Anda di halaman 1dari 16

52

BAB VI
STRATEGI PEMBELAJARAN MENURUT PANDANGAN
KONSTRUKTIVISME SERTA PENERAPAN PENDEKATAN DISCOVERY
DAN INQUIRY


A. Pembelajaran Menurut Pandangan Kontruktivisme
Pembelajaran dikatakan berkualitas, bila menekankan pemahaman tidak hanya
ingatan saja. Agar pembelajaran menekankan pemahaman, maka fisika harus dipandang
sebagai proses tidak sekedar sebagai produk. Untuk fisika sebagai proses maka peserta didik
diajak mmemahami materi fisika melalui proses berpikir. Kadang guru harus kecewa dengan
hasil belajar peserta didik, kerena tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kekecewaan yang
dirasakan oleh guru mungkin disebabkan oleh pola pikir peserta didik yang tidak sesuai
dengan yang dituntut guru.
Menurut pandangan konstruktivisme, sebelum membahas topik tertentu guru harus
mengetahui konsep-konsep atau gagasan apa yang telah dimiliki peserta didik berkaitan
dengan topik yang akan disajikan guru. Mungkin peserta didik memiliki prakonsep, prinsip
maupun teoritis menurut penahaman dirinya. Bila guru mengetahui prakonsep,prinsip,
maupun teori yang dimiliki peserta didik, maka pembelajaran yang dilaksanakannya akan
efektif bila dimulai dari gagasan yang sudah ada pada peserta didik, kemudian dikembangkan
(termasuk memantapkan, mengubah, dan menambah gagasan) sampai pada gagasan baru
hasil modifikasi.
Untuk mengetahui apakah peserta didik telah memiliki pemahaman suatu konsep
dapat dilakukan dengan cara meminta peserta didik menjelaskan konsep tersebut dengan
bahasa dan kalimatnya sendiri misalnya konsep tentang muatan listrik. Muatan listrik ada dua
yaitu muatan listrik negatif dan positif. Di sekitar muatan listrik ada medan listrik, medan
listrik dibentuk oleh garis gaya listrik . Garis gaya listrik pada muatan positif masuk dan pada
muatan negatif garis gaya listrik mengarah keluar. Muatan positif memiliki potensial lebih
tinggi dari pada muatan negatif. Kalau peserta didik dapat menjelaskannya dengan kalaimat
sendiri berarti mereka telah memahaminya.
53

Belajar merupakan suatu proses yang aktif dan kompleks dalam upaya memperoleh
pengetahuan baru. Proses belajar yang terjadi merupakan proses kognitif, sehingga terjadi
interaksi positif antara kegiatan melakukan persepsi, imajinasi, organisasi dan elaborasi.
Peserta didik dalam melakukan persepsi dan imajinasi terhadap informasi yang sampai
kepada peserta didik ditanggapi secara aktif, selektif dan subyektif. Informasi pengetahuan
yang datang pada dirinya akan diperhatikan dan dipelajari sesuai dengan prakonsepsinya,
pengetahuannya dan ekspektasinya. Oleh karena itu informasi yang datang harus menarik.
Selanjutnya peserta didik melakukan elaborasi terhadap pengetahuan yang datang dengan
pengetahuan yang telah dimilikinya. Melalui pengorganisasian memungkinkan terbentuknya
hubungan antar konsep. Di bawah ini ditunjukkankan model proses berfikir kognitif yang
dikembangkan dari model sistem informasi yang terjadi dalam diri individu dalam
menanggapi fenomena alam.











Gambar 6.1 Model Proses Kognitif
Peserta didik dihadapkan pada fenomena alam, maka melalui observasi, timbul
pertanyaan dan berusaha mencari jawaban sebagai kesimpulan (lingkungan pemecahan
masalah). Agar sistem memorinya berjalan lancar, maka informasi yang masuk jangan
Lingkungan pemecahan masalah:
- Pertanyaan
- Observasi
- Kesimpulan
Sistem memori pada peserta didik:
- Proses kognitif
- Pembentukan hubungan


Long Term memory pada peserta didik:
- Fakta dan fenomena sains
- Konsep, teori, dan model
- Proses keterampilan sains
54

berlebihan dilakukan proses kognitif untuk membentuk hubungan anatara konsep yang telah
ada dengan konsep yang baru masuk (sistem memori pada siswa). Hasil belajarnya disimpan
dalam long term memory yang berupa fakta, konsep, prinsip, teori, model dan proses
keterampilan sains/fisika (long term memory pada siswa). Untuk melihat tautan konsep yang
ada dalam diri siswa dapat dinyatakan dalam bentuk peta konsep.
Misal peta konsep gerak:
Gerak Usaha
Posisi Percepatan
Perpindahan Momentum
Jarak Impuls
Laju
Kecepatan
Gb 6.2 Model peta konsep gerak
Miskonsepsi dapat timbul karena tidak ada kecocokan antara teori, model atau konsep
yang benar secara keilmuan dengan secara spontan yang ada di dalam diri peserta didik.
Tugas guru dalam pembelajaran harus mengubah konsep yang salah tersrebut. Untuk
mengubah miskonsepsi yang terjadi dalam diri siswa dapat dilakukan dengan cara:
- Membuat peserta didik tidak puas dengan pemahaman yang salah yang ada dalam
dirinya
- Peserta didik mempunyai pemahaman minimal tentang konsep yang baru
- Konsep baru harus logis dan dapat diterima akal
- Konsep baru harus memiliki daya prediksi (ramalan) dan eksplanasi (penjelasan).

B. Strategi Pembelajaran Fisika
Strategi pembelajaran fisika yang dimaksud adalah pengaturan peran guru dan peserta
didik dalam proses mengolah dan mengatur informasi yang berkaitan dengan materi fisika.
Dalam pola pengaturan peran guru dan peserta didik dapat menentukan sistem informasi yang
akan digunakan. Bila peserta didik diberi peran dalam proses penyampaian informasi, maka
pembelajaran ini disebut pola heuristik. Pola heuristik ini cocok bila menggunakan
55

pendekatan discovery/ inquiry. Dalam mengembangkan pembelajaran ada empat strategi
yaitu: (1) model interaksi sosial, (2) model pengelolaan informasi, (3) model humanistik, dan
(4) model modifikasi tingkah laku dan ke empat strategi ini adalah model pengelolaan
informasi. Model yang cocok untuk pendekatan discovery/inqury adalah model pengelolaan
informasi. Pendekatan ini dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran seperti,
meningkatkan keterampilan intelektual, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan
untuk menerima informasi, keterampilan motorik, dan pengembangan sikap dan nilai.
Sesuai dengan pandangan konstruktivisme, bahwa pembelajaran harus dirancang
sesuai dengan keselarasan antara alur berpikir dan pola pikir. Tuntutan pembelajaran harus
sesuai dengan perkembangan mental peserta didik, untuk itu dapat digunakan siklus
pembelajaran dan siklus belajar seperti pada gambar 6.3
Engagement



Elaboration Assessment

Gambar 6.3 a Siklus Belajar

Tugas pembelajaran


Monitoring Evaluasi

Gambar 6.3b Siklus Pembelajaran

Pada siklus pembelajaran terdapat tahap tugas pembelajaran (dapat berupa tugas
pemecahan permasalahan yang dirancang guru. Contoh tugas pembelajaran antara lain: tugas
melakukan kegiatan, menjelaskan suatu fenomena sampai mengambil kesimpulan) yang.
Sedangkan pada siklus belajar ada tahap engagement adalah bentuknya kesiapan peserta
didik untuk merespon dan mengembangkan suatu tugas pembelajaran dengan pemikiran yang
benar. Pemikiran yang benar ini merupakan hasil diskusi dalam kelompok. Pada tahap
elaborasi peserta didik mengembangkan konsep keilmuan, berasumsi dan berargumentasi.
Selama proses elaborasi guru melakukan monitoring kegiatan dan kemajuan kelompok dalam
56

menyelesaikan tugas dengan cara observasi dapat mengetahui penguasaan konsep, asumsi
yang digunakan serta kualitas argumentasi dari peserta didik. Assessment atau penilaian yang
dilakukan peserta didik terhadap kemajuan dalam menyelesaikan tugas, sedangkan guru
melakukan evaluasi kemajuan individu maupun kelompok terus berlangsung. Assessment
oleh siswa dan evaluasi oleh guru merupakan bagian dari proses pembelajaran. Strategi
pembelajaran penting diupayakan agar: pembelajaran sesuai dengan tujuan yang akan
dicapai, terjadi proses inkuiri tetapi cocok dengan tuntutan psikologi belajar. Pada hakikatnya
strategi pembelajaran itu mengatur interaksi antara peserta didik dalam rangka
pengembangan konsep baik secara individu maupun kelompok.
Bagaimana mengetahui pola berfikir peserta didik terhadap fenomena alam dan
bagaimana guru membimbingnya sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan? Untuk
menjawab pertanyaan itu yang dapat dilakukan guru misalnya:
Fenomena yang diberikan guru : buku terletak di atas meja
Masalah yang diberikan : apakah meja mendorong buku?
Kemungkinan jawaban : - meja tidak mendorong
- meja mendorong buku
- meja tidak mendorong, kenyaannya begitu
- meja mendorong karena ada gravitasi
Contoh di atas ini terjadi adanya konflik pemikiran dari siswa. Untuk meluruskan jawaban
dapat dilakukan dengan cara memberi tambahan informasi sebagai berikut:
Informasi tambahan dari guru : letakkan buku di atas tanganmu
Masalah yang diberikan : apakah tanganmu mendorong buku
Kemungkinan jawaban : ya tangan mendorong/menahan buku
Informasi tambahan dari guru : coba singkirkan tanganmu
Masalah yang diberikan : apakah yang terjadi dengan buku ?
Jawaban yang diharapkan : buku jatuh, kenyataan tangan mendorong buku
Kesimpulan diskusi : jadi meja mendorong buku
Fenomena berikutnya : buku di atas meja ditarik hingga bergerak
Masalah yang diberikan : gaya apa saja yang bekerja pada buku?
Diri pembelajaran di atas diharapkan peserta didik memahami konsep gaya tenpa terjadi
miskonsepsi. Dengan demikian dalam pembelajaran ada tiga komponen utama yaitu peserta
didik, guru dan bahan ajar.
57

Untuk memerikan pengetahuan dan keterampilan peserta didik, serta merancang tugas
pembelajaran, disarankan menggunakan pembelajaran problem solving (pemecahan
masalah). Alasan pemilihan pembelajaran pemecahan masalah ini adalah: (1) pembelajaran
ini melatih dan memberi keterampilan siswa memecahkan permasalahan yang dihadapi, (2)
pembelajaran ini memudahkan peserta didik mengkontruksi pengetahuan dan melatih
keterampilan kognitif. Pengetahuan yang abstrak dapat dikonkritkan, dan (3) pembelajaran
ini dapat bervariasi dalam pemecahan masalah baik dalam pembelajarannya maupun strategi
serta struktur materi.

C. Pendekatan Discovery
Pendekatan discovery (penemuan) merupakan pendekatan mengajar yang
memerlukan proses mental yang memerlukan keterampilan proses sains untuk menemukan
konsep. Oleh karena itu rancangan pembelajaran harus memungkinkan peserta didik
melakukan proses mental seperti mengobservasi, menggolongkan, mengukur, membuat
dugaan, memerikan, membuat kesimpulan dan sebagainya. Langkah-langkah pembelajaran
dengan pendekatan discovery yang dilakukan guru sebagai berikut:
- Guru memberi permasalahan yang harus dipecahkan dapat berupa pertanyaan atau
pernyataan
- Guru menentukan proses kegiatan mental yang dikembangkan
- Konsep atauprinsip yang dipelajari harus tertulis dengan jelas
- Alat dan bahan yang diperlukan harus tersedia
- Pengarahan yang diberikan melalui tanya jawab
- Peserta didik melakukan penyelidikan atau percobaan sampai menemukan konsep
atau prinsip yang ditetapkan oleh guru
- Menyusun pertanyaan yang open ended sebagai arahan untuk melakukan kegiatan
- Guru membuat catatan sebagai bahan evaluasi program dan upaya mendapat
masukkan
Contoh: Topik yang dipelajari : Hukum Archimedes
Persipan guru :
Konsep terkait : volume, massa, berat, kerapatan, tekanan hidrostatis, tegangan
permukaan, terapung, dan tenggelam.
Diskusi arahan : Apakah benda yang dimasukkan dalam air terapung atau terbenam?
58


Dugaan : Apakah semua benda dari kayu terapung di air?
Masalah : Mengapa ada benda terapung dan tenggelam?
Kegiatan mental : mengamati, mengolong-golongkan, mengukur, menduga dan menarik
kesimpulan
Alat yang tersedia : Benda yang berbentuk kubus ukurannya sama terbuat dari: kayu,
gabus, plastik, besi, tembaga dan aluminium
Diskusi : Benda-benda ini mana yang terapung, atau tenggelam
Dugaan : Apakah semua benda yang ukurannya sama akan sama-sama
terapung atau tengelam atau apakah semua benda yang terbuat dari
kayu akan terapung meski ukurannya berbeda.
Pertanyaan : mengapa benda yang ukurannya sangat besar seperti kapal laut dapat
terapung?
Penyelidikan : coba diukur volume setiap jenis benda, dan ditimbang untuk
mengetahui massa. Apa yang diperoleh bila massa dibagi dengan
volumenya?
Kesimpulan : Bagaimana kesimpulannya?
Kegiatan siswa:
Masalah : Mengapa ada benda yang dapat terapung, atau tenggelam?
Observasi : Semua benda dimasukkan dalam air
Dugaan : Terapung kalau benda itu dari kayu dan terarung kalau benda ringan
Kesimpulannya : Semua benda yang berasal dari kayu terapung
Pengukuran : mengukur volume dan massa tiap benda dan Massa benda dibagi
dengan volume
Kesimpulan : Benda yang massa jenisnya lebih kecil dari massa jenis air terapung
59

Pertanyaan : Silet yang diletakkan secara terlentang dengan pelan-pelan di
permukaan air ternyata terapung.
Kesimpulan : di permukaan air terdapat tegangan permukaan.
Setelah selesai pembelajaran guru menekankan kembali konsep-konsep yang terkait pada
topik yang sedangkan dipelajarinya seperti terapung, tenggelam, massa jenis atau kerapatan,
tekanan hidrostatis dan tegangan permukaan. Yang penting dalam pembelajaran ini siswa
mampu menemukan hubungan antar konsep dan guru harus siap-siap serangkaian pertanyaan
dari siswa. Jadi dari contoh di atas pendekatan discovery dalam pembelajaran dapat berupa
kegiatan laboratorium.
D. Pendekatan Inquiry
Pendekatan inquiri mempunyai ciri bila peserta didik merumuskan masalah,
mendesain eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data dan
menyimpulkannya sendiri. Pendekatan inquiri ini melibatkan proses mental yang lebih tinggi
dibandingkan dengan pendekatan discovery.
Dalam pelaksanaannya guru memberi pengarahan agar siswa dapat merumuskan
masalah; Kemudian masalah tadi didiskusikan dalam kelompok dan menyimpulkan hasil
diskusi kelompok. Proses inquiry agar dapat berjalan dengan baik tugas guru adalah: 1)
memiliki kesadaran dan pengetahuan tentang pentingnya proses berinkuari, 2) memiliki
pengetahuan yang luas dari materi yang akan disajikan, 3) memiliki ide-ide berinquiry dan
mencoba untuk dilaksanakan, 4) mengarahkan peserta didik agar daya intelektualnya
berkembang, 5) menciptakan suasana kondusif, sehingga ide-ide guru dapat dilaksanakan, 6)
mengembangkan peserta didik agar memiliki keterampilan bertanya dan berdiskusi sehingga
paham terhadap permasalahan, dan 7) memberi kesempatan peserta didik untuk
mengasimilasi dan mengakomodasi informasi. Meskipun demikian dalam pelaksanaan juga
mengalami kendala antara lain: (1) guru harus siap melakukan karena melibatkan seluruh
kemampuan dan kemauan guru serta sarana dan prasarana, (2) siswa belum siap karena
kematangan mentalnya masih kurang, dan (3) pelaksanaannya akan sulit kalau jumlah peserta
didiknay sama.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan pendekatan inquiry antara lain:
1. Kejelasan ditentukan oleh kesinambungan urutan atau sekuens dari kegiatan dilihat dari
pengorganisasian komponen pembelajaran, tujuan pembelajaran dan pemaduan. Pemaduan
60

yang dimaksud pengintegrasian elemen-elemen informasi (teori, hukum, prinsip, rumus
dan data)
2. Ketepatan dilihat dari kesesuaian materi subyek melalui proses elaborasi dengan struktur
materi formal menurut keilmuan mencakup teori, prinsip, konsep, rumus atau data
3. Kesesuaian antara model mental peserta didik dengan model mental pembuat rencana
pembelajaran (guru). Menyangkut strategi pembelajaran
4. Kerumitan dilihat dari sekuens dan dari tuntutan elaborasi.
Berdasarkan keempat tuntutan tersebut dalam melaksanakan pendekatan inquiry guru
harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1) menentukan topik yang akan dibahas
dan akan dikembangkan siswa sebagai suatu masalah, 2)menetapkan proses berfikir yang
akan dikembangkan serta keterampilan mental yang dituntut, 3) menyusun pertanyaan yang
mengundang siswa untuk melakukan percobaan, dan 4) melakukan evaluasi.
Selanjutnya guru mengundang siswa untuk mengajukan masalah yang erat
hubungannya dengan pokok bahasan yang akan disajikan dan peserta didik terlibat dalam
proses inquiry dengan melalui 5 fase antara lain:
Fase 1: siswa menghadapi masalah yang dianggap peserta didik memberikan tantangan untuk
diteliti.
Fase 2: siswa mengumpulkan data untuk penguji kondisi, sifat khusus dari obyek yang akan
diteliti dan pengujian terhadap situasi masalah yang dihadapi.
Fase 3: Siswa mengumpulkan data untuk memisahkan variabel yang relevan, berhipotesis dan
bereksperimen untuk menguji hipotesis, sehingga diperoleh hubungan sebab akibat
Fase 4: Merupakan penemuan berinkuiri hingga diperoleh penjelasan, pernyataan atau prinsip
yang lebih formal.
Fase 5: Melakukan analisis terhadap proses inqury, strategi yang dilakukan oleh guru maupun
siswa. Analisis dilakukan untuk membantu peserta didik pada pencarian sebab
akibat.
Di bawah ini diberikan contoh Model Latihan Inqury. Pada model ini peserta didik hanya
boleh mengajukan pertanyaan yang hanya dapat dijawab ya atau tidak. Tujuannya agar
peserta didik lebih berfikir kritis dan guru tidak banyak memberi penjelasan.

Fase 1: Menyajikan masalah dan menganalisis peristiwa.
Guru: 1. Menunjukkan dua gelas ukur yang berisi zat cair bening yang mempunyai volume
sama (siswa mengamati)
61

2. Guru menuangkan kedua cairan (1bagian + 1 bagian) itu ke dalam gelas ukur yang
lebih besar dan diaduk dan ternyata hasil campuran hanya 1 bagian (siswa
mengamati)
Siswa: Apa yang terjadi dengan campuran itu?
Guru : Untuk mengetahui apa yang terjadi dengan campuran itu, anda boleh mengajukan
pertanyaan yang anda amati dengan jawabannya hanya ya dan tidak

Fase 2: Pengumpulan data untuk memverifikasi)
Siswa: Apakah kedua gelas ukuran yang pertama sama?
Guru: ya
Siswa: Barangkali gelas ukur itu ada yang retak
Guru: tidak
Siswa: Apakah kedua cairan itu berbeda
Guru: ya
Siswa: Barangkali salah satu dari cairan itu adalah air
Guru: ya
Siswa: Cairan yang satu lagi cuka
Guru: tidak
Siswa: Alkohol barang kali karena baunya seperti alkohol
Guru: ya
Siswa: Apakah ada cairan yang tumpah ketika dicampurkan
Guru: tidak
Siswa: Samakah suhu kedua cairan itu
Guru: ya
Siswa: Apakah keduanya panas
Guru: tidak
Siswa: Apakah suhu kedua cairan itu sama dengan suhu kamar
Guru: ya
Selanjutnya guru meminta siswa untuk meringkas semua data yang diperoleh menjadi
masalah dan diminta untuk merumuskannya
Siswa: Pak/ibu guru tadi mencampurkan 1 bagian air dengan 1 bagian alkohol dan hasil
campurannya menjadi 1 bagian. Mengapa campuran tadi tidak menjadi 2 bagian,
padahal kami tahu tidak ada gelas ukur yang retak, tidak ada cairan yang tumpah
ketika mencampurkan dan suhu kedua cairan itu sama dengan suhu kamar. Jadi
62

masalahnya kemanakah yang bagian . Barangkali penguapan mengakibatkan
sebagian dari cairan menjadi hilang (hipotesis)

Fase 3: Pengumpulan data eksperimen (menguji hubungan kausal dan mencari
variabel yang relevan
Guru: Bagaimana anda menyelidikinya?
Siswa: kami akan menguji berapa banyakah air dan alkohol akan menguap dalam selang
waktu beberapa menit.
Siswa: ya kehilangan seperempat bagian bukan karena penguapan
Siswa: Barangkali ada beberapa tetes zat cair tertinggal pada kedua gelas ukur pertama
Siswa: Benar ada yang tertinggal pada dua gelas ukur pertama tetapi tidak sampai seperempat
bagian
Siswa: Mari kita campur 2 bagian air
Siswa: Tidak ada air yang hilang (tetap 2 bagian)
Siswa: Kita campurkan dua bagian alkohol
Siswa: tidak ada alkohol yang hilang (tetap 2 bagian)
Siswa: kita campur 1 bagian air dengan 1 bagian limun dan 1 bagian air dengan 1 bagian
susu
Siswa: ternyata dua campuran itu tidak ada yang hilang (tetap 2 bagian)
Siswa : apakah peristiwa ada sebagian yang hilang hanya terjadi pada campuran air dan
alkohol? (pertanyaan dari eksperimen)
Guru: tidak
Siswa: bila kita mencampurkan 1 bagian air dan 1 bagian alkohol akan diperoleh kurang dari
2 bagian
Siswa: bila kita mencampurkan bagian air dan bagian alkohol akan diperoleh kurang
dari 1 bagian
Guru: ya
Siswa: apakah ini berarti bahwa beberapa yang dicampurkan tidak akan menghasilkan
volume yang diharapkan?
Siswa: ya, tapi masalahnya mengapa?
Guru: Coba gunakan bahan (cairan, gula, garam, pasir, dan gelas ukur) bahan untuk mencari
jawab dari pertanyaan anda?
Siswa: saya mencampurkan 1 mangkok air dengan 1 mangkok gula hasilnya tidak 2 mangkok
63

Siswa: demikian juga campuran 1 mangkok air dengan 1 mangkok garam, dan 1 mangkok air
dengan 1 mangkok pasir.
Fase IV: Formulasi prinsip/hukum yang menyatakan antar variabel
Siswa: ya gula memasuki celah-celah air. Celah-celah air cocok dengan molekul gula
Siswa: demikian juga dengan campuran air dan garam
Guru: bagaimana dengan campuran air dengan alkohol?
Siswa: begitu juga molekul alkohol dan molekul air saling mengisi. Molekul air memasuki
ruang antar molekul-melekul alkohol.
Guru: apa yang anda maksud dengan molekul
Siswa: Benda terdiri dari molekul-molekul. Dan beberapa benda jika dicampurkan, molekul
yang satu mengisi ke antara molekul-molekul yang lain.
Siswa: Hal ini terlihat pada campuran air dan gula juga campuran air dan garam serta
campuran air dengan alkohol.
Guru: bagaimana dengan campuran dari cairan-cairan yang lain.
Siswa: jika dicampurkan cairan-cairan, maka volumenya ada yang berkurang sedikit, tidak
selalu sedikit dan ada pula yang banyak.
Guru: apa yang anda lakukan sebelum mengatakan bahwa molekul cairan yang menyelinap
ke dalam molekul cairan yang lain?
Fase V: Analisis proses inqury
Siswa: mari kita campurkan air dan alkohol dengan lebih cemat
Guru: Mari kita tinjau kembali apa yang telah kita lakukan sampai taraf ini. Apa yang mula-
mula terjadi?
Siswa: Pak/ibu guru mencampur 1 bagian air dengan 1 bagian alkohol
Guru: Anda tahu bahwa cairan-cairan itulah yang dicampurkan?
64

Siswa. Tidak. Hanya tampak seperti sama, karena pak/ibu guru tidak menyebutkan cairan
yang dicampurkan
Siswa: Campuran 1 bagian cairan dengan 1 bagian cairan lain menghasilkan 1 bagian cairan
campuran
Guru: dan
Siswa: kami diminta menjelaskan yang terjadi dengan campuran
Guru: jadi anda melihat masalah dari peristiwa di atas. Dan kemudian?
Siswa: kami mengajukan pertanyan dan pak/ibu guru menjawab ya atau tidak. Dan kami
melakukan eksperimen.
Guru: apa yang anda tanyakan pertama kali?
Siswa: apakah cairan itu air
Siswa: mengajukan pertanyaan untuk mengetahui jenis cairan yang dicampurkan
Siswa: apakah suhu kedua cairan itu sama
Siswa: bertanya tentang keadaan gelas ukur
Siswa: apakah ada air atau alkohol yang tumpah
Guru: bagus-bagus. Apa maksud pertanyaan anda?
Siswa: untuk mencari penjelasan, mengenai peristiwa yang ditampilkan pak/ibu guru
Guru: benar. Anda pertama melihat masalah, mengajukan pertanyaan mengenai obyek untuk
cairan dan gelas ukur. Menanyakan kondisi obyek berkaitan dengan suhu cairan dan
keadaan gelas ukur




65

Pertanyaan Latihan
1. Apa yang harus dilakukan guru agar tidak kecewa dalam melaksanakan pembelajaran
setelah mengetahui dari hasil evaluasi peserta didik masih rendah?
2. Bagaimana kondisi menghilangkan/mengurangi miskonsepsi dalam pembelajaran fisika?
3. Pertimbangan apa untuk mengorganisasikan materi pembelajaran agar sesuai dengan
rancangan problem solving
4. Menghadapi peserta didik belum terbiasa belajar mandiri lebih baik digunakan
pendekatan discovery pertimbangan yang dikemukakan antara lain.
5. Apa yang menbedakan antara pendekatan discovery dan inquiry?






















66

Jawaban Pertanyaan
1. Untuk menanggulangi keadaan tersebut yang dapat dilakukan guru antara lain:
menugaskan peserta didik membuat peta konsep, pola pikir guru harus sesuai dengan
pola pikir siswa dan guru membuat peta konsep sebagai alat evaluasi dari peta konsep
yang dibuat peserta didik
2. Kondisi menghilangkan/mengurangi miskonsepsi dalam pembelajaran fisika: konsep
baru yang diberikan harus mempunyai daya prediksi (ramal) yang kuat, Konsep yang
baru harus mempunyai daya eksplanasi (penjelasan) yang mampu menjelaskan
kekeliruan pada diri peserta didik dan konsep yang baru itu harus masuk akal dan logis.
3. Pertimbangan yang digunakan untuk mengorganisasikan materi pembelajaran agar sesuai
dengan rancangan problem solving antara lain materi harus merupakan hasil pemecahan
masalah. Memudahkan peserta didik mengkontruksi pengetahuan/materi dan penyejian
materi lebih bervariasi
4. Pertimbangan digunakan pendekatan discovery bagi siswa yang belum terbiasa belajar
mandiri antara lain masalah fisika yang sederhana dapat dipilihkan guru, menuntut
keterampilan mental yang relatif rendah, dan tidak memerlukan waktu yang lama.
5. Yang membedakan antara pendekatan discovery dan inquiry pada tuntutan keterampilan
mental dari peserta didik










67

Daftar Pustaka
Moh. Amien. (1970. Apakah metode Discovery dan Inquiry?. IKIP Yogyakarta
Ratna Wilis Dahar. (1988) Kontruktivisma Dalam Mengajar dan Belajar. FPMIPA IKIP
Bandung