Anda di halaman 1dari 34

DIABETES MELLITUS

Disusun Oleh :
Putri Rizkiyah (1207101030056)
Zaura Meliana (1207101030051)


Pembimbing:
dr. Azhari Gani, Sp. PD-KKV











BAGIAN/SMF FAMILY MEDICINE
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BPK RSUD Dr. ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH
2014


KATA PENGANTAR


Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah S.W.T. yang telah
menciptakan manusia dengan akal dan budi, kehidupan yang patut penulis syukuri,
keluarga yang mencintai dan teman-teman yang penuh semangat, karena berkat
rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan kasus ini. Shalawat
beriring salam penulis sampaikan kepada nabi besar Muhammad Saw, atas semangat
perjuangan dan panutan bagi ummatnya.
Adapun laporan kasus ini berjudul Diabetes Mellitus. Diajukan Sebagai
Salah Satu Tugas Dalam Menjalani Kepaniteraan Klinik Senior pada Bagian / SMF
Family Medicine Fakultas Kedokteran Unsyiah BPK RSUD dr. Zainoel Abidin
Banda Aceh.
Penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi tingginya
kepada dr. Azhari Gani, Sp. PD KKV yang telah meluangkan waktunya untuk
memberi arahan dan bimbingan dalam menyelesaikan tugas ini.
Dengan kerendahan hati, penulis menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari
kesempurnaan. Saran dan kritik dari dosen pembimbing dan teman-teman akan
penulis terima dengan tangan terbuka, semoga dapat menjadi bahan pembelajaran dan
bekal di masa mendatang.

Banda Aceh, Oktober 2014


Penulis




BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit non infeksi yang masih
banyak diderita oleh masyarakat luas. Baik dari social ekonomi tinggi maupun yang
rendah. Diabetes juga merupakan penyakit keturunan sehingga sulit pula
membasminya walaupun telah diketemukan berbagai obat untuk mengontrol kadar
gula darah penderita. Selain itu, banyak komplikasi yang dihasilkan dari suatu
keadaan diabetes mellitus, antara lain nefropati diabetikum, retinopati dan lainnya.
Sehingga diabetes masih memiliki angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi.
Berangkat dari latar belakang berbahaya dan banyaknya angka kejadian
diabetes mellitus di Indonesia ini,maka diperlukan pembahasan lebih lanjut mengenai
diabetes mellitus dilihat dari sisi kesehatan masyarakat.
Diabetes mellitus memiliki banyak komplikasi apabila tidak tertangani dengan
baik. Komplikasinya antara lain, neuropati, nefropati, dan bahkan bisa jatuh ke dalam
status koma seperti diabetic ketoasidosis. Fokus permasalahan dari laporan kasus ini
untuk menilai hubungan dari pola hidup keluarga dengan kesehatan pasien diabetes
mellitus dipantau dari sisi kedokteran keluarga.
Kegiatan pemeriksaan langsung kepada pasien yang mengunjungi puskesmas
diharapkan dapat menambah wawasan mengenai diabetes yang ada pada kasus di
lapangan. Kasus di lapangan dapat saja memiliki variasi dan sedikit berbeda dengan
teori yang ada, namun dengan sedikit dasar, penanganan terhadap diabetes ini tidak
lagi asing dan diharapkan dapat menurunkan prevalensi diabetes yang semakin
meningkat. Dengan mengetahui kejadian diabetes di lapangan, diharapkan menambah
pengetahuan yang lebih baik mengenai diabetes ditinjau dari sisi kemasyarakatannya.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010, Diabetes melitus
merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia
yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya.
Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang,
disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung
dan pembuluh darah. World Health Organization (WHO) sebelumnya telah
merumuskan bahwa Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu kumpulan problema
anatomik dan kimiawi akibat dari sejumlah faktor di mana didapat defisiensi insulin
absolut atau relatif dan gangguan fungsi insulin. (Sudoyo et.al 2006)

2.2 Klasifikasi
Klasifikasi DM dapat dilihat pada tabel 2.

American Diabetes Association (ADA) dalam Standards of Medical Care in
Diabetes (2009) memberikan klasifikasi diabetes melitus menjadi 4 tipe yang
disajikan dalam :
1. Diabetes melitus tipe 1, yaitu diabetes melitus yang dikarenakan oleh adanya
destruksi sel pankreas yang secara absolut menyebabkan defisiensi insulin.
2. Diabetes melitus tipe 2, yaitu diabetes yang dikarenakan oleh adanya kelainan
sekresi insulin yang progresif dan adanya resistensi insulin.
3. Diabetes melitus tipe lain, yaitu diabetes yang disebabkan oleh beberapa
faktor lain seperti kelainan genetik pada fungsi sel pankreas, kelainan genetik
padaaktivitas insulin, penyakit eksokrin pankreas (cystic fibrosis), dan
akibatpenggunaan obat atau bahan kimia lainnya (terapi pada penderita AIDS
danterapi setelah transplantasi organ).
4. Diabetes melitus gestasional, yaitu tipe diabetes yang terdiagnosa atau dialami
selama masa kehamilan.

2.3 Patofisiologi
2.3.1 Diabetes melitus tipe 1
Pada DM tipe I ( DM tergantung insulin), terdapat kekurangan insulin absolut
sehingga pasien membutuhkan suplai insulin dari luar. Keadaan ini disebabkan
oleh lesi pada sel beta pankreas karena mekanisme autoimun, yang pada keadaan
tertentu dipicu oleh infeksi virus.
2.3.2 Diabetes Melitus tipe 2
Sekresi insulin pada orang non diabetes meliputi 2 fase yaitu fase dini (fase 1)
atau early peak yang terjadi dalam 3-10 menit pertama setelah makan. Insulin yang
disimpan yang disekresi pada fase ini adalah insulin yang disimpan dalam sel beta:
dan Fase lanjut (fase 2) adalah sekresi insulin dimulai 20 menit stelah stimulasi
glukosa. Pada fase 1, pemberian glukosa akan meningkatkan sekresi insulin untuk
mencegah kenaikan kadar glukosa darah, dan kenaikan glukosa darah selanjutnya
akan merangsang fase 2 untuk meningkatkan produksi insulin. Makin tinggi kadar
glukosa darah sesudah makan makin banyak pula insulin yang dibutuhkan, akan
tetapi kemampuan ini hanya terbatas pada glukosa darah dalam batas normal.
Pada DM tipe 2, sekresi insulin di fase 1 tidak dapat menurunkan glukosa
darah sehingga merangsang fase 2 untuk menghasilkan insulin lebih banyak. Tetapi
sudah tidak mampu meningkatkan sekresi insulin sebagaimana pada orang normal.
Gangguan sekresi sel beta menyebabkan sekresi insulin pada fase 1 tertekan, kadar
insulin dalam darah turun menyebabkan produksi glukosa hati meningkat, sehingga
kadar glukosa meningkat. Secara berangsur kemampuan fase 2 untuk menghasilkan
insulin akan menurun. Dengan demikian perjalanan DM tipe 2 , dimulai dengan
gangguan fase 1 yang menyebabkan hiperglikemia dan selanjutnya gangguan fase 2
tidak terjadi hiperinsulinemia akan tetapi gangguan di sel beta.
Faktor-faktor yang dapat menurunkan fungsi sel beta diduga merupakan factor
yang didapat (acquired) antara lain menurunnya massa sel beta, malnutrisi masa
kandungan dan bayi, adanya deposit amilyn dalm sel beta dan efek toksik glukosa
(glucose toxicity).
Dua defek metabolik yang menandai diabetes tipe 2 adalah gangguan sekresi
insulin pada sel beta dan ketidakmampuan jaringan perifer berespons terhadap insulin
(resistensi insulin).
Resistensi Insulin
Resistensi insulin adalah suatu keadaan terjadinya gangguan respons
metabolik terhadap kerja insulin, akibatnya untuk kadar glukosa plasma tertentu
dibutuhkan kadar insulin yang lebih banyak daripada normal untuk mempertahankan
keadaan normoglikemi (euglikemi). Resistensi insulin dapat disebabkan oleh
gangguan pre-reseptor, reseptor, dan post-reseptor. Gangguan pre-reseptor dapat
disebabkan oleh antibodi insulin dan gangguan pada insulin. Gangguan reseptor dapat
disebabkan oleh jumlah reseptor yang berkurang atau kepekaan reseptor menurun.
Sedangkan gangguan pada post-reseptor disebakan oleh gangguan pada froses
fosforilasi dan pada signal transduksi di dalam sel otot.
Sensitivitas insulin adalah kemampuan insulin menurunkan konsentrasi
glukosa darah dengan cara menstimulasi pemakaian glukosa di jaringan otot dan
lemak, dan menekan produksi glukosa oleh hati. Resistensi insulin adalah keadaan
sensitivitas insulin berkurang.
Resistensi insulin dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Resistensi
insulin berkaitan dengan kegemukan, namun juga dapat terjadi pada orang yang tidak
gemuk. Faktor seperti kurangnya aktifitas fisik dan kecenderungan mengonsumsi
makanan tinggi lemak berkaitan dengan terjadinya kegemukan dan resisitensi insulin.
Peningkatan cadangan lemak visceral yang aktif secara lipolitik akan meningkatkan
keluaran asam lemak bebas portal dan menurunkan pengikatan dan ekstraksi insulin
di hati, sehingga menyebabkan terjadinya hiperinsulinemia sistemik. Peningkatan
asam lemak bebas portal akan meningkatkan produksi glukosa di hati melalui
peningkatan glukoneogenesis, menyebabkan terjadinya hiperglikemia.

Skema Patogenesis DM tipe 2
Predisposisi Genetik Lingkungan



Defek sel beta primer Resistensi insulin jar. Perifer












2.3.3 Diabetes tipe lain
Defisiensi insulin relative juga dapat disebabkan oleh kelainan yang sangat jarang
pada bio sintesis insulin, reseptor insulin atau transmisi intrasel. Diabetes dapat
terjadi pada perjalanan penyakit lain, seperti pankreatitis dengan kerusakan sel beta
atau karena kerusakan toksik di sel beta.
Defek genetic multiple obesitas
Cenderung makan tinggi lemak
Kurangnya aktivitas fisik

Gangguan sekresi insulin Kurangnya pemanfaatan
glukosa
Hiperglikemia
Kelelahan sel beta
DM tipe 2

2.4. Diagnosis
Kecurigaan adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik DM
seperti di bawah ini:
Keluhan klasik DM berupa: poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat
badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
Keluhan lain dapat berupa: lemah, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi
ereksi pada pria, serta pruritus vulvae pada wanita.

Tabel 3. Kriteria diagnosis DM


Diperlukan anamnesis yang cermat serta pemeriksaan yang baik untuk
menentukan diagnosis diabetes melitus, toleransi glukosa terganggu dan glukosa
darah puasa tergagnggu. Berikut adalah langkah-langkah penegakkan diagnosis
diabetes melitus, TGT, dan GDPT.



Keterangan:
1. TGT: Diagnosis TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan TTGO didapatkan glukosa
plasma 2 jam setelah beban antara 140 199 mg/dL (7,8-11,0 mmol/L).
2. GDPT: Diagnosis GDPT ditegakkan bila setelah pemeriksaanglukosa plasma puasa
didapatkan antara 100 125 mg/dL (5,6 6,9 mmol/L) dan pemeriksaan TTGO gula darah 2
jam < 140mg/dL.

2.5 Penatalaksanaan
2.5.1. Tujuan penatalaksanaan
Jangka pendek: menghilangkan keluhan, mempertahankan rasa nyaman, dan
mencapai target pengendalian glukosa darah.
Keluhan Klinis Diabetes
Keluhan
Klasik (+)
Keluhan Klasik (-)


GDP
atau

>126
>200
<126 <110
110 -
<126
110-199

Ulang
GDS
atau
GDP
atau
GD2J
>126
>200
<126
<200
T T G
O
>200 140 - 199
<140

>126






Jangka panjang: mencegah dan menghambat progresivitas penyulit
mikroangiopati, makroangiopati, dan neuropati.
Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian glukosa darah,
tekanan darah, berat badan, dan profil lipid, melalui pengelolaan pasien secara
holistik dengan mengajarkan perawatan mandiri dan perubahan perilaku.
(PERKENI,2011)
2.5.2.`Evaluasi medis
Evaluasi medis meliputi:
Riwayat Penyakit
Gejala yang timbul,
Hasil pemeriksaan laboratorium terdahulu meliputi: glukosa darah, A1C, dan
hasil pemeriksaan khusus yang terkait DM
Pola makan, status nutrisi, dan riwayat perubahan berat badan
Riwayat tumbuh kembang pada pasien anak/dewasa muda
Pengobatan yang pernah diperoleh sebelumnya secara lengkap, termasuk
terapi gizi medis dan penyuluhan yang telah diperoleh tentang perawatan DM
secara mandiri, serta kepercayaan yang diikuti dalam bidang terapi kesehatan
Pengobatan yang sedang dijalani, termasuk obat yang digunakan, perencanaan
makan dan program latihan jasmani
Riwayat komplikasi akut (ketoasidosis diabetik, hiperosmolar hiperglikemia,
dan hipoglikemia)
Riwayat infeksi sebelumnya, terutama infeksi kulit, gigi, dan traktus
urogenitalis serta kaki
Gejala dan riwayat pengobatan komplikasi kronik (komplikasi pada ginjal,
mata, saluran pencernaan, dll.)
Pengobatan lain yang mungkin berpengaruh terhadap glukosa darah
Faktor risiko: merokok, hipertensi, riwayat penyakit jantung koroner, obesitas,
dan riwayat penyakit keluarga (termasuk penyakit DM dan endokrin lain)
Riwayat penyakit dan pengobatan di luar DM
Pola hidup, budaya, psikososial, pendidikan, dan status ekonomi
Kehidupan seksual, penggunaan kontrasepsi, dan kehamilan.
Pemeriksaan Fisik
Pengukuran tinggi badan, berat badan, dan lingkar pinggang
Pengukuran tekanan darah, termasuk pengukuran tekanan darah dalam posisi
berdiri untuk mencari kemungkinan adanya hipotensi ortostatik, serta
anklebrachial index (ABI), untuk mencari kemungkinan penyakit pembuluh
darah arteri tepi
Pemeriksaan funduskopi
Pemeriksaan rongga mulut dan kelenjar tiroid
Pemeriksaan jantung
Evaluasi nadi, baik secara palpasi maupun dengan stetoskop
Pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah, termasuk jari
Pemeriksaan kulit (acantosis nigrican dan bekas tempat penyuntikan insulin)
dan pemeriksaan neurologis
Tanda-tanda penyakit lain yang dapat menimbulkan DM tipe-lain
Evaluasi Laboratoris / penunjang lain
Glukosa darah puasa dan 2 jam post prandial
A1C
Profil lipid pada keadaan puasa (kolesterol total, HDL, LDL, dan trigliserida)
Kreatinin serum
Albuminuria
Keton, sedimen, dan protein dalam urin
Elektrokardiogram
Foto sinar-x dada

2.5.3. Langkah-Langkah Penatalaksanaan DM
Pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani
selama beberapa waktu (2-4 minggu). Apabila kadar glukosa darah belum mencapai
sasaran, dilakukan intervensi farmakologis dengan obat hipoglikemik oral (OHO) dan
atau suntikan insulin. Pada keadaan tertentu, OHO dapat segera diberikan secara
tunggal atau langsung kombinasi sesuai indikasi. Dalam keadaan dekompensasi
metabolik berat, misalnya ketoasidosis, stres berat, berat badan yang menurun dengan
cepat, dan adanya ketonuria, insulin dapat segera diberikan. (PERKENI,2011)
1. Edukasi
Diabetes tipe 2 umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan perilaku
telah terbentuk dengan mapan. Pengelolaan diabetes memerlukan partisipasi aktif
pasien, keluarga dan masyarakat. Tim kesehatan mendampingi pasien dalam menuju
perubahan pola hidup sehat. Untuk mencapai keberhasilan perubahan pola hidup
sehat, dibutuhkan edukasi yang komprehensif dan upaya peningkatan motivasi.
Pasien diberikan pengetahuan tentang pemantauan glukosa darah mandiri, pengenalan
tanda dan gejala hipoglikemia serta cara mengatasinya.
2. Terapi Nutrisi Medis
Terapi Nutrisi Medis (TNM) merupakan bagian dari penatalaksanaan
diabetes secara total. Kunci keberhasilan TNM adalah keterlibatan secara menyeluruh
dari anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan yang lain serta pasien dan
keluarganya). Setiap penderita diabetes sebaiknya mendapat TNM sesuai dengan
kebutuhan yang menekankan pentingnya keteraturan jadwal makan, jenis, dan jumlah
makanan, terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau
insulin.
A. Komposisi makanan yang dianjurkan
Karbohidrat
Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-65% total asupan energi dengan
pembatasan karbohidrat total <130 g/hari. Pemanis alternatif seperti isomalt, lactitol,
maltitol, mannitol, sorbitol dan xylitol dapat digunakan sebagai pengganti gula, asal
tidak melebihi batas aman konsumsi harian (Accepted Daily Intake). Pengaturan pola
makan tiga kali sehari diharuskan pada penderita DM dan dapat diberikan makanan
selingan buah atau makanan lain sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.

Lemak
Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori dan tidak
diperkenankan melebihi 30% total asupan energi. Bahan makanan yang perlu dibatasi
adalah yang banyak mengandung lemak jenuh dan lemak trans antara lain: daging
berlemak dan susu penuh (whole milk). Anjuran konsumsi kolesterol < 200 mg/hari.
Protein
Dibutuhkan sebesar 10 20% total asupan energi. Sumber protein yang baik
adalah seafood (ikan, udang, cumi, dll), daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk
susu rendah lemak, kacang-kacangan, tahu, dan tempe.
Natrium
Anjuran asupan natrium untuk penderita diabetes sama dengan anjuran untuk
masyarakat umum yaitu tidak lebih dari 3000 mg atau sama dengan 6-7 gram (1
sendok teh) garam dapur namun untuk penderita hipertensi, pembatasan natrium
sampai 2400 mg garam dapur.
Serat
Penderita diabetes dianjurkan mengonsumsi cukup serat yang terdiri dari kacang-
kacangan, buah, dan sayuran serta sumber karbohidrat yang tinggi serat, karena
mengandung vitamin, mineral, serat, dan bahan lain yang baik untuk kesehatan
dengan anjuran konsumsi serat adalah 25 g/hari.
B. Kebutuhan kalori
Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan
penderita diabetes. Di antaranya adalah dengan memperhitungkan kebutuhan kalori
basal yang besarnya 25-30 kalori/kgBB ideal, ditambah atau dikurangi bergantung
pada beberapa faktor seperti: jenis kelamin, umur, aktivitas, berat badan, dll.
Perhitungan berat badan Ideal (BBI) dengan rumus Brocca yang dimodifikasi adalah
sbb:
Berat badan ideal = 90% x (TB dalam cm - 100) x 1 kg.
Bagi pria dengan tinggi badan di bawah 160 cm dan wanita di bawah 150 cm,
rumus dimodifikasi menjadi :
Berat badan ideal (BBI) = (TB dalam cm - 100) x 1 kg.
BB Normal : BB ideal 10 %
Kurus : < BBI - 10 %
Gemuk : > BBI + 10 %
Perhitungan berat badan ideal menurut Indeks Massa Tubuh (IMT).
Indeks massa tubuh dapat dihitung dengan rumus:


Klasifikasi IMT*
BB Kurang < 18,5
BB Normal 18,5-22,9
BB Lebih 23,0
- Dengan risiko 23,0-24,9
- Obes I 25,0-29,9
- ObesII > 30
*WHO WPR/IASO/IOTF dalam The Asia-Pacific Perspective: Redefining Obesity and its Treatment.

Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain :
1. Jenis Kelamin
Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria. Kebutuhan kalori
wanita sebesar 25 kal/kg BB dan untuk pria sebesar 30 kal/ kg BB.
2. Umur
Untuk pasien usia di atas 40 tahun, kebutuhan kalori dikurangi 5% untuk
dekade antara 40 dan 59 tahun, dikurangi 10% untuk dekade antara 60 dan 69
tahun dan dikurangi 20%, di atas usia 70 tahun.
3. Aktivitas Fisik atau Pekerjaan
Kebutuhan kalori dapat ditambah sesuai dengan intensitas aktivitas fisik.
Penambahan sejumlah 10% dari kebutuhan basal diberikan pada kedaaan
istirahat, 20% pada pasien dengan aktivitas ringan, 30% dengan aktivitas
sedang, dan 50% dengan aktivitas sangat berat.
4. Berat Badan

Bila kegemukan dikurangi sekitar 20-30% tergantung kepada tingkat
kegemukan.Bila kurus ditambah sekitar 20-30% sesuai dengan kebutuhan untuk
meningkatkan BB. Untuk tujuan penurunan berat badan jumlah kalori yang diberikan
paling sedikit 1000-1200 kkal perhari untuk wanita dan 1200-1600 kkal perhari untuk
pria.
Makanan sejumlah kalori terhitung dengan komposisi tersebut di atasdibagi
dalam 3 porsi besar untuk makan pagi (20%), siang (30%), dan sore (25%), serta 2-3
porsi makanan ringan (10-15%) di antaranya. Untuk meningkatkan kepatuhan pasien,
sejauh mungkin perubahan dilakukan sesuai dengan kebiasaan. Untuk penderita
diabetes yangmengidap penyakit lain, pola pengaturan makan disesuaikan
denganpenyakit penyertanya. (PERKENI,2011)

3. Latihan jasmani
Dianjurkan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu) selama kurang
lebih 30 menit,sifatnya sesuai CRIPE (Continuous, Rhithmical, Interval, Progressive
training). Sedapat mungkin mencapai zona sasaran 75-85 % denyut nadi maksimal
(220/umur), disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penyakit penyerta. Sebagai
contoh olahraga ringan adalah berjalan kaki biasa selama 30 menit, olahraga sedang
adalah berjalan selama 20 menit dan olahraga berat misalnya joging. (Sudaryono et.al
2006)

4. Terapi farmakologis
Terapi farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan makan dan
latihan jasmani (gaya hidup sehat). Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan
bentuk suntikan.





1. Obat hipoglikemik oral
Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 5 golongan:
A. Pemicu Sekresi Insulin
1. Sulfonilurea
Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh
sel beta pankreas, dan merupakanpilihan utama untuk pasien dengan berat badan
normal dan kurang. Namun masih boleh diberikan kepada pasien dengan berat badan
lebih. Untuk menghindari hipoglikemia berkepanjangan pada berbagai keadaaan
seperti orang tua, gangguan faal ginjal dan hati, kurang nutrisi serta penyakit
kardiovaskular, tidak dianjurkan penggunaan sulfonilurea kerja panjang.
2. Glinid
Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea, dengan
penekanan pada peningkatan sekresi insulin fase pertama. Golongan ini terdiri dari 2
macam obat yaitu Repaglinid (derivat asam benzoat) dan Nateglinid (derivat
fenilalanin). Obat ini diabsorpsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan
diekskresi secara cepat melalui hati. Obat ini dapat mengatasi hiperglikemia post
prandial.
B. Peningkat sensitivitas terhadap insulin
Tiazolidindion
Tiazolidindion (pioglitazon) berikatan pada Peroxisome Proliferator Activated
Receptor Gamma (PPAR-g), suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak. Golongan
ini mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah
protein pengangkut glukosa, sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer.
Tiazolidindion dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung kelas I-IV
karena dapat memperberat edema/retensi cairan dan juga pada gangguan faal hati.
Pada pasien yang menggunakan tiazolidindion perlu dilakukan pemantauan faal hati
secara berkala



C. Penghambat glukoneogenesis
Metformin
Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati
(glukoneogenesis), di samping juga memperbaiki ambilan glukosa perifer. Terutama
dipakai pada penderita diabetes gemuk. Metformin dikontraindikasikan pada pasien
dengan gangguan fungsi ginjal (serum kreatinin >1,5 mg/dL) dan hati, serta pasien
pasien dengan kecenderungan hipoksemia (misalnya penyakit serebro-vaskular,
sepsis, renjatan, gagal jantung). Metformin dapat memberikan efek samping mual.
Untuk mengurangi keluhan tersebut dapat diberikan pada saat atau sesudah makan.
Selain itu harus diperhatikan bahwa pemberian metformin secara titrasi pada awal
penggunaan akan memudahkan dokter untuk memantau efek samping obat tersebut.
D. Penghambat Glukosidase Alfa (Acarbose)
Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa diusus halus, sehingga
mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan. Acarbose tidak
menimbulkan efek samping hipoglikemia. Efek samping yang paling sering
ditemukan ialah kembung dan flatulens.
E. DPP-IV inhibitor
Glucagon-like peptide-1 (GLP-1) merupakan suatu hormone peptida yang dihasilkan
oleh sel L di mukosa usus. Peptida ini disekresi oleh sel mukosa usus bila ada
makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan. GLP-1 merupakan perangsang
kuat penglepasan insulin dan sekaligus sebagai penghambat sekresi glukagon.

2. Insulin
Insulin diperlukan pada keadaan:
Penurunan berat badan yang cepat
Hiperglikemia berat yang disertai ketosis
Ketoasidosis diabetik
Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik
Hiperglikemia dengan asidosis laktat
Gagal dengan kombinasi OHO dosis optimal
Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, IMA, stroke)
Kehamilan dengan DM/diabetes melitus gestasional yang tidak terkendali dengan
perencanaan makan
Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat
Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO
Jenis dan lama kerja insulin
Berdasar lama kerja, insulin terbagi menjadi empat jenis, yakni:
Insulin kerja cepat (rapid acting insulin)
Insulin kerja pendek (short acting insulin)
Insulin kerja menengah (intermediate acting insulin)
Insulin kerja panjang (long acting insulin)


Efek samping terapi insulin
Efek samping utama terapi insulin adalah terjadinya hipoglikemia.
Efek samping yang lain berupa reaksi imunologi terhadap insulin yang dapat
menimbulkan alergi insulin atau resistensi insulin.
3. Terapi Kombinasi
Pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah, untuk
kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan respons kadar glukosa darah.
Bersamaan dengan pengaturan diet dan kegiatan jasmani, bila diperlukan dapat
dilakukan pemberian OHO tunggal atau kombinasi OHO sejak dini. Terapi dengan
OHO kombinasi (secara terpisah ataupun fixed-combination dalam bentuk tablet
tunggal), harus dipilih dua macam obat dari kelompok yang mempunyai mekanisme
kerja berbeda. Bila sasaran kadar glukosa darah belum tercapai, dapat pula diberikan
kombinasi tiga OHO dari kelompok yang berbeda atau kombinasi OHO dengan
insulin. Pada pasien yang disertai dengan alasan klinis di mana insulin tidak
memungkinkan untuk dipakai, terapi dengan kombinasi tiga OHO dapat menjadi
pilihan. Untuk kombinasi OHO dan insulin, yang banyak dipergunakan adalah
kombinasi OHO dan insulin basal (insulin kerja menengah atau insulin kerja panjang)
yang diberikan pada malam hari menjelang tidur. Dengan pendekatan terapi tersebut
pada umumnya dapat diperoleh kendali glukosa darah yang baik dengan dosis insulin
yang cukup kecil. Dosis awal insulin kerja menengah adalah 6-10 unit yang diberikan
sekitar jam 22.00, kemudian dilakukan evaluasi dosis tersebut dengan menilai kadar
glukosa darah puasa keesokan harinya. Bila dengan cara seperti di atas kadar glukosa
darah sepanjang hari masih tidak terkendali, maka OHO dihentikan dan diberikan
terapi kombinasi insulin. (PERKENI,2011)

2.6. Komplikasi
2.6.1. Komplikasi Metabolik Akut
Komplikasi metabolik diabetes disebabkan oleh perubahan yang relatif akut
darikonsentrasi glukosa plasma. Komplikasi metabolik yang paling serius pada
diabetes adalah:
A. Ketoasidosis Diabetik (DKA).
Merupakan komplikasi metabolik yang paling serius pada DM . Hal ini terjadi
karena kadar insulin sangat menurun, dan pasien akan mengalami hal berikut: (Boon
et.al 2006)
Hiperglikemia
Hiperketonemia
Asidosis metabolik
B. Hiperglikemia, Hiperosmolar, Koma Nonketotik (HHNK)
Komplikasi metabolik akut lain dari diabetes yang sering terjadi pada penderita
diabetes tipe 2 yang lebih tua. Bukan karena defisiensi insulin absolut, namun
relatif,hiperglikemia muncul tanpa ketosis. Ciri-ciri HHNK adalah sebagai berikut:
(Price et.al 2005)
Hiperglikemia berat dengan kadar glukosa serum > 600 mg/dl.
Dehidrasi berat
Uremia
Pasien dapat menjadi tidak sadar dan meninggal bila keadaan ini tidak segera
ditangani. Angka mortalitas dapat tinggi hingga 50%. Perbedaan utama antara
HHNKdan DKA adalah pada HHNK tidak terdapat ketosis.
C. Hipoglikemia (reaksi insulin, syok insulin)
Hipoglikemia adalah keadaan klinik gangguan saraf yang disebabkan
penurunan glukosa darah. Gejala ini dapat ringan berupa gelisah sampai berat berupa
koma dengan kejang. Penyebab tersering hipoglikemia adalah obat-obatan
hipoglikemik oral golongan sulfonylurea khususnya glibenklamid meskipun
hipoglikemia sering pula terjadi pada pengobatan dengan insulin, tetapi biasanya
ringan. Kejadian ini sering timbul karena pasien tidak memperlihatkan atau belum
mengetahui pengaruh beberapa perubahan pada tubuhnya. (Soegondo,2005)
Tanda hipoglikemia mulai timbul bila glukosa darah < 50 mg/dl, meskipun
reaksi hipoglikemia bisa didapatkan pada kadar glukosa darah yang lebih tinggi.
Tanda klinis dari hipoglikemia sangat bervariasi dan berbeda pada setiap orang.
(Soegondo, 2005)
Tanda-tanda Hipoglikemia:
1) Stadium parasimpatik: lapar, mual, tekanan darah turun.
2) Stadium gangguan otak ringan: lemah, lesu, sulit bicara, kesulitan menghitung
sederhana.
3) Stadium simpatik: keringat dingin pada muka terutama di hidung,bibir atau tangan,
berdebar-debar.
4) Stadium gangguan otak berat: koma dengan atau tanpa kejang.
Keempat stadium hipoglikemia ini dapat ditemukan pada pemakaian obat oralataupun
insulin.
2.6.2. Komplikasi Kronik Jangka Panjang
A. Mikrovaskular
Retinopati : penurunan penglihatan
Nefropati : gagal ginjal
Neuropati perifer : hilang rasa, kesemutan
Neuropati autonomik : gastroparesis
Kelainan pada kaki : ulserasi, gangren
B. Makrovaskular
Sirkulasi koroner :iskemi miokardial/infark miokard
Sirkulasi serebral :transient ischaemic attack, stroke
Sirkulasi : Deep Vein Thrombosis, Acute Limb Ischemic

2.7. Prognosis
Prognosis pada penderita diabetes tipe 2 bervariasi. Namun prognosisnya dapat baik
apabila pasien bisa memodifikasi (meminimalkan) risiko timbulnya komplikasi.
Serangan jantung , stroke, dan kerusakan saraf dapat terjadi. Beberapa orang dengan
diabetes mellitus tipe 2 menjadi tergantung pada hemodialisa akibat kompilkasi gagal
ginjal.
2.8.Pencegahan
Strategi pencegahan
Dalam menyelenggarakan upaya pencegahan ini diperlukan suatu strategi yang
efisien dan efektif untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Seperti juga pada
pencegahan penyakit menular, ada 2 macam strategi untuk dijalankan, antara lain
(Suyono, 2006):

1. Pendekatan populasi/masyarakat
Semua upaya yang bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat umum.
Yang dimaksud adalah mendidik masyarakat agar menjalankan cara hidup berisiko.
Upaya ini ditujukan tidak hanya untuk mencegah diabetes tetapi juga untuk mencegah
penyakit lain sekaligus. Upaya ini sangat berat karena target populasinya sangat luas,
oleh karena itu harus dilakukan tidak saja oleh profesi tetapi harus oleh segala lapisan
masyarakat termasuk pemerintah dan swasta (LSM, pemuka masyarakat dan agama).
2. Pendekatan individu berisiko tinggi
Semua upaya pencegahan yang dilakukan pada individu-individu yang berisiko
untuk menderita penyakit diabetes pada suatu saat kelak. Pada golongan ini termasuk
individu yang: berumur >40th, gemuk, hipertensi, riwayat keluarga DM, riwayat
melahirkan >4kg, riwayat DM pada saat kehamilan, dislipidemia.














BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien
Nama : Ny. Juhaeni Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 56 tahun Agama : Islam
Status Perkawinan : Menikah Pekerjaan : IRT
Pendidikan : SMA ( tamat)
Alamat : Gp. Menara

3.2 Anamnesis
Keluhan Utama:
Jari-jari tangan dan kaki terasa kebas.
Keluhan Tambahan:
Sering terbangun untuk BAK pada malam hari, lemas, penglihatan mulai
kabur.
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke poli umum puskesmas Jaya Baru dengan keluhan jari-jari
tangan dan kaki terasa kebas. Kebas dirasakan semenjak 3 bulan terakhir dan
memberat dalam 2 hari terakhir. Pasien juga mengeluhkan sering terbangun hingga 5-
6 kali di malam hari untuk BAK. pasien merasa lemas, pusing dan penglihatan
bertambah kabur. Kadar gula darah sewaktu mencapai 295 mmol/L.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien sudah menderita diabetes mellitus sejak 5 tahun yang lalu. Riwayat hpertensi
disangkal, riwayat kolesterol disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga
Ayah dan saudara kandung pasien menderita Diabetes Mellitus
Riwayat Penggunaan Obat
Metformin 3x500mg, Glimepirid 2x2mg

Riwayat Kebiasaan Sosial
Pasien mengaku suka mengonsumsi makanan tinggi lemak, makanan manis-manis,
jarang berolahraga. Riwayat merokok disangkal. Pasien sudah tidak mengalami
menstruasi selama 5 tahun.
Faktor Risiko Yang Tidak Dapat Dimodifikasi
- Usia 56 tahun
- Jenis kelamin
- Menopause
- Genetik (faktor keturunan)
Faktor Risiko Yang Dapat Dimodifikasi
- Makan makanan berlemak dan manis
- Jarang berolahraga
- Obesitas

3.4 Pemeriksaan fisik
a. Status Present
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 88 x/menit, reguler
Frekuensi Nafas : 18 x/menit
Temperatur : 36.6
0
C (aksila)
b. Status General
Kulit
Warna : Sawo matang
Turgor : cepat kembali
Ikterus : (-)
Anemia : (-)
Sianosis : (-)
Kepala
Bentuk : Kesan Normocephali
Rambut : Tersebar rata, Sukar dicabut, Berwarna putih.
Mata : Cekung (-), Refleks cahaya (+/+), Sklera ikterik (-/-),
Conj.palpebra inf pucat (-/-)
Telinga : Sekret (-/-), Perdarahan (-/-)
Hidung : Sekret (-/-), Perdarahan (-/-)
Mulut
Bibir : Pucat (-), Sianosis (-)
Gigi Geligi : Karies (+), gigi tanggal (+)
Lidah : Beslag (-), Tremor (-)
Mukosa : Basah (+)
Tenggorokan : Tonsil dalam batas normal
Faring : Hiperemis (-)
Leher
Bentuk : Kesan simetris
Kel. Getah Bening : Kesan simetris, Pembesaran (-)
Peningkatan TVJ : (-), R - 2 cmH
2
O
Axilla
Pembesaran KGB (-)
Thorax
Thorax depan dan belakang
1. Inspeksi
Bentuk dan Gerak : Normochest, pergerakan simetris
Tipe Pernafasan : Thoracal Abdominal
Retraksi : (-)
2. Palpasi
- Pergerakan dada simetris
- Nyeri tekan (-/-)
- Suara fremitus taktil kanan = suara fremitus taktil kiri
3. Perkusi
- Sonor (+/+)
4. Auskultasi
Vesikuler (-/-), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Jantung
Inspeksi : Ictus Cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus Cordis teraba di ICS V Linea Mid Axilaris Sinistra
Perkusi : Batas jantung atas : di ICS III
Batas jantung kanan : di Linea Parasternal Dextra
Batas jantung kiri : di ICS V linea mid axilaris sinistra.
Auskultasi : BJ I > BJ II di katup mitral, regular, bising (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : Distensi (-)
Palpasi : Soepel (+), Nyeri tekan (-) Undulasi (-)
Hepar/ Lien/ Renal tidak dapat diraba
Perkusi : Timpani (+), Shifting dullness (-) undulasi (-)
Auskultasi : Peristaltik usus melemah
Genetalia : tidak dilakukan pemeriksaan
Ekstremitas
Ekstremitas Superior Inferior
Kanan Kiri Kanan Kiri
Sianotik - - - -
Edema - - - -
Ikterik - - - -
Gerakan Aktif Aktif Aktif Aktif
Tonus otot Normotonus Normotonus Normotonus Normotonus
Sensibilitas N N N N
Atrofi otot - - - -
Akral Dingin - - - -



3.4. Terapi
a. Metformin
Indikasi:
- Pengobatan penderita diabetes yang baru terdiagnosis setelah dewasa,
dengan atau tanpa kelebihan berat badan dan bila diet tidak berhasil.
- Sebagai kombinasi terapi pada penderita yang tidak responsif terhadap
terapi tunggal sulfonilurea baik primer ataupun sekunder.
- Sebagai obat pembantu untuk mengurangi dosis insulin apabila
dibutuhkan.
Farmakologi:
Metformin adalah zat antihiperglikemik oral golongan biguanid untuk
penderita diabetes militus tanpa ketergantungan terhadap insulin.
Mekanisme kerja metformin yang tepat tidak jelas, walaupun demikian
metformin dapat memperbaiki sensitivitas hepatik dan periferal terhadap
insulin tanpa menstimulasi sekresi insulin serta menurunkan absorpsi
glukosa dari saluran lambung-usus. Metformin hanya mengurangi kadar
glukosa darah dalam keadaan hiperglikemia serta tidak menyebabkan
hipoglikemia bila diberikan sebagai obat tunggal. Metformin tidak
menyebabkan pertambahan berat badan bahkan cendrung dapat
menyebabkan kehilangan berat badan.
Dosis:
Metformin harus diberikan bersama dengan makanan atau sesudah makan
dalam dosis yang terbagi.
Tablet 500 mg :
Dosis: 3 x sehari 1 tablet
Tablet 850 mg :
Dosis awal: 1 x sehari 1 tablet (pagi)
Dosis pemeliharaan: 2 x sehari 1 tablet (pagi dan malam)

3. 6. Prognosis
Prognosis yang diharapkan terjadi pada pasien ini tergantung dari dukungan
keluarga dan keadaan sekitar. Kesembuhan dari penyakit tidak hanya dilihat dari
penyakit sebagai hal yang biologis, tetapi menempatkan manusia juga ke dalam aspek
psikologis dan sosial. Oleh karena itu, pola kehidupan biologis, psikologis dan social
yang seimbang akan sangat membantu menentukan prognosis yang baik pada pasien
ini.

3.7 Keadaan Biologis Keluarga
Yang dinilai ialah :
a. Keadaan Kesehatan Sekarang : baik
Keadaan kesehatan keluarga saat ini dinilai cukup baik.
b. Kebersihan perorangan
Kebersihan merupakan faktor penting dalam kesehatan seseorang. Kebersihan
perorangan akan membawa kepada kebersihan satu anggota keluarga. Kebersihan
perorangan dinilai baik. Dlihat dari cara berpakaian, kebersihan yang tampak dari
penampilan keluarga.
c. Penyakit yang Sering Diderita
Penyakit yang sering diderita hanyalah penyakit ringan dan dapat sembuh dengan
sendirinya (self limited). Biasanya gejala dapat hilang dengan beristirahat ataupun
obat yang dibeli di warung setempat. Penyakit yang biasa diderita ialah pusing
dan diare.
d. Penyakit Keturunan
Penyakit yang diturunkan hanya diabetes mellitus.
e. Penyakit Kronis/menular
Tidak didapatkan riwayat adanya penyakit menular ataupun kronis yang
didapatkan pada anamnesis yang dilakukan.
f. Kecacatan Anggota Keluarga
Tidak terdapat adanya kecacatan pada setiap anggota keluarga.
g. Pola Makan
Pola makan pada keluarga sedang. Terdapat pengaturan pola makan yang
diberikan oleh dokter kepada pasien. Akan tetapi hal ini tidak dapat dituruti oleh
pasien. Hal ini tentu kurang baik untuk kondisi kesehatan pasien. Hal ini
dikarenakan kurangnya dukungan keluarga karena merasa repot dengan
pengaturan pola makan.
h. Pola Istirahat
Pola istirahat dirasakan cukup baik. Terutama bagi pasien, karena memiliki
pembantu dan tidak bekerja maka banyak waktu luang bagi pasien untuk
beristirahat. Anggota keluarga lainnya juga memiliki pola istirahat yang cukup.

3.8 Psikologis keluarga
a. Kebiasaan Buruk
Kebiasaan buruk pernah dilakukan oleh pasien yaitu suka mengonsumsi makanan
manis-manis dan tinggi lemak. Namun pasien sulit meninggalkan pola hidup
tersebut walau sudah mengidap DM.
b. Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan dilakukan dengann diskusi atau demokratis. Tidak
adanya pemaksaan kehendak dari orang tua kepada anak dan sebaliknya.
c. Ketergantungan Obat
Tidak terdapat ketergantungan obat baik yang terlarang maupun obat yang dijual
bebas di pasaran.
d. Tempat Mencari Pelayanan Kesehatan
Sebagai istri dari pegawai negri sipil, pasien memiliki askes untuk berobat di
rumah sakit. Akan tetapi bila sakit ringan, pasien mencari pertolongan pertama
pada puskesmas ataupun klinik 24 jam dekat dengan hunian pasien.




BAB IV
PEMBAHASAN

Strategi penyelesaian masalah pasien ini
4.1. Peranan keluarga dalam mengobati penyakit pasien:
Peran keluarga sudah cukup baik terutama pasien yang sering diingatkan
agar tidak mengkonsumsi obat sembarangan, istirahat teratur, makan
dikontrol, dan tidak lupa untuk minum obat.
Peran lainnya ialah dengan mengontrol pola makan pasien yang terkadang
sulit mengikuti anjuran diet dari dokter. Akan tetapi terkadang sulit untuk
menyesuaikan jenis makanan pasien dengan keluarga lainnya. Hal inilah
yang menjadi kendala.
Keadaan sosial-ekonomi pasien dalam penyembuhan penyakit, sudah baik
karena ada usaha untuk kondisi pasien yang baik pernah berobat ke rumah
sakit. Pasien memiliki asuransi kesehatan dari pemerintah karena memiliki
suami yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Pasien dan keluarga
memiliki kesadaran untuk memeriksakan diri secara tepat dan tidak
menunda penyakit sampai parah. Keadaan sosialisasi pasien dengan
kerabat masyarakat sekitar cukup baik. Hal ini dapat menjadi salah satu
faktor positif bagi kesehatan pasien. Pasien memiliki kegiatan organisasi
sebagai ketua RT sehingga membuatnya cukup dikenal di masyarakat.

4.2.Penjelasan kepada pasien dan keluarga:
4.2.1. Tentang penyakitnya
Diabetes mellitus merupakan penyakit yang dapat diturunkan. Oleh
karena itu, penting untuk mengetahui dan mencegahnya. Meski kadang dilihat
sebelah mata oleh pasien, diabetes memiliki berbagai komplikasi yang cukup
mengganggu. Diabetes meliputi multi system yaitu saraf, gastrointestinal dan
lainnya. Maka dari itu, sedikit keluhan yang dirasakan oleh pasien harus
diwaspadai sedini mungkin dengan memeriksakan diri ke puskesmas atau
pelayanan kesehatan lainnya. Yang terpenting dalam pengobatan diabetes
adalah membuat kadar gula darah terkontrol, tidak melebihi batas normal.
Semakin tinggi angka, maka lebih banyak komplikasinya.

4.2.1.1.Tentang upaya pengendaliannya
Yang terpenting dalam pengendalian yang dilakukan ialah
mengkonsumsi oabt-obatan yang diberi oleh dokter. Pengendalian terpenting
dalam diabetes mellitus ialah pengendalian pola makan. Mengurangi
karbohidrat, makanan yang asin, berlemak dan manis. Upaya pengendalian
dari dalam diri pasien sendiri sudah cukup baik yaitu dengan menghentikan
kebiasaan merokok dan konsumsi alcohol sejak sakit. Diperlukan juga
olahraga ringan demi menjaga kebugaran. Tetapi perlu diperhatikan
keamanannya karena pernah mengalami riwayat jatuh.
4.2.1.2.Peran keluarga
Peran keluarga sangat besar khususnya istri, karena setiap saat
bersama dibandingkan anak-anak yang telah bekerja. Peran keluarga sudah
baik, terlihat saat melakukan kunjungan sang anak memperhatikan pasien
dengan mengunjungi dokter untuk berkonsultasi. Selain itu, pengawasann
terhadap konsumsi obat telah dilakukan dengan baik.

4.2.1.3.Cara Makan Obat
Dikarenakan banyaknya obat yang diberikan, maka perlu diatur jadwal
konsumsi oabt sehingga menjadi teratur. Obat yang diberikan ada 4 buah.
Akan tetapi yang rutin diminum hanya beberapa yaitu metformin, glimepiride,
statin dan vitamin B6. Diperlukan pengawasan dari anggota keluarga sehingga
pasien mengkonsumsi obat secara teratur.
4.2.1.4.Diet yang Harus Dilakukan
Diet merupakan hal penting dalam management diabetes mellitus tipe
2 yaitu ABC ( A1c, blood pressure dan kolesterol). Yang harus dipantau ialah
AiC karena untuk mengetahui keseimbangan masukan makanan, aktivitas
fisik dan obat yang diberikan. Diet yang baik diperlukan agar diabetes
menjadi terkontrol. Akan tetapi perlu didukung oleh faktor lainnya seperti
aktivitas fisik dan dosis obat yang tepat. Hal ini diperlukan untuk mengontrol
kadar gula darah dan mengurangi resiko komplikasi dari diabetes. Selain itu
diperlukan pula untuk memantau berat badan.
Diet yang tepat ialah makan dengan konsisten, sedikit namun sering.
Pasien yang mengkonsumsi obat diabetes oral lebih fleksibel dalam mengatur
waktu makan. Banyak pasien DM tipe 2 memiliki berat berlebih, sehingga
mengurangi sebagian kecil dari ebrat badan akan menyebabkan insulin lebih
efektif. Dilakukan dengan makan rendah kalori. Biasanya pengurangan berat
yang aman dilakukan ialah setengah sampai 1 kg per miggu yaitu dengan
mengurangi 500-1000 kalori dari total kalori. Selain itu, makan buah dan
sayur sehingga banyak terkandung vitamin.

4.2.1.5.Olahraga yang dilakukan dan caranya
Aktivitas fisik dapat membantu untuk menurunkan berat badan dan
menjaganya. Aktivitas yang dilakukan juga harus ringan sehingga mengurangi
resiko hipoglikemia. Apabila dirasakan mulai lemas sebagai tanda penurunan
kadar gula darah, maka konsumsi sedikit makanan untuk menjaga. Olahraga
yang dapat dilakukan ialah senam kesegaran, jalan pagi santai. Olahraga tidak
harus berat dan lama tetapi rutin dilakukan. Disamping itu juga diperlukan
menjaga keamanan saat berolahraga.
o Berolahraga teratur dapat menyerap dan menghilangkan endapan
kolesterol pada pembuluh nadi. Olah raga yang dimaksud adalah gerak
jalan, berenang, naik sepeda dan tidak dianjurkan melakukan olah raga
yang menegangkan seperti tinju, gulat atau angkat besi (sesuai
kemampuan dan ekonomi pasien) karena latihan yang berat dapat
menimbulkan hipertensi.
o Merangkai hidup yang positif. Hal ini dimaksudkan agar seseorang
mengurangi tekanan atau beban stres dengan cara mengeluarkan isi hati
dan memecahkan masalah yang mengganjal dalam hati. Komunikasi
dengan orang dapat membuat hati menjadi lega dan dari sini dapat timbul
ide untuk menyelesaikan masalah.
o Latihan relaksasi atau meditasi berguna untuk mengurangi stres atau
ketegangan jiwa. Kendorkan otot tubuh sambil membayangkan sesuatu
yang damai dan menyenangkan, mendengarkan musik dan bernyanyi
sehingga mengurangi respons susunan saraf pusat melalui penurunan
aktivitas simpatetik sehingga tekanan darah dapat diturunkan.

4.4 Menjelaskan pada pasien dan atau keluarga tentang masalahnya
Menjelaskan bahwa penyakitnya dapat/tidak dapat dikendalikan
terutama oleh pasien sendiri: menjelaskan kepada pasien bahwa diabetes
merupakan penyakit yang dapat dikendalikan. Jika dilakukan pencegahan,
penatalaksanaan, pengontrolan, pola hidup sehat, dan managemen yang baik
terhadap hipertensi ini maka segala resiko komplikasi dapat dicegah dengan
terkontrolnya tekanan darah.
Menjelaskan pada pasien upaya selain obat-obatan yang harus
diminum, seperti olahraga, PHBS: selain obat hipertensi juga diperlukan
meminum air putih yang cukup, minum susu, jus (utama buah), olahraga
secara teratur; minimal gerak jalan, bersepeda, PHBS.
Komplikasi yang dapat dialami meliputi :
Zat kompleks yang terdiri dari gula di dalam dinding pembuluh darah
menyebabkan pembuluh darah menebal dan mengalami kebocoran. Akibat
penebalan ini maka aliran darah akan berkurang, terutama yang menuju ke
kulit dan saraf. Kadar gula darah yang tidak terkontrol juga cenderung
menyebabkan kadar zat berlemak dalam darah meningkat, sehingga
mempercepat terjadinya aterosklerosis (penimbunan plak lemak di dalam
pembuluh darah). Aterosklerosis ini 2-6 kali lebih sering terjadi pada
penderita diabetes.

4.5 Menjelaskan upaya pencegahan penyakit ini
4.5.1. Dari aspek Pribadi (pasien):
Pola hidup sehat
Memeriksa diri secara rutin, terutama kadar gula darah dan tekanan darah
Mengkonsumsi obat secara rutin,
Berolah raga sesuai anjuran,
Melakukan diet sesuai anjuran,
Mengurangi dan menghindari hal yang dapat meningkatkan resiko seperti:
merokok, alkohol, kopi,obat-obatan dan menjaga kondisi tubuh.

4.5.2. Dari aspek keluarga:
Memantau pasien dalam meminum obat
Mengingatkan pasien atas resiko dan bahaya komplikasi yang dapat timbul
Mengawasi pasien atas gaya hidupnya
Selalu dengan sabar dan kontinu memantau kesehatan pasien
Menjadi tempat komunikasi jika pasien merasakan sesuatu yang tidak nyaman
pada dirinya, sehingga hal yang tidak diinginkan dapat terhindar dan segera
cepat mendapat penanganan secara cepat
Mengingatkan agar selalu kontrol kesehatan ke tempat pelayanan kesehatan,
dll

4.5.3. Dari aspek masyarakat:
Adanya sosialisasi/penyuluhan dari petugas kesehatan tentang hipertensi pada
masyarakat setempat.
Menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan, dengan lingkungan yang asri
maka risiko stress turun dan akan menurunkan terjadinya hipertensi karena
stress.