Anda di halaman 1dari 17

3

BAB II
ISI

A. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi Mielopati
Myelopathy adalah penyakit pada medula spinalis. Mielopati bisa
menjadi komplikasi yang serius dari spondilosis servikalis. (Sue, 1999)
Myelopathy adalah nama kolektif untuk berbagai jenis masalah yang
melibatkan sumsum tulang belakang. Ketika myelopathy terjadi karena
kecelakaan atau trauma, disebut cedera sumsum tulang belakang. Dalam
kasus lain, myelopathy terjadi sebagai akibat dari proses penyakit,
peradangan, gangguan peredaran darah, atau masalah lain yang berakhir
mempengaruhi kolom tulang belakang. Ini semacam mielopati mungkin
datang secara bertahap.
Mielopati adalah proses non inflamasi pada Medula spinalis misalnya
yang disebabkan oleh prosestoksik, nutrisional, metabolik dan nekrosis yang
menyebabkan lesi pada Medula spinalis. (Kapita selekta neurologi, edisi
kedua, 2009)
Myelopathy diartikan juga sebagai hilangnya bertahap fungsi saraf yang
disebabkan oleh gangguan pada tulang belakang. Mielopati dapat terjadi
sebagai akibat dari proses ekstradural, intradural, atau intramedulla. Secara
umum, mielopati secara klinis dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan
4

ada tidaknya trauma yang signifikan, dan ada atau tidak adanya rasa sakit.
(Lyn Weiss, Adam C. Isaacson, 2010). Myelopathy dapat langsung
disebabkan oleh cedera tulang belakang yang mengakibatkan berkurangnya
sensasi atau kelumpuha maupun penyakit degeneratif dengan derajat yang
bervariasi dari kehilangan sensasi dan gerakan.
Dikutip dari Tjokorda (2009) derajat mielopati dapat dibagi menjadi:
a. Grade 0 : melibatkan akar syaraf tidak disertai penyakit pada medulla
spinal
b. Grade 1 : Gejala penyakit pada medulla spinalis tetapi tidak sulit
berjalan
c. Grade 2 : Kesulitan berjalan ringan tetapi tidak menghambat aktivitas
sehari-hari
d. Grade 3 : Perlu bantuan dalam berjalan
e. Grade 4 : kemampuan berjalan dengan alat bantu
f. Grade 5 : Hanya di kursi roda atau berbaring
2. Tanda dan Gejala
Tanda-tanda awal mielopati yaitu hilangnya bertahap keterampilan
motorik halus dan kelambatan atau kekakuan dalam berjalan, bisa juga
dengan meningkat struktur otot di kaki dan koordinasi yang buruk ketika
seseorang berjalan, naik turun tangga, memasukan kancing pakaian, nyeri
daerah leher ataupun kelelahan.
5

Mielopati biasanya agak sulit dideteksi karena memang berkembang
secara diam dan perlahan serta mulai terjadi saat menurunnya aktifitas.
Mielopati sering kali disalahartikan sebagai masalah sendi, sebab mielopati
menunjukan gejala mirip masalah sendi.
Seseorang dengan myelopathy dapat mengalami satu atau lebih gejala
berikut:
a. Rasa berat dikaki atau kelambatan atau kekakuan dalam berjalan
b. Ketidakmampuan untuk berjalan dengan langkah cepat
c. Mengalami gangguan sensori, namun kecuali mielopati memburuk,
jarang mencapai tingkat yang jelas
d. Intermiten penembakan nyeri ke lengan dan kaki (seperti tersengat
listrik), terutama ketika menekuk kepala mereka ke depan (dikenal
sebagai fenomena Lermitte
Sedangkan Tanda lainnya, adalah:
a. Kikuk atau lemah tangan, dengan perasaan tebal dan kelemahan pada
kaki dan tangan
b. Tonus otot kaki meningkat
c. Kaku pada leher
d. Reflek tendo dalam lutut dan pergelangan kaki meningkat
e. Perasaan asimetris pada kaki dan lengan, mengakibatkan sensasi posisi
pada lengan dan kaki menghilang sehingga sulit berjalan
6

f. Kehilangan kontrol pada sprinkter, akiabtnya urinasi menjadi sering dan
dapat menjadi inkontinensia
g. Perubahan pada peristaltik usus
3. Etiologi Mielopati
Myelopathy dapat langsung disebabkan oleh cedera tulang belakang
yang mengakibatkan berkurangnya sensasi atau kelumpuhan. Penyakit
degeneratif juga dapat menyebabkan kondisi ini, dengan derajat yang
bervariasi dari kehilangan sensasi dan gerakan, ataupun proses non inflamasi
pada medula spinalis misalnya karena prosestoksik, nutrisional, metabolik
dan nekrosis yang menyebabkan lesi pada Medula spinalis. Juga karena
herniasi diskus, instabilitas spinal, kongenital stenosis.
Sedangkan pada pasien berusia 50-an penyebab mielopati tersering
adalah spondilosis servikal. Pada keadaan ini terjadi penyakit degenaratif,
akibat penuaan tulang belakang dan sirkulasi juga (osteoartrosis) vertebra
servikal yang dapat menyebabkan kompresi medula spinalis karena adanya
kalsifikasi, degenerasi, protrusi, diskus intervertebra, pertumbuhan tulang
yang menonjol (osteofit) dan penebalan ligamentum longitudinal. Pada
pasien berusia 40-an kebawah penyebab tersering terjadinya mielopati
adalah sklerosis multiple.
Jadi penuaan tulang belakang dan sistem sirkulasi menyebabkan
masalah pada vertebra, sehingga diskus intervertebral dapat menjadi kolaps,
terbentuknya osteofit pada saluran saraf dan mengurangi lusas kanalis spinal.
7

Aliran darah pada spinal yangtidak adekuat menyebabkan jaringan spinalis
dan saraf tak mendapat nutrisi yang cukup, sehingga ligamen yang menahan
vertebra menipis dan menekan saluran saraf serta terganggunya fungsi saraf.
4. Patofisiologi Mielopati
Patofisiologi dari Myelopathy lengkap menggambarkan cedera tulang
belakang yang mengakibatkan tidak ada sensasi bawah asal dari cedera
tulang belakang. Medula spinalis yang mengalami cedera biasanya
berhubungan dengan akselerasi, deselerasi atau kelainan yang diakibatkan
oleh tekanan yang mengenai tulang belakang. Tekanan cedera pada medula
spinalis mengalami kompresi, tertarik atau merobek jaringan.Lokasi cedera
umumnya mengenai C1 dan C2, C4, C6 dan T11 atau L2. Fleksi-rotasi,
dislokasi, dislokasi fraktur, umumnya mengenai servikal pada C5 dan
C6.Jika mengenai spina torakolumbar,terjadi pada T12-L1. Fraktur lumbal
adalah faktor yang terjadi pada daerah tulang belakang bagian bawah.Bentuk
cedera ini mengenai ligamen,fraktur vertebra,kerusakan pembuluh darah,dan
menyebabkan iskemia pada medula spinalis. Hiperekstensi, jenis cedera ini
umumnya mengenai klien dengan usia dewasa yang memiliki perubahan
degeneratif vertebra,usia muda yang mendapat kecelakaan lalu lintas dan
mengalami cedera leher saat menyelam.jenis cedera ini menyebabkan
medula spinalis bertentangan dengan ligamentun flava dan mengakibatkan
kontusio kolom dan dislokasi vertebrata. Transeksi lengkap dari medula
spinalis dapat mengikuti cedera hiperekstensi. Lesi lengkap dari medula
8

spinalis mengakibatkan kehilangan fungsi refleks pada isolasi bagian medula
spinalis Kompresi
Cedera kompresi sering disebabkan karena jatuh dari ketinggian,dengan
posisi kaki kaki atau bokong (duduk).Tekanan mengakibatkan fraktur
vertebra dan menekan medula spinalis.Diskus dan fragmen tulang dapat
masuk ke medula spinalis.lumbal dan toraks vertebra umumnya akan
mengalami cedera serta menyebabkan edema dan perdarahan.Edema pada
medula spinalis mengakibatkan kehilangan fungsi sensasi
Sedangkan pada degeneratif diskus yang merupakan penyerap getaran,
menangani tekanan gravitasi dan stress seiring bertambahnya usia maka
konsistensi air didalamnya akan berkurang menyebabkan kemampuan untuk
menyerap goncangan juga berkurang, anulus pun muncul menimbulkan
jaringan parut yang lebih lemah dari jaringan sebelumnya. Adanya anulus
dan cidera berulang menyebabkan elastisitas berkurang dan tidak efektif
dalam menyerap getaran. Lama kelamaan diskus kolaps, jarak intervertebra
sempit dan sendi menjadi terganggu, memunculkan osteofit dan menekan
saraf dan akar saraf. Osteosif, diskus menggembung dan penipisan ligamen
meningkatkan risiko terjepitnya saraf pada kanalis spinalis.
Berikut adalah pathway
5. Pemeriksaan Diagnostik Mielopati
Beberapa pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan adalah:
9

a. X-ray; abnormal gerakan/ tidak stabil bisa berupa foto polos vertebra
AP/lateral/oblik
b. CT scan; otot polos dengan potongaan-potongan dapat menunjukan
osteofit yang berada di dalam spinal colum
c. MRI; dapat menunjukan jaringan lunak disekitar tulang (saraf, diskus)
selain tulang
d. EMG; mengevaluasi jalur motorik dari saraf
e. SSEP (somatosensory evoked potential); mengukur kemampuan
sensorik saraf. Dengan sebuah listrik, dilakukan dengan merangsang
lengan atau kaki dan kemudian membaca sinyal di otak.
f. Pemeriksaan Laboratorium: Darah rutin, kimia darah, urin lengkap, dan
bila perlu tes kadar obat : kokain, heroin ataupun pemeriksaan likuor
serebrospinalis
6. Penatalaksanaan Mielopati
1) Terapi konservatif
1) Terapi fisik
2) Kontrol nyeri: Istirahat, pengaturan posisi yang nyaman, kompres
es, terapi panas ultrasound, traksi
3) Blok saraf berupa injeksi steroid pada epidural
2) Pembedahan
1) Discectomy fusi
2) Corpectomy dan strut graft
10

3) Laminektomi: prosedur pembedahan untuk mengurangi tekanan
pada sumsum tulang belakang karena stenosis tulang belakang.
Dalam laminectomy, sebuah bagian kecil dari tulang mencakup
belakang sumsum tulang belakang akan dihapus. Lamina mengacu
pada atap di atas tulang belakang sumsum tulang belakang, dan
ectomy berarti prosedur medis untuk menghapus bagian dari atap
tulang untuk mengambil tekanan dari sumsum tulang belakang.
(Kevin.2010)


B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Mielopati
1. Pengkajian
a. Aktifitas daan istirahat:
Tanda :
1) Kelumpuhan otot
2) Kelemahan umum atau kelemahan otot
3) Inkoordinasi
4) Gaya berjalan kaku
b. Sirkulasi
Tanda :
1) Hipotensi, hipotensi postural, bradikardi, ekstremitas dingin dan
pucat
11

2) Hilangnya keringat pada daerah yang terkena
c. Eliminasi
Tanda :
1) Inkontinensia urin dan fecal
2) Retensi urin
3) Distensi berhubungan dengan omentum (jaringan lemak yang
terletak dalam rongga perut), peristaltic usus hilang
4) Melena, emesis berwarna seperti kopi, tanah (hematemesis)
d. Integritas ego
Gejala : Menyangkal, tidak percaya, sedih, marah.
Tanda : Takut, cemas, gelisah, menarik diri
e. Makanan atau cairan
Tanda :
1) Mengalami distensi yang berhubungan dengan omentum
(jaringan lemak yang terletak dalam rongga perut)
2) Peristaltic usus hilang (ileus paralitik)
f. Hygiene
Tanda : dapat sangat ketergantungan dalam melakukan aktivitas
sehari-hari khususnya dalam hygiene
g. Neurosensorik
Gejala :
1) Kebas, kesemutan, rasa terbakar,pada lengan atau kaki
12

2) Paralisis flaksid, atau spastisitas dapat terjadi saat syok spinal
teratasi, bergantung pada area spinal yang sakit
Tanda :
1) Kelumpuhan, kesemutan (kejang dapat berkembang saat terjadi
perubahan pada syok spinal)
2) Kehilang tunos otot atau vasomotor
3) Kehilangan atau asimetris termasuk tendon dalam
4) Perubahan reaksi pupil, ptosis, hilangnya keringat dari berbagai
tubuh yang terkena karena pengaruh saraf spinal.
h. Nyeri / Kenyamanan
Gejala :
1) Nyeri atau nyeri tekan otot
2) Hiperestesia tepat di atas daerah trauma
Tanda :
1) Mengalami deformitas
2) Postur dan nyeri tekan vertebral
i. Pernafasan
Gejala : nafas pendek, kekurangan oksigen, sulit bernafas
Tanda : pernafasan dangkal atau labored, periode apnea, penurunan
bunyi nafas, ronkhi, pucat, sianosis.


13

j. Keamanan
Gejala : suhu yang berfluktuasi ( suhu tubuh diambil dalam suhu
kamar)
k. Seksualitas
Gejala : keinginan untuk berfungsi kembali normal
Tanda : impotensi, ereksi tidak terkendali (pripisme), menstruasi
tidak teratur
l. Penyuluhan/ pembelajaran
m. Rencana pemulangan :
1) Klien akan memerlukan bantuan dalam tansfortasi, berbelanja,
menyiapkan makanan, perawatan diri, keuangan, pengobatan
atau terapi, atau tugas sehari-hari di rumah
2) Klien akan membutuhkan perubahan susunan rumah,
penempatan alat di tempat rehabilitasi

2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan inkoordinasi, perubahan
sensori
b. Perubahan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan tekanan pada
saraf
c. Gangguan eliminasi (inkontinentia urin, fecal berhubungan dengan
menurunnya kemampuan kontrol defekasi/ miksi
14

d. Disfungsi seksual; impotensi, menurunnya sensasi berhubungan
dengan perubahan motorik, sensorik
e. Perubahan konsep diri berhubungan dengan efek kondisi
ketidakmampuan dalam waktu lama pada gaya hidup, status peran.
f. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
3. Intervensi Keperawatan
a. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan inkoordinasi, perubahan
sensori
Tujuan : cedera tidak terjadi
Intervensi
1) Identifikasi bentuk gangguan, inkoordinasi, spastic-ataxia
2) Jelaskan pilihan alat bantu jalan; tongkat, walker
3) Rujuk/ kolaborasi dengan fisioterapi
4) Anjurkan klien untuk tidak menggunakan alas kaki yang licin
5) Anjurkan pada keluarga untuk membantu klien dalam
memenuhi kebutuhan sehari-harinya
b. Perubahan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan tekanan pada
saraf
Tujuan : Melaporkan perbaikan rasa nyaman
Intervensi :
15

1) Kaji keluhan nyeri dengan menggunakan skala nyeri, catat
lokasi nyeri, lamanya, serangannya, peningkatan nadi nafas
cepat atau lambat, berkeringat dingin.
2) atur posisi sesuai kebutuhan klien untuk mengurangi nyeri
Kurangi rangsangan.
3) Beri obat analgetik sesuai dengan program.
4) Ciptakan lingkungan yang nyaman termasuk tempat tidur.
Berikan sentuhan terapeutik , lakukan distraksi dan relaksasi
c. Gangguan eliminasi (inkontinentia urin, fecal berhubungan dengan
menurunnya kemampuan kontrol defekasi/ miksi
Tujuan : klien tidak mengalami inkontinentia
Intervensi :
1) Kaji tingkat inkontinentia
2) Kurangi resiko terjadinya inkontinentia, dengan cara:
a) Latihan bowel/ bladder
b) Dekatkan pispot/ urinal untuk pasien yang immobilisasi
c) Evakuasi fecal (bila ada)
d) Jika inkontinentia tetap terjadi, kolaborasi dengan dokter
untuk modifikasi bladder/ bowel training
d. Disfungsi seksual; impotensi, menurunnya sensasi berhubungan
dengan perubahan motorik, sensorik
Tujuan : klien diharapkan dapat nenerima perubahan fungsi seksual
16

Intervensi :
1) Kaji tanda dan gejala disfungsi seksual
2) Bantu klien meningkatkan fungsi seksualnya dengan cara :
a) Fasilitasi pertemuan dengan pasangannya & fokuskan
pembicaraan pada perasaan masing-masing serta
diakusikan perubahan yang terjadi serta membantu mencari
solusi yang tepat
b) Diskusikan alternatif dalam memenuhi kebutuhan seksual
bila memungkinkan pada impotensi/ menurunnya sensasi
c) Kolaborasikan dengan seksual terapis untuk alternatif
posisi yang memudahkan bagi yang mengalami paralisis
e. Perubahan konsep diri berhubungan dengan efek kondisi
ketidakmampuan dalam waktu lama pada gaya hidup, status peran.
Tujuan : Klien aktif di interaksi social dan Klien dapat melakukan
aktifitasnya secara mandiri atau dibantu oleh keluarga
Intervensi :
1) Kaji tanda dan gejala perubahan konsep diri
2) Jelaskan makna perubahan yang dialami pada klien
3) Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya
4) Bantu klien untuk beradaptasi terhadap perubahan yang
dialaminya
17

5) Beri dorongan klien untuk melakukan aktifitasnya dan
melaksanakan peran yang biasa dilakukan
f. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
Tujuan : Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit,
pengobatan dan potensi komplikasi
Intervensi :
1) Kaji pengetahuan klien tentang penyakit yang diderita.
2) Beri penkes tentang cara perawatan terhadap penyakit
3) Evaluasi pemahaman klien tentang materi yang diberikan

18

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Mielopati adalah hilangnya bertahap fungsi saraf yang disebabkan oleh
gangguan pada tulang belakang. Ketika myelopathy terjadi karena kecelakaan
atau trauma, disebut cedera sumsum tulang belakang. Dalam kasus lain,
myelopathy terjadi sebagai akibat dari proses penyakit, peradangan, gangguan
peredaran darah, atau masalah lain yang berakhir mempengaruhi kolom tulang
belakang juga karena penuaan yang menimbulkan gangguan pada tulang
belakang.
Derajat mielopati dapat dibagi menjadi grade 0-5. Mielopati memiliki
beberapa tanda dan gejala yang mirip dengan masalah sendi,. Oleh karena itu
diperlukan pemeriksaan diagnostik lain seperti Ct Scan, MRI, Rontgen bahkan
SSEP untuk menguatkan diagnostik mielopati dan asuhan keperawatan yang
dibuatpun haruslah komprehensip dan sesuai dengan pasien agar rencana
keperawatan yang dibuat dapat menghasilkan keuntungan yang baik bagi pasien.





19

DAFTAR PUSTAKA

Harsono.2009.Kapita Selekta Neurologi. Edisi kedua. Yogyakarta : Gadjahmada
University Press.
Hinchliff, Sue dkk.1999.Kamus Keperawatan.Jakarta: EGC.
Mahadewa, Tjokorda GB dan Sri Maliawan. 2009. Diagnosis dan Tatalaksana
Kegawatdaruratan Tulang belakang.Jakarta: Sagung Seto.
Weiss, Lyn. Dkk. 2010. Oxford American Handbook of Physical Medicine and
Rehabilitation. Worldwide Best-seller.
Yip, Kevin.2010. Sebuah Pasiens Guide untuk Laminectomy Serviks.
(http://indonesian.orthopaedicclinic.com. Diakses tanggal 24 Maret 2014).