Anda di halaman 1dari 1

Review Materi Perencanaan dan Pengelolaan Waduk Pertemuan II

Waduk sering juga disebut sebagai danau buatan yang besar. Menurut komisi Dam dunia,
kriteria yang dikategorikan sebagai bendungan adalah bila tingginya lebih dari 15 meter dan jika
kurang dari 15 meter, maka dinamakan embung. Karakteristik waduk merupakan bagian pokok
dari waduk yaitu tampungan mati (dead storage), tampungan efektif (useful storage), tampungan
banjir (flood storage), muka air minimum, muka air normal, muka air banjir dan tinggi mercu
pelimpah berdasarkan debit rencana. Fungsi utama waduk yaitu sebagai pengendali banjir,
menyediakan tampungan (storage) dan menstabilkan aliran air dengan cara mengatur persedian
air pada sungai alamiah dan memenuhi kebutuhan air baku konsumen.
Ada dua tipe waduk, waduk penampung atau waduk konservasi dan waduk distribusi.
Waduk penampung berfungsi menyimpan air pada musim penghujan yang akan digunakan
selama musim kemarau. Sedangkan waduk distribusi berfungsi menyimpan air untuk
mengantisipasi fluktuasi jumlah kebutuhan air. Selain dioperasikan sebagai pengendali banjir
dan penyedia kebutuhan air baku, baik untuk air bersih maupun irigasi, biasanya waduk juga
dioperasikan sebagai pembangkit tenaga listrik, sarana transportasi, pariwisata dan olahraga.
Beberapa bendungan besar di Indonesia diantaranya yaitu, Jatiluhur, Cirata, Saguling,
Sutami dan Wonorejo. Seiring berjalannya waktu, lama-kelamaan bendungan akan mengalami
penurunan kualitas dan akhirnya rusak. Kalsifikasi nilai kerusakan bendungan dibagi dalam
tingkatan nilai sebagai berikut:
a. Low (0 15)
b. Moderate (16 - 45)
c. High (46 - 75)
d. Extreme (76 - 90)
Faktor faktor yang menjadi acuan dalam penilaian nilai resiko kerusakan mencakup penilaian
terhadap:
a. kapasitas eksisting volume tampung bendungan
b. ketinggian bendungan
c. persyaratan evakuasi