Anda di halaman 1dari 56

MATERI KULIAH

GEOFISIKA EKSPLORASI (GS7442P)



T. GEOLOGI STTNAS
YOGYAKARTA

METODE SEISMIK

Metode geofisika yang memberikan informasi
mengenai perubahan sifat elastis batuan berdasarkan
pada kecepatan dan sifat gelombang

Dasar dikembangkannya metode seismik : GEMPABUMI

Pada tahun 1846 : Robert Mallet melakukan eksperimen
dengan membuat getaran dari ledakan bahan peledak
GEMPABUMI : GETARAN DALAM BUMI YANG TERJADI
SEBAGAI AKIBAT DARI TERLEPASNYA ENERGI YANG
TERKUMPUL SECARA TIBA-TIBA DALAM BATUAN
YANG MENGALAMI DEFORMASI

1. GEMPA TEKTONIK
2. GEMPA VOLKANIK
3. GEMPA SEBAGAI AKIBAT RUNTUHAN
SEPERTI : GERAK TANAH (LONGSOR) ATAU
AMBLESAN YANG BIASA TERJADI
DI DAERAH-2 PENAMBANGAN DALAM)
4. GEMPA BUATAN
SEPERTI LEDAKAN DINAMIT ATAU NUKLIR


AWAL ABAD 20, DICIPTAKAN ALAT UNTUK
MENGUKUR CEPAT RAMBAT GELOMBANG,
SEISMOGRAPH
Measuring Earthquakes
Science of seismology
Use seismograph machine
Produce a seismogram
Measure P, S, (body-waves) and L
(surface-waves)
Elastic Rebound
Theory
Friction impedes
movement on fault plane
Stress builds up in crust
as plates move past each
other stores energy.
Amount energy stored =
magnitude of earthquake
Energy is released as fault
finally ruptures
earthquake
Point of first rupture -
focus of earthquake,
epicentre is point on
surface directly above
focus

Kecepatan rambat gelombang pada batuan tidak
selalu sama, tergantung pada :
* jenis batuan
* porositas
* umur batuan
* tekanan
dsb




Grafik rekaman dari waktu penjalaran
gelombang dari gelombang seismik disebut
dengan SEISMOGRAM



Macam-macam gelombang seismik


1. GELOMBANG DI DALAM LAPISAN BUMI
a. gelombang longitudinal/gelombang
primer/gelombang horisontal/compressional
waves/P
Gelombang ini bersifat :
- arah getaran partikel sejajar dengan arah penjalaran
gelombang
- bergerak lebih cepat dan akan terakam pertama kali
pada alat seismigraph (first to arrival time)
Kecepatan rambat gelombang longitudinal :
Vl = k + 2/3


b. gelombang transversal/gelombang
sekender/gelombang vertikal/shear
waves/S
Gelombang ini bersifat :
- arah getaran partikel tegak lurus dengan
arah penjalaran gelombang
- bergerak lebih lamat dan akan terakam
setelah gel P pada alat seismigraph (second to
arrival time


= E . ( 1 + 2
2
)/(1 - - 2
2
)

= E . ( 1 - )/(1 - 2) (1 + )



Dimana : : rapat massa
E : modulus young
: modulus geser

= E / 2 (1 + )
k = modulus benda
k = E / 3 (1 2)










Kecepatan rambat gelombang transversal :
Vt =

Vt = E . 1 / 2(1+)


Vl = k + 4 / 3
Vt
= 1 -
-

Gelombang transfersal dan longitudinal akan
berbeda kecepatannya bila melewati batuan yang
berbeda jenisnya. Apabila mengenai batas
perlapisan batuan (bidang discontinuity), maka
ke-2ngelombang akan dipantulkan (refleksi ) atau
terbiaskan (refraksi), yg kemudian akan
diterima oleh alat geophon. bidang discontinuity
disebut dengan perbedaan acoustic impedence.



2. GELOMBANG PADA PERMUKAAN BUMI
(SURFACE WAVE)

a. gelombang rayleigh, bersifat :
menjalar disepanjang benda padat elastik yang bebas
Gerak partikel dalam bidang vertikal berbentuk elips
Amplitudo berkurang terhadap kedalaman
b. gelombang love, bersifat :
- Gelombang permukaan yg hanya terjadi jika lapisan
kecepatan rendah menutupi medium berkecepatan lebih
tinggi (merambat pada batas formasi / litologi)
- Gelombang menjalar dengan refraksi berkali-kali antara
permukaan atas dan bawah lapisan dengan kecepatan
rendah.
Gelombang Primer
Gelombang Sekunder
Gelombang Cinta
Gelombang Rayleigh
Arah perjalanan
gelombang
Arah pergerakan
materi batuan
(getaran)
Skema penjalaran gelombang gempabumi
dari sumber ke permukaan







INTI DALAM
INTI LUAR
MANTEL
KERAK
IND
INTI DALAM
INTI LUAR
MANTEL
KERAK
3. PROSES-2 YANG DIMOTORI
ENERGI DARI DALAM BUMI

MERUBAH BENTUK STRUKTUR
KULIT (KERAK) BUMI :
1.GEMPA BUMI
2.VULKANISMA
3.PEMBENTUKAN PEGUNUNGAN
VULKANISMA
PEGUNUNGAN
Lempeng
Hindia-Australia
Lempeng
Pasifik
Lempeng
Eropa-Asia
SLEMAN-YOGYAKARTA
Lokasi Pusat
Gempabumi
Yogyakarta :
27 Mei 2006
Jam
05:54:01
WIB
Pusat : 8,007
LS 110,286
BT
Faktor yang mempengaruhi cepat /lambatnya
penjalaran gelombang seismik :
1. Jenis dan macam batuan
2. Kedalaman : makin dalam dan makin rapat, maka
gelombang elastis yang menjalar juga makin cepat
3. Porositas : makin porous batuan tersebut, maka
gelombang yang melaluinya makin lambat
4. Umur batuan : semakin tua umur batuan, maka
gelombang yang menjalar akan semakin cepat
5. Densitas batuan : makin besar densitasnya, maka
gelombang yang menjalar juga semakin cepat


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari data
seismik :
1. Ditampilkan dalam bentuk waktu bukan
kedalaman
2. Ditampilkan dalam 2 D, padahal aslinya 3D
3. Tidak semua wavelet berasal dari data geologi,
tetapi sebagian dari hasil prosesing

PENGAMBILAN DATA SEISMIK :
1. RECOGNISANCE
2. PEMILIHAN JALUR (LINE)
3. PEMASANGAN PATOK DAN PENGUKURAN
TOPOGRAFI (KOORDINAT, ELEVASI, ARAH
LINTASAN)
4. PEMBUATAN LUBANG DINAMIT (MELEWATI
WEATRHERING ZONE/ ZONA LAPUK)
5. PEMASANGAN GEOPHON
Ada 2 metode pemasangan geophon :
1. FAN SHOOTING : kedudukan titik peledakan
dan geophon tidak dalam 1 garis
2. LINE SHOOT/PROFIL SHOOT : titik peledakan
dan geophon berada dalam 1 garis

Akibat perbedaan jarak geophon terhadap titik
tembak yang berbeda , mengakibatkan hasil
rekaman seismik membentuk garis lengkung
(parabolik) yang biasa disebut NMO (NORMAL
MOVE OUT). Sehingga harus dilakukan koreksi
dengan KOREKSI DINAMIK (NMO CORECTION)
Untuk mendapatkan rekaman seismik yang baik,
maka dalam prosesing data bisa dialakukan dengan
cara :
1. stacking velocities : penggabungan trace dengan
tujuan mendapatkan trace yang lebih tajam dan
bebas noise
2. statick correction : menghilangkan pengaruh
topografi (elevasi), ketebalan zona lapuk, dan variasi
kecepatan gelombang sesimik pada lapisan lapuk.
3. Deconvolution : mengurangi ground roll,
memperbaiki bantuk wavelet yang kompleks akibat
pengaruh noise
4. Migration : untuk mendapatkan reflektor
pada posisi dan waktu pantul yang
sebenarnya
5. Coherency filtering : menghilangkan sinyal
yang inkoheren.
Beberapa hukum dasar geologi yang dipergunakan
untuk interpretasi sesimik :
1. Hukum superposisi : pada suatu urutan lapisan
batuan yang tidak terganggu, batuan yang lebih
tua terdapat di bagian bawah batuan yang lebih
muda
2. Hukum Uniformtarisme : proses yang dulu
berlangsung, sampai sekarang masih terus
berlangsung
3. Hukum Horisontal : batuan yang diendapkan
pada suatu sistem pengendapan, pda mulanya
keududukannya horisontal
Sebelum dilakukan interpretasi :
1. Periksa infromasi pada label
2. Cek skala
3. Plot posisi sumur
4. Pelajari velocity yang dipakai
5. Pilih reflektor yang dipakai
6. Ikat dengan garis lain dan diwarnai
7. Tandai struktur geologi yang ditemukan
8. Bangun sejarah geologinya
9. Pilih horison yang akan dipetakan
10. Buat peta
Metode seismik didasarkan pada gelombang yang menjalar baik refleksi
maupun refraksi. Ada beberapa anggapan mengenai medium dan gelombang
dinyatakan sebagai berikut :

a. Anggapan yang dipakai untuk medium bawah permukaan bumi antara lain
:
1. Medium bumi dianggap berlapis-lapis dan tiap lapisan menjalarkan
gelombang seismik dengan kecepatan berbeda.

2. Makin bertambahnya kedalaman batuan lapisan bumi makin
kompak.

b. Anggapan yang dipakai untuk penjalaran gelombang seismik adalah :

1. Panjang gelombang seismik << ketebalan lapisan bumi. Hal ini
memungkinkan setiap lapisan bumi akan terditeksi.
2. Gelombang seismik dipandang sebagai sinar seismik yang memenuhi
hukum Snellius dan prinsip Huygens.

3. Pada batas antar lapisan, gelombang seismik menjalar dengan
kecepatan gelombang pada lapisan di bawahnya.

4. Kecepatan gelombang bertambah dengan bertambahnya kedalaman.
Hukum Snellius pada Gelombang Seismik
Gelombang seismik yang melewati bidang batas antara dua medium
dengan densitas dan kecepatan yang berbeda, maka sebagian
gelombang tersebut akan dipantulkan (reflected) dan sebagian lagi
akan dibiaskan (refracted).
Jika suatu gelombang P melintasi bidang batas antara dua medium
isotropik, maka gelombang tersebut sebagian dipantulkan sebagai
gelombang P dan S dan sebagian dibiaskan sebagai gelombang P dan S
Metode seismik sering digunakan dalam eksplorasi hidrokarbon, batubara,
pencarian airtanah (ground water), kedalaman serta karakterisasi
permukaan batuan dasar (characterization bedrock surface), pemetaan
patahan dan stratigrafi lainnya dbawah permukaan dan aplikasi geoteknik
Seismic stratigraphy dikembangkan oleh Vail et al, mula-mula di Carter Oil
Company baru kemudian di Exxon, sekitar 1960an. Metoda ini dibuat sebagai
aplikasi Sequence Stratigraphy dalam seismic interpretation. Perubahan sea
level merupakan pengontrol utama bagi perkembangan sequence dalam teori
ini.

Baru tahun 1985, unsur perubahan tektonik diimplementasikan pada teori ini.
Seismic stratigraphy biasanya dipakai lebih untuk skala regional dengan
asumsi tektonik dan sea level change mempunyai pengaruh regional juga.
Dengan demikian bisa dipakai untuk mengkorelasikan satu basin dengan basin
lainnya. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui basin framework. Basin
framework study biasanya dipakai untuk menentukan potential, petroleum
habitat study, basin
ranking, etc.

Berbeda dengan seismik interpretasi yang umumnya dengan skala
prospect/field. Tujuannya mengidentifikasi structure dan trap, kemudian
dihitung volumenya. Detail seismic stratigraphy bisa dipakai untuk depositional
environment study yang berlanjut ke reservoir prediction.
Dalam mempelajari seismik stratigrafi dan sequence stratigraphy ada
istilah onlap, toplap dan downlap, erosional trancation. Pada model
sequence stratigraphy milik Exxon (sering disebut "slug model"),

- Onlap dapat terbentuk di atas sequence boundary, saat transgresi mulai
terjadi dan muka air laut relatif naik.
-Toplap dapat terbentuk di bawah sequence boundary atau pada bagian
atas/awal progradasi,
- Downlap dapat terbentuk di bagian bawah/ujung progradasi.
- Erosional trancation


Bentuk-bentuk "lap-out" tersebut (onlap, toplap dan download) pertama
kali dideskripsi dari data seismik (oleh para pakar seismic stratigraphy
Exxon). Karena resolusi vertikal seismik pada waktu itu tidak
diperhitungkan maka onlap, toplap dan downlap itu digambarkan
"berhenti" pada sebuah "reflektor" lain (entah itu refleksi dari sequence
boundary atau bidang lain). Padahal, jika resolusi vertikal seismik lebih
tinggi, ada kemungkinan ujung onlap yang katanya berhenti pada
sequence boundary/bidang onlap itu sebenarnya masih menerus ke atas
(tapi tipis dan tidak dapat dibedakan di seismik yang resolusinya rendah).




Hidrokarbon (minyak dan gas) terdapat di dalam batuan sediment yang
terbentuk dalam berbagai lingkungan pengendapan seperti channel sungai,
sistem delta, kipas bawah laut (submarine fan), carbonate mound, dan reef.
Batuan sedimen yang terbentuk pada berbagai lingkungan pengendapan
tersebut dikenal dengan benda geologi.

Terdapat 8 jenis bentuk eksternal benda geologi: sheet, sheet drape, wedge,
bank, lens, mound, fan dan fill.
Gelombang seismik yang menembus dan terefleksikan
kembali ke permukaan akan memberikan gambaran bentuk
eksternal dan tekstur internal dari benda-benda geologi
tersebut. Analisis bentuk eksternal dan tekstur internal benda
geologi dari penampang rekaman seismik dikenal dengan
analisa fasies seismik atau seismic facies analysis.
Didalam analisis fasies seismik, batas dari benda-benda
geologi diatas disebut dengan reflection terminations.
Pemetaan reflection terminations merupakan kunci didalam
analisis fasies seismik. Umumnya terminasi tesebut memiliki
karakter refleksi yang kuat (amplitudo refleksi yang cukup
dominan).
Terdapat dua jenis batas benda geologi: batas
atas dan batas bawah, selanjutnya istilah batas
benda geologi tersebut dikenal dengan batas
sekuen seismik (sequence seismic boundary),
Batas tersebut :
erosional truncation dan top lap sebagai batas atas, Erosional Truncation atau
dikenal dengan unconformity (ketidakselaraasan) diakibatkan oleh peristiwa
erosi karena terekspos ke permukaan. Toplap diakibatkan karena tidak adanya
peristiwa sedimentasi dan tidak ada peristiwa erosi.
onlap dan downlap sebagai batas bawah. Onlap, pada lingkungan shelf (shelfal
environment) disebabkan karena kenaikan muka air laut relatif, pada lingkungan
laut dalam akibat sedimentasi yang perlahan, dan pada channel yang tererosi
akibat low energy fill. Downlap, diakibatkan oleh sedimentasi yang cukup intensif.





Prinsip tekstur seismik

Parallel: disebabkan oleh pengendapan sedimen dengan rate yang seragam (uniform
rate), atau pada paparan (shelf) dengan subsiden yang uniform atau sedimentasi pada
stable basin plain.

Subparallel: terbentuk pada zona pengisian, atau pada situasi yang terganggu oleh
arus laut.

Subparallel between parallel: terbentuk pada lingkungan tektonik yang stabil, atau
mungkin fluvial plain dengan endapan berbutir sedang.

Wavy parallel: terbentuk akibat lipatan kompresi dari lapisan parallel diatas
permukaan detachment atau diapir atau sheet drape dengan endapan berbutir halus.

Divergent: terbentuk akibat permukaan yang miring secara progresif selama proses
sedimentasi.

Chaotic: pengendapan dengan energi tinggi
(mounding, cut and fill channel) atau deformasi seteah
proses sedimentasi (sesar, gerakan overpressure shale,
dll.)

Reflection free: batuan beku, kubah garam, interior
reef tunggal.

Local chaotic: slump (biasanya laut dalam) yang
diakibatkan oleh gempabumi atau ketidakstabilan
gravitasi, pengendapan terjadi dengan cepat.

Tekstur yang terprogradasi

Sigmoid: tekstur ini dapat terbentuk dengan suplai sediment yang
cukup, kenaikan muka laut relatif cepat, rejim pengendapan energi
rendah, seperti slope, umumnya sediment butir halus.

Oblique tangential: suplai sediment yang cukup sampai besar, muka
laut yang konstan seperti delta, sediment butir kasar pada delta
plain, channel dan bars.

Oblique parallel: oblique tangensial varian, sediment terpilah lebih
baik.

Complex: lidah delta dengan energi tinggi dengan slope
terprogradasi dalam energi rendah.

Shingled: terbentuk pada zona dangkal dengan energi rendah.

Hummocky: terbentuk pada daerah dangkal tipikal antar delta
dengan energi sedang.

Tekstur Pengisian Channel
Onlap Fill: sedimentasi pada channel dengan energi relative rendah.

Mounded Onlap Fill: sedimentasi dengan energi tinggi. Setidaknya
terdapat dua tahap sedimentasi.

Divergent Fill: shale prone yang terkompaksi dengan sedimenatsi
energi rendah, juga sebagai tipikal tahap akhir dari pengisisan
graben.

Prograded Fill: transport sediment dari ujung atau pada lengkungan
channel.

Chaotic Fill: sedimenatsi pada channel dengan energi yang sangat
tinggi.

Complex Fill: terdapat perubahan arah sedimentasi atau perubahan
aliran air.

Tekstur Karbonat

Reflection free Mound: patch reef atau pinnacle reef; strata
menunjukkan sedimen miring yang lebih terkompaksi (mungkin
shale).

Pinnacle with Velocity Pull-Up: patch reef atau pinnacle reef,
dengan pertumbuhan beberapa tahap (multi stage), mungkin cukup
poros.

Bank-Edge with Velocity Sag: Shelf edge reef dengan porositas yang
sangat bagus, sediment penutupnya mungkin carbonate prone.

Bank-Edge Prograding Slope: shelf edge reef yang bertumpuk,
tertutup oleh klastik, mengalami perubahan suplai sediment.

Tekstur Mounded
Volcanic Mound: margin konvergen pada
tahap awal; pusat aktivitas rifting pada rift
basin

Compound Fan Complex: superposisi dari
berbagai kipas.

Migrating wave: diakibatkan oleh arus laut,
laut dalam.