Anda di halaman 1dari 18

Fany Ervansyah (12)

XI IPA E
Pengertian
Menurut bahasa, mencuri (sariqah) adalah
mengambil sesuatu yang bukan miliknya
secara sembunyi-sembunyi.
Adapun menurut istilah, mencuri adalah
mengambil harta yang terjaga dan
mengeluarkan dari tempat penyimpanannya
tanpa ada kerancuan (syubhat; tidak jelas) di
dalamnya dan dilakukan secara sembunyi-
sembunyi.

Korupsi
Kata korupsi secara literer memang tidak ditemukan
dalam khasanah Islam, tetapi substansi dan persamaannya
bisa dicari dan ditelusuri dalam Islam, yaitu Ghulul:
Ghulul adalah tindakan seorang aparat atau pejabat
mengambil sesuatu secara sembunyi-sembunyi dan
memasukkan ke dalam hartanya. Rasulullah SAW
menjelaskan kata ghulul dalam hadis riwayat Adi bin
Amirah al-Kindi, Rasulullah SAW bersabda:
Barangsiapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk
suatu pekerjaan (urusan), lalu dia menyembunyikan dari
kami sebatang jarum atau lebih dari itu, maka itu adalah
ghull (harta korupsi) yang akan dia bawa pada hari
kiamat. (HR. Muslim)
Ghulul
Ghulul juga adalah pencurian dana (harta
kekayaan) sebelum dibagikan, termasuk di
dalamnya adalah dana jaring pengaman sosial.
Bentuk lain dari penyalahgunaan jabatan (ghulul)
adalah perbuatan kolutif misalnya mengangkat
orang-orang dari keluarga, teman atau sanak
kerabatnya yang tidak memiliki kemampuan
untuk menduduki jabatan tertentu, padahal ada
orang lain yang lebih mampu dan pantas
menduduki jabatan tersebut.
Risywah (suap)
Risywah atau suap adalah suatu pemberian yang
dimaksudkan untuk mempengaruhi keputusan yang bathil
atau tidak sah yang menguntungkan pihak pemberi. Umar
bin Khaththab mendefinisikan bahwa suap atau risywah
adalah sesuatu yang diberikan/disampaikan oleh seseorang
kepada orang yang mempunyai kekuasaan (jabatan,
wewenang) agar ia memberikan kepada si pemberi sesuatu
yang bukan haknya. Risywah merupakan perbuatan yang
dilarang oleh Al-Quran, As-Sunnah dan Ijma Ulama.
Larangan tersebut berlaku bagi yang memberi, menerima
dan penghubungnya.
Dari Abu Hurairah RA. Berkata:
Rasulullah melaknat orang yang menyuap dan yang
menerima suap dalam hukum. (HR. Turmuzi)

Hadiah (gratifikasi)

Hadiah adalah pemberian kenang-kenangan, penghargaan,
penghormatan dan sebagainya. Hadiah dapat juga disebut
hibah. Pada dasarnya hadiah merupakan hal yang
diperbolehkan, bahkan dianjurkan untuk saling memberi
hadiah. Akan tetapi jika memberi hadiah (gratifikasi) untuk
kepentingan tertentu, seperti memberi hadiah kepada
orang yang memiliki suatu jabatan, kekuasaan atau
wewenang, maka pemberian hadiah tersebut terlarang.
Hadiah seperti ini disebut juga dengan gratifikasi, yaitu
uang hadiah kepada pegawai di luar gaji yang telah
ditentukan. Rasulullah SAW melarang jenis hadiah
(gratifikasi) seperti ini, beliau bersabda:
Hadiah bagi para pekerja (di luar hak yang telah
ditetapkan) adalah ghulul (korupsi). (HR. Ahmad)

Mencuri dalam Sholat ?
sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan dari Abu Qatadah,
Sejelek-jelek orang yang mencuri adalah orang yang
mencuri dalam shalatnya. Para sahabat bertanya, Wahai
Rasulullah, bagaimana ia mencuri dalam shalatnya?
Beliau menjawab, Ia tidak menyempurnakan rukuk dan
sujudnya. Atau beliau bersabda, Ia tidak meluruskan
punggungnya ketika rukuk dan sujud. (HR. Ahmad, Ibnu
Majah, ath-Thabrani dan al-Hakim)
Dalam hadits tersebut Rasulullah saw mengkategorikan
orang yang shalat tapi tidak menyempurnakannya sebagai
pencuri dalam shalat. Di antara tanda pencuri dalam shalat
beliau menyatakan, bila ia rukuk dan sujud tidak sempurna;
tidak sempurna dalam bacaan dan gerakannya.
Dalil tentang mencuri
QS. Al-Maidah ayat 38:
dari Aisyah RA bahwasanya Rasulullah SAW
bersabda (kepada Usamah bin Zaid), Apakah
kamu akan membela orang yang melanggar
hukum dari hukum-hukum Allah ?. Kemudian
beliau berdiri dan berkhutbah, lalu bersabda,
Hai manusia, sesungguhnya orang-orang yang
sebelum kalian telah binasa karena mereka itu
apabila orang terhormat di kalangan mereka
yang mencuri, mereka membiarkannya. Tetapi
jika - orang lemah diantara mereka yang
mencuri, mereka menghukumnya.
*HR. Muttafaq alaih, dan ini adalah lafadh Muslim+.
Faktor Pendorong
1. Kurangnya iman
2. Ingin cepat kaya tanpa usaha keras
3. Adanya kesempatan
4. Faktor Ekonomi/kebutuhan
5. Kebiasaan
6. Penegakan hukum yang lemah
7. Hilangnya rasa bersalah dan jujur
8. Timbulnya sifat tamak dan serakah
9. Pembalasan karena sebelumnya pernah kecurian
10. Pelit terhadap diri sendiri sehingga mengambil milik
orang lain tanpa mengurangi uangnya sendiri.
Dampak Mencuri
1. Berdosa (jelas)
2. Dibenci masyarakat
3. Nama keluarga buruk
4. Mengecewakan Orang tua
5. Dihajar masa/Tangan dipotong/dipenjara/mati
saat mencuri ._.
6. Menjadi kebiasaan buruk
7. Harta yang di dapat tidak barokah
8. Tersangka yang Rugi.. Bukan korban..
TIDAK SELAMANYA PENCURI
BERSALAH.!!


Bagaimana Umar Bin Khattab menindak-lanjuti
pencuri
Mencuri pada masa Khalifah Umar
bin khaththab
Para ahli hukum Islam sering mencontoh kisah yang terjadi
dalam masa khalifah kedua Umar bin Khaththab yang tidak
menghukum pencuri tapi justru mengancam akan menghukum
yang dicuri atau tuan sang pencuri. Misalnya, dikisahkan ketika
suatu ketika terjadi paceklik, ada kasus pencurian yang dilaporkan
kepada Umar untuk dihukum, tetapi Umar menolak
menghukumnya, alasannya karena musim paceklik mungkin orang
itu terpaksa mencuri karena takut mati kelaparan. Sebaliknya Umar
malah pernah mengancam, Kalau kamu terus menerus
melaporkan pencuri hartamu padahal kamu kaya, malah nanti
tangan kamu yang akan saya potong, karena kamu yang menjadi
sebab orang ini lapar. Dalam kisah lain disebutkan ada dua orang
hamba sahaja yang mencuri dari tuannya karena tidak diberi
makanan yang cukup, Umar tidak menghukumnya, tapi justru
mengancam akan memotong tangan tuannya.
Dari Aisyah RA ia berkata : Rasulullah SAW bersabda,
Tidak dipotong tangan pencuri kecuali pada pencurian
seperempat dinar atau lebih. *HR. Muttafaq alaih, lafadh
ini bagi Muslim, adapun lafadh Bukhari], Tangan pencuri
dipotong karena mencuri seperempat dinar atau
lebih. [Dalam satu riwayat oleh Ahmad], Potonglah
tangan pencuri karena mencuri seperempat dinar, dan
janganlah kalian potong dalam pencurian yang kurang dari
itu. Dan seperempat dinar pada waktu itu sama dengan
tiga dirham, jadi satu dinar sama dengan dua belas
dirham.
Dinar adalah emas dengan kadar 22 karat seberat 4,25
gram
Dirham adalah perak murni dengan berat 2,975 gram
hukuman mencuri menurut
Islam
Apabila pencuri telah dimaafkan
sebelum sampai pada hakim,
hukuman tidak dilaksanakan.
Dari Abdullah bin Amr, sesungguhnya Rasulullah SAW
bersabda, Saling memaafkanlah kalian tentang masalah
hukuman yang terjadi di kalanganmu. Tetapi kalau kasus
pelanggaran telah sampai kepadaku, maka hukuman itu
pasti akan dilaksanakan. [HR. Nasai dan Abu Dawud]
Mencuri dalam Undang-Undang yang
berlaku di Indonesia
Pencuri dihukum Pidana berupa di penjara
selama beberapa tahun ataupun denda
berupa uang rupiah. hukuman bertambah
berat bila kasus yang dilakukan tersangka
lebih dari sekedar mencuri. Misalnya, mencuri
sekaligus membunuh atau mencuri, namun
setelah diselidiki ternyata tersangka pernah
membunuh namun tidak tertangkap.
Solusi menghindari mencuri dan
korupsi
1. Ingat kepada Allah dan siksa-Nya.
2. Silaturahmi dengan orang-orang yang kurang beruntung dari kita
untuk ikut merasakan apa yang di derita orang tersebut dan
bersedekah.
3. Bersyukur dengan hasil yang di dapat.
4. Menyerahkan jabatan pada orang yang dirasa lebih mampu.
5. Menyimpan harta dengan baik dan tidak dipamerkan ke orang lain
6. Menyadari bahwa semua orang sudah diatur rezekinya oleh Allah
dan orang tersebut tidak akan mati sebelum seluruh rezekinya
habis.
7. Menegakkan hukum dengan benar.
8. Membiasakan berperilaku jujur.
Selesai

Beri Nilai