Anda di halaman 1dari 18

Hukum II Termodinamika

Pada pembahasan sebelumnya telah dibahas tentang hukum


Termodinamika yaitu Hukum I Termodinamika. Hukum I Termodinamika
menyatakan bahwa energi adalah kekal. Ada beberapa proses yang dapat
dibayangkan yang menunjukkan perubahan energi tetapi tidak tampak terjadi di
alam. Sebagai contoh, bila benda yang panas disentuhkan dengan benda yang
dingin maka akan terjadi aliran panas dari benda yang panas ke benda yang
dingin, tidak pernah sebaliknya secara sendirinya tanpa memasukkan kerja dalam
bentuk apapun. Hukum I Termodinamika tidak membatasi kemanapun kita untuk
mengubah kerja menjadi kalor atau sebaliknya kalor menjadi kerja asalkan hukum
kekekalan energi terpenuhi. Pada kenyataannya kerja seluruhnya dapat diubah
menjadi kalor tetapi kalor tidak seluruhnya dapat diubah menjadi kerja.
Selanjutnya, pada pembahasan sekarang akan dibahas tentang Hukum II
termodinamika. Dalam membahas tentang Hukum II Termodinamika, yang
dibahas tentang proses reversibel dan proses irreversibel, mesin kalor, siklus
carnot, mesin pendingin, hukum II termodinamika, dan entropi. Tetapi, dalam
pembahasa kali ini kita tidak akan membahas tentang entropi.

A. Proses Reversibel dan Proses Irreversibel

Bila kita meninjau sebuah sistem yang khas dalam kesetimbangan


termodinamika dengan massa M dari suatu gas ideal yang dibatasi dalam sebuah
susunan silinder pengisap dengan volume V, tekanan P serta temperatur T. Dalam
kesetimbangan maka variabel-veriabel tersebut tetap konstan terhadap waktu.
Dimisalkan bahwa silinder tersebut dinding-dindingnya adalah isolator panas
yang ideal dan alasnya adalah penghantar panas yang ideal ditempatkan pada
sebuah reservoir besar yang dipertahankan pada temperatur T sama seperti
gambar 1. Kemudian keadaan sistem tersebut diubah dengan T adalah sama tetapi
volume V direduksi sebesar setengah volume awalnya.

1
1. Proses Irreversibel (Proses Tak Terbalikkan)

Apabila kita menekan pengisap tersebut dengan sangat cepat sampai


kembali lagi ke kesetimbangan dengan reservoir, selama proses ini gas bergolak
dan tekanan serta temperaturnya tidak dapat didefinisikan secara tepat sehingga
grafik proses ini tidak dapat digambarkan sebagai sebuah garis kontinu dalam
diagram P-V karena tidak diketahui berapa nilai tekanan atau temperatur yang
akan diasosiasikan dengan volume yang diberikan. Proses inilah yang dinamakan
proses irreversibel.

2. Proses Reversibel (Proses Terbalikkan)

Apabila kita menekan pengisap dengan sangat lambat sehingga tekanan,


volume, dan temperatur gas tersebut pada setiap waktu adalah kuantitas-kuantitas
yang dapat didefinisikan secara tepat. Mula-mula sedikit butiran pasir dijatuhkan
pada pengisap dimana kemudian volume sistem akan direduksi sedikit dan T akan
naik serta terjadi penyimpangan terhadap kesetimbangan yang sangat kecil.
Sejumlah kecil kalor akan dipindahkan ke reservoir dan dalam waktu singkat
sistem akan mencapai kesetimbangan baru dengan T adalah sama dengan T
reservoir. Peristiwa ini diulakukan berulang-ulang sampai akhirnya kita mereduksi
volume menjadi setengah kali volume awalnya. Selama keseluruhan proses ini,
sistem tersebut tidak pernah berada dalam sebuah keadaan yang berbeda banyak
dari sebuah keadaan kesetimbangan. Proses inilah yang dinamakan proses
reversibel. Proses reversibel adalah sebuah proses yang dengan suatu perubahan
diferensial di dalam lingkungannya dapat dibuat menelusuri kembali lintasan
proses tersebut.

Pada praktiknya semua proses adalah irreversibel tetapi kita dapat


mendekati keterbalikan (reversibel) sedekat mungkin dengan membuat perbaikan-
perbaikan eksperimen yang sesuai. Proses yang betul-betul reversibel adalah suatu
abstraksi sederhana yang berguna dalam hubungannya dengan proses riel adalah
serupa seperti hubungan abstraksi gas ideal dengan gas riel. Pada proses reversibel
juga terjadi proses isotermal, kerena kita menganggap bahwa T gas berbeda pada
setiap waktu hanya sebanyak diferensial dT dari T konstan reservoir dimana
silinder berdiam. Volume gas tersebuat juga dapat direduksi secara adiabatikr
dengan memindahkan silinder dari reservoir kalor dan menaruhnya pada sebuah
tempat yang tidak bersifat sebagai penghantar. Dalam proses adiabatikr tidak ada
kalor yang masuk ataupun keluar dari sistem. Proses adiabatikr dapat merupakan
proses reversibel atau irreversibel, dimana proses reversibel kita dapat
menggerakkan pengisap sangat lambat dengan cara pembebanan pasir dan proses
yang irreversibel kita dapat menyodok pengisap dengan sangat cepat ke bawah.

Selama proses kompresi adiabatik temperatur gas akan naik karena dari
Hukum I Termodinamika bila Q = 0 maka besarnya usaha W untuk mendorong
pengisap ke bawah harus muncul sebagai suatu pertambahan energi dalam
sebesar ΔU. W akan bernilai berbeda untuk kecepatan yang berbeda dari
pendorongan pengisap tersebut ke bawah yang diberikan oleh ∫PdV yaitu luas
daerah di bawah kurva pada diagram P –V (hanya untuk proses reversibel untuk P
tetap). ΔU dan ΔT tidak akan sama baik untuk proses reversibel ataupun

3
irreversibel.

B. Mesin Kalor

Sebelum kita membahas tentang siklus Carnot dan Hukum Kedua


Termodinamika maka terlebih dahulu membahas tentang mesin kalor. Bagi kita
adalah mudah untuk menghasilkan energi termal dengan melakukan kerja.
Contohnya adalah dengan menggosokkan telapak tangan dengan cepat maka
tangan akan terasa panas. Namun untuk mendapatkan kerja dari energi termal
lebih sulit, dan penemuan alat yang praktis untuk melakukan hal ini terjadi sekitar
tahun 1700 dengan pengembangan mesin uap (mesin kalor). Ide-ide yang
mendasari mesin kalor adalah bahwa energi mekanik dapat diperoleh dari energi
termal ketika kalor dibiarkan mengalir dari temperatur tinggi ke temperatur
rendah. Dalam semua mesin kalor pengubahan energi panas ke energi mekanik
selalu disertai dengan pengeluaran gas buang yang membawa sejumlah energi
panas. Oleh karena itu, hanya sebagian energi panas hasil pembakaran bahan
bakar yang dapat diubah menjadi energi mekanik seperti dalam diagram skematis
pada gambar 2.
Gambar 2 . Diagram skematis untuk transfer energi pada mesin kalor

Mesin menyerap kalor sejumlah Q1 dari reservoir panas dengan temperatur

tinggi (T1), kalor yang diserap ini sebagian diubah menjadi kerja sebesar W dan

sebagiannya lagi dibuang sebagai kalor Q2 pada temperatur rendah (T2). Karena
fluida kerja melalui suatu proses siklus dimana dalam siklus berawal dari satu
keadaan dan kembali ke keadaan awalnya, sehingga sangat jelas bahwa
ΔU = 0. Sesuai dengan hukum pertama termodinamika maka besarnya usaha W
dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut.

ΔU = Q – W ………………………………………………………….(1)

0 = (Q1 – Q2) – W

W = Q1 – Q2 ............................................................................................. (2)

Dengan Q1 dan Q2 adalah besaran yang bernilai positif. Jika fluida kerjanya adalah
gas, maka usaha yang dilakukan fluida kerja untuk sebuah proses siklus sama
dengan luas yang dimuat siklus pada diagram P – V. Efisiensi termal sebuah
mesin kalor merupakan perbandingan nilai antara usaha yang dilakukan dan kalor
yang diserap dari reservoir suhu tinggi selama satu siklus. Hubungan ini dapat
dirumuskan dalam suatu persamaan sebagai berikut.

W Q1 − Q2
η= =
Q1 Q2 ……………………………………………………… (3)

Q2
η = 1−
atau Q1 ………………………………………………………………. (4)

Dengan η adalah efeisiensi mesin kalor.

5
 Penerapan efisiensi mesin kalor

Sebuah mesin kalor mengambil kalor sebanyak 2000 Joule selama fase
pembakaran serta kehilangan 750 Joule kalor pada proses pembuangan.
Tentukanlah berapa efisiensi dari mesin kalor tersebut!

Penyelesaian.

Diketahui : Q1 = 2000 J

Q2 = 1250 J

Ditanyakan: η = …………….?

Jawab:

Q2
η = 1−
Q1

1250 J
η = 1−
2000 J

5
η = 1−
8

3
η = × 100% = 37,5%
8

Jadi besarnya efisiensi dari mesin kalor tersebut adalah 37,5%.

C. Mesin Pendingin

Mesin pendingin adalah mesin kalor yang prinsip kerjanya terbalik dengan
mesin kalor. Mesin kalor mengambil kalor dari reservoir kalor bersuhu tinggi dan
mengubahnya menjadi kerja mekanik serta membuang kelebihannya ke reservoir
suhu rendah. Tetapi mesin pendingin mengambil panas dari reservoir suhu rendah
kemudian kompresornya memberikan input usaha mekanik dan kalor dibuang
pada reservoir suhu tinggi.

Sebagai contoh dari mesin pendingin adalah lemari es (kulkas) dan


pendingin ruangan atau AC. Dalam lemari es, bagian dalam peralatan bertindak
sebagai reservoir dingin, sedangkan bagian luar yang lebih hangat bertindak
sebagai reservoir panas (seperti yang ditunjukkan oleh gambar 3). Kulkas
mengambil kalor dari makanan yang tersimpan dalam kulkas dan mengalirkan
kalor ke udara di sekitar kulkas. Untuk dapat mengalirkan kalor maka diperlukan
energi listrik untuk melakukan usaha pada sistem sehingga kalor dapat mengalir
dari reservoir dingin ke reservoir panas. Maka dari itulah pada saat kulkas bekerja
permukaan-permukaan luar kebanyakan kulkas terasa hangat ketika kita sentuh
(kulkas menghangatkan udara di sekitarnya).

7
Dalam satu kali siklus panas Q2 masuk ke dalam mesin pendingin pada

suhu T2. Besarnya usaha W dilakukan pada mesin dan kalor Q 1 dilepaskan ke

reservoir suhu tinggi T1, sehingga dapat ditulis dengan menggunakan persamaan
sebagai berikut.

Q1 = W + Q2 atau

W = Q1 – Q2 ……………………………………………………………(5)

Efisiensi mesin pendingin (η) didefinisikan sebagai perbandingan


antara jumlah kalor yang diserap dengan usaha yang dilakukan
pada sistem.

Q2
η= × 100%
W

Q2
η= × 100%
Q1 − Q2 …………………………………………………….(6)

Dengan gas ideal sebagai fluida maka persamaan di atas dapat diubah menjadi
sebagai berikut.

T2
η= × 100%
T1 − T2 ……………………………………………….…….(7)

 Penerapan efisiensi mesin pendingin

Sebuah kulkas memiliki efisiensi sebesar 80%. Jika suhu ruangan di luar kulkas
adalah 270 C, berapakah suhu paling rendah di dalam kulkas yang dapat kita
peroleh?

Penyelesaian
Diketahui : T1 = 270 C = (27 + 273) K = 300 K

η = 40 %

Ditanyakan : T2 =………………? (yang paling rendah)

Jawab :

T2
η= × 100%
T1 − T2

T2
80% = × 100%
T1 − T2

80 T2
=
100 T1 − T2

4 T2
=
5 300 K − T2

5T2 = 4(300 K - T2)

5T2 = 1200 K - 4T2

5T2 + 4T2 = 1200 K

9T2 = 1200K

1200 K
T2 = = 133,3K
9

Jadi suhu paling rendah di dalam kulkas yang dapat kita peroleh adalah sebesar
133,3 K.

9
D. Hukum Kedua Termodinamika

Pengalaman menunjukkan bahwa tidak ada satupun dari mesin-mesin yang


dibicarakan sebelumnya (mesin kalor dan mesin pendingin) mempunyai efisiensi
100%. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada satupun mesin-mesin tersebut yang
mampu mengubah kalor seluruhnya menjadi usaha. Dalam pembahasans
sebelumnya mengenai hukum pertama termodinamika ketidakmungkinan ini tidak
disinggung sama sekali. Dalam membahas tentang hukum kedua termodinamika,
hal ini akan dibahas.

Hukum kedua termodinamika merupakan suatu generalisasi dari


pengalaman-pengalaman tersebut serta terdapat dua formulasi yang sangat
berguna untuk memahami konversi energi panas menjadi energi mekanik. Kedua
formulasi ini merupakan formulasi yang dikemukakan oleh Kelvin – Planck dan
Rudolf Clausius.

1. Perumusan Kelvin – Planck

Kelvin – Planck menyatakan hukum kedua termodinamika dengan


ungkapan bahwa, “Tidak mungkin untuk membuat pesawat yang bekerja
dalam suatu siklus yang semata-mata mengubah energi panas yang diperoleh
dari suatu reservoir bersuhu tertentu seluruhnya menjadi energi mekanik
(usaha)”. Perumusan Kelvin – Planck menyatakan bahwa kita tidak dapat
menghasilkan kerja mekanis dengan menarik atau menyerap kalor dari
reservoir panas tanpa mengembalikan suatu kalor pada reservoir dingin.
Apabila hukum ini tidak benar, maka kita dapat menggerakkan atau
mengambil panas dari lautan atau menjalankan pembangkit tenaga listrik
dengan mengambil panas dari udara di sekelilingnya.

2. Perumusan Clausius

Clausius menyatakan hukum kedua termodinamika dengan ungkapan


bahwa, “Tidak mungkin membuat sebuah pesawat yang kerjanya hanya
menyerap kalor dari reservoir bersuhu rendah dab memindahkan kalor ini ke
reservoir bersuhu tinggi tanpa disertai dengan perubahan lain”. Pernyataan
Clausius menunjukkan bahwa untuk memindahkan kalor dari reservoir dingin
secara terus menerus ke reservoir panas maka diperlukan kerja oleh pengaruh
luar (lingkungan). Telah kita ketahui bersama bahwa apabila dua benda yang
memiliki perbedaan temperature kita sentuhkan satu sama lainnya, maka kalor
akan mengalir dari benda yang temperaturnya lebih tinggi ke benda yang
temperaturnya lebih rendah.

Mungkin dalam pikiran kita akan muncul pertanyaan, mungkinkah


kalor mengalir dari benda bersuhu rendah ke benda bersuhu dingin? Hukum
kedua termodinamika mengabaikan kemungkinan kalor dapat mengalir dari
benda bertemperatur rendah ke benda bertemperatur tinggi. Hal ini berarti
bahwa, pada hukum kedua termodinamika arah proses menjadi perhatian,
dimana arah tersebut hanya dapat dibalik dengan adanya suatu usaha luar dari
sistem.

E. Siklus Carnot

Walaupun mesiu uap atau mesin kalor telah dikembangkan oleh James
Watt dan beberapa ilmuwan lainnya, akan tetapi pada tahun 1842 seorang
insinyur Perancis yaitu Nicolas Leonardo Sadi Carnot (1796 – 1832)
mempublikasikan sebuah laporan tentang prinsip-prinsip umum sebuah mesin
kalor. Dalam pengarjaannya, Carnot merumuskan ide-ide dasar tentang
termodinamika. Ia berpendapat bahwa semua perpindahan (pergerakan)
berhubungan dengan kalor. Dalam pandangan ilmu pengetahuan modern, visi
alamiah Carnot sangat sederhana tetapi memiliki pengertian tentang kalor sebagai
penyebab pembangkitan daya secara esensial adalah tepat. Mesin Carnot ideal
membangun suatu batas efisiensi paling tinggi dari semua mesin yang dapat
dibuat termasuk mesin uap, mesin diesel, dan lain-lain.

Carnot memahami proses dasar yang mendasari usaha oleh semua mesin,

11
dimana proses itu adalah suatu perubahan bentuk dari energi (kalor) melalui
bentuk energi lainnya (usaha mekanik). Usaha hanya dapat dilakukan ketika kalor
mengalir dari suhu tinggi ke suhu rendah. Carnot kemudian mengusulkan suatu
mesin kalor ideal yang bekerja secara siklus dan dapat bekerja balik (reversibel) di
antara dua suhu. Efisiensi dari mesin Carnot tidaklah 100%, melainkan sebuah
mesin yang efisiensinya paling besar dari semua mesin yang mengubah kalor
menjadi usaha. Dari hasil analisis terhadap perubahan energi selama satu siklus
dari performansi mesin dan menentukan kondisi-kondisi untuk mencapai efisiensi
maksimum.

Berikut contoh siklus Carnot, fluida kerja mesin kalor adalah suatu gas
ideal yang dikurung dalam suatu wadah silinder oleh suatu pengisap licin (tanpa
gesekan). Kita dapat menggunakan suatu gas ideal untuk penyederhanaan
matematis tetapi hasilnya akan sama jika fluida kerja lain yang digunakan dalam
siklus Carnot. Gambar 3 menunjukkan diagram komponen-komponen lain dari
suatu mesin Carnot sebagai tambahan pada wadah silinder yang mengurung fluida
kerja. Suatu benda panas dengan kapasitas tidak terbatas, disebut reservoir kalor,
mensuplai kalor Q1 tanpa mengalami penurunan suhu. Suatu dasar isolator yang
bersama dengan sisi-sisi silinder dan pengisap bertindak sebagai suatu isolator
sempurna terhadap aliran kalor. Benda dingin disebut penampung kalor yang
memiliki kapasitas tamping tidak terbatas sehingga dapat menyerap kalor tanpa
mengalami kenaikan suhu. Operasi mesin Carnot adalah menggerakkan silinder
dalam suatu cara yang sudah ditentukan dari suatu dasar isolator ke dasar isolator
lainnya dan kemudian mengulangi siklus.
Langkah 1. Siklus diawali dengan wadah silinder yang kontak dengan
reservoir kalor, dimana fluida kerja (gas) mengambil sejumlah kalor Q1 pada suhu

tinggi T1. Dalam proses reversibel sistem menyerap kalor sehingga suhu sistem
sama dengan suhu reservoir (proses isotermal). Dari saat kalor mulai diserap, gas
memuai dan melakukan usaha pada pengisap. Pemuaian ini digambarkan dalam
diagram P – V (Gambar 4) dengan perubahan dari keadaan A ke B sepanjang
suatu grafik isotermal. Selama proses isotermal, energi dalam sistem tidak
berubah sehingga sesuai dengan hukum pertama termodinamika, usaha yang
dilakukan sistem dengan masukan kalor.

13
Langkah 2. Silinder kemudian bergerak ke badan berisolasi, dimana
masukan dan keluaran kalor adalah nol. Badan pengisap dikurangi dan gas
memuai sepanjang grafik adiabatikr dalam gambar 4 dilukiskan oleh proses dari B
ke C. Saat gas secara kontinu melakukan usaha dengan pemuaian, maka energi
dalamnya berkurang. Pemuaian ini disertai dengan pengurangan suhu sepanjang
grafik BC sampai silinder mencapai suhu yang sama dengan sushu pada
penampung kalor.

Langkah 3. Silinder digerakkan ke penampung kalor. Di sini gas


mengalami proses pemampatan isotermal yang dalam gambar 4 dilukiskan oleh
proses dari C ke D dimana sejumlah kalor Q2 dibuang ke reservoir dingin pada

suhu T2. Seperti pada proses isotermal sebelumnya, masukan kalor sama dengan
usaha yang dilakukan. Akan tetapi, dalam kasus ini, karena kalor dikeluarkan
maka besarnya usaha adalah negatif. Usaha yang berharga negatif berarti usaha
dilakukan pada sistem atau sistem dikenai usaha.

Langkah 4. Langkah 4 merupakan langkah akhir pada siklus Carnot,


dimana pada langkah ini silinder digerakkan kembali ke badan berisolasi. Beban
pada pengisap ditambah dan gas mengalami pemampatan adiabatikr yang dalam
gambar 4 dilukiskan oleh proses dari D ke A. Besarnya perpindahan kalor adalah
0 atau Q = 0, karena volumenya berkurang (usaha dilakukan pada sistem) maka
energi dalam dan temperaturnya akan naik. Ketika suhu gas mencapai suhu
reservoir kalor untuk kedua kalinya, silinder dipindahkan ke reservoir kalor dan
siklus dimulai lagi. Dalam proses ini energi fluida kerja kembali ke energi dalam
yang sama dengan yang dimilikinya pada awal siklus.
Pada proses pemuaian isotermal yaitu proses dari A ke B, kalor Q1 diserap

sedangkan pada proses pemampatan yaitu proses dari C ke D dilepaskan kalor Q2.
Dalam siklus Carnot tidak terjadi perubahan energi dalam ΔU atau ΔU = 0.
Hal ini terjadi karena terjadi proses isotermal dimana temperatur konstan
sehingga tidak ada perubahan suhu. Sesuai dengan hukum pertama termodinamika
maka besarnya usaha W dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan
sebagai berikut.

ΔU = Q – W

0 = (Q1 – Q2) – W

W = Q1 – Q2

Dengan Q1 dan Q2 adalah besaran yang bernilai positif. Proses ini ditunjukkan

secara skematis pada gambar 2. Persamaan W = Q1 – Q2 persis sama dengan


persamaan 2 pada mesin kalor, hal ini disebabkan karena mesin carnot termasuk
mesin kalor. Maka dari itulah efisiensi mesin Carnot dalam Q1 dan Q2 akan persis
sama dengan efisiensi mesin kalor pada persamaan 3 dan 4, yaitu

W Q1 − Q2
η= =
Q1 Q2 atau

Q2
η = 1−
Q1

Dalam fluida kerja gas ideal, besarnya energi dalam U adalah sebanding
dengan suhu mutlak T. Dari proses yang dilalui dalam siklus Carnot diketahui
bahwa Q1 sebanding dengan T1 dan Q2 sebanding dengan T2 sehingga dalam suatu
gas ideal dapat diyunjukkan bahwa.

Q2 T2
=
Q1 T1 ……………………………………………………………….. (8)

Dengan demikian efisiensi mesin Carnot (η) dalam suhu

15
mutlak T dapat dinyatakan dengan persamaan.

Q2
η = 1−
Q1

T2
η = 1−
T1 …………………………………………………………… (9)

Semua mesin reversibel yang bekerja dalam siklus antara dua reservoir kalor yang
sama memiliki efisiensi yang sama, apapun kerja fluidanya Di samping itu, tidak
ada jenis mesin yang bekerja di antara dua reservoir yang sama, dapat memiliki
efisiensi yang lebih besar daripada efisiensi mesin Carnot. Efisiensi mesin kalor
nyata apapun selalu lebih kecil dari efisiensi mesin ideal (mesin Carnot). Berikut
disajikan tabel efisiensi beberapa mesin.

Tabel 1

Efisiensi mesin-mesin kalor

Jenis Mesin Efisiensi (%)


Mesin mobil (bensin) 20 – 25
Mesin diesel 26 – 38
Turbin uap pembangkit nuklir 35
Turbin uap pembangkit batu bara 40

Penerapan efisiensi mesin Carnot

Sebuah mesin Carnot yang menggunakan reservoir suhu tinggi bersuhu 800 K
mempunyai efisiensi sebesar 40%. Agar efisiensinya naik menjadi 50%, maka
suhu reservoir suhu tinggi harus dinaikkan menjadi?

Penyelenaian

Diketahui : T1 = 800 K
η1 = 40%

η2 = 50%

Ditanyakan : Suhu reservoir tinggi (T1) dengan η = 50% = ………..?

Jawab :

Pada efisiensi 40% diketahui bahwa T1 = 800 K, sehingga yang dicari adalah T2.

T2
η = 1−
T1

T2
40% = (1 − ) × 100%
800 K

T2 40%
1− =
800 K 100%

T2 2
1− =
800 K 5

2 T2
1− =
5 800 K

3 T2
=
5 800 K

5T2 = 2400 K

2400 K
= 480 K
T2 = 5

Jadi besarnya temperatur reservoir suhu rendah (T2) dengan efisiensi sebesar 40%
adalah 480 K.

Pada efisiensi 50% diketahui bahwa T2 = 480 K, sehingga yang dicari adalah T1.

17
T2
η = 1−
T1

480 K
50% = (1 − ) × 100%
T1

480 K 50%
1− =
T1 100%

1 480 K
1− =
2 T1

1 480 K
=
2 T1

T1 = 960 K

Jadi besarnya temperatur reservoir suhu tinggi (T1) dengan efisiensi sebesar 50%
adalah 960 K.