Anda di halaman 1dari 11

BAB II

IDENTIFIKASI ALDEHID DAN KETON



TUJUAN :
Membedakan senyawa aldehid dan keton dengan menggunakan uji Tollens dan Fehling
Memahami reaksi yang terjadi selama uji Tollens dan Fehling

A. Pre-lab
1. Jelaskan perbedaan mendasar antara aldehid dan keton!

Pada aldehid atom hidrogennya terikat pada ikatan rangkap C=O sedangkan pada keton
tidak ditemukan atom hidrogen. Oleh karena itu aldehid bersifat mudah teroksidasi atau
aldehid merupakan agen pereduksi yang kuat sedangkan keton sulit untuk teroksidasi (Hart,
2004).









2. Jelaskan prinsip uji Tollens !

Bila karbohidrat pereduksi dipanaskan dengan pereaksi Tollens dalam tabung feaksi bersih, terbentuk
lapisan tipis menyerupai cermin pada bagian bawah tabung percobaan. Dalam proses ini, karbohidrat
pereduksi dioksidasi menjadi asam onat, yang segera membentuk garam amonium, sedangkan pereaksi
Tollens direduksi sehingga dibebaskan logam perak, yang segera melekat pada bagian bawah dinding tabung
percobaan berupa lapisan tipis menyerupai cermin (Sumardjo, 2009).




3. Apa fungsi pereaksi fehling pada uji fehling?

Fungsi pereaksi fehling pada uji fehling yaitu menyebabkan endapan tembaga oksidasi
berwarna merah bata. Aldehid teroksidasi menjadi asam asam asetat, ion Ca tereduksi
menjadi Cu . Fehling merupakan larutan basa berwarna biru di tembaga sulfat (Sudarmo,
2006)





Diagram Alir

1. Uji Tollens





Diambil 1 mL AgNO3 5%

Dimasukkan kedalam tabung reaksi

Ditambahkan NH4OH sampai endapan hilang

Ditambahkan 1 mL sampel

Dipanaskan sekitar menit

Diamati perubahan yang terjadi




2. Uji Fehling



Diambil Fehling 5 tetes

Ditambahkan 5 tetes NaOH

Ditambahkan 1 mL sampel

Dipanaskan sekitar 2 menit

Diamati perubahan yang terjadi












Tinjauan Pustaka
1.Pengertian aldehid
Alat dan Bahan
Hasil
Alat dan Bahan
Hasil
10 tetes fehling B
Aldehid adalah suatu senyawa turunan alkana yang mengandung gugus karbonil(C=O)
yang mengikat sebuah atom hidrogen dan satu gugus alkil, dituliskan RCOH.. Aldehida
dapat direduksi dengan gas H2 membentuk alkohol primer dan jika aldehid dioksidasi akan
menjadi asam karboksilat. Aldehid merupakan senyawa polar dan mendidih pada suhu yang
tinggi daripada senyawa non polar. Aldehid merupakan oksidator kuat sehingga dapat
mereduksi oksidator lemah. Dalam kehidupan sehari-hari, aldehid apat ditemukan dalam
Formalin ( 40% formaldehid), plastik termoset dan bahan baku parfum (Sutresna, 2008).

2.Pengertian keton
Keton adalah suatu senyawa organik yang mempunyai sebuah gugus karbonil (C=O)
terikat pada dua gugus alkil, dituliskan RCOR.. Keton tidak mengandung atom hidrogen
yang terikat pada gugus karbonil. Keton dapat direduksi oleh gas H2 menghasilkan alkohol
sekundernya dan jika keton dioksidasi menghasilkan asam karboksilat. Keton tidak bereaksi
dengan pereaksi Tollens dan Fehling. Keton seperti aldehid merupakan senyawa polar yang
mempunyai titik didih lebih tinggi daripada senyawa non polar. Pada umumnya larut dalam
air. Keton dengan jumlah C 1 sampai dengan 5 berupa cairan tak berwarna. Keton dengan
jumlah atom C lebih dari 13 berupa padatan (McMurry, 2011).

3.Perbedaan aldehid dan keton
Aldehid memiliki satu alkil dan satu atom H yang terikat dengan gugus karbonil
sedangkan keton memiliki dua alkil yang terikat dalam gugus karbonil. Oksidasi atau
dehidrogenasi dari alkohol primer menghasilkan aldehid sedangkan oksidasi atau
dehidrogenasi dari alkohol sekunder menghasilkan keton. Aldehid dapat dioksidasi oleh agen
pengoksidasi sedangkan keton tidak bisa sehingga perbedaan itulah yang dapat membedakan
gugus aldehid dari isomer keton (Burgoyne, 2004).

4. Tinjauan bahan
a. Aseton
Aseton (C
3
H
6
O) merupakan senyawa keton yang paling sederhana. Aseton berbentuk
cairan yang tidak berwarna dan mudah terbakar.. Aseton memiliki sifat mudah menguap,
mudah terbakar, dan mudah larut dalam pelarut polar. Aseton digunakan untuk
membuat plastik, serat, obat-obatan, pembersih cat kuku (Alfian, 2009).

b. Fruktosa
Fruktosa merupakan heksosa reduktif C
6
H
12
O
6
; merupakan ketosa dalam bentuk furan
maupun piran yang umumnya terdapat dalam buah dan madu. Memiliki rasa manis yang
kuat. Didalam usus manusia fruktosa kurang dapat diserap dibandingkan gula sederhana
lainnya. Diduga kuat, fruktosa diubah menjadi glukosa terlebih dahulu sebelum dapat
diserap. Nilai kemanisan fruktosa 1.4 sukrosa. Sin. Levulosa (Makfoeld, 2006).

c. Formalin
Formalin (H2CO) adalah larutan yang tersusun dari formaldehid dalam air dengan kadar
antara 10%-40%. Formalin berbentuk cairan tidak bewarna, uapnya dapat membuat mata,
berbau sangat menusuk dan beracun Formaldehida dapat digunakan sebagai disinfektan,
pembersih lantai, dan juga sebagai bahan pengawet mayat(Siswoyo, 2009).

d. Glukosa
Glukosa merupakan dektrosa, gula anggur, gula darah, gula sederhana, dapat dibuat dalam
tubuh dari berbagai konstituen makanan termasuk protein, dapat dibuat dari hidrolisis pati
memakai asam atau enzim disakarida seperti maltose, laktosa, dan sukrosa dapat
diuraikan menjadi glukosa dan monosakarida lain; aldosa enam karbon dan merupakan
gula utama dalam darah dan zat-antara kunci dalam metabolisme (Pudjaatmaka, 2004).

e. Tollens (AgNO
3
)
Tollens adalah larutan perak nitrat dalam ammonia Pereaksi tollens merupakan suatu
oksidator / pengoksidasi lemah yang dapat digunakan untuk mengoksidasi gugus aldehid,
-CHO menjadi asam karboksilat, -COOH. . Tollens dapat direduksi oleh aldehid sehingga
membebaskan unsure perak (Ag) (Mahmood, 2004).

f. NH
4
OH
Amonium Hidroksida adalah larutan yang dihasilkan dari amonia yang dilarutkan dalam
air. Amonium hidroksida berupa larutan yang tidak berwarna dan memiliki bau yang
menyengat. NH
4
OH digunakan dalam pembersih peralatan rumah tangga. Larutan amonia
dapat melarutkan residu oksida perak, seperti yang terbentuk dari reagen Tollens
Ammonia merupakan larutan yang digunakan untuk membuat pereaksi tollens (Alfian,
2009).

g. NaOH
Natrium Hidroksida merupakan basa kuat. Natrium hidroksida murni berupa padatan
putih dalam bentuk serpihan , butiran dan sebagai larutan jenuh 50%. NaOH bersifat
kering, korosif, sangat larut dalam air, higroskopis dan mudah menyerap karbon dioksida
di udara, sehingga harus disimpan dalam wadah kedap udara. NaOH digunakan di
berbagai macam bidang industri, kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses
produksi bubur kayu dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan deterjen (Mahmood,2004).

h. Fehling A
Fehling A adalah larutan yang dibuat dari CuSO
4
, H
2
SO
4
, dan aquades. Fehling A berupa
cairan bewarna biru, tidak berbau dan mudah larut dalam air. Digunakan sebagai
oksidator untuk mengidentifikasi adanya gula pereduksi serta adanya senyawa aldehid
pada makanan (Pavia, 2005).

i. FehlingB
Fehling B adalah campuran larutan NaOH dan kalium natrium tartrat. Fehling B berupa
cairan tidak bewarna dan tidak berbau serta mudah larut dalam air. Digunakan sebagai
oksidator untuk mengidentifikasi adanya gula pereduksi serta adanya senyawa aldehid
pada makanan(Pavia, 2005).

j. Akuades
Akuades adalah air hasil destilasi atau penyulingan yang kandungannya murni H
2
O dan
tidak memiliki kadar mineral sedikitpun. Aquades merupakan bahan kimia yang tidak
berbahaya karena mempunyai pH netral sehingga tidak memberikan efek negatif bagi
manusia. Aquades biasa dipakai sebagai pelarut bahan-bahan kimia(Sunarya, 2007).


Hasil Percobaan Dan Pengamatan

1. Uji Tollens

No. Nama Sampel Reagen
Tollens+NH
4
OH
Sampel+Reagen
Tollens
(Tanpa pemanasan
Sampel+Reagen Tollens
(Setelah Pemanasan)
Hasil Uji
(+) / (-)

1

Fruktosa

11 tetes
Larutan menjadi
bening
Belum terbentuk
cermin perak
Terbentuk cermin
perak

+

2

Aseton

14 tetes
Larutan menjadi
bening
Belum terbentuk
cermin perak
Tidak terbentuk
cermin perak

-

3

Sukrosa

13 tetes
Larutan menjadi
bening
Belum terbentuk
cermin perak
Tidak terbentuk
cermin perak

-

4

Glukosa

9 tetes
Larutan menjadi
bening
Terbentuk cermin
perak dan
berwarna bening
Terbentuk cermin
perak

+

5

Formaldehid
11 tetes
Larutan menjadi
bening
Sudah terbentuk
cermin perak
Terbentuk cermin
perak

+


1. Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Tollens dari beberapa sampel dalam percobaan ini!
Pada percobaan yang telah dilakukan, reagen Tollens akan lebih cepat bereaksi
dengan larutan dengan senyawa aldehid sehingga menghasilkan warna bening dan lebih
lambat bereaksi pada senyawa keton sehingga lebih membutuhkan tetesan sampel yang lebih
banyak. Dari hasil sampel yang telah ditambahkan reagen, glukosa serta formaldehid telah
membentuk cermin perak. Hal ini dikarenakan glukosa serta formaldehid merupakan senyawa
aldehid. Selain itu cermin perak juga terbentuk setelah fruktosa dipanaskan, namun pada
aseton dan sukrosa tidak terdapat cermin perak. Pada percobaan didapatkan hasil positif pada
fruktosa, glukosa dan formaldehid serta hasil negative pada aseton dan sukrosa. Hal ini
dikarenakan pada uji Tollens hanya akan menghasilkan nilai positif pada larutan yang
mengandung senyawa aldehid dan bernilai negative apabila ia senyawa keton. Namun pada
hasil didapat bahwa fruktosa bernilai positif padahal fruktosa merupakan senyawa keton, hal
ini dikarenakan fruktosa merupakan gula pereduksi yang memiliki gugus OH bebas
sehingga dapat bereaksi dengan reagen Tollens. Selain itu pada percobaan yang telah kita
lakukan, sukrosa bernilai negative dikarenakan sukrosa merupakan gugus disakarida yaitu
gabungan antara fruktosa dan glukosa dan gugus OH serta H dipakai untuk berikatan
sehingga tidak termasuk dalam gugus bebas.

PRINSIP UJI TOLLENS
Membedakan gugus aldehid dan keton dalam suatu sampel dengan menambahkan
reagen Tollens yaitu AgNO
3
, dimana akan terjadi reaksi reduksi oksidasi, gugus aldehid
di oksidasi menjadi anion karboksilat, reaksi dengan pereaksi Tollens mampu mengubah
ikatan CHO pada aldehid menjadi ikatan COOH pada asam karboksilat. Sementara ion
Ag
+
pada reagen Tollens direduksi menjadi logam Ag. Reaksi positifnya ditandai dengan
terbentuknya cermin perak pada dinding dalam tabung.

ANALISA PROSEDUR
Pertama, 1 ml larutan AgNO
3
5% dimasukkan ke dalam 5 tabung reaksi dengan
menggunakan pipet ukur. Kemudian ditambahkan NH
4
OH ke dalam tabung reaksi yang
telah berisi AgNO
3
sebanyak beberapa tetes. Penambahan ini dilakukan untuk mencegah
endapan Ag
+
atau cermin perak pada suhu tinggi dan untuk membuat sampel menjadi
basa agar tidak mudah dioksidasi. Larutan NH
4
OH dan AgNO
3
ini merupakan larutan
Tollens. Setelah itu ditambahkan 1 ml sampel dengan menggunakan pipet ukur, dimana
sampel yang digunakan adalah sukrosa, formalin, aseton, glukosa, dan fruktosa. Setelah
itu akan terjadi perubahan-perubahan seperti terbentuk endapan dan perubahan warna.
Setelah itu, campuran larutan-larutan tersebut dipanaskan dengan menggunakan pemanas
spirtus selama 2 menit dan kemudian diamati. Pada saat dipanaskan, tabung reaksi
dijepit menggunakan penjepit tabung reaksi.

ANALISA HASIL
Pada percobaan pertama pada sampel fruktosa didapatkan hasil bahwa sebelum
ditambahkan larutan sampel, warna larutan bening. Lalu setelah ditambahkan larutan
sampel lama kealamaan ia akan menguning dan kembali bening. Namun setelah dikocok
dan ditunggu, belum muncul adanya cermin perak. Saat campuran larutan tersebut
dipanaskan selama 2 menit, warna larutan berubah menjadi perak dengan adanya
endapan cermin perak. Hal ini menandakan bahwa fruktosa mempunyai gugus aldehid.
Padahal harusnya fruktosa tidak membentuk cermin perak karena ia merupakan senyawa
keton. Namun, fruktosa merupakan heksosa reduktif sehingga ia mampu mengoksidasi
senyawa Tollens (Makfoeld, 2006).
Pada percobaan kedua pada sampel aseton didapatkan hasil bahwa sebelum
ditambahkan sampel, warna larutan jernih. Lalu setelah ditambahkan larutan sampel lama
kealamaan ia akan menguning dan kembali bening. Namun setelah dikocok dan ditunggu,
belum muncul adanya cermin perak. Dan saat campuran larutan tersebut dipanaskan
selama 2 menit pun, warna larutan tetap bening. Hal ini menandakan bahwa aseton
tidak mempunyai gugus aldehid. Aseton sejatinya bukan merupakan senyawa aldehid,
tetapi merupakan senyawa keton. Aseton merupakan keton paling sederhana yang pada
kenyataannya dibuat melalui dehidrogenasi 2-propanol dengan katalis tembaga oksida
atau zink oksida pada suhu 500C (Gillis, 2004). Karenanya ia tidak teroksidasi oleh
larutan Tollens.
Pada percobaan ketiga pada sampel sukrosa didapatkan hasil bahwa sebelum
ditambahkan sampel, warna larutan bening. Lalu setelah ditambahkan larutan sampel
lama kealamaan ia akan menguning dan kembali bening. Namun setelah dikocok dan
ditunggu, belum muncul adanya cermin perak. Tetapi saat campuran larutan tersebut
dipanaskan selama 2 menit, warna larutan menjadi kuning. Hal ini menandakan bahwa
sukrosa tidak mempunyai gugus aldehid. Padahal sukrosa sendiri merupakan disakarida
yang tersusun atas glukosa yang memiliki gugus aldehid dan fruktosa (Sunarya, 2007).
Pada percobaan keempat pada sampel glukosa didapatkan hasil bahwa sebelum
ditambahkan sampel, warna larutan bening. Lalu setelah ditambahkan larutan sampel
lama kealamaan ia akan menguning dan kembali bening. Namun setelah dikocok dan
ditunggu, muncul adanya cermin perak. Hal ini menandakan bahwa glukosa mempunyai
gugus aldehid. Hal ini sesuai dengan literatur dimana glukosa merupakan senyawa
aldehid. Yang mana jika diuji dengan larutan Tollens akan membentuk cermin perak jika
dipanaskan. Glukosa memiliki atom hidrogen yang membuatnya mudah teroksidasi
membentuk cermin perak (Sunarya, 2007).
Pada percobaan kelima pada sampel formaldehid didapatkan hasil bahwa sebelum
ditambahkan sampel, warna larutan bening. Lalu setelah ditambahkan larutan sampel
lama kealamaan ia akan menguning dan kembali bening. Namun setelah dikocok dan
ditunggu, muncul adanya cermin perak. Hal ini menandakan bahwa formalin mempunyai
gugus aldehid. Hal ini sesuai dengan literatur dimana formalin yang merupakan nama
dagang formaldehid mempunyai gugus aldehid yang jika direaksikan dengan larutan
Tollens akan membentuk cermin perak (Pudjaatmaka, 2004).

REAKSI UJI TOLLENS
R-C-H + Ag
2
O R-C-OH + 2Ag

O O

2. Uji Fehling

No. Nama Sampel Sampel+Reagen Fehling
(Tanpa pemanasan)
Sampel+Reagen Fehling
(Setelah Pemanasan)
Hasil Uji
(+)/(-)

1

Fruktosa

Larutan berwarna hijau
dan terdapat endapan
Terdapat endapan
merah bata

+

2

Aseton

Ada endapan warna
biru
Tidak terdapat endapan
merah bata

-

3

Sukrosa

Larutan berwarna biru
kehijauan
Tidak terdapat endapan
merah bata

-

4

Glukosa

Larutan berwarna hijau
muda
Terdapat endapan
merah bata

+

5

Formaldehid

Larutan berwarna biru
kehijauan dan terdapat
cincin perak
Terdapat endapan
merah bata

+

2. Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Fehling dari beberapa sampel dalam percobaan ini!
Pada percobaan yang telah dilakukan, fehling A dan fehling B akan lebih cepat
bereaksi dengan larutan dengan senyawa aldehid dan lebih lambat bereaksi pada senyawa
keton. Pada campuran fehling A dan B serta NaOH yang ditambah 1 ml fruktosa terdapat
endapan dan larutan berwarna hijau. Setelah dilakukan pemanasan selama 2 menit terdapat
endapan merah bata dan menghasilkan nilai positif. Lalu pada reagen fehling yang telah
ditambah sampel aseton terdapat endapan warna biru namun saat dipanaskan selama 2 menit
tidak terdapat endapan merah bata sehingga menghasilkan nilai negative. Pada reagen fehling
yang ditambahkan sampel sukrosa terdapat warna biru kehijauan, akan tetapi saat dipanaskan
tidak terdapat endapan warna merah bata sehingga bernilai negative. Sedangkan pada reagen
fehling yang ditambahkan sampel glukosa menghasilkan warna hijau muda dan ketika
dipanaskan terdapat endapan warna merah bata sehingga menghasilkan nilai positif. Dan pada
reagen fehling yang ditambahkan sampel formaldehid terdapat cincin perak dan warna larutan
yang biru kehijauan. Setelah dipanaskan ternyata terdapat endapan merah bata sehingga
menghasilkan nilai positif. Pada hasil didapat bahwa fruktosa bernilai positif padahal fruktosa
merupakan senyawa keton, hal ini dikarenakan fruktosa merupakan gula pereduksi yang
memiliki gugus OH bebas sehingga dapat bereaksi dengan reagen fehling A dan B. Selain
itu pada percobaan yang telah kita lakukan, sukrosa bernilai negative dikarenakan sukrosa
merupakan gugus disakarida yaitu gabungan antara fruktosa dan glukosa dan gugus OH
serta H dipakai untuk berikatan sehingga tidak termasuk dalam gugus bebas.

PRINSIP UJI FEHLING A DAN FEHLING B
Membedakan gugus aldehid dan keton dalam suatu sampel dengan reagen
fehling A dan fehling B dimana fehling A merupakan CuSO
4
dan fehling B merupakan
campuran NaOH dan kalium natrium tatrat. Aldehid akan teroksidasi membentuk asam
karboksilat, sementara itu ion Cu
2+
akan tereduksi menjadi Cu
+
. Reaksi positif ditandai
dengan adanya endapan berwarna merah bata.

ANALISA PROSEDUR
Pertama, fehling A dimasukkan kedalam tabung reaksi yang bersih sebanyak 5
tetes menggunakan pipet tetes. Setelah itu ditambahkan NaOH ke dalam tabung reaksi
yang berisi fehling A sebanyak 5 tetes menggunakan pipet tetes yang bertujuan untuk
memberukan kondisi basa. Kemudian ditambahkan fehling B pada tabung reaksi
menggunakan pipet tetes sebanya 10 tetes. Setelah itu ditambahkan 1 ml sampel dengan
menggunakan pipet ukur, dimana sampel yang digunakan adalah sukrosa, formaldehid,
aseton, glukosa, dan fruktosa. Setelah itu akan terjadi perubahan-perubahan seperti
terbentuk endapan dan perubahan warna. Setelah itu, campuran larutan-larutan tersebut
dipanaskan dengan menggunakan pemanas spirtus selama 2 menit untuk mempercepat
reaksi dan kemudian diamati. Pada saat dipanaskan, tabung reaksi dijepit menggunakan
penjepit tabung reaksi.

ANALISA HASIL
Pada percobaan pertama pada sampel fruktosa didapatkan hasil bahwa setelah
ditambah sampel formalin, warna larutan menjadi kehijauan dan terdapat endapan. Saat
campuran larutan tersebut dipanaskan selama 2 menit, warna larutan menjadi merah
bata dengan adanya endapan di bagian bawah tabung. Hal ini menandakan bahwa fruktosa
mempunyai gugus aldehid. Padahal harusnya fruktosa tidak membentuk cermin perak
karena ia merupakan senyawa keton. Namun, fruktosa merupakan heksosa reduktif.
Karenanya ia mampu mengoksidasi senyawa fehling (Makfoeld, 2006).
Pada percobaan kedua pada sampel aseton didapatkan hasil bahwa setelah
ditambah sampel aseton, warna larutan memisah menjadi dua lapisan, warna biru di
bagian bawah dan bening di bagian atas. Dan saat campuran larutan tersebut dipanaskan
selama 2 menit, warna larutan menjadi biru pekat dan volumenya berkurang. Hal ini
menandakan bahwa aseton tidak mempunyai gugus aldehid. Aseton sejatinya bukan
merupakan senyawa aldehid, tetapi merupakan senyawa keton. Aseton merupakan keton
paling sederhana yang pada kenyataannya dibuat melalui dehidrogenasi 2-propanol
dengan katalis tembaga oksida atau zink oksida pada suhu 500C. Karenanya ia tidak
teroksidasi oleh larutan fehling (Gillis, 2004).
Pada saat fehling A, fehling B, dan NaOH dicampur, larutan tersebut berubah
menjadi warna biru pekat. Pada percobaan ketiga pada sampel sukrosa didapatkan hasil
bahwa setelah ditambah sampel sukrosa, warna larutan menjadi biru kehijauan. Saat
campuran larutan tersebut dipanaskan selama 2 menit, warna larutan tetap biru
kehijauan. Hal ini menandakan bahwa sukrosa tidak mempunyai gugus aldehid. Padahal
sukrosa sendiri merupakan disakarida yang tersusun atas glukosa yang memiliki gugus
aldehid dan fruktosa (Sunarya, 2007). Gugus OH yang dimiliki glukosa tidak bisa
bereaksi dengan larutan fehling karena ia telah berikatan dengan gugus OH lain milik
fruktosa yang membentuk sukrosa (Gillis, 2004).
Pada percobaan keempat pada sampel glukosa didapatkan hasil bahwa setelah
ditambah sampel glukosa, warna larutan menjadi hijau muda. Tetapi saat campuran
larutan tersebut dipanaskan selama 2 menit, warna larutan menjadi merah dengan
adanya endapan di bagian bawah tabung. Hal ini menandakan bahwa glukosa mempunyai
gugus aldehid. Hal ini sesuai dengan literatur dimana glukosa yang merupakan senyawa
aldehid mampu mengoksidasi larutan fehling sehingga terbentuk endapan merah bata
(Rahayu, 2007).
Pada percobaan kelima pada sampel formalidehid didapatkan hasil bahwa setelah
ditambah sampel formaldehid, warna larutan menjadi biru kehijaun dan terdapat cincin
perak. Saat campuran larutan tersebut dipanaskan selama 2 menit, warna larutan
menjadi merah bata dengan adanya endapan. Hal ini menandakan bahwa formaldehid
mempunyai gugus aldehid. Hal ini sesuai dengan literatur dimana formaldehid gugus
aldehid (Pudjaatmaka, 2004).

REAKSI UJI FEHLING
R-C-H + 2CuO R-C-OH + Cu
2
0

O O


PERTANYAAN
1. Apa fungsi penambahan larutan AgNO
3
5% dalam percobaan uji Tollens?
Sebagai pereaksi dalam uji Tollens yang akan membentuk cermin perak akibat ion
Ag
+
yang tereduksi menjadi perak sebagai tanda bahwa suatu sampel memiliki gugus
aldehid.






2. Apa fungsi penambahan larutan NH
4
OH 6M dalam percobaan uji Tollens?
NH
4
OH berfungsi untuk mencegah mengerasnya endapan Ag
+
(cermin perak) pada
suhu tinggi dan untuk membuat sampel menjadi basa agar tidak mudah cepat teroksidasi.






KESIMPULAN

Prinsip uji Tollens yaitu membedakan gugus aldehid dan keton dalam suatu sampel
dengan menambahkan reagen Tollens yaitu AgNO
3
, dimana akan terjadi reaksi reduksi oksidasi,
gugus aldehid di oksidasi menjadi anion karboksilat, reaksi dengan pereaksi Tollens mampu
mengubah ikatan CHO pada aldehid menjadi ikatan COOH pada asam karboksilat. Sementara
ion Ag
+
pada reagen Tollens direduksi menjadi logam Ag. Reaksi positifnya ditandai dengan
terbentuknya cermin perak pada dinding dalam tabung.
Prinsip uji fehling A dan fehling B yaitu membedakan gugus aldehid dan keton dalam
suatu sampel dengan reagen fehling A dan fehling B dimana fehling A merupakan CuSO
4
dan
fehling B merupakan campuran NaOH dan kalium natrium tatrat. Aldehid akan teroksidasi
membentuk asam karboksilat, sementara itu ion Cu
2+
akan tereduksi menjadi Cu
+
. Reaksi positif
ditandai dengan adanya endapan berwarna merah bata.
Pada percobaan ini kita dapat membedakan senyawa aldehid dan keton dengan
menggunakan uji Tollens danuji fehling. Serta dapat memahami reaksi yang terjadi selama uji
Tollens dan uji fehling berlangsung.
Pada uji fehling dan uji Tollens menghasilkan nilai positif pada aldehid dan bernilai
negative pada keton. Nilai positif diperoleh pada sampel glukosa, fruktosa dan formaldehid.
Glukosa dan formal dehid merupakan senyawa aldehid, namun fruktosa menghasilkan nilai
positif dikarenakan fruktosa merupakan gula pereduksi yang memiliki gugus OH bebas
sehingga dapat bereaksi dengan reagen Tollens dan fehling A serta fehling B. Pada awalnya
fruktosa belum menghasilkan cermin perak pada uji Tollens dan endapan merah bata pada uji
fehling, namun setelah dipanaskan terbentuk cermin perak pada uji Tollens dan endapan merah
bata pada uji fehling. Hal ini dikarenakan pemanasan dapat mempercepat reaksi.
Pada uji fehling dan uji Tollens menghasilkan nilai negative pada sukrosa dan aseton.
Karena aseton merupakan senyawa keton sedangkan sukrosa merupakan gugus disakarida yaitu
gabungan antara fruktosa dan glukosa dan gugus OH serta H dipakai untuk berikatan sehingga
tidak termasuk dalam gugus bebas. Dan menghasilkan nilai negative.


DAFTAR PUSTAKA
Alfian, Zul. 2009. Kimia Dasar. Medan: USU Press
Burgoyne, Edward E.2004.A Short Course in Organic Chemistry.Singapore:Mc Graw-Hill Book
Co.
Gillis, Oxtobi.2004.Principles of Modern Chemistry.Canada:Harcourt, Inc.

Hart, Harold. 2004. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga
Mahmood, Kamaliah. 2004. Kimia Organik Awalan. Kuala Lumpur: Sanon Printing
Corporation
Makfoeld, Djarir.2006.Kamus Istilah Pangan dan Nutrisi.Yogyakarta:Penerbit Kanisius.
McMurry, John. 2011. Organic Chemistry. California: Brooks/Cole
Pavia, D.L. 2005. Introduction to Organic Laboratory Techniques. California: Brooks/Cole
Pudjaatmaka, A. Hadyana. 2004.Kamus Kimia.Jakarta:Balai Pustaka.

Rahayu, Imam. 2007.Praktis Belajar Kimia.Bandung:PT. Grafindo Media Pratama.
Siswoyo, Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga

Sudarmo, Unggul. 2006. Kimia 3. Jakarta: Erlangga

Sumardjo, Damin. 2009.Pengantar Kimia Buku Panduan Kuliah Mahasiswa
Kedokteran.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Sunarya, Yayan dan S, Agus. 2007. Mudah dan Aktif Belajar Kimia. Jakarta. Setia Purna

Sutresna, Nana.2008. Kimia. Grafindo Media Pratama. Jakarta