Anda di halaman 1dari 15

AJARAN AGAMA YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESEHATAN

IBADAH, AKHLAK TERPUJI, AKHLAK KEPADA SANG PENCIPTA


DAN PANDANGAN AGAMA YANG BERHUBUNGAN DENGAN INSEMINASI


Disusun Oleh :

KELOMPOK 3 :
1. PUTRI KINANTI
2. YAYUK BASUKI
3. DEVI PAKPAHAN

Dosen Pembimbing
M. AKHYAR, MA








AKADEMI KEBINANAN
BINA DAYA HUSADA KISARAN
TA. 2014/2015


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
........................................................................................................................
BAB I .............................................................................................................................................
LATAR BELAKANG
.........................................................................................................................
A. PENDAHULUAN ................................................................................................................
1.Pengertian Agama ........................................................................................................
2.Pengertian Kesehatan ...................................................................................................
BAB II .............................................................................................................................................
A. Hubungan ajaran agama dengan kesehatan dalam Berwudhu .......................................
B. Hubungan ajaran agama dengan kesehatan dalam Pelaksanaan Shalat .........................
C. Hubungan ajaran agama dengan kesehatan dalam Pelaksanaan Puasa ..........................

BAB III ............................................................................................................................................
KESIMPULAN ....................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
.............................................................................................................





















KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas limpahan
Rahmat, Taufik dan Hidayah-Nya telah memberikan petunjuk, kesehatan, kesempatan dan
kekuatan kepada penulis sehingga dapat menyajikan tulisan HUBUNGAN AJARAN
AGAMA DENGAN KESEHATAN.
Di dalam tulisan ini, disajikan pokok-pokok bahasan yang menyangkut tentang
HUBUNGAN AJARAN AGAMA DENGAN KESEHATAN.Pokok Bahasan yang
disusun sebagai bahan penuntun atau pegangan mahasiswa di ruang lingkup kampus, dengan
materi yang telah kami sesuaikan khususnya mata kuliah Agama. Harapan saya penyusun, bahwa
Bahan ini dapat membantu saya dalam kegiatan perkuliahan.
Ucapan terimah kasih saya sampaikan kepada kawan-kawan semua yang telah banyak
membantu dan mengarahkan dalam penyusunan materi. Disadari bahwa dengan kekurangan dan
keterbatasan yang dimiliki oleh para penulis, walaupun telah dikerahkan segala kemampuan
untuk lebih teliti, tetapi masih dirasakan banyak kekurangan , oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar tulisan ini bermanfaat bagi yang
membutuhkan.


















BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam lingkungan masyarakat banyak sekali berbagai macam budaya yang berpengaruh
dalam suatu kepercayaan yang di anutnya seperti Agama atau kepercayaan.
Karena penduduk di Indonesia beragam suku serta agama yang di anutnya Pemerintahpun juga
berperan penting untuk mengatur kebebasan memeluk agama sesuai kepercayaan masing
masing yang di atur dalam UUD 1945 bahwa tiap-tiap penduduk diberikan kebebasan untuk
memilih dan mempraktikkan kepercayaannya dan menjamin semuanya akan kebebasan untuk
menyembah, menurut agama atau kepercayaannya.
Agama juga berhubungan dengan kesehatan karena ada penyakit yang di sebabkan karena virus
dan bakteri tapi ada juga penyakit yang diakibabkan karena jiwa atau hati. Penyakit tersebutlah
yang dinamakan dengan penyakit hati atau penyakit mental, untuk mengatasi penyakit tersebut
diperlukan menejemen hati atau mental yang baik.Maka, di dalam makalah ini yang berjudul
Hubungan ajaran Agama dengan Kesehatan kita dapat memahami yang bahwasanya ajaran
agama dengan kesehatan sangat berhubungan erat, dan semoga yang di harapkan dapat
bermanfaat untuk pembaca.

1. Pengertian Agama
Agama menurut Kamus Besar bahasa indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan
kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebaktian
dan kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan kepercayaan tersebut.
Agama di Indonesia memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Hal ini
dinyatakan dalam ideologi bangsa Indonesia,pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa. Sejumlah
agama di Indonesia berpengaruh secara kolektif terhadap politik, ekonomi dan budaya. Di tahun
2000, kira-kira 86,1% dari 240.271.522 penduduk Indonesia adalah pemeluk Islam, 5,7%
Protestan, 3% katolik, 1,8% hindhu, dan 3,4% kepercayaan lainnya.
Agama bukanlah suatu entitas independen yang berdiri sendiri. Agama terdiri dari berbagai
dimensi yang merupakan satu kesatuan. Masing-masingnya tidak dapat berdiri tanpa yang lain.
seorang ilmuwan barat menguraikan agama ke dalam lima dimensi komitmen. Seseorang
kemudian dapat diklasifikasikan menjadi seorang penganut agama tertentu dengan adanya
perilaku dan keyakinan yang merupakan wujud komitmennya. Ketidakutuhan seseorang dalam
menjalankan lima dimensi komitmen ini menjadikannya religiusitasnya tidak dapat diakui secara
utuh. Kelimanya terdiri dari perbuatan, perkataan, keyakinan, dan sikap yang melambangkan
(lambang=simbol) kepatuhan (=komitmen) pada ajaran agama. Agama mengajarkan tentang apa
yang benar dan yang salah, serta apa yang baik dan yang buruk.Agama berasal dari Supra
Ultimate Being, bukan dari kebudayaan yang diciptakan oleh seorang atau sejumlah orang.
Agama yang benar tidak dirumuskan oleh manusia. Manusia hanya dapat merumuskan kebajikan
atau kebijakan, bukan kebenaran. Kebenaran hanyalah berasal dari yang benar yang mengetahui
segala sesuatu yang tercipta, yaitu Sang Pencipta itu sendiri. Dan apa yang ada dalam agama
selalu berujung pada tujuan yang ideal. Ajaran agama berhulu pada kebenaran dan bermuara
pada keselamatan. Ajaran yang ada dalam agama memuat berbagai hal yang harus dilakukan
oleh manusia dan tentang hal-hal yang harus dihindarkan. Kepatuhan pada ajaran agama ini akan
menghasilkan kondisi ideal.
Mengapa ada yang Takut pada Agama?
Mereka yang sekuler berusaha untuk memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari. Mereka
yang marxis sama sekali melarang agama. Mengapa mereka melakukan hal-hal tersebut?
Kemungkinan besarnya adalah karena kebanyakan dari mereka sama sekali kehilangan petunjuk
tentang tuntunan apa yang datang dari Tuhan. Entah mereka dibutakan oleh minimnya informasi
yang mereka dapatkan, atau mereka memang menutup diri dari segala hal yang berhubungan
dengan Tuhan.
Alasan yang seringkali mereka kemukakan adalah agama memicu perbedaan. Perbedaan tersebut
menimbulkan konflik. Mereka memiliki orientasi yang terlalu besar pada pemenuhan kebutuhan
untuk bersenang-senang, sehingga mereka tidak mau mematuhi ajaran agama yang melarang
mereka melakukan hal yang menurutnya menghalangi kesenangan mereka, dan mereka
merasionalisasikan perbuatan irasional mereka itu dengan justifikasi sosial-intelektual. Mereka
menganggap segi intelektual ataupun sosial memiliki nilai keberhargaan yang lebih. Akibatnya,
mereka menutup indera penangkap informasi yang mereka miliki dan hanya mengandalkan
intelektualitas yang serba terbatas.Mereka memahami dunia dalam batas rasio saja. Logika yang
mereka miliki begitu terbatasnya, hingga abstraksi realita yang bersifat supra-rasional tidak
mereka akui. Dan hasilnya, mereka terpenjara dalam realitas yang serba empiri. Semua harus
terukur dan terhitung. Walaupun mereka sampai sekarang masih belum memahami banyaknya
fungsi alam yang bekerja dalam mekanisme supra rasional, keterbatasan kerangka berpikir yang
mereka miliki menegasikan semua hal yang tidak dapat ditangkap secara inderawi.Padahal,
pembatasan diri dalam realita yang hanya bersifat empiri hanya akan membatasi potensi manusia
itu sendiri. Dan hal ini menegasikan tujuan hidup yang selama ini diagungkan para penganut
realita rasio-saja, yaitu aktualisasi diri dan segala potensinya.
Agama, dengan sandaran yang kuat pada realitas supra rasional, membebaskan manusia
untuk mengambil segala hal yang terbaik yang dapat dihasilkannya dalam hidup. Semua-apakah
hal itu bersifat empiri-terukur, maupun yang belum dapat diukur. Empirisme bukanlah suatu hal
yang ditolak agama. Agama yang benar, yang bersifat universal, mencakup segi intelektual yang
luas, yang diantaranya adalah empirisme. Agama tidak mereduksi intelektualitas manusia dengan
membatasi kuantitas maupun kualitas suatu idea. Agama yang benar, memberi petunjuk pada
manusia tentang bagaimana potensi manusia dapat dikembangkan dengan sebesar-besarnya. Dan
sejarah telah membuktikan hal tersebut.
Kesalahan yang dibuat para penilai agama-lah yang kemudian menyebabkan realita ajaran ideal
ini menjadi terlihat buruk. Beberapa peristiwa sejarah yang menonjol mereka identikan sebagai
kesalahan karena agama. Karena keyakinan pada ajaran agama. Padahal, kerusakan yang
ditimbulkan adalah justru karena jauhnya orang dari ajaran agama. Kerusakan itu timbul saat
agama-yang mengajarkan kemuliaan- disalahgunakan oleh manusia pelaksananya untuk
mencapai tujuan yang terlepas dari ajaran agama itu sendiri, terlepas dari pelaksanaan
keseluruhan dimensinya.

Fungsi fungsi agama
1. Karena agama merupakan sumber moral
2. Karena agama merupakan petunjuk kebenaran
3. Karena agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika.
4. Karena agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia baik di kala suka, maupun di
kala duka.

Dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa tiap-tiap penduduk diberikan kebebasan untuk memilih
dan mempraktikkan kepercayaannya dan menjamin semuanya akan kebebasan untuk
menyembah, menurut agama atau kepercayaannya. Pemerintah, bagaimanapun, secara resmi
hanya mengakui enam agama, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghuchu.
Dengan banyaknya agama maupun aliran kepercayaan yang ada di Indonesia, konflik antar
agama sering kali tidak terelakkan.

2.Pengertian Kesehatan
Ciri ciri kesehatan dalam agama
Ciri-ciri kesehatan dikelompokkan kedalam enam kategori, yaitu:
1. Memiliki sikap batin (Attidude) yang positif terhadap dirinya sendiri
2. Aktualisasi diri.
3. Mampu mengadakan integrasi dengan fungsi-fungsi yang psikis ada.
4. Mampu berotonom terhadap diri sendiri (Mandiri).
5. Memiliki persepsi yang obyektif terhadap realitas yang ada
6. Mampu menselaraskan kondisi lingkungan dengan diri sendiri.

Faktor factor permasalahan agama dan kesehatan

1. masalah kesehatan mental
dengan mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, kesehatan mental seseorang
dapat ditandai dengan kemampuan orang tersebut dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya,
mampu mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sendiri semaksimal mungkin untuk
menggapai ridho Allah SWT, , hal ini sesuai dengan konsep sosiologi modern yaitu manusia
sebagai makhluk Zoon Politicon.
Contoh : Seseorang yang tidak memiliki keahlian apapun serta tidak memiliki pendidikan yang
baik tetapi hidup di Jakarta tanpa tau arah dan tujuan hidupnya disana yang dapat membuat
orang tersebut susah beradaptasi dengan lingkungan yang serba mahal tanpa pekerjaan,maka
apabila mental seseorang tidak kuat dan tidak memiliki pegangan yang kuat dengan agamanya
orang tersebut akan gila bahkan nekat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.


2. masalah unsur batin
manusiacenderung mendorongnya untuk tunduk kepada Zat yang gaib, ketundukan ini
merupakan bagian dari faktor intern manusia dalam psikologi kepribadian dinamakan pribadi
(Self) ataupun hati nurani (conscience of man).
Contoh : seseorang yang sudah lama mengidap suatu penyakit dan sudah berobat kemanapun
tidak sembuh,lalu orang tersebut mengambil inisiatif ntuk berobat ke dukun yang tidak jelas
model terapinya seperti pengusir roh halus atau jin yang menggangunya selama ini bukan malah
banyak beriqhtiar meminta ridho kesembuhan dari Allah SWT dan berusaha tapi malah berobat
ke dukun.

3. Masalah keyakinan atau kepercayaan
Seseorang memiliki keyakinan yang berbeda beda dan mudah dipengaruhi oleh orang lain
dalam mempertahankan drajad kesehatanya
Contoh : ada seseorang yang tetangganya sakit lalu mencoba terapi rel kereta api yang marak di
perbincangkan di akhir-akhir ini lalu banyak masyarakat lain yang ikut mempercayai bahwa
berbaring dir el kereta api tersebut dapat menyembuhkan penyakit padahal hal tersebut belum
jelas terbukti di dinas kesehatan dan sangat berbahaya apabila ada kereta yang lewat hal tersebut
karena orang tidak percaya bahwa Allah lah yang member kesembuhan









BAB II
B.Hubungan
A.Hubungan ajaran agama dengan kesehatan dalam Berwudhu
Di dalam ajaran Islam banyak hal-hal yang berkaitan dengan suatu ibadah yang terlihat
sederhana dan mudah dilakukan namun memiliki manfaat dan hasiat yang luar biasa bagi
kesehatan, baik kesehatan jasmanai maupun rohani, contohnya adalah wudhu. Wudhu adalah
salah satu syariat Islam. Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk membersihkan diri atau
berwudhu sebelum mendirikan shalat lima waktu. (QS Al-Maidah ayat 6). Wudhu juga
merupakan salah satu syarat diterimanya ibadah shalat oleh Allah SWT, namun terkadang ada
sebagian umat Islam yang memandangnya biasa-biasa saja. Allah tidak akan menerima shalat
seseorang di antara kamu, hingga dia berwudhu . (HR. Bukhari Muslim).
Wudhu dan Kesehatan Jasmani
Wudhu ternyata mempunyai manfaatnya sangat besar. Itulah yang dibuktikan oleh para ahli
kesehatan dunia. Salah satunya adalah Prof Leopold Werner von Ehrenfels, seorang psikiater
sekaligus neurolog berkebangsaan Austria. Ia menemukan sesuatu yang menakjubkan dalam
wudhu karena mampu merangsang pusat syaraf dalam tubuh manusia. Karena keselarasan air
dengan wudhu dan titik-titik syaraf, kondisi tubuh senantiasa akan sehat. Dari sinilah ia akhirnya
memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Baron Omar Rolf Ehrenfels.
(http://www.republika.co.id)
Ulama fikih juga menjelaskan hikmah wudhu sebagai bagian dari upaya untuk memelihara
kebersihan fisik dan rohani. Daerah yang dibasuh dalam air wudhu-seperti tangan, daerah muka
termasuk mulut, dan kaki memang paling banyak bersentuhan dengan benda-benda asing,
termasuk kotoran. Karena itu, wajar kalau daerah itu yang harus dibasuh, sebab penyakit kulit
umumnya sering menyerang permukaan kulit yang terbuka dan jarang dibersihkan, seperti di
sela-sela jari tangan, kaki, leher, belakang telinga, dan lainnya. Karena itu, Mochtar Salem
memberi saran agar anggota tubuh yang terbuka senantiasa dibasuh atau dibersihkan dengan
menggunakan air. Berbagai penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa munculnya penyakit
kulit disebabkan oleh rendahnya kebersihan kulit. Karena itu, orang yang memiliki aktivitas
padat (terutama di luar ruangan) disarankan untuk sesering mungkin membasuh atau mencuci
anggota badannya yang terbuka, seperti kepala, muka, telinga, hidung, tangan, dan kaki.
Mencegah penyakit dengan wudhu bisa kita cermati dan pelajari sejarah hidup Rasulullah SAW,
seperti yang diungkapkan Muhammad Husein Haykal dalam bukunya Hayatu Muhammad,
sepanjang hidupnya Rasulullah SAW tak pernah menderita penyakit, kecuali saat sakaratul maut
hingga wafatnya. Hal ini menunjukkan bahwa wudhu dengan cara yang benar niscaya dapat
mencegah berbagai macam penyakit.Menurut sejumlah penelitian, berwudhu itu dapat
menghilangkan berbagai macam penyakit. Misalnya, penyakit kanker, flu, pilek, asam urat,
rematik, sakit kepala, telinga, pegal, linu, mata, sakit gigi, dan sebagainya.Mokhtar Salem dalam
bukunya Prayers a Sport for the Body and Soul menjelaskan, wudhu bisa mencegah kanker kulit.
Jenis kanker ini lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang setiap hari menempel dan
terserap oleh kulit. Kemudian, apabila dibersihkan dengan air (terutama saat wudhu), bahan
kimia itu akan larut. Selain itu, jelasnya, wudhu juga menyebabkan seseorang menjadi tampak
lebih muda.Dalam penelitian yang dilakukan Muhammad Salim tentang manfaat wudhu untuk
kesehatan, terungkap bahwa berwudhu dengan cara yang baik dan benar akan mencegah
seseorang dari segala penyakit. Dalam penelitiannya itu, Muhammad Salim juga menganalisis
masalah kesehatan hidung dari orang-orang yang tidak berwudhu dan yang berwudhu secara
teratur selama lima kali dalam sehari untuk mendirikan shalat.Salim mengambil zat dalam
hidung pada selaput lendir dan mengamati beberapa jenis kumannya. Pekerjaan ini ia lakukan
selama berbulan-bulan. Berdasarkan analisisnya, lubang hidung orang-orang yang tidak
berwudhu memudar dan berminyak, terdapat kotoran dan debu pada bagian dalam hidung, serta
permukaannya tampak lengket dan berwarna gelap.Adapun orang-orang yang teratur dalam
berwudhu, ungkap Salim, permukaan rongga hidungnya tampak cemerlang, bersih, dan tidak
berdebu. Sesungguhnya, cara berwudhu yang baik adalah dimulai dengan membasuh tangan,
berkumur-kumur, lalu mengambil air dan menghirupnya ke dalam hidung kemudian
mengeluarkannya. Langkah ini hendaknya dilakukan sebanyak tiga kali secara bergantian, kata
Salim.

Wudhu dan Kesehatan Rohani
Ulama tasawuf menjelaskan hikmah wudhu dengan menjelaskan bahwa daerah-daerah yang
dibasuh air wudhu memang daerah yang paling sering berdosa. Kita tidak tahu apa yang pernah
diraba, dipegang, dan dilakukan tangan kita. Banyak pancaindera tersimpul di bagian
muka.Berapa orang yang jadi korban setiap hari dari mulut kita, berapa kali berbohong, memaki,
dan membicarakan aib orang lain. Apa saja yang dimakan dan diminum. Apa saja yang baru
diintip mata ini, apa yang didengar oleh kuping ini, dan apa saja yang baru dicium hidung ini?
Ke mana saja kaki ini gentayangan setiap hari? Tegasnya, anggota badan yang dibasuh dalam
wudhu ialah daerah yang paling riskan untuk melakukan dosa.Rasul SAW menyatakan, wajah
orang yang berwudhu itu akan senantiasa bercahaya. Rasulullah akan mengenalinya nanti pada
hari kiamat karena bekas wudhu. Umatku nanti kelak pada hari kiamat bercahaya muka dan
kakinya karena bekas wudhu.
Muhammad Kamil Abd Al-Shomad, yang mengutip sumber dari Al-Ijaz Al-Ilmiy fi Al-Islam
wa Al-Sunnah AlNabawiyah, menjelaskan bahwa manfaat semua hal yang diperintahkan dalam
wudhu sangatlah besar bagi tubuh manusia. Mulai dari membasuh tangan dan menyela-nyela
jari, berkumur-kumur, memasukkan air ke dalam lubang hidung, membasuh muka, membasuh
kedua tangan sampai siku, mengusap kepala, membasuh telinga, hingga membasuh kaki hingga
mata kaki.
Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) dalam bukunya Lentera Hidup menuliskan
keutamaan wudhu. Sekurang-kurangnya lima kali dalam sehari-semalam setiap Muslim
diperintahkan untuk berwudhu dan mengerjakan shalat. Meskipun wudhu belum lepas (batal),
disunahkan pula memperbaharuinya. Oleh ahli tasawuf, diterangkan pula hikmah wudhu itu.
Mencuci muka artinya mencuci mata, hidung, mulut, dan lidah kalau-kalau tadinya pernah
berbuat dosa ketika melihat, berkata, dan makan.Mencuci tangan dengan air seakan-akan
membasuh tangan yang telanjur berbuat salah. Membasuh kaki dan lain-lain demikian pula.
Mereka memperbuat hikmat-hikmat itu meskipun dalam hadis dan dalil tidak ditemukan.
Tujuannya adalah supaya manusia jangan membersihkan lahirnya saja, sementara batinnya
masih tetap kotor. Hati yang masih tamak, loba, dan rakus, kendati sudah berwudhu, maka
wudhunya lima kali seharisemalam itu berarti tidak berbekas dan tidak diterima oleh Allah SWT,
dan shalatnya pun tidak akan mampu menjauhkan dirinya dari perbuatan fakhsya (keji) dan
mungkar (dibenci).Buya Hamka menambahkan, wudhu itu dapat menyehatkan badan. Kita
hidup bukanlah untuk mencari pujian dan bukan pula supaya kita paling atas di dalam segala hal.
Meskipun itu tidak kita cari, kalau kita senantiasa menjaga kebersihan, kita akan dihormati orang
juga.

B. Hubungan ajaran agama dengan kesehatan dalam Pelaksanaan Shalat.
Shalat adalah amalan yang pertama akan dihisab pada hari kiamat. Apabila baik
shalatnya, maka dianggaplah baik keseluruhan amalannya. Tentulah orang tersebut
masuk surga. Inilah anugrah terindah yang bisa didapat oleh siapa saja yang mengerti,
memahami dan mau berusaha menggapainya. Jika shalat hanya dijadikan sebagai
kewajiban semata, maka keindahan ini tidak akan dirasakan dan kita akan semakin jauh
dari surga.Syariat shalat sudah diajarkan kepada umat Nabi Ibrahim, meski
penyempurnaan ajaran itu disampaikan oleh baginda Nabi Muhammad SAW. Ketika
Nabi Muhammad SAW miraj ke lagit, beliau menerima perintah langsung dari Allah
SWT akan kewajiban shalat. Kita, umat beliau di akhir zaman ini tinggal melaksanakan
syariat yang sudah demikian rinci ini, tanpa menambah dan menguranginya. Inilah jalan
selamat yang dibutuhkan manusia untuk kebahagiaan dunia akhirat
C.Hubungan ajaran agama dengan kesehatan dalam Pelaksanaan Shalat.
Ibadah Puasa dapat membentuk kepribadian, dan puncak pembentukan kepribadian
adalah insan takwa. Inti takwa adalah menjaga diri agar tetap berada pada rambu-rambu ajaran
agama dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan. Dalam puasa orang
di didik bahwa keridhaan Allah itu lebih besar dari pada dunia seisinya.
Makna dan Orientasi Ibadah Puasa
Pemakaian kata puasa sesungguhnya merupakan terjemahan dari bahasa arab yaitu
shoum. Secara harfiah berarti diam, menahan, berhenti dari sesuatu. Puasa [shoum] dalam ajaran
Islam berarti menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan. Puasa merupakan usaha
sungguh-sungguh untuk menahan diri dari syahwat lahiriah, makan, minum, hubungan seksual,
sekalipun suami istri dan sesuatu yang bersifat indrawi dan dari syahwat yang bersifat
rohaniahMenurut pendapat Al- Ghozali, puasa memiliki tujuan agar manusia berakhlak dengan
akhlak Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Agung, yaitu contoh ketergantungan segala sesuatu
kepada-Nya, dan sebisa mungkin mencontoh para malaikat di dalam menahan hawa nafsu,
karena mereka adalah makhluk yang disucikan dari hawa nafsu.Ibnu Qoyyim mengatakan bahwa
puasa sangat manjur dalam memberikan perlindungan terhadap anggota badan bagian koordinasi
dalam ia mencegah kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh timbunan materi yang sudah
busuk. Ia mengusir macam-macam bakteri yang merusak kesehatan.ia mengobati sakit yang
berkembang dalam tubuh yang disebabkan oleh kekenyangan yang berlebihan. Puasa sangat
berguna bagi kesehatan dan sangat membantu untuk dapat hidup sholeh dan takwa.Kewajiban
puasa dan taqwa mempunyai hubungan yang penting dan strategis bagi manusia, yaitu puasa
menjadi salah satu sarana yang bisa membentuk insan muttaqin. Takwa mempunyai posisi yang
sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap umat Islam untuk dapat sukses menjalankan tugas
sebagai hamba dan sebagai khalifah dimuka bumi. Takwa menunjukkan sebuah kepribadian
yang benar-benar untuh dan integral (stabilitas) setelah melakukan amalan-amalan yang
dianjurkan Allah diserap masuk kedalam diri manusia. Takwa lebih pada tataran empiris dari
sekedar teoritis. Sebuah perbuatan dapat dikategorikan bernilai takwa apabila perbuatan itu
mempunyai nilai dan makna dalam kontek sosial. Karena itu, menilai katakwaan yang dimiliki
seseorang bukan dinilai oleh dirinya sendiri, tetapi yang menilai adalah orang lain.Ibadah puasa
mempunyai dua dimensi penting yaitu : dimensi intrinsik dan ekstrensik. Kedua dimensi
tersebut adalah nilai-nilai yang menjadi tolok ukur keberhasilan ibadah puasa. Dimensi intrinsik
dapat membentuk tanggung jawab pribadi. Sedangkan dimensi ekstrensik dapat membentuk
tanggung jawab sosial. Nilai instrinsik sebagai pelatihan diri menahan segala godaan yang dapat
menggelincirkan godaan kepada dosa, pelatihan menahan kesabaran dan konsisten
mengendalikan dorongan atas proses penyadaran akan adanya hikmah kemanusiaan yakni
perasaan kemanusiaan akan derita menahan lapar.Pelaksaan ibadah puasa adalah merupakan
tanggung jawab setiap muslim untuk dilaksanakan dalam rangka mengharap keridhaan Allah
SWT. Bila disimak dengan teliti, inti makna puasa sebagai pranata agama ialah menahan diri dari
berbagai keinginan dan kepentingan. Puasa menurut tolak ukur islam bukan dilakukan karena,
orang tidak memiliki makanan, minuman ataupun pasangan dalam melakukan hubungan seksual.
Meskipun seluruh fasilitas tersebut tersedia sebagai milik yang syah, selama periode tertentu
dalam menjalankan ibadah puasa, orang-orang yang menjadi pemilik dan penguasa fasilitas
tersebut tidak diperkenankan memanfaatkannya. Alasan pelarangan penggunaan fasilitas tersebut
menjadi rahasia bagi kita, karena Allah sama sekali tidak memberikan keterangan dalam bentuk
apapun, pada hal saat barang-barang dari segi substansinya adalah halal dan baik menurut
tinjauan manusia, sebagai bekal dalam melakukan berbagai aktifitas dan kehidupannya dialam
semesta ini.Kalau kita kaji dari berbagai ayat dalam Al-Quran dan sunnah Rasul, memang
secara eksplisit Allah menegaskan bahwa, puasa itu harus dilakukan agar dapat menimbulkan
rasa Taqwa sebagaimana ungkapan Al-Quran yang menyatakan Laallakum tattaqun,
demikian juga lewat haditsnya Rasulullah memberikan penjelasan bahwa puasa biasa disamakan
dengan perisa dan harus dijalankan dengan alasan iman saja tanpa menyandarkannya pada
kepentingan dan maksud lain. Dalam takwa terkandung pengendalian manusia akan dorongan
emosinya dan penguasaan kecenderungan hawa nafsu manusia pada tingkah laku buruk,
menyimpang, tercela, permusuhan dan kezaliman. Untuk itu manusia dituntut untuk bisa
menahan hawa nafsu. Ini berarti ia memenuhi dorongan-dorongan itu dalam batas yang
diperkenakan oleh ajaran agama. Selain itu terkandung perintah kepada manusia agar ia
melakukan tindakan yang baik.Orang-orang yang bertakwa mempunyai keutamaan yang mampu
menghadapi berbagai persoalan hidup, mampu menghadapi saat-saat yang kritis, dapat
mendobrak jalan-jalan yang buntu yang menghambat, dan bisa menerangi jalan ditengah
kegelapan gulita. Dengan kata lain takwa membuktikan sebagai jalan keluar dari setiap persoalan
dan situasi kritis.Puasa merupakan salah satu perisai penting dalam Islam yang amalan-amalanya
banyak takwa. Esensi dari takwa adalah untuk mengendalikan individu dan kelompok dari
perilaku yang menyimpang, baik menyimpang dalam perilaku, pola pikir, ucapan maupun
tindakan. Seseorang yang puasa pada hakekatnya sedang memperkokoh tali hubungan dengan
Allah swt., jika manusia berusaha mempererat tali hubungan dengan Allah secara langsung,
maka zikir atau ingatan kita senantiasa terpancang kepada-Nya.
Kerangka berfikir ini yang sering menjadi bahan renungan penulis, dimana dalam kontek puasa,
kita disuruh melakukan sesuatu kewajiban, tanpa tahu secara riil dan logis manfaat dan hasil
kongkrit yang diperoleh setelah proses pelaksanaannya. Kita hanya diberikan petunjuk untuk
melakukannya dengan percaya saja. Ini adalah suatu doktrin ketaatan pada suatu norma, aturan
islam yang harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, aktif sesuai dengan standar jumlah
yang harus dipenuhi. Tertib sesuai dengan petunjuk pelaksaan ibadah puasa, baik dari segi waktu
pelaksanana ataupun syarat rukunnya, demikian juga harus dilaksanakan secara ikhlas, dengan
tolak ukur minimal bahwa apa yang dikerjakan adalah dalam rangka mengharap keridhaan Allah
Swt. dalam kehidupan di dunia dan akherat.
Puasa Sebagai Wahana Pendidikan
Ibadah puasa lebih banyak menekankan kesadaran dan keyakinan pelakunya dalam
melaksanakan kewajiban dari Dzat Yang Maha menentukan corak dan warna kehidupan
manusia. Semua proses spekulatif dalam menjalankan ibadah puasa dari sudut simbolisme, pada
hakekatnya tidak terlepas dari kehidupan manusia. Artinya melakukan ibadah puasa sebagai
bentuk kepasrahan mutlak terhadap Allah Swt. Karena itu orang tidak perlu mengetahui jawaban
atas pertanyaan apa sebetulnya manfaat berpuasa, tetapi harus membulatkan tekat untuk
melakukan puasa. Menurut pendapat Abu Suud; puasa adalah salah sebuah simbol kepasrahan
diri, suatu sikap yang menunjukkan adanya pemahaman yang tinggi terhadap sikap hubungan
antara manusia dengan Tuhan.Apabila pendapat tersebut di telaah dengan pendekatan kerangka
berpikir Al-Quran, maka puncak hubungan antara Tuhan dengan manusia itu disifatkan oleh
Allah dalam Al-Quran sebagai hubungan antar kekasih, sebagaimana dinyatakan dalam
firmannya:Katakanlah kalau kalian mencintai Allah, maka ikutlah daku, Allah mencintai kalian,
lalu memberi kalian ampunan, dan Allah itu memang Maha Pengampun dan Penyayang. (Q.S
Ali-Imron: 31)
Dari sinilah tampak adanya nilai pendidikan dalam ibadah puasa yang diajarkan oleh agama
Islam. Dalam Islam puasa dinyatakan sebagai sarana pernyataan secara mutlak kepada Allah
Swt. hal ini disebabkan karena manusia menyadari betapa baiknya hubungan antara Allah
dengan hambanya, sebagai hubungan Cinta Kasih yang akan dapat memberikan
keberuntungan.Bila kita renungkan dari penjelasan diatas akan semakin jelaslah pengaruh
pelaksanaan ibadah puasa bagi pendidikan, dimana tidak dicari-cari bila dinyatakan bahwa, ada
beberapa aspek lain dari perubahan sikap dan perilaku manusia, diantaranya dalam hal dispensasi
menjelaskan puasa Allah menaruh sasaran perubahan sikap itu dalam aspek pemahaman
(kognitif), yaitu,inkuntu talamun(Al-baqarah, 184). Setelah memberi tahu pentingnya bulan
Ramadhan, bagi kelangsungan hidup umat manusia, karena Ramadhan itu merupakan bulan
diturunkan Al-Quran, Allah menghendaki kita manusia untuk pandai bersyukur dengan jalan
melakukan puasa setiap bulan Ramadhan datang, hal ini dinyatakan Allah dengan bahasa
Laalllakum tasykurun( Al- Baqarah, 186).Ketika Allah kembali menerangkan hakekat puasa,
adalah berpantang, tidak boleh makan, tidak boleh minum tidak boleh berhubungan dengan
suami- istri, selama waktu menjalankan puasa, sekali lagi dalam kontek ini Allah menjelaskan
dan mengharapkan kepasrahan mutlak dengan menyatakan ;Laallakum tattaquun( Al-
Baqarah, 187)












BAB III
KESIMPULAN
Semua masyarakat menganut atau memiliki kepercayaan sendiri-sendiri tentang agamanya
.Agama yang benar tidak dirumuskan oleh manusia. Manusia hanya dapat merumuskan
kebajikan atau kebijakan, bukan kebenaran. Kebenaran hanyalah berasal dari yang benar yang
mengetahui segala sesuatu yang tercipta, yaitu Sang Pencipta itu sendiri. Dan apa yang ada
dalam agama selalu berujung pada tujuan yang ideal. Ajaran agama berhulu pada kebenaran dan
bermuara pada keselamatan. Ajaran yang ada dalam agama memuat berbagai hal yang harus
dilakukan oleh manusia dan tentang hal-hal yang harus dihindarkan. Kepatuhan pada ajaran
agama ini akan menghasilkan kondisi ideal.
Orang yang sehat mental akan senantiasa merasa aman dan bahagia dalam kondisi apapun, ia
juga akan melakukan intropeksi atas segala hal yang dilakukannya sehingga ia akan mampu
mengontrol dan mengendalikan dirinya sendiri baik yang disebabkan oleh kepribadian maupun
lingkungan masing-masing. Fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT ialah manusia
diciptakan mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama
tauhid, maka tidak wajar, mereka tidak beragama tauhid itu hanya karena pengaruh lingkungan
Hubungan antara kejiwaan dan agama dalam kaitannya dengan hubungan antara keyakinan dan
kesehatan jiwa terletak pada sikap penyerahan diri seseorang terhadap suatu kekuasaan yang
maha tinggi sehingga akan dapat memunculkan perasaan positif pada kesehatan mental
seseorang.










DAFTAR PUSTAKA
http://www.republika.co.id)
Referensi :
Al-quran dan terjemahnya-Kementerian Agama RI.
Shahih Bukhari-Imam Bukhori
Al Jami Ash Shohih Al Musnad min haditsi rasulillaahi shallallaahu alaihi wasallam wa
sunanihi wa ayyamihi-Imam Muslim.
http://www.republika.co.id,
Lentera Hidup Buya Hamka
http://id.wikipedia.org

dari : http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j& ... FA&cad=rja