Anda di halaman 1dari 14

1

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar belakang
Merkuri adalah suatu senyawa kimiawi toksik yang menjadi perhatian global karena
menimbulkan bahaya yang signifikan terhadap kesehatan manusia, satwa dan ekosistem.
Ketika dilepas ke lingkungan, merkuri bergerak mengikuti aliran udara dan jatuh kembali ke
bumi, kadang kala dekat dengan sumber asalnya dan terkadang jauh dari sumbernya.
Merkuri dapat meresap melalui tanah lalu bergerak ke saluran-saluran, sungai-sungai,
danau-danau dan samudra serta dapat berpindah mengikuti arus laut dan hewan-hewan yang
bermigrasi.
Ketika memasuki lingkungan akuatik, merkuri dapat ditransformasi oleh mikro-organisma
menjadi senyawa yang lebih toksik, methylmercury. Dalam bentuk methylmercury, merkuri
memasuki rantai makanan, terakumulasi dan terkonsentrasikan, dimulai dari organisme
akuatik termasuk ikan dan kerang, lalu pada burung, mamalia, dan manusia yang berada di
ujung akhir rantai makanan. Di beberapa spesies ikan, konsentrasi methylmercury bisa
mencapai satu juta kali lipat lebih besar daripada konsentrasi dalam air tempat ikan itu
berada.
Sepertiga dari merkuri yang masuk ke dalam lingkungan berasal dari sumber alami seperti
gunung berapi. Sisanya sebanyak dua-per-tiga berasal dari aktivitas manusia.2 Sejak awal
era industrialisasi, jumlah total merkuri yang berada di atmosfir, tanah, danau, sungai dan
laut telah meningkat, menjadi dua sampai empat kali lebih banyak.3 Tingkat merkuri di
lingkungan yang jauh lebih tinggi dari yang alami ini akan mengganggu keseimbangan
ekosistem dan dapat membahayakan kesehatan manusia di seluruh dunia.
Merkuri, terutama dalam bentuk methylmercury, sangat beracun untuk manusia. Embrio
manusia, janin, balita, dan anak-anak sangat rentan karena merkuri mengganggu
perkembangan syaraf. Ketika seorang ibu hamil atau seorang wanita dalam usia produktif
memakan makanan yang terkontaminasi dengan methylmercury, zat beracun mengalir
melalui plasenta dan terpapar ke janin. Studi menunjukkan bahwa konsentrasi
methylmercury dalam janin lebih tinggi dibandingkan konsentrasi di dalam tubuh sang ibu.
Ada beberapa sumber pencemaran merkuri terhadap lingkungan, beberapa diantaranya dari
produk-produk dan peralatan yang mengandung merkuri, pabrik-pabrik, proses industri,
aktivitas pertambangan, pemurnian logam, pembakaran batu bara, proses teknologi
pembakaran sampah dengan insinerator, cement kiln, timbunan sampah di tempat
pembuangan akhir, lahan yang terkontaminasi, krematorium, dan lain-lain.
Dengan berkembangnya pengetahuan tentang merkuri di bidang kesehatan dan ilmiah serta
semua efek bahayanya terhadap kesehatan manusia dan ekosistem, saat ini sebuah perjanjian
internasional dibutuhkan untuk mulai mengurangi dan menghapuskan merkuri dari aktifitas-
aktifitas manusia.
Karena merkuri dapat melintasi jarak yang jauh di lingkungan dan juga diperdagangkan
secara global, tidak ada suatu negara ataupun daerah yang bisa bertindak sendiri untuk
melindungi masyarakatnya dan lingkungannya dari bahaya pencemaran merkuri.
Negara-negara berkembang bisa sangat terpengaruh karena mereka tidak memiliki
kompetensi untuk mengatur produk-produk yang mengandung merkuri, surplus merkuri dan

2

limbah merkuri yang masuk ke negara mereka melalui perdagangan. Selain itu, mereka juga
mungkin tidak memiliki kompetensi untuk mengelola limbah merkuri dan untuk
meremediasi lahan-lahan yang tercemari oleh merkuri dengan cara-cara yang baik dan
benar.
1.2 Tujuan penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah :
a. Memberi gambaran tentang berbagai macam dampak limbah B3 khususnya Merkuri
terhadap lingkungan dan Masyarakat.
b. Mengetahui upaya-upaya pemerintah global yang dilakukan dalam rangka pengurangan
dan penghapusan sumber-sumber merkuri.
1.3 Manfaat penulisan
Dengan adanya karya tulis ini diharapkan pembaca mapu :
a. Memahami dampak limbah merkuri terhadap lingkungan
b. Melakukan sikap antisipasi terhadap resiko pencemaran lingkungan akibat limbah
merkuri
c. Melakukan upaya pencegahan dengan mengurangi aktivitas fisik yang menyebabkan
pencemaran lingkungan akibat limbah merkuri
d. Mendorong kontribusi pemerintah nasional dalam upaya pengurangan dan penghapusan
sumber-sumber merkuri sebagaimana yang dilakukan oleh pemerintah global.




















3

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 LIMBAH BAHAN BAHAYA BERACUN (B3)
2.1.1 Pengertian Limbah B3
Secara umum yang disebut limbah adalah bahan sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan
dan proses produksi, baik pada skala rumah tangga, industri, pertambangan dan
sebagainya. Bentuk limbah tersebut dapat berupa gas dan debu, cair atau padat. Di antara
berbagai jenis limbah ini ada yang bersifat beracun atau berbahaya dan dikenal sebagai
limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).
Definisi dari limbah B3 berdasarkan BAPEDAL (1995) ialah setiap bahan sisa (limbah)
suatu kegiatan proses produksi yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3)
karena sifat (toxicity, flammability, reactivity, dan corrosivity) serta konsentrasi atau
jumlahnya yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak,
mencemarkan lingkungan, atau membahayakan kesehatan manusia. Contoh limbah B3
ialah logam berat seperti Al, Cr, Cd, Cu, Fe, Pb, Mn, Hg, dan Zn serta zat kimia seperti
pestisida, sianida, sulfide, fenol dan sebagainya.
2.1.2 Macam macam B3 berdasarkan sifatnya
Diidentifikasi sebagai limbah B3 apabila setelah melalui pengujian memiliki salah satu
atau lebih karakteristik sebagai berikut :
a. Limbah Mudah terbakar
adalah limbah yang bila berdekatan dengan api, percikan api, gesekan atau sumber
nyala lain akan mudah menyala atau terbakar dan bila telah menyala akan terus
terbakar hebat dalam waktu lama.
b. Limbah mudah meledak
adalah limbah yang melalui reaksi kimia dapat menghasilkan gas dengan suhu dan
tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan.
c. Limbah reaktif
adalah limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepaskan atau menerima
oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi.
d. Limbah beracun
adalah limbah yang mengandung racun yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan.
Limbah B3 dapat menimbulkan kematian atau sakit bila masuk ke dalam tubuh
melalui pernapasan, kulit atau mulut.
e. Limbah infeksius
adalah limbah laboratorium yang terinfeksi penyakit atau limbah yang mengandung
kuman penyakit, seperti bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan tubuh
manusia yang terkena infeksi.
2.1.3 Peraturan mengenai Limbah B3
Berikut kebijakan pemerintah baik dari pemerintah nasional maupun pemerintah global
dalam upaya pengelolaan limbah B3 :


4

a. UU PPLH
b. Ordonansi Bahan Berbahaya Stb. 1949/377
c. PP 7/1973 tentang Pengawasan atas Peredaran, Penyimpanan,& Penggunaan Pestisida
d. PP 18/1999 jo. PP 85/1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya& Beracun
e. PP 74/2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya & Beracun
f. International POPs Elimination Network (IPEN)
g. Convention for the Prevention of Pollution from Ships 1973 (MARPOL)
h. Convention on the Control of Transboundary Movement of Hazardous Wastes and
Their Disposal 1989 (Basel)
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1999 tentang pengelolaan limbah B3
disebutkan bahwa daftar limbah dari jenis Proses Kloro Alkali dengan kode limbah
D203 antara lain logam berat terutama merkuri (Hg) dan hidrokarbon terhalogenasi.
2.2 LIMBAH MERKURI (Hg)
2.2.1 Sumber bahan dan penggunaanya
Merkuri (air raksa, Hg) adalah salah satu jenis logam yang banyak ditemukan di alam dan
tersebar dalam batu - batuan, biji tambang, tanah, air dan udara sebagai senyawa
anorganik dan organik.Umumnya kadar dalam tanah, air dan udara relatif rendah.
Berbagai jenis aktivitas manusia dapat meningkatkan kadar ini, misalnya aktivitas
penambangan yang dapat menghasilkan merkuri sebanyak 10.000 ton / tahun. Pekerja
yang mengalami pemaparan terus menerus terhadap kadar 0,05 Hg mg / m3 udara
menunjukkan gejala nonspesifik berupa neurastenia, sedangkan pada kadar 0,1 0,2
mg/m3 menyebabkan tremor. Dosis fatal garam merkuri adalah 1 gr.
2.2.2 Sifat kimia fisikanya
Merkuri merupakan logam yang dalam keadaan normal berbentuk cairan berwarna abu-
abu, tidak berbau dengan berat molekul 200,59. Tidak larut dalam air, alkohol, eter, asam
hidroklorida, hidrogen bromida dan hidrogen iodide; Larut dalam asam nitrat, asam
sulfurik panas dan lipid. Tidak tercampurkan dengan oksidator, halogen, bahan-bahan
yang mudah terbakar, logam, asam, logam carbide dan amine.
Toksisitas merkuri berbeda sesuai bentuk kimianya, misalnya merkuri inorganik bersifat
toksik pada ginjal, sedangkan merkuri organik seperti metil merkuri bersifat toksis pada
sistim syaraf pusat.
Dikenal 3 bentuk merkuri, yaitu:
a. Merkuri Elemental (Hg)
terdapat dalam gelas termometer, tensimeter air raksa, amalgam gigi, alat elektrik,
batu batere dan cat. Juga digunakan sebagai katalisator dalam produksi soda kaustik
dan desinfektan serta untuk produksi klorin dari sodium klorida.
b. Merkuri anorganik : dalam bentuk Hg
++
(Mercuric) dan Hg
+
(Mercurous) misalnya :
Merkuri klorida (HgCl2) termasuk bentuk Hg inorganik yang sangat toksik,
kaustik dan digunakan sebagai desinfektan
Mercurous chloride (HgCl) yang digunakan untuk teething powder dan laksansia
(calomel) Mercurous fulminate yang bersifat mudah terbakar.


5

c. Merkuri organik : antara lain terdapat dalam beberapa bentuk. :
Metil merkuri dan etil merkuri yang keduanya termasuk bentuk alkil rantai
pendek dijumpai sebagai kontaminan logam di lingkungan. Misalnya memakan
ikan yang tercemar zat tsb.dapat menyebabkan gangguan neurologis dan
kongenital.
Merkuri dalam bentuk alkil dan aryl rantai panjang dijumpai sebagai antiseptik
dan fungisida.
2.2.3 Bahaya utama terhadap kesehatan
a. Merkuri Elemental (Hg)
Inhalasi : paling sering menyebabkan keracunan
Tertelan ternyata tidak menyebabkan efek toksik karena absorpsinya yang rendah
kecuali jika ada fistula atau penyakit inflamasi gastrointestinal atau jika merkuri
tersimpan untuk waktu lama di saluran gastrointestinal.
Intravena dapat menyebabkan emboli paru.
Karena bersifat larut dalam lemak, bentuk merkuri ini mudah melalui sawar otak dan
plasenta. Di otak ia akan berakumulasi di korteks cerebrum dan cerebellum dimana
ia akan teroksidasi menjadi bentuk merkurik (Hg++ ) ion merkurik ini akan berikatan
dengan sulfhidril dari protein enzim dan protein seluler sehingga menggangu fungsi
enzim dan transport sel. Pemanasan logam merkuri membentuk uap merkuri oksida
yang bersifat korosif pada kulit, selaput mukosa mata, mulut, dan saluran pernafasan.
b. Merkuri anorganik
Sering diabsorpsi melalui gastrointestinal, paru-paru dan kulit. Pemaparan akut dan
kadar tinggi dapat menyebabkan gagal ginjal sedangkan pada pemaparan kronis
dengan dosis rendah dapat menyebabkan proteinuri, sindroma nefrotik dan nefropati
yang berhubungan dengan gangguan imunologis.
c. Merkuri organik
terutama bentuk rantai pendek alkil (metil merkuri) dapat menimbulkan degenerasi
neuron di korteks cerebri dan cerebellum dan mengakibatkan parestesi distal, ataksia,
disartria, tuli dan penyempitan lapang pandang. Metil merkuri mudah pula melalui
plasenta dan berakumulasi dalam fetus yang mengakibatkan kematian dalam
kandungan dan cerebral palsy.











6

BAB III
ISI

3. 1 BERBAGAI FAKTA DAN PENELITIAN TENTANG DAMPAK LIMBAH
MERKURI
3.1.1 KASUS PENYAKIT "KUCING MENARI" DI MINAMATA
Pada tahun 1932, Chisso Chemical Corporation membuka pabrik pupuk kimia di Minamata
(terletak di pulau Kyushu, Jepang Selatan). Penduduk di sekitarnya adalah nelayan atau
petani. Chisso mempekerjakan penduduk setempat (sekitar 1/3 tenaga pekerjanya), sehingga
tidak menimbulkan masalah sosial pada awal pendiriannya.
Kasus Minamata ini terkenal di dunia bila membicarakan masalah industri, limbah dan
kesehatan masyarakat, yang terungkap setelah sekitar 600 ton merkuri, yang digunakan
sebagai katalis dalam prosesnya, dibuang secara bertahap sekitar 45 tahun. Merkuri didapat
di alam, merupakan logam warna putih-perak, termasuk logam berat, dan berada fasa cair
pada suhu biasa, dan biasanya digunakan sebagai katalis. Pada tahun 1714 Gabriel
Fahrenheit menggunakan merkuri ini untuk termometer.
Mikroorganisme dalam air mengkonversi logam ini menjadi methylmercure, dengan
prakiraan 70 - 100 tahun akan persistan di alam. Merkuri alamiah dapat dievakuasi oleh
tubuh manusia secepatnya melalui urin, sedang mercuri organik bersifat biokumulasi, yang
dapat menyerang syaraf dan otak.
Sinyal pertama kasus ini datang pada tahun 1950, yaitu sejumlah ikan mati tanpa diketahui
sebabnya. Tahun 1952 timbul penyakit aneh pada kucing yang kadangkala berakhir dengan
kematian. Antara tahun 1953 - 1956 gejala yang dikenal sebagai "kucing menari" ditemui
pula pada manusia. Beberapa diantaranya meninggal dunia. Tetapi Chisso paada awalnya
belum dicurigai sebagai penyebab, hanya diketahui bahwa korban mengalami keracunan
akibat memakan ikan yang berasal dari laut sekitar pabrik itu. Chisso kemudian
mengeluarkan daftar bahan yang digunakan dalam pabriknya, tetapi tidak tercantum merkuri
dalam daftar tersebut, walaupun diketahui bahwa merkuri digunakan sebagai katalis proses
dari pabrik tersebut. Penelitian penyebab penyakit tersebut secara intensif dilakukan oleh
pemerintah. Asosiasi industri kimia Jepang juga membantu Chisso dalam melacak masalah
ini dengan melakukan penelitian-penelitian, tetapi tidak mendapatkan hasil memuaskan.
Pencemaran mercuri tetap berlanjut. Kasus penyakit ini juga terus berlanjut, dan terutama
menyerang anak-anak. Tahun 1956 masyarakat sekitarnya mengadakan aksi menentang
keberadaan Chisso. Chisso memberikan santunan pada korban dan yang meninggal, tanpa
mengetahui penyebab masalah ini. Kasus ini lama kelamaan terungkap, karena korban
umumnya mengandung merkuri yang berlebihan pada tubuhnya. Tahun 1976 sekitar 120
penduduk Minamata meninggal karena keracunan merkuri dan 800 orang menderita sakit.
Tahun 1978, 8100 penduduk mengklaim hal ini, dan 1500 diantaranya yang diperiksa
diketahui keracunan merkuri. Akhirnya pembuangan merkuri dihentikan dengan ditutupnya
pabrik tersebut, dan pemerintah menyatakan bahwa Chisso adalah penanggung jawab
penyakit yang berjangkit di Minamata. 22 Maret 1979 dua pemimpin Chisso , yang pada
saat itu telah berumur 77 tahun dan 68 tahun, dihukum masing-masing 2 tahun dan 3 tahun
penjara. Disamping itu, korban kasus ini menerima santunan yang dibebankan pada Chisso.



7

3.1.2 VALUASI EKONOMI EKSTERNALITAS PENGGUNAAN MERKURI
PADA PERTAMBANGAN EMAS RAKYAT DAN PERAN PEMERINTAH
DAERAH MENGATASI PENCEMARAN MERKURI : Studi Kasus Pertambangan
Emas Rakyat di Kecamatan Kokap Kulon Progo (oleh : Rininta Larasati,Prabang
Setyono,Kusno Adi Sambowo, 2012)
Penggunaan merkuri (Hg) pada pertambangan emas rakyat di kecamatan Kokap terbukti
telah mengkontaminasi lingkungan. Hal ini disebabkan oleh pembuangan tailing atau limbah
yang tanpa melalui proses pengolahan terlebih dahulu. Umumnya penambang menolak
menggunakan instalasi pengolahan limbah dikarenakan biaya operasional yang cukup besar.
Penelitian ini melakukan valuasi pencemaran merkuri serta manfaat dan biaya usaha
penambangan emas rakyat tersebut dengan dan tanpa alat penangkap merkuri. Selengkapnya
penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui nilai eksternalitas akibat penggunaan merkuri
dan kelayakan usaha pertambangan emas di Kokap Kulon Progo,2) Mengetahui peran
pemerintah daerah dalam mengatasi dampak merugikan akibat pencemaran merkuri dari
pertambangan emas rakyat, 3) Menemukan faktor penghambat dalam menertibkan
pertambangan emas rakyat dan merekomendasikan solusinya.
Nilai eksternalitas divaluasi menggunakan metode biaya pengganti dan biaya pemulihan,
sedangkan peran pemerintah dianalisis dengan indikator pendekatan hukum lingkungan,
produk hukum daerah, dan peran instansi daerah.
Hasil penelitian nilai eksternalitas dengan metode biaya pengganti air PDAM menunjukkan
bahwa perkiraan rata-rata kerugian per rumah tangga yang airnya tercemar Hg adalah
561.100 per tahun. Sedangkan perkiraan biaya pemulihan dengan menggunakan metode in
situ adalah Rp. 5.332.428.000. Dari hasil analisis terdapat 3 dari 5 usaha penambangan emas
rakyat menggunakan alat penangkap merkuri menjadi tidak layak karena NPV dan B/C rasio
< 1. Peran pemerintah daerah dalam penegakan hukum lingkungan, kelengkapan produk
hukum daerah masih lemah. Sedangkan peran instansi daerah (KLH dan Disperindag dan
ESDM) dalam hal pembinaan dan sosialisasi, serta pengawasan dan pemantauan dari hasil
pengisian kuisioner hasilnya baik, hanya saja pada kenyataannya tidak disertai dengan
tindakan tegas kepada para penambang yang melanggar. Faktor penghambat dalam
menertibkan pertambangan emas rakyat di Kokap antara lain belum ditetapkannya wilayah
Kokap sebagai Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR), kurangnya kesadaran penambang
tentang bahaya merkuri, dan tidak adanya tindakan tegas dari pemda terhadap pelaku
pencemaran.
3.1.3 KAJIAN BEBAN PENCEMARAN MERKURI (Hg) TERHADAP AIR
SUNGAI MENYUKE DAN GANGGUAN KESEHATAN PADA PENAMBANG
SEBAGAI AKIBAT PENAMBANGAN EMAS TANPA IZIN (PETI) DI
KECAMATAN MENYUKE KABUPATEN LANDAK KALIMANTAN BARAT ( oleh
: Sunbari, 2008)
Bahan logam merkuri dalam Pertambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) di perairan Sungai
Menyuike Kabupaten Landak Kalimantan Barat dapat menimbulkan keluhan gangguan
kesehatan terhadap penambang emas dan masyarakat sekitar lokasi PETI yang
mengkonsumsi air Sungai Menyuke dan ikan sebagai kebutuhan sehari-hari. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui beban dan dampak yang diakibatkan oleh pencemaran limbah
merkuri (Hg) terhadap penambagn dan masyarakat serta kadar Hg air Sungai di Lingkungan
disekitar aliran Sungai Menyuke.Titik pengambilan sampel air Sungai Menyuke pada desa
Untang, Betung, Pallah termasuk dalam jenis aliran Laminer, sedangkan pada desa songga,
Ansang, Pemantas dan desa Darit termasuk dalam jenis aliran turbulen.

8

Hasil observasi dan wawancara dengan masyarakat di lapangan menunjukkan banyak
keluhan gangguan kesehatan pada penambang emas tanpa izin disekitar Sungai Menyuke
Kabupaten Landak Kalimantan Barat. Berdasarkan catatan medis puskesmas, wawancara
dan kuesioner. Di dapatkan gejala keracunan merkury penelitian sebanyak 60 orang. Kadar
merkuri air dan sedimen diukur dengan alat Cold Vapor Atomic Absorption
Spectrophotometry (CV-AAS) di laboratorium Kesehatan Provinss Kalimanta Barat.
3.1.4 KAJIAN PENCEMARAN MERKURI AKIBAT PENGOLAHAN BIJIH
EMAS DI SUNGAI CIKANIKI SUB. OAS CISAOANE, BOGOR (oleh : Muhammad
Suhaemi Syawal, Yustiawati, 2003)
Salah satu sungai yang mengalami penurunan kualitas air adalah sungai cikanik, yang
mengalir kesungai cianten dan bermuara di sungai cisadane. Sungai ini terletak di kecamatan
Nanggun, kabupaten Bogor. Beberapa kegiatan yang berdampak buruk terjadi pada ruas
hulu sungai tersebut. Kegiatan tersebut antara lain berupa penambangan emas tanpa ijin (
PETI) yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Penambangan emas liar ini
menimbulkan terjadinya erosi, pendangkalan, serta masuknya logam merkuri (Hg) dari
proses pengolahan bijih emas ke badan sungai. Proses-proses tersebut sangat berpengaruh
pada kualitas air sungai yang selama ini digunakan sebagai tempat mandi dan mencuci bagi
penduduk sekitamya.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas fisika-kimia air
di badan sungai, tingkat pencemarannya, sumber atau lokasi pencemaran yang potensial.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai Oktober 2003, dengan mengumpulkan dan
menganalisis parameter kimia dan fisika dalam empat kali pengamatan dan pada waktu yang
berbeda di Sungai Cikaniki. Parameter primer yang dianalisis adalah pH, DO, COO, NH3-N
dan logam-Iogam Merkuri (T-Hg), Timbal (Pb) serta Kadmium (Cd) dengan menggunakan
metode standar APHA AWWA (2000). Oisamping itu dilakukan pula pengukuran parameter
pendukung seperti kecepatan arus, kekeruhan, suhu dan konduktifitas. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa di Sungai Cikaniki sebagian besar parameter kualitas air masih
memiliki nilai yang berada dibawah nilai yang diperbolehkan menurut standar baku mutu
pada PP NO. 82 tahun 2001. Beberapa parameter lain menunjukkan nilai diatas batas
maksimum seperti konsentrasi BOD (0,97 - 4,49 mg/L), COD (8,78 - 59,43 mg/L), NH3-N
(0,001 - 0,086 mg/L) dan telah terjadi pencemaran terhadap logam Merkuri (T-Hg) (0,0023 -
0,1743 mg/L). Kesimpulan yang diperoleh dari hasil
Hasil menunjukkan bahwa telah terjadi pencemaran di setiap titik pengamatan dan waktu
pengamatan oleh limbah BOD, COD, NH3-N dan Merkuri (T-Hg). Merkuri mempunyai
konsentrasi rata-rata 35 kali diatas batas maksimum yang telah ditetapkan untuk Kelas III
(0,002 mg/L) dan Kelas IV (0.005 mg/L). Berdasarkan hasil yang diperoleh maka dapat
diketahui parameter yang keberadaannya harus segera diwaspadai dan perlu ditindaklanjuti
sesegera mungkin untuk mengatasi pencemaran. Khususnya dampak yang ditimbulkan oleh
pencemaran logam Merkuri yang mempunyai nilai dan pengaruh buruk terhadap lingkungan
di sekitamya.
3.1.5 PAJANAN MERKURI (Hg) PADA MASYARAKAT DI KELURAHAN
POBOYA KOTA PALU SULAWESI TENGAH (oleh : Muh. Ikhsan Albasar, Anwar
Daud, Ida Leida Maria, 2013)
Merkuri dalam kegiatan penambangan emas digunakan untuk pengikat dan dapat menjadi
polutan di lingkungan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pajanan merkuri (Hg) terhadap
konsentrasi Hg dalam urine pada masyarakat di Kelurahan Poboya Kota Palu Sulawesi
Tengah berdasarkan konsentrasi Hg dalam air minum, konsentrasi Hg dalam urin, dan
hubungan faktor pajanan dengan konsentrasi Hg dalam urine (lama tinggal, jenis pekerjaan,
status gizi dan jarak tempat tinggal). Penelitian ini merupakan penelitian observasional

9

dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambil sebanyak 100 orang berdasarkan kriteria
inklusi yang telah ditentukan dan sumber air minum yang digunakan. Pengumpulan data
dilakukan melalui observasi, pemeriksaan laboratorium dan kuesioner, serta dianalisis secara
deskriptif dan analisis bivariat (chi-square). Hasil penelitian menunjukan bahwa konsentrasi
Hg air minum antara 0,001 0,003 mg/L dengan rata-rata 0,002 mg/L sedangkan
konsentrasi Hg urine pada masyarakat antara 0,1165 7,3135 g/L dengan rata-rata 1,1762
g/L.
Hasil analitik menunjukkan tidak ada hubungan antara konsentrasi Hg dalam air minum
(p=0,597), lama tinggal (p=0,245), jenis pekerjaan (p=0,662), status gizi (p=0,662) dan jarak
tempat tinggal (p=1,000) terhadap konsentrasi Hg dalam urine pada masyarakat. Hal ini
dimungkinkan karena aktifitas penambangan baru beroperasi yaitu lima tahun, bentuk dan
jenis merkuri, jalur masuk dalam tubuh serta lamanya pajanan.
Konsentrasi Hg dalam tubuh berpotensi meningkat sesuai sifat dari Hg yang dapat
terakumulasi dalam tubuh sejalan dengan kegiatan penambangan, sehingga perlu
pemeriksaan albumin pada responden dengan kadar Hg urine tidak normal untuk
mengetahui fungsi ginjalnya, penerbitan regulasi oleh pemerintah kota, tidak mengkonsumsi
air yang berasal dari mata air dan air sungai serta menggunakan masker jika akan
beraktifitas di luar rumah dalam waktu yang lama untuk mencegah pajanan Hg di udara.
3.1.6 PENYEBARAN MERKURI AKIBAT USAHA PERTAMBANGAN EMAS
DI DAERAH SANGON, KABUPATEN KULON PROGO, D.I. YOGYAKARTA ( oleh
: Bambang Tjahjono Setiabudi, 2005 )
Inventarisasi sebaran merkuri di wilayah usaha pertambangan emas rakyat yang dilakukan di
Daerah Sangon bertujuan untuk meneliti kemungkinan perubahan kualitas lingkungan. Hasil
analisis conto air menunjukkan tidak terdeteksi adanya kontaminasi merkuri dan logam berat
ainnya dalam air permukaan. Meskipun demikian pengolahan emas dengan cara amalgamasi
telah menyebabkan kontaminasi pada sedimen sungai, dimana kadar Hg, Pb, Zn, As dan Cd
menunjukkan nilai yang sangat tinggi dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dan
berbahaya bagi kesehatan masyarakat di sekitar lokasi penambangan. Hasil analisis conto
tanah menunjukkan kadar merkuri yang sangat tinggi >50 ppm Hg. Demikian pula dengan
conto tailing yang semuanya menunjukkan nilai konsentrasi Hg yang sangat tinggi, yaitu
800 6900 ppm. Kenaikan konsentrasi merkuri dalam tailing berhubungan erat dengan
pemakaian merkuri dalam proses penggilingan bijih dengan gelundung. Selain itu material
tailing masih mengandung emas, perak dan logam berat lainnya dalam jumlah yang tinggi,
menunjukkan recovery pengolahan yang tidak optimal dan tidak dilakukannya penanganan
tailing secara baik. Penyebaran merkuri akibat usaha pertambangan emas rakyat di daerah
Sangon diperkirakan bersifat lokal, tetapi perlu mendapatkan perhatian untuk mencegah
dampak negatif yang lebih besar.
3.1.7 TOKSISITAS MERKURI (Hg) DAN TINGKAT KELANGSUNGAN
HIDUP, PERTUMBUHAN, GAMBARAN DARAH, DAN KERUSAKAN ORGAN
PADA IKAN NILA OREOCRHROMIS NI LOTI CUS ( Oleh : Kukuh Nirmala, Yuni
Puji Hastuti, dan Vika Yuniar)
Lingkungan perairan yang tercemar Logam berat Merkuri (Hg) tidak hanya di panta namun
juga di perairan sungai, yang airnya masih seering digunakansebagai sumber air pasok untuk
busisaya ikan, salah satunya ikan nila. Untuk itu perlu dilakukan penelitian tentang dampak
Hg terhadap ikan nila, tidak hanya dilihat dari keragaman produksinya saja, namun juga
dilihat dari hematologi dan histopstologi ikan nila. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menganallisis pengaruh merkuri terhadap tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan,
hematologi, dan hispatologi ikan nila. Penellitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai

10

Juni 2009. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan
empat perlakuan konsentrasi ( 0; 0,16; 0,5 dan 1,0 ppm ) dan tiga kali ulangan yang
dilakukan selama 30 hari. Kepadatan ikan nila sebagai ikan uji adalah 8 ekor/ akuarium
dengan bobot tubuh ikan rata-rata 15,701,13 g. Hasil menunjukkan bahwa laju
pertumbuhan ikan nila yang dipapar merkuri dengan konsentrasi 1,0 ppm sangat rendah
(0,47 %) dengan tingkat kelangsungan hidup 20, 83 %. Pada akhir penelitian, kadar sel
darah merah, hematokrit dan hemoglobin menurun secara nyata (p<0,05) jika dibandingkan
dengan kontrol. Sebaliknya kadar sel darah putih meningkat lebih nnyata pada ikan yang
diberi perlakuan merkuri. Kerusakan organ hati, insang dan ginjal mulai terlihat pada
paparan Hg sebesar 0,5 ppm. Penggunaan perairan umum yang tercemar limbah Hg dengan
konsentrasi 0,5 ppm atau lebih untuk sumber air pasok budidaya ikan nila akan menurunkan
produksi dan perlu diolah terlebih dahulu.
3. 2 PERJANJIAN GLOBAL TENTANG MERKURI
Ada beberapa peluang yang bisa dilakukan untuk mengurangi pencemaran merkuri secara
signifikan, yaitu dengan pengaturan jumlah merkuri yang digunakan dan dihasilkan selama
proses produksi lampu fluoresen dan dengan pengelolaan pembuangan produk-produk
tersebut di akhir masa penggunaan mereka dengan baik.
Dengan berkembangnya pengetahuan tentang merkuri di bidang kesehatan dan ilmiah serta
semua efek bahayanya terhadap kesehatan manusia dan ekosistem, saat ini sebuah perjanjian
internasional dibutuhkan untuk mulai mengurangi dan menghapuskan merkuri dari aktifitas-
aktifitas manusia.
Sebuah perjanjian internasional yang mengikat secara hukum diperlukan untuk
mengembangkan dan melaksanakan sebuah rencana aksi global yang adil dan merata yang
dapat mengatur dan mengurangi pencemaran merkuri secara efektif, menghambat
perdagangan merkuri yang tidak terkontrol, mengurangi, dengan tujuan untuk
menghapuskan manakala memungkinkan, produksi dan perdagangan produk-produk yang
mengandung merkuri, dan memulai langkah-langkah lain yang dibutuhkan untuk
memastikan tercapainya penurunan pencemaran merkuri di tingkat global secara signifikan.
International POPs Elimination Network (IPEN) adalah sebuah jaringan global organisasi-
organisasi kesehatan dan lingkungan dari ratusan negara. Jaringan ini awalnya didirikan
untuk mempromosikan negosiasi atas suatu perjanjian global untuk melindungi kesehatan
manusia dan lingkungan dari sekelompok senyawa kimiawi toksik yang disebut Polutan
Organik yang Persisten (Persistent Organic Pollutants/POPs) termasuk merkuri (Hg).
Selanjutnya, dengan diadopsinya Konvensi Stockholm tentang POPs tersebut oleh para
wakil pemerintahan negara, IPEN memperluas misi-misinya melebihi POPs dan saat ini
mendukung upaya-upaya lokal, nasional, regional dan internasional untuk melindungi
kesehatan dan lingkungan dari bahaya-bahaya yang disebabkan oleh paparan kimiawi
toksik.
Pada tahun 2009, pemerintah dari seluruh dunia sepakat untukmemulai proses negosiasi
untuk suatu perjanjian global tentang merkuri dengan target selesai pada tahun 2013. Setelah
berkonsultasi dan memperoleh masukan dari LSM-LSM dari seluruh dunia, IPEN sepakat
mengadopsi pernyataan kebijakan yang menjelaskan mengapa suatu perjanjian global
tentangmerkuri diperlukan dan mencerminkan visi masyarakat sipil terhadap perjanjian
tersebut.




11

Untuk melindungi kesehatan manusia dan ekosistem, perjanjian tersebut sebaiknya:
a. Harus, seperti tujuannya, melindungi kesehatan manusia, satwa, dan lingkungan dari
pencemaran merkuri dengan cara mengurangi sumber-sumber pencemaran merkuri dari
aktivitas manusia manakala memungkinkan
b. Mengenali khususnya kelompok-kelompok yang berisiko tinggi terkena dampak
merkuri seperti anak-anak, wanita usia produktif, masyarakat adat, komunitas Arctic,
penduduk kepulauan dan pantai, nelayan, penambang emas skala kecil, kelompok
miskin, pekerja, dan lain-lain
c. Memiliki cakupan yang luas dan menyentuh seluruh daur-hidup merkuri
d. Bertujuan untuk mengendalikan semua sumber merkuri dari semua aktifitas manusia
yang menghasilkan merkuri dengan jumlah signifikan
e. Memperkenalkan mekanisme pendanaan dengan sumber-sumber dana baru dan
tambahan yang memadai untuk memungkinkan negara-negara berkembang dan negara-
negara dalam transisi ekonomi untuk memenuhi kewajiban mereka dalam perjanjian,
tanpa mengganggu target penghapusan kemiskinan negara yang bersangkutan
f. Menerapkan tindakan-tindakan pengaturan yang bertujuan sedapat mungkin untuk
mengeliminasi, tergantung dari kemungkinan yang ada, menghapuskan semua produk
dan proses yang mengandung atau menggunakan merkuri berdasarkan waktu tertentu,
dan di antara periode itu, menetapkan standar dan kontrol untuk produk-produk dan
proses-proses yang tersisa
g. Mengurangi dan menekan permintaan komersial secara global terhadap merkuri
h. Mengurangi pasokan global merkuri dengan menutup pertambangan primer merkuri;
mewajibkan penyimpanan semua merkuri yang ada secara permanen, aman, dan
terawasi termasuk yang diperoleh dari pabrik chlor-alkali; dan membatasi perdagangan
merkuri yang dihasilkan dari sumber-sumber lainnya
i. Mengadakan suatu sistem pengawasan yang efektif dalam perdagangan internasional
untuk merkuri dan produk-produk yang mengandung merkuri
j. Mewajibkan solusi yang berpihak terhadap lingkungan dalam pengelolaan sampah yang
mengandung merkuri dan turunan senyawa-senyawa merkuri, termasuk langkah untuk
mencegah masuknya merkuri ke dalam sampah rumah tangga, sampah medis, dan
sampah industri
k. Melakukan remediasi dan reklamasi lahan-lahan yang sudah terkontaminasi oleh
merkuri
l. Mempercepat penghapusan penggunaan merkuri di sektor kesehatan
m. Mempromosikan alternatif-alternatif pengganti amalgam di klinik-klinik gigi dengan
tujuan akhir untuk menghapuskan praktik penggunaan amalgam
n. Melarang pestisida yang mengandung merkuri
o. Mempersiapkan Teknik-teknik Terbaik yang Tersedia (Best Available Techniques/BAT)
untuk pembangkit listrik yang menggunakan batu bara, proses cement kilns dan proses
pembakaran lainnya yang menghasilkan merkuri dengan target implementasinya,
dengan tujuan untuk menghapuskan proses-proses yang menghasilkan merkuri tersebut
ketika alternatif-alternatif pengganti lain yang memungkinkan dan terjangkau sudah
tersedia.

12

p. Mempromosikan sumber energi yang terbaharui dan energi alternatif lainnya sebagai
pengganti dari pembangkit listrik tenaga batu bara yang menghasilkan pemncemaran
merkuri ke lingkungan
q. Melembagakan langkah-langkah yang efektif untuk mengurangi dan menghilangkan,
manakala memungkinkan, penggunaan merkuri di pertambangan emas;
r. Mengurangi penggunaan merkuri di laboratorium-laboratorium, sekolah-sekolah dan
institusi-institusi lainnya; dan memasukkan informasi tentang bahaya racun merkuri dan
cara-cara yang tepat untuk menangani merkuri ke dalam kurikulum pelajaran sekolah
s. Melarang penggunaan-penggunaan baru merkuri
t. Mempromosikan penelitian dan pengembangan dalam produk dan proses alternatif
untuk menggantikan produk dan proses yang saat ini masih menggunakan merkuri,
dengan perhatian khusus terhadap kebutuhan dari negara-negara berkembang serta
negara-negara dalam transisi ekonomi.
Peran IPEN :
a. Memastikan bahwa negara-negara berkembang dan negara-negara dalam transisi
ekonomi tidak menjadi tempat pembuangan sampah-sampah merkuri dan sisa dari stok
merkuri
b. Menetapkan mekanisme-mekanisme untuk dan penguatan kompetensi serta transfer
teknologi
c. Meminta semua pihak untuk menetapkan dan melaksanakan Rencana Implementasi dari
Perjanjian ini di tingkat nasional atau regional; termasuk di dalam rencana tersebut
adalah inventarisasi pasokan merkuri, sumbernya, limbahnya, dan lahan-lahan yang
terkontaminasi
d. Memastikan bahwa masyarakat mempunyai peran yang aktif dalam pengembangan dan
pelaksanaan dari perjanjian merkuri, termasuk peluang untuk berpartisipasi dalam
pengembangan dan pelaksanaan dari Rencana Pelaksanaan di tingkat nasional atau
regional
e. Menetapkan mekanisme-mekanisme untuk memperbaiki, menyediakan dan pertukaran
pengetahuan serta informasi tentang:
Emisi merkuri, suplai, dan penggunaan merkuri;
Pemaparan merkuri terhadap manusia dan lingkungan;
Data pemantauan lingkungan;
Dampak sosial-ekonomi dari penggunaan, emisi, dan pengaturan merkuri; serta
Alternatif-alternatif penggunaan merkuri dalam produk-produk, proses-proses
maupun sumber-sumber lainnya.
f. Memastikan semua informasi ilmiah tentang merkuri diperbaharui secara berkala dan
disampaikan kepada publik dan masyarakat awam dengan akses yang mudah secara
cepat, dalam bentuk dan bahasa yang tepat
g. untuk membaharui secara berkala inventarisasi merkuri nasional mereka dan juga
laporan perkembangan pelaksanaan dari Rencana Implementasi tingkat Nasional atau
Regional dan kewajiban dari perjanjian
h. Menetapkan suatu mekanisme untuk mengevaluasi efektifitas dari perjanjian termasuk
pengawasan global merkuri di lingkungan dan manusia

13

i. Membentuk dan memelihara jaringan pemantauan ikan secara global untuk mengkaji
perkembangan dalam pengurangan jumlah merkuri yang beredar di lingkungan global
serta mengumpulkan informasi yang dibutuhkan untuk memungkinkan institusi
pemerintah di bidang kesehatan melaksanakan komunikasi yang efektif tentang resiko
mengkonsumsi ikan dan menyusun strategi penyebarannya kepada kelompok-kelompok
masyarakat yang mengkonsumsi ikan
j. Menetapkan ketentuan-ketentuan pemenuhan perjanjian yang efektif dan dapat
ditegakkan.






























14

BAB IV
PENUTUP

4. 1 KESIMPULAN
Merkuri adalah suatu senyawa kimiawi toksik yang menjadi perhatian global karena
menimbulkan bahaya yang signifikan terhadap kesehatan manusia, satwa dan
ekosistem.
Sebagian besar merkuri yang masuk kedalam lingkungan berasal dari aktivitas manusia.
beberapa sumber pencemaran merkuri terhadap lingkungan, beberapa diantaranya dari
produk-produk dan peralatan yang mengandung merkuri, pabrik-pabrik, proses industri,
aktivitas pertambangan, pemurnian logam, pembakaran batu bara, proses teknologi
pembakaran sampah dengan insinerator, cement kiln, timbunan sampah di tempat
pembuangan akhir, lahan yang terkontaminasi, krematorium, dan lain-lain.
Ada beberapa peluang yang bisa dilakukan untuk mengurangi pencemaran merkuri
secara signifikan, yaitu dengan pengaturan jumlah merkuri yang digunakan dan
dihasilkan selama proses produksi lampu fluoresen dan dengan pengelolaan
pembuangan produk-produk tersebut di akhir masa penggunaan mereka dengan baik.
International POPs Elimination Network (IPEN) adalah sebuah jaringan yang
merupakan bentuk perhatian pemerintah global untuk mengurangi dampak polutan
toksik termasuk merkuri terhadap lingkungan.
4. 2 SARAN
Pengurangan dan penghapusan sumber-sumber merkuri harus dilakukan dengan cepat,
tertata dan adil. Ketentuan-ketentuan sebaiknya diadopsi setelah suatu periode waktu
tertentu, tetapi sebaiknya tidak perlu terjadi penundaan yang tak diperlukan.
Selain itu diperlukan pula adanya sumber informasi untuk pemantauan lingkungan yang
ekstensif di semua daerah di seluruh dunia untuk menentukan dasar dan memperluas
penyebaran informasi yang relevan di tingkat regional.
Karena merkuri merupakan masalah global yang berdampak ke seluruh dunia, semua
negara memiliki peran penting, baik dalam negosiasi maupun implementasi dari
perjanjian global merkuri ini.
Semua negara termasuk Indonesia sepatutnya berpartisipasi dan berkontribusi dalam
implementasi perjanjian sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.