Anda di halaman 1dari 40

1

Perlindungan Hukum
Dalam Pelayanan Medis
oleh :
Mukhtar Zuhdy
3
Hukum
seperangkat instrumen tatanan sosial
(peraturan perundang-undangan dan atau
peraturan-peraturan lainnya) yang berfungsi
sebagai sarana untuk melindungi
kepentingan dan hak bagi manusia dan alam
sekitarnya dalam kehidupan bermasyarakat
dan bernegara, dan apabila ada yang
melanggar akan dikenai sanksi.


4
HAKEKAT DAN FUNGSI
HUKUM
Sebagai instrumen tatanan sosial yang
diharapkan dapat memberikan jaminan
untuk melindungi dan memberikan
kepastian hukum atas kepentingan-
kepentingan atau hak-hak dan kewajiban
manusia dalam kehidupan sosial yang
tertib, adil dan sejahtera.
5
HUKUM DAPAT BERLAKU
SECARA EFEKTIF APABILA :
Bernilai Kepastian Hukum
Bernilai Keadilan

Bernilai Kemanfaatan
6
Fungsi Hukum
Secara static :
Hukum berfungsi sebagai institusi yang merupakan instrumen untuk
mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Secara dinamic :
Hukum merupakan instrumen dalam suatu rekayasa sosial baik dalam
bidang hukum, politik, ekonomi, budaya dll (instrumen tatanan
sosial).
7
Fiksi Hukum

Bahwa setiap orang dianggap tahu
akan hukum, tidak ada orang bebas
dari hukum dengan alasan karena
tidak tahu hukum
8
Konfigurasi Politik & Hukum



Sistem Politik
OTORITER
DEMOKRATIS
Hukum brsft repressif,
konserfatif & elitis
Hukum brsft responsif
& aspiratif
9
Pondasi Penegakan Hukum
( KH. Yusuf Mohammad)
1. Kebenaran (al-haq)
2. Kejujuran (al-amanah)
3. Keadilan (al-adl)
4. Keikhlasan (al-ikhlas)
10
Tiga Pilar Penegakan Hukum
(Frueudmunt)
1. Substancial of law Sistem Hukum
2. Structural of law Pejabat Penegak Hukum
3. Cultural of law Budaya Hukum Masyarakat
11
(Health Law)
Seperangkat aturan hukum (hukum perdata, hukum pidana dan
hukum adiministrasi) yang mengatur seluruh aspek yang
berkaitan dengan
upaya dan pemeliharaan kesehatan dan penerapannya.
12
Hukum kedokteran merupakan bagian dari hukum kesehatan,
dgn kata lain hukum kedokteran merupakan hukum kesehatan
dlm arti sempit.

Hukum kedokteran dlm arti luas yaitu sgl hal yg dikaitkan
dgn pelayanan medis yang dilakukan oleh semua para medis.

Hukum kedokteran dlm arti sempit yaitu bagian dari medical
law yg meliputi ketentuan hukum yg hanya berhubungan dgn
profesi dokter dalam proses pelayanan medis.

Hukum kedokteran memiliki obyek pelayanan medis,
sedangkan hukum kesehatan memiliki obyek pemeliharaan
kesehatan (health care).
Hukum Kedokteran
13
Fungsi Hukum Kesehatan
Hukum kesehatan mengatur & melindungi
masalah-2 kesehatan yang meliputi :
Lembaga pelayanan kesehatan
Pemberi pelayanan medis (health
providers) & penerima / pengguna
pelayanan (health receivers)
Proses pelayanan kesehatan
14
Hak-hak Dokter/Dokter Gigi
dalam Pelayanan Medik
(Pasal : 50 UU.No: 29 Th.2004)
Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai
dengan standar profesi dan standar operasional prosedur ;
Memperoleh informasi yg lengkap & jujur dari pasien atau keluarganya ;
Menerima imbalan jasa.
15
ASPEK HUKUM
PELAYANAN KESEHATAN
Hukum Perdata :
Hubungan antara pemberi pelayanan medis dgn penerima pelayanan medis
dlm proses pelayanan medis adalah merupakan relasi medis (Hubungan
Terapeutik), secara yuridis merupakan perjanjian hukum (kontrak hukum)
yang didasarkan ketentuan psl 1320 KUHPdt. Dengan demikian apabila ada
pihak yang ingkar janji dan menimbulkan kerugian pihak lain, maka dpt
diselesaikan dgn melalui pendekatan/jalur hukum .
Hukum Pidana :
Tindakan pelayanan medis potensial untuk terjadi adanya perbuatan yang
dpt dikategorikan sbg suatu tindak pidana yang pada umumnya tanpa ada
unsur dolus, (psl 359 360 KUHP), tindak pidana ini dikenal sbg
Malpraktek medis pidana. Selain itu dlm UU.Kesehatan juga terdapat
ketentuan pidana yg mengatur ttg perbuatan-2 yang dapat dikategorikan sbg
tindak pidana. Selanjutnya dlm KUHP juga mengatur tindak pidana tertentu
yang berhubungan dgn mslh medis, misalnya masalah, aborsi (psl 346-349
KUHP), euthanasia psl 344-345 KUHP, dll.
Hukum Administrasi :
Lembaga dan atau orang yang memberikan pelayanan kesehatan harus
memenuhi persyaratan dan perijinan di dalam menjalankan profesinya,
persoalan ini adalah merupakan wilayah pengaturan hukum administrasi.
16
HUBUNGAN TERAPEUTIK
Hubungan antara penyedia jasa medis (health care
provider) dengan pasien (penerima jasa medis)
dalam proses pelayanan medis yang bersifat
paternalistik/kekeluargaan dan atas dasar
kepercayaan.
Hubungan terapeutik memiliki kelemahan apabila
suatu saat dihadapkan konflik antara penyedia jasa
medik (health care provider) dengan penerima jasa
medik (health care receiver), krn dlm hubungan ini
tdk memiliki nilai kepastian juridis yang menjamin
hak dan kewajiban masing-masing pihak.
17
Hubungan antara penyedia jasa medis (health
care provider) dengan penerima jasa medis
(health care receiver) dalam proses
pelayanan medis atas dasar kesepakatan atau
perikatan (verbintenis) para pihak tersebut.

Hubungan ini terkesan formal akan tetapi
memiliki kekuatan mengikat dan bernilai
kepastian hukum, shg apabila terjadi konflik
antara para pihak akan lebih mudah
penyelesaiannya dan lebih terlindungi hak dan
kewajibannya masing-masing pihak.
18
Pada umumnya perikatan dalam hubungan pelayanan medik
(kontrak terapeutik) itu termasuk jenis perikatan (inspaning
verbintenis), dimana penyedia pelayanan medik hanya
dituntut untuk memberikan prestasi berupa upaya medik
yang layak berdasarkan standar profesi medik serta teori
medik yg telah teruji kebenarannya,
Apabila sblmnya ditentukan secara khusus (dalam bentuk
special agreement) bahwa pemberi layanan medik akan
memberikan prestasinya berupa hasil tertentu seperti yang
diinginkan pasien maka yang akan berlaku adalah perikatan
jenis (resultaat verbintenis). Dalam hal ini pemberi layanan
medik dapat digugat jika hasil yang diperjanjikan itu tidak
dipenuhi.
19
Informed Consent : pernyataan setuju dari pasien yang
diberikan dgn bebas dan rasional setelah mendapatkan
informasi dari dokter dan yang telah dimengertinya.

Informed Consent (Persetujuan Tindakan Medik) :
persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarganya
atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan
dilakukan terhadap pasien tersebut (Psl 1.a) Permenkes.
No:585/MEN.KES/PER/IX/1989

Bentuk-bentuk Informed Consent :
1.dengan dinyatakan (tertulis atau lisan).
2.tersirat atau dianggap diberikan (implied consent)
INFORMED CONSENT
20
Informed Consent
(Pasal 45 UU.No.29/2004)
Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yg akan dilakukan oleh dokter atau
dokter gigi thdp pasien harus mendpt persetujuan pasien stlh mendpt pnjlsan mengenai :
1. diagnosis & tata cara tindakan medis.
2. tujuan tindakan medis.
3. alternatif tindakan lain dan risikonya.
4. risiko dan komplikasi yg mungkin terjadi.
5. prognosis thdp tindakan yang dilakukan.
Persetujuan dapat dibuat secara tertulis maupun lisan, khusus untuk tindakan medis yg
berisiko tinggi persetujuan harus dibuat secara tertulis.
21
INFORMED CONSENT
PASIEN DOKTER
INFORMASI
KEP INFORMASI
(Informed Decision)
SETUJU
(Consent)
MENOLAK
(Refusal)
TANDA TANGAN
PERSETUJUAN
TANDA TANGAN
PENOLAKAN
22
Memberikan proteksi hukum thdp :
dokter/dokter gigi/para medis, rumah sakit dan
pasien/keluarganya.

Mencegah/menghindari dari tindakan penipuan
dan paksaan serta kesewenang-wenangan.

Untuk mewujudkan rasa keterbukaan dan
kejujuran dalam pemberian informasi.

23
IMPLIED OR TACIT CONSENT
Persetujuan atau ijin pasien dianggap
diberikan atas dasar kesimpulan dokter
dari sikap dan keadaan pasien. Dengan
kata lain merupakan persetujuan secara
tersirat/tanpa ada pernyataan
persetujuan dari pasien.
24
Malpraktek
secara harfiah malpraktek berasal dari kata mal
(salah/keliru) dan praktek (pelaksanaan/tindakan), dengan
demikian malpraktek berarti suatu pelaksanaan/tindakan
yang salah dalam menjalankan suatu profesi (professional
misconduct)
25
MEDICAL MALPRACTICE
Tindakan dari tenaga medis yang
salah dalam melaksanakan
profesi di bidang medik




26
MEDICAL MALPRACTICE :

27
Ethical Medical Malpractice
Kesalahan atau kekeliruan
tindakan tenaga medis yang
diukur atau dilihat dengan
paramater ketentuan etika
profesi medis (Kode Etik
Kedokteran, Bidan, Apoteker dll)
28
Legal Medical Malpractice
Kesalahan atau kekeliruan tindakan
para medis (tenaga kesehatan) diukur
atau dilihat dengan paramater
ketentuan-ketentuan hukum positip


29
1. Criminal Medical Malpractice
2. Civil Medical Malpractice
3. Administrative Medical Malpractice


30
Criminal Medical Malpractice
Suatu perbuatan dapat dikategorikan criminal
malpractice apabila memenuhi rumusan tindak pidana.
Pertama perbuatan tsb (positive act, atau negative
act) harus merupakan perbuatan melawan hukum
(onrecht) atau tercela (actus reus), kedua dilakukan
dengan kesalahan (mens rea) yaitu berupa
kesengajaan (intentional), atau kealpaan (negligence),
atau kecerobohan (reckessness).
31
Contoh
Intentional Criminal Malpractice
Melakukan aborsi tanpa indikasi/alasan medik
Melakukan euthanasia
Tidak melakukan pertolongan thdp seseorang yg dlm keadaan emergency,
walaupun ia tahu tdk ada petugas medik lain yg akan menolongnya
(negative act)
Memberikan surat keterangan dokter isinya tdk benar.
Dll.

32
Contoh
Recklessness Criminal Malpractice
Melakukan tindakan medik yg tdk memenuhi standar profesi dan teori medik.

Melakukan tindakan medik tanpa informed consent, walaupun diketahui tindakan
medik tsbt mengharuskan adanya informed consent.

Dll.
33
Contoh
Negligence Criminal Malpractice
Alpa atau kurang hati-hati dlm melakukan tindakan medik
(operasi), shg ada alat medik yg tertinggal di dalam perut.
Alpa atau kurang hati-hati sehingga berakibat sakitnya semakin
parah, cacat bahkan meninggal dunia.
Dll.
34
Tanggungjawab Hukum
Criminal Malpractice
Pada criminal malpractice pada umumnya tanggung jawabnya selalu
bersifat individual (bukan korporasi) dan personal (hanya pada yang
melakukan), oleh karena itu tidak dapat dialihkan kepada orang lain
atau kepada rumah sakit.
Namun demikian dalam hal-hal tertentu korporasi (lembaga
penyelenggara pelayanan medik) dpt dituntut secara pidana.
(Psl : 42 jo psl 80 UU.No.29 Th. 2004)
35
Civil Medical Malpractice
Civil Medical malpractice terjadi apabila dokter tidak melaksanakan
kewajiban (wanprestasi), yaitu tidak memberikan prestasinya
sebagaimana yang telah disepakati dalam informed consent, atau
karena adanya perbuatan melawan hukum yang menimbulkan
kerugian bagi (pasien dan atau keluarganya).
36
Faktor/Indikasi Civil Malpractice
Tidak melakukan (negative act) apa yang menurut
kesepakatannya wajib dilakukan.
Melakukan (positive act) apa yang diperjanjikan,
tetapi terlambat.
Melaksanakan apa yg diperjanjikan, tetapi tidak
sebagaimana yg diperjanjikan/tidak sempurna.
Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak
boleh dilakukan.
37
Dasar Hukum
Penuntutatn Civil Malpractice
Pasal 1365 KUHPdt :
tiap perbuatan melanggar hukum, yang menimbulkan kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang
karena salahnya menerbitkan kesalahan itu, mengganti kerugian tersebut.
Pasal 1366 KUHPdt :
setiap orang bertangungjawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya, tetapi juga
untuk kerugian yang disebabkan karena kelalaian atau kurang hati-hatinya.
Pasal 1371 KUHPdt :
penyebab luka atau cacatnya sesuatu anggota badan dengan sengaja atau kurang hati-hati memberikan hak
kepada si korban untuk selain penggantian biaya-2 penyembuhan, menuntut penggantian kerugian yg
disebabkan oleh luka atau cacat tersebut.
38
Pertanggungjawaban Hukum
Civil Malpractice
Pertanggungjawaban hukum dalam malpraktik perdata (civil malpractice) dapat
bersifat individual dan atau korporasi. Selain itu diterapkan pertanggungjawaban
dgn dialihkan kepada pihak lain berdasarkan sistem (principle of vicarious
liability). Dengan demikian , rumah sakit dapat dipertanggungjawabkan atas
kesalahan yang dilakukan oleh dokter/petugas medis lainnya (sub oordinat),
dengan catatan tindakan dokter/petugas medis lainnya itu dilakukan dalam
rangka melaksanakan kewajiban dari rumah sakit tersebut.

39
Administrative
Medical Malpractice
Administrative Medical Malpractice terjadi apabila tindakan para
medis nyata-nyata telah melanggar ketentuan hukum tata usaha
negara/hukum administrasi negara.
Sanksi hukum yg dapat dijatuhkan bagi pelaku administrative
malpractice adalah sanksi administratif.
40
Contoh
Administrative Malpractice
Menjalankan praktik dokter tanpa ijin.
Melakukan tindakan medik yg tdk sesuai ijin
yang dimiliki.
Melakukan praktik dokter dengan
menggunakan ijin yg telah habis masa
berlakunya (kadaluwarsa).
Dll
Dalam kasus tertentu tindakan criminal
malpractice sekaligus merupakan tindakan
administrative malpractice.
41
ADVOKASI
PELAYANAN
MEDIS
ADVOKASI PELAYANAN MEDIS
PREVENTIF
REPRESSIF
INFORMED
CONSENT
IMPLIED
CONSENT
MEDICAL
RECORD
NON LITIGASI
LITIGASI
RAHASIA
KEDOKTERAN
ASURANSI
PROFESI