Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN

NAMA : WISNANERI
NIM : 14205065

A. JENIS-JENIS PENELITIAN KUANTITATIF
1. Penelitian Eksploratif
Penelitian Eksploratif merupakan studi penjajakan, terutama sekali dalam
pemantapan konsep-konsep yang akan digunakan dalam ruang lingkup penelitian
yang lebih luas dengan jangkauan konseptual yang lebih besar. Kerlinger(1976)
menyatakan bahwa penelitian eksploratif bertujuan, (1) menemukan variabel yang
berarti dalam situasi lapangan, (2) menemukan hubungan di antara variabel-
variabel, (3) meletakkan dasar kerja untuk penelitian selanjutnya, yang bersifat
pengujian hipotesis yang lebih sistematis dan teliti.
a. Ciri-ciri penelitian eksploratif
Secara harfiah, eksplore berarti menyelidiki atau memeriksa sesuatu.
Jadi penelitian eksploratif ingin menemukan sesuatu apa adanya,
sebagai langkah awal untuk mendeskripsikan fenomena tersebut
secara lebih jelas dan tuntas.
Penelitian ini terbatas sampelnya.
Sifat penelitian ini merupakan penjajakan, bukan akan menerangkan
fenomena itu, atau dapat juga dinyatakan sebagai studi pendahuluan
untuk penelitian yang lebih luas.
Instrumen yang dipakai harus mampu mengungkapkan sebanyak
mungkin informasi yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan penelitian.
Untuk pernyataan yang dipakai, lebih banyak yang bersifat terbuka
daripada yang bersifat terstruktur, sehingga mampu menampung atau
mendeteksi sebanyak mungkin informasi yang dibutuhkan.
Sumber informasi yaitu: primer dan sekunder.
b. Langkah-langkah pokok penelitian eksploratif
Tetapkan terlebih dahulu bidang yang akan diselidiki dan rumuskan
problemnya secara jelas.
Rumuskan tujuan yang akan dicapai.
Lakukan penelaah kepustakaan, untuk mendukung pengumpulan
informasi lebih mendalam sewaktu di lapangan.
Susun rancangan pendekatannya, antara lain : (1) cara pengumpulan
data, (2) alat pengumpulan data, (3) sumber informasi, (4) latihan para
pengumpul data.
Kumpulkan data sesuai dengan rancangan yang telah disusun.
Susun laporan menurut sistematika tertentu.
2. Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif adalah suatu penelitian status kelompok manusia, suatu
objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa
pada masa sekarang.
Whitney (1960) berpendapat, penelitian deskriptif adalah pencarian
fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif
mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang
berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk
tentang hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-
pandangan serta proses-proses yang sedang berlangsung dan
pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena.
Penelitian deskriptif bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran
atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-
sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki.
a. Ciri-ciri penelitian Deskriptif
Untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian, sehingga metode
ini berkehendak mengadakan akumulasi data dasar belaka.(secara harafiah).
Mencakup penelitian yang lebih luas di luar metode sejarah dan
eksperimental.
Secara umum dinamakan metode survei.
Kerja peneliti bukan saja memberi gambaran terhadap fenomena-fenomena,
tetapi : (1) menerangkan hubungan, (2) menguji hipotesis-hipotesis, (3)
membuat prediksi, mendapatkan makna, (4) implikasi dari suatu masalah yang
ingin dipecahkan, dan (5) Mengumpulkan data dengan teknik wawancara dan
menggunakan schedule qestionair/interview guide.
b. Langkah-langkah Umum dalam Penelitian Deskriptif
Dalam melaksanakan penelitian deskripif, maka langkah-langkah umum yang
sering diikuti adalah sebagai berikut:
Memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan
masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada.
Menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. Tujuan dari
penelitian harus konsisten dengan rumusan dan definisih dari masalah.
Menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan
masalah yang ingin dipecahkan.
Merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji baik secara eksplisit maupun
implisit.
Melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data, gunakan teknik
pengumpulan data yang cocok untuk penelitian.
Membuat tabulasi serta analisis statistik dilakukan terhadap data yang telah
dikumpulkan. Kuranggi penggunaan statistik sampai kepada batas-batas yang
dapat dikerjakan dengan unit-unit pengukuran yang sepadan.
Memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi sosial
yang ingin diselidiki serta dari data yang diperoleh dan referensi khas terhadap
masalah yang ingin dipecahkan.
Mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan serta hipotesis-
hipotesis yang ingin diuji. Berikan rekomendasi-rekomendasi untuk kebijakan
yang dapat ditarik dari penelitian.
Membuat laporan penelitian dengan cara ilmiah.
3. Penelitian Korelasional
Penelitian korelasi atau korelasional adalah suatu penelitian untuk
mengetahui hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih tanpa
ada upaya untuk mempengaruhi variabel tersebut sehingga tidak terdapat
manipulasi variabel (Faenkel dan Wallen, 2008:328). Adanya hubungan dan
tingkat variabel ini penting karena dengan mengetahui tingkat hubungan yang
ada, peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan penelitian.
Penelitian korelasional menggunakan instrumen untuk menentukan apakah, dan
untuk tingkat apa, terdapat hubungan antara dua variabel atau lebih yang dapat
dikuantitatifkan.
Menurut Gay dalam Sukardi (2004:166) penelitian korelasi merupakan
salah satu bagian penelitian ex-post facto karena biasanya peneliti tidak
memanipulasi keadaan variabel yang ada dan langsung mencari keberadaan
hubungan dan tingkat hubungan variabel yang direfleksikan dalam koefisien
korelasi. Tujuan penelitian korelasional menurut Suryabrata (dalam Abidin, 2010)
adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan
dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien
korelasi.
a. Ciri-ciri Penelitian Korelasional
Penelitian macam ini cocok dilakukan bila variabel-variabel yang diteliti rumit
dan/atau tak dapat diteliti dengan metode eksperimental atau tak dapat
dimanipulasi.
Studi macam ini memungkinkan pengukuran beberapa variabel dan saling
hubungannya secara serentak dalam keadaan realistiknya.
Output dari penelitian ini adalah taraf atau tinggi-rendahnya saling hubungan
dan bukan ada atau tidak adanya saling hubungan tersebut.
Dapat digunakan untuk meramalkan variabel tertentu berdasarkan variabel
bebas.
b. Rancangan Penelitian Korelasional
Penelitian korelasional mempunyai berbagai jenis rancangan. Shaughnessy
dan Zechmeinter (dalam Emzir, 2009:48-51), yaitu:
1) Korelasi Bivariat
Rancangan penelitian korelasi bivariat adalah suatu rancangan
penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antara dua
variabel. Hubungan antara dua variabel diukur. Hubungan tersebut
mempunyai tingkatan dan arah. Tingkat hubungan (bagaimana kuatnya
hubungan) biasanya diungkapkan dalam angka antar -1,00 dan +1,00, yang
dinamakan koefisien korelasi. Korelasi zero (0) mengindikasikan tidak ada
hubungan. Koefisien korelasi yang bergerak ke arah -1,00 atau +1,00,
merupakan korelasi sempurna pada kedua ekstrem (Emzir, 2009:48).
Arah hubungan diindikasikan olh simbol - dan +. Suatu korelasi
negatif berarti bahwa semakin tinggi skor pada suatu variabel, semakin rendah
pula skor pada variabel lain atau sebaliknya. Korelasi positif mengindikasikan
bahwa semakin tinggi skor pada suatu variabel, semakin tinggi pula skor pada
variabel lain atau sebaliknya (Emzir, 2009:48).
2) Regresi dan Prediksi
Jika terdapat korelasi antara dua variabel dan kita mengetahui skor
pada salah satu variabel, skor pada variabel kedua dapat diprediksikan.
Regresi merujuk pada seberapa baik kita dapat membuat prediksi ini.
Sebagaimana pendekatan koefisien korelasi baik -1,00 maupun +1,00, prediksi
kita dapat lebih baik.
3) Regresi Jamak (Multiple Regresion)
Regresi jamak merupakan perluasan regresi dan prediksi sederhana
dengan penambahan beberapa variabel. Kombinasi beberapa variabel ini
memberikan lebih banyak kekuatan kepada kita untuk membuat prediksi yang
akurat. Apa yang kita prediksikan disebut variabel kriteria (criterion variable).
Apa yang kita gunakan untuk membuat prediksi, variabel-variabel yang sudah
diketahui disebut variabel prediktor (predictor variables).
2) Analisis Faktor
Prosedur statistik ini mengidentifikasi pola variabel yang ada.
Sejumlah besar variabel dikorelasikan dan terdapatnya antarkorelasi yang
tinggi mengindikasikan suatu faktor penting yang umum.
3) Rancangan korelasional yang digunakan untuk menarik kesimpulan kausal
Terdapat dua rancangan yang dapat digunakan untuk membuat
pernyataan-pernyataan tentang sebab dan akibat menggunakan metode
korelasional. Rancangan tersebut adalah rancangan analisis jalur (path
analysis design) dan rancangan panel lintas-akhir (cross-lagged panel
design). Analisis jalur digunakan untuk menentukan mana dari sejumlah jalur
yang menghubungkan satu variabel dengan variabel lainnya. Sedangkan
desain panel lintas akhir mengukur dua variabel pada dua titik sekaligus.
4) Analisis sistem (System Analysis)
Desain ini melibatkan penggunaan prosedur matematik yang
kompleks/rumit untuk menentukan proses dinamik, seperti perubahan
sepanjang waktu, jerat umpan balik serta unsur dan aliran hubungan.
c. Desain Dasar Penelitian Korelasional
1) Penentuan masalah
Dalam penelitian korelasional, masalah yang dipilih harus mempunyai
nilai yang berarti dalam pola perilaku fenomena yang kompleks yang
memerlukan pemahaman. Di samping itu, variabel yang dimasukkan dalam
penelitian harus didasarkan pada pertimbangan, baik secara teoritis maupun
nalar, bahwa variabel tersebut mempunyai hubungan tertentu. Hal ini biasanya
dapat diperoleh berdasarkan hasil penelitian sebelumnya.
2) Peninjauan Masalah atau Studi Kepustakaan
Setelah penentuan masalah, kegiatan penelitian yang penting adalah
studi kepustakaan yang menjadi dasar pijakan untuk memperoleh landasan
teori, kerangka pikir dan penentuan dugaan sementara sehingga peneliti dapat
mengerti, mengalokasikan, mengorganisasikan, dan menggunakan variasi
pustaka dalam bidangnya. Macam-macam sumber untuk memperoleh teori
yang berkaitan dengan masalah yang diteliti adalah dari jurnal, laporan hasil
penelitian, majalah ilmiah, surat kabar, buku yang relevan, hasil-hasil seminar,
artikel ilmiah dan narasumber.
3) Rancangan penelitian atau Metodologi Penelitian
Pada tahap ini peneliti menentukan subjek penelitian yang akan dipilih
dan menentukan cara pengolahan datanya. Subyek yang dilibatkan dalam
penelitian ini harus dapat diukur dalam variabel-variabel yang menjadi fokus
penelitian. Subyek tersebut harus relatif homogen dalam faktor-faktor di luar
variabel yang diteliti yang mungkin dapat mempengaruhi variabel terikat. Bila
subyek yang dilibatkan mempunyai perbedaan yang berarti dalam faktor-
faktor tersebut, korelasi antar variabel yang diteliti menjadi kabur. Untuk
mengurangi heterogenitas tersebut, peneliti dapat mengklasifikasikan subyek
menjadi beberapa kelompok berdasarkan tingkat faktor tertentu kemudian
menguji hubungan antar variabel penelitian untuk masing-masing kelompok.
4) Pengumpulan data
Berbagai jenis instrumen dapat digunakan untuk mengukur dan
mengumpulkan data masing-masing variabel, seperti angket, tes, pedoman
interview dan pedoman observasi, tentunya disesuaikan dengan kebutuhan.
Data yang dikumpulkan dengan instrumen-instrumen tersebut harus dalam
bentuk angka. Dalam penelitian korelasional, pengukuran variabel dapat
dilakukan dalam waktu yang relatif sama.
5) Analisis data
Pada dasarnya, analisis dalam penelitian korelasional dilakukan dengan
cara mengkorelasikan hasil pengukuran suatu variabel dengan hasil
pengukuran variabel lain.
Interpretasi data pada penelitian korelasional adalah bila dua variabel
hubungkan maka akan menghasil koefisen korelasi dengan simbol (r).
Hubungan variabel tersebut dinyatakan dengan nilai dari -1 samapai +1. Nilai
(-) menunjukan korelasi negatif yang variabelnya saling bertolak belakang dan
nilai (+) menunjukkan korelasi positif yang variabelnya saling mendekati ke
arah yang sama (Syamsudin dan Vismaia, 2009:25).
6) Simpulan
Berisi tentang hasil analisis deskripsi dan pembahasan tentang hal yang
diteliti dengan menggunakan mudah dipahami pembaca secara ringkas.
d. Kelebihan dan Kelemahan Penelitian Korelasional
Penelitian korelasional mengandung kelebihan-kelebihan, antara lain:
kemampuannya untuk menyelidiki hubungan antara beberapa variabel secara
bersama-sama (simultan);
Penelitian korelasional juga dapat memberikan informasi tentang derajat
(kekuatan) hubungan antara variabel-variabel yang diteliti (Abidin, 2010).
Selanjutnya, Sukardi menambahkan kelebihan penelitian ini adalah penelitian
ini berguna untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan bidang
pendidikan, ekonomi, sosial. Dengan penelitian ini juga memungkinkan untuk
menyelidiki beberapa variabel untuk diselidiki secara intensif dan penelitian
ini dapat melakukan analisis prediksi tanpa memerlukan sampel yang besar.
Sedangkan, kelemahan penelitian korelasional, antara lain:
Hasilnya cuma mengidentifikasi apa sejalan dengan apa;
tidak mesti menunjukkan saling hubungan yang bersifat kausal jika
dibandingkan dengan penelitian eksperimental;
penelitian korelasional itu kurang tertib- ketat, karena kurang melakukan
kontrol terhadap variabel-variabel bebas;
Pola saling hubungan itu sering tak menentu dan kabur;
sering merangsang penggunaannya sebagai semacam short-gun approach,
yaitu memasukkan berbagai data tanpa pilih-pilih; dan
menggunakan setiap interpretasi yang berguna atau bermakna. (Abidin,
2010).
4. Penelitian Kausal-Komparatif
Kausal-Komparatif Riset atau penelitian ex post facto, adalah peneliti
mencoba untuk menentukan penyebab atau alasan, untuk perbedaan yang ada
dalam perilaku atau status kelompok individu. Dengan kata lain, peneliti
mengamati kelompok yang berbeda pada beberapa variabel, dan peneliti berusaha
untuk mengidentifikasi faktor utama yang menyebabkan perbedaan ini. Penelitian
tersebut disebut sebagai ex pos facto (Latin = "setelah fakta") karena baik efek dan
penyebab dugaan telah terjadi dan harus dipelajari dalam retrospeksi. (Gay et all,
2010) .
a. Prosedur Pengendalian Penelitian Kausal Komparatif
1) Pemasangan
Peneliti memasangkan untuk setiap partisipan dalam satu grup
dengan partisipan grup lain yang memiliki skor yang sama dalam
variabel kontrol
2) Membandingkan Grup yang Homogen atau Membentuk Sub Grup
Peneliti membandingkan kelompok yang dibatasi secara
homogen, misalnya dalam kelompok siswa yang ber-IQ antara 85-115
(rata-rata) atau dengan cara membagi menjadi beberapa sub grup,
misal kelompok siswa dengan IQ tinggi, sedang atau rendah.
3) Analisis Kovarian
Peneliti menghilangkan faktor awal yang menguntungkan salah
satu variabel atau kelompok sehingga di akhir penelitian seolah dua
kelompok yang dibandingkan memiliki bekal awal yang sama.
b. Interpretasi Hasil Penelitian Kausal Komperatif
Mengingat kurangnya pengacakan, manipulasi dan kontrol, adalah kelemahan
dalam penelitian kausal-komparatif maka dalam interpretasi data hasil penelitian
harus dilakukan secara teliti dan seksama karena yang terjadi bisa sebaliknya, yaitu
akibat yang sebenarnya menjadi sebab. Sebagai contoh, jenis kelamin seorang
siswa mungkin menyebabkan atau mempengaruhi hasil belajar matematikanya.
Tetapi tidak mungkin hasil belajar matematikanya mempengaruhi jenis
kelaminnya. Contoh lain, keterlibatan siswa dalam kriminal yang meningkatkan
siswa sering absen, atau siswa sering absen yang menyebabkan meningkatnya
keterlibatan dalam kriminal.
5. Penelitian Pengembangan
Menurut Gay (1990) Penelitian Pengembangan adalah suatu usaha
untuk mengembangkan suatu produk yang efektif untuk digunakan sekolah, dan
bukan untuk menguji teori. Seals dan Richey (1994) mendefinisikan penelitian
pengembangan sebagai suatu pengkajian sistematik terhadap pendesainan,
pengembangan dan evaluasi program, proses dan produk pembelajaran yang harus
memenuhi kriteria validitas, kepraktisan, dan efektifitas.
a. Karakteristik dan Motif Penelitian Pengembangan
Menurut Wayan (2009) ada 4 karateristik penelitian pengembangan antara lain:
1) Masalah yang ingin dipecahkan adalah masalah nyata yang berkaitan dengan
upaya inovatif atau penerapan teknologi dalam pembelajaran sebagai
pertanggung jawaban profesional dan komitmennya terhadap pemerolehan
kualitas pembelajaran.
2) Pengembangan model, pendekatan dan metode pembelajaran serta media belajar
yang menunjang keefektifan pencapaian kompetensi siswa.
3) Proses pengembangan produk, validasi yang dilakukan melalui uji ahli, dan uji
coba lapangan secara terbatas perlu dilakukan sehingga produk yang dihasilkan
bermanfaat untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Proses pengembangan,
validasi, dan uji coba lapangan tersebut seyogyanya dideskripsikan secara jelas,
sehingga dapat dipertanggung jawabkan secara akademik.
4) Proses pengembangan model, pendekatan, modul, metode, dan media
pembelajaran perlu didokumentasikan secara rapi dan dilaporkan secara
sistematis sesuai dengan kaidah penelitian yang mencerminkan originalitas.
Sedangkan motif penelitian pengembangan seperti dikemukankan Akker (1999)
antara lain :
1) Motif dasarnya bahwa penelitian kebanyakan dilakukan bersifat tradisional,
seperti eksperimen, survey, analisis korelasi yang fokusnya pada analsis
deskriptif yang tidak memberikan hasil yang berguna untuk desain dan
pengembangan dalam pendidikan.
2) Keadaan yang sangat kompleks dari banyknya perubahan kebijakan di dalam
dunia pendidikan, sehingga diperlukan pendekatan penelitian yang lebih
evolusioner (interaktif dan siklis).
3) Penelitian bidang pendidikan secara umum kebanyakan mengarah pada reputasi
yang ragu-ragu dikarenakan relevasi ketiadaan bukti.
b. Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian Pengembangan
Pada rumusan masalah dan tujuan dalam penelitian pengembangan biasanya
berisi dua informasi, yaitu (1) masalah yang akan dipecahkan dan (2) spesifikasi
pembelajaran, model, soal, atau perangkat yang akan dihasilkan untuk memecahkan
masalah tersebut. Selama dua aspek ini terkandung dalam sebuah rumusan masalah
penelitian pengembangan, maka rumusan masalah tersebut sudah benar.
Penambahan beberapa sub-masalah untuk merinci rumusan masalah (utama)
bisa saja dilakukan selama tidak mengurangi kejelasan makna dari rumusan masalah
tersebut, misalnya tetap hanya akan menghasilkan sebuah produk perangkat
pembelajaran dalam satu penelitian pengembangan. Rumusan masalah penelitian
pengembangan bisa dirinci menjadi beberapa sub-masalah apabila perangkat
pembelajaran yang akan dikembangkan bisa dibagi menjadi beberapa bagian.
c. Proses Penelitian Pengembangan
Penelitian Pengembangan biasanya dimulai dengan identifikasi masalah
pembelajaran yang ditemui di kelas oleh guru yang akan melakukan penelitian. Yang
dimaksud masalah pembelajaran.dalam penelitian pengembangan adalah masalah
yang terkait dengan perangkat pembelajaran, seperti silabus, bahan ajar, lembar kerja
siswa, media pembelajaran, tes untuk mengukur hasil belajar, dsb. Perangkat
pembelajaran dianggap menjadi masalah karena belum ada, atau ada tetapi tidak
memenuhi kebutuhan pembelajaran, atau ada tetapi perlu diperbaiki, dsb. Tentunya
tidak semua masalah perangkat pembelajaran akan diselesaikan sekaligus, satu
masalah perangkat pembelajaran saja yang dipilih sebagai prioritas untuk diselesaikan
lebih dulu.
Tahap berikutnya adalah mengkaji teori tentang pengembangan perangkat
pembelajaran yang relevan dengan yang akan dikembangkan. Setelah menguasai teori
terkait dengan pengembangan perangkat pembelajaran, peneliti kemudian bekerja
mengembangkan draft perangkat pembelajaran berdasarkan teori yang relevan yang
telah dipelajari. Setelah selesai dikembangkan, draft harus berulangkali direview
sendiri oleh peneliti atau dibantu oleh teman sejawat (peer review).
Setelah diyakini bagus sesuai dengan yang diharapkan, draft tersebut
dimintakan masukan kepada para ahli yang relevan (expert validation). Masukan dari
para ahli dijadikan dasar untuk perbaikan terhadap draft. Setelah draft direvisi
berdasar masukan dari para ahli, langkah berikutnya adalah menguji-coba draft
tersebut. Uji-coba disesuaikan dengan penggunaan perangkat. Bila yang
dikembangkan adalah bahan ajar, maka uji-cobanya adalah digunakan untuk mengajar
kepada siswa yang akan membutuhkan perangkat tersebut. Uji-coba bisa dilakukan
pada beberapa bagian saja terhadap sekelompok kecil siswa, atau satu kelas. Bila yang
diuji-coba adalah silabus, maka uji-cobanya adalah terhadap guru yang akan
menggunakan silabus tersebut. Kegiatan uji-cobanya adalah meminta guru
menggunakan silabus untuk menyusun Rencana Program Pembelajaran (RPP).
Tujuan uji-coba adalah untuk melihat apakah perangkat pembelajaran yang
dikembangkan dapat diterima atau tidak. Dari hasil uji-coba, beberapa bagian
mungkin memerlukan revisi. Kegiatan terakhir adalah revisi terhadap draft menjadi
draft akhir perangkat pembelajaran tersebut.
6. Penelitian Eksperimen
Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk
mengetahui ada tidaknya akibat dari sesuatu yang dikenakan pada subjek
selidik. Dengan kata lain penelitian eksperimen mencoba meneliti ada tidaknya
hubungan sebab akibat. Caranya adalah dengan membandingkan satu atau lebih
kelompok eksperimen yang diberi perlakuan dengan satu atau lebih kelompok
pembanding yang tidak menerima perlakuan.
Secara umum di dalam pembicaraan penelitian dikenal adanya dua
penelitian eksperimen yaitu: eksperimen betul (true experiment) dan eksperimen
tidak betul-betul tetapi hanya mirip eksperimen. Itulah sebabnya maka penelitian
yang kedua ini dikenal sebagai penelitian pura-pura atau quasi experiment.
Sebagai ciri-ciri untuk penelitian eksperimen yang dikatakan sebagai eksperimen
betul adalah hal-hal yang disebutkan apabila persyaratan-persyaratan seperti yang
dikehendaki dapat terwujud.
Adapun persyaratan dikehendaki adalah sebagai berikut:
Kondisi-kondisi yang ada di sekitar atau yang diperkirakan mempengaruhi
subjek yang digunakan untuk eksperimen seyogianya disingkirkan,
sehingga apabila perlakuan selesai dan ternyata ada perbedaan antara hasil
pada kelompok eksperimen dengan kelompok pembanding maka
perbedaan hasil ini merupakan akibat dari adanya perlakuan.
Terdapat kelompok yang tidak diberi perlakuan yang difungsikan sebagai
pembanding bagi kelompok yang diberi perlakuan. Pada akhir eksperimen,
hasil pada kedua kelompok dibandingkan. Perbedaan hasil akan
merupakan efek dari pemberian perlakuan pada kelompok eksperimen.
Sebelum dilaksanakan eksperimen dilakukan kondisi kedua kelompok
diusahakan sama sehingga paparan tentang hasil akhir dapat betul-betul
merupakan hasil ada dan tidaknya perlakuan.
Apabila penelitian eksperimen dilakukan terhadap orang, diharapkan
bahwa anggota kelompok eksperimen maupun kelompok pembanding
tidak terpengaruh akan status mereka sehingga hasil eksperimen tidak
terkena Hawthorne effectl dan atau John Henry effect.
Catatan:
Hawthorne effect: efek sampingan yang disebabkan karena anggota kelompok eksperimen
mengetahui statusnya sehingga hasil akhir tidak semurni yang diharapkan.
John Henry effect: efek sampingan yang disebabkan karena anggota kelompok pembanding
menyadari statusnya sehingga ada upaya ekstra dari mereka untuk menyamai hasil kelompok
eksperimen dan hasil akhir tidak semurni yang diharapkan.
Secara singkat di dalam penelitian eksperimen peneliti mengupayakan untuk
mengontrol varians yaitu:
Memaksimalkan varians yang berhubungan dengan hipotesis penelitian.
Meminimalkan varians ekstra atau varians variabel yang tidak diharapkan -
yang tidak menjadi titik perhatian dalam kegiatan eksperimen.
Meminimal kesalahan-kesalahan: dalam memilih subjek, dalam melakukan
eksperimen dan dalam pengukuran hasil.
Untuk menghindari kesalahan-kesalahan tersebut maka seyogyanya:
Peneliti mengambil subjek penelitian secara random.
Peneliti mengelompokkan subjek ke dalam kelompok pertama dan kedua
secara random (acak, undian).
Peneliti menentukan mana kelompok eksperimen dan mana kelompok
pembanding juga secara random.
Jika peneliti tidak berhasil mengusahakan hal-hal yang dipersyaratkan seperti
disebutkan maka penelitian eksperimennya tidak dapat dipandang sebagai
eksperimen betul atau eksperimen murni. Jika tidak murni maka kegiatan yang
dilakukan dinamakan penelitian pura-pura (quasi experiment).
Strategi dan langkah-langkah penelitian eksperimen pada dasarnya sama dengan
strategi dan langkah-langkah penelitian pada umumnya, yaitu:
1) Calon peneliti mengadakan studi literatur untuk menemukan permasalahan.
2) Mengadakan identifikasi dan merumuskan permasalahan.
3) Merumuskan batasan istilah, pembatasan variabel, hipotesis, dan dukungan teori.
4) Menyusun rencana eksperimen:
Mengidentifikasikan semua variabel non eksperimen yang sekiranya akan
mengganggu hasil eksperimen dan menentukan bagaimana mengontrol
variabel-variabel tersebut.
Memilih desain atau model eksperimen.
Memilih sampel yang representatif (merupakan wakil yang dapat
dipercaya) dari subjek yang termasuk dalam populasi.
Menggolongkan wakil subjek ke dalam dua kelompok, disusul dengan
penentuan kelompok eksperimen dan kelompok pembanding.
Memilih atau menyusun instrumen yang tepat untuk mengukur hasil
pemberian perlakuan.
Pembuat garis besar prosedur pengumpulan data dan melakukan uji coba
instrumen dan eksperimen agar apabila sampai pada pelaksanaan, baik
eksperimen maupun instrumen pengukur hasil sudah betul-betul sempurna.
Merumuskan hipotesis nol atau hipotesis statistik.
5) Melaksanakan eksperimen.
6) Memilih data sedemikian rupa sehingga yang terkumpul hanya data yang
menggambarkan hasil murni dari kelompok eksperimen maupun kelompok
pembanding.
7) Menggunakan teknik yang tepat untuk menguji signifikansi agar dapat diketahui
secara cermat bagaimana hasil dari kegiatan eksperimen.
B. CARA MENGANALALISIS MASALAH UNTUK PENELITIAN KUANTITATIF
Latar belakang masalah memuat hal-hal yang melatar belakangi dilakukannya
penelitian, apa hal yang menarik untuk melakukan penelitian biasanya karena adanya
kesenjangan antara yang seharusnya dan kenyataan. Dalam bagian ini dimuat deskripsi
singkat wilayah penelitian dan juga jika diperlukan hasil penelitian peneliti sebelumnya.
Secara rinci latar belakang (Wardi Bachtiar:1997) berisi:
Argumentasi mengapa masalah tersebut menarik untuk diteliti dipandang dari
bidang keilmuan/maupun kebutuhan praktis.
Penjelasan akibat-akibat negatif jika masalah tersebut tidak dipecahkan.
Penjelasan dampak positif yang timbul dari hasil-hasil penelitian .
Penjelasan bahwa masalah tersebut relevan, aktual dan sesuai dengan situasi dan
kebutuhan zaman.
Relevansinya dengan penelitian-penelitian sebelumnya.
Gambaran hasil penelitian dan manfaatnya bagi masyarakat atau negara dan bagi
perkembangan ilmu.

C. CARA MERUMUSKAN MASALAH UNTUK PENELITIAN KUANTITATIF
1. Identifikasi Masalah
Masalah penelitian dapat diidentifikasi sebagai adanya kesenjangan
antara apa yang seharusnya dan apa yang ada dalam kenyataan, adanya
kesenjangan informasi atau teori dan sebagainya.
2. Pemilihan Masalah
Kriterianya antara lain:
Mempunyai nilai penelitian (asli penting dan dapat diuji).
Fisible (biaya, waktu dan kondisi).
Sesuai dengan kualifikasi peneliti.
Menghubungkan dua variabel atau lebih (Nazir: 1988)
3. Sumber Masalah
Bacaan, seminar, diskusi, pengamatan, pengalaman, hasil penelitian
terdahulu, dan lain-lain.
4. Perumusan Masalah
Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya.
Jelas dan padat.
Dapat menjadi dasar dalam merumuskan hipotesa dan judul penelitian.
Selain dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya, suatu masalah dapat
dirumuskan dengan menggunakan kalimat berita. Keduanya sama baiknya
akan tetapi ada perbedaan dalam kemampuannya mengkomunikasikan pesan
yang ada di dalamnya. Kalimat berita lebih bersifat memberikan gambaran
tentang karakteristik masalah yang bersangkutan. Sedangkan kalimat tanya
dapat lebih mengakibatkan adanya tantangan untuk mengumpulkan informasi
lebih lanjut.
Terlepas dari bentuk perumusan masalah yang digunakan, terdapat
beberapa kriteria yang dapat dipakai sebagai pegangan untuk merumuskan
masalah, yaitu sebagai berikut :
1. Masalah yang dirumuskan harus mampu menggambarkan penguraian
tentang gejala-gejala yang dimilikinya dan bagaimana kaitan antara
gejala satu dengan gejala lainnya.
2. Masalah harus dirumuskan secara jelas dan tidak berarti dua, artinya
tidak ada maksud lain yang terkandung selain bunyi masalahnya.
Rumusan masalah tersebut juga harus dapat menerangkan dirinya
sendiri sehingga tidak diperlukan keterangan lain untuk
menjelaskannya. Masalah yang baik selalu dilengkapi dengan rumusan
yang utuh antara unsur sebab dan unsur akibat sehingga dapat
menantang pemikiran lebih jauh.
3. Masalah yang baik hendaknya dapat memancing pembuktian lebih
lanjut secara empiris. Suatu masalah tidak hanya menggambarkan
hubungan antargejala tetapi juga bagaimana gejala-gejala tersebut
dapat diukur (Ace Suryadi: 2000).
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Muhammad Zainal. 2008. Penelitian Korelasional. (artikel). Dalam
http://www.Muhammad Zainal Abidin Personal Blog.htm. di akses tanggal 03 September
2014 jam 17.00 WIB
Nurgiantoro, Burhan. 2001. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra edisi ketiga.
Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
I Wayan, Santyasa. 2009. Metode Penelitian Pengembangan & Teori Pengembangan Modul.
Makalah Disajikan dalam Pelatihan Bagi Para Guru TK, SD, SMP, SMA, dan SMK Tanggal
12-14 Januari 2009, Di Kecamatan Nusa Penida kabupaten Klungkung.
Ruseffendi. 1993. Statistika untuk Penelitian Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga
Kependidikan Perguruan Tinggi.
Syamsuddin dan Vismaia S. Damaianti. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan Bahasa.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Seels, Barbara B. & Richey, Rita C. 1994. Teknologi Pembelajaran: Definisi dan
Kawasannya. Penerjemah Dewi S. Prawiradilaga dkk. Jakarta: Kerjasama IPTPI LPTK UNJ.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Sukardi. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Bumi
Aksara.
Van den Akker J., dkk. 2006. Educational Design Research. London and New York:
Routledge.
Yusuf, Muri. 2007. Metodologi Penelitian. Padang: Padang UNP Press.