Anda di halaman 1dari 79

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

DIREKTORAT JENDERAL KELAUTAN, PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL


Oleh:
ABDI TUNGGAL PRIYANTO, S.Si., MT., M.Sc

Dit. Tata Ruang laut, Pesisir dan PPK
Direktorat Tata Ruang Laut Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
Sheraton, 25 September 2014
Direktorat TRLP3K
Topik Bahasan:
Kebutuhan Data Dasar dan Tematik
Pengumpulan Data
Survei Lapangan
Penyusunan Peta Tematik
Penyusunan Paket Sumberdaya
Penyajian Peta

Setelah mengikuti pelatihan tentang modul ini, peserta dapat
memahami kebutuhan data dasar dan tematik, pengumpulan data,
survei lapangan, penyusunan peta tematik, dan penyusunan paket
sumberdaya untuk penentuan kesesuaian pemanfaatan perairan.



(RPJP, RSWP-3-k)
Visi dan Tujuan/sasaran yg Jelas
12 data sets
Pelibatan Stakeholder (Stakeholder engagement)
4
5
FENOMENA INUL
6
PENGAM
BILAN KE-
PUTUSAN
KOMUNIKASI,
PERENCANAAN
DATABASE INFORMASI
PENGELOLA DATA
SISTEM ANALIS
SURVEYOR DLL
PEREKAYASA,
ILMUWAN
PENGAMBIL
KEPUTUSAN
INFORMASI
SKENARIO
MODEL,
SIMULASI
DATA
PENGUKURAN
DATA DAN INFORMASI
(Permen 16/2008)
ONE MAP POLICY, ONE GATE, ONE NATION
DUKUNGAN KEBIJAKAN YANG LUGAS DARI PENGAMBIL KEBIJAKAN TERTINGGI TENTANG
PENYELENGGARAAN INFORMASI GEOSPASIAL
Informasi Geospasial dibutuhkan oleh semua institusi
pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan
kualitas perencanaan dan pengambilan keputusan di
seluruh tingkatan dan segala aspek dari
pembangunan nasional.
10
Direktorat TRLP3K
HASIL RAKORNAS IGT NASIONAL
PEMBENTUKAN POKJA
1. Pokja Pemetaan Sumberdaya Air dan DAS;
2. Pokja Pemetaan Sumberdaya Lahan Pertanian dan
Gambut;
3. Pokja Pemetaan Dinamika Sumberdaya;
4. Pokja Pemetaan Perubahan Iklim;
5. Pokja Pemetaan Ekoregion;
6. Pokja Pemetaan Monitoring Perijinan Sektoral, Penutup
lahan, dan Status Lahan;
7. Pokja Pemetaan Transportasi;
8. Pokja Pemetaan Sumberdaya Laut, Pesisir dan PPK
9. Pokja Pemetaan Kebencanaan;
10. Pokja Pemetaan Tata Ruang;
11. Pokja Pemetaan Ekonomi, Sosial, Budaya dan Atlas.
11
Direktorat TRLP3K
Kelompok Kerja
Pemetaan Sumberdaya Pesisir Dan Laut

Pokja meliputi Sub Pokja Pemetaan Sumberdaya Pesisir dan
Laut, Pulau-pulau Kecil dan Mangrove
KKP-Dit TRLP3K sebagai Ketua Pokja
Anggota pokja terdiri dari BIG, Dishidros, KLH, ESDM,
Kemenhan, BPN, BPPT, Kemendagri, BPS, Dittopad, Mhub,
BNPP
Mendukung One Map Policy yang dicanangkan oleh
Presiden melalui UKP4
Outcome: Media integrasi data spasial tematik sumberdaya
pesisir dan Laut
Direktorat TRLP3K
Kelembagaan dalam Pengelolaan Data dan Informasi WP3K
Direktorat TRLP3K
Kebutuhan data dasar dan tematik untuk penyusunan
Rencana Zonasi WP-3-K

Jenis Data yang dibutuhkan:
Data spasial dan non spasial yang tersusun dalam database spasial
(link antara data spasial dan atribut)

Skala yang dibutuhkan minimal:

1: 250.000 utk RZ Provinsi

1: 50.000 utk RZ Kabupaten

1: 25.000 utk RZ Kota
Standar layout Peta Rencana Zonasi
Skala Provinsi (1:250.000)
Standar layout Peta Rencana Zonasi
Skala Kabupaten ( 1:50.000)
Direktorat TRLP3K
KEBUTUHAN DATA DASAR DAN TEMATIK (12 Dataset)

Baseline Dataset
1. Terestrial (topografi dan Tanah)
2. Bathimetri

Thematic Dataset
1. Geologi dan Geomorfologi laut
2. Oseanografi
Fisik: pasut, gelombang, arus, suhu permukaan, kecerahan
Kimia: pH, Salinitas, TSS, COD, BOD, Ammonia, Nitrat, Nitrit, Fosfat,
Logam berat (diukur di Muara sungai)
Biologi: Plankton, Klorofil, benthos
3. Ekosistem pesisir (terumbu karang, lamun, mangrove) dan
Sumberdaya Ikan (Demersal dan pelagis), termasuk jenis dan
kelimpahan ikan
4. Penggunaan Lahan dan Status Lahan
5. Pemanfaatan Wilayah laut Eksisting
6. Sumberdaya Air
7. Infrastruktur
8. Sosial Budaya
9. Ekonomi Wilayah
10. Risiko Bencana dan Pencemaran + Geoteknik utk reklamasi
BASELINE DATASETS
A. DATASET TERESTERIAL
Menggunakan Data dari
Peta RTRW
B. DATASET BATIMETRI
1. Peta Batimetri
THEMATIC DATASETS
A. DATASET GEOLOGI DAN
GEOMORFOLOGI
1. Peta Geologi dan
Geomorfologi Laut (Substrat
Dasar Laut)
2. Oseanografi Kimia
a.Peta Sebaran pH
b.Peta Sebaran Salinitas
c. TSS

(Diambil diMuara Sungai dan di
tempat2 yg terjadi blooming algae):

a.Peta Sebaran COD
b.Peta Sebaran BOD
c. Peta Sebaran Ammonia (NH3-N)+
d.Peta Sebaran Nitrat (NO3-N)
e.Peta Sebaran Nitrit (NO2)
f. Peta Sebaran Fosfat (PO4-P)+

3. Oseanografi Biologi
a.Peta Sebaran Plankton
b.Peta Sebaran Klorofil
c. Peta Sebaran Benthos
C. DATASET PENGGUNAAN LAHAN
DAN STATUS LAHAN
Menggunakan Data dari
Peta RTRW
D. PEMANFAATAN WILAYAH LAUT
1. Peta Pemanfaatan Wilayah Laut
yang Ada (Eksisting)
E. DATASET SUMBER DAYA AIR
Menggunakan Data dari
Peta RTRW

F. DATASET EKOSISTEM
PESISIR DAN SUMBERDAYA IKAN
1. Peta Ekosistem Pesisir (Mangrove,
Terumbu Karang, Lamun)
2. Sumberdaya Ikan Demersal (Jenis
dan Kelimpahan Ikan)
3. Sumberdaya Ikan Pelagis
Rincian Peta-peta
Tiap Dataset
B. DATASET OSEANOGRAFI
1. Oseanografi Fisik
a.Peta Gelombang
b.Peta Arus
c. Peta Suhu Permukaan Laut
d.Peta Kecerahan
G. DATASET INFRASTRUKTUR
1. Peta Sebaran Infrastruktur K/P
H. DATASET DEMOGRAFI/SOSBUD
1. Peta demografi dan Sos Budaya
Termasuk Masyarakat Hukum
Adat dan nelayan tradisional
I. DATASET EKONOMI WILAYAH
1. Peta tingkat perekonomian
wilayah (Ekonomi kecamatan)
J. DATASET RESIKO BENCANA DAN
PENCEMARAN
1. Peta Risiko Bencana
2. Peta Pencemaran Perairan (Lpgam
Berat, dll)
Fisheries Management
Santa Barbara area (just outside Santa Barbara Channel), Central California. The red cylinders represent mean # of fish per
haul that were collected on a vessel. They first saw the SeaSonde data and satellite-derived sea surface temperature map
and decided it would be interesting to move have the boat do a transect brining them directly through the center of the gyre
structure in current. The results showed that the mean # of fish per haul were over 5 times greater in the nutrient-rich cold
water upwelling center than outside of the gyre. Looking for interesting features to guide field work and also to make
management decisions based on this knowledge is a growing application.
NO PENGU-
KURAN
PERALATAN QUANTITY METODE
PENGAMBILAN DAN
ANALISIS DATA
1 Jenis tanah Peralatan
pengukuran
tanah, GPS
Pengukuran
proporsional
sesuai kelas tanah
Pengukuran Langsung
dan uji lab tanah
2 Topografi Theodolit Pengukuran Langsung
3 Geologi dan
Geomorfologi
Citra satelit,
GPS
Sesuai klasifikasi
geologi/geomorfol
ogi
Analisis citra satelit dan
ground check
5 Penggunaan
lahan
Citra satelit,
GPS
Sesuai klasifikasi
penggunaan lahan
Analisis citra satelit
6 Pemanfaatan
Wilayah laut
Citra satelit,
GPS
Sesuai klasifikasi
pemanfaatan laut
Analisis citra satelit
dan pengukuran
langsung
7 Terumbu
karang,
lamun,
mangrove
Citra satelit,
GPS
Sesuai klasifikasi
ekosistem
Analisis citra satelit dan
pengukuran langsung
NO PENGU-
KURAN
PERALATAN QUANTITY METODE
PENGAMBILAN DAN
ANALISIS DATA
8 Bathymetry Echosounder,
GPS
Pengukuran Langsung
9 Tide Tide gauge At least 30 days Pengukuran Langsung
10 Current Currentmeter Every 1 hour for 3
days, 3 musim
Pengukuran Langsung
11 Bed
material
Grab sampler 300
samples/2000km2
Pengukuran Langsung
12 Suhu Thermometer 300
samples/2000km2
Citra satelit dan
pengukuran langsung
13 Salinitas Salinometer 300
samples/2000km2
Pengukuran Langsung
14 pH pH meter 300
samples/2000km2
Pengukuran Langsung
15 Kecerahan Sechii disk 300
samples/2000km2
Pengukuran Langsung
NO PENGU-
KURAN
PERALATAN QUANTITY METODE
PENGAMBILAN DAN
ANALISIS DATA
16 TSS dan
TDS
Model gravitasi 300
samples/2000km2
Pengukuran lab
17 DO DO meter 300
samples/2000km2
Pengukuran Langsung
18 COD Botol sampel 300
samples/2000km2

Pengukuran Lab
19 BOD5 Botol sampel 300
samples/2000km2
Pengukuran Lab
20 Amonia Botol sampel 300
samples/2000km2
Pengukuran Lab
21 Nitrat Botol sampel 300
samples/2000km2
Pengukuran Lab
22 Nitrit Botol sampel 300
samples/2000km2
Pengukuran Lab
23 Fosfat Botol sampel 300
samples/2000km2
Pengukuran Lab
NO PENGU-
KURAN
PERALATAN QUANTITY METODE
PENGAMBILAN DAN
ANALISIS DATA
24 Sumberdaya
ikan
demersal
Citra satelit,
peralatan
tangkap
Pengukuran pada
lokasi tertentu

Analisis citra dgn
pendekatan ekosistem
25 Sumberdaya
ikan pelagis
Citra satelit,
peralatan
tangkap
Pengukuran pada
lokasi tertentu

Analisis citra satelit
dengan pendekatan
suhu, klorofil, arus dan
TSS
26 Jenis dan
kelimpahan
ikan
Transek
Underwater
Visual Census
Pengukuran pada
lokasi tertentu
Yang terpilih
Pencatatan di lapangan
dan analisis kelimpahan
ikan
27 Infrastruktur GPS Seluruh data Interpretasi citra dan
Pengukuran langsung
28 Demografi Quisioner Seluruh
kecamatan pesisir
Wawancara langsung
29 Ekonomi
wilayah
Data sekunder,
quisioner
Seluruh
kecamatan pesisir
Data sekunder dan
wawancara langsung
NO PENGU-
KURAN
PERALATAN QUANTITY METODE
PENGAMBILAN DAN
ANALISIS DATA
Risiko
bencana
30 Tsunami Tide
gauge/peralatan
modelling
Pengukuran pada
lokasi tertentu
Rekaman data tsunami
masa lampau,
pemodelan tsunami
31 Gelombang
ekstrim
Wave recorder Pengukuran pada
lokasi tertentu
Rekaman data
gelombang masa lalu,
pemodelan gelombang
32 Kenaikan
muka air
laut
Tide gauge Proporsional
sesuai luasan
wilayah
Analisis citra satelit
multitemporal,
pengukuran lapangan
33 Erosi/abrasi
pantai
Citra satelit Pengukuran pada
lokasi tertentu

Analisis citra satelit
multitemporal, ground
check
34 Angin
puting
beliung
Anemometer Pengukuran pada
lokasi tertentu

Rekaman data angin
masa lalu
NO PENGU-
KURAN
PERALATAN QUANTITY METODE
PENGAMBILAN DAN
ANALISIS DATA
35 Intrusi air
laut
Water checker Pengukuran pada
lokasi tertentu
Pengukuran langsung
36 Banjir/Rob Tide gauge,
citra satelit
Pengukuran pada
lokasi tertentu
Rekaman banjir rob
masa lalu, pemodelan
banjir
37 Pencemaran Peralatan
kualitas air
Pengukuran pada
lokasi tertentu
sesuai daerah
terindikasi
pencemaran
Analisis citra satelit
thermal dan
multitemporal, ground
check, Analisis
Laboratorium
Direktorat TRLP3K
KEBUTUHAN DATA DASAR DAN TEMATIK

NO
KATEGORI
DATA
RENCANA ZONASI WP-3-K KABUPATEN
JENIS
DATA/PETA
KEDETILAN INFORMASI
SUMBER DATA
PRIMER SEKUNDER
1
Peta Dasar

Peta Rupabumi
Skala 1 : 50.000
Batas Administrasi sampai
kecamatan, Gedung dan Bangunan,
Jaringan Jalan, Pemanfaatan Lahan
Existing


BIG

Lingkungan
Pantai Indonesia
Skala 1 : 50.000
Garis Pantai, Batu Karang, Terumbu,
Beting Karang, Tempat Berlabuh,
Menara Suar, Dilarang Berlabuh,
Garis Cakupan 4 mil laut, Kabel
Dalam Air, Pipa Dalam Air
BIG

Peta Wilayah
Perencanaan
Peta Batas
Wilayah
Perencanaan
Batas Wilayah Perencanaan WP-3-K
Kabupaten

Analisa
GIS
BIG,
Kemendagri
(darat)
2
Citra Satelit Citra Satelit Citra satelit resolusi minimum 10 x
10 meter

Lapan,
Instansi
Terkait
A. Peta Dasar dan Citra Satelit
Direktorat TRLP3K
KEBUTUHAN DATA DASAR DAN TEMATIK

B. Data Spasial Dasar

Direktorat TRLP3K
KEBUTUHAN DATA DASAR DAN TEMATIK

B. Data Spasial Dasar

Parameter Peta Dasar Perairan
Laut Untuk Penyusunan Rencana
Zonasi WP-3-K Kabupaten/Kota
Peta Kontur Kedalaman laut Skala 1 : 50.000
dengan interval kontur:
0; 2; 5; 10; 15; 20; 30; 40; 50; 70; 100; 150; 200; 300
sesuai kedalaman maksimum di wilayah
kewenangannya.
No. Jenis Peta Tematik Interval Kelas
1. Kecepatan Arus 0,05 m/detik
2. Tinggi Gelombang per 0,1 m
3. Temperatur Permukaan Laut 20 - 35 (C); per 1 (C)
4. Salinitas 15 - 35 (); per 1 ()
5. Oksigen Terlarut / DO 1 - 9 (mg/l); per 0,5 (mg/l)
6. Derajat Keasaman (pH) 4 9; per 0,5
7. Kecerahan Perairan 1 - 20 m; per 1 m
Parameter Peta Tematik Perairan
Laut Untuk Penyusunan Rencana
Zonasi WP-3-K
Pengumpulan Data:
Jenis Data dan Metode Pengolahan Data Sekunder
No Jenis Data Tipe Data
Format
Data
Contoh Data/Peta Metode Analisis Data/Peta
1
Peta
Analog
Peta Cetakan Hardcopy Peta Hardcopy Rupabumi, Peta
Hardcopy Geologi
Konversi data analog ke digital
(scanning), digitasi, dan plotting ke peta
dasar

2
Data/Peta
Digital
Data hasil digitasi peta
analog
Shapefile Data vektor penggunaan lahan, Data
vektor garis pantai
Digitasi dan plotting ke peta dasar


Data hasil konversi
data
Shapefile Peta kontur ketinggian lahan hasil
konversi dari Data Digital Elevation
Model (DEM)
Konversi dari data raster ke data vektor
(Vectorization) dan plotting ke peta dasar


Data Hasil Plotting
GPS/Pengukur-an
Lapangan
Shapefile Data titik lokasi sampel pengukuran
fisika perairan
Standardisasi format dan kelengkapan
data, Interpolasi dan plotting ke peta
dasar


Data Hasil Interpretasi
Citra Satelit
Shapefile Peta penggunaan lahan, peta batas
ekosistem mangrove
Standardisasi format dan kelengkapan
data dan plotting ke peta dasar



Data Hasil Analisis GIS
dan Pemodelan
Matematis


Shapefile Peta Sebaran Terumbu Karang hasil
Pemodelan Lyzenga, Peta risiko
bencana, Peta arah dan kecepatan
arus
Standardisasi format dan kelengkapan
data dan plotting ke peta dasar
3
Data
Tabular/
Numerik
Data numerik (Angka)
yang memiliki
informasi Lokasi
Xls, Dbf Data Jumlah Penduduk Kecamatan X,
Data Numerik Hasil Pengukuran
Fisika Perairan di Laut X, Lokasi
Infrastruktur
Analisis Data dan Plotting ke peta dasar
PERSYARATAN KUALITAS DAN KUANTITAS
DATA SEKUNDER DAN PRIMER
1. Skala
Skala memberikan informasi mengenai perbandingan antara ukuran obyek
di peta dibandingkan dengan kondisi sebenarnya di lapangan.

2. Akurasi geometrik
Akurasi geometrik merupakan informasi mengenai ketepatan posisi dan
presisi dalam penyusunan peta dasar atau tematik. Sebagai acuan
standard, proyeksi yang digunakan dalam pemetaan adalah Universal
Transverse Mercator (UTM) dan datum horisontal yang digunakan adalah
World Geodetik System 1984 (WGS-84).

3. Kedalaman Data
Kedalaman data hampir mirip dengan kedetilan data. Kedalaman data
memberikan informasi mengenai kedalaman informasi yang dapat
dipetakan pada saat proses penyusunan data/peta tematik, baik pada saat
identifikasi obyek dari citra satelit maupun kedalaman pada saat
pengambilan sampel pada saat survei lapangan.
PERSYARATAN KUALITAS DAN KUANTITAS DATA
4. Kedetilan Data
Kedetilan data memberikan informasi mengenai sejauh mana tingkat
klasifikasi data tematik dapat dikeluarkan. Kedetilan klasifikasi untuk setiap
tingkatan perencanaan berbeda-beda (misalnya untuk skala 1 : 250.000, 1
: 50.000 dan 1 : 25.000) sehingga keluaran peta tematik juga memiliki
tingkatan informasi yang berbeda-beda.

5. Kemutakhiran Data
Kemutakhiran data (akurasi temporal) merupakan persyaratan mengenai
batasan waktu terhadap data sekunder (data spasial dan non spasial)
yang dapat digunakan dalam penyusunan rencana zonasi WP-3-K.

6. Kelengkapan atribut
Kelengkapan atribut merupakan persyaratan mengenai kelengkapan atribut
yang harus ada dalam setiap data spasial, terutama data digital.
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
TERESTRIAL

1. DATA TANAH
2. DATA TOPOGRAFI


Apabila Peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sudah diperdakan, peta
tanah dan topografi dapat merujuk dari peta yang ada.


1. Metode Survei Pemetaan dan Analisis Data Dasar
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
3. BATHIMETRI
Pengumpulan data bathimetri dimaksudkan sebagai data dasar
dalam menganalisis kedalaman perairan laut.

METODE PENGUKURAN:
Metode yang digunakan adalah dengan metode pemeruman dasar perairan.


METODE PENENTUAN LOKASI SURVEI:
menggunakan metode pemeruman, yaitu penentuan lokasi ditentukan secara
sistematis dengan pertimbangan dapat mewakili karakteristik kedalaman di
wilayah perairan setempat

KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
METODE PENGUKURAN:

Bathimetri diukur mulai dari garis pantai sampai dengan kedalaman 100
meter dengan metode pemeruman dasar perairan.

Pemeruman dilakukan dengan spesifikasi sebagai berikut :
Grid pengukuran yaitu 500 meter yaitu dengan perekaman data bathimetri setiap 1
(satu) detik.
Kecepatan kapal maksimum 5 knot.
Lebar tegak lurus ke arah laut sampai kedalaman 100 meter.
Pengukuran kedalaman muka air laut dilakukan dengan menggunakan alat
echosounder yang dilakukan dari atas perahu motor.
Koordinat titik-titik pengukuran didapat dengan menggunakan alat GPS (Global
Positioning Sistem) yang telah terintegrasi dengan Echosounder.
Perhitungan konversi kedalaman laut dijadikan sebagai elevasi dasar laut yang
dilakukan dengan mengambil titik referensi Mean Sea Level (MSL) yang diperoleh
dari analisis data elevasi muka air saat pengukuran.
Kedalaman perairan yang sebenarnya dan garis kontur dasar laut diperoleh dengan
superposisi (memadukan) data pengukuran bathimetri dan elevasi saat pengukuran
sebagai angka koreksi pembacaan.
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
RENCANA JALUR PENGUKURAN ILUSTRASI SURVEY BATIMETRI
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
METODE PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

- Pengolahan data bathimetri bisa menggunakan software map
source atau surfer atau sejenisnya

- Interpolasi terhadap titik-titik kedalaman yang telah diukur di
lapangan.

- Titik-titik lokasi yang memiliki informasi kedalaman kemudian
diinterpolasi menghasilkan peta kedalaman (isobath)


Lanjutan 3. Bathimetri..
KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
Download data batimetri dengan Map Source
Point-Rute-Track
Jalur survey
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
PENYAJIAN DATA

Peta Bathimetri disajikan dalam interval kontur:
0; 2m; 5m; 10m; 15m; 20m; 30m; 40m, 50m, 70m; 100m; 150;
200m; 300m sesuai kedalaman maksimum di wilayah
kewenangannya.


Lanjutan 3. Bathimetri..
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
Ilustrasi Peta Bathimetri Wilayah Banggai
Ilustrasi Interval Kontur Bathimetri Teluk Poh Wilayah Banggai
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
2. Metode Pemetaan dan Analisis Data Spasial Tematik
GEOLOGI DAN GEOMORFOLOGI DASAR LAUT

SUBSTRAT DASAR LAUT


- Metode penginderaan jauh :
Menggunakan citra satelit yang memiliki kemampuan
menembus air sampai kedalaman tertentu (<20 m).

- Survey lapangan :
- 10 titik Sampel s.d. 4 mil atau s.d kedalaman 100 m apabila sebelum
jarak 4 mil telah dijumpai kedalaman lebih dari 100 m.

- Menggunakan Grab sampler
Landsat 30m x 30m
QuickBird 0,5m x 0,5m
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
Grab sampler
Multi Beam Ecosounder
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
OCEANOGRAFI
C. Pasut
TUJUAN PENGUKURAN PASUT

Tujuan pengukuran pasut adalah untuk mengetahui :
Tipe pasang surut
Mean Sea level (MSL)
Mean High Water Level (MHWL)
Mean Low Water Level (MLWL)
Mean Lowest Low Water Level (MLLWL)
Tunggang air maksimum, minimum dan rata rata.

KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
OCEANOGRAFI
C. Pasut
METODE PENENTUAN LOKASI SURVEY

Penentuan lokasi pengukuran pasut diutamakan pada lokasi yang sudah
ada stasiun pengamatan pasang - surut dari Dishidros TNI - AL atau
Bakosurtanal

Bila belum ada stasiun pengamatan, maka penentuan lokasi pengukuran
pasut yang stabil dan terlindung dari ombak besar, angin, lalu lintas
kapal/perahu, arus kuat, serta titik pasut diikatkan pada Bench Mark (BM)
yang permanen yang stabil, dengan kedalaman minimum air laut pada
station pasut minimum 1 (satu) meter dibawah permukaan air laut
terendah
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
OCEANOGRAFI
C. Pasut
METODE PENGAMBILAN DATA

Pengukuran pasang surut di perairan laut dilakukan selama
30 hari x 24 jam dengan interval waktu pencatatan antara
10 menit 1 jam, tergantung dengan alat yang digunakan

Tide recorder harus dipasang dengan posisi terendam air
dan tegak tidak bergerak, serta kedudukan tide recorder
yang tidak menghalangi alur nelayan. Setelah dilakukan
pengukuran harus diikat dengan Bench Mark terdekat
(kalau ada). Jika tidak ada maka harus dibuatkan Bench
Mark.
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
ANALISIS DATA PASUT

1. Grafik Plot
Tujuan dari penyajian data dengan ini adalah untuk
mengetahui tinggi elevasi muka air (pasut) terhadap waktu
(selama waktu) pengukuran.




KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
OCEANOGRAFI
B. GELOMBANG
METODE PENGUKURAN GELOMBANG:
Metode Langsung: metode pengukuran gelombang pada lokasi secara langsung
(misalnya menggunakan papan berskala, meteran, serta wave rider atau wave
recorder)
Metode Tidak Langsung yaitu melalui informasi atau perekaman dari citra satelit


Untuk mengetahui karakteristik dan parameter gelombang (meliputi
tinggi, periode, panjang gelombang, dll)
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
OCEANOGRAFI
B. GELOMBANG
METODE PENENTUAN LOKASI SURVEY

Metode teknik non random sampling dengan teknik area sampel, yaitu penentuan
lokasi ditentukan pada lokasi tertentu dengan pertimbangan dapat mewakili
karakteristik wilayah perairan setempat.

Lokasi titik pengukuran gelombang ditentukan di dekat pantai (near shore) untuk mengetahui
karakteristik gelombang di dekat pantai, dan lokasi lepas pantai (offshore) untuk mengetahui
karakteristik gelombang lepas pantai.

Lokasi titik pengukuran gelombang ditentukan di dalam teluk dan tanjung untuk mengetahui
karakteristik gelombang di dalam teluk dan tanjung, dan lokasi di luar teluk dan tanjung untuk
mengetahui karakteristik gelombang di luar teluk dan tanjung.


KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
OCEANOGRAFI
B. GELOMBANG
METODE PENGAMBILAN DATA
Pengukuran gelombang di perairan laut dilakukan minimal
selama 3 x 24 jam dengan interval waktu pencatatan antara 10
menit 1 jam.

Pengukuran sebaiknya dilakukan pada saat kondisi pasang surut
pada fase spring tide (pasang surut di saat bulan purnama atau
bulan mati), hal ini untuk memperoleh hasil pengukuran
gelombang dengan kondisi pasut dengan kisaran yang besar.
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
Pengolahan/analisis data gelombang laut
1). Grafik Tinggi dan Periode Gelombang
Untuk mengetahui pola besarnya tinggi (H) dan perioda gelombang (T) terhadap waktu
(selama waktu) pengukuran.
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
Pengolahan/analisis data gelombang laut
2). Perhitungan Parameter Gelombang

Untuk mengetahui parameter gelombang, diantaranya adalah frekuensi gelombang,
panjang gelombang, bilangan gelombang, kecepatan gelombang, dll.

Bisa digunakan untuk mengetahui karakteristik gelombang seperti klasifikasi gelombang
atau mengetahui profil kecepatan orbital gelombang.

Menghitung klasifikasi gelombang, berdasarkan kedalaman relative.
Gelombang di laut dangkal jika d/L 1/20;
Gelombang dilaut transisi jika 1/20 d/L 1/2;
Gelombang di laut dalam jika d/L


3). Model Matematika Penjalaran Gelombang
Untuk mengetahui karakteristik besarnya dan arah penjalaran gelombang menuju
pantai.
Peta tinggi gelombang skala 1:50.000 digambarkan dalam
bentuk kontur isoline tiap 0,1 m.
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
Standar layout Peta Rencana Zonasi
Skala Kabupaten ( 1:50.000)
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
A. ARUS
METODE PEROLEHAN DATA
Untuk distribusi spasial pola arus untuk tiap 500 m disimulasikan
dengan model hidrodinamika pola arus dengan grid maksimal 500 x
500 m, dan dikalibrasi dengan hasil pengukuran.

Kebutuhan Data:
- bathimetri
- Angin
- Pasang Surut
- Geomorfologi dasar perairan
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
METODE PENGUKURAN ARUS DI LAPANGAN

Metode Euler

merupakan metode pengukuran arus pada lokasi yang tetap (misal : current meter).
Sensor yang digunakan meliputi sensor mekanik dan sensor non-mekanik. Sensor
Mekanik meliputi Current Meters seri RCM, Current Meters Vektor Rata-rata (VACM),
dan Vector Measuring Current Meter (VMCM), sedang Sensor Non Mekanik terbagi
menjadi Acoustic Current Meter (ACM), Elektromagnetik Current Meter (ECM),
Acoustic Doppler Current Meter (ADCM).

Metode Lagrange

merupakan metode pengukuran arus dengan mengikuti jejak suatu alat (misal :
pelampung). Teknis konvensional dilakukan dengan terjun langsung ke lapangan
sedangkan Teknik Modern atau Pencatat arus Quasi-Lagrange, yang meliputi pencatat
arus permukaan dan bawah permukaan.


KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
OCEANOGRAFI
A. ARUS
METODE PENENTUAN LOKASI SURVEI

Metode teknik non random sampling dengan teknik area sampel, Umumnya
pengukuran arus dapat diwakili dengan 2- 3 sampel untuk setiap kawasan tertentu
dengan pertimbangan dapat mewakili karakteristik wilayah perairan setempat.

1. Karakteristik Daerah Pantai/Lepas Pantai

Pertimbangan yang digunakan adalah lokasi dekat pantai (near shore) untuk mengetahui
karakteristik arus di dekat pantai dan lokasi lepas pantai (off shore) untuk karakteristik
arus lepas pantai

2. Karakteristik Daerah Teluk

Pertimbangan yang digunakan adalah lokasi di dalam teluk untuk megetahui karakteristik
arus di dalam teluk dan lokasi di luar teluk untuk karakteristik arus di luar teluk.


KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
A. ARUS
METODE PENGAMBILAN DATA
Pengukuran arus di perairan laut dilakukan minimal selama 3 x 24 jam
dengan interval waktu pencatatan antara 10 menit 1 jam.

ADCP dipasang pada kedalaman 15 m

Pengukuran sebaiknya dilakukan pada saat kondisi pasang surut pada
fase spring tide (pasang surut di saat bulan purnama atau bulan mati),
hal ini untuk memperoleh hasil pengukuran arus yang optimal.
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
SURVEI LAPANGAN
A. ARUS
METODE PENGAMBILAN DATA
Pengukuran dilakukan pada saat kondisi pasang tinggi (fase spring tide).

Hasil pengukuran digambarkan dalam scatter diagram, vektor plot, current
rose (mawar arus).

Peta arus skala 1:50.000, digambar dalam bentuk kontur isoline dengan
interval 0,05 m/detik.

KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
Hasil Pengukuran Data Kecepatan dan Arah Arus

KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
Current Rose
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
Scatter Plot Kecepatan Arus Kedalam 0 2 meter
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
Scatter Plot Kecepatan Arus Kedalam 2 4 meter
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
Scatter Plot Kecepatan Arus Kedalam 4 6 meter
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
Scatter Plot Kecepatan Arus Kedalam 6 8 meter
KEMENTERIAN PPN/
BAPPENAS
Scatter Plot Kecepatan Arus Kedalam 8 10 meter
Verifikasi data Arus
Dari data pengukuran kecepatan dan arah arus
dapat dilakukan analisa sebagai berikut :
Faktor dominan terhadap arus (pasut atau non pasut)
Arah arus dominan
Arus harian
Mawar arus
Frekuensi kejadian arus
Analisa data Arus
Dari data pengukuran kecepatan dan arah arus
dapat dilakukan analisa sebagai berikut :
Faktor dominan terhadap arus (pasut atau non pasut)
Arah arus dominan
Arus harian
Mawar arus
Frekuensi kejadian arus