Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN HASIL

PRAKTIKUM CEMENTING

PERCOBAAN II :
KALKULASI DENSITAS SLURRY DAN
SILMULASI PENAMBAHAN ADDITIF
Tanggal : 25 Juni 2014
Laboratorium : Perminyakan
Pukul : 08.00
Kelompok 3
1. Sulastri Andriyani
2. Indah Anggraini P S
3. Deny Azhari P
4. Rio Pitrianto
5. Ockta Juliansyah
6. Tamayong Edy Gatra
7. Juanda Syahputra
8.Wanda Bernando

Npm 1203003
Npm 1203013
Npm 1203016
Npm 1203018
Npm 1203019
Npm 1203027
Npm 1203031
Npm 1203033

LABORATORIUM PERMINYAKAN
PRODI TEKNIK EKSPLORASI PRODUKSI MIGAS
POLITEKNIK AKAMIAGAS PALEMBANG
2014

PRAKTIKUM II
KALKULASI DENSITY SLURRY DAN
SIMULASI PENAMBAHAN ADITIF
I. Tujuan percobaan
Mengetahui prilaku bubur semen ( slurry ) berdasarkan kombinasi
pencampuran antara semen dan air dan aditif serta menentukan density dari
material hasil pencampuran.
II. Dasar Teori
Penyemenan pada sumur pemboran adalah suatu proses pencampuran
(mixing) dan pendesakan (displacement) bubur semen (slurry) melalui casing
sehingga mengalir ke atas melewati annulus di belakang casing sehingga casing
terikat ke formasi. Slurry density (p) merupakan salah satu sifat fisik yang harus
diketahui dari cement slurry. Nilai density dari slurry menentukan karakteristik
operasional seperti tekanan hidrostatik, keterpompaan, dll. Density yang rendah
akan menghasilkan tekanan hidrostatik cement yang rendah pula yang mana jika
tekanan hidrostatik ini lebih rendah dari tekanan formasi, maka akan
meninggalkan masuknya (influx) fluida formasi kedalam lubang bor atau dikenal
dengan istilah kick sehingga cement slurry terkontaminasi. Sebaliknya tekanan
hidrostatik yang lebih tinggi akibat slurry density yang tinggi dapat menyebabkan
influx cement slurry ke dalam formasi atau disebut dengan loss yang
menimbulkan kerusakan pada lapisan formasi dan berbagai efek yang akan
ditumbulkan yaitu adanya kerugian.
Slurry yang digunakan dalam kegiatan pemboran umunya adalah campuran
antara API cement class, air dan aditif. Aditif adalah material yang digunakan
yang ditambahkan jika neat cemen slurry, penambahan ini membuat cement slurry
memiliki sifat-sifat tertentu yang disesuaikan dengan kebutuhan pemboran. Pada
dasarnya penyemenan tersebut jika berhasil dapat dilihat dari, hasil penyemenan

yang baik dalam suatu operasi penyemenan, semen haruslah mempunyai sifatsifat sebagai berikut:
1.

Suspensi semen mempunyai yield dan densitas sesuai dengan yang


diinginkan

2.

Mudah dalam penyampuran dan pemompaan

3.

Memerlukan sifat rheologi yang optimum untuk pembersihan Lumpur


(displacement)

4.

Mempertahankan beda sifat fisik dan kimia selama pemindahan

5.

Membangun kekuatan secara cepat sejak berada di tempat

6.

Impermeabel terhadap gas annular

7.

Membangun kekuatan yang cukup dalam rentang temperature yang panjang


dan jika ada kontaminasi Lumpur dan elektrolit sekalipun

8.

Membentuk ikatan yang kuat antara casing dan formasi

Beberapa aditif yang sangat baik untuk meningkatkan kekuatan semen adalah
MgO dan CaO. Kedua aditif ini berfungsi sebagai extender namun pada saat yang
sama juga menaikkan CS dan SBS.
Terdapat beberapa kelompok aditif yang dicampurkan ke dalam campuran semen,
yaitu :
1. Accelerator adalah aditif yang digunakan untuk mempercepat proses
pengerasan semen.

Table 4.1 Aditif Accelerator


Aditif

Temperatur oF (oC)

Concentration

%BWOW*

gal/bbl

L/m3

CaCl2

<120 (<49)

0.5-4.0

n/a

n/a

NaCl

<190 (<88)

1.0-10.0

n/a

n/a

KCl

<190 (<88)

1.0-3.0

n/a

n/a

Alkohol

<150 (66)

n/a

0.1.0

0-3

NaOH

<190 (<88)

secukupnya

n/a

n/a

Gypsum

<100 (38)

secukupnya

n/a

n/a

Sodium Silicate

<100 (<38)

1.0-3.0

2.0-12.0

6-36

*%BWOW = persen berat air


2. Retarder adalah aditif untuk memperlambat proses pengerasan semen.
Table 4.2 Aditif Retarder
Concentration

Aditif

Temperatur oF
(oC)

%BWOC*

lb/bbl

kg/m3

Q-Broxin

<120 (<49)

0.1-2.0

0.2-8.0

0.6-23

Calcium
Lignosulfate

100-160 (3871)

0.1-2.0

0.2-8.0

0.6-23

Sodium Gluconate

150-200 (6693)

0.1-1.0

0.05-1.5

0.15-4

Sodium
Heptogluconate

150-200 (6693)

0.1-0.8
gal/bbl

0.1-0.8
gal/bbl

0.3-2.3
gal/bbl

Sodium Citrate

150-230 (66110)

0.1-1.0

0.025-0.4

0.07-1.1

3. Aditif fluid-loss control digunakan untuk mengurangi


kehilangan kandungan air ke formasi.

kelebihan

Table 4.3 Aditif Pengontrol Fluida Loss


Aditif

Temperatur oF (oC)

PAC

Concentration
%BWOC*

lb/bbl

kg/m3

<200 (<94)

0.125-1.25

0.25-5.0

0.7-14

CMC

<175 (<79)

0.125-1.5

0.25-6.0

0.7-17

HEC

<200 (<94)

0.125-1.75

0.25-7.0

0.7-20

CMHEC

120-230 (49-110)

0.125-1.0

0.25-0.4

0.7-11

Barazan Plus

<160 (<71)

0.05-0.4

0.1-1.5

0.3-4

4. Aditif extender digunakan untuk mengurangi densitas semen dan


menaikkan volume semen, biasanya digunakan pada formasi dengan
tekanan rendah.
Table 4.4 Aditif Extender
Aditif

Temperatur oF (oC)

Aquagel

200 (<94)

Fly ash, Pozzolan

n/a

Sodium silicate

250 (121)

Concentration
%BWOC*

lb/bbl

kg/m3

0.5-0.8

1.0-32.0

3-91

74 lb/sack
1.0-3.0

Bentonite

2-16

Attapulgite

0.5-4

2.0-12.0

Gilsonite

1-50 lb/sack

Coal

5-50 lb/sack

Expanded Perlite

5-20 lb/sack

6-34

5. Aditif pengontrol free-water adalah aditif yang digunakan untuk


mengurangi kadar air bebas (free water) dari kandungan air semen.
Table 4.5 Aditif Pengentrol Free Water Cement

Aditif

Temperatur oF (oC)

Aquagel
Aluminium chlorohydrate

Concentration
%BWOC*

lb/bbl

kg/m3

200 (<94)

0.5-0.8

1.0-32.0

6-91

250 (121)

0.01-0.2

0.04-0.75 0.1-2.1

6. Dispersants mengurangi viskositas dari slurry semen.


Table 4.8 Aditif Dispersant
Concentration
Dispersant

Temperatur oF (oC)

%BWOC
*

lb/bbl

kg/m3

Naphthalene sulfonate

<200 (<94)

0.1-2.0

0.2-8.0

0.6-23

Q-Broxin

110-200 (43-94)

0.1-2.0

0.2-8.0

0.6-23

<160 (<71)

0.1-2.0

0.2-8.0

0.6-23

Calcium
lignosulfonate
Polymer (blend)

Polymer (long chain)


Sodium chloride
Asam organic

0.3-0.5
lb/sack
0.5-1.5
lb/sack
1-16 lb/sack
0.1-0.3
lb/sack

7. Pada suhu tinggi (<200

F), semen akan mengalami pengurangan

compressive strength. Hal ini dapat dikurangi dengan menambahkan silica


flour atau silica sand pada slurry semen.
Table 4.9 Aditif Pencegah Strength Retrogression
Concentration

Strength retrogression

Temperatur F

preventer

(oC)

Silica flour and silica sand

>200 (>94)

%BWOC
*
15-50

lb/bbl

kg/m3

30-

86-

200

570

Menurut alasan dan tujuannya, penyemenan dapat dibagi menjadi dua


yaitu :
1. Primary cementing (penyemenan utama) Primary cementing adalah
adalah proses penyemanan yang dilakukan pertama kali setelah
casing di turunkan ke dalam lubang
2. secondary cementing (penyemenan yang kedua atau perbaikan). bor.
secondary

cementing adalah

penyemenan

yang

dilakukan

dikarenakan tidak sempurnanya penyemenan pertama (gagal).


Nilau density dari slurry menentukan karakteristik operasional seperti
tekanan hidrostatik, keterpompaan, dll. Density yang rendah akan menghasilkan
tekanan hidrostatik cement yang rendah pula yang mana jika tekanan hidrostatik
ini lebih rendah dari tekanan formasi, maka akan meninggalkan masuknya
(influx) fluida formasi kedalam lubang bor atau dikenal dengan istilah kick
sehingga cement slurry terkontaminasi. Sebaliknya tekanan hidrostatik yang lebih
tinggi akibat slurry density yang tinggi dapat menyebabkan influx cement slurry
ke dalam formasi atau disebut dengan loss yang menimbulkan kerusakan pada
lapisan formasi dan berbagai efek yang akan ditumbulkan yaitu adanya kerugian.
Pengondisian densitas suspensi semen dapat dilakukan dengan :

a.

untuk menurunkan densitas dapat dilakukan dengan menambahkan clay


atau zat-zat kimia silikat seperti poz extender dan menambahkan bahanbahan yang dapat memperbesar volume suspensi semen seperti pozzolaz.

b.

sedangkan untuk menaikan densitas dapat dilakukan dengan menurunkan


jumlah volume air yang dicampurkan atau dengan menambahkan pasir
atau material-material pemberat ( sg besar ) kedalam suspensi semen
seperti barite.

Adapun jenis-jenis densitas sebagai berikut:


1.

Densitas massa Perbandingan jumlah massa dengan jumlah volume.


Dapat dirumuskan dalam persamaan sebagai berikut :
vm = ..........
m adalah massa dan v adalah volume, unit density adalah 3 mkg dan
dimensi dari densitas ini adalan ML-3. harga standarnyapada tekanan p
= 1.013 x 105 N/m2
dan temperatur T = 288.15 K untuk air adalah 1000 kg / m3

.Berat

spesifik

Berat

spesifik

adalah

nilai

densitas

massa

dikalikandengan gravitasi, dapat dirumuskan dengan persamaan :


= .g
Satuan dari berat spesifik ini adalah 3 mN, dan dimensi dari berat
spesifik ini adalah ML-3T-2 dimana nilai air adalah 9.81 x 103 N/m3.
3.

Densitas relatif Densitas relatif disebut juga spesific grafity (s.g) yaitu
perbandingan antara densitas massa dengan berat spesifik suatu zat
terhadap densitas massa atau berat spesifik dari suatu zat standar,
dimana yang dianggap memiliki nilai zat standar adalah air pada
temperatur 40 C. densitas relatif ini tidak memiliki satuan.Pada fluida
Non-Newtonian khususnya slurry density dari fluidadapat dinyatakan

dalam bentuk Cw yang artinya persentase konsentrasi padatan yaitu


perbandingan presentase antara padatan dengan air sebagai pelarut
Penambahan air dan additives akan berpengaruh pada keadaan density
bubur semen. Pada umunya density bubur semen dibuat lebih besar dari density
lumpur, hal ini mengingat bahwa kontaminasi lumpur akan mengikat/meningkat
dengan density yang relatif sama, sehingga pernah adanya peningkata density
bubur semen mengakibatkan perubahan pola aliran, penentuan dari bubur semen
sendiri tergantung kepada faktor fisik berat jenis bubur semen.
Macam-Macam Sistem Primary Cementing
Terdapat beberapa sistem dalam penyemenan utama, dan itu semua
tegantung dari kondisi dan jenis casing yang akan disemen.
a. Penyemenan Poor Boy
Yaitu

penyemenan

pengantar Cement Slurrykedalam


penyemenan Stove

dengan
lubang

Pipe dan Conductor

menggunakan
sumur,

Tubing

biasanya

Casing.Pada Stove

dipakai

sebagai
untuk

Pipe dengan

memasang Pipa Tubing pada annulus lubang yang pertama dibor dengan Stove
Pipe, sedangkan untuk Conductor Casing dengan memasukkan Pipa Tubing
kedalam Casing dan digantung dengan Cementing Head.
b. Penyemenan Dengan Stinger
Yaitu penyemenan dengan menggunakan Stinger dan Drill Pipe (DP),
sedangkan Shoe yang dipakai adalah Duplex Shoe. Biasanya dipakai untuk
penyemananConductor Casing karena Casing ini memiliki ukuran diameter besar
sehingga dengan systemini diperlukan volume displace sedikit ( sepanjang DP)
dan waktunya lebih cepat.
c. Penyemenan Perkins
Yaitu penyemenan dengan menggunakan Bottom dan Top Plug,pada ujung
Casing dipasangFloat Shoe dan Float Collar, sedangkan pada puncak Casing

dipasang Plug Container/Cementing Head. Biasanya untuk penyemanan Surface,


Intermediate dan Production Casing.
d. Penyemenan Multi Stage
Yaitu penyemenan Casing dalam satu trayek dilakukan lebih dari satu
kali dengan

cara

bertahap/bertingkat,

menggunakan

peralatan

khusus

yaitu DSCC, Plugs khusus, dan Float Collar khusus. Pertimbangan dilakukan
penyemenan Multi Stage adalah Casing yang disemen panjang dan atau adanya
zona

loss

pada

lubang

sumur

tersebut.

Biasanya

untuk

penyemenan Intermediate dan Production Casing.


Penyemenan adalah proses pendorongan bubur semen ke dalam casing
dan naik ke annulus yang kemudian didiamkan sampai semen tersebut mengeras
hingga mempunyai sifat melekat baik terhadap casing maupiun formasi.
Secara lebih spesifik, fungsi penyemenan dalam suatu pemboran adalah :

v Melindungi casing / liner dari tekanan yang dating dari bagian luar

casing yang dapat menimbulkan collapse (mengkerut)


v Mencegah adanya migrasi fluida yang tidak diinginkan dari satu formasi

ke formasi yang lain.


v Melindungi casing dari fluida yang bersifat korosif
Untuk memenuhi Fungsi-fungsi tersebut di atas, maka semen pemboran

harus memenuhi beberapa syarat :


v Semen
setelah
ditempatkan

atau strength yang cukup besar dalam waktu tertentu


v Semen harus memberikan daya ikat casing dengan formasi yang cukup

baik.
v Semen tidak boleh terkontaminasi dengan fluida formasi ataupun

dengan fluida pendorong


v Semen harus impermeable (permeabilitas harus nol)

Adapun komposisi Kimia Pembuatan Semen

harus

mempunyai

kekuatan

Semen yang digunakan dalam industry perminyakan adalah semen


Portland, kemudian dikembangkan oleh joseph aspdin tahun 1824. Disebut
Portland karena asal mula bahannya berasal dari pulau Portland Inggris. Semen ini
termasuk semen hidrolis dalam arti akan mengeras apabila bertemu atau
bercampur dengan air. Semen Portland mempunyai 4 komponen mineral utama,
yaitu :

Tricalcium silicate (3CaO SiO2 )


Dinotasikan sebagai C3S yang dihasilkan dari kombinasi CaO dan SiO2 da
merupakan komponen terbanyak dalam Portland semen, sekitar 40-45 %
untuk semen yang lambat proses pengerasannya, dan 60-65 % untuk
semen

yang

cepat

proses

pengerasannya.

Komposisi

ini

memberikan strength yang terbesar pada awal pengerasan.


Dicalcium Silicate (2CaO SiO2)
Dinotasikan sebagai C2S yang juga dihasilkan dari kombinasi CaO dan
SiO2, memberi pengaruh terhadap strength semen akhir. C2S menghidrasi
sangat lambat sehingga tidak berpengaruh dengan setting time semen,
tetapi sangat berpengaruh dalam kekuatan semen lanjut dan kadarnya tidak

lebih dari 20%.


Aluminate (3CaO Al2 O3 )
Dinotasikan sebagai C3A yang terbentuk dari reaksi CaO dan
AL2O3 kadarnya 15% untuk high early Strength dan 3% untuk terhadap
kandungan sulfate, namun berpengaruh terhadaprheologi suspense dan

membantu proses pengerasan awal semen.


Tetracalcium Aluminoferrite (4CaO AL2O3 Fe2o3)
Dinotasikan sebagai C3AF yang terbentuk dari reaksi CaO 2Al2O3 dan
Fe2O3. Kadarnya tidak boleh lebih dari 24% untuk semen yang tahan
terhadap kandungan sulfate tinggi. Penambahan oksida besi yang
berlebihan akan menaikan kadar C4AF dan menurunkan kadar C3A dan
menurunkan panas hasil reaksi /hidrasi C2S dan C3S.

Klasifikasi Semen

API telah melakukan pengklasifikasian semen kedalam beberapa kelas


guna mempermudah pemilihan dan penggolongan semen yang akan digunakan,
pengklasifikasian ini berdasarkan pada kondisi sumur, temperature, tekanan dan
kandungan yang terdapat pada fluida formasi.
Klasifikasi semen yang dilakukan API terdiri dari:

Kelas A
Semen kelas A ini digunakan dari kedalaman 0 (permukaan) sampai 6.000
ft. semen ini terdapat dalam tipe biasa (ordinary type) saja, dan mirip

dengan semen ASTM C-150 tipe I.


Kelas B
Semen kelas B digunakan dari kedalaman 0 sampai 6.000 ft, dan tersedia
dalam jenis yang tahan terhadap kandungan sulfat menengah dan

tinggi (moderate dan high sulfate resistant)


Kelas C
Semen kelas C digunakan dari kedalaman 0 sampai 6.000 ft, dan
mempunyai sifat high-early strength (proses pengerasannya cepat) semen

ini tersedia dalam jenis moderatedan high sulfate resistant.


Kelas D
Semen kelas D digunakan untuk kedalaman dari 6.000 ft sampai 12.000
ft, dan untuk kondisi sumur yang mempunyai tekanan dan temperature
tinggi.

Semen

ini

tersedia

juga

dalam

jenis moderate dan

high sulfate resistant


Kelas E
Semen kelas E digunakan untuk kedalaman dari 6.000 ft sampai 14.000 ft,
dan untuk kondisi sumur yang mempunyai tekanan dan temperature
tinggi. Semen

ini

tersedia

juga

dalam

jenis moderate dan

high sulfate resistant


Kelas F
Semen kelas F digunakan untuk kedalaman dari 10.000 ft sampai 16.000
ft, dan untuk kondisi sumur yang mempunyai tekanan dan temperature

tinggi. Semen ini tersedia dalam jenis highsulfate resistant.


Kelas G

Semen kelas G digunakan dari kedalaman 0 sampai 8.000 ft, dan


merupakan semen dasar. Bila ditambahkan retarder semen ini dapat
dipakai untuk sumur.

III. Alat dan Bahan


Alat
- Timbangan digital, untuk menimbang massa semen dan aditif
- Gelas ukur maksimal 500 cc, untuk mengukur volume air
- Gelas plastik ukuran maksimal 500 cc, untuk menampung neat cement
- Timer, untuk mencatat lama waktu pengadukan
- Mixer, sebagai alat pencampuran semua bahan dengan kecepatan tinggi
- Pengaduk, untuk mengagitasi material campuran hingga homogen
- Sendok untuk mengambil semen dan aditif
- Kalkulator, alat bantu menghitung
Bahan simulasi Neat Cement
- Semen bangunan, sebagai simulator bahan utama pengganti API cement
- Air bersih, bahan campuran utama semen
-

Aditif, bahan pencampuran yang memberikan sifat tertentu pada campuran


semen yaitu : bentonita ( extender/light weight agent ), barite (heavy
weight), dan 1 aditiv pilihan.

IV. Langkah percobaan yang dilakukan

1.

perlahan-lahan

timbang

dengan

seksama

50

gram

bubuk

semen

menggunakan, hindar menimbangkan gumpalan setelah itu lakukan


konvensi ke dalam pound (lb) dan ke sack ( 1 sack semen beratnya 94 lb ).
2.

Secara hati-hati, tampung sementara sample semen yang diukur pada kertas.

3.

Ukur dengan seksama volume air untuk campuran semen dengan presentasi
berbeda-beda mulai dari 10% hingga 100% setara berat semen ( by weight
of cement ) dalam ct. Hitung kebutuhan air dalam gallon dengan rumus
berikut :

4.

Kalkulasikan terlebih dahulu berat kebutuhan aditif sesuai persentase


penambahan BWOC, konversikn ke gram, lalu timbang gram aditif sesuai
persentase. Isikan nilainya ketable di bawah. Contoh kalkulasinya :
- jika 35% (BWOC) pasir silika dicampurkan, jumlahnya persak semen
adalah 94 lb/sack semen x 0,35 = 32,9 lb pasir silika. Jumlah inilah yang
harus praktikan proyeksikan ke skala laboratorium dalam gram.
- sebagai catatan dari perhitungan diatas, berat total campurannya menjadi
94 + 32,9 = 126,9 lb sehingga persentase pasir silika sesungguhnya (BWO
Slurry ) adalah 32,9/126,9 = 25,9 %
berat

No

semen

A
1
2
3

(gr)
B
50
50
50

*4.A
&B
5
6

Air
% berat Volume
BWOC
C
100%
100%
100%
100% +

( cc )
D
50
50
50

50

(5,3XF)

50+

50
50

%
100%
100%

50
50

jenis
E
tanpa aditiv

bentonite

barite

aditif
%berat

berat

Berat

BWOC
F
0%
5%

(gr)
G
2,5

(lb)
F

25%

12,5

10%
25%

5
12,5

7
8

50
50

100%
100%

50
50

aditiv
pilihan : Nacl

10%*1
37,2*1

5*2
18,6*2

5. Timbang massa baker glass dalan keadaan kosong, beri mark


dengan spidol atau kertas label sesuai berat airnya (%)
6. Campyrkan semen dan air dalam baker glass untuk membuat neat
cement dengan porsi diatas, lalu aduk segera sampai tercampur
sempurna, catat lama waktu sejak pencampuran hingga penadukan
dimulai (mixing time).
Semen + air + aditif = bubur semen (slurry )
7. setelah pengadukan selesaim barsih dan kumpulkan slurry yang
menciprat dinding dalam baker glass dan yang berakumulasi pada
pengaduan kembali ke dalam campuran adukan.
8. Dalam slurry selama 5 10 menit
9. Amati selama pengadukan dan saat didiamkan lalu buang limbah
semen ke tempatnya.
10. Lakukan langkah 1 9 untuk masing-masing sampel, lakukan
pengiliran bila baker glass tidak mencukupi.
V. Hasil Percobaan
No

berat
semen
(gr)

A
1
2
3
*4.A &B

B
50
50
50
50

Air
% berat Volume
BWOC
( cc )
C
D
100%
50
100%
50
100%
50
100% +
50+
(5,3XF)

Aditif
%berat
Jenis
BWOC
E
F
tanpa aditiv
0%
Bentonite
5%
25%

berat
(gr)
G
2,5
12,5

5
6
7
8

50
50
50
50

%
100%
100%
100%
100%

50
50
50
50

Barite
aditiv
pilihan : Nacl

10%
25%
10%*1
37,2*1

5
12,5
5*2
18,6*2

- Hasil yang didapat :


Berat

Berat
Kosong

Volume

Time

Berat Semen + air


+ aditif

Isi

124,9 gr

60 ml

50

5-10 detik

225,20 gr

110,5 gr

70 ml

50

32,36 detik

210,9 gr

108,1 gr

75 ml

50

5 detik

218,1 gr

112,6 gr

78 ml

50

3,91 detik

225,5 gr

99,5 gr

50 ml

52

27 detik

203,3 gr

110,5 gr

74 ml

50

46 detik

219,3 gr

124,9 gr

62 ml

50

40 detik

228,2 gr

124,9 gr

70 ml

50

30,6 detik

228 gr

NB :
Tanpa Aditif

: Cair

Bentonite

: Kental, Tanpa air

Barite

: Agak kental, mengandung air

NaCl

: Cair, Mengandung air, semakin banyak NaCl

Semakin sedikit air


VI. Jawaban Pertanyaan

1. hitunglah yield (ft3/sack) dan density (lb/gal) masing-masing


campuran. rumus untuk menghitung density slurry adalah :

nomor Campuran

Perhitungan yang diambil dari data tersebut.


Semen

Gr

Berat of
cement

Lb

Berat air
.,QQV(
% Bwoc
)

Vol air/sack
equivalen skala lab (
cc )
Gal

Cc

Volume slurry

Gal/sack

Cc/sack

Slurry
yield

Slurry
density

50

0,11023

0,001172

10%

0,001322

1,1275

4263,8

0,1507

83,36

50

0,11023

0,001172

20%

0,002644

10

2,2551

8527,6

0,3014

41,68

50

0,11023

0,001172

30%

0,003966

15

3,3827

12791,4

0,4522

27,78

50

0,11023

0,001172

40%

0,005289

20

4,5102

17055,2

0,6029

20,84

50

0,11023

0,001172

50%

0,006611

25

5,6378

21319,0

0,7536

16,67

50

0,11023

0,001172

60%

0,007933

30

6,7854

25582,8

0,9044

13,89

50

0,11023

0,001172

70%

0,009255

35

7,8930

29846,6

1,0551

11,90

50

0,11023

0,001172

80%

0,010578

40

9,0205

34110,5

1,2058

10,42

50

0,11023

0,001172

90%

0,011900

45

10,1481

38374,3

1,3566

9,26

10

50

0,11023

0,001172

100%

0,0132225

50

11,2757

42638,1

1,5073

8,33

2.

karakter seperti apa yang saudara lihat dari hasil pencampuran dan apa yang
dapat saudara analisa dari masing-masing pengamatan terkait hal-hal
seperti:

a. pengaruh proporsi bahan terhadap karaket campuran?

Semakin banyak air , maka proses pencampuran air dan semen akan
semakin cepat dan menurunkan density campuran dan sebaliknya. Dan semakin
banyak pencampuran additive maka proses perubahan density semakin cepat.
b. pengaruh waktu pengadukan terhadap karakter campuran ?
semakin banyak air dan additif, maka waktu pencampuran semakin singkat,
waktu pengeringan semakin lama.
3. apakh terjadi ketidak sesuaian nilai antara hasil pengukuran dengan hasil
perhitungan? Tidak
4. apakah kesimpulan saudara terkait percobaan diatas ?
- Air bertambah maka waktu pencampuran berkurang dan waktu pengerikngan
bertambah.
- additif bertambah maka density menurun dan yield point semen meningkat.
VII. Analisa hasil
Bedanya praktikum kedua dengan yang pertama itu bisa kita lihat dari
percampurannya dari baker glass yang kami gunakan sebanyak 8 buah itu berat
nya berbeda,langkah pertamakami menimbang berat kosong dari baker glass lalu
kami menimbang semen sebanyak 50 gr.setelah itu kami masukan semen tadi
kedalam baker glass sambil aduk semen dengan air yang di masukan sebanyak 50
ml. langkah kedua kami cuci alat tersebut hingga bersih agar tidak ada sample
yang terbawa dari sample pertama untuk melakukan langkah selanjut nya. Untuk
mengukur berat cement kami menggunakan kertas kosong diatas neraca gram
dengan berat semen 50gram sampai perhitungan ke 8, setelah semen ditimbang
kami menggunakan air mineral ( aqudes ), dengan ukuran sample yang berbeda
dari 1 8 sample. Untuk ukuran campuran volume air semen dengan persentase
berbeda-beda dari 10 % - 100 % setara berat semen yang telah diukur di neraca
gram yang kami gunakan. Setelah itu sample diaduk dengan steak escrim dan di

hitung menggunakan stopwatch hingga pada saat semua tercampur rata stopwact
dihentikan dan nilainya pun dibaca, setelah pengadukan selesai, bersihkan dan
kumpulkan slurry yang menciprati dinding dalam baker glass dan yang
berakumulasi pada pengadukan kembali kedalam campuran adukan, ukur volume
dalam ml baker glass lalu timbang baker glass termasuk isinya dalam gram.
Diamkan slurry selama kurang lebih 3-5 menit dan amati selama pengadukan dan
saat didiamkan, lalu setelah diamati dengan seksama tulis hasil yang telah didapat
dalam tabel yang telah di sediakan. Bisa kita lihat saat percampuran additives ke
dalam bubur semen pada saat diaduk terjadi sebuah kontaminasi yang dari cair
menjadi kental, dan ada pula yang terkandung air menjadi sedikit air sehingga
tidak dapat lagi dibaca volume total dari percampuran 3 zat tersebut.

VIII. Kesimpulan dan saran


Kesimpulan

pada pemboran umumnya Slurry yang digunakan adalah campuran antara


API cemen class, air dan aditif.
- aditif tersebut adalah material yang digunakan jika ditambah ke dalam neat
cemen slurry

pada praktikum kedua ini bisa kita ligar dari kombinasi percampuran anata
semen dan air dan aditif serta kita juga dapat mementukan density dari
material yang telah tercampur tersebut.
Saran

lakukan pekerjaan ini dengan sebenar-benarnya dari prosedur yang telah


ditulis

lihat kondisi neraca pada saat menimbang semen dan aditif

lakukan dengan sebaik

mungkin agar tidak ada kekeliruan dalam

mengambil hasil dan sample.


IX. Referensi