Anda di halaman 1dari 12

1

A. JUDUL PROGRAM
Program ini diberi nama SANTRILOKA Pemberdayaan Kader Kesehatan
Reproduksi Santri di Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya
B. LATAR BELAKANG MASALAH
Imbas dari perilaku seks bebas diketahui 2,3 juta wanita melakukan aborsi
setiap tahunnya, 20% diantaranya adalah remaja. Namun pada penelitian
Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) tahun 2005 terdapat 27%
permintaan aborsi aman dari remaja. Dari penelitian di kota-kota besar yang
ada di Indonesia sebanyak 40% menggunakan alat kontrasepsi dan 59% tidak
menggunakan. Kota Surabaya sudah masuk jaringan tiga kota terbesar setelah
Jakarta dan Bandung. Memang masa remaja merupakan masa transisi dari
anak-anak menuju dewasa, baik secara jasmani maupun rohani dalam
menemukan jati diri kedewasaan biologis dan psikologis yang cepat. Oleh
karena itu, usia remaja merupakan periode yang kritis karena masa remaja
banyak mengalami tantangan baik dari dalam maupun dari luar. Ketidaksiapan
remaja menghadapi perubahan yang terjadi akan menimbulkan kesulitan bagi
remaja (BKKBN, 2004). Salah satu masalah remaja yang paling peka adalah
permasalahan yang berkaitan dengan tingkat kematangan seksual. Pada masa
itu, remaja cenderung memiliki tingkat seksual yang tinggi sehubungan dengan
mulai matangnya hormon seksual dan organ-organ reproduksi. Hal ini
menyebabkan para remaja memiliki dorongan seksualitas yang tinggi sehingga
rentan terhadap rangsangan yang mengarah kepada terpuaskannya dorongan
seksual tersebut. Akibatnya banyak remaja yang terjerumus ke dalam perilaku
penyimpangan seksual, misalnya pemerkosaan, pornografi, hubungan bebas,
dan prilaku tak bermoral lainnya.
Santri merupakan sekelompok remaja yang tinggal dan belajar di pondok
pesantren. Selayaknya remaja lain, santri juga mengalami fase kematangan
seksual dalam pertambahan usianya, sehingga santri juga membutuhkan dan
berhak mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi yang benar. Pada
tahun 2007 pondok pesantren yang ada di Indonesia berjumlah 14.798, terdiri
dari 3.184 (21,5%) pondok pesantren salafi/salafiah (tradisional), 4.582
(31,0%) pondok pesantren khalafi/khalafiah (modern), dan pondok pesantren
terpadu/kombinasi sebanyak 7.032 (47,0%), dengan jumlah santri sebanyak
3.464.334 orang (Education Management Information System/EMIS, Depag
RI, 2004/2005). Santri yang berjumlah jutaan orang itu patut mendapat
perhatian sebagai komponen penting dalam masyarakat. Pondok pesantren
merupakan suatu bentuk kehidupan berkelompok yang aktivitasnya diatur oleh
pengasuh pondok pesantren tersebut. Pada umumnya pendidikan yang
dilaksanakan menitikberatkan pada ilmu-ilmu agama islam serta meningkatkan
kualitas wawasan kehidupan beragama bagi para santri melalui dakwah dan
pengajian. Pondok pesantren sebagai subkultur dalam kehidupan
bermasyarakat di Indonesia memiliki peran amat besar dalam membangun
2

kehidupan masyarakat khususnya dalam bidang keagamaan. Bahkan dalam
bidang kehidupan yang lainnya pun pondok pesantren dengan kyai sebagai
figur sentral juga telah memberi sumbangsihnya dari persoalan yang bersifat
pribadi sampai berkaitan dengan kemaslahatan masyarakat dan bangsa ini
(BKKBN, 2003).
Pondok pesantren dalam pendidikan sehari-hari dipisahkan antara santri
laki-laki dan santri perempuan dan terdapat batasan-batasan tertentu dalam
kehidupan santri misalnya peraturan berpakaian, peraturan berhubungan antara
laki-laki dan perempuan, peraturan berperilaku, dan sebagainya. Kegiatan
sehari-hari santri di pondok pesantren sangat padat sehingga santri
menghabiskan lebih dari sepertiga waktunya untuk melakukan kegiatan-
kegiatan pesantren. Oleh karena itu remaja santri kurang mendapat informasi
dan perhatian tentang masalah kesehatan reproduksi. Berdasarkan hasil
penelitian dinas kesehatan pemerintah kabupaten Bondowoso, Jawa Timur
dalam proyek kesehatan provinsi II (PHP II) tahun 2006 tentang upaya
peningkatan peran institusi dan pesantren dalam pelayanan kesehatan
reproduksi, menunjukkan bahwa 47.8 % responden santri putra atau dan 35,8
% responden santri putri pondok pesantren di Bondowoso menyatakan benar
ketika ditanya, apakah benar hubungan seksual sekali tidak menyebabkan
kehamilan. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan kesehatan reproduksi
remaja santri masih rendah.
Menurut BKKBN, 2003, adanya keluhan remaja termasuk remaja santri di
kalangan pesantren akan informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi hingga
saat ini belum dapat dipenuhi secara optimal. Santri yang kurang mendapatkan
informasi tentang kesehatan reproduksi di pondok pesantren akan berusaha
mencari informasi sendiri, baik melalui teman sebaya maupun media massa.
Informasi tersebut sebagian besar kurang memberikan informasi yang benar,
sehingga santri akan terdorong untuk melakukan penyimpangan seksual,
karena tidak mengetahui bagaimana cara mengatasi dorongan seksual yang
tinggi dalam dirinya. Penelitian tentang kasus penyimpangan seksual di
kalangan remaja santri jumlahnya sangat sedikit sehingga kasus-kasus yang
ada tidak terlaporkan dan pada akhirnya akan menjadi fenomena gunung es.
Oleh karena itu perlu adanya program pemberdayaan kader kesehatan
reproduksi santri sebagai upaya untuk memberikan pengetahuan yang benar
kepada santri tentang kesehatan reproduksi, sehingga akan memunculkan sikap
positif untuk berperilaku yang benar dan mencegah perilaku penyimpangan
seksual remaja santri, akibat informasi yang kurang tepat dari sumber yang
salah. Maka Program Pemberdayaan Santri Peduli Kesehatan Reproduksi
Remaja (SANTRILOKA) hadir sebagai solusi untuk permasalahan tersebut.
C. PERUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku santri terhadap konsep
kesehatan reproduksi dan perilaku penyimpangan seksual remaja santri.
3

2. Bagaimana implikasi pemberdayaan kader kespro terhadap perubahan
tingkat pengetahuan santri tentang kesehatan reproduksi dan perilaku
penyimpangan seksual remaja santri.
3. Bagaimana menjadikan pondok pesantren sebagai pencetak generasi yang
peduli dengan kesehatan reproduksi dan menjadi pelopor dalam
pengembangan pendidikan kesehatan reproduksi remaja di Indonesia
D. TUJUAN PROGRAM
Tujuan Program ini adalah:
1. Untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku positif remaja santri
terhadap kesehatan reproduksi.
2. Untuk mencegah perilaku penyimpangan seksual remaja santri di pondok
pesantren melalui pemberdayaan kader kespro santri.
E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran yang diharapkan dari program ini adalah:
1. Terbentuknya beberapa santri di pondok pesantren yang bisa menjadi
kader kesehatan reproduksi.
2. Meningkatnya pengetahuan santri tentang kesehatan reproduksi melalui
pemberdayaan kader kespro.
3. Berdayanya kader kespro santri sebagai informan sebaya dalam
mendukung program pencegahan perilaku penyimpangan seksual remaja
santri di pondok pesantren.
F. KEGUNAAN PROGRAM
1. Sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pengetahuan remaja santri,
terutama tentang informasi yang benar terkait kesehatan reproduksi
remaja.
2. Sebagai bahan masukan bagi pondok pesantren dalam mencari solusi
pemecahan masalah penyimpangan perilaku santri terkait kesehatan
reproduksi.
G. GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN
Sebagai masyarakat sasaran dipilih pondok pesantren konvensional (bukan
pesantren salaf). Dimana santri tidak hanya diberikan tentang pengetahuan
4

agama saja, melainkan ada ruang bagi para santrinya untuk memperoleh
pengetahuan umum di madrasah. Hal ini dipilih untuk memudahkan proses
birokrasi dalam pelaksanaan program. Dalam rangka implementasi program,
ditunjuk satu pondok pesantren yang secara geografis dekat dengan kampus
UNAIR Surabaya agar mudah dalam pelaksanaan dan pengawasannya. Yakni
pondok pesantren Miftachus Sunnah yang berlokasi di jalan kedung tarukan
100 Surabaya (kurang lebih 10 km dari kampus C UNAIR). Pesantren ini
terdiri dari 180 santri putra dan putri, terbagi dalam sebelas kamar asrama
putra dan lima kamar asrama putri. Rata-rata santri berusia antara 8-14 tahun.
Setiap santri mendapatkan pendidikan ilmu agama di pesantren dan
pendidikan umum di madrasah. Sebagian besar masih duduk di bangku SMP
dan SMA. Tiap kamar terdapat satu orang ketua kamar yang dipegang oleh
santri kelas tiga Madrasah Aliyah (SMA) yang selanjutnya akan menjadi
target program SANTRILOKA (kader santri). Santri yang menjadi target
program ini berjumlah 50 santri putra dan putri.
Kegiatan santri setiap hari di pondok pesantren cukup padat, mulai dari
kegiatan kerohanian seperti pengajian atau ceramah agama oleh kyai, diniyah
atau pendidikan agama, kajian atau diskusi tentang pengetahuan agama
sesama santri, sholat berjamaah, mengaji, dan sebagainya. Selain itu terdapat
kegiatan ekstrakulikuler santri seperti kegiatan olahraga, muhadloroh atau
belajar diskusi dan pidato, muhadatsah atau percakapan dalam bahasa asing,
hadrah atau seni tabuh rebana, dan sebagainya. Kegiatan itu dimulai sejak
dini hari hingga malam hari. Hari kamis malam dan jumat sore adalah waktu
kosong bagi santri yang menurut rencana dapat digunakan untuk
implementasi program SANTRILOKA.
Pondok Pesantren (Ponpes) Miftachus Sunnah terletak di tengah
keramaian permukiman penduduk. Berbatasan langsung dengan rumah
penduduk dan berbatasan dengan pasar. Kondisi ini memungkinkan santri
untuk memperoleh akses informasi dari luar cukup besar. Di madrasah
mereka memiliki peluang untuk mendapatkan informasi dari teman-temannya
yang bermukim di luar pesantren (anak rumahan). Walaupun telah ada
peraturan yang mengikat dan cukup ketat dari ponpes seperti dilarang
menonton televisi, namun santri tetap berpeluang untuk dapat mengakses
informasi dari luar. Fasilitas-fasilitas di luar seperti warung internet (warnet),
rental VCD, rental game, lapak-lapak majalah, dan sarana informasi lain
dapat diakses oleh santri meski secara terbatas. Oleh karena itu santri
memerlukan akses informasi tentang kesehatan reproduksi secara benar dari
sumber yang baik, agar tidak mencoba untuk mencari informasi dari luar
yang belum tentu memberikan pengetahuan yang benar (positif) untuk
kebaikan mereka. Pemberdayaan kader SANTRILOKA memberikan solusi
untuk mengarahkan pengetahuan santri pada informasi yang benar dan
mencegah timbulnya penyimpangan perilaku seksual akibat salah informasi
atau rendahnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang tepat.



5

H. METODE PELAKSANAAN PROGRAM
Dalam program ini diadakan beberapa pendekatan:
1. Observasi guna mengetahui kondisi riil santri di pondok pesantren
Miftachus Sunnah. Melihat seberapa besar masalah dan peluang
intervensi.
2. Kerjasama dengan pihak terkait, terutama birokrasi dengan pihak
pengasuh pondok .
3. Survey awal untuk melihat tingkat pengetahuan santri melalui pre-test dan
analisis kondisi awal.
4. Implementasi program sesuai dengan rencana dan rancangan kegiatan
pemberdayaan kader kespro santri.
5. Pendampingan secara berkala dan terbatas.
6. Evaluasi program dan kemungkinan peningkatan kualitas program
(keberlanjutan program).

Dalam rangka pelaksanaan program ini ada beberapa metode yang akan
digunakan. Metode ini meliputi pelaksanaan program, teknik pengambilan
data, dan pendampingan terhadap keberlanjutan program dengan penjelasan
sebagai berikut:

Rancangan Pelaksanaan Program
Adapun rancangan kegiatan yang akan penulis laksanakan pada program
ini meliputi :
Observasi Pendahuluan
Observasi pendahuluan dilakukan untuk mengetahui kondisi riil dari santri
putra dan putri Pondok Pesantren Miftachus Sunnah meliputi kondisi sosial-
ekonomi, kebudayaan, serta permasalahan yang ada. Observasi ini bertujuan
mendapatkan gambaran mengenai bagaimana metode penyampaian yang
tepat serta efektif dalam rangka penyampaian materi yang disesuaikan dengan
kondisi santri.
Kerja Sama dengan Pihak Terkait

Hal ini dilakukan untuk mendukung kesuksesan jalannya program.
Kerjasama ini meliputi kerjasama dengan pihak pengurus Pondok Pesantren
Miftachus Sunnah tempat pelaksanaan program. Hubungan kerja sama ini
dijalin karena penulis membutuhkan referensi mengenai gambaran kondisi
santri. Selain sebagai sumber referensi, pihak relasi merupakan kalangan yang
dekat dengan masyarakat. Sehingga dengan adanya bantuan dari pihak-pihak
ini penyampaian pesan ke masyarakat akan lebih optimal. Dengan
menggunakan pendekatan psikis seperti ini diharapkan lebih mampu
menyukseskan pelaksanaan program di masyarakat.

6

Pelaksanaan Program
Program SANTRILOKA meliputi berbagai kegiatan yang mendukung
pendidikan kesehatan reproduksi santri dan melibatkan berbagai pihak untuk
ikut berpartisipasi mewujudkan tujuan program ini. Paket program ini terdiri
dari kelas kespro, pembinaan kader SANTRILOKA, konseling kespro,
perlombaan kader SANTRILOKA dan SANTRILOKA Goes to School yang
melibatkan santri, guru, pengurus pondok pesantren, wali santri, dokter,
psikolog serta sarjana kesehatan masyarakat dalam pelaksanaan kegiatannya.
Program SANTRILOKA adalah program pemberdayaan. Tidak sekadar
memberikan tembahan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi kepada
para santri saja, tetapi output dari program ini adalah adanya santri yang
berdaya, santri yang bisa menjadi peer educator atau tutor sebaya untuk para
santri lain bahkan untuk remaja pada umumnya di luar pesantren, sehingga
dapat menunjukkan eksistensi pesantren dalam perannya memberikan
kemaslahatan umat.

Rincian Program SANTRILOKA yakni meliputi kegiatan :
1. KELAS KESPRO
a. Deskripsi Kegiatan :
Kegiatan pendidikan kesehatan reproduksi remaja yang berbentuk
diskusi dan penyampaian materi tentang kesehatan reproduksi ditinjau
dari segi sosial-kesehatan dan agama, pemateri bisa seorang dokter,
sarjana kesehatan masyarakat, atau psikolog untuk menjelaskan
masalah kesehatan reproduksi dilihat dari segi sosial-kesehatan serta
seorang ustadz untuk memaparkan kesehatan reproduksi dari sudut
pandang agama.
b. Tujuan kegiatan :
1. Memberikan pengetahuan kesehatan reproduksi sejak dini kepada
santri.
2. Memberikan pengertian tentang aplikasi ilmu agama dalam
masalah kesehatan reproduksi, sebagai pedoman agar remaja santri
dapat menghindari perilaku penyimpangan seksual.
c. Sasaran Kegiatan :
Sasaran kegiatan ini adalah seluruh santri putra dan putri kelas 3
SMP/MTs sampai kelas 3 SMA/MA. Alasannya didasarkan pada
tingkat pendidikan ini santri sudah menginjak remaja atau akil balig
secara personal.
d. Mekanisme Kegiatan :
Dibedakan masing-masing kelas antara santri putra dan putri,
disesuaikan dengan peraturan di pondok pesantren. Kelas ini diadakan 3
minggu sampai satu bulan sekali dengan durasi waktu 60 menit, dimana
30 menit pertama penyampaian materi kemudian 30 menit sesudahnya
untuk sesi diskusi. Dibagi menjadi dua kelas besar yakni kelas Basic
untuk santri kelas 3 SMP/Mts dan 1 SMA/MA, serta kelas Intermediate
untuk santri kelas 2 dan 3 SMA/MA disesuaikan dengan materi yang
seharusnya diberikan. Media yang diperlukan adalah booklet tentang
kesehatan reproduksi yang telah melalui mekanisme uji kelayakan (baik
7

kelayakan gambar maupun tulisan yang telah disesuaikan dengan
kaidah atau norma kepesantrenan), LCD proyektor dan slide presentasi
tentang materi kespro, poster kespro, dan sticker atau pembatas buku.
Media tersebut digunakan sebagai penunjang dalam penyampaian dan
pemahaman materi kespro.

Rincian Materi :
Tabel I Materi Kesehatan Reproduksi dalam Program Pemberdayaan
Kader SANTRILOKA.
NO KELAS MATERI
1











BASIC
Santri kelas 3
SMP/Mts dan 1
SMA/MA









1. Pengantar kesehatan
reproduksi
2. Pengetahuan dasar tentang
sistem, proses, dan fungsi alat
reproduksi
3. Pacaran menurut islam
4. Bahaya minuman keras dan
Narkoba terhadap kesehatan
reproduksi remaja
5. Bahaya perilaku seks bebas
6. Perintah islam terkait kespro
7. Tips menghindari pengaruh
buruk media massa terhadap
kesehatan reproduksi
2


















INTERMEDIATE
Santri kelas 2 dan 3
SMA/MA
















1. Pengetahuan lanjutan tentang
sistem, proses, dan fungsi alat
reproduksi
2. Menikah dalam pandangan
islam dan kesehatan
3. Persiapan menikah dan
membina keluarga sakinah
4. Kehamilan dan aborsi
5. Konsep Keluarga berencana
ditinjau dari sudut pandang
agama dan kesehatan
6. Bahaya perilaku seks bebas
(lanjutan)
7. Penyakit menular seksual
8. Kesuburan dan Kontrasepsi
9. Safe Motherhood
(Keselamatan Ibu)
10. Ketrampilan menjadi orang tua
Sumber : (BKKBN, 2004)
8

e. Tolak Ukur Keberhasilan Program :
1. Peserta aktif mengikuti dan menyimak setiap sesi materi maupun
diskusi.
2. Menurunnya tingkat pelanggaran santri terkait perilaku
penyimpangan seksual yang dipantau oleh kader kesehatan
reproduksi.
2. PEMBINAAN KADER SANTRILOKA
a. Deskripsi Kegiatan :
Kader kesehatan Reproduksi adalah kader yang diambil dari santri
senior (kelas 3 SMA/MA atau ketua kamar) yang mendapatkan
pengetahuan dan pemahaman kesehatan reproduksi tingkat lanjut, agar
dapat menjadi pembimbing bagi santri yang lebih junior dan sebagai
pengontrol santri agar tidak melakukan pelanggaran perilaku
penyimpangan seksual. Kader merupakan konselor bagi santri lain yang
ingin bertanya atau mengadukan setiap permasalahan terkait kesehatan
reproduksi. Apabila kader tidak mampu menjawab dan takut menjawab
dengan benar atau mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya,
kader dapat berkonsultasi dengan konselor di program konseling kespro
yang ditangani tenaga ahli.
b. Tujuan Kegiatan :
1. Adanya kader membantu mengurangi ketidakpahaman santri
tentang materi kesehatan reproduksi yang telah diberikan di
kelas kespro.
2. Membantu dalam pemantauan perkembangan dan pelanggaran
santri terhadap kasus-kasus perilaku penyimpangan seksual.
3. Sebagai partner sebaya dalam upaya memecahkan bersama
masalah terkait kesehatan reproduksi yang dihadapi teman
sebaya.
c. Sasaran Kegiatan :
Kader adalah santri senior (kelas 3 SMA/MA atau ketua kamar)
Sebagai pembimbing santri yang lebih junior dalam satu kamar.
d. Mekanisme kegiatan :
1. Kader dipilih tiap kamar satu sampai dua orang santri
2. Kader mendapatkan pembinaan atau pengetahuan tambahan
tetang pendidikan kespro lanjutan
3. Kader memantau perkembangan santri dalam satu kamar
4. Kader menjadi konselor untuk teman santri dalam satu kamar
5. Kader melaporkan bila ada kasus atau pelanggaran kepada
tenaga ahli atau pengurus pondok yang telah mendapatkan
amanah dalam pemantauan santri
6. Kader aktif bertanya dan konsultasi dengan konselor dari
tenaga ahli apabila ada hal yang kurang dipahami.
e. Tolak Ukur Kegiatan :
1. Menurunnya jumlah pelanggaran santri terkait perilaku
penyimpangan
2. Kader aktif melakukan tugasnya, rutin melaporkan setiap kasus
ke pihak pengurus pondok yang telah ditunjuk.

9

3. KONSELING KESPRO
a. Deskripsi Kegiatan :
Program ini berbentuk kegiatan konsultasi tentang permasalahan
kesehatan reproduksi yang dihadapi oleh santri dan dibimbing langsung
oleh seorang psikolog, dokter atau sarjana kesehatan masyarakat yang
bertindak sebagai konselor.
b. Tujuan Kegiatan :
Tujuan program konseling ini adalah untuk memfasilitasi para
santri yang ingin tahu lebih dalam tentang pengetahuan kesehatan
reproduksi yang tidak didapat di kelas kespro karena waktunya yang
terbatas atau remaja santri yang ingin mengadukan permasalahannya
secara personal kepada ahlinya (konselor).
c. Sasaran Kegiatan :
Seluruh santri mulai kelas 3 SMP/MTs sampai kelas 3 SMA/MA
termasuk santri yang telah ditunjuk sebagai kader.
d. Mekanisme Kegiatan :
Kegiatan ini bisa dilakukan dua sampai tiga minggu sekali antara
3-5 jam, melihat keterbatasan tenaga konselor dan padatnya jadwal
kegiatan santri di pondok pesantren. Disediakan tempat khusus untuk
konseling kespro ini untuk masing-masing asrama putra dan putri.
e. Tolak Ukur Kegiatan :
1. Konseling kespro rutin diadakan satu minggu sekali
2. Terdapat kunjungan santri selama jam buka konseling kespro

4. PERLOMBAAN KADER SANTRILOKA
a. Deskripsi Kegiatan :
Setelah melalui kegiatan pembimbingan dan pembinaan dalam
kelas kespro dan konseling kespro, maka diadakan beberapa jenis
perlombaan untuk meningkatkan semangat kader dan melihat seberapa
besar pengaruh kegiatan pendidikan kespro terhadap perubahan tingkat
pengetahuan dan pemahaman kader SANTRILOKA tentang kesehatan
reproduksi. Lomba yang diadakan meliputi lomba kader penyuluh
kespro remaja, seperti penyuluhan tentang peran remaja dalam upaya
pencegahan HIV AIDS di sekitar, dan bisa juga berupa lomba poster
kespro.
b. Tujuan Kegiatan :
1. Agar semangat untuk menambah wawasan dan memahami
informasi tentang kesehatan reproduksi yang benar.
2. Sebagai ajang unjuk gigi para kader SANTRILOKA akan bakat
dan kemampuan yang telah diperoleh dari proses pembinaan kader.
3. Menemukan kader SANTRILOKA yang berkompeten untuk
menjadi peer educator bagi remaja lain terutama remaja di luar
pondok pesantren.
c. Sasaran Kegiatan
Seluruh kader SANTRILOKA baik dari kelas basic maupun
intermediet.
d. Mekanisme kegiatan :
Kegiatan ini bisa dilakukan minimal setahun sekali.
10

e. Tolak ukur kegiatan :
1. Kegiatan ini diikuti minimal 75% kader SANTRILOKA
2. Para pemenang dan hasil karya pemenang dimanfaatkan untuk
pendidikan kespro baik di pondok pesantren maupun di luar pondok
pesantren.
5. SANTRILOKA GOES TO SCHOOL
a. Deskripsi Kegiatan :
Kegiatan berupa kunjungan kader SANTRILOKA ke sekolah lain
(diutamakan sekolah yang bukan berada pada naungan pondok pesantren)
baik sekolah menengah pertama maupun menengah atas di lingkungan
pondok pesantren. Kader SANTRILOKA yang terpilih (terutama yang
telah lulus kelas intermediet atau melalui mekanisme seleksi saat
perlombaan kader SANTRILOKA). Kegiatan bisa berupa diskusi peer
group antara kader SANTRILOKA dan siswa SMP atau SMA yang
didampingi oleh Team SANTRILOKA (dokter, SKM, Psikolog, ustadz
atau yang lain). Kegiatan ini dimunculkan untuk mengurangi rasa
keengganan remaja (pelajar) untuk bertanya permasalahan yang mungkin
bagi sebagian remaja masih dianggap tabu atau malu untuk bertanya pada
orang yang lebih dewasa, misalnya orang tua.
b. Tujuan Kegiatan :
1. Agar semangat untuk menyemai informasi tentang kespro bisa
dirasakan oleh remaja lain yang jangkauannya lebih luas, di luar
pondok pesantren
2. Menunjukkan eksistensi pondok pesantren dalam menunjukkan
perannya sebagai lembaga yang memberikan kemanfaatan bagi
masyarakat.
c. Sasaran Kegiatan
Kegiatan ini diikuti oleh pelajar dari sekolah lain di luar pondok
pesantren baik pelajar SMP maupun SMA
d. Mekanisme kegiatan :
Kegiatan ini bisa dilakukan minimal dua kali dalam setahun
e. Tolak ukur kegiatan :
1) Kegiatan ini dihadiri oleh minimal sejumlah anggota pengurus
OSIS sekolah yang bersangkutan.
2) Kegiatan ini rutin di lakukan minimal dua kali dalam setahun

Keberlanjutan Program

Program SANTRILOKA adalah program pemberdayaan. Konsep
pemberdayaan berarti santri dalam program ini tidak hanya menjadi sasaran
program (obyek) saja, melainkan sebagai pelaku program (subyek). Sehingga
santri akan berperan aktif sebagai kader SANTRILOKA. Selain sebagai peer
educator bagi santri lain, kader SANTRILOKA dapat menjadi tutor sebaya
masalah kesehatan reproduksi bagi remaja lain (pelajar dari sekolah umum di
lingkungan pondok pesantren). Jika program SANTRILOKA ini telah
berjalan dengan baik, maka ke depannya program ini akan dijalankan secara
berkelanjutan. Kader SANTRILOKA akan dilanjutkan oleh genarasi
selanjutnya, yakni santri yang berada di tingkat lebih bawah (junior) yang
11

kemudian menjadi santri senior (ketua kamar, dan sebagainya). Sehingga alur
kaderisasi akan terus berjalan. Hal ini dapat diwujudkan tentunya diperkuat
dengan adanya nota kesepahaman antara penggagas program (mahasiswa)
bersama pimpinan pondok pesantrren terkait.


I. JADWAL PELAKSANAAN PROGRAM




J. RANCANGAN BIAYA
No Keterangan Keperluan Harga Jumlah
1
Tahap Persiapan Perizinan dan transportasi 300.000 300.000
Pubikasi dan Undangan 350.000 350.000
Penggandaan proposal 10 x 10.000 100.000
Komunikasi 100.000 100.000
Subtotal 850.000
2 Pelaksanaan program






KELAS KESPRO





Dekorasi tempat pelaksanaan 100.000 100.000
Media publikasi (banner,
leaflet)
200.000 200.000
Transportasi Tim Pelaksana 5 x 50.000 250.000
Konsumsi pembicara 4 x 10.000 40.000
Souvenir Pembicara 2 x 200.000 400.000
No Kegiatan
Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 Bulan 5 Bulan 6
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Observasi
2
Proposal
dan dana

3
Persiapan
Kegiatan

4
Pelaksana
an dan
pendampin
gan

5 Evaluasi
12



Penggandaan Koesioner 50 x 1000 50.000
Sewa LCD proyektor 200.000 200.000
Modul SANTRILOKA dan
Seminar Kit
50 x 10.000 500.000
Subtotal 1.740.000
PEMBINAAN
KADER
SANTRILOKA
Buku Pemantauan Kader 50 x 5000 250.000
Kaos SANTRILOKA 70 x 50.000 3.500.000
Subtotal 3.750.000
KONSELING
KESPRO

Lembar Konsultasi 50 x 1000 50.000
Fee Konselor 300.000 300.000
Subtotal 350.000
PERLOMBAAN
KADER
SANTRILOKA

Media Publikasi ; pamflet,
Poster
100.000 100.000
Hadiah Pemenang Lomba 2.250.000 2.250.000
Fee Juri 2 x 300.000 600.000
Subtotal 2.950.000

SANTRILOKA GOES
TO SCHOOL
Poster 100.000 100.000
Transportasi TEAM 100.000 100.000
Dokumentasi kegiatan
Baterai, Mini DV dan cetak
foto
150.000 150.000
Souvenir untuk pengasuh
pondok pesantren
2 x @Rp
400.000
800.000
Buku Panduan Kespro 50 x 5000 250.000
Subtotal 1.350.000
TOTAL 9.990.000