Anda di halaman 1dari 4

Etiologi

Pada tahun 1910 sarjana Karl Schwarz mengemukakan bahwa tukak peptik(tukak lambung, tukak
duodenum) terjadi akibat autodigesti asam lambung terhadap mukosa lambung/duodenum sehingga
membuat suatu diktum no acid no ulcer yang sampai sekarang masih tetap relevan dalam pembicaraan
mengenai etiologi tukak peptik. Pepsinogen yang dihasilkan oleh chief cell pada kelenjar getah lambung
bagian antrum pilorus dalam suasana asam diubah menjadi pepsin yang berfungsi memecahkan protein
dalam makanan, dan apabila daya tahan mukosa menurun, pepsin dapat mencerna struktur protein
mukosa sehingga bekerja dengan asam lambung dapat menyebabkan terjadinya tukak peptik.
Pada tahun 1982 Barry Marshall seorang internis bekerja sama dengan Robin Warren seorang ahli
patologi meneliti koloni bakteri dalam lambung pasien gastritis kronik dengan memeriksa biopsi
endoskopi mukosa lambung dan menemukan adanya bakteri ukuran kecil dengan diameter 0,5 m,
panjang 2,5 m, lapisan permukaan licin dan mempunyai flagella sampai 5 buah pada salah satu
ujungnya. Bakteri ini pertama kali diberi nama campylobacter like bacteria kemudian diubah menjadi
Helicobacter pylori (H. Pylori).
Walaupun asam lambung dan H.Pylori telah diketahui sebagai penyebab terjadinya tukak peptik
sehingga disebut acid-pylori disease, namun masih ada faktor-faktor lain yang juga berperan untuk
terjadinya tukak seperti penggunaan obat-obat anti inflamasi non steroid (OAINS), faktor genetik,
merokok, dan faktor-faktor yang memelihara keutuhan daya tahan mukosa lambung-duodenum
sehingga disimpulkan bahwa tukak peptik merupakan suatu penyakit yang multifaktor.
Patofisiologi
Pada dasarnya patogenesis tukak duodenum dan tukak lambung adalah sama walaupun ada beberapa
perbedaan. Dalam keadaan fisiologis terdapat keseimbangan antara 2 faktor yang menentukan
terjadinya tukak peptik yaitu faktor-faktor agresif yang dapat merusak mukosa, dan faktor-faktor
defensif yang memelihara keutuhan dan daya tahan mukosa.
Faktor-faktor yang dapat merusak mukosa adalah :
1. Asam lambung dan pepsin
2. Faktor-faktor lingkungan seperti :
a. Helicobacter pylori
b. Penggunaan obat-obat anti inflamasi non steroid
c. Merokok
d. Stress lingkungan
e. Kebiasaan makan
Faktor-faktor internal yang memelihara daya tahan mukosa adalah :
1. Sekresi mukus oleh sel epitel permukaan
2. Sekresi bikarbonat lokal oleh sel mukosa lambung/duodenum
3. Prostaglandin/fosfolipid
4. Aliran darah mukosa (mukosirkulasi)
5. Regenerasi dan integritas sel epitel mukosa, dan
6. Faktor-faktor pertumbuhan
Secara patofisiologis apabila terjadi ketidakseimbangan antara kedua faktor tersebut di atas misalnya
faktor agresif lebih dominan atau apabila terjadi penurunan daya tahan mukosa maka akan terbentuk
tukak peptik.
Mekanisme kerja faktor-faktor yang disebutkan di atas adalah sebagai berikut :
1. Asam lambung dan pepsin
Peran asam lambung sebagai penyebab terjadinya tukak peptik telah diketahui sejak lama. Pada
tukak duodenum terjadi peningkatan produksi dan pelepasan gastrin, sensitivitas mukosa
lambung terhadap rangsangan gastrin meningkat secara berlebihan, jumlah sel parietal,
pepsinogen khususnya pepsinogen I juga meningkat. Sekresi bikarbonat dalam duodenum
menurun menyebabkan daya tahan mukosa menurun, tidak mampu menahan daya cerna asam
dan pepsin sehingga memungkinkan terbentuknya tukak duodenum.
2. Helicobacter pylori
H.pylori adalah bakteri gram negatif, infeksi ekstra selular, ditularkan secara oral-oral, feko-oral
atau iatrogenik dan reservoarnya adalah manusia dan mungkin juga kucing rumah. Penelitian
telah membuktikan bahwa infeksi H.Pylori merupakan faktor paling dominan penyebab
terjadinya tukak peptik baik duodenum maupun lambung. Pada tukak duodenum lebih dari 90%
kasus, H.Pylori positif dan pada mereka yang terinfeksi setelah berlangsung sekitar 20 tahun
resiko terjadinya tukak yang bergejala 3,2-5,5 kali lebih sering dibanding dengan orang yang
tidak terinfeksi. Manifestasi klinis infeksi pada H.pylori seseorang sangat bervariasi mulai dari
gastritis yang tidak bergejala, tukak peptik yang jelas sampai terjadinya kanker lambung. Infeksi
H.pylori dalam lambung terutama berkolonisasi dan terkonsentrasi pada antrum sehingga
menyebabkan terjadinya gastritis kronik aktif yang hampir selalu ditemukan pada tukak
duodenum.
Proses lanjut yang terjadi dalam antrum adalah kerusakan sel-sel D yang memproduksi
somatostatin menyebabkan kadar somatostatin akan menurun. Somatostatin berfungsi untuk
menghentikan produksi gastrin olae sel-sel G dan oleh karena kadarnya menurun maka produksi
gastrin akan meningkat disertai peningkatan gastrin releasing peptide ( GRP) sehingga terjadi
rangsangan yang berlebihan pada sel-sel parietal untuk mengeluarkan asam lambung yang lebih
banyak.
H.pylori mengeluarkan enzim N-histamin metiltransferase yang memecahkan histamin menjadi
N-metil histamin yang mempunyai potensi kuat merangsang pengeluaran asam sekaligus
menghambat pengeluaran somatostatin.Produksi asam lambung yang berlebihan akan masuk
ke dalam duodenum sehingga beban asam sangat berlebihan yang dapat merangsang terjadinya
proses ulserasi dalam duodenum. Disamping itu di dalam bulbus duodeni terjadi penurunan
sekresi bikarbonat endogen yang juga terkait dengan infeksi H.pylori dan bersama sama
dengan asam lambung yang berlebihan, pH dalam bulbus menurun yang merupakan
karakteristik tukak duodenum. Asam yang berlebihan merupakan prarequisit terbentuknya
gastrik metaplasia duodenum sebagai upaya pertahanan mukosa duodenum, namun sekaligus
sebagai tempat bertumbuh dan berkembangnya H.Pylori sehingga menyebabkan duodenitis
kronik. Apabila gastrik metaplasia duodenum terinfeksi oleh strain H.pylori virulen yang memiliki
cytotoxin associates gen A (cagA gen) yang dominan dan juga memiliki vacuolating cytotoxin
aktif (VacA) Tipe s1a maka akan terjadi duodenitis aktif dan oleh pengaruh asam lambung yang
berlebihan akan terbentuk tukak duodenum.
Kerusakan mukosa lambung/duodenum juga dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor seperti
enzim-enzim yang dilepaskan oleh H.pylori antara lain urease, protease, fosfolipase dan lain
lain, di samping itu terjadi infiltrasi sel-sel radang PMN, limfosit T, monosit, sel plasma, dan
makrofag pada mukosa sehingga dilepaskan cytoxine interleukine (IL) antara lain IL 8 oleh sel-sel
epitel mukosa.
Pada penelitian klinis setelah pemberian pengobatan terhadap tukak peptik (tukak duodenum,
tukak lambung) untuk eradikasi H.pylori akan terjadi penyembuhan tukak, mengurangi angka
kekambuhan, menurunkan komplikasi perdarahan dan akan mengembalikan fungsi fisiologis
serta kelainan histologis epitel mukosa menjadi normal kembali.
Faktor-faktor daya tahan mukosa memegang peran pada terjadinya tukak peptik. Pada kadar
asam-pepsin normal, infeksi H.Pylori negatif, masih dapat ditemukan tukak duodenum oleh
karena daya tahan mukosa menurun. Peran faktor-faktor yang memelihara ketahanan mukosa
adalah sebagai berikut :
1. Mukus diproduksi oleh sel-sel mukus, merupakan protektor mukosa yang mencegah difusi
balik asam lambung dan serangan pepsin.
2. Bikarbonat endogen sebagai barier mukosa yang menjaga pH permukaan tetap netral,
dikeluarkan oleh sel-sel epitel lambung/duodenum. Setelah mendapat rangsangan dari
vagus, prostaglandin E,opioid endogen dan vasoaktif intestinal peptida (VIP) kadarnya
meningkat sesuai dengan peningkatan kadar asam lambung, sedangkan pada infeksi H.pylori
kadar bikarbont menurun. Penggunaan OAINS dan merokok menyebabkan penurunan kadar
bikarbonat yang tidak sesuai dengan peningkatan kadar asam, memungkinkan terbentuknya
tukak.
3. Keutuhan mukosa lambung/duodenum diperlukan untuk mencegah terjadinya tukak dan
ini tergantung dari lapisan lipoprotein, utuhnya hubungan antar sel produksi mukus secara
berkesinambungan dan penggantian secara normal/reguler sel-sel epitel mukosa.
Prostaglandin berperan dalam sintesis dan sekresi mukus, mempertahankan fungsi
sitoproteksi lambung duodenum, memelihara mikrosirkulasi, dan memperpanjang umur sel
epitel serta mempunyai efek tropik terhadap mukosa saluran cerna.
4. OAINS dan merokok menghambat produksi prostaglandin sehingga secara sekunder
berpengaruh terhadap sekresi mukus, OAINS misalnya aspirin dapat menyebabkan
terjadinya inflamasi membran lipoprotein sel epitel dan merusak hubungan antara sel
sehingga terjadi penglepasan sel epitel dan memudahkkan difusi balik asam lambung.
5. Aliran darah mukosa atau mikrosirkulasi yang mengangkut oksigen, nutrisi dan ion-ion
bikarbonat berfungsi untuk memelihara keutuhan sel epitel mukosa. Pada tukak duodenum
ditmukan aliran darah mukosa berkurang dibanding dengan pasien tanpa tukak. OAINS,
merokok dan stress akut dapat menekan aliran darah mukosa.
6. Faktor-faktor pertumbuhan epidermal ditemukan bertumpuk pada kelenjar saliva, kelenjar
Brunner dan pankreas yang berperan sebagai sitoproteksi dan penyembuhan tukak. Pada
tukak peptik faktor-faktor pertumbuhan epidermal ditemukan menurun dalam saliva, cairan
lambung, dan pada mukosa duodenum. Merokok menekan pelepasan faktor pertumbuhan
epidermal dalam saliva dan cairan duodenum.
7. Mediator inflamasi. Platelet activating factor dan leucotrienes merupakan lipid endogen
yang terkait pada proses inflamasi dan dikenal sebagai bahan ulserogenik yang disintesis
mukosa gastroduodenal sebagai respons dari rangsangan stress dan iritan-iritan lokal. Pada
pasien tukak duodenum faktor-faktor ini meningkat 2-3kali lipat dan menjadi normal
/berkurang pada penyembuhan tukak.