan penyakit. -ila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang
dibutuhkan menyebabkan berat badan berkurang dari normal. (pabila hal
ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan
sel yang tidak diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap
penyakit menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi.
ekurangan gizi pada lansia ditandai dengan penurunan berat badan
akibat kurangnya nafsu makan sehingga pemenuhan kalori yang dibutuhkan
tidak tercukup. $efisiensi zat gizi seperti kekuraanga zat besi pada lansia
mempunyai dampak terhadap penurunan kemampuan fisik dan menurunkan
kekabalan tubuh. 6asalah gizi kurang yang sering ter#adi pada lansia seperti
kurang energi kronis (1), anemia dan kekurangan zat mikro lainnya.
2aktor-faktor yang berperan terhadap ter#adinya kekurangan gizi adalah
penurunan fungsi pada saluran pencernaan seperti gigi geligi yang sudah
banyak tanggal, kerusakan gusi menyebabkan lansia merasa sukar menelan.
$isamping itu ter#adinya penurunan produksi enzim ptyalin dari kelen#ar
sali!a yang akan berpengaruh pada proses perubahan karbohidrat komplek
men#adi disakarida serta berkurangnya fungsi ludah sebagai pelicin
makanan sehingga proses menelan sukar. Sekresi asam lambung #uga
semakin berkurang dan ukurannya men#adi lebih kecil sehingga rangsangan
lapar serta daya tampung makanan men#adi lebih sedikit.
+enelitian -udiman dan /anny (2008) pada lansia di $* Iakarta
menun#ukkan bah"a kurang gizi dapat disebabkan akibat merokok. 7asil
yang didapatkan lansia yang merokok mempunyai gizi kurang lebih tinggi
dibandingkan dengan lansia yang tidak merokok yakni berturut-turut 28@
dan &B@.
(AFTA2 PUSTAKA
(chmad $#aeni Sediaoetama 2000.
Ilmu Gii untu! mahasiswa dan profesi "ilid I. $ian Aakyat. Iakarta
(li, Aice Gunidra. 200:#
$a!tor % $a!tor &ang 'empengaruhi Status Gii (alita di )elurahan
(ela!ang (alo! )ota (u!ittinggi. ./+. +adang
(lmatsier, Sunita.20&0.
*enuntun +iet. +) Gramedia +ustaka .tama. Iakarta
(risman, 6-. 2009.
Gii dalam +aur )ehidupan. -uku (#ar *lmu Gizi. Iakarta. -uku
edokteran
(z"ar, (. 2009.
)ecenderungan 'asalah Gii dan ,antangan di 'asa +atang,
disampaikan pada pertemuan ad!okasi program perbaikan gizi menu#u
eluarga Sadar Gizi, di 7otel Sahid Iaya,Iakarta.
-adan +enelitian dan +engembangan esehatan. 20&'.
-iset )esehatan +asar .-is!esdas /0112. ementerian esehatan
Aepublik *ndonesia. Iakarta
-adan +enelitian dan +engembangan esehatan. 20&0.
-iset )esehatan +asar .-is!esdas /0102, ementerian esehatan
Aepublik *ndonesia. Iakarta
-ali"ati, G. 2.2009.
*engantar *angan dan Gii 3eta!an I. +enerbit S"adaya. Iakarta
-udiman, 7 dan /any $#aya.
Status Gii dan *ola 'a!an )elompo! 4an"ut Usia di +)I 5a!arta.
6a#alah esehatan +erkotaan. +usat +enelitian esehatan .ni!ersitas
atolik (tma Iaya. $esember,2008%&2.
$armo#o, -oedhi dan 7adi 6artono. 200B#
(u!u 6"ar Geriatri, Ilmu )esehatan Usia 4an"ut, Iakarta. 2akultas
edokteran. .ni!ersitas *ndonesia.
$epartemen esehatan ($epkes) A*. &33:#
*edoman *embinaan )esehatan Usia 4an"ut. $epartemen esehatan A*.
Iakarta.
$epkes A*. 200&.
*edoman *embinaan )esehatan Usia 4an"ut (agi *etugas )esehatan#
(u!u II. $epartemen esehatan A*. Iakarta
$epartemen esehatan A*. 2002.
*edoman *ra!tis *emantauan Status Gii 7rang +ewasa. Iakarta % $ir#en
-ina Gizi 6asyarakat
$epartemen esehatan A.*. 200'.
*edoman ,atala!sana Gii Usia 4an"ut untu! ,enaga )esehatan .
$irektorat Ienderal -ina esehatan 6asyarakat. Iakarta
$epkes A*. 2003.
Sistem !esehatan nasional. Iakarta.
$inas esehatan +ropinsi Aiau. 2003.
*rofil )esehatan *ropinsi -iau ,ahun /009. Aiau
1fendi, 2. 2003#
)eperawatan )omunitas ,eori dan *ra!ti! dalam )eperawatan usia
lan"ut . Iakarta% Salemba 6edika
2atmah. 20&0.
Gii Usia 4an"ut# 1rlangga. Iakarta
2erdous, et al. 20&'.
Severit& of diarrhea and malnutrition among under five8&ear8old children
in rural bangladesh. (merican Iournal of )ropical 6edicine and 7ygiene.
43(2), 22'-224.
Gibson, A.S. &333.
*rinciple nutritional assessment. ,Jford .ni!ersity +ress % /e" Gork.
Gunarsa. S. $. 2009#
+ari 6na! Sampai Usia 4an"ut% -unga Aampai +sikologi (nak. -+
Gunung 6ulia.
7andayani, ;ina dkk. 2004.
9valuasi *rogram *emberian 'a!anan ,ambahan 6na! (alita# 5urnal
'ana"emen *ela&anan )esehatan# <ol && /o & hal 2&-2B
6ul#ati S. &339.
:idup Sehat *ada Usia 4an"ut. 6edia ;itbang es. <ol *<. /o. 0'.
6aryam, AS, 6ia 2atma 1kasari ,dkk. 2004.
'engenal Usia 4an"ut dan *erawatann&a. Iakarta. Salemba 6edika.
6aryam, Siti dkk. 20&0.
6suhan )eperawatan *ada 4ansia.Iakarta % )rans *nfo 6edika
/asution 6./, 2008.
-eformasi (iro!rasi: *ening!atan mutu pela&anan publi!. .ni!ersitas
$iponegoro. Semarang
/asoetion (, -ria"an $.&33'.
'a!anan (ergii )elompo! Usia 4an"ut -ogor. *nstitut +ertanian -ogor.
+otter K +erry. 2008.
(u!u 6"ar $undamental )eperawatan. 1disi 9. 1G0. Iakarta
+rasetyo, -ambang. 200:.
'etode *enelitian )untitatif# +) Aa#a Grafindo +ersada. Iakarta
Aiyadi, 7. 200'.
*enilaian Gii secara 6ntropometri. -ogor. 2akultas +ertanian. *nstitut
+ertanian.
Aid"an. 2009.
Statisti!a Untu! 4embaga dan Instansi *emerintah; Swasta. (lfabeta.
-andung.
Aukiyah, (i Geyeh K ;iaGulianti. 20&0.
6suhan)ebidanan I< .*atologi)ebidanan2. )rans *nfo 6edia. Iakarta
Saifuddin, (-, 200B.
(u!u 6cuan Nasional *ela&anan )esehatan 'aternal dan Neonatal.
Gayasan +ustaka Sar"ono +ra"irohard#o. Iakartaar
Sanyoto, $idik $"i, dkk. 2009.
Gambaran Status Gii 'as&ara!at di +aerah *enambangan Intan
)elurahan Sungai ,iung )ecamatan 3empa!a# 5urnal )edo!teran dan
)esehatan <ol = no 1 hal >08>? tahun /00@#
Satoto, dkk. &334.
)egemu!an, 7besitas dan *en&a!it +egeneratif 9pidemiologi dan
Strategi *enanggulangan, +alam Aid&a!ar&a *angan dan Gii <I#
;embaga *lmu +engetahuan *ndonesia. Iakarta
Sediaoetama, (. $. 2000.
Ilmu gii untu! mahasiswa dan profesi "ilid I. $ian Aakyat. Iakarta
Supariasa, *.$, -achyar -akri, K *bnu 2a#ar. 2002.
*enilaian Status Gii. 1G0 . Iakarta
(gustina, ;. 200:.
:ubungan s!or mini nutritional assessment .mna2 dengan albumin serum
pasien usia lan"ut di bangsal geriatri rumah sa!it dr !ariadi semarang,
diakses pada tanggal : September 20&&,
Chttp%>>eprints.undip.ac.id>2B&0'>F.
-+S.go.id. 20&&.
+ata statisti! lansia tahun /011. $iakses tanggal &4 September 20&9
$i6aria-Ghalili, Aose (nn +h$, A/. 2003.
:ow to tr& this the mini nutritional assessment, diakses pada tanggal B
September 20&&, http%>>#ournals.l"".com>a#nonline
7ardini, A( Sri. 2008.
:ubungan status gii .mini nutritional assessment2 dengan outcome hasil
perawatan penderita di divisi geriatri rumah sa!it do!ter !ariadi
Semarang, diakses pada tanggal : September 20&&,
http%>>eprints.undip.ac.id>&80''>
=ulandari, A. 20&0.
-isi!o 'alnutrisi (erdasar!an 'ini Nutritional 6ssessment ,er!ait
dengan )adar :emoglobin *asien 4ansia, diakses pada tanggal :
September 20&&, Chttp%>>eprints.undip.ac.id>2943&>F.