Anda di halaman 1dari 41

..

Kebijakan
Penataan Ruang di
Perairan Laut
berdasarkan
UU no. 26 tahun 2007
Disampaikan oleh:
Direktur Pembinaan Penataan
Ruang Daerah Wilayah I,
Kementerian Pekerjaan Umum
Outline
Isu & Permasalahan
Dasar hukum
Gambaran RTRW, RDTR dan RRTR
Kawasan Strategis
Kebijakan Penataan Ruang di Wilayah
Perairan Laut & Pesisir Berdasarkan
Sudut Kepentingan
Penutup

17,508 pulau
95,181 km garis pantai
5,8 juta km
2
dari 7,7 juta km
2
adalah laut
440 dari 495 kab/kota di Indonesia berada di pesisir atau
memiliki garis pantai
Luas terumbu karang mencapai 32.935 km
2
(sekitar 16,5%
dari luas terumbu dunia), dan terdiri atas 70 genus dan lebih
dari 500 spesies karang.
Memiliki 3 ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) yang
berfungsi sebagai alur pelayaran internasional
Zona Ekonomi Ekslusif bersifat Public Domain
Tersiolasinya pulau pulau kecil terluar, rentan terhadap
masuknya penghuni ilegal dan rawan okupansi serta adanya
kesenjangan didalam prasarana telekomunikasi
Prasarana dan sarana dasar wilayah, termasuk akses ke
pusat-pusat pelayanan dalam skala kecamatan masih
terbatas
Adanya potensi pariwisata di pulau-pulau kecil terluar yang
belum termanfaatkan
Belum optimalnya pengawasan terhadap keberadaan
pulau-pulau kecil terluar dan kelautan perikanan ikan.
Terbatasnya sarana dan prasarana yang mendukung
pertahanan dan keamanan serta penanggulangan
kebencanaan di wilayah laut
Terbatasnya pengawasan pada kegiatan yang menimbulkan
pencemaran di laut
Berkurangnya luasan hamparan mangrove
Bergesernya garis pantai yang diakibatkan oleh abrasi
Ada potensi limbah sampah domestik (rumah tangga) yang
menganggu habitat kelautan
Alih fungsi hutan bakau menjadi tambak dan perkebunan
kelapa sawit
UU PR 26 tahun 2007
Pasal 1:
Ruang yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di
dalam bumi
Pasal 6:
Penataan ruang mencakup ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk
ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan, diatur sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan. Ruang laut dan ruang udara, pengelolaannya
diatur dengan undang-undang tersendiri.




DASAR HUKUM
Ruang
Tidak ada dikotomi antara ruang darat dengan ruang laut, atau ruang lainnya
(udara, dalam bumi) dalam hal penataan ruang
UU PR 26 tahun 2007
Pasal 5 ayat 2:
Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan terdiri atas kawasan lindung
dan kawasan budidaya.
Kawasan Lindung-fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup,
mencakup SDA alam (sempadan pantai, kaw. suaka alam laut dan perairan
lainnya) dan SDA buatan (kaw. sekitar danau/waduk, kaw sekitar mata air dll)
Kawasan Budidaya-fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi
dan potensi SDA

Pasal 20 :
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional memuat rencana struktur ruang
wilayah nasional yang meliputi sistem perkotaan nasional yang terkait dengan
kawasan perdesaan dalam wilayah pelayanannya dan sistem jaringan
prasarana utama.
sistem jaringan prasarana utama-sistem primer yang dikembangkan untuk
mengintegrasikan NKRI melalui penyediaan Alur Laut Kepulauan Indonesia
(ALKI) bagi lalu lintas damai sesuai dengan ketentuan hukum internasional




DASAR HUKUM
RPJP Nasional
RPJM Nasional
RPJP Provinsi
RPJM Provinsi
RPJP Kab/Kota
Rencana
Pembangunan
RTRW Nasional
RTRW Provinsi
RTRW Kab
Rencana
Umum Tata
Ruang
RTR
Pulau/Kepulauan
RTR KSN
RTR KSP
Rencana Rinci
Tata Ruang
RPJM Kab/Kota
RTRW Kota
RDTR Kabupaten
RTR KSK
RDTR Kota
RTR KSK
RTRW
Kabupaten/Kota
RTBL
RDTR
RENCANA
Wilayah
Kabupaten/Kota
BWP
Sub BWP
WILAYAH
PERENCANAAN
IDENTIFIKASI
ARAHAN SPASIAL BAGI
WILAYAH LAUT DAN PESISIR
RTRW
Batas
administra
si
Lingkup pengaturan
ruang darat, ruang
laut dan ruang
udara
Pengelolaan Ruang
Laut dan Ruang
Udara
Diatur dengan
UU Penataan
Ruang
Diatur dengan
UU tersendiri
RTRWN ditetapkan
dengan PP
RTR pulau/ Kepulauan
dan RTR KSN
ditetapkan dengan
Perpres
ditetapkan dengan Perda
Ruang Laut:
12 mil laut Provinsi
4 mil laut untuk
kabupaten/kota
(permen PU no.
20/PRT/M/2011)
UU 27 tahun 2007
tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pualu pulau kecil

Pasal 5
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil meliputi
kegiatan perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan
pengendalian terhadap interaksi manusia dalam memanfaatkan Sumber
Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta proses alamiah secara
berkelanjutan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan Masyarakat
dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


DASAR HUKUM
PENJELASAN PASAL 9

RZWP-3-K Provinsi dan Kabupaten/Kota merupakan bagian dari Tata Ruang
Wilayah Provinsi atau Kabupaten/Kota

Jangka waktu berlakunya RZWP-3-K Provinsi dan Kabupaten/Kota sesuai
dengan jangka waktu Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana
Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota yaitu 20 (dua puluh) tahun,

RZWP-3-K Provinsi ditetapkan dengan Peraturan Daerah Provinsi dan
RZWP-3-K Kabupaten/Kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah
Kabupaten/Kota
Intepretasi dari :
bagian dari Tata Ruang Wilayah Provinsi atau Kabupaten/Kota
Hal-hal yang akan diatur di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil
dituangkan dalam :
o Raperda RTRW atau rencana Revisi RTRW (skala 1:50.000)
o Rencana Rinci : RRTR Kawasan Strategis Provinsi. RRTR Kawasan
Strategis Kabupaten, RDTR (skala 1:5.000) atau RTBL (skala
1:1.000)


MUATAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH
PROVINSI /KABUPATEN :
1. Tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang
wilayah provinsi/kab
2. Rencana struktur ruang wilayah provinsi/kab
yang meliputi sistem perkotaan di wilayahnya
yang terkait dengan kawasan perdesaan dan
sistem jaringan prasarana wilayah provinsi/kab
3. Rencana pola ruang wilayah provinsi/kab yang
meliputi kawasan lindung provinsi/kab dan
kawasan budidaya provinsi/kab
4. Penetapan kawasan strategis provinsi/kab
5. Arahan pemanfaatan ruang wilayah provinsi/kab
yang berisi indikasi program utama jangka
menengah lima tahunan
6. Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang
wilayah provinsi/kab yang berisi ketentuan umum
peraturan zonasi, ketentuan perizinan, ketentuan
insentif dan disintentif, serta arahan sanksi

Muatan RZWP-3-K
1. alokasi ruang untuk :
Pemanfaatan
Umum,
Kawasan
Konservasi,
Kawasan Strategis
Nasional Tertentu,
dan alur laut;
2. keterkaitan antara
Ekosistem darat dan
Ekosistem laut dalam
suatu Bioekoregion;
3. penetapan
pemanfaatan ruang
laut; dan
4. penetapan prioritas
Kawasan laut untuk
tujuan konservasi,
sosial budaya,
ekonomi, transportasi
laut, industri strategis,
serta pertahanan dan
keamanan.

Muatan Peraturan Zonasi
Standar Teknis
Materi Wajib :
1. Ketentuan kegiatan dan Penggunaan Lahan
2. Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Ruang
3. Ketentuan Tata Bangunan
4. Ketentuan Prasarana dan Sarana Minimal
5. Ketentuan Pelaksanaan
Materi Pilihan (ada bila dibutuhkan):
6. Ketentuan Tambahan
7. Ketentuan Khusus
8. Standar Teknis
9. Ketentuan Pengaturan Zonasi



Muatan RDTR
1. Tujuan Penataan Ruang
2. Rencana Pola Ruang
3. Rencana Jaringan Prasarana
4. Penetapan Sub BWP Yang diprioritaskan
Penanganannya
5. Ketentuan Pemanfaatan Ruang
6. Peraturan Zonasi

Muatan RZWP-3-K
1. alokasi ruang untuk :
Pemanfaatan
Umum,
Kawasan
Konservasi,
Kawasan Strategis
Nasional Tertentu,
dan alur laut;
2. keterkaitan antara
Ekosistem darat dan
Ekosistem laut dalam
suatu Bioekoregion;
3. penetapan
pemanfaatan ruang
laut; dan
4. penetapan prioritas
Kawasan laut untuk
tujuan konservasi,
sosial budaya,
ekonomi, transportasi
laut, industri strategis,
serta pertahanan dan
keamanan.
NOMENKLATUR MENURUT PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN
UU No 26 Tahun 2007

Kawasan*
Wilayah yang memiliki fungsi
utama kawasan lindung dan
kawasan budidaya

*istilah kawasan menurut UU 26 Tahun
2007 merupakan kawasan dalam arti
umum
UU No 27 Tahun 2007

Kawasan*
Bagian wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil yang memiliki
fungsi tertentu yang diterapkan
berdasarkan kriteria fisik,
biologi, sosial dan ekonomi
untuk dipertahankan
keberadaannya

*istilah kawasan menurut UU 27
Tahun 2007 merupakan kawasan
dalam arti spesifik diwilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil

Permen PU No 20 Tahun 2011
ZonaKawasan atau area
yang memiliki fungsi dan
karakteristik spesifik


Skala Peta RDTR dan
Peraturan Zonasi 1:5000
UU No 27 Tahun 2007
ZonaRuang yang
penggunaannya disepakati
bersama antara berbagai
pemangku kepentingan dan
telah ditetapkan status
hukumnya
Skala peta RZWP3K
disesuaikan dengan tingkat
ketelitian peta Rencana Tata
Ruang Wilayah Provinsi
dan/Atau Rencana Tata
Ruang Wilayah
Kabupaten/Kota

NOMENKLATUR MENURUT PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN
Gambaran
RTRW,
RDTR dan
RRTR Kawasan Strategis
Peta Administrasi Kabupaten
Pesisir Selatan

Peta Rencana Strategis
Kabupaten Pesisir Selatan

Peta Kaw RDTR
Kabupaten Pesisir Selatan
Peta Penetetapan BWP dan
prioritas penanganan Kabupaten
Pesisir Selatan

Kecamatan Jepara
Kebijakan Penataan Ruang
di Wilayah Perairan Laut & Pesisir
Berdasarkan Sudut Kepentingan
1. PERTAHANAN & KEAMANAN (mis. RTR KSN Perbatasan
Negara di Prov NTT)

Tujuan Penataan Ruang untuk mewujudkan:
Fungsi pertahanan dan keamanan;
Rehabilitasi dan pelestarian kawasan lindung dengan fungsi
perlindungan keanekaragaman hayati.
Kebijakan Penataan Ruang Berdasarkan Sudut
Kepentingan

RTR KAWASAN PERBATASAN NEGARA
DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
2. FUNGSI DAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN HIDUP
(mis. RTR KSN PANCANGSANAK)

TUJUAN PENATAAN RUANG untuk mewujudkan:
Pelestarian keanekaragaman hayati pesisir melalui
penanganan erosi dan sedimentasi berbasis pengelolaan
DAS Terpadu;
pelestarian ekosistem;
pengembangan kawasan pariwisata.
RTR KSN PACANGSANAK
Meliputi:
13 DAS pada WS Ciwulan-Cilaki
24 DAS pada WS Citanduy
6 Kab. Dan 2 Kota pada Provinsi
Jawa Barat dan Jawa Tengah

RENCANA POLA RUANG

3. PERTUMBUHAN EKONOMI (mis. RTR KAWASAN SELAT
SUNDA)

TUJUAN PENATAAN RUANG untuk mewujudkan:
keterhubungan antarwilayah dan berdaya saing;
peningkatan perekonomian nasional yang berbasis sektor
pertanian, sektor perikanan, sektor pariwisata, sektor
perdagangan dan jasa, serta sektor industri dengan
didukung prasarana dan sarana.

RTR KAWASAN SELAT SUNDA
36
P. Rimau
P. Kandang
P. Sangiang
Ciwandan
Pasauran
P. Sebuku
P. Sebesi
Cilegon
Timur
Rencana Rel KA
Bakauheni -
Bandarlampung Rencana Tol
Bakauheni -
Terbanggibesar
Rencana Tol
Cilegon -
Bojonegara
Rencana
Jembatan
Selat Sunda
Rencana Tol
Cilegon - Anyer (19 km)
(Implikasi IPJS)
Rencana Rel KA
Cilegon - Anyer
(Implikasi IPJS)
Rencana Tol
Anyer - Merak (12 km)
(Implikasi (IPJS)
Jalan Tol
Jalan Arteri Primer - Nasional
Jalan Kolektor Primer - Nasional
Jalan Kolektor Primer - Provinsi
Penyeberangan Ferry Merak-
Bakauheni
U
Rencana Jalan
Lingkar Cilegon
RENCANA PEMBANGUNAN JEMBATAN SELAT SUNDA
Anyer-Bakauheni, melalui P.Sangiang, P.Panjurit, dan P.
Kandang Balak , dengan panjang jembatan 31 km.
JALUR ALKI SELAT SUNDA
37
PENDEKATAN RTR KAWASAN SELAT SUNDA
Sumber: Pengembangan Kawasan Selat Sunda, Tarunas, 2011
Afrika Bojonegara Hongkong Cina Taiwan
Australia Bojonegara Hongkong Cina Taiwan
Kawasan Selat Sunda dilalui oleh Jalur ALKI
Berada dekat dengan perlintasan pelayaran
internasional, yang menghubungkan antara
Asia Barat dan sekitarnya dengan Asia Pasifik
KONSEP PENGEMBANGAN RTR KAWASAN SELAT SUNDA
Agropolitan
Minapolitan
Pertanian, Perkebunan,
Industri, Pariwisata Alam
Perdagangan
Pergudangan &Pelabuhan Intl,
Pendidikan Tinggi
Pelabuhan
Terminal Multimoda Industri
dan Pergudangan
Pertanian Perkebunan
Wisata Bahari
CLUSTER PERTANIAN, INDUSTRI
DAN PARIWISATA
CLUSTER INDUSTRI
DAN PARIWISATA
KEP Pariwisata Bahari
Infrastruktur Bandara




KEP Industri
Pergudangan
Pelabuhan, Terminal
Multimoda, Pelabuhan





Untuk menampung
Kawasan Industri dari
Bekasi, Karawang yang
telah padat
Optimalisasi Pelabuhan
Bojonegara untuk
Terminal Transit Kapal
Asing yang Melintas ALKI
1
Pengembangan wisata
terpadu bahari dan Taman
Nasional, wisata budaya
Alokasi ruang kawasan industri saat ini di
Karawang dan Purwakarta 5000 8000 Ha.
Infrastruktur kurang memadai. Harga lahan
relatif mahal 700 rb 1 juta, sementara harga
lahan di Banten 300 500 rb
CLUSTER INDUSTRI DAN
PARIWISATA
Pariwisata
Kaki
Jembatan
kawasan
perdagangan,
jasa, budaya dan
pariwisata
Permukiman skala
besar

4. PENGEMBANGAN KEPULAUAN (mis. RTR Batam Bintan
Karimun)

TUJUAN PENATAAN RUANG untuk mewujudkan:
peningkatan fungsi pelestarian dan perlindungan
lingkungan hidup sebagai satu kesatuan ekosistem
kepulauan.



RTR Kawasan Batam, Bintan, dan
Karimun (BBK)
PENUTUP
Rencana Tata Ruang meliputi ruang darat, laut, dan udara termasuk ruang
di dalam bumi UU Penataan Ruang

Ruang laut, pengelolaannya diatur dengan undang-undang tersendiri
UU Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

Kebijakan penataan ruang di perairan laut untuk tingkat nasional mengacu
kepada Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), berikut
rencana rincinya.

Kebijakan penataan ruang di perairan laut untuk tingkat provinsi,
kabupaten, dan kota mengacu kepada Rencana Tata Ruang Wilayah
masing-masing daerah, berikut rencana rincinya
Karena merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang Wilayah
Prov/Kab/Kota, Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
seyogyanya terintegrasi dalam RTRW, atau RRTR KSP/KSK atau RDTR

Diperlukan instrument operasional dengan tingkat kedetailan yang tinggi
seperti RDTR dan Peraturan Zonasi untuk menentukan arah pengelolaan
lebih lanjut sumber daya Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tools
yang dapat menjadi pedoman untuk seluruh stakeholder dalam
penyelenggaraan penataan ruang.

Anda mungkin juga menyukai