Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN

Bell palsy adalah salah satu gangguan neurologis paling umum yang mempengaruhi
saraf kranial, dan merupakan penyebab kelumpuhan wajah paling umum di seluruh dunia.
Lebih tepat disebut idiopathic facial paralysis (IFP). Bell palsy diperkirakan menapai sekitar
!"#$%& kasus kelumpuhan wajah akut unilateral. Bell palsy lebih sering terjadi pada orang
dewasa, pada orang dengan diabetes, dan pada wanita hamil. Bell palsy dapat sembuh dengan
sendirinya dalam '"#("& kasus.
)tiologi dan pengobatan Bell palsy masih menjadi kontro*ersi. Penyebab Bell palsy
masih belum diketahui, meskipun tampaknya polyneuritis dengan kemungkinan infeksi *irus,
peradangan, autoimun, dan iskemik dapat menjadi etiologi.
+enentukan apakah kelumpuhan saraf fasial perifer atau sentral adalah langkah kuni
dalam diagnosis. ,ebuah lesi yang melibatkan motor neuron sentral di atas inti ner*us fasialis
di pons menyebabkan kelemahan dari wajah bagian bawah saja. -namnesis dan pemeriksaan
fisik menyeluruh, termasuk telinga, hidung, tenggorokan, dan saraf kranial, harus dilakukan.
.riteria diagnostik minimum menakup kelumpuhan atau paresis dari semua
kelompok otot di satu sisi wajah, tiba#tiba, dan tidak adanya penyakit sistem saraf pusat.
Perhatikan bahwa diagnosis IFP dibuat hanya setelah penyebab lain dari erebral perifer akut
sudah dihilangkan.
/ika temuan klinis diragukan atau jika kelumpuhan berlangsung lebih dari !#'
minggu, dilakukan pemeriksaan lebih lanjut seperti penitraan resonansi magnetik dari tulang
temporal dan pons, harus dipertimbangkan. )lektrodiagnostik tes (misalnya tes refleks
stapedius, membangkitkan saraf fasialis elektromiografi 0)+12, audiography) dapat
membantu meningkatkan akurasi prognosis pada kasus yang sulit.
Pengobatan Bell palsy harus konser*atif dan dipandu oleh keparahan dan prognosis
kemungkinan dalam setiap kasus tertentu. Penelitian telah menunjukkan manfaat dari
kortikosteroid dosis tinggi untuk Bell palsy akut. +eskipun pengobatan anti*irus telah
digunakan dalam beberapa tahun terakhir, bukti sekarang tersedia menunjukkan bahwa hal itu
mungkin tidak berguna.
1
LAPORAN KASUS
IDENTITAS
3ama 4 3y. -
/enis .elamin 4 Perempuan
5mur 4 6$ tahun
-gama 4 Islam
Pendidikan terakhir 4 ,+-
-lamat 4 /l. .alibata 7imur, /akarta
7anggal berobat 4 8( /uni 9"89
ANAMNESIS
:ilakukan seara auto anamnesis pada tanggal 8( /uni 9"89
.eluhan 5tama
+ulut menong sejak ; hari ,+<,
.eluhan 7ambahan
+ata sering berair, air liur bertambah banyak dan kebas pada pipi kiri
<iwayat Penyakit ,ekarang
=, datang ke poli saraf <,5: Budhi -sih dengan keluhan mulut menong sejak ;
hari ,+<,. .eluhan ini juga disertai dengan keluhan mata yang sering berair, sering keluar
air liur dari ujung mulut kiri dan rasa kebas pada pipi kiri. ,aat menyadari keluhan ini, =,
mengakui tidak sedang berakti*itas berat, =, sedang melakukan pekerjaan rumah tangga. =,
menyangkal adanya lemah sisi tubuh dan biara pelo. 3yeri belakang telinga, gangguan
2
penglihatan dan gangguan pendengaran juga disangkal oleh =,. :emam, sakit kepala hebat
dan riwayat trauma disangkal =,.
<iwayat Penyakit :ahulu
=, tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya. <iwayat darah tinggi,
kening manis dan penyakit jantung disangkal pasien.
<iwayat Penyakit .eluarga
<iwayat darah tinggi, kening manis dan penyakit jantung pada keluarga disangkal.
<iwayat .ebiasaan
Pasien tidak merokok ataupun minum minuman beralkohol
PEMERIKSAAN FISIK
Tanggal 19 Juni 2012
-. .)-:--3 5+5+
.esadaran 4 >ompos +entis
,ikap 4 -ktif
.ooperasi 4 .ooperatif.
.eadaan 1i?i 4 Baik
7ekanan :arah 4 8;"@'" mmAg
3adi 4 '" B@menit
,uhu 4 ;!.% C>
Pernapasan 4 8' B@menit
PEMERIKSAAN GENERALIS
3
.epala 4 3ormohephaly, hematom #, deformitas #
Dajah 4 7idak simetris, tidak puat, tidak ikterik
+ata 4 >onjungti*a anemis #@#, sklera ikterik #@#.
Aidung 4 3ormosepta, sekret #@#, darah #@#
7elinga 4 3ormotia, sekret#@#, serumen #@#, nyeri belakang telinga #@#
+ulut 4 Bibir tidak simetris, bibir kering #@#, hiperemis mukosa #@#, lidah simetris
Leher 4 7idak terdapat pembesaran .1B dan kelenjar tiroid, kaku kuduk #
7horaB 4 >or 4 B/ I#II reguler, murmur #, gallop E
Pulmo4 ,uara napas *esiular, ronkhi #@#, whee?ing #@#
-bdomen 4 :atar, supel, nyeri tekan ulu hati #, B5 F
)kstremitas -tas 4 -kral hangat F@FG oedema #@#, sianosis #@#, deformitas #@#
)kstremitas Bawah 4 -kral hangat F@FG oedema #@#, sianosis #@#, deformitas #@#
PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
1>, 4 >ompos +entis
Pemeriksaan ,araf .ranialis
3. >ranialis .anan .iri
3. I 7idak dilakukan
3. II
Hisus
5kuran
<>L
<>7L
Lapang Pandang
Baik
Isokor, :4 ; mm@ ; mm
F
F
7idak dilakukan
7idak dilakukan
Baik
Isokor, :4 ; mm@ ; mm
F
F
7idak dilakukan
7idak dilakukan
4
Funduskopi
3. III, IH, HI
.edudukan bola mata
Pergerakan bola mata
# -rah nasal
# -rah temporal
# -rah atas
# -rah bawah
# -rah temporal bawah
)Bophtalmus
3istagmus
=roforia
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
(#)
(#)
=roforia
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
(#)
(#)
3. H
>abang motorik
# +embuka mulut
# +enggerakan rahang
4
>abang sensorik
# =phtalmikus
# +aBillaris
# +andibularis 4
,imetris
Baik
Baik
Baik
Baik
,imetris
Baik
Baik
Aipesthesi
Baik
3. HII
+otorik oipitofrontalis
+otorik orbikularis okuli
+otorik orbikularis oris
Pengeapan lidah 4
Baik
Baik
Baik
Baik
Paresis
Paresis
Fisura palpebra =, I 9 mm
Paresis
Baik
3. HIII
Hertigo (#) (#)
5
3istagmus
7uli konduktif
7uli perseptif
(#)
(#)
(#)
(#)
(#)
(#)
3. IJ, J
+otorik
# <efleks menelan
,ensoris
# <efleks muntah
Baik
7idak dilakukan
Baik
7idak dilakukan
3. JI
+engangkat bahu
+enoleh
Baik
Baik
Baik
Baik
3. JII
Pergerakan lidah
:isartria
-trofi
Fasikulasi
7remor
Baik
(#)
(#)
(#)
(#)
Baik
(#)
(#)
(#)
(#)
,istem +otorik 7ubuh
.anan .iri
)kstremitas atas
Postur tubuh
.ekuatan otot
-trofi otot
7onus otot
1erak in*olunter
Baik
Baik (%)
)utrofik
3ormal
(#)
Baik
Baik (%)
)utrofik
3ormal
(#)
)kstremitas bawah
6
Postur tubuh
.ekuatan otot
-trofi otot
7onus otot
1erak in*olunter
Baik
Baik (%)
)utrofik
3ormal
(#)
Baik
Baik (%)
)utrofik
3ormal
(#)
Fungsi -utonom
+iksi 4 Baik
:efekasi 4 Baik
,ekresi keringat 4 Baik
<efleks .anan .iri
Fisiologis
Biseps
7riseps
Patella
-hilles
(F)
(F)
(F)
(F)
(F)
(F)
(F)
(F)
Patologis (#) (#)
DIAGNOSIS
:iagnosis .linis 4 Paresis n. HII perifer kiri, hipesthesi pipi kiri
:iagnosis )tiologi 4 Bell palsy kiri
:iagnosis 7opis 4 ,ekitar ganglion genikulatum
:iagnosis Patologis 4 Inflamasi
7
TERAPI
# +etil prednisolon 8! mg
o Aari 8 4 8B; tab
o Aari 9 4 8B9 tab
o Aari ; 4 8B8 tab
# +etil prednisolon 6 mg
o Aari 8 4 8B; tab
o Aari 9 4 8B9 tab
o Aari ; 4 8B8 tab
# Hitamin B89 ; B %"" mg
PROGNOSIS
-d *itam 4 -d bonam
-d fungsionam 4 :ubia ad bonam
-d sanationam 4 :ubia
8
PEMBAHASAN KASUS
Bell palsy didefinisikan sebagai kelumpuhan otot wajah tipe lower-motor-neuron
yang disebabkan oleh keterlibatan saraf diluar susunan saraf pusat, idiopatik, tanpa bukti
aural atau penyakit neurologis yang lebih meluas. :efinisi ini sesuai dengan keluhan pada
pasien, yaitu kelumpuhan otot wajah tipe L+3 yang seara klinis dapat terlihat sebagai
kelumpuhan pada satu sisi wajah. .elumpuhan pada satu sisi wajah ini dapat terjadi karena
lesi pada saraf ini terjadi dibawah dari nukleus faialis sehingga memutus iner*asi baik yang
berasal dari korteB kontralateral maupun ipsilateral. .elainan ini disebabkan oleh keterlibatan
saraf perifer idiopatik, dimana pada pasien keluhan ini timbul seara mendadak, yaitu ketika
pasien sedang melakukan pekerjaan rumah tangga tanpa didahului faktor penetus.
:ahulu, situasi yang menghasilkan eksposur dingin (seperti4 angin, pendingin udara)
menjadi pertimbangan sebagai faktor penetus terjadinya Bell palsy. Beberapa pendapat
mengenai hubungan eksposur dingin dengan Bell palsy, antara lain karena itu ner*us fasialis
bisa sembab dan terjepit di dalam foramen stilomastoideus dan menimbulkan kelumpuhan
fasialis L+3, ada juga pendapat lain yang menyatakan eksposur dingin menyebabkan
*asospasme pembuluh darah sehingga menyebabkan iskemi ner*us faialis. ,ekarang ini
beberapa penulis peraya bahwa *irus herpes simpleks (A,H) adalah penyebab tersering dari
Bell palsy. 3er*us faialis menjadi bengkak dan menyebabkan penekanan saraf pada kanalis
faialis dan dapat mengarah ke iskemia. 7eori faktor penetus terjadinya Bell palsy ini belum
dapat dibuktikan kepada pasien, karena pasien tidak mengeluh adanya demam dan pada
pasien tidak dilakukan pemeriksaan darah untuk menilai ada tidaknya leukositosis.
1ejala yang timbul dapat berupa twithing, kelemahan atau kelumpuhan pada satu
atau kedua sisi wajah. 1ejala lainnya dapat berupa kelumpuhan alis mata dan ujung mulut,
berliur, rasa kering pada mata dan mulut, gangguan pengeapan dan keluar air mata yang
berlebih. .ebanyakan gejala ini akan menapai punak dalam 6' jam pertama dan mengarah
ke distorsi wajah yang signifikan. Pada pasien ini, didapatkan gejala berupa kelumpuhan sisi
wajah kiri dan hipesthesi pipi kiri. 1ejala lain yang dikeluhkan pasien adalah mata berair dan
sering keluar air liur dari sudut mulut kiri (sudut mulut yang lumpuh). Paresis satu sisi wajah
seperti dijelaskan sebelumnya, yaitu karena terjadi lesi dibawah dari nukleus faialis sehingga
memutus iner*asi baik yang berasal dari korteB kontralateral maupun ipsilateral. ,edangkan
9
hipesthesi pipi kiri ini terjadi karena adanya lesi pada inti somatosensorik ner*us faialis,
dimana inti ini sama dengan inti ner*us trigeminus. .eluhan lain seperti mata berair dan
hipersali*asi yang terjadi merupakan akibat dari lesi pada serabut parasimpatis dari nukleus
sali*atory superior yang mempersarafi glandula lakrimal, nasal dan palatal (oleh ner*us
petrosal mayor) dan glandula sublingual#submandibular (oleh ner*us horda tympani).
+enurut Aouse and Brakmann >lassifiation of Faial Funtion, pasien ini termasuk
dalam derajat IH (moderately se*ere dysfuntion) yaitu kelemahan tampak jelas dan saat
istirahat didapatkan wajah simetris dengan tonus normal, pada pemeriksaan motorik pasien
tidak dapat mengangkat alis, menutup mata inkomplit dengan usaha, mulut bergerak asimetris
dengan usaha maksimal. .lasifikasi ini dapat menentukan prognosis pasien. :ari sebuah
penelitian selama 89 bulan, didapatkan hasil penderita Bell palsy '6& dapat sembuh
sempurna, sedangkan 8!& mengalami penyembuhan tidak sempurna yaitu pasien dengan
derajat II EIH menurut .lasifikasi Aouse#Brakmann. ,elain dari klasifikasi ini, prognosis
juga dapat ditegakkan berdasarkan masa laten. :alam 6 hari pertama, penyembuhan dapat
berjalan sempurna, sedangkan pada hari ke 6 sampai hari ke 86 dapat dikatakan masa laten
memanjang yang dapat mengarah ke penyembuhan tidak sempurna. +asa laten ini
berhubungan dengan compound action potential dari otot orbiularis oris yang diukur dengan
electroneurography.
:iagnosis klinis pada kasus ini adalah paresis n. HII perifer kiri dan hipesthesi pipi
kiri. :iagnosis etiologinya adalah Bell palsy kiri. :iagnosis topis pada pasien kemungkinan
di sekitar ganglion genikulatum karena pada daerah ini terdapat greater petrosal nerve yang
mempersarafi glandula lakrimal dan glandula sali*a. Aal ini dapat menjelaskan adanya
keluhan mata berair serta bertambahnya air liur pada pasien. Bila proses patologis terjadi di
+-I melibatkan ner*us akustikus dan ner*us horda tympani, akan mengakibatkan paralisis
faialis L+3 bersamaan dengan tuli perseptif ipsilateral dan ageusia (tidak dapat mengeap
dengan 9@; bagian depan lidah). Bila melibatkan muskulus stapedius, gejala dan tanda klinik
ditambah dengan adanya hiperakusis. :iagnosis patologisnya adalah inflamasi. 7eori
*askular dapat disingkirkan karena pada pada daerah tersebut terdapat banyak anastomosis
pembuluh darah, disamping itu iskemik *askular sering dikaitkan dengan *asospasme dan
gangguan pembuluh darah pada penderita :iabetes +elitus, sedangkan pada pasien tidak
didapatkan adanya riwayat :+.
10
Aasil studi menyatakan bahwa steroid, seperti prednisone yang digunakan untuk
meredakan inflamasi, efektif untuk mengobati Bell palsy. =bat lain yang dapat digunakan
adalah asiklo*ir, untuk melawan *irus herpes, dapat juga berguna untuk memperpendek
durasi penyakit. 3amun, dari penelitian yang dilakukan oleh -merian Family Physiian
dapat diperoleh hasil bahwa asiklo*ir tidak memiliki manfaat untuk pengobatan Bell palsy.
-nalgetik seperti aetaminophen dan ibuprofen dapat meredakan nyeri. 7erapi lain yang
dapat berguna untuk beberapa indi*idu antara lain teknik relaksasi, akupuntur, stimulasi
elektrik dan terapi *itamin, semua terapi ini membantu dalam pengembalian fungsi saraf.
,esuai dengan pasien ini dimana diberikan terapi kortikosteroid (metil prednisolone) yang
diberikan dengan dosis awal 6' mg@hari lalu tappering off. :osis dasri metil prednisolone
adalah 6#6' mg@hari dan juga diberikan meobalamin (*itamin B89) ;B%""mg. -nalgetik
tidak diberikan karena pada pasien tidak ada keluhan nyeri. 7erapi lain yang diberikan pada
pasien ini adalah fisioterapi untuk memperepat pengembalian fungsi wajah.
Prognosis ad *itam pada pasien ini adalah ad bonam karena kerusakan ner*us HII
perifer tidak bersifat menganam nyawa. -d fungsionam pada pasien adalah dubia ad bonam,
karena diperlukan e*aluasi terhadap pengobatan dan terapi yang akan dijalani pasien. -d
sanationam pasien adalah dubia, karena mengingat etiologi dari bells palsy adalah idiopatik
sehingga menimbulkan keraguan akan kekambuhannya.
11
Dafa! Pu"a#a
8. ,imon <P, 1reenberg :-, -minoff +/. +otor :efiits4 Bell Palsy. In Lange >linial
3eurology. $th ed. +1raw#Aill >ompanies. 9""(. P.8'6#8'%.
9. 1oldberg ,. Brain ,tem4 >ranial 3er*e $. In >linial 3euroanatomy. P.9'#9(,68#69.
;. 7aylor :>. Bell Palsy. -*ailable at http4@@emediine.medsape.om@artile@886!(";#
o*er*iewKshowall. 5pdated4 -pr 88, 9"89. -esed on /une 9$, 9"89.
6. 3ational Institute of 3eurologial :isease and ,troke4 Bell Palsy. -*ailable at
http4@@www.ninds.nih.go*@disorders@bells@pubsLbells.htm. 5pdated4 -ug 9!, 9"88.
-esed on /une 9$, 9"89.
%. Bell palsy. -*ailable at http4@@www.bellspalsy.ws. -esed on /une 9$, 9"89.
!. 7he Faial 3er*e. -*ailable at http4@@www.bellspalsy.ws. -esed on /une 9$, 9"89.
$. +amoli B. Prognosti assessment in peripheral faial ner*e paralysis with partiular
referene to eletroneurography. -*ailable at
http4@@www.nbi.nlm.nih.go*@pubmed@8'8(8(. -esed on /uly 8, 9"89
'. :jordje*iM 1, :juri ,. )arly Prognosti Halue of )letrophysiologial 7ests in BellNs
Palsy# )stimating 7he :uration of >linial <eo*er. +ediine and Biology Hol.89,
3o 8, 9""%, p. 6$ E %6.
(. ,tewart -:, 1raber +-, :ahs <. -ylo*ir or ,teroids as Pharmaologi 7reatment
of Bell Palsy. -m Fam Physiian. 9""( +ar 8%G$((!)46;%#6;!.
8". 1rewal :,. BellNs Palsy. In -tlas of 7he Faial 3er*e4 -n =tolaryngologistNs
Perspeti*e. 9nd ed. 9"89. p.;"#;;.
12