Anda di halaman 1dari 31

Gas Liquefaction Using

Linde-Hampson Process
Bagaimana proses pencairan Gas dengan Linde-Hampson
Gas apa saja yang bisa dicairkan menggunakan Linde-Hampson
Apa keterbatasan sistem pendinginan Linde-Hampson
Siklus Linde-Hampson adalah proses untuk
pencairan gas yang independen ditemukan oleh
William Hampson dan Carl von Linde pada
tahun 1895.
efek Joul e-
Thompson
memanfaatkan
Intro
SEJARAH
akhir
1800
Para ilmuwan menyadari bahwa
udara dapat dicairkan dan
komponen-komponennya dapat
dipisahkan dengan
mengkompres dan
mendinginkannya
awal
1877
Raoul Pierre Pictet
(kimiawan&fisikawan Swiss)
menguapkan cairan sulfur dioksida
untuk mencairkan karbon dioksida
akhirnya diuapkan untuk
mendinginkan gas oksigen menjadi
cairan
awal
1877
Dua hari kemudian, Louis Paul
Cailletet (fisikawan Perancis)
mengumumkan metodenya
untuk mencairkan oksigen
molekuler.
SEJARAH
Proses produksi oksigen cair
secara komersial dikembangkan
secara terpisah oleh insinyur
Jerman Carl von Linde dan insinyur
Britania William Hampson.
Maret
1877
ilmuwan Polandia, Zygmunt
Wrblewski dan Karol Olszewski
mencairkan oksigen ke dalam
keadaan stabil untuk pertama
kalinya
1891
James Dewar (kimiawan
Skotlandia) berhasil
memproduksi oksigen cair
dalam jumlah yang cukup
banyak untuk dipelajari
1895
FLUIDA UDARA
Oksigen Nitrogen Argon Neon
Florin
Hidroge
n
Helium
Pencairan gas termodinamika ideal
Siklus Carnot
Pencairan gas merupakan sistem
terbuka, karena itu untuk sistem
pencairan ideal, proses pencairan
diawali dari sistem Carnot yaitu tekanan
isotermal reversibel diikuti oleh
ekspansi isentropik reversibel.
Tekanan yang dicapai pada akhir kompresi isotermal
sangatlah tinggi diatas 10
7
psia untuk nitrogen.
Tidaklah mungkin untuk mencapai tekanan ini dengan
peralatan kompresi yang ada sekarang, itulah alasan
mengapa tidak ada kondisi ideal pada prakteknya.
Hk. Termodinamika untuk gambar di atas :


Siklus Carnot (reversibel dan isotermal)


Substitusi Persamaan diatas :


Untuk kondisi ideal m = mf sehingga y = W
i
/ m = 1
W/ m
f
) ( ) (
1 1 f f i R
h h m h h m W Q
) ( ) (
1 1 1 2 1 f R
s s mT s s mT Q
f
i
f f
i
m
W
h h s s T
m
W

) ( ) (
1 1 1
Pembuatan Suhu
Rendah
Joule Thompson
Expansion
Adiabatic
Expansion
Joule
Thompson
Effect
It describes the temperature change of a gas or liquid
when it is forced through a valve or porous plug while
kept insulated so that no heat is exchanged with the
environment. This procedure is called a throttling
process or JouleThomson process.
Joule
Thompson
Effect
Expansion valve bekerja secara
isentalpi.
Plot antara kondisi keluaran tertentu
terhadap kondisi masukan tertentu
akan didapatkan kurva dengan entalpi
yang konstan.
Dalam kurva tersebut terdapat daerah
di mana ketika terjadi ekspansi di
dalam valve, akan terjadi peningkatan
suhu dan ada juga daerah yang terjadi
penurunan suhu.
Kondisi yang kita inginkan adalah
terjadinya penurunan suhu saat
ekspansi supaya terjadi pencairan.
Dua daerah tersebut
dibatasi oleh kurva inversi,
di mana

= 0

yang merupakan slope


dari kurva di samping,
dapat didefinisikan sebagai
konstanta Joule-Thomson

, di mana :
Proses pembuatan suhu rendah
menggunakan alat yang memberikan
kerja, contohnya mesin ekspansi.
Dalam gas ideal, ekspansi terjadi secara
reversibel dan adiabatis sehingga
isentropik.
Koefisien ekspansi isentropik


didefinisikan sebagai perubahan suhu
akibat perubahan tekanan saat entropi
tetap.

Adiabatic
Expansion
H
KE
JT AE
Ekspansi melalui Expansion Valve tidak
memindahkan energi, tetapi
memisahkan molekul akibat pengaruh
gaya intermolekular, sehingga disebut
metode kerja internal.

Ekspansi adiabatis melalui expander
menurunkan suhu dengan
menghilangkan energi dalam gas
dalam bentuk kerja eksternal, sehingga
disebut metode kerja eksternal.

Komponen
dalam Sistem
Linde-
Hampson
Sederhana
A
D
C
B
A. Compressor
B. Heat Exchanger
C. Joule-Thomson Valve
D. Liquid Reservoir
Mekanisme
Operasi Sistem
Linde-
Hampson
Sederhana
Mekanisme operasi:
Proses 1-2: Kompresi
Proses 2-3: Pendinginan
Proses 3-4: Ekspansi Joule-Thomson
Proses lanjutan: Pemisahan uap
jenuh(g)-cairan jenuh(f)
Proses g-1: Counter Flow
Asumsi (kondisi ideal):
Tidak pressure drop pada aliran
Tidak ada panas masuk/keluar
Efektifitas HE 100%
Proses kompresi terjadi secara
isotermal
Proses 1-2:
Kompresi

Proses 1-2: Kompresi
Gas pada kondisi 1 masuk ke
kompresor dan dikompresi
menjadi gas bertekanan
tinggi pada kondisi 2.
Proses terjadi secara
isotermal (ideal)
T2=T1
S2<S1
Proses 2-3:
Pendinginan
Proses 2-3: Pendinginan
Gas terkompresi pada kondisi
2 masuk ke penukar panas
yang bertekanan konstan
(ideal) dan didinginkan
menjadi gas bersuhu rendah
pada kondisi 3.
Proses terjadi secara isobar.
T3<<T2
Proses 3-4:
Ekspansi
Joule-
Thomson
Proses 3-4: Ekspansi Joule-
Thomson
Gas terkompresi pada kondisi
3 diekspansi melalui Joule-
Thomson valve menjadi
kondisi 4.
Proses terjadi secara
isentalpi.
Jika gas pada kondisi 3
berada di bawah suhu
inversinya maka akan terjadi
penurunan temperatur.
Kondisi 4 terletak pada
bagian dalam diagram T-S
uap cair maka sebagian gas
akan terkondensasi selama
ekspansi.

Proses
lanjutan:
Pemisahan
uap jenuh-
cairan jenuh
Proses lanjutan: Pemisahan
uap jenuh-cairan jenuh
Pada titik 4, beberapa aliran
gas dalam keadaan cair dan
pergi pada kondisi f (cair
jenuh), dan sisa gas akan
meninggalkan penampungan
cairan pada kondisi g (uap
jenuh) mengalir kembali
menuju ke proses awal.

Proses g-1:
Counter Flow
Proses g-1: Counter Flow
Gas dingin pada kondisi g
masuk ke penukar panas
digunakan untuk
mendinginkan gas
bertekanan tinggi pada
kondisi 2.
Gas keluar dari penukar
panas menjadi gas bersuhu
tinggi pada kondisi 1.
Proses terjadi secara isobar.
T1>>Tg
Kemudian gas pada kondisi 1
masuk kembali ke kompresor
untuk siklus selanjutnya.

Perhitungan
Matematis
Keseimbangan energi untuk
aliran tunak ke HE, JT-valve,
dan liquid reservoir



Fraksi gas yang tercairkan:

Kerja yang dibutuhkan sistem
untuk aliran tunak pada
kompresor




Kerja yang dibutuhkan per
unit massa cairan

Parameter
Performa
Sistem
Figure of Merit (FOM) atau efisiensi exergi
Rasio dari kerja teoritis minimum per kerja aktual yang dibutuhkan
sistem


Digunakan untuk mengetahui performa sistem dari beberapa
sistem yang berbeda kondisi, proses, dan fluida kerja dengan cara
membandingkan performa sistem yang berbeda terhadap sistem
ideal
Keterbatasan
Sistem
(N
2
, O
2
, Ar, etc.)
Helium
-268.9
o
C
Oxygen
-183
o
C
Nitrogen
-195.8
o
C
Argon
-185.9
o
C
Hydrogen
-252.9
o
C
Neon
-246.1
o
C
Gas secara umum dapat dibagi menjadi dua kelompok:
1. Gas yang suhu inversi maksimumnya di atas suhu ruang.
Contohnya adalah kebanyakan gas yang ada di dunia ini.
2. Gas yang suhu inversi maksimumnya di bawah suhu ruang.
Contoh: Hidrogen, Helium, dan Neon.
Perbedaan di atas menentukan dalam proses pencairan gas
apakah hanya memerlukan efek Joule-Thomson atau
memerlukan metode seperti pendinginan awal.
Grafik

- T
PENDAHULUAN
Kesimpulan
Proses pencairan Linde Hampson 3 proses utama: Kompresi,
Pendinginan, expansi Joule Thompson
Gas yang bisa dicairkan dengan adalah gas yang memiliki
konstanta joule Thompson positif pada suhu ruang.
Sistem linde Hampson tidak bisa diaplikasikan kepada seluruh
gas.