Anda di halaman 1dari 2

- Teori hidrodinamika

Teori hidrodinamik pada sensitifitas dentin adalah proses penerusan


perpindahan cairan dentin ke tubulus dentin, yang mana merupakan perpindahan ke
salah satu arah yaitu ke arah luar (permukaan) atau ke arah dalam (pulpa) dan
menstimulasi nervus sensoris pada dentin atau pulpa. Gerakan cairan sangat cepat dan
terjadi sebagai respon terhadap perubahan temperatur, tekanan, atau mekanik yang
menghasilkan deformasi mekanis pada odontoblas dan saraf di dekatnya.
(Ingle, 2002)
Teori hidrodinamik menjelaskan reaksi rasa sakit pulpa terhadap panas,
dingin, pemotongan dentin, dan probing dentin. Panas mengembangkan cairan dentin,
sedang dingin mengerutkan cairan dentin, memotong tubuli dentin memungkinkan
cairan dentin keluar, dan melakukan probing pada permukaan dentin yang dipotong
atau terbuka dapat merusak bentuk tubuli dan menyebabkan gerakan cairan. Semua
rangsangan ini mengakibatkan gerakan cairan dentin dan menggiatkan ujung saraf.
(Grossman, 1995)
Teori hidrodinamik mempostulasikan bahwa pergerakan cairan yang cepat di
dalam tubulus dentin (ke luar dan ke dalam) yang akan mengakibatkan distrosi ujung
saraf di daerah pleksus saraf subodontoblas (pleksus Raschkow) yang akan
menimbulkan impuls saraf dan sensasi nyeri.
Ketika dentin dipotong, atau ketika larutan hipertonik diletakkan di atas
permukaan dentin yang terpotong, cairan akan bergerak ke luar dan mengawali nyeri.
Prosedur yang menyumbat tubulus, seperti mengaplikasikan resin di permukaan
dentin atau membuat kristal di dalam dumen tubulus, akan menginterupsi aliran
cairan dan mengurangi sensitivitas.
Pada gigi yang utuh, aplikasi dingin dan panas pada permukaan gigi
menimbulkan kecepatan kontraksi yang berbeda dalam dentin dan cairan dentin; hal
ini mengakibatkan pergerakan cairan dan diawalinya rasa nyeri. Respons ini akan
menghebat jika dentinnya terbuka.
(Walton, 2003)
Timbulnya rasa nyeri akibat rangsangan thermal, yang dalam kasus ini adalah
keluhan pasien tentang timbulnya rasa ngilu saat minum atau berkumur air dingin,
dapat dijelaskan dengan teori hidrodinamik.
Menurut Ingle (2002), Teori hidrodinamik pada sensitifitas dentin adalah
proses penerusan perpindahan cairan dentin ke tubulus dentin, yang mana merupakan
perpindahan ke salah satu arah yaitu ke arah luar (permukaan) atau ke arah dalam
(pulpa) dan menstimulasi nervus sensoris pada dentin atau pulpa. Walton (2003)
menyatakan bahwa teori hidrodinamik mempostulasikan bahwa pergerakan cairan
yang cepat di dalam tubulus dentin (ke luar dan ke dalam) yang akan mengakibatkan
distrosi ujung saraf di daerah pleksus saraf subodontoblas (pleksus Raschkow) yang
akan menimbulkan impuls saraf dan sensasi nyeri. Dan respon rasa nyeri tersebut
akan menghebat jika dentinnya terbuka.
Beberapa penyebab timbulnya rasa nyeri pada pulpa adalah panas, dingin,
pemotongan dentin, dan probing dentin.
Panas mengembangkan cairan dentin, sedang dingin mengerutkan cairan
dentin, memotong tubuli dentin memungkinkan cairan dentin keluar, dan melakukan
probing pada permukaan dentin yang dipotong atau terbuka dapat merusak bentuk
tubuli dan menyebabkan gerakan cairan (Grossman, 1995).
Gerakan cairan sangat cepat dan terjadi sebagai respon terhadap perubahan
temperatur, tekanan, atau mekanik yang menghasilkan deformasi mekanis pada
odontoblas dan saraf di dekatnya (Ingle, 2002).
Menurut teori hidrodinamik, rangsangan dingin menyebabkan gerakan cairan
tubuli dentin yaitu mengerutkan cairan tubuli dentinalis yang kemudian gerakan
tersebut mengakibatkan distorsi ujung saraf di daerah pleksus saraf subodontoblas
(pleksus Raschkow) yang kemudian akan menimbulkan impuls saraf dan
menghasilkan rasa nyeri.