Anda di halaman 1dari 18

BAB 1

PENDAHULUAN


Dermatofitosis adalah infeksi jamur superfisial yang disebabkan oleh jamur
dermatofita. Dermatofita adalah jamur keratinofilik yang menyerang bagian-
bagian tubuh pada manusia dan hewan yang mengandung keratin seperti pada
rambut, kuku, dan kulit. Infeksi dermatofitosis telah menyerang 20-25% dari
populasi penduduk di seluruh dunia, dan insidennya terus berlanjut dan
meningkat.
Secara klinis ada 8 tipe tinea yang terdapat pada tubuh manusia. Tinea
corporis adalah tipe yang paling umum terjadi di seluruh dunia. Tinea korporis
adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur superfisial golongan
dermatofita, yang menyerang daerah kulit tak berambut (glabrous skin). Biasanya
pada wajah badan, lengan, dan tungkai. Tinea corporis menempati 70% dari
semua infeksi jamur yang ada. Tinea corporis meliputi seluruh infeksi dermatofita
superfisial, kecuali kulit kepala, jenggot, wajah, telapak tangan, telapak kaki dan
selangkangan.
Infeksi jamur yang paling sering menyebabkan dermatofitosis adalah dari
golongan Tricophyton, Microsporum, dan Epidermophyton. Penularan tinea
corporis bisa terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung
dapat terjadi karena kontak langsung dengan individu atau binatang yang
terinfeksi, sedangkan penularan secara tidak langsung dapat tertular bila tersentuh
dengan benda yang mengandung jamur.
Pemeriksaan yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis dari infeksi
dermatofita adalah pemeriksaan mikroskopik langsung dengan menggunakan
potassium hydroxide (KOH) dan kultur in vitro. Penatalaksanaan infeksi
dermatofit biasanya memberikan respon yang baik terhadap anti fungal topikal
dalam 2 - 4 minggu.



BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Tinea korporis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur
superfisial golongan dermatofita, yang menyerang daerah kulit tak berambut
(glabrous skin), biasanya pada wajah badan, lengan, dan tungkai.
1


2.2 II. EPIDEMIOLOGI
Tinea korporis merupakan infeksi yang umumnya sering dijumpai
didaerah yang panas, Tricophyton rubrum merupakan infeksi yang paling umum
diseluruh dunia dan sekitar 47 % menyebabkan tinea korporis.
2

Tinea korporis mungkin ditransmisikan secara langsung dari infeksi
manusia atau hewan melalui autoinokulasi dari reservoir, seperti kolonisasi
T.rubrum di kaki. Anak-anak lebih sering kontak pada zoofilik patogen seperti
M.canis pada kucing atau anjing. Pakaian ketat dan cuaca panas dihubungkan
dengan banyaknya frekuensi dan beratnya erupsi.
(2)

Infeksi dermatofit tidak menyebabkan mortalitas yang signifikan tetapi
mereka bisa berpengaruh besar terhadap kualitas hidup. Tinea korporis
prevalensinya sama antara pria dan wanita. Tinea korporis mengenai semua orang
dari semua tingkatan usia tapi prevalensinya lebih tinggi pada preadolescen. Tinea
korporis yang berasal dari binatang umumnya lebih sering terjadi pada anak-
anak.
(7,8)
Secara geografi lebih sering pada daerah tropis daripada subtropis.
(8)
Berdasarkan habitatnya dermatofit digolongkan sebagai antropofilik
(manusia), zoofilik (hewan), dan geofilik (tanah).

Dermatofit yang antropofilik
paling sering sebagai sumber infeksi tinea, tetapi sumber yang zoofilik di
identifikasi (jika mungkin) untuk mencegah reinfeksi manusia.
(9)
III. ETIOLOGI
Tinea korporis dapat disebabkan oleh berbagai spesies dermatofit seperti
Trichophyton, Microsporum, dan Epidermophyton. Variasi penyebabnya dapat
ditemukan berdasarkan spesies yang terdapat di daerah tertentu.
(1,6)
Namun
demikian yang lebih umum menyebabkan tinea korporis adalah T.rubrum,
T.mentagrophytes, dan M.canis.
(1)

IV. PATOGENESIS
Dermatofitosis bukanlah patogen endogen. Transmisi dermatofit
kemanusia dapat melalui 3 sumber masing-masing memberikan gambaran tipikal.
Karena dermatofit tidak memiliki virulensi secara khusus dan khas hanya
menginvasi bagian luar stratum korneum dari kulit.
(3)
perkembangan klinis dermatofitosis. Infeksi alami disebabkan oleh deposisi
langsung spora atau hifa pada permukaan kulit yang mudah dimasuki dan
umumnya tinggal di stratum korneum, dengan bantuan panas, kelembaban dan
kondisi lain yang mendukung seperti trauma, keringat yang berlebih dan maserasi
juga berpengaruh.
(4,7,10)

Pemakaian bahan yang tidak berpori akan meningkatkan temperatur dan
keringat sehingga mengganggu fungsi barier stratum korneum. Infeksi dapat
ditularkan melalui kontak langsung dengan individu atau hewan yang terinfeksi,
benda-benda seperti pakaian, alat-alat dan lain-lain. Infeksi dimulai dengan
terjadinya kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya dalam jaringan keratin yang
mati. Hifa ini memproduksi enzim keratolitik yang mengadakan difusi ke dalam
jaringan epidermis dan merusak keratinosit.
(7,10)
Setelah masa perkembangannya (inkubasi) sekitar 1-3 minggu respon
jaringan terhadap infeksi semakin jelas dan meninggi yang disebut ringworm,
yang menginvasi bagian perifer kulit. Respon terhadap infeksi, dimana bagian
aktif akan meningkatkan proses proliferasi sel epidermis dan menghasilkan
skuama. Kondisi ini akan menciptakan bagian tepi aktif untuk berkembang dan
bagian pusat akan bersih. Eliminasi dermatofit dilakukan oleh sistem pertahanan
tubuh (imunitas) seluler.
(7,10)

Pada masa inkubasi, dermatofit tumbuh dalam stratum korneum, kadang-
kadang disertai tanda klinis yang minimal. Pada carier, dermatofit pada kulit yang
normal dapat diketahui dengan pemeriksaan KOH atau kultur.
(10)

V. GAMBARAN KLINIK
Tinea korporis bisa mengenai bagian tubuh manapun meskipun lebih
sering terjadi pada bagian yang terpapar. Pada penyebab antropofilik biasanya
terdapat di daerah yang tertutup atau oklusif atau daerah trauma.
(6)
Keluhan berupa rasa gatal. Pada kasus yang tipikal didapatkan lesi bulla
yang berbatas tegas, pada tepi lesi tampak tanda radang lebih aktif dan bagian
tengah cenderung menyembuh. Lesi yang berdekatan dapat membentuk pola
gyrate atau polisiklik. Derajat inflamasi bervariasi, dengan morfologi dari eritema
sampai pustula, bergantung pada spesies penyebab dan status imun pasien. Pada
penyebab zoofilik umumnya didapatkan tanda inflamasi akut. Pada keadaan
imunosupresif, lesi sering menjadi lebih luas.
(6)
Tinea korporis dapat bermanifestasi sebagai gambaran tipikal, dimulai
sebagai lesi eritematosa, plak yang bersisik yang memburuk dan membesar,
selanjutnya bagian tengah dari lesi akan menjadi bentuk yang anular akan
mengalami resolusi, dan bentuk lesi menjadi anular.
(1,5,7,10,11)
berupa skuama,
krusta, vesikel, dan papul sering berkembang, khususnya pada bagian tepinya.
Kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan. Lesi pada umumnya
merupakan bercak terpisah satu dengan yang lainnya.
(10)

Pada tinea korporis yang menahun, tanda radang akut biasanya tidak
terlihat lagi. Kelainan ini dapat terjadi pada tiap bagian tubuh dan bersama-sama
dengan kelainan pada sela paha. Dalam hal ini disebut tinea korporis dan
kruris.
(12)
Bentuk khas tinea korporis yang disebabkan oleh Trichophyton
concentricum disebut tinea imbrikata. Tinea imbrikata mulai dengan bentuk papul
berwarna coklat, yang perlahan-lahan menjadi besar. Stratum korneum bagian
tengah ini terlepas dari dasarnya dan melebar. Proses ini setelah beberapa waktu
mulai lagi dari bagian tengah, sehingga terbentuk lingkaran-lingkaran skuama
yang konsentris.
(7)

Infeksi dermatofit secara zoofilik atau geofilik lebih sering menyebabkan
respon inflamasi daripada yang disebabkan oleh mikroba antropofilik. Umumnya,
pasien HIV-positif atau imunokompromise bisa terlihat dengan abses yang dalam
dan meluas.
(7)
Tinea korporis lebih sering ditemukan sebagai asimptomatik atau gatal
ringan. Secara obyektif tipikal lesinya mulai sebagai makula eritematosa atau
papul yang menjalar dan berkembang menjadi anular, dan lesi berbatas tegas,
skuama atau vesikel, tepi yang berkembang dan healing center. Tinea korporis
lebih sering pada permukaan tubuh yang terbuka antara lain wajah, lengan dan
bahu.
(13)
VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Dalam patogenesisnya, jamur patogen akan menyebabkan kelainan pada
kulit sehingga atas dasar kelainan kulit inilah kita dapat membangun diagnosis.
Akan tetapi kadang temuan efloresensi tidak khas atau tidak jelas, sehingga
diperlukan pemeriksaan penunjang. Sehingga diagnosis menjadi lebih tepat.
(14)

Pemeriksaan mikroskopik langsung terhadap bahan pemeriksaan
merupakan pemeriksaan yang cukup cepat, berguna dan efektif untuk
mendiagnosis infeksi jamur.
(6)

Pemeriksaan KOH merupakan pemeriksaan tunggal yang paling penting
untuk mendiagnosis infeksi dermatofit secara langsung dibawah mikroskop
dimana terlihat hifa diantara material keratin.
(5)
VII. DIAGNOSIS
Diagnosis ditetapkan berdasarkan gambaran klinis dan lokalisasinya atau
pemeriksaan sediaan langsung kerokan lesi dengan larutan KOH 10%, untuk
melihat elemen jamur dermatofit. Biakan jamur diperlukan untuk identifikasi
spesies jamur penyebab yang lebih akurat.
(10)
Diagnosis pasti digunakan melakukan pemeriksaan dengan menggunakan
mikroskop untuk mengidentifikasi adanya hifa dan spora untuk mengetahui
infeksi dermatofit. Infeksi dapat dikonfirmasi atau beberapa dari keadaan ini
diidentifikasi dari hasil positif kerokan oleh kultur jamur.
(14)

VIII. DIAGNOSIS BANDING
Bergantung variasi gambaran klinis, tinea korporis kadang sulit dibedakan
dengan beberapa kelainan kulit yang lainnya. Antara lain Granuloma anulare,
psoriasis vulgaris, dermatitis seboroik, kandidiasis cutis.

IX. PENATALAKSANAAN
Menghilangkan faktor predisposisi penting, misalnya mengusahakan
daerah lesi selalu kering dan memakai baju yang menyerap keringat.
A. Terapi topikal
Terapi direkomendasikan untuk infeksi lokal karena dermatofit
biasanya hidup pada jaringan. Berbagai macam preparat imidazol dan
alilamin tersedia dalam berbagai formulasi. Dan semuanya memberikan
keberhasilan terapi (70-100%). Terapi topikal digunakan 1-2 kali sehari
selama 2 minggu tergantung agen yang digunakan. Topikal azol dan
allilamin menunjukkan angka perbaikan perbaikan klinik yang tinggi.
(7)

Berikut obat yang sering digunakan :
1. Topical azol terdiri atas :
a. Econazol 1 %
b. Ketoconazol 2 %
c. Clotrinazol 1%
d. Miconazol 2% dll.
Derivat imidazol bekerja dengan cara menghambat enzim 14-
alfa-dimetilase pada pembentukan ergosterol membran sel jamur.
(7,15)
2. Allilamin bekerja menghambat allosterik dan enzim jamur skualen
2,3 epoksidase sehingga skualen menumpuk pada proses
pembentukan ergosterol membran sel jamur.
(10)
yaitu aftifine 1 %,
butenafin 1% Terbinafin 1% (fungisidal bersifat anti inflamasi ) yang
mampu bertahan hingga 7 hari sesudah pemakaian selama 7 hari
berturut-turut.
(7,15)

3. Sikloklopirosolamin 2% (cat kuku, krim dan losio) bekerja
menghambat masuknya bahan esensial selular dan pada konsentrasi
tinggi merubah permeabilitas sel jamur merupakan agen topikal yang
bersifat fungisidal dan fungistatik, antiinflamasi dan anti bakteri serta
berspektrum luas.
(7)

4. Kortikosteroid topikal yang rendah sampai medium bisa
ditambahkan pada regimen anti jamur topikal untuk menurunkan
gejala. Tetapi steroid hanya diberikan pada beberapa hari pertama
dari terapi.
(5,7)
B. Terapi sistemik
Pedoman yang dikeluarkan oleh American Academy of
Dermatology menyatakan bahwa obat anti jamur (OAJ) sistemik dapat
digunakan pada kasus hiperkeratosis terutama pada telapak tangan dan
kaki, lesi yang luas, infeksi kronis, pasien imunokompromais, atau pasien
tidak responsif maupun intoleran terhadap OAJ topikal.
(15)

1. Griseofulvin
(7,15)

Obat ini berasal dari penicillium griceofulvum dan masih dianggap
baku emas pada pengobatan infeksi dermatofit genus Trichophyton,
Microsporum, Epidermophyton. Berkerja pada inti sel, menghambat
mitosis pada stadium metafase.
2. Ketokonazol
(15)

Merupakan OAJ sistemik pertama yang berspektrum luas, fungistatik,
termasuk golongan imidazol. Absorbsi optimum bila suasana asam.
3. Flukonazol
(15)

Mempunyai mekanisme kerja sama dengan golongan imidazol, namun
absorbsi tidak dipengaruhi oleh makanan atau kadar asam lambung.
4) Itrakonazol
(15)

Merupakan OAJ golongan triazol, sangat lipofilik, spektrum luas,
bersifat fungistatik dan efektif untuk dermatofita, ragi, jamur dismorfik
maupun jamur dematiacea. Absorbsi maksimum dicapai bila obat
diminum bersama dengan makanan.
5. Amfosterin B
(15)

Merupakan anti jamur golongan polyen yang diproduksi oleh
Streptomyces nodosus. Bersifat fungistatik, pada konsentrasi rendah
akan menghambat pertumbuhan jamur, protozoa dan alga. Digunakan
sebagai obat pilihan pada pasien dengan infeksi jamur yang
membahayakan jiwa dan tidak sembuh dengan preparat azol.
X. PROGNOSIS
Untuk tinea korporis yang bersifat lokal, prognosisnya akan baik dengan
tingkat kesembuhan 70-100% setelah pengobatan dengan azol topikal atau
allilamin atau dengan menggunakan anti jamur sistemik.
(7)

XI. KESIMPULAN
Tinea korporis adalah penyakit dermatofit pada kulit glabrosa, selain kulit
kepala, wajah, kaki, telapak tangan dan kaki, janggut dan lipatan paha.
(1,2,3)

Manifestasinya akibat infiltrasi dan proliferasinya pada stratum korneum dan
tidak berkembang pada jaringan yang hidup.
(4)
Metabolisme dari jamur dipercaya
menyebabkan efek toksik dan respon alergi. Tinea korporis umumnya tersebar
pada seluruh masyarakat tapi lebih banyak pada didaerah tropis.
(1)

Tinea korporis lebih sering ditemukan sebagai asimptomatik atau gatal
ringan. Secara obyektif tipikal lesinya mulai sebagai makula eritematosa atau
papul yang menjalar dan berkembang menjadi anular, dan lesi berbatas tegas,
skuama atau vesikel, tepi yang berkembang dan healing center. Tinea korporis
lebih sering pada permukaan tubuh yang terbuka antara lain wajah, lengan dan
bahu.
(13)
Untuk tinea korporis yang bersifat lokal, prognosisnya akan baik dengan
tingkat kesembuhan 70-100% setelah pengobatan dengan azol topikal atau
allilamin atau dengan menggunakan anti jamur sistemik
(7)

























BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien
Nama : EN
Umur/Jenis Kelamin : 19 Tahun/Perempuan
Pekerjaan : Mahasiswi
Alamat : Ateuk Pahlawan Baiturrahman
Agama : Islam
Suku : Aceh
Hp/no telp : 085260330665
Nomor CM : 1-01-45-70
Tanggal pemeriksaan : 20 Agustus 2014

3.2 Anamnesis
Keluhan Utama
Gatal pada lipatan lengan kiri

Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan gatal dan timbulnya plak kemerahan pada
lipatan lengan kiri sejak 2 bulan yang lalu. Awalnya muncul gelembung kecil
disertai gatal, oleh pasien digaruk, kemudian pecah dan meluas. pasien juga
mengatakan gatal bertambah apabila berkeringat.

Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya.

Riwayat Pemberian Obat
Pasien pernah berobat ke Puskesmas sebelumnya dan diberikan salep
Gentamicyn dan obat untuk diminum, namun pasien lupa nama obatnya, dan
pasien juga mengatakan tidak ada perbaikan gejala klinis pada saat mengkonsumsi
obat tersebut.
Riwayat Penyakit Keluarga
Adik perempuan pasien juga mengalami keluhan dan penyakit yang sama
dengannya yang terdapat di daerah kaki.

Riwayat Kebiasaan Sosial
Pasien sering menggunakan handuk secara bergantian dengan adik
perempuannya dan ia tidur di satu ranjang yang sama dengan adiknya. Riwayat
kontak dengan hewan peliharaan disangkal.

3.3 Pemeriksaan Fisik Kulit
Pada regio fossa cubiti sinistra tampak plak eritematous berbatas tegas,
dengan papul-papul dibagian tepinya, disertai skuama halus, dengan bagian
tengah mengalami penyembuhan ( central healing ), konfigurasi lesi polisiklik,
dan terdistribusi secara regional.




Gambar 1. Pada regio fossa cubiti sinistra tampak plak eritematous berbatas
tegas, dengan papul-papul dibagian tepinya, disertai skuama halus, dengan bagian
tengah mengalami penyembuhan ( central healing ), konfigurasi lesi polisiklik,
dan terdistribusi secara regional.

3.4 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan mikroskopis dengan menggunakan KOH 10%.
Hasil dari pemeriksaan KOH :




Gambar 2. Pemeriksaan mikroskopik dari kerokan kulit (skuama) dengan KOH
10% menunjukkan hifa panjang dan bersepta.

3.5 Resume
Pasien datang ke Poliklinik Kulit dan Kelmanin RSUDZA dengan keluhan
gatal dan timbulnya plak kemerahan pada lipatan lengan kiri sejak 2 bulan yang
lalu. Awalnya muncul gelembung kecil disertai gatal, oleh pasien digaruk,
kemudian pecah dan meluas. Ia juga mengeluhkan gatal bertambah apabila
berkeringat. Ia sering menggunakan handuk secara bergantian dengan adik
perempuannya dan tidur di satu ranjang yang sama dengan adiknya.
Pada pemeriksaan fisik kulit pada regio fossa cubiti sinistra tampak plak
eritematous berbatas tegas, dengan papul-papul dibagian tepinya, disertai skuama
halus, dengan bagian tengah mengalami penyembuhan ( central healing ),
konfigurasi lesi polisiklik, dan terdistribusi secara regional. Pada pemeriksaan
mikroskopik dari kerokan kulit (skuama) dengan KOH 10% menunjukkan hifa
panjang dan bersepta.

3.6 Diagnosis Banding
1. Tinea corporis
2. Granuloma anulare
3. Psoriasis vulgaris
4. Dermatitis seboroik
5. Kandidiasis kutis

3.7 Diagnosis Klinis
Tinea Corporis

3.8 Tatalaksana
Farmakologis
Terapi Sistemik : Ceterizine tablet 10mg, sehari sekali
Terapi Topikal : Ketoconazole cream 2%, digunakan pada lesi
2 kali sehari, selama 2 4 minggu
Edukasi
1. Gunakan pakaian yang longgar dan menyerap keringat, contohnya dari
bahan katun
2. Pakaian, handuk dan seprai di rendam pada air panas
3. Mengeringkan badan sehabis mandi dan berkeringat

3.9 Prognosis
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad sanactionam : dubia ad bonam



BAB IV
ANALISA KASUS

Tinea korporis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur superfisial
golongan dermatofita, yang menyerang daerah kulit tak berambut (glabrous skin).
biasanya pada wajah, badan, lengan, dan tungkai. Pada kasus ini lesi didapatkan di
lipatan lengan tangan kiri.
Tinea corporis merupakan infeksi yang umum terjadi pada negara dengan
iklim tropis yang mempunyai kelembapan tinggi seperti negara Indonesia.
Penyakit ini menyerang pria maupun wanita dan terjadi pada semua umur. Tinea
corporis disebabkan oleh golongan jamur Trichophyton, Microsporum, dan
Epidermophyton, dari tiga golongan tersebut penyebab tersering penyakit tinea
corporis adalah Tricophyton rubrum dengan prevalensi 47% dari semua kasus
tinea corporis.
Diagnosis tinea corporis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik kulit dan pemeriksaan penunjang. Dari hasil anamnesis, pasien
mengeluhkan gatal dan timbulnya plak kemerahan pada lipatan lengan kiri sejak 2
bulan yang lalu. Ia juga mengeluhkan gatal bertambah apabila berkeringat. Hal ini
sesuai dengan teori yang ada, dimana gatal merupakan gejala penyerta yang sering
terjadi pada infeksi tinea corporis, dan gatal bertambah apabila berkeringat.
Selain itu pasien juga mengatakan dikeluarganya tepatnya adik perempuan
pasien juga mengalami keluhan dan penyakit yang sama dengannya yang terdapat
di daerah kaki, dan pasien sering menggunakan handuk secara bergantian dengan
adiknya, ia juga tidur di satu ranjang yang sama dengan adiknya. Penularan pada
tinea corporis dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Penularan
secara langsung dapat terjadi karena kontak langsung dengan individu atau hewan
yang terinfeksi, sedangkan penularan secara tidak langsung dapat tertular bila
tersentuh dengan benda yang mengandung jamur. Pada kasus ini kemungkinan
pasien dapat tertular langsung dari adiknya atau tertular dari handuk dan seprai
yang mereka gunakan bersama.

Gambaran klinis dari tinea korporis sangat bervariasi, variasi ini akibat
dari perbedaan imunitas hospes dan spesies jamur. Gambaran klinis yang klasik
pada tinea korporis adalah lesi anular, berbatas tegas terdiri atas eritema, skuama,
kadang-kadang dengan vesikel dan papul dibagian tepi, dan daerah tengahnya
biasanya bersih yang sering disebut dengan central healing. Kelainan kulit dapat
juga terlihat sebagai lesi-lesi dengan pinggir yang polisiklik. Infeksi dermatofita
menyerang lapisan kulit yang bertanduk. Fenomena ini mulanya terjadi pada
tempat inokulasi yang kemudian diikuti dengan menyebar luasnya lesi dari tempat
semula, sehingga memperlihatkan gambaran annular. Gambaran annular ini
berasal dari eliminasi jamur pada tengah lesi yang terus menyebar kearah perifer,
sehingga terlihat tepi lesi yang meninggi, berwarna kemerahan dan terkadang
disertai sedikit pembengkakan. Sementara itu area sentral tertutup oleh squama
halus. Organisme yang biasanya menimbulkan lesi seperti ini adalah T. Rubrum
dan E. Floccosum. T. Rubrum adalah organisme penyebab lesi konsentrik yang
paling sering pada kasus Tinea Korporis. Sedangkan ruam makulo papular dengan
tepi serpiginosa dan area sentra yang hiperemis merupakan hal yang sering
terlihat pada Infesksi yang disebakan E. flocosum. Tinea Rubrum menginfeksi
semua area pada tubuh, sedangkan E. flocosum terfokus pada area selangkangan
dan sela-sela kaki. Hal ini sesuai dengan temuan yang kami dapat pada
pemeriksaan fisik kulit, dimana pada lipatan lengan kiri tampak plak eritematous
berbatas tegas, dengan papul-papul dibagian tepinya, disertai skuama halus,
dengan bagian tengah mengalami penyembuhan ( central healing ), konfigurasi
lesi polisiklik, dan terdistribusi secara regional.
Pada pemeriksaan dengan menggunakan KOH 10% didapatkan hifa panjang
dan bersepta, hal ini sesuai dengan teori yang ada di literatur. Pada kasus ini
pemeriksaan kultur tidak dilakukan oleh karena pemeriksaan kultur membutuhkan
waktu yang lama.
Bergantung variasi gambaran klinis, tinea korporis kadang sulit dibedakan
dengan beberapa kelainan kulit yang lainnya. Antara lain dermatitis kontak,
dermatitis numularis, dermatitis seboroik, ptiriasis rosea,

dan psoriasis. Untuk
alasan ini, tes laboraturium sebaiknya dilakukan pada kasus dengan lesi kulit yang
tidak jelas penyebabnya.
Kelainan kulit pada dermatitis seboroik selain dapat menyerupai tinea
korporis, biasanya dapat terlihat pada tempat-tempat predileksi, misalnya dikulit
kepala, lipatan-lipatan kulit, misanya belakang telinga, daerah nasolabial dan
sebagainya. Psoriasis dapat dikenal dari kelainan kulit dari tempat predileksi,
yaitu daerah ekstensor, misalnya lutut, siku dan punggung. Kulit kepala berambut
juga sering terkena pada penyakit ini. Adanya lekukan lekukan pada kuku dapat
pula menolong untuk menentukan diagnosis.



Pitiriasis rosea, yang distribusi kelainan kulitnya simetris dan terbatas,
tubuh dan bagian proksimal anggota badan, sukar dibedakan dengan tinea
korporis tanpa heral patch yang dapat membedakan penyakit ini dengan tinea
korporis. Pemeriksaan laboratoriumlah yang dapat memastikan diagnosisnya.
Infeksi Tinea. Korporis umumnya bisa diobati dengan terapi topical.
Pertimbangan untuk diberikannya terapi sistemik adalah ketika lesi menyebar
pada area tubuh yang luas serta pasien telah gagal menjalalani pengobatan secara
topical. Untuk Lesi yang terbatas pada kulit tanpa rambut, obat-obatan topical
seperti alilamines, imidazole, tolfanate, butenafine, atau ciclopirox adalah sangat
efektif. Golongan imidazol terdiri dari ketokonazole, mikonazol, dan klotrimazol.
Saat ini ketokonazol paling banyak digunakan. Ketokonazol merupakan turunan
imidazol sintetik yang bersifat lipofilik dan larut dalam air pada pH asam. Obat ini
bekerja dengan cara menghambat 14 dimetilase pada pembentukan ergosterol
membran jamur. Ketoconazole 2% cream digunakan untuk infeksi jamur dikulit
tak berambut, dengan dosis dan lamanya pengobatan tergantung dari kondisi
pasien, biasanya diberikan selama 2-4 minggu, dan dioleskan 1-2 kali sehari.
Pada pasien ini diberikan obat antifungi topical berupa ketoconazole cream
2% yang digunakan pada lesi 2 kali sehari, selama 2-4 minggu. Selain itu, pada
pasien ini juga diberikan antihistamin berupa ceterizine 10 mg untuk mengurangi
keluhan gatal pada kulit.
Terapi non farmakologis pada pasien ini sangat penting untuk mencegah
kekambuhan dan bertujuan untuk menghilangkan faktor predisposisi seperti
memakai baju yang menyerap keringat, memakai pakaian longgar dan tidak ketat
serta mengeringkan badan dengan baik setelah mandi dan berkeringat serta
mencuci pakaian, handuk dan seprai dengan menggunakan air panas.