Anda di halaman 1dari 3

YUSNIA SATYAWATI HARDININGTYAS

I 0211061
ARSITEKTUR JAWA

PENDAPA NDALEM SASONO MULYO
Ndalem Sasono Mulyo merupakan rumah tinggal yang diperuntukkan bagi pangeran yang berdiri
tahun1811 saat pemerintahan PB IV dan sekarang menjadi bangunan cagar budaya.
Berikut penjelasan singkat tentang pola tata ruang Ndalem Sasono Mulyo:



















Penjelasan tentang Pendhopo Ndalem Sasono Mulyo (salah satu pendapa terbesar di lingkungan
Kraton):
KEPERCAYAAN
PENDAPA
Denah pendapa berbentuk bujur sangkar, mempunyai empat saka guru yang ada di tengah
ruangan. Dinamakan saka guru karena setelah terwujud menjadi empat buah cathokan maka
segenap pengukuran dalam membuat besar-kecilnya balungan griya maupun segenap tumpang,
sama-sama mengambil patokan ukuran pada keempat batang balandar-pangeret tadi. Jadi,
mengukur itu tidak boleh sekadar menduga-duga atau asal mengukur semata. Jumlah ini merupakan
simbol adanya pengaruh kekuatan yang berasal dari empat penjuru mata angin (konsep Pajupat).
Dalam konsep ini, manusia dianggap berada di tengah perpotongan arah mata angin, tempat yang
dianggap mengandung getaran magis yang amat tinggi. Tempat ini disebut sebagai Pancer atau
Manunggaling Keblat Papat.
Hal-hal tersebut mencerminkan manusia Jawa sebagai golongan masyarakat archaic yang
menempatkan kosmologi sebagai sesuatu yang penting dalam hidupnya. Yang meyakini kehidupan
Berfungsi seperti kanopi, namun
transportasinya berupa kuda
Tempat berkumpul, diskusi. Sekarang, digunakan untuk tempat
pernikahan, persemayaman sementara bagi keluarga Keraton yang
wafat, latihan sanggar tari, pencak silat, arisan warga pada setiap
tanggal 10, PKK warga pada setiap tanggal 15, acara 17 Agustusan,
kegiatan pada saat Sura, dan lain-lain
Sebagai tempat pertujukkan wayang
Area privasi dengan atribut-atribut
keluarga yang menghiasi dinding
Sistem pemasangan keseluruhan balok kayu
A. Umpak
B. Soko Guru
C. Sunduk
D. Sunduk Kili
E. Pengeret
F. Blandar
G.Tumpangsari
Sistem pemasangan keseluruhan balok kayu
Sumber gambar situasi dan denah: Ir. Eko Budihardjo, MSc
YUSNIA SATYAWATI HARDININGTYAS
I 0211061
ARSITEKTUR JAWA

ini dipengaruhi kekuatan yang muncul dari dirinya sendiri (Jagad Alit / Mikrokosmos) dan kekuatan
yang muncul dari luar dirinya/alam sekitarnya (Jagad Gede / Makrokosmos). Sehingga perwujudan
dari konsep bentuk Rumah Joglo merupakan refleksi dari lingkungan alamnya yang sangat
dipengaruhi oleh geometrik , yang sepenuhnya dikuasai oleh kekuatan dari dalam diri sendiri dan
pengaruh geofisik, yang sangat tergantung pada kekuatan alam lingkungannya. Atap joglo sendiri
mengambil filosofis bentuk gunung, yaitu tempat tertinggi. Yang dimaksud tempat tertinggi ialah
tempat yang dianggap suci dan tempat tinggal para Dewa/ Tuhan.



EKSPRESI PRIBADI
Saka guru berfungsi untuk menopang blandar tumpang sari yang bersusun ke atas semakin ke atas
semakin melebar dan biasanya berjumlah ganjil serta diukir. Pada pendapa ini, tumpang sari
berjumlah 5. Ukiran pada tumpang sari ini menandakan status sosial pemiliknya. Semakin banyak
tingkatan tumpang sari yang ada pada bangunan, semakin tinggi strata sosial pemiliknya. Tumpang
sari sendiri berfungsi sebagai tumpuan kayu usuk untuk menahan struktur brunjung dan molo
serta usuk yang memanjang sampai tiang emper bangunan Joglo. Peninggian lantai di pendapa
juga tergantung pada strata pemilik rumah. Semakin tinggi strata sosialnya biasanya peninggian
lantai bisa sampai tiga tingkat.


Atap Joglo
Saka guru Pendapa Sasana
Mulya, simbol akan adanya
suatu yang ditinggikan dan
diagungkan (Tuhan).
Dalam menjalankan
aktivitas sehari-hari, baik
formal maupun non formal
tidak terlepas dari Tuhan ,
termasuk yang
berlangsung di pendapa


Tumpang sari berjumlah 5 Ukiran pada tumpang sari
YUSNIA SATYAWATI HARDININGTYAS
I 0211061
ARSITEKTUR JAWA

IKATAN SOSIAL
Pendapa biasa digunakan sebagai tempat berkumpul dan rembugan/diskusi. Sekarang ini, pendapa
Sasana Mulya lebih banyak digunakan sebagai tempat untuk pernikahan, persemayaman sementara
bagi keluarga Keraton yang wafat, latihan sanggar tari, pencak silat, arisan warga pada setiap tanggal
10, PKK warga pada setiap tanggal 15, acara 17 Agustusan, kegiatan pada saat Sura, dan lain-lain.


MAKNA
Pendapa Sasana Mulya mempunyai bentuk dan tata ruang yang simetris. Dalam ruang maupun
dalam kenampakan elevasi bangunan, sumbu-sumbu berada pada bagian yang membagi ruang dan
elevasi tersebut secara simetris, dan memang demikianlah hakikat sumbu. Kedudukan ini juga
sekaligus memperkuat pemaknaan bangunan atau bentuk. Pada garis sumbu kebanyakan diletakkan
fungsi-fungsi jalan utama, pintu masuk, atau pusat orientasi. Dengan melewati, memasuki atau pun
memusatkan perhatian, orang seolah menyatakan sikap penghayatan, penghormatan, dan ketaatan
kepada apa yang ada di balik maksud simbol-simbol tersebut dibuat.
Di samping itu, sumbu simetri memberikan kesan equillibrium (keseimbangan). Bangunan yang
simetris adalah bangunan yang terkesan stabil, kokoh, diam, dalam posisi yang seimbang. Kesan
keseimbangan ini tentunya diperlukan untuk mendukung sikap solemnitas. Ruang yang simetris
menggambarkan alam kosmos yang ideal, berputar dalam kondisi yang harmonis. Bahkan simetri
bentuk menggambarkan dealisme atau cita-cita kesempurnaan.


Dua orang yang sedang berbincang-
bincang di pendapa
SIMETRIS