Anda di halaman 1dari 2

Maryanna Istiqomah Pratiwi

10611014
Tugas 1 Akuakultur

Sejarah Akuakultur
Akuakultur telah dikenal sejak lama. Bahkan penduduk Gunditjmara di Australia mulai
membudidayakan belut pada bendungan buatan dari lahan bekas gunung berapi sejak 6000
tahun sebelum masehi. Kemudian pada 2500 tahun SM orang Cina telah melakukan akuakultur
di danau. Orang Jepang telah membudidayakan rumput laut di kolam berbambu sementara orang
Romawi pun membudidayakan ikan di kolam. Pada abad pertengahan, akuakultur mulai
menyebar di Eropa Tengah dengan mengadopsi teknik orang Romawi. Tercatat sekitar 430
spesies telah mulai didomestikasi pada abad ke-20.
Saat ini, akuakultur semakin marak akibat kombinasi antara meningkatnya permintaan akan
protein serta terjadinya stagnansi pasokan ikan dan hasil budidaya lain yang dilakukan melalui
penangkapan liar yang kemudian berujung pada overekspolitasi pada beberapa komoditas hasil
laut yang popular. Akuakultur pun mulai ramai digalakkan di berbagai negara semenjak FAO
memulai konsep blue economy untuk melengkapi program green economy di perairan.
Akuakultur sebagai bagian dari program blue economy dipandang dapat membantu peningkatan
pembangunan dan ekonomi yang lebih aman bagi lingkungan serta lebih dapat menjaga
keseimbangan ekosistem.
Definisi Akuakultur
Akuakultur dapat juga disebut sebagai budidaya di perairan. Akuakultur merupakan suatu
kegiatan pertanian untuk organisme-organisme air. Budidaya atau pertanian ini dapat dibedakan
dengan penangkapan organisme akuatik secara komersial atau commercial fishing. Commercial
fishing lebih menitikberatkan pada kegiatan berburu dan mengumpulkan sementara akuakultur
merupakan suatu bentuk campur tangan manusia dalam proses pembesaran organisme agar
produksi komoditas meningkat, termasuk pemberian makan, melindungi dari predator dan
sebagainya. Budidaya perairan atau akuakultur ini juga menandakan bahwa terdapat kepemilikan
atas seorang individu atau perusahaan terhadap komoditas yang dibudidayakan.
Ruang lingkup Akuakultur
Akuakultur mencakup budidaya organisme-organisme baik di air tawar maupun air asin.
Budidaya di air asin lazim disebut marikultur. Tempat pembudidayaan lebih luas lagi.
Pembudidayaan dapat langsung dilakukan di laut, lahan basah di pantai (tambak), di daratan
(kolam) maupun di badan perairan tawar seperti sungai waduk atau danau. Organisme yang
dibudidayakan beragam dari berbagai kingdom, namun umumnya yang dibudidayakan antara
lain ikan, udang-udangan, moluska hingga tumbuhan air misalnya rumput laut.
Spesies-spesies budidaya
Berbagai spesies yang lazim dikonsumsi manusia karena rasa yang lezat serta
mengandung gizi tinggi antara lain Penaeus monodon, P. semisulcatus, P. latisulcatus,
Litopenaeuss vannamei dari kelompok crustacean, kerapu (Ephinephelus sp.), kakap (Lutjanus
sp.), Baronang (Siganus sp.) yang termasuk pisces, Gracilaria serta Euchema yang termausk
dalam komoditas rumput laut (alga) yang dibudidaya di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Aquaculture's growth continuing: improved management techniques can reduce environmental
effects of the practice.(UPDATE)." Resource: Engineering & Technology for a Sustainable
World 16.5 (2009): 20-22. Gale Expanded Academic ASAP. Diakses 21 September 2014.
Global Aquaculture Production Fishery Statistical Collections, FAO, Rome. Diakses 21
September 2014.
History of Aquaculture" Food and Agriculture Organization, United Nations. Diakses 21
September 2014.
Jhingran, V.G., Introduction to aquaculture. 1987, United Nations Development Programme,
Food and Agriculture Organization of the United Nations, Nigerian Institute for Oceanography
and Marine Research.
McCann, Anna Marguerite (1979). "The Harbor and Fishery Remains at Cosa, Italy, by Anna
Marguerite McCann". Journal of Field Archaeology 6 (4): 391411
Suantika, Gede. 2007. Biologi Kelautan. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka