Anda di halaman 1dari 13

TRANSAKSI LINDUNG NILAI (HEDGI NG) SEBAGAI INSTRUMEN MANAJEMEN

RISIKO DALAM KEBIJAKAN UTANG PEMERINTAH


Hedging Transactions As Instrument of Risk Management In Government Debt Policies
Amela Erliana Crhistine
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Tanggerang Selatan, Indonesia.
amela.erliana@gmail.com

Abstrak
Nilai utang luar negeri pemerintah dapat berubah sewaktu-waktu akibat fluktuasi nilai tukar
mata uang asing. Hal ini terjadi karena pemerintah tidak melakukan lindung nilai terhadap utang
luar negerinya. Walau telah banyak dilakukan oleh perusahaan swasta, transaksi lindung nilai
merupakan hal yang baru dalam ranah keuangan negara. Makalah ini berusaha mendeskripsikan
transaksi lindung nilai dan kaitannya dengan kebijakan pengelolaan utang pemerintah. Tujuan
penulisan makalah ini adalah memberikan tambahan pengetahuaan kepada pembaca mengenai
konsep transaksi lindung nilai sehingga pembaca dapat turut mengawasi pelaksaaan kebijakan
lindung nilai pemerintah.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Dari telaah pustaka yang
dilakukan penulis, dapat ditarik kesimpulan bahwa transaksi lindung nilai atas utang pemerintah
penting untuk segera dilaksanakan. Efektivitas transaksi lindung nilai sangat tergantung pada
proses perencanaan, terutama proyeksi biaya yang nantinya akan menentukan skema lindung nila
yang akan digunakan pemerintah. Agar transaksi lindung nilai berjalan optimal, pemerintah perlu
melakukan penyempurnaan pada peraturan-peraturan mengenai lindung nilai serta belajar dari
negara-negara yang telah sukses menerapkan lindung nilai atas utang luar negerinya.
Kata Kunci: kebijakan utang pemerintah, nilai tukar, transaksi lindung nilai.
Abstract
The value of governments foreign debt can change at any time due to fluctuations in foreign
exchange rates. This happens because the government does not hedge its foreign debt. Although
there are many private companies that have done hedging transactions, it is still a new thing in the
realm of public finances. This paper tried to describe the hedging transactions that related to the
government debt policies. The purpose of this paper is to provide additional knowledge to the
readers about concept of hedging transactions so that they can supervise the implementation of
governments hedging policies.
The method used in this paper is descriptive qualitative. From the literature review
conducted by the author, it can be concluded that the hedging transactions of government debt is
must be implemented immediately. The effectiveness of the hedging transaction is highly
dependent on the planning process, especially in the measurement of the estimated cost of that will
determine which hedging method will be choosed by the government. In order to implement the
optimal hedging transactions, the government needs to make improvements on the regulation of
hedging transactions and learn from other countries that have successfully hedged their foreign
debt.
Keywords: foreign exchange rate, government debt policy, hedging transaction.
PENDAHULUAN
Kontroversi kebijakan lindung nilai
(hedging) sempat memenuhi surat kabar dan
layar kaca pada pertengahan tahun 2014
kemarin. Hal tersebut bermula dari hasil
pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan atas
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun
2013 yang menunjukkan adanya kenaikan
utang luar negeri berdenominasi dollar AS
dari Rp1,981 triliun pada tahun 2012, menjadi
Rp2,375 triliun pada tahun 2013, atau naik
sebesar Rp393 triliun. Sekitar 41,43% dari
kenaikan utang tersebut, atau setara dengan
Rp163,24 triliun, merupakan kerugian selisih
kurs yang disebabkan melemahnya nilai tukar
rupiah terhadap dollar AS. Menurut BPK,
kerugian akibat selisih kurs tersebut dapat
dihindari apabila instansi pemerintah yang
memiliki pinjaman luar negeri dengan mata
uang asing melakukan transaksi lindung nilai
atau hedging.
1

Hedging merupakan salah satu instrumen
manajemen risiko yang telah lazim digunakan
di industri keuangan. Mekanisme pelaksanaan
transaksi lindung nilai dalam pengelolaan
hutang pemerintah telah diatur melalui
Peraturan Menteri Keuangan Nomor
12/PMK.08/2013 dan Peraturan Menteri
BUMN Nomor 09/MBU/2013. Sementara itu,

1
Biro Humas dan Luar Negeri BPK. (2014). Siaran
Pers Badan Pemeriksaan Keuangan - BPK : Perlunya
Pengamanan Rupiah Melalui Transaksi Lindung Nilai
(Hedging). Diakses pada tanggal 7 September 2014,
dari http://www.bpk.go.id/news/bpk-perlunya-
pengamanan-rupiah-melalui-transaksi-lindung-nilai-
hedging
mekanisme transaksi lindung nilai dari segi
perbankan telah diatur dalam Peraturan Bank
Indonesia Nomor 15/8/PBI/2013.
Sebagai instrumen manajemen risiko,
hedging mampu melindungi suatu entitas dari
risiko kerugian akibat fluktuasi nilai tukar
mata uang. Namun, tidak tertutup
kemungkinan nilai tukar yang di sepakati
pada waktu kesepakatan kontrak hedging
ternyata lebih mahal dibandingkan nilai tukar
spot saat pelunasan utang, sehingga entitas
mengalami kerugian akibat selisih kurs.
Dalam ranah keuangan negara, selisih
tersebut dapat disalahtafsirkan sebagai
kerugian negara dan dapat berimplikasi
hukum bagi pejabat terkait. Hal ini
menimbulkan keraguan pemerintah dalam
pengambilan kebijakan terkait transaksi
lindung nilai.
Keraguan tersebut dapat dipahami
mengingat praktik hedging di Indonesia
masih jarang dilakukan. Perbedaan persepsi
antar entitas pemerintah mengenai kebijakan
hedging sangat mungkin terjadi. Hal tersebut
menjadi alasan BPK mengadakan rapat
koordinasi dengan Menteri Keuangan,
Menteri BUMN, Gubernur BI, Kapolri,
Kejaksaan Agung, KPK, dan BPKP untuk
membahas mengenai perlindungan nilai atas
utang pemerintah.
2

Rapat koordinasi yang dimotori oleh BPK
tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan

2
Ibid.
hedging atas utang pemerintah telah menjadi
suatu kebutuhan, apalagi nilai mata uang
rupiah beberapa bulan terakhir sangat tidak
stabil dan cenderung melemah. Jika tak
segera menerapkan kebijakan lindung nilai,
dikhawatirkan utang luar negeri pemerintah
akan membengkak dan menyebabkan
jebolnya APBN saat jatuh tempo pelunasan
utang. Akan tetapi, benarkah hedging
merupakan langkah yang paling tepat untuk
mengatasi fluktuasi nilai tukar? Atau justru
akan menimbulkan kerugian negara yang
lebih besar?
Kontroversi kebijakan lindung nilai atas
utang pemerintah sangat menarik untuk
dibahas. Konsep hedging memang bukanlah
hal yang asing di pasar keuangan swasta. Tapi
harus kita akui, pelaksanaan hedging
merupakan hal yang baru dalam ranah
keuangan negara. Tak hanya isu kerugian
negara, pemilihan teknik hedging yang tepat
juga menjadi permasalahan utama.
Berdasarkan latar belakang tersebut,
penulis tertarik untuk menyusun makalah
berjudul Transaksi Lindung Nilai (Hedging)
Sebagai Instrumen Manajemen Risiko Dalam
Kebijakan Utang Pemerintah ini. Tujuan
penulisan makalah ini adalah memahami
konsep transaksi hedging dan mekanisme
pelaksanaannya terkait dengan manajemen
utang pemerintah. Melalui makalah ini,
pembaca diharapkan mendapatkan tambahan
pengetahuan mengenai transaksi hedging
sehingga dapat turut serta mengawasi
pelaksanaan kebijakan lindung nilai yang
dilakukan pemerintah atas utang luar negeri.
TINJAUAN PUSTAKA
Gambar-1: Kurs Transaksi USD Tahun 2012-
2014
3


Selama lima tahun terakhir, posisi utang
pemerintah dalam mata uang rupiah selalu di
atas 50% dari keseluruhan utang. Hal ini
selaras dengan kebijakan pemerintah yang
mengutamakan pinjaman dalam negeri
selama beberapa tahun terakhir. Walaupun
begitu, posisi utang pemerintah dalam mata
uang USD masih cukup besar, yaitu berkisar
di antara 20-28% selama enam tahun terakhir,
yang artinya Indonesia masih rentan terhadap
risiko nilai tukar.
Saat menerima pinjaman luar negeri
dalam valuta asing
4
, nilai utang maupun
jumlah cicilan utang yang harus dibayarkan
pemerintah sangat tergantung pada kurs saat
jatuh tempo. Jika mata uang rupiah

3
Sumber: Profil Utang Pemerintah Pusat (Pinjaman
dan Surat Berharga Negara) Edisi Desember 2013
4
komoditas yang terdiri atas mata uang asing yang
diterbitkan negara-negara lain di luar mata uang
domestik dan dapat diperjualbelikan di pasar valuta
asing
mengalami depresiasi terhadap mata uang
asing yang bersangkutan saat jatuh tempo,
jumlah mata uang rupiah yang dibutuhkan
untuk melunasi hutang dalam mata uang
asing akan menjadi lebih banyak. Untuk
meminimalkan dampak yang ditimbulkan
oleh kenaikan kurs mata uang asing tersebut,
pemerintah dapat melakukan lindung nilai
atas hutang luar negerinya.
Bank Indonesia mendefinisikan lindung
nilai sebagai cara atau teknik untuk
mengurangi risiko yang timbul maupun yang
diperkirakan akan timbul akibat adanya
fluktuasi harga di pasar keuangan.
5
Sementara
itu dalam Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 12/PMK.08/2013, transaksi lindung
nilai didefinisikan sebagai transaksi yang
dilakukan oleh Pemerintah dengan
Counterparty
6
dalam rangka mengendalikan
risiko fluktuasi beban pembayaran bunga dan
kewajiban pokok utang, dan/atau melindungi
posisi nilai utang, dari risiko yang timbul
maupun yang diperkirakan akan timbul akibat
adanya volatilitas faktor-faktor pasar
keuangan.
Transaksi lindung nilai telah lazim
digunakan oleh perusahaan yang bergerak di
bidang ekspor-impor atas hutang valuta
asingnya. Mereka melakukan perjanjian
dengan bank atau lembaga keuangan yang

5
Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/8/PBI/2013
Tentang Transaksi Lindung Nilai Kepada Bank Pasal 1
6
Bank atau Lembaga Keuangan Bukan Bank dan/atau
Lembaga Keuangan Internasional yang bersedia dan
sepakat melakukan Transaksi Lindung Nilai dengan
pemerintah.
menyediakan jasa lindung nilai untuk
membeli mata uang asing yang diinginkan di
masa depan pada tingkat kurs yang telah
disepakati.
Transaksi lindung nilai bukannya tidak
mengandung risiko. Mungkin saja kurs yang
telah disepakati dengan Counterparty lebih
tinggi dari kurs spot mata uang saat jatuh
tempo. Namun, selisih yang timbul akibat
perbedaan kurs beli dengan kurs spot
seharusnya tidak dianggap sebagai kerugian
atau keuntungan, melainkan diperlakukan
sebagai biaya atau pendapatan atas proses
manajemen risiko.
7

Walaupun segala biaya yang timbul
akibat transaksi lindung nilai, termasuk di
antaranya kerugian selisih kurs, menjadi
beban APBN dan tidak dianggap sebagai
kerugian negara, bukan berarti pemerintah
boleh mengambil kebijakan lindung nilai
secara serampangan. Pemerintah harus
melakukan perhitungan proyeksi nilai tukar di
masa mendatang secara hati-hati sehingga
dapat memilih teknik lindung nilai yang
paling tepat.
Menurut Jeff Madura dalam bukunya
yang berjudul International Financial
Management, terdapat empat metode hedging
yang dapat digunakan untuk melindungi nilai
hutang, yaitu futures hedge, forward hedge,

7
Widya Octavia Dian AP. (2013). Mendudukkan
Untung Rugi Dalam Neraca Hedging. Gerai Info Bank
Indonesia Edisi, 43, hlm. 12
money market hedge, dan currency option
hedge.
Future Hedgedan Forward Hedge
Forward contract dan future contract
memungkinkan suatu entitas untuk membeli
mata uang tertentu pada kurs. Pembeli dan
penjual akan melakukan negosiasi untuk
menentukan:
Mata uang yang akan entitas bayarkan
Mata uang yang akan entitas terima
Jumlah mata uang yang akan diterima
oleh entitas
Tingkat nilai tukar atas mata uang
tersebut
Waktu transaksi pertukaran
Konsep forward hedge dan future hedge
sangatlah mirip. Perbedaan antara keduanya
adalah dengan siapa entitas melakukan
perjanjian. Forward contract merupakan hasil
negosiasi antara entitas dan bank komersial,
sementara future contract dilakukan di pasar
modal secara terorganisir dan terstandarisasi.
Money Market Hedge
Penggunaan metode money market
hedging menggunakan instrumen pasar uang
untuk melindungi nilai hutang atau piutang di
masa yang akan datang dengan melakukan
pengambilan posisi di pasar uang. Beberapa
waktu sebelum utangnya jatuh tempo, entitas
meminjam mata uang domestik ke pasar uang
dan mengkonversikannya ke dalam mata
uang tertentu. Setelah itu, mata uang asing ini
akan diinvestasikan hingga pembayaran
hutang jatuh tempo. Ketika waktu jatuh
tempo tiba, entitas akan menarik uang yang
diinvestasikan beserta keuntungan yang
diperoleh untuk membayar utang luar
negerinya.
Currency Option Hedge
Dalam metode ini, entitas membayarkan
sejumlah uang sebagai premi atas hak/opsi
pembelian valuta asing pada harga yang
ditentukan dalam rentang waktu yang telah
disepakati. Berbeda dengan forward contract
dan future contract, entitas tidak diwajibkan
membeli mata uang pada harga yang telah
ditentukan. Jika saat jatuh tempo, kurs spot
lebih rendah dari kurs yang telah ditentukan
dalam kontrak, entitas dapat membiarkan opsi
tersebut berakhir dan membeli valuta asing
dalam kurs spot. Tentu saja apabila hal
tersebut terjadi, premi yang telah dibayarkan
dianggap hangus.
Cross Currency Swap
Selain keempat metode hedging di atas,
terdapat metode lain yang lazim digunakan
untuk melindungi nilai aset atau kewajiban
suatu entitas, yaitu tranksasi swap. Transaksi
swap merupakan gabungan dari transaksi spot
dan forward.
Pada metode cross currency swap,
terdapat dua pihak yang saling menukar dua
mata uang berbeda, dengan kurs yang
disepakati bersama. Praktik ini biasanya
berjangka panjang. Saat jatuh tempo, kedua
mata uang dipertukarkan kembali berdasarkan
kurs yang telah ditentukan dalam kontrak
swap.
METODOLOGI
Metode penelitian yang digunakan dalam
makalah ini adalah metode deskriptif
kualitatif. Menurut Nazir (1988: 63), metode
deskriptif merupakan suatu metode dalam
meneliti status sekelompok manusia, suatu
objek, suatu set kondisi, suatu sistem
pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada
masa sekarang.
8

Makalah ini berusaha mendeskripsikan
fenomena pelaksanaan transaksi lindung nilai
sebagai bagian dari manajemen utang
pemerintah dan pengaruhnya terhadap pasar
mata uang. Teknik penelitian yang akan
digunakan adalah studi kepustakaan, yaitu
kegiatan mengamati berbagai literatur yang
berhubungan dengan pokok permasalahan
yang diangkat baik itu berupa buku, makalah
ataupun tulisan yang sifatnya membantu
sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman
dalam proses penelitian.
PEMBAHASAN
Gambaran Praktik Transaksi Lindung
Nilai Oleh Pemerintah Pusat Berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor
12/PMK.08/2013

8
Nazir. (1988). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Secara garis besar, praktik transaksi
lindung nilai atas utang pemerintah dapat
diuraikan menjadi lima tahap, yaitu:
1. Penyusunan Kebijakan Lindung Nilai
Kebijakan Lindung Nilai disusun sebagai
pedoman dalam pelaksanaan kegiatan
Transaksi Lindung Nilai dan paling kurang
memuat tentang tujuan kebijakan lindung
nilai; target risiko pasar dari portofolio utang;
target batas volatilitas pembayaran kewajiban
utang; instrumen Lindung Nilai yang dapat
digunakan; dan masa berlaku kebijakan
2. Identifikasi Kebutuhan Transaksi Lindung
Nilai
Pada tahap ini, UPRU
9
menyusun
kebutuhan Transaksi Lindung Nilai dengan
melakukan identifikasi eksposur utang,
identifikasi risiko, dan melakukan
pengukuran besaran risiko. Kebutuhan
Transaksi Lindung Nilai merupakan rencana
kebutuhan Transaksi Lindung Nilai yang
dapat dilaksanakan untuk periode suatu tahun
anggaran.
Kebutuhan Transaksi Lindung Nilai
disusun berdasarkan Kebijakan Lindung Nilai
yang meliputi: jenis dan besar eksposur; trend
pasar; toleransi risiko; kemungkinan untuk
dilakukan natural hedging; dan jenis
instrumen Lindung Nilai. Kebutuhan
Transaksi Lindung Nilai kemudian akan

9
Unit Pengelola Risiko Utang - Unit eselon II di
lingkungan Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang
yang melaksanakan tugas di bidang analisis risiko
utang.
disampaikan kepada Komite
10
untuk ditelaah
dan diberikan rekomendasi. Setelah itu,
Kebutuhan Transaksi Lindung Nilai akan
diteruskan kepada Dirjen Pengelolaan Utang
untuk mendapat persetujuan.
3. Pelaksanaan Transaksi Lindung Nilai
Berpedoman pada Kebutuhan Transaksi
Lindung Nilai, UPT
11
menyusun proposal
Transaksi Lindung Nilai yang mencakup uji
prospektif, pilihan instrumen Lindung Nilai,
Counterparty yang direkomendasikan, dan
Hedging Trigger Point. Proposal kemudian
diteruskan kepada Komite untuk ditelaah dan
diberi rekomendasi.
Setelah mendapat proposal persetujuan
Dirjen Pengelolaan Utang, UPT melakukan
kontak dengan Counterparty yang tercantum
untuk mendapatkan kuotasi Transaksi
Lindung Nilai. Selanjutnya UPT menyusun
term sheet Transaksi Lindung Nilai dan surat
konfirmasi. Surat konfirmasi kemudian
dikirimkan kepada UPSP
12
.
4. Penatausahaan Transaksi Lindung Nilai
UPSP melakukan penatausahaan
Transaksi Lindung Nilai berdasarkan Surat

10
Komite Risiko Pengelolaan Utang - komite yang
beranggotakan pejabat eselon II terkait di lingkungan
Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang yang bertugas
memberikan rekomendasi kepada Direktur Jenderal
dalam menetapkan kebijakan pengelolaan risiko utang
yang bersifat strategis, signifikan dan memerlukan
koordinasi antar direktorat di lingkungan Direktorat
Jenderal Pengelolaan Utang.
11
Unit Pelaksana Transaksi - unit eselon II di
lingkungan Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang
yang melaksanakan tugas di bidang penerbitan Surat
Berharga Negara atau pengadaan pinjaman
12
Unit Pelaksana Setelmen dan Pencatatan - unit
eselon II di lingkungan Direktorat Jenderal
Pengelolaan Utang yang melaksanakan tugas di bidang
setelmen dan pencatatan utang
Konfirmasi yang diterima dari UPT dan
dokumen lainnya yang mencakup verifikasi
dan konfirmasi Transaksi Lindung Nilai,
pencatatan Transaksi Lindung Nilai, setelmen
atas Transaksi Lindung Nilai sesuai
dengan Perjanjian Induk, akuntansi dan
pelaporan, dan penatausahaan dokumen-
dokumen Transaksi Lindung Nilai
5. Monitoring dan Evaluasi
UPRU melakukan monitoring dan
evaluasi terhadap kondisi dan kinerja
Counterparty serta efektivitas Transaksi
Lindung Nilai. Hasil monitoring dan evaluasi
tersebut kemudian disampaikan kepada
Komite dan unit terkait.
Gambaran Praktik Transaksi Lindung
Nilai Oleh Perusahaan BUMN
Berdasarkan Peraturan Menteri BUMN
Nomor 09/MBU/2013
Dalam rangka memitigasi risiko pasar,
BUMN wajib melakukan identifikasi,
pengukuran, pemantauan, dan pengendalian
risiko pasar secara efektif dalam rangka
memitigasi risiko pasar.Untuk mengendalikan
risiko pasar, BUMN dapat melakukan
Transaksi Lindung Nilai dengan
memperhatikan prinsip tata kelola perusahaan
yang baik, penerapan manajemen risiko, serta
Standar Akuntansi dan perpajakan.
Pelaksanaan Transaksi Lindung Nilai
dilakukan melalui lembaga keuangan BUMN
yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang
memadai. Dalam hal lembaga keuangan
BUMN tidak dapat melaksanakan dan/atau
tidak memenuhi persyaratan sebagaimana
dimaksud, Transaksi Lindung Nilai dapat
dilakukan dengan pihak lain yang memiliki
kapasitas dan kapabilitas memadai.
Dalam rangka melaksanakan Transaksi
Lindung Nilai, Direksi wajib menyusun
Kebijakan Lindung Nilai dan Prosedur
Operasional Standar dengan berpedoman
pada peraturan perundang-undangan dan
Anggaran Dasar Perusahaan. Kebijakan
Lindung Nilai dan Prosedur Operasional
Standar tersebut harus dievaluasi secara
berkala.
Pencatatan dan Pelaporan atas Transaksi
Lindung Nilai
Hingga saat ini pencatatan dan pelaporan
atas transaksi lindung nilai belum diatur
secara spesifik dalam standar akuntansi
pemerintah. Akan tetapi dalam sektor privat,
pencatatan dan pelaporan atas transaksi
lindung nilai telah diatur dalam PSAK No 55
mengenai Akuntansi Instrumen Derivatif dan
Aktivitas Lindung Nilai.
Berdasarkan PSAK No 55, Lindung Nilai
dapat dilakukan atas arus kas dari transaksi
dalam valuta asing yang diperkirakan akan
terjadi atau transaksi antar-perusahaan dalam
valuta asing yang diperkirakan akan terjadi
jika memenuhi kriteria sebagai berikut:
Unit operasional yang memiliki risiko
valuta asing merupakan salah satu pihak
yang akan melakukan lindung nilai atas
instrumen valuta asing;
Transaksi yang dilindungi dilakukan
dalam valuta yang bukan merupakan mata
uang fungsional unit operasional tersebut;
Instrumen yang dilindungi nilainya
memenuhi seluruh kriteria akuntansi
lindung nilai yang ditetapkan dalam
PSAK
13
;
Jika transaksi yang dilindungi terdiri dari
sekelompok transaksi individual dalam
valuta asing, arus kas masuk dan keluar
dalam valuta asing yang diperkirakan
akan terjadi tidak boleh dimasukkan ke
dalam satu kelompok.
Urgensi Pelaksanaan Transaksi Lindung
Nilai
Hasil Pemeriksaan BPK atas Laporan
Keuangan Pemerintah Pusat, menunjukkan
adanya kenaikan utang luar negeri dari tahun
2012 senilai Rp1,981 triliun menjadi senilai
Rp2,375 triliun atau naik senilai Rp393
triliun, diantara kenaikan utang tersebut
adalah merupakan akibat selisih kurs senilai
Rp163,24 triliun atau sebesar 41,43%.
Pemerintah harus membayar adanya selisih
kurs tanpa adanya tambahan manfaat dari
pembayaran tersebut.
Sementara pada tahun 2014, pembayaran
cicilan pokok utang luar negeri yang jatuh
tempo dalam tahun 2014 diperkirakan
mencapai Rp64.536,2 miliar. Kenaikan

13
PSAK Nomor 55 Paragraf 41-42
kewajiban pembayaran cicilan pokok utang
luar negeri tersebut terutama disebabkan oleh
depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar
Amerika Serikat, dan proyeksi perhitungan
terkini atas kewajiban pembayaran pokok
utang yang akan jatuh tempo sampai dengan
akhir tahun 2014.
14

Gambar2: Kurs Transaksi USD Tahun 2012-
2014

Dari gambar di atas dapat kita lihat bahwa
kurs transaksi USD mengalami peningkatan
tajam di paruh kedua tahun 2013. Sejak saat
itu, kurs USD terus berfluktuasi di kisaran
angka 11.000 12.250. Kenaikan kurs USD
tersebut berdampak negatif terhadap anggaran
pembiayaan, terutama utang luar negeri dan
SBN valas.
15
USD Hal ini dikarenakan
depresiasi mata uang rupiah terhadap USD
membuat utang pemerintah Indonesia
meningkat.
Pelaksanaan transaksi lindung nilai dapat
meminimalkan dampak yang ditimbulkan
kenaikan kurs USD terhadap utang luar

14
Berdasarkan Nota Keuangan dan Rancangan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan
Tahun 2014
15
Ditjen Anggaran. (2014). Dasar-Dasar Praktek
Penyusunan APBN di Indonesia Edisi II. Jakarta:
Kementerian keuangan
negeri pemerintah. Badan Pemeriksa
Keuangan menganjurkan perusahaan BUMN
untuk segera menerapkan transaksi lindung
nilai atas utang luar negerinya dikarenakan
beberapa alasan sebagai berikut:
Porsi BUMN dalam pembelian valas di
pasar valas domestic sangat dominan,
terutama dilakukan oleh Pertamina dan
PLN, sekitar 30% dari total pembelian
valas korporasi;
Pemenuhan kebutuhan valas BUMN
dalam jumlah besar tersebut dilakukan
hamper seluruhnya melalui jenis transaksi
TOD, TOM, dan SPOT;
Penggunaan transaksi lindung nilai
tersebut berdampak positif terhadap
kestabilan nilai tukar rupiah juga
bermanfaat dalam melindungi BUMN
dari kemungkinan kerugian kurs yang
lebih besar apabila terjadi gejolak nilai
tukar
Selain dapat melindungi utang luar negeri
pemerintah dari risiko fluktuasi nilai tukar,
penerapan transaksi lindung nilai juga dapat
berdampak positif terhadap kestabilan nilai
tukar.
Ketika pemerintah tidak melakukan
lindung nilai dan membeli mata uang asing di
pasar spot secara today saat tanggal jatuh
tempo, permintaan atas mata uang asing saat
akan tiba-tiba meningkat. Apabila hal ini
tidak diimbangi dengan jumlah penawaran
mata uang asing, maka kurs mata uang asing
tersebut akan mengalami apresiasi.
Sebaliknya jika pemerintah melakukan
transaksi lindung nilai, misalnya dengan
menggunakan forward contract,
Counterparty mempunyai kelonggaran waktu
untuk memenuhi kebutuhan mata uang asing
pemerintah. Transaksi forward juga memecah
konsentrasi pembelian today menjadi
transaksi yang lebih kecil dengan waktu yang
tersebar sehingga tekanan terhadap rupiah
akan lebih terkendali.
16

Pemilihan Jenis Metode Lindung Nilai
Sebagaimana telah dijelaskan dalam
Tinjauan Pustaka, ada beberapa metode
lindung nilai yang dapat dipilih oleh
pemerintah. Agar dapat memilih metode
lindung nilai yang paling optimal, pemerintah
pusat dan BUMN dapat melakukan langkah-
langkah sebagai berikut:
1. Memilih antara future hedge dan forward
hedge
Pada dasarnya metode future hedge dan
forward hedge sangatlah mirip, sehingga
entitas hanya perlu memilih metode mana
yang lebih disukai.
2. Memilih antara future/forward hedge dan
money market hedge
Ketika hendak memutuskan akan memilih
metode forward (future) hedge atau money
market hedge, entitas dapat melakukan

16
Gatot Miftahul Manan. (2013). Mendorong Hedging
BUMN. Gerai Info Bank Indonesia Edisi, 43, hlm. 6
perhitungan atas biaya masing-masing
metode lindung nilai dan memutuskan
metode mana yang lebih cocok.
3. Menilai kelayakan Currency Option
Hedge
Distribusi estimasi arus kas keluar dari
metode Currency Option Hedge dapat diukur
dengan menentukan nilai yang diharapkan
dan kemungkinan bahwa biaya yang
dikeluarkan untuk metode ini lebih murah
dari metode lainnya.
4. Mempertimbangkan kemungkinan
penerapan metode Swap
Transaksi swap biasanya dilakukan oleh
bank yang bisa berperan sebagai perantara
atau sebagai lawan transaksi serta melibatkan
jumlah dana yang besar. Apabila terdapat
bank yang menawarkan lindung nilai dengan
metode swap, tidak ada salahnya untuk
menghitung estimasi biaya yang dikeluarkan
serta membandingkan dengan metode lindung
nilai lainnya.
Evaluasi atas Kebijakan Lindung Nilai
Setelah transasksi lindung nilai
dilaksanakan, pemerintah sebaiknya
mengukur hasil dari kebijakan lindung nilai
yang telah diambil. Evaluasi dapat dilakukan
dengan menghitung selisih antara biaya atas
kewajiban yang dilindung nilai dan biaya atas
utang yang tidak dilindung nilai sehingga
diperoleh Real Cost of Hedging Payable
(RCHp) dari kewajiban tersebut.
Jika ternyata biaya atas transaksi yang
dilindung nilai lebih besar dari transaksi spot
pasar uang. Maka perlu dicari tahu
penyebabnya apakah karena kesalahan dalam
proses perencanaan atau murni karena
mekanisme pasar. Dengan melakukan
evaluasi, pemerintah dapat memperbaiki
mekanisme transaksi lindung nilai di masa
depan sehingga diperoleh hasil yang optimal.
KESIMPULAN DAN SARAN
KEBIJAKAN
Transaksi lindung nilai merupakan salah
satu bentuk mitigasi atas risiko fluktuasi nilai
tukar yang telah umum digunakan di pasar
keuangan. Transaksi lindung nilai dapat
dilaksanakan baik atas aset maupun
kewajiban valuta asing yang dimiliki suatu
entitas
Fluktuasi nilai tukar mata uang rupiah
atas USD yang tidak stabil selama dua tahun
terakhir menyebabkan kenaikan utang luar
negeri pemerintah. Untuk meminimalkan
dampak risiko nilai tukar, pemerintah dapat
melakukan transaksi lindung nilai atas
instrumen utang pemerintah, baik dalam
bentuk pinjaman maupun SBN. Selain itu,
transaksi lindung nilai juga membawa efek
positif bagi stabilitas nilai tukar mata uang
asing.
Payung hukum atas pelaksanaan transaksi
lindung nilai terkait utang pemerintah telah
diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan,
Peraturan Menteri BUMN, dan Peraturan
Bank Indonesia. Dalam peraturan-peraturan
tersebut telah ditekankan bahwa segala biaya,
termasuk di antaranya kerugian akibat selisih
kurs, dianggap sebagai beban APBN dan
bukan merupakan kerugian negara.
Efektivitas transaksi lindung nilai sangat
tergantung pada ketepatan perhitungan
estimasi biaya yang dilakukan pemerintah
saat proses perencanaan. Dengan hasil
proyeksi yang tepat, pemerintah dapat
memilih metode lindung nilai yang paling
aman dan optimal. Untuk mendukung proses
perencanaan.
Payung hukum pelaksanaan transaksi
lindung nilai atas utang pemerintah telah
cukup kuat. Harusnya pemerintah tidak perlu
ragu lagi untuk melaksanakan lindung nilai
atas utang luar negerinya. Untuk mendukung
pelaksanaan kebijakan lindung nilai, penulis
menyarankan beberapa hal sebagai berikut:
1. Pemerintah perlu membuat aturan turunan
mengenai petunjuk teknis serta standard
operating procedure mengenai transaksi
lindung nilai yang dilakukan pemerintah;
2. Perlu disusun Standar Akuntansi
Pemerintah mengenai pencatatan dan
pelaporan atas transaksi lindung nilai
dalam laporan keuangan pemerintah.
3. Pemerintah dapat belajar kepada negara-
negara yang telah sukses menerapkan
transaksi lindung nilai atas transaksi
keuangannya, misalnya Australia dan
Singapura.
DAFTAR PUSTAKA
Biro Humas dan Luar Negeri BPK. (2014).
Siaran Pers Badan Pemeriksaan
Keuangan - BPK : Perlunya Pengamanan
Rupiah Melalui Transaksi Lindung Nilai
(Hedging). Diakses pada tanggal 7
September 2014, dari
http://www.bpk.go.id/news/bpk-
perlunya-pengamanan-rupiah-melalui-
transaksi-lindung-nilai-hedging
Ditjen Anggaran. (2014). Dasar-Dasar
Praktek Penyusunan APBN di Indonesia
Edisi II. Jakarta: Kementerian keuangan
Ditjen Pengelolaan Utang. (2013). Profil
Utang Pemerintah Pusat (Pinjaman dan
Surat Berharga Negara) Edisi Desember
2013. Jakarta: Kementerian Keuangan
Hanafi, Mamduh. (2009). Manajemen Risiko.
Edisi ke 2. Yogyakarta: UPP STIM
YKPN.
Keputusan Menteri Keuangan Nomor
113/PMK.08/2014 Tentang Strategi
Pengelolaan Utang Negara Tahun 2014-
2017
Madura, Jeff. (2004). Manajemen Keuangan
Internasional Jilid 1. Edisi ke 4. Jakarta:
Erlangga.
Nazir. (1988). Metode Penelitian. Jakarta:
Ghalia Indonesia
Nurmalasari, Made Ratih dan Purnawati, Ni
Ketut. (2013). Perbandingan
Penggunaan Teknik Hedging Dengan
Open Position Dalam Meminimalisasi
Nilai Hutang Impor.
Peraturan Bank Indonesia Nomor
15/8/PBI/2013 Tentang Transaksi
Lindung Nilai Kepada Bank
Peraturan Menteri BUMN Nomor
09/MBU/2013. Tentang Kebijakan
Umum Transaksi Lindung Nilai Badan
Usaha Milik Negara
Peraturan Menteri Keuangan Nomor
12/PMK.08/2013 Tentang Transaksi
Lindung Nilai Dalam Pengelolaan Utang
Pemerintah
Republik Indonesia. (2013). Nota Keuangan
dan Rancangan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara Perubahan 2013.
____. (2014). Laporan Keuangan Pemerintah
Pusat Tahun 2013 (Audited).
____. (2014). Nota Keuangan dan
Rancangan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara Perubahan 2014.
Sulistyo, Budi. (2014). Hedging Nilai Tukar
untuk Mengurangi Risiko Pelebaran
Defisit Anggaran. Diakses pada 7
September 2014, dari
http://www.kemenkeu.go.id/sites/default/
files/Hedging%20Nilai%20Tukar%20unt
uk%20Mengurangi%20Risiko%20Peleb
aran%20Defisit%20Anggaran.pdf
Tim Redaksi Bank Indonesia. (2014). Gerai
Info Bank Indonesia Edisi 41. Jakarta:
Bank Indonesia