Anda di halaman 1dari 32

1

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Medula spinalis merupakan satu kumpulan saraf-saraf yang terhubung ke susunan
saraf pusat yang berjalan sepanjang kanalis spinalis yang dibentuk oleh tulang vertebra.
Ketika terjadi kerusakan pada medula spinalis, masukan sensoris, gerakan dari bagian
tertentu dari tubuh dan fungsi involunter seperti pernapasan dapat terganggu atau hilang sama
sekali. Ketika gangguan sementara ataupun permanen terjadi akibat dari kerusakan pada
medula spinalis, kondisi ini disebut sebagai cedera medula spinalis. Trauma medula spinalis
adalah cedera pada tulang belakang baik langsung maupun tidak langsung, yang
menyebabkan lesi di medula spinalis sehingga menimbulkan gangguan neurologis, dapat
menyebabkan kecacatan menetap atau kematian.
1
Data dari bagian rekam medik Rumah sakit umum pusat Fatmawati didapatkan
dalam 5 bulan terakhir terhitung dari Januari sampai Juni 2003, angka kejadian angka
kejadian untuk fraktur adalah berjumlah 165 orang yang di dalamnya termasuk angka
kejadian untuk cedera medulla spinalis yang berjumlah 20 orang (12,5%). Pada usia 45 tahun
fraktur terjadi pada pria dibandingkan pada wanita karena olahraga, pekerjaan dan
kecelakaan bermotor. Tetapi belakangan ini wanita lebih banyak dibandingkan pria karena
faktor osteoporosis yang diasosiasikan dengan perubahan hormonal (menopose). Vertebra
yang paling sering mengalami cedera adalah medulla spinalis pada daera servikal (leher) ke
5,6 dan 7, Torakal ke-12 dan lumbal pertama. Vertebra ini paling rentang karena ada rentang
mobilitas yang lebih besar dalam kolumna vertebral dalam area ini. Penyebab tersering
adalah kecelakaan lalu lintas (50%), jatuh (25%) dan cedera yang berhubungan dengan
olahraga (10%). Sisanya akibat kekerasan dan kecelakaan kerja. Hampir 40%-50% trauma
medulla spinalis mengakibatkan defisit neurologis, sering menimbulkan gejala yang berat,
dan terkadang menimbulkan kematian.
2


2

I.2 Tujuan Pembuatan Referat
A. Tujuan Umum
Mahasiswa kedokteran dapat mengerti dan memahami tentang Cedera medulla spinalis.
B. Tujuan Khusus
1.Mahasiswa dapat mengerti dan memahami bagaimana cara anamnesis dan pemeriksaan
fisik dan penunjang pada penderita cedera medulla spinalis.
2. Mahasiswa mengetahui diagnose kerja dan diagnose banding yang ditegakkan
3. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang etiologi, faktor resiko,
patifisiologi, gejala klinis, penatalaksanaan dan pencegahan pada kasus Cedera medulla
spinalis.















3

BAB II
ISI
II.1 Anatomi Medula Spinalis dan Dermatom
Medulla Spinalis merupakan bagian dari Susunan Syaraf Pusat. Terbentang dari
foramen magnum sampai dengan L1. Medula spinalis terletak di canalis vertebralis, dan
dibungkus oleh tiga meninges yaitu duramater, arakhnoid dan piamater. Syaraf Spinal
dilindungi oleh tulang vertebra, ligament, meningen spinal dan juga cairan LCS (liquor
cerebro spinal). LCS mengelilingi medulla spinalis di dalam ruang subarachnoid. Bagian
superior dimulai dari bagian foramen magnum pada tengkorak, tempat bergabungnya
dengan medulla oblongata. Medula spinalis berakhir di inferior di region lumbal. Dibawah
medulla spinalis menipis menjadi konus medularis dari ujungnya yang merupakan lanjutan
piamater, yaitu fillum terminale yang berjalan kebawah dan melekat dibagian belakang os
coccygea. Akar syaraf lumbal dan sakral terkumpul yang disebut dengan Cauda Equina.
Setiap pasangan syaraf keluar melalui foramen intervertebral. Syaraf Spinal dilindungi oleh
tulang vertebra dan ligamen dan juga oleh meningen spinal dan LCS (liquor
cerebrospinal).
3-6


Gambar 1. Anatomi Medula spinalis
4

Disepanjang medulla spinalis melekat 31 pasang saraf spinal melalui radix anterior
atau radix motorik dan radix posterior atau radix sensorik. Masing-masing radix melekat
4

pada medulla spinalis melalui fila radikularia yang membentang disepanjang segmen-
segmen medulla spinalis yang sesuai. Masing-masing radix saraf memiliki sebuah ganglion
radix posterior, yaitu sel-sel yang membentuk serabut saraf pusat dan tepi. 31 pasang saraf
spinal diantaranya yaitu :
3-6

a. 8 pasang syaraf servikal,
b. 12 pasang syaraf torakal,
c. 5 pasang syaraf lumbal,
d. 5 pasang syaraf sakral dan
e. 1 pasang syaraf koksigeal.

Gambar 1. 31 pasang saraf spinal.
4
Struktur medulla spinalis terdiri dari substansi abu abu (substansia grisea) yang
dikelilingi substansia putih (substansia alba). Pada potongan melintang, substansia grisea terlihat
seperti hurup H dengan kolumna atau kornu anterior atau posterior substansia grisea yang
dihubungkan dengan commisura grisea yang tipis. Didalamnya terdapat canalis centralis yang
kecil. Keluar dari medula spinalis merupakan akar ventral dan dorsal dari syaraf spinal.
Substansi grisea mengandung badan sel dan dendrit dan neuron efferen, akson tak bermyelin,
syaraf sensoris dan motoris dan akson terminal dari neuron. Bagian Posterior sebagai input atau
afferent, anterior sebagai Output atau efferent, comissura grisea untuk refleks silang dan
substansi alba merupakan kumpulan serat syaraf bermyelin. Fungsi medula spinalis :
3-6
5


a. Pusat gerakan otot tubuh terbesar yaitu dikornu motorik atau kornu ventralis.
b. Mengurus kegiatan refleks spinalis dan refleks tungkai, Refleks merupakan respon bawah
sadar terhadap adanya suatu stimulus internal ataupun eksternal untuk mempertahankan
keadaan seimbang dari tubuh. Refleks yang melibatkan otot rangka disebut dengan refleks
somatis dan refleks yang melibatkan otot polos, otot jantung atau kelenjar disebut refleks
otonom atau visceral.
c. Menghantarkan rangsangan koordinasi otot dan sendi menuju cerebellum.
d. Mengadakan komunikasi antara otak dengan semua bagian tubuh.

Fungsi lengkung refleks :
3-6

a. Reseptor: penerima rangsang.
6

b. Aferen: sel saraf yang mengantarkan impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat (ke pusat
refleks).
c. Pusat refleks : area di sistem saraf pusat (di medula spinalis: substansia grisea), tempat
terjadinya sinap (hubungan antara neuron dengan neuron dimana terjadi pemindahan atau
penerusan impuls).
d. Eferen: sel saraf yang membawa impuls dari pusat refleks ke sel efektor. Bila sel efektornya
berupa otot, maka eferen disebut juga neuron motorik (sel saraf atau penggerak).
e. Efektor: sel tubuh yang memberikan jawaban terakhir sebagai jawaban refleks. Dapat berupa
sel otot (otot jantung, otot polos atau otot rangka), sel kelenjar.
DERMATOM
Berkaitan dengan masukan sensorik, setiap daerah spesifik di tubuh yang dipersarafi
oleh saraf spinal tertentu yang disebut area dermatom. Saraf spinal juga membawa serat-serat
yang bercabang untuk mempersarafi organ-organ dalam, dan kadang-kadang nyeri yang
berasal dari salah satu organ tersebut dialihkan ke dermatom yang dipersarafi oleh saraf spinal
yang sama.
7

Gambar 3. Standard Neurological Clasification of Spinal Cord Injury
7
7

II.1 Pengertian Cedera Medula Spinalis
Cedera medulla spinalis adalah suatu kerusakan pada medulla spinalis akibat
trauma atau non trauma yang akan menimbulkan gangguan pada sistem motorik, sistem
sensorik dan vegetatif. Kelainan motorik yang timbul berupa kelumpuhan atau gangguan
gerak dan fungsi otot-otot, gangguan sensorik berupa hilangnya sensasi pada area tertentu
sesuai dengan area yang dipersyarafi oleh level vertebra yang terkena, serta gangguan sistem
vegetatif berupa gangguan pada fungsi bladder, bowel dan juga adanya gangguan fungsi
sexual.
3,7,10
Klasifikasi menurut American Spinal Injury Association:
7
Grade A Hilangnya seluruh fungsi morotik
dan sensorik dibawah tingkat lesi
Grade B Hilangnya seluruh fungsi motorik
dan sebagian fungsi sensorik di
bawah tingkat lesi.
Grade C Fungsi motorik intak tetapi dengan
kekuatan di bawah 3.
Grade D Fungsi motorik intak dengan
kekuatan motorik di atas atau sama
dengan 3.

Grade E Fungsi motorik dan sensorik
normal.

Penilaian terhadap gangguan motorik dan sensorik dipergunakan Frankel
Score.
3,10

Frankel Score A kehilangan fingsi motorik dan sensorik
lengkap
(complete loss).
8

Frankel Score B Fungsi motorik hilang, fungsi sensorik utuh.
Frankel Score C Fungsi motorik ada tetapi secara praktis tidak
berguna (dapat menggerakkan tungkai tetapi
tidak dapat berjalan).
Frankel Score D Fungsi motorik terganggu (dapat berjalan
tetapi tidak dengan normal gait).
Frankel Score E Tidak terdapat gangguan neurologik.

Skala kerusakan berdasarkan

American spinal injury association/International medical
society of Paraplegia (IMSOP)
Grade Tipe Gangguan spinalis
ASA/IMSOP
A Komplit Tidak ada fungsi sensorik
dan motorik sampai S4-5
B Inkomplit Fungsi sensorik masih baik
tapi fungsi motorik
terganggu sampai segmen
sacral S4-5
C Inkomplit Fungsi motoik terganggu
dibawah level, tapi otot-otot
motorik utama masih punya
kekuatan < 3
D Inkomplit Fungsi motorik terganggu
dibawah level, otot-otot
motorik utamanya punya
kekuatan > 3
E Normal Fungsi sensorik dan motorik
normal

Sedangkan lesi pada medula spinalis menurut ASIA resived 2000, terbagi atas :
7
a. Paraplegi : Suatu gangguan atau hilangnya fungsi motorik atau dan sensorik karena kerusakan
pada segment thoraco-lumbo-sacral.
b. Quadriplegi : Suatu gangguan atau hilangnya fungsi motorik atau dan sensorik karena
kerusakan pada segment cervikal.
9

Spesifik Level
7
1. C1 C2 : Quadriplegia, kemampuan bernafas (-).
2. C3 C4 : Quadriplegia, fungsi N. Phrenicus (-), kemampuan bernafas hilang.
3. C5 C6 : Quadriplegia, hanya ada gerak kasar lengan.
4. C6 C7 : Quadriplegia, gerak biceps (+), gerak triceps (-).
5. C7 C8 : Quadriplegia, gerak triceps (+), gerak intrinsic lengan (-).
6. Th1 L1-2 : Paraplegia, fungsi lengan (+), gerak intercostalis tertentu (-), fungsi tungkai (-),
fungsi seksual (-).
7. Di bawah L2: Termasuk LMN, fungsi sensorik (-), bladder & bowel (-), fungsi seksual
tergantung radiks yang rusak.
Sindrom cedera medulla spinalis menurut ASIA, yaitu :
3,7,9,10

Nama Sindroma Pola dari lesi saraf Kerusakan
Central cord syndrome Cedera pada posisi
sentral dan sebagian
pada daerah lateral.
Dapat sering terjadi
pada daerah servikal
Menyebar ke daerah sacral.
Kelemahan otot ekstremitas atas
dan ekstremitas bawah jarang
terjadi pada ekstremitas bawah
Brown- Sequard Syndrome Anterior dan posterior
hemisection dari
medulla spinalis atau
cedera akan
menghasilkan medulla
spinalis unilateral
Kehilangan ipsilateral
proprioseptiv dan kehilangan
fungsi motorik.
Anterior cord syndrome Kerusakan pada
anterior dari daerah
putih dan abu- abu
medulla spinalis
Kehilangan funsgsi motorik dan
sensorik secara komplit.
Posterior cord syndrome Kerusakan pada Kerusakan proprioseptiv
10

anterior dari daerah
putih dan abu- abu
medulla spinalis
diskriminasi dan getaran. Funsgis
motor juga terganggu
Cauda equine syndrome Kerusakan pada saraf
lumbal atau sacral
samapi ujung medulla
spinalis
Kerusakan sensori dan lumpuh
flaccid pada ekstremitas bawah
dan kontrol berkemih dan
defekasi.

II.2 Epidemiologi
Cidera medulla spinal adalah masalah kesehatan mayor yang mempengaruhi
150.000 prang di Amerika serikat, dengan perkiraan 10.000 cedera baru yang terjadi setiap
tahun. Kejadian ini lebih dominan pada pria usia muda sekitar lebih 75% dari seluruh cedera.
Data dari bagian rekam medic Rumah sakit umum pusat Fatmawati didapatkan dalam 5
bulan terakhir terhitung dari Januari sampai Juni 2003, angka kejadian angka kejadian untuk
fraktur adalah berjumlah 165 orang yang di dalamnya termasuk angka kejadian untuk cedera
medulla spinalis yang berjumlah 20 orang (12,5%). Pada usia 45 tahun fraktur terjadi pada
pria dibandingkan pada wanita karena olahraga, pekerjaan dan kecelakaan bermotor. Tetapi
belakangan ini wanita lebih banyak dibandingkan pria karena faktor osteoporosis yang
diasosiasikan dengan perubahan hormonal (menopose).
2
II.3 Etiologi
Cedera medula spinalis dapat dibagi menjadi dua jenis:
A. Cedera medula spinalis traumatik, terjadi ketika benturan fisik eksternal seperti yang
diakibatkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh atau kekerasan, merusak medula
spinalis. Sebagai lesi traumatik pada medula spinalis dengan beragam defisit motorik dan
sensorik atau paralisis. Sesuai dengan American Board of Physical Medicine and
Rehabilitation Examination Outline for Spinal Cord Injury Medicine, cedera medula
spinalis traumatik mencakup fraktur, dislokasi dan kontusio dari kolum vertebra.
3,7,9,10

B. Cedera medula spinalis non traumatik, terjadi ketika kondisi kesehatan seperti penyakit,
infeksi atau tumor mengakibatkan kerusakan pada medula spinalis, atau kerusakan yang
terjadi pada medula spinalis yang bukan disebabkan oleh gaya fisik eksternal. Faktor
11

penyebab dari cedera medula spinalis mencakup penyakit motor neuron, myelopati
spondilotik, penyakit infeksius dan inflamatori, penyakit neoplastik, penyakit vaskuler,
kondisi toksik dan metabolik dan gangguan kongenital dan perkembangan.
3,7,9,10

II.4 Faktor Resiko
A. Laki-laki lebih banyak dari pada perempuan : Cedera tulang tulang belakang
mempengaruhi jumlah yang tidak proporsional pria. Bahkan, perempuan account hanya
sekitar 20 persen dari trauma cedera tulang belakang di Amerika Serikat.
3,7,9,10

B. Menjadi antara usia 16 dan 30 : Banyak terjadi cedera tulang belakang traumatis jika
berusia antara 16 dan 30. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan penyebab utama
cedera tulang belakang untuk orang di bawah 65, sementara jatuh penyebab paling cedera
pada orang dewasa yang lebih tua.
3,7,9,10

C. Terlibat dalam perilaku berisiko : Menyelam ke dalam air terlalu dangkal atau bermain
olahraga tanpa mengenakan peralatan keselamatan yang tepat atau mengambil tindakan
pencegahan yang tepat dapat menyebabkan cedera tulang belakang.
3,7,9,10

D. Memiliki tulang atau kelainan sendi : Sebuah cedera yang relatif kecil dapat menyebabkan
cedera tulang belakang jika Anda memiliki gangguan lain yang mempengaruhi tulang atau
sendi, seperti arthritis atau osteoporosis.
3,7,9,10

II.4 Gejala Klinik
Jika medula spinalis mengalami cedera, maka saraf-saraf yang berada pada daerah
yang mengalami cedera dan yang di bawahnya akan mengalami gangguan fungsi, yang
menyebabkan hilangnya kontrol otot dan juga hilangnya sensasi. Hilangnya kontrol otot atau
sensasi dapat bersifat sementara atau menetap, sebagian atau menyeluruh, tergantung dari
beratnya cedera yang terjadi. Cedera yang menyebabkan putusnya medula spinalis atau
merusak jalur jalannya saraf di medula spinalis menyebabkan hilangnya fungsi yang
menetap, tetapi trauma tumpul yang mengguncang medula spinalis dapat menyebabkan
hilangnya fungsi sementara, yaitu bisa sampai beberapa hari, beberapa minggu, atau
12

beberapa bulan. Hilangnya kontrol otot sebagian menyebabkan timbulnya kelemahan pada
otot. Sedangkan kontrol otot yang hilang seluruhnya menyebabkan kelumpuhan. Ketika otot
mengalami kelumpuhan, maka otot tersebut seringkali kehilangan tonus ototnya sehingga
menjadi lemas (flaccid). Beberapa minggu kemudian, kelumpuhan dapat berkembang
menjadi spasme otot yang involunter (tidak disadari) dan lama (paralysis spastik).
3,7,9,10

Kerusakan hebat dari medula spinalis di pertengahan punggung bisa menyebabkan
kelumpuhan pada tungkai, tetapi lengan masih tetap berfungsi secara normal. Gerakan
refleks tertentu yang tidak dikendalikan oleh otak akan tetap utuh atau bahkan
meningkat. Contohnya, refleks lutut tetap ada atau bahkan meningkat. Meningkatnya refleks
ini dapat menyebabkan spasme pada tungkai. Refleks yang tetap dipertahankan
menyebabkan otot yang terkena menjadi memendek, sehingga dapat terjadi kelumpuhan
jenis spastik. Otot yang spastik teraba kencang dan keras dan sering mengalami kedutan.

3,7,9,10

Kompresi yang terjadi secara langsung pada bagian-bagian syaraf oleh fragmen-
fragmen tulang, ataupun rusaknya ligamen-ligamen pada sistem saraf pusat dan perifer.
Pembuluh darah rusak dan dapat menyebabkan iskemik. Ruptur axon dan sel membran
neuron bisa juga terjadi. Mikrohemoragik terjadi dalam beberapa menit di substansia grisea
dan meluas beberapa jam kemudian sehingga perdarahan masif dapat terjadi dalam beberapa
menit kemudian.
3,7,9,10

Sesaat setelah trauma, fungsi motorik dibawah tingkat lesi hilang, otot flaksid,
reflex hilang, paralisis atonik vesika urinaria dan kolon, atonia gaster dan hipestesia. Juga
dibawah tingkat lesi dijumpai hilangnya tonus vasomotor, keringat dan piloereksi serta fungsi
seksual. Kulit menjadi kering dan pucat serta ulkus dapat timbul pada daerah yang mendapat
penekanan tulang. Spingter vesika urinaria dan anus dalam keadaan kontraksi (disebabkan
oleh hilangnya inhibisi dari pusat sistem saraf pusat yang lebih tinggi.
3,7,9,10

Apabila medula spinalis cedera secara komplit dengan tiba-tiba, maka tiga fungsi
yang terganggu antara lain seluruh gerak, seluruh sensasi dan seluruh refleks pada bagian
tubuh di bawah lesi. Keadaan yang seluruh refleks hilang baik refleks tendon, refleks
autonomic disebut spinal shock. Kondisi spinal shock ini terjadi 2-3 minggu setelah cedera
13

medula spinalis. Fase selanjutnya setelah spinal shock adalah keadaan dimana aktifitas
refleks yang meningkat dan tidak terkontrol. Pada lesi yang menyebabkan cedera medula
spinalis tidak komplit, spinal shock dapat juga terjadi dalam keadaan yang lebih ringan atau
bahkan tidak melalui shock sama sekali. Selain itu gangguan yang timbul pada cidera medula
spinalis sesuai dengan letak lesinya, dimana pada UMN lesi akan timbul gangguan berupa
spastisitas, hyperefleksia, dan disertai hypertonus, biasanya lesi ini terjadi jika cidera
mengenai C1 hingga L1. Dan pada LMN lesi akan timbul gangguan berupa flaccid,
hyporefleksia, yang disertai hipotonus dan biasanya lesi ini terjadi jika cidera mengenai L3
sampai cauda equina, di samping itu juga masih ada gangguan lain seperti gangguan bladder
dan bowel, gangguan fungsi seksual, dan gangguan fungsi pernapasan.
3,7,9,10

Dapat durumuskan gejala-gejala yang terjadi pada cedera medulla spinalis yaitu :
3,7,9,10

1. Gangguan sensasi menyangkut adanya anastesia, hiperestesia, parastesia.
2. Gangguan motorik menyangkut adanya kelemahan dari fungsi otot-otot dan reflek tendon
myotome.
3. Gangguan fungsi vegetatif dan otonom menyangkut adanya flaccid dan sapstic blader dan
bowel.
4. Gangguan fungsi ADL yaitu makan, toileting, berpakaian, kebersihan diri.
5. Gangguan mobilisasi yaitu Miring kanan dan kiri, Transfer dari tidur ke duduk, Duduk,
Transfer dari bed ke kursi roda, dan dari kursi roda ke bed.
6. Penurunan Vital sign yaitu penurunan ekspansi thorax, kapasitas paru dan hipotensi.
7. Skin problem menyangkut adanya decubitus.
Cedera medulla spinalis juga mempengaruhi fungsi organ vital yaitu diantaranya
disfungsi respirasi terbesar yaitu cedera setinggi C1-C4. Cedera pada C1-C2 akan
mempengaruhi ventilasi spontan tidak efektif. Lesi setinggi C5-8 akan mempengaruhi m.
intercostalis, parasternalis, scalenus, otot-otot abdominal, otot-otot abdominal. Selain itu
14

mempengaruhi intaknya diafragma, trafezius dan sebagian m. pectoralis mayor. Lesi setinggi
thoracal mempengaruhi otot-otot intercostalis dan abdominal, dampak umumnya yaitu
efektivitas kinerja otot pernafasan menurun.
3,7,9,10

Selain itu mengganggu fungsi sistem kardiovaskular dimana terjadi karena gangguan
jalur otonom, terjadi pada lesi setinggi cervical dan thoracal. Akibat disfungsi simpatis yang
mempengaruhi fungsi jantung dan dinding vascular, hilangnya control simpatis supraspinal
mengakibatkan aktivitas simpatis menurun. Lesi setinggi cervical dan thoracal
mengakibatkan tonus vasomotor menurun sehingga mengakibatkan hipotensi.
3,7,9,10

Fungsi sistem urinaria terganggu dimana bila terjadi lesi setinggi S2 dan S4. Dimana
bila terjadi lesi setinggi S2 akan mengakibatkan otot detrusor vesika urinaria mengalami
kelemahan tipe LMN sehingga otot detrusor melemah sedangkan S4 mengatur spinkter
urinaria eksterna berkontraksi karena bersifat spastic, akan mengakibatkan retensi urin.
Sedangkan bila lesi setinggi S4 akan mengakibatkan SUE melemah (membuka) sedangkan
fungsi dari otot VU normal maka akan mengakibatkan inkontinensia urin.
3,7,9,10

Lesi pada badan sel parasimpatis di conus medularis, axon parasimpatis di cauda
equine dan axon somatic pudendus setinggi T10, fungsi pembentukan fese terganggu, karena
mempengaruhi dinding usus, pada lesi tersebut diatas akan mengakibatkan tipe LMN,
dimana feces lebih kering dan bundar, resiko tinggi inkontinensia akibat rendahnya tonus
spinkter ani. Lesi setinggi diatas conus medularis akan mengakibatkan lesi tipe UMN,
dimana terjadi overaktivitas peristaltic usus, retensi fecal akibat spastic spinkter ani.
3,7,9,10

II.5 Patofisiologi
Defisit neurologis yang berkaitan dengan cedera medula spinalis terjadi akibat dari
proses cedera primer dan sekunder. Sejalan dengan kaskade cedera berlanjut, kemungkinan
penyembuhan fungsional semakin menurun. Karena itu, intervensi terapeutik sebaiknya tidak
ditunda, pada kebanyakan kasus, window period untuk intervensi terapeutik dipercaya
berkisar antara 6 sampai 24 jam setelah cedera. Mekanisme utama yaitu cedera inisial dan
mencakup transfer energi ke korda spinal, deformasi korda spinal dan kompresi korda paska
trauma yang persisten. Mekanisme ini, yang terjadi dalam hitungan detik dan menit setelah
15

cedera, menyebabkan kematian sel yang segera, disrupsi aksonal dan perubahan metabolik
dan vaskuler yang mempunyai efek yang berkelanjutan. Proses cedera sekunder yang
bermula dalam hitungan menit dari cedera dan berlangsung selama berminggu-minggu
hingga berbulan-bulan, melibatkan kaskade yang kompleks dari interaksi biokimia, reaksi
seluler dan gangguan serat traktus. Sangat jelas bahwa peningkatan produksi radikal bebas
dan opioid endogen, pelepasan yang berlebihan dari neurotransmitter eksitatori dan reaksi
inflamasi sangat berperan penting. Lebih jauh lagi, profil mRNA (messenger Ribonucleic
Acid) menunjukkan beberapa perubahan ekspresi gen setelah cedera medula spinalis dan
perubahan ini ditujukan sebagai target terapeutik.
3,7,9,10

Beberapa teori telah diusulkan untuk menjelaskan patofisiologi dari cedera
sekunder. Teori radikal bebas menjelaskan bahwa, akibat dari penurunan kadar anti-oksidan
yang cepat, oksigen radikal bebas berakumulasi di jaringan sistem saraf pusat yang cedera
dan menyerang membrane lipid, protein dan asam nukleat. Hal ini berakibat pada
dihasilkannya lipid peroxidase yang menyebabkan rusaknya membran sel. Teori kalsium
menjelaskan bahwa terjadinya cedera sekunder bergantung pada influks dari kalsium
ekstraseluler ke dalam sel saraf. Ion kalsium mengaktivasi phospholipase, protease, dan
phosphatase. Aktivasi dari enzim-enzim ini mengakibatkan interupsi dari aktivitas
mitokondria dan kerusakan membran sel. Teori opiate receptor mengusulkan bahwa opioid
endogen mungkin terlibat dalam proses terjadinya cedera medula spinalis dan bahwa
antagonis opiate (contohnya naloxone) mungkin bisa memperbaiki penyembuhan neurologis.
Teori inflamasi berdasarkan pada hipotesis bahwa zat-zat inflamasi (seperti prostaglandin,
leukotrien, platelet-activating factor, serotonin) berakumulasi pada jaringan medula spinalis
yang cedera dan merupakan mediator dari kerusakan jaringan sekunder.

Bila bagian cervical
1-4 yang terkena mengakibatkan pola nafas menjadi efektif dan kelumpuhan total dan
kemungkinan untuk bertahan hidup sangat kecil.
3,7,9,10

Tulang belakang yang mengalami gangguan trauma (kecelakaan mobil, jatuh dari
ketinggian, cedera olahraga) atau penyakit (Transverse Myelitis, Polio, Spina Bifida,
Friedreich dari ataxia) dapat menyebabkan kerusakan pada medulla spinalis, tetapi lesi
traumatic pada medulla spinalis tidak selalu terjadi karena fraktur dan dislokasi. Efek trauma
yang tidak langsung bersangkutan tetapi dapat menimbulkan lesi pada medulla spinalis
16

disebut whiplash atau trauma indirek. Whiplash adalah gerakan dorsapleksi dan anterofleksi
berlebihan dari tulang belakang secara cepat dan mendadak. Trauma whiplash terjadi pada
tulang belakang bagian cervikalis bawah maupun thorakalis bawah misalnya pada waktu
duduk dikendaraan yang sedang berjalan cepat kemudian berhenti secara mendadak, atau
pada waktu terjun dari jarak tinggi, menyelam yang dapat mengakibatkan paraplegia.
Trauma tidak langsung dari tulang belakang berupa hiperekstensi, hiperfleksi, tekanan
vertical (terutama pada T.12sampai L.2), rotasi. Kerusakan yang dialami medulla spinalis
dapat bersifat sementara atau menetap.akibat trauma terhadap tulang belakang, medula
spinalis dapat tidak berfungsi untuk sementara (komosio medulla spinalis), tetapi dapat
sembuh kembali dalam beberapa hari. Gejala yang ditimbulkan adalah berupa oedema,
perdarahan peri vaskuler dan infark disekitar pembuluh darah. Pada kerusakan medulla
spinalis yang menetap, secara makroskopis kelainannya dapat terlihat dan terjadi lesi,
contusion, laseratio dan pembengkakan daerah tertentu di medulla spinalis. Laserasi medulla
spinalis merupakan lesi berat akibat trauma tulang belakang secara langsung karena tertutup
atau peluru yang dapat mematahkan atau mengeserkan ruas tulang belakang (fraktur dan
dislokasi).lesi transversa medulla spinalis tergantung pada segmen yang terkena (segmen
transversa, hemitransversa, kuadran transversa). Trauma ini bersifat whiplash yaitu jatuh dari
jarak tinggi dengan sifat badan berdiri, jatuh terduduk, terdampar eksplosi atau fraktur
dislokasio.kompresi medulla spinalis terjadi karena dislokasi, medulla spinalis dapat terjepit
oleh penyempitan kanalis vertebralis.
3,7,9,10
Suatu segmen medulla spinalis dapat tertekan oleh hematoma ekstra meduler
traumatic dan dapat juga tertekan oleh kepingan tulang yang patah yang terselip diantara
duramater dan kolumna vertebralis.gejala yang didapat sama dengan sindroma kompresi
medulla spinalis akibat tumor, kista dan abses didalam kanalis vertebralis.
Akibat hiperekstensi dislokasio, fraktur dan whislap radiks saraf spinalis dapat tertarik dan
mengalami jejas. pada trauma whislap, radiks colmna 5-7 dapat mengalami hal demikian,
dan gejala yang terjadi adalah nyeri radikuler spontan yang bersifat hiperpatia, gambaran
tersbut disebut hematorasis atau neuralgia radikularis traumatik yang reversible.jika radiks
terputus akibat trauma tulang belakang, maka gejala defisit sensorik dan motorik yang
terlihat adalah radikuler dengan terputusnya arteri radikuler terutama radiks T.8 atau T.9
17

yang akan menimbulkan defisit sensorik motorik pada dermatoma dan miotoma yang
bersangkutan dan sindroma sistema aaanastomosis anterial anterior spinal.
3,7,9,10
Medula spinalis dan radiks dapat rusak melalui 4 mekanisme berikut :
3,7,9,10

1. Kompresi oleh tulang, ligamentum, herniasi diskus intervertebralis dan hematom. Yang
paling berat adalah kerusakan akibat kompresi tulang dan kompresi oleh korpus vertebra
yang mengalami dislokasi tulang dan kompresi oleh korpus vertebra yang mengalami
dislokasi ke posterior dan trauma hiperekstensi.
2. Regangan jaringan yang berlebihan akan menyebabkan gangguan pada jaringan, hal ini
biasanya terjadi pada hiperfleksi. Toleransi medula spinalis terhadap regangan akan
menurun dengan bertambahnya usia.
3. Edema medula spinalis yang timbul segera setelah trauma menyebabkan gangguan aliran
darah kapiler dan vena.
4. Gangguan sirkulasi akibat kompresi tulang atau sistem arteri spinalis anterior dan
posterior.
II.6 Komplikasi.
a. Ulcer decubitus : Merupakan komplikasi paling utama pada cedera medulla spinalis.
Terjadi karena tekanan yang pada umumnya terjadi pada daerah pinggul (ischial tuberositas
dan trochanter pada femur). Pada cedera medulla spinalis tidak hanya terjadi perubahan
dari tonus otot dan sensasi saja, tapi juga peredaran darah ke kulit dan jaringan subkutan
berkurang.
3,7,9,10

b. Osteoporosis dan fraktur : Kebanyakkan pasien dengan cedera medulla spinalis akan
mengalami komplikasi osteoporosis. Pada orang normal, tulang akan tetap sehat dan kokoh
karena aktifitas tulang dan otot yang menumpu. Ketika aktifitas otot berkurang atau hilang
dan tungkai tidak melakukan aktifitas menumpu berat badan, maka mulai terjadi penurunan
kalsium, phospor sehingga kepadatan tulang berkurang.
3,7,9,10

18

c. Pneumonia, atelektasis, aspirasi : Pasien dengan cedera medula spinalis di bawah Th4,
akan beresiko tinggi untuk berkembangnya restriksi fungsi paru. Terjadi pada 10 tahun
dalam cedera medulla spinalis dan dapat progresif sesuai keadaan.
3,7,9,10

d. Deep Vein Trombosis (DVT) : Merupakan komplikasi terberat dalam cedera medula
spinalis, yaitu terdapat perubahan dari kontrol neurologi yang normal daripada pembuluh
darah.
e. Cardiovasculer disease : Komplikasi dari sistem kardiorespirasi merupakan resiko
jangkapanjang pada cedera medulla spinalis.
f. Syringomyelia : Berpengaruh pada spasme, phantom sensation, perubahan refleks dan
autonom visceral.
g. Neuropatic pain : Merupakan masalah yang penting dalam cedera medulla spinalis.
Berbagai macam nyeri hadir dalam cedera medulla spinalis. Kerusakan pada daerah tulang
belakang dan jaringan lunak di sekitarnya dapat berakibat rasa nyeri pada daerah cedera.
Biasanya pasien akan merasakan terdapat phantom limb pain atau nyeri yang menjalar pada
level lesi ke inervasinya.
3,7,9,10

I. Perubahan Tonus Otot : Akibat yang paling terlihat pada SCI adalah paralysis dari otot-otot
yang dipersarafi oleh segmen yang terkena. Kerusakan dapat mengenai traktus descending
motorik, AHC, dan saraf spinalis, atau kombinasi dari semuanya. Saat mengenai traktus
descending, akan terjadi flaccid dan hilangnya refleks. Kemudian kondisi tersebut akan
diikuti dengan gejala autonom seperti berkeringat dan inkontinensia dari bladder dan
bowel. Dalam beberapa minggu akan terjadi peningkatan tonus otot saat istirahat, dan
timbulnya refleks.
3,7,9,10

J. Komplikasi Sistem respirasi : Bila lesi berada di atas level C4 akan menimbulkan paralysis
otot inspirasi sehingga biasanya penderita membutuhkan alat bantu pernafasan, hal tersebut
disebabkan gangguan pada n. intercostalis. Komplikasi pulmonal yang terjadi pada lesi
disegmen C5 Th 12, timbul karena adanya gangguan pada otot ekspirasi yang mendapat
persarafan dari level tersebut, seperti m. adbominalis dan m. intercostalis. Paralysis pada m.
19

obliques eksternalis juga menghambat kemampuan penderita untuk batuk dan
mengeluarkan sekret.
3,7,9,10

K. Kontrol Bladder dan Bowel : Pusat urinaris pada spinal adalah pada conus medullaris.
Kontrol refleks yang utama berasal dari segmen secral. Selama fase spinal shock, bladder
urinary menjadi flaccid. Semua tonus otot dan refleks pada bledder hilang. Lesi di atas
conus medullaris akan menimbulkan refleks neurogenic bladder berupa adanya spastisitas,
kesulitan menahan BAK, hipertrophy otot detrusor, dan refluks urethral. Lesi pada conus
medullaris menyebabkan tidak adanya refleks bladder, akbiat dari flaccid dan menurunnya
tonus otot perineal dan sphincter utethra. Gangguan pada bowel sama seperti pada bladder
ditambah dengan adanya lesi pada cauda equina.
3,7,9,10

L. Respon Seksual : Respon seksual berhubungan langsung dengan level dan complete atau
incompletenya trauma. Terdapat dua macam respon, reflekogenic atau respon untuk
stimulasi eksternal yang terlihat pada penderita dengan lesi UMN, dan pshycogenic,
dimana timbul melalui aktifitas kognisi seperti fantasi, yang berhubungan dengan lesi pada
LMN. Pria dengan level lesi yang tinggi dapat mencapai reflexive erection, tapi bukan
ejakulasi. Pada lesi yang lebih ke bawah ia dapat lebih cepat untuk ejakulasi, tetapi
kemampuan ereksinya sulit. Lesi pada cauda equina tidak memungkinkan terjadinya
ejakulasi ataupun ereksi.
3,7,9,10

M. Menstruasi biasanya terhambat 3 bulan, fertilasi dan kehamilan tidak terhambat, tapi
kehamilan harus segera diakhiri, terutama pada trisemester terakhir. Persalinan akan
terjadi tanpa sepengetahuan ibu hamil akibat dari hilangnya sensasi, dan persalinan
diawali dengan dysrefleksia autonomik.
3,7,9,10
II.7 Anamnesis
1. Keluhan utama : Keluhan yang membawa pasien untuk berobat. Kebanyakan kasus cedera
medulla spinal datang dengan keluhan kelemahan pada ektremitas. Tanyakan keluhan
sudah berapa lama dirasakan.
8,9,10
2. RPS :
20

a. Kaji keluhan kelemahan : Lokasi kelemahan (bagian sktremitas mana saja) paraplegia
tau quadriplegi, kelmahan timbulnya tiba-tiba atau perlahan-lahan, gejala semakin parah
atau tidak, timbul setelah makan atau tidak, obat-obatan yang digunakan utnuk
mengurangi gejala, hasil pengobatan.
8,9,10

b. Kaji keluhan tambahan : Nyeri (lokasi, terus menerus atau hilang timbul, nyeri menjalar
atau tidak, kapan nyeri bertambah, kapan nyeri berkurang. Kesemutan, sesak, nyeri pada
perut, keluhan BAK (inkontinensia atau retensi urin), BAB (konstipasi). Hilangnya
sensasi rasa. Gangguan fungsi seksual.
8,9,10

c. Tanya sebelumnya apakah pernah alami gejala yang sama, kegiatan sehari-hari (angkat
yang berat-berat). Pola BAK dan BAB sebelum sakit.
8,9,10

3. RPD : Riwayat trauma sebelumnya, riwayat kelainan tulang belakang, riwayat DM, HT,
Alergi, Low back pain, osteoporosis, osteoarthritis, riwayat TBC.
8,9,10

4. RPK : Riwayat kelainan tulang belakang, osteoporosis, TBC.
8,9,10

II.8 Pemeriksaan
A. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan awal dimulai dengan penilaian kondisi jalan nafas, pernafasan dan
sirkulasi darah. Pada kasus cedera, sangat penting diperiksa keadaan jalan nafas dan
pernafasannya karena pada trauma C1-C4.
8,9,10

1. Inspeksi : Inspeksi adalah pemeriksaan secara visual tentang kondisi serta kemampuan
gerak dan fungsinya. Apakah ada oedem pada anggota gerak, pengecilan otot ( atropi ),
warna, dan kondisi kulit sekitarnya, kemampuan beraktifitas, alat bantu yang digunakan
untuk beraktifitas, posisi pasien, dll.
8,9,10

d. Palpasi : Palpasi adalah pemeriksaan terhadap anggota gerak dengan menggunakan
tangan dan membedakan antara kedua anggota gerak yang kanan dan kiri. Palpasi
dilakukan terutama pada kulit dan subcutaneus untuk mengetahui temperatur, oedem,
spasme, dan lain sebagainya.
8,9,10

21

e. Pemeriksaan Fungsi Gerak : Dalam hal ini meliputi fungsi gerak aktif, gerak pasif, dan
gerak isometrik. Pada pemeriksaan ini umumnya pada pasien ditemukan adanya rasa
nyeri, keterbatasan gerak, kelemahan otot, dan sebagainya.
8,9,10

f. Pemeriksaan Fungsional : Dalam pemeriksaan fungsional meliputi kemampuan pasien
dalam beraktifitas baik itu posisioning miring kanan-kiri ( setiap 2 jam ), transfer dari
tidur ke duduk, dari tempat tidur ke kursi roda, dan sebaliknya.
8,9,10

g. Pemeriksaan Khusus
1) Kekuatan Otot : Pengukuran ini digunakan untuk melihat kekuatan otot dari keempat
anggota gerak tubuh. Dan dilakukan dengan menggunakan metode manual muscle
testing ( MMT ).
8,9,10

2) ROM ( Lingkup Gerak Sendi ) : Pemeriksaan ROM dilakukan dengan menggunakan
goniometer dan dituliskan dengan menggunakan metode ISOM (International Standar
Of Measurement ).
8,9,10

3) Pemeriksaan Nyeri dengan VAS ( Visual Analog Scale ) : VAS merupakan salah satu
metode pengukuran nyeri yang dapat digunakan untuk menilai tingkat nyeri yang
dirasakan oleh pasien. Pasien diminta untuk menunjukan letak nyeri yang dirasakan
pada garis yang berukuran 10 cm, dimana pada ujung sebelah kiri (nilai 0) tidak ada
nyeri, dan pada ujung sebelah kanan ( nilai 10 ) nyeri sekali.
8,9,10

5) Pemeriksaan Sensoris : Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan sensori level.
Sensori level adalah batas paling kaudal dari segment medula spinalis yang fungsi
sensorisnya normal. Tes ini terdiri dari 28 tes area dermatom yang diperiksa dengan
menggunakan tes tajam tumpul dan sentuhan sinar, dengan kriteria penilaiannya
sebagai berikut :
8,9,10

Nilai 0 : tidak ada dapat merasakan (absent ).
Nilai 1 : merasakan sebagian ( impaired ) dan hiperaestesia.
Nilai 2 : dapat merasakan secara normal.
22

NT ( not testable ) : diberikan pada pasien yang tidak dapat merasakan karena tidak
sadarkan diri.
6) Pemeriksaan Motorik : Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan motorik
levelnya. Motorik level adalah batas paling kaudal dari segment medula spinalis yang
fungsi motoriknya normal. Identifikasi kerusakan motorik lebih sulit, karena
menyangkut innervasi dari beberapa otot. Tidak adanya innervasi, berarti pada otot
tersebut terjadi kelemahan atau kelumpuhan. Pemeriksaan kekuatan otot tersebut bisa
menggunakan pemeriksaan dengan Manual Muscle Test (MMT), dengan skala
penilaian sebagai berikut : Nilai Huruf Skala Definisi :
8,9,10

0 (Zero) : Tidak ditemukan kontraksi dengan palpasi.
1 ( Tr ) Trace : Ada kontraksi tetapi tidak ada gerakan
2 ( P) Poor : Gerakan dengan ROM penuh, tidak dapat melawan gravitasi.
3 (F) Fair : Gerakan penuh melawan gravitasi
4 (G) Good : Gerakan ROM penuh dan dapat melawan tahanan.
5 (N) Normal : Gerakan ROM penuh dan dapat melawan tahanan maksimal.
Pada pemeriksaan motorik dengan menggunakan manual muscle testing ini
biasanya dilakukan pada daerah myotom, antara lain :
8,9,10

C 5 : Fleksi siku ( m. biceps, m. brachialis )
C 6 : Ekstensi pergelangan tangan ( m. ekstensor carpi radialis longus dan brevis )
C 7 : Ekstensi siku ( m. triceps )
C8 : Fleksi digitorum profundus jari tengah (m. fleksor digitorum profundus)
Th 1 : Abduksi digiti minimi (m. abduktor digiti minimi )
23

L 2 : Fleksi hip ( m. iliopsoas )
L 3 : Ekstensi knee ( m. Quadriceps )
L 4 : Dorso fleksi ankle (m. tibialis anterior )
L 5 : Ekstensi ibu jari kaki (m. ekstensor hallucis longus )
S 1 : Plantar fleksi ankle (m. gastrocnemius, m. soleus )
B. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium :
a. Osteocalsin : Suatu protein tulang yang disekresi oleh osteoblast.
b. B-cross lap : parameter untuk proses rosorpsi (penyerapan tulang) untuk mengetahui
fungsi osteoklas.
c. Elektrolit : kalsium total.
d. Darah lengkap : Hb, HT, Leukosit, trombosit.
e. Kimia darah : Gula darah 2 jam pp, gula darah puasa.
e. Vit D
f. Kalsitonin.
1. Foto Polos Vertebra. Merupakan langkah awal untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang
melibatkan medula spinalis, kolumna vertebralis dan jaringan di sekitarnya. Pada trauma
servikal digunakan foto AP, lateral, dan odontoid. Pada cedera torakal dan lumbal,
digunakan foto AP dan Lateral. Foto polos posisi antero-posterior dan lateral pada daerah
yang diperkirakan mengalami trauma akan memperlihatkan adanya fraktur dan mungkin
disertai dengan dislokasi. Pada trauma daerah servikal foto dengan posisi mulut terbuka
dapat membantu dalam memeriksa adanya kemungkinan fraktur vertebra C1-C2.
8,9,10

24

2. CT-scan Vertebra : Dapat melihat struktur tulang, dan kanalis spinalis dalam potongan
aksial. CT-Scan merupakan pilihan utama untuk mendeteksi cedera fraktur pada tulang
belakang.
8,9,10

3. MRI Vertebra : MRI dapat memperlihatkan seluruh struktur internal medula spinalis
dalam sekali pemeriksaan serta untuk melihat jaringan lunak.
4. Pungsi Lumbal : Berguna pada fase akut trauma medula spinalis. Sedikit peningkatan
tekanan likuor serebrospinalis dan adanya blokade pada tindakan Queckenstedt
menggambarkan beratnya derajat edema medula spinalis, tetapi perlu diingat tindakan
pungsi lumbal ini harus dilakukan dengan hati-hati, karena posisi fleksi tulang belakang
dapat memperberat dislokasi yang telah terjadi. Dan antefleksi pada vertebra servikal
harus dihindari bila diperkirakan terjadi trauma pada daerah vertebra servikalis tersebut.

8,9,10

5. Mielografi : Mielografi dianjurkan pada penderita yang telah sembuh dari trauma pada
daerah lumbal, sebab sering terjadi herniasi diskus intervertebralis.
8,9,10

II.9 Diagnosis
A. Cedera medulla spinalis
Dalam menegakkan diagnosis pada Cedera medulla spinalis, dilakukan anamnesis
yang lengkap, dimana keluhan dan riwayat adanya trauma atau kelainan tulang belakang
ataupun adanya osteoporosis merupakan resiko terjadinya cedera medulla spinalis. Selain
itu dilakukan pemeriksaan fisik yang lengkap, dan penunjang yang sesuai untuk
menegaggakan diagnosis. Dengan menggunakan panduan American Spinal Scale
Neurologi dapat menegakkan diagnosis, dan dapat menegakkan diagnose sementara bila
hasil pemeriksaan penunjang belum keluar.
8,9,10

Apabila medulla spinalis tiba-tiba mengalami cedera, maka aka nada 3 kelainan
yang muncul yaitu :
8,9,10

1. Semua pergerakan volunteer dibawah lesi hilang secara mendadak dan bersifat
permanen, sedangkan reflex fisiologis bisa menghilang atau meningkat.
25

2. Sensasi sensorik reflex fisiologis bisa menghilang atau meningkat.
3. Terjadi gangguan fungsi otonom.
Cedera medulla spinalis dapat menghasilkan satu atau lebih tanda-tanda klinis
dibawah ini yaitu :
8,9,10

1. Nyeri menjalar
2. Kelumpuhan atau hilangnya pergerakan atau adanya kelemahan
3. Hilangnya sensasi rasa
4. Hilangnya kemampuan peristaltic usus.
5. Spasme otot atau bangkitan reflex yang meningkat
6. Perubahan fungsi seksual.
B. Diagnosis Banding
1. Sindrom Guillain barre
Suatu kelainan sistem saraf akut dan difus yang mengenai radiks spinal dan
saraf perifer, dan juga kadang-kadang saraf kranialis yang biasa timbul setelah suatu
infeksi. Gejala utama kelumpuhan yang simetris tipe LMN dari otot-otot ekstremitas,
badan dan kadang-kadang muka. Biasanya karena infeksi virus maka dalam anamnesis
tanyakan apakah sebelumnya pernah batu pilek, diare. Terdapat infiltrasi sel
mononuclear, limfosit berukuran kecil. serabut saraf mengalami degenerasi segmental
dan aksonal sehingga lesi ini bisa terbatas pada segmen proksimal radiks spinal tersebar
disepanjang saraf perifer. Tipe penjalaran kelemahan pada ektremitas berjalan dari
distal ke proksimal dan sembuh perlahan-lahan dari proksimal ke distal. Gejala makin
bertambah, menyebar secara assenden kebadan, anggota gerak atas dan cranial,
kelemahan simetris dan diikuti oleh hiporefleks atau arefleks. Disamping itu terdapat
gangguan sensibilitas parastesi. Sensibilitasnya ekstroseptif > dari sensibilitas
propioseptik, nyeri otot seperti nyeri setelah aktivitas fisik. Saraf cranial yang terkena
yaitu > yang kenan N.III, IV, VI, VII, XII.
11
26

Pemeriksaan yang dilakukan yaitu dengan lumbal fungsi terdapatnya
peningkatan protein, dan 80% diagnose dapat ditegakkan dengan pemeriksaan EMG
dimana terdapat kelainan poliradiluloneuropati. Selain itu kelumpuhan dapat juga
terjadi di otot-otot penggerak bola mata sehingga penderita melihat satu objek menjadi
dua yang dapat disertai gangguan koordinasi anggota gerak.
11
2. Paralisis flaksid
Paralisis flaksid yaitu kelainan yang ditandai dengan kadar kalium yang
rendah < 3,5 mmol/L dengan gejala kelemahan atau kelumpuhan skeletal. Pada saat
serangan terjadi pergerakan kalium dari cairan ekstraseluler masuk ke dalam sel. Diluar
serangan kalium darah menjadi normal. Biasanya terjadi pada otot kaki atau tangan.
Biasanya gejala timbul setelah makan kekenyangan. Ditandai dengan serangan episodic
berupa kelemahan otot atau paralisis flaksid akibat perpindahan kalium ke ruang
intraselular otot rangka. Serangan muncul setelah tidur atau istirahat, tetapi dapat
dicetuskan oleh, latihan fisik. Diagnosis ditegakkan apabila timbul kelemahan otot
disertai kadar kalium plasma yang rendah (<3,0 mEq/L) dan kelemahan otot membaik
setelah pemberian kalium. Kelainan EKG dapat berupa pendataran gelombang T,
supresi segmen ST, munculnya gelombang U, sampai dengan aritmia berupa fi brilasi
ventrikel, takikardia supraventrikular, dan blok jantung. Terapi biasanya simtomatik.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan ialah EKG, elektromiografi (EMG), dan
biopsi otot. Biopsi otot menunjukkan hasil normal saat di luar serangan, tetapi saat
serangan, dapat ditemukan miopati vakuolar, yaitu vakuola retikulum endoplasma otot
berdilatasi dengan sitoplasma sel otot penuh terisi glikogen, dan ukuran serat otot
bervariasi. Pemeriksaan kadar kalium urin saat serangan, Ekskresi kalium yang rendah
dan tidak ada kelainan asam basa.
12
II.10 Penatalaksanaan
Prinsip utama penatalaksanaan Trauma Medula Spinalis
1. ABC : pertahankan jalan nafas, beri oksigen bila ada keadaan sesak, beri cairan infuse 2
line untuk mencegah terjadinya shok.
27

2. Immobilisasi : Tindakan immobilisasi harus sudah dimulai dari tempat
kejadian/kecelakaan sampai ke unit gawat darurat, yang pertama ialah immobilisasi dan
stabilkan leher dalam posisi normal dengan menggunakan cervical collar. Cegah agar
leher tidak terputar (rotation). Baringkan penderita dalam posisi terlentang (supine) pada
tempat atau alas yang keras.
8,9,10

3. Stabilisasi Medis : Terutama sekali pada penderita tetraparesis atau tetraplegia.
8,9,10

a. Periksa vital signs
b. Pasang NGT
c. Pasang kateter urin
d. Segera normalkan vital signs. Pertahankan tekanan darah yang normal dan perfusi
jaringan yang baik. Berikan oksigen, monitor produksi urin, bila perlu monitor AGDA
(analisa gas darah), dan periksa apa ada neurogenic shock. Pemberian megadose
Methyl Prednisolone, Sodium Succinate dalam kurun waktu 6 jam setaleh kecelakaan
dapat memperbaiki konntusio medula spinalis.
8,9,10

4. Mempertahankan posisi normal vertebra (Spinal Alignment) : Bila terdapat fraktur
servikal dilakukan traksi dengan Cruthfield tong atau GardnerWells tong dengan beban
2.5 kg perdiskus. Bila terjadi dislokasi traksi diberikan dengan beban yang lebih ringan,
beban ditambah setiap 15 menit sampai terjadi reduksi.
8,9,10

5. Dekompresi dan Stabilisasi Spinal : Bila terjadi realignment artinya terjadi dekompresi.
Bila realignment dengan cara tertutup ini gagal maka dilakukan open reduction dan
stabilisasi dengan approach anterior atau posterior.
8,9,10

6. Rehabilitasi : Rehabilitasi fisik harus dikerjakan sedini mungkin. Termasuk dalam
program ini adalah bladder training, bowel training, latihan otot pernafasan, pencapaian
optimal fungsi-fungsi neurologik dan program kursi roda bagi penderita
paraparesis/paraplegia.
8,9,10

A. Medika Mentosa
28

1. Methylprednisolone merupakan pilihan pengobatan untuk cedera tulang belakang
akut. Jika metilprednisolon diberikan dalam waktu delapan jam dari cedera, beberapa
orang mengalami perbaikan ringan. Tampaknya untuk bekerja dengan mengurangi
kerusakan pada sel-sel saraf dan mengurangi peradangan di dekat lokasi
cedera. Namun, itu bukan obat untuk cedera tulang belakang. Berikan metil
prednisolon : dosis 30 Mg/ Kgbb, IV perlahan-lahan selama 15 menit. Metil
prednisolon mengurangi kerusakan membran sel yang berkontribusi pada kematian
neuron, mengurangi infalamasi dan menekan aktifitas sel-sel imun yang mempunyai
kontribusi serupa pada kerusakan neuron dan peningkatan sekunder asam arakidonat
mencegah peroksidasi lemak pada membran sel. Metilprednisolon merupakan terapi
yang paling umum digunakan untuk cedera medula spinalis traumatika dan
direkomendasikan oleh National Institute of Health di Amerika Serikat. Namun
demikian penggunaannya sebagai terapi utama cedera medula spinalis traumatika
masih dikritisi banyak pihak dan belum digunakan sebagai standar terapi.
8,9,10

2. Bila terjadi spastisitas otot, berikan : Diazepam 3x5/ 10 Mg/Hari, Baklopen 3x5 Mg
hingga 3x 20 Mg sehari.

Spasmolitik otot atau relaksan secara tradisional digunakan
untuk mengobati gangguan musculoskeletal yang menyakitkan. Efek samping sedasi
dan pusing yang umum terjadi. Selain ituobat clonazepam yang merupakan
benzodiazepine.
8,9,10

3. Bila ada rasa nyeri bisa diberikan : Analgetika golongan NSAIDs (anti inflamasi). Uji
klinis menunjukan analgetik ini berguna sebagai pengobatan untuk nyeri, namun
penggunaan jangka panjang harus dihindari karena sering terjadi efek samping yang
merugikan pada fungsi ginjal dan gastrointestinal. Opioid analgetik umumnya aman
bila digunakan dengan tepat, dan efek samping yang serius yang relative jarang terjadi.
4. Antidepresan trisiklik : digunakan dalam pengobatan nyeri kronik untuk mengurangi
insomnia, dan juga mengurangi sakit kepala. Seperti amitriptilin.
B. Non Medika Mentosa
1. Fisioterapi : Fisioterapi dapat berperan sejak fase awal terjadinya trauma sampai pada
tahap rehabilitasi. Pada penderita SCI kerusakan yang terjadi pada medulla spinalis
29

bersifat permanen, karena seperti yang kita ketahui bahwa setiap kerusakan pada sistem
saraf maka tidak akan terjadi regenerasi dari sistem saraf tersebut dengan kata lain sistem
tersebut akan tetap rusak walaupun ada regenerasi akan kecil sekali peluangnya.
Berdasarkan hal tersebut maka intervensi yang diberikan oleh fisioterapi pun bertujuan
untuk meningkatkan kemandirian pasien dengan kemampuan yang dimilikinya untuk
memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Peran fisioterapis menurut KepMenKes 1363 Pasal
1 ayat 2 adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu dan atau
kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh
sepanjang daur kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan
gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutis dan mekanis), pelatihan fungsi, komunikasi .
Selama tahap awal rehabilitasi, terapis biasanya menekankan pemeliharaan dan
penguatan fungsi otot yang ada, pembangunan kembali keterampilan motorik halus dan
belajar teknik adaptif untuk menyelesaikan tugas-tugas sehari-hari.
8,9,10

2. Operasi : Pada saat ini laminektomi dekompresi tidak dianjurkan kecuali pada kasus-
kasus tertentu. Indikasi untuk dilakukan operasi :
8,9,10

a. Reduksi terbuka dislokasi dengan atau tanpa disertai fraktur pada daerah servikal,
bilamana traksi dan manipulasi gagal.
b. Adanya fraktur servikal dengan lesi parsial medula spinalis dengan fragmen tulang
tetap menekan permukaan anterior medula spinalis meskipun telah dilakukan traksi
yang adekuat.
8,9,10

c. Trauma servikal dengan lesi parsial medula spinalis, dimana tidak tampak adanya
fragmen tulang dan diduga terdapat penekanan medula spinalis oleh herniasi diskus
intervertebralis. Dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan mielografi dan scan
tomografi untuk membuktikannya.
8,9,10

d. Fragmen yang menekan lengkung saraf.
e. Adanya benda asing atau fragmen tulang dalam kanalis spinalis.
30

f. Lesi parsial medula spinalis yang berangsur-angsur memburuk setelah pada mulanya
dengan cara konservatif yang maksimal menunjukkan perbaikan, harus dicurigai
hematoma.
8,9,10

II.12 Prognosis
Pasien dengan cedera medula spinalis komplet hanya mempunyai harapan untuk
sembuh kurang dari 5%. Jika kelumpuhan total telah terjadi selama 72 jam, maka peluang
untuk sembuh menjadi tidak ada. Jika sebagian fungsi sensorik masih ada, maka pasien
mempunyai kesempatan untuk dapat berjalan kembali sebesar 50%. Secara umum, 90%
penderita cedera medula spinalis dapat sembuh dan mandiri. Penyebab kematian utama
adalah komplikasi disabilitas neurologik yaitu : pneumonia, emboli paru, septikemia, dan
gagal ginjal.
8,9,10












BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
31

Cedera medulla spinalis adalah suatu kerusakan pada medulla spinalis akibat
trauma atau non trauma yang akan menimbulkan gangguan pada sistem motorik, sistem
sensorik dan vegetatif. Apabila medula spinalis cedera secara komplit dengan tiba-tiba,
maka tiga fungsi yang terganggu antara lain seluruh gerak, seluruh sensasi dan seluruh
refleks pada bagian tubuh di bawah lesi. Keadaan yang seluruh refleks hilang baik refleks
tendon, refleks autonomic disebut spinal shock.
Pada lesi yang menyebabkan cedera medula spinalis tidak komplit, spinal shock
dapat juga terjadi dalam keadaan yang lebih ringan atau bahkan tidak melalui shock sama
sekali. Selain itu gangguan yang timbul pada cidera medula spinalis sesuai dengan letak
lesinya, dimana pada UMN lesi akan timbul gangguan berupa spastisitas, hyperefleksia, dan
disertai hypertonus, biasanya lesi ini terjadi jika cidera mengenai C1 hingga L1. Dan pada
LMN lesi akan timbul gangguan berupa flaccid, hyporefleksia, yang disertai hipotonus dan
biasanya lesi ini terjadi jika cidera mengenai L2 sampai cauda equina, di samping itu juga
masih ada gangguan lain seperti gangguan bladder dan bowel, gangguan fungsi seksual, dan
gangguan fungsi pernapasan.
Pada umumnya pengobatan trauma medula spinalis adalah konservatif dan
simptomatik. Manajemen yang paling utama untuk mempertahankan fungsi medula spinalis
yang masih ada dan memperbaiki kondisi untuk penyembuhan jaringan medula spinalis
yang mengalami trauma tersebut. Fisioterapi dapat berperan sejak fase awal terjadinya
trauma sampai pada tahap rehabilitasi. Pada penderita SCI kerusakan yang terjadi pada
medulla spinalis bersifat permanen, karena seperti yang kita ketahui bahwa setiap kerusakan
pada sistem saraf maka tidak akan terjadi regenerasi dari sistem saraf tersebut dengan kata
lain sistem tersebut akan tetap rusak walaupun ada regenerasi akan kecil sekali peluangnya.
Pada saat ini laminektomi dekompresi tidak dianjurkan kecuali pada kasus-kasus tertentu.


DAFTAR PUSTAKA
1. PERDOSI. Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal. Jakarta:
Perdosi ; 2006.h.19-22.
32

2. Cedera medulla Spinalis. Diunduh dari : http://www.artikelkedokteran.net/2011/01/cedera-
medula-spinalis.html. 2013.
3. Evans, Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat; 2003.h. 35-36.
4. Blumenfeld H. Neuroanatomy through Clinical Cases. Inc: Sanauer Assiciates; 2002.h.23-36,
277-283.
5. deGroot J. Chusid JG. Corelative Neuroanatomy. Jakarta: EGC; 1997.h.30-42.
6. Snell RS. Neuroanatomi klinik : pendahuluan dan susunan saraf pusat. Edisi ke-5. Jakarta :
EGC; 2007.h.1-16.
7. ASIA. Spinal cord injury. 13 Januari 2008. Diunduh dari : http://sci.rutgers.edu. 2008.
8. Sidharta P. Tatalaksana Pemeriksaan Klinis dalam Neurologi. Jakarta: Dian Rakyat;
2005.h.115-116.
9. Consortium Member Organizations and Steering Committee Representatives. Early Acute
Management in Adults with Spinal Cord Injury: A Clinical Practice Guideline for Health-Care
Professionals. The Journal Of Spinal Cord Medicine. Vol. 31. 2006.
10. Dewanto G, Suwono WJ, Riyanto B, Turana Y. Panduan praktis diagnosis dan tatalaksana
penyakit saraf. Jakarta: EGC; 2007.h.19-23.
11. Depkes. Sindrom guillain barre. Diunduh dari :
http://www.depkes.go.id/index.php/component/content/article/43-newsslider/1628-guillain-
barre-sindrom.html. 2012.
12. Paralisis flaksid hipokalemi. Diunduh dari : http://www.kalbemed.com/Portals/6/198_CME-
Paralisis%20Periodik%20Hipokalemik%20Familial.pdf. 2012.