Anda di halaman 1dari 6

Aktivitas fisik

Hiperkolesterolemia dapat meningkatkan risiko terkena penyakit kardiavaskular.


Prevalensi hiperkolesterolemia di indonesia rentang umur 25-65 tahun menurut survey
konsumsi rumah tangga (SKRT) 2004 adalah sebesar 1.5 % dan prevalensi batas tinggi
(kadar kolesterol darah 200-249mg/dl)adalah sebesar 11,2%) kelompok batas tinggi dapat
menjadi hiperkolesterolemia apabila tidak menjaga pola hidup sehat dan seimbang.
19
Kadar
kolesterol darah dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adalah aktivitas fisik.
19. Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Status kesehatan masyarakat Indonesia. In: Soemantri S, Budiarso LR, Sandjaja,
editors. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT); 2004. Volume 2. p. 34-6.

Aktivitas fisik merupakan bentuk multidimensional yang kompleks dari perilaku
manusia daripada perilaku secara teoritis yang meliputi semua gerak tubuh mulai dari
gerakan kecil hingga turut serta dalam lari marathon. Aktivitas fisik biasanya mengacu
pada gerakan beberapa otot besar seperti menggerakkan lengan dan tungkai. Aktivitas
fisik umumnya diartikan sebagai gerak tubuh yang ditimbulkan oleh otot-otot skeletal
dan mengakibatkan pengeluaran energi. Aktivitas fisik merupakan bentuk perilaku,
sedangkan pengeluaran energi merupakan hasil dari perilaku tersebut.
27

27. Gibney MJ, Margetts BM, Kearney JM. 2005. Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Davidson (2012) mengatakan bahwa kadar kolsterol dipengaruhi oleh asupan
lemak, karbohidrat, dan protein, menurut Mahan dan Escot-Stump (2008) asupan serat,
asupan kolesterol, dari pangan dan aktivitas fisik juga dapat mempengaruhi kadar
kolesterol darah. Aktivitas fisik berpengaruh terhadap kadar kolesterol darah. Aktivitas
fisik yang rendah akan mendorong keseimbangan energi ke arah positif sehingga
mengarah pada peyimpanan energi dan pada penambahan berat badan, akibatnya akan
berpengaruh pada peningkatan kadar kolesterol darah, begitu pula sebaliknya (sihadi
2006). Berdasarkan hasil penelitian hubungan antara konsumsi pangan dan aktivitas fisik
dengan kadar kolesterol darah pri dan wanita deawsa di Bogor pada tahun 2013
didapatkan hasil bahwa tingkat aktivitas fisik dan jenis kelamin berpengaruh nyata
terhadap kadar kolesterol darah (P<0.05). hasil penelitian Shirazi (2008) menyatakan hal
yang sama yaitu olah raga teratur dapat menurunkan kadar kolesterol darahsecara
signifikan dan meningkatkan kadar HDL dalam darah.
28
28 Pangan dan Kesehatan: 2003. Kolesterol tinggi. Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia. www.lipi.go.id.

Frekuensi aktivitas fisik mengacu pada jumlah sesi aktivitas fisik per satuan
waktu. Durasi aktivitas fisik merupakan lamanya waktu yang dihabiskan ketika
melakukan aktivitas itu, Intensitas aktivitas fisik sering dinyatakan dengan istilah ringan,
sedang atau moderat, keras atau vigorous dan sangat keras atau stenuous. Kategori
intensitas ini dapat didefinisikan dengan pengertian absolute dan relative.
Pengelompokan absolute yang sering dipakai untuk intensitas aktivitas fisik adalah
klasifikasi MET (metabolicenergy turnover). Satu MET sama dengan pengeluaran energi
saat istirahat yaitu sekitar 3,5 ml O2/kg per menit. Kisaran aktivitas spesifik yang luas
telah diklasifikasikan menurut nilai MET masing-masing.
27

Tabel ?? .Nilai MET (Metabolic Energy Turnover) dari sejumlah aktivitas pekerjaan
27
Pekerjaan
Nilai MET
(kkal/menit)
Konstruksi, umum diluar gedung 5.5
Tukang kayu, umum 3.5
Membawa barang berat 8
Duduk, pekerjaan kantor yang ringan, ibu rumah
tangga, pelajar, pertemuan, perakitan/perbaikan
yang ringan
1.5
Berdiri ringan (penjaga toko, penata rambut dll) 2.5
Berdiri sedang (mengangkat barang yang ringan) 3.5



Tabel 7.Nilai MET (Metabolic Energy Turnover) dari sejumlah aktivitas umum
27
Aktivitas
Nilai MET
(kkal/menit)
Membersihkan,umum 3.5
Mencuci piring (sambil berdiri)
Menyeterika
2.3
2,3
Memasak (sambil berdiri) 2,5
Menggosok lantai 5.5
Berbaring atau duduk diam (sambil menonton tv,mendengarkan
musik)
1
Merawat anak 2,5
Berkebun 5,0
Mengemudikan kendaraan 2,0
mengemudikan bus, kereta api 1,5
Mengemudikan sepeda motor 2,5
Berjalan, sedang (4,8 km/jam)
Bersepeda
3,5
4,0

Selama aktivitas fisik, otot membutuhkan energi di luar metabolisme untuk
bergerak, sedangkan jantung dan paru-paru memerlukan tambahan energi untuk
mengantarkan zat-zat gizi dan oksigen ke seluruh tubuh dan untuk mengeluarkan sisa-
sisa dari tubuh. Banyaknya energi yang dibutuhkan bergantung pada berapa banyak otot
yang bergerak, berapa lama dan berapa berat pekerjaan yang dilakukan. Seorang yang
gemuk menggunakan lebih banyak energi untuk melakukan suatu pekerjaan daripada
seorang yang kurus, karena orang gemuk membutuhkan usaha lebih besar untuk
menggerakkan berat badan tambahan (Almatsier, 2004). Aktivitas fisik dibagi menjadi
aktivitas ringan, sedang, dan berat. Beberapa hasil studi menunjukkan bahwa rendahnya
dan menurunnya aktivitas fisik merupakan faktor yang paling bertanggung jawab
terjadinya obesitas. Dalam penelitian Hadi (2003) menunjukkan bahwa penurunan
aktivitas fisik dan atau peningkatan perilaku hidup sedentarian (kurang gerak)
mempunyai peranan penting dalam peningkatan berat badan dan terjadinya obesitas.
Aktivitas fisik yang rendah dapat menyebabkan kelebihan konsumsi. Rendahnya
aktivitas fisik yang disertai pola makan yang berlebih dapat menimbulkan keadaan gizi
berlebih. Terjadinya peningkatan sel lemak dalam rongga perut atau pinggul diakibatkan
oleh penimbunan energi dalam bentuk jaringan lemak karena mobilisasi energi menurun
(Harsojo, 1997).
18
Energi yang dihasilkan dari metabolisme lemak dua kali lipat
dibandingkan dengan energi yang dihasilkan karbohidrat. Dari gambaran metabolisme di
atas dapat disimpulkan bahwa dalam rangka pemecahan kelebihan lemak dari badan
maka latihan yang dilakukan lebih lama akan menghasilkan nilai tambah (Dede
Kusmana, 2006).
Aktivitas fisik diukur dengan metode faktorial, yaitu merinci semua jenis dan
lamanya kegiatan yang dilakukan selama 24 jam (dalam menit) pada lembar kuesioner,
selanjutnya dicocokkan dengan daftar Nilai Perkiraan Keluaran Energi atau MET
(metabolic energy turnover) pada kegiatan tertentu. Besarnya aktivitas fisik yang
dilakukan seseorang selama 24 jam dinyatakan dalam Physical Activity Level (PAL)atau
tingkat aktivitas fisik. PAL merupakan besarnya energi yang dikeluarkan (Kkal) per
kilogram berat badan selama 24 jam. PAL ditentukan dengan rumus sebagai berikut :



Keterangan :
PAL = Physical activity level (tingkat aktivitas fisik)
PAR = Physical activity rasio (jumlah energi yang dikeluarkan untuk tiap jenis
kegiatan per satuan waktu tertentu)
W = Alokasi waktu tiap aktivitas (jam)
Tabel 7. Kategori tingkat aktivitas fisik berdasarkan nilai PAL (FAO/WHO/UNU)
2001)
Kategori
Nilai PAL
(kkal)
aktivitas ringan 1,40-1,69
aktivitas sedang 1,70-1,99
aktivitas berat 2,00-2,40

PAL = ( PAR x w )
24 jam

DEFENISI OPERASIONAL
Aktivitas fisik
Aktivitas fisik adalah penjumlahan pengeluaran energi dalam satuan kilokalori
(Physical Activity Level) yang diperoleh dari catatan kegiatan responden berupa
aktivitas yang melibatkan gerak tubuh serta aktivitas dalam batasan pekerjaan
dikalikan dengan durasi aktivitas dalam jangka waktu 24 jam terakhir.

Aktivitas fisik dikategorikan menjadi:
a. Ringan
b. Sedang
c. Berat
Cara ukur:

1. Menghitung nilai MET dari catatan aktivitas harian yang umum dilakukan dalam
satu hari. MET setiap kegiatan yang dilakukan dikalikan frekuensi dengan durasi.
2. Besarnya aktivitas fisik yang dilakukan seseorang selama 24 jam dinyatakan
dalam Physical Activity Level (PAL) atau tingkat aktivitas fisik.
PAL ditentukan dengan rumus sebagai berikut :
PAL = ( PAR x w )
24 jam
Keterangan :
PAL = Physical activity level (tingkat aktivitas fisik)
PAR = Physical activity rasio (jumlah energi yang dikeluarkan untuk tiap jenis
kegiatan per satuan waktu tertentu/MET)
W = Alokasi waktu tiap aktivitas (jam)


Kategori tingkat aktivitas fisik berdasarkan nilai PAL (FAO/WHO/UNU 2001)
Kategori
Nilai PAL
(kkal)
aktivitas ringan 1,40-1,69
aktivitas sedang 1,70-1,99
aktivitas berat 2,00-2,40

Alat ukur: Kuesioner
Skala: ordinal
Koding:
Kode 1= aktivitas ringan
Kode 2 = aktivitas sedang
Kode 3 = aktivitas berat