Anda di halaman 1dari 3

Mahasiswa Unnes kembangkan baterai berbahan lumpur Lapindo

Oleh Webmaster - 03 August 2012 | 0 View


Semarang (ANTARA News) Sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengembangkan pembuatan
baterai sel kering (dry cell battery) berbahan material lumpur panas Sidoarjo atau lumpur Lapindo.
Selama ini, lumpur Sidoarjo hanya dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk membuat genting, batu bata, dan lukisan, kata
mahasiswa Fakultas Matematika dan IPA (MIPA) Unnes Aji Christian Bani Adam di Semarang, Jumat.
Ia mengakui bahwa meluapnya lumpur panas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur pada 2006 memang menjadi tragedi
memilukan, sebab banyak masyarakat kehilangan rumah dan harta benda karena tertimbun lumpur.
Kami berpikir material lumpur sebanyak itu sia-sia kalau tidak dimanfaatkan. Setelah kami teliti, ternyata lumpur Sidoarjo
memiliki kadar garam tinggi mencapai 40 persen dan kandungan berbagai logam, katanya.
Aji bersama ketiga kawannya, yakni Umarudin (FMIPA), Oki Prisnawan (Fakultas Ekonomi), dan Yoga Pratama (Fakultas Ilmu
Keolahragaan) kemudian mulai serius meneliti dan mengembangkannya untuk membuat baterai kering.
Proses pembuatan baterai kering yang dinamainya Lusi Cell, singkatan dari Lumpur Lapindo, itu masih dilakukan secara
manual dengan memanfaatkan selongsong baterai bekas yang isinya diganti material lumpur Lapindo.
Sebelumnya, kami lakukan ekstraksi logam yang terkandung dalam lumpur, seperti mangaan, merkuri, dan sebagainya.
Kemudian, dikomposisi dengan bahan-bahan kimia menjadi sel kering, kata mahasiswa asal Banyumas itu.
Sel-sel kering itu kemudian dimasukkan dalam selongsong baterai bekas berbagai merek yang selama ini menjadi limbah,
kata dia, sehingga penemuan itu sekaligus mendaur ulang baterai-baterai yang sudah habis terpakai.
Mereka hanya membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit untuk membuat satu buah baterai berkapasitas 1,5 volt dari lumpur
Lapindo. Saat ini mereka sudah memproduksi sebanyak 20 baterai.
Kami jual baterai itu dengan harga Rp3.000/buah, sementara kalau membeli satu paket berisi empat baterai cukup Rp10
ribu. Setiap pembelian paket ini kami donasikan satu kilogram beras bagi korban lumpur, kata Aji.
Penemuan baterai karya mahasiswa Unnes ini menyabet juara kedua ajang Technopreneurship 2012, setelah Universitas
Indonesia sebagai juara pertama. Sementara, juara ketiga Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
(ANT)

Pakar Geologi Pastikan Lumpur Lapindo Karena
Salah Pengeboran
JAKARTA--MICOM: Bencana semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, mutlak karena kesalahan
operasional pengeboran, bukan karena bencana alam.

Hal itu disampaikan oleh beberapa pakar saat memberi keterangan selaku ahli dalam sidang uji materil Pasal 19 UU
Nomor 22 Tahun 2011 tentang APBN dan Pasal 18 UU No.4 Tahun 2012 tentang APBN-P 2012 di Gedung Mahkamah
Konstitusi (MK) di Jakarta, Selasa (7/8).

Dalam APBN-P 2012, pemerintah mengalokasikan dana Rp1,5 triliun untuk Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo
(BPLS). Uji materi tersebut diajukan pensiunan dosen Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga Tjuk Kasturi Sukiadi,
mantan Komandan Marinir Letjen (Purn) Suharto, serta Ali Azhar Akbar (penulis buku Konspirasi SBY-Lapindo dan
peneliti kasus lumpur Lapindo).

Ahli geologi RP Koesoemadinata mengatakan sulit untuk menjelaskan tragedi lumpur Lapindo merupakan bencana
alami. Karena pada dasarnya terjadi kesalahan dalam melakukan pengeboran.

"Dinding sumur tidak dipasang hingga dasar, padahal dalam rencananya dinding akan dipasang hingga dasar tempat
melakukan pengeboran," ucapnya.

Melihat ilustrasi pemasangan dinding, sambung dia, operator hanya memasang dinding 1/4 dari kedalaman
pengeboran yang akan dilakukan.

Anggota Drilling Engineers Club Kersam Sumanta menegaskan hal yang sama. Baginya, semburan lumpur Lapindo
bukan bencana alam, tetapi akibat ulah manusia. Dalam program tertulis, sambung Kersam, dinding harus dipasang
hingga kedalaman 8.500 feet, namun pada kenyataannya hal tersebut tidak dipenuhi. Bahkan, lanjut Kersam,
pengeboran terus dilakukan hingga kedalaman 9.297 feet.

"Tidak mematuhi program yang sudah disetujui bersama, dan mengabaikan saran share holder Medco untuk
memasang dinding hingga kedalaman 8.500 feet sebelum melanjutkan pengeboran tanpa alasan yang jelas," tuturnya.

Kersam menambahkan, karena dinding tidak dipasang hingga kedalaman 8.500 ft, tekanan air dari dalam terus naik ke
atas dan mencari celah yang akhirnya menyembur tidak jauh dari sumur pengeboran. "Tidak mungkin seorang
pengendara motor yang memiliki SIM tidak tahu lampu merah itu artinya berhenti. Begitu pun dengan pelaksana
pengeboran, jadi ini merupakan kesalahan yang disengaja," cetusnya.

Anggota Drilling Engineers Club Mustiko Saleh menambahkan, alasan lain yang terlihat dibuat-buat adalah gempa bumi
Yogyakarta pada 27 Mei 2006 dinyatakan menjadi penyebab menyemburnya lumpur di Sidoarjo.

Menurut Mustiko, tidak ada kaitan gempa dengan semburan lumpur. Rekaman alat pengukur getaran gempa
(seismograph) yang overscale merupakan hasil manipulasi Lapindo.

"Gempa Yogyakarta itu dua hari sebelum lumpur Lapindo menyembur, kemudian paling jauh dampak dari gempa
hanya 100 Km. Nah, Sidoarjo itu jaraknya 275 Km. Di Sidoarjo pun tidak ada bangunan yang roboh, jadi alasan itu tidak
benar," kata Mustiko. (*/OL-04)


MEMBUKA TEKA-TEKI PENYEBAB SEMBURAN LUMPUR LAPINDO
Analisis Perbandingan Pendapat Para Ahli
ABSTRAK
1. Pendapat para ahli geologi, pemboran, dan perminyakan yang berpendapat bahwa semburan lumpur Sidoarjo disebabkan
gempa Jogja telah meragukan sebab para ahli tersebut bukanlah ahli atau peneliti gempa bumi. Para ahli tersebut juga
tidak pernah menganalisis secara mendalam pengaruh jeda waktu atau perbedaan peristiwa gempa Jogja 27 Mei 2006
dengan awal semburan lumpur Lapindo 29 Mei 2006. Sedangkan para ahli geologi serta pemboran yang berpendapat
bahwa penyebab semburan lumpur Lapindo adalah kesalahan eksplorasi Lapindo cocok atau sesuai dengan kejadian
kronologi pemboran di Sumur Banjar Panji 1 (BJP 1) Sidoarjo yang disusun oleh Lapindo Brantas Inc., BP Migas, Mekanik
Kontraktor Pemboran Lapindo Brantas Inc (PT. Tiga Musim Jaya Mas) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Namun
demikian untuk menghilangkan keraguan adanya pengaruh gempa Jogja atau tidak sebagai penyebab semburan lumpur
tersebut maka perlu dilakukan penelitian yang dilakukan ahli gempa berkerjasama dengan ahli geologi lainnya serta ahli
pemboran minyak dan gas bumi (migas) dengan data-data primer. Lapindo Brantas Inc seharusnya buka-bukaan, tidak
menyembunyikan data pentingnya untuk tujuan kemudahan menyimpulkan penyebab semburan lumpur itu guna
penentuan metode upaya penghentian semburan lumpur Lapindo.
2.
Ilmuwan Rusia: Lumpur Lapindo Akibat Gunung Lumpur

Liputan6.com, Jakarta: Laporan hasil penelitian ilmuwan asal Rusia dari Universitas Odessa, Ukraina,
menyatakan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, bukan berasal dari pengeboran, melainkan akibat kegiatan
seismik. Dengan demikian, memicu kembali aktifnya gunung lumpur tua yang telah terbentuk sekitar 150.000-
200.000 tahun lampau.
"Gempa bumi yang terjadi sekitar setahun yang lalu, sebelum munculnya semburan lumpur Lapindo, merupakan
peristiwa geologi yang membantu pembukaan saluran lumpur," ujar Kadurin dalam seminar pemaparan hasil
penelitian lumpur Lapindo di Jakarta, Kamis (30/9).

Lumpur Lapindo dipicu oleh dua gempa bumi yang terjadi sekitar 10 bulan pada 9 Juli 2005, dengan pusat gempa
tepat di bawah zona letusan lumpur dengan kekuatan gempa 4,4 skala Richter. Kemudian diikuti gempa
berkekuatan 5,5 skala Richter yang berjarak sekitar 450 kilometer dari lokasi lumpur.

Penelitian ini dimulai sejak kedatangan Presiden Rusia Vladimir Putin, tiga tahun silam. Mereka mencoba
menerapkan penelitian dengan mengonstruksikan Sistem Informasi Geologi (GIS-Geological Information System)
yang memungkinkan untuk menciptakan sebuah model tiga dimensi (3D) dari formasi geologi bawah tanah di
area tersebut.

Dalam presentasinya, para ilmuwan Rusia menggambarkan melalui format 3D guna membuktikan beberapa teori
mengenai lumpur Lapindo yang mencuat selama empat tahun belakangan ini. Berdasarkan temuan tersebut,
semburan lumpur Lapindo terjadi akibat kombinasi gangguan seismik yang mengaktifkan kembali gunung lumpur
tua.

Lebih lanjut Kadurin menjelaskan, hampir sebagian besar wilayah di Pulau Jawa memilki lumpur seperti
semburan lumpur Lapindo.(IDS/ANS)