Anda di halaman 1dari 7

Bambu

Teknologi Bahan
Bambu Sebagai Bahan Konstruksi

Bambu termasuk tanaman Bamboidae anggota sub familia
rumput, memiliki keanekaragaman jenis bambu didunia
sekitar 1200-1500 jenis sedangkan indonesia hanya memiliki
10% sekitar 154 jenis bambu (Wijaya, 1954).
Bambu merupakan potensi bahan untuk perumahan dan
konstruksi yang ramah lingkungan, karena:
Kekuatan tarik tinggi dibandingkan dengan yang ringan
baja.
Kekuatan tinggi untuk rasio berat dan beban daya
dukung tinggi tertentu.
Membutuhkan lebih sedikit energi untuk produksi,
Layanan kinerja bambu dapat ditingkatkan dengan
pengawetan dengan pengobatan yang cocok.
Dapat dibentuk menjadi panel dan material komposit
yang dapat meningkatkan kekuatan yang cocok untuk
aplikasi struktural properti.
Bambu juga memiliki kekuatan sisa tinggi untuk
menyerap pengaruh guncangan dan sangat cocok untuk
bahan pembangunan rumah untuk melawan kekuatan
angin dan seismik yang tinggi.
Bambu sangat efisien dalam menyerap karbon dioksida
dan berkontribusi terhadap pengurangan efek rumah
kaca.



Beberapa jenis bambu yang paling sering digunakan untuk bangunan
bambu adalah:

- Bambu petung/betung (Dendrocalamus asper). Bambu ini tumbuh
subur di hampir semua pulau besar di Indonesia. Memiliki dinding yang
tebal dan kokoh serta diameter yang dapat mencapai lebih dari 20 cm.
Dapat tumbuh hingga lebih 25 meter. Bambu petung banyak digunakan
untuk tiang atau penyangga bangunan. Juga sering di belah untuk
keperluan reng/usuk bangunan. Bambu petung yang peling umum ada
dua jenis yakni petung hijau dan petung hitam.
- Bambu hitam atau bambu wulung (Gigantochloa atroviolacea).
Banyak tumbuh di jawa dan sumatra. Jenis bambu ini dapat mencapai
dimeter hingga 14 cm dan tinggi lebih dari 20 meter. Banyak digunakan
sebagai bahan bangunan dan perabot bambu karena relatif lebih tahan
terhadap hama.
- Bambu apus atau tali (Gigantochloa apus). Jenis ini banyak
digunakan sebagai komponen atap dan dinding pada bangunan.
Diameter antara 4 hingga 10 cm. Juga sangat cocok untuk mebel dan
kerajinan tangan.

1. Bambu sebagai elemen struktur bangunan
Bambu dapat digunakan untuk membuat semua komponen bangunan, baik struktural maupun non struktural.
a. Bambu sebagai
pondasi (Skematik
bambu untuk pondasi
tidak kontak dengan
tanah (Purwito, 1995).
b. Bambu sebagai
Lantai (Denah,
bambu untuk lantai
(Purwito, 1995).
c. Bambu sebagai
dinding (Konstruksi
dinding dengan jaring-
jaring bambu
(Jayanetti,dkk., 2002).

d. Bambu sebagai
atap (Denah
konstruksi atap
dengan bambu.
(Purwito,1995).
2. Bambu Sebagai Bahan Konstruksi


Bambu memiliki 50 - 55% lebih banyak selulosa
daripada kayu. Tanpa perhatian pada pengawetan
maka konstruksi bambu tahan lama 2- 3 tahun
saja. sedangkan dengan pengawetan dan
pemeliharaan yang memadai dapat tahan lama >
15 tahun.
Mutu bambu dipengaruhi terutama oleh :
- Masa memotong batang bambu.
- Perawatan dan pengeringan bambu.
- Pengawetan bambu.

Kekuatan geser adalah ukuran kekuatan bambu
dalam hal kemampuannya menahan gaya- gaya
yang membuat suatu bagian bambu bergeser dari
bagian lain di dekatnya. Bagian batang tanpa ruas
memiliki kekuatan terhadap gaya geser yang 50%
lebih tinggi daripada batang bambu yang beruas.
Di Indonesia kekuatan geser yang diizinkan II arah
serat adalah 2.45 N/mm2.
Kekuatan tarik bambu untuk menahan gaya- gaya
tarik berbeda- beda pada bagian dinding batang
dalam atau bagian luar. Lebih baik digunakan
Bagian batang yang terletak pada bagian bawah
yang memiliki kekuatan terhadap gaya tarik yang
12 % lebih tinggi, Di Indonesia tegangan tarik yang
diizinkan II arah serat adalah 29.4 N/mm2.


Kekuatan lentur adalah kekuatan untuk menahan gaya- gaya yang
berusaha melengkungkan batang bambu atau menahan muatan mati
atau hidup. Karena bambu merupakan bahan yang elastis, maka
lendutan yang terjadi sesuai kekuatan bahan menjadi lebih tinggi
(rata- rata 1/20). Hal ini perlu diperhatikan pada pembangunan
gedung, dimana lendutan konstruksi biasanya tidak boleh melebihi
1/300 dari lebar bentang. Di Indonesia tegangan lentur yang diizinkan
adalah 9.8 N/mm2.
Kekuatan tekan bambu untuk menahan gaya- gaya tekan berbeda-
beda pada bagian ruas dan bagian diantara ruas batang bambu, Bagin
batang tanpa ruas memiliki kekuatan terhadap gaya tekan yang 8 - 45
% daripada batang bambu yang beruas, Di Indonesa tegangan tekan
yang diizinkan II arah serat adalah 7.85 N/mm2.
Modul elastis Bambu yang berbentuk pipa dan berbentuk langsing
lebih menguntungkan dibandingkan batang yang utuh karena nilai
kekuatannya lebih tinggi. Kepadatan serat kokoh pada bagian dinding
luar batang bambu meningkatkan kekuatan maupun elastisitas.
Seperti pada bahan bangunan kayu, modul elastis menurun ( 5- 10 %)
dibawah beban yang meningkat. Di Indonesia modul elastis dapat
diperhitungkan dengan 20 kN/mm2.

3. Bamboo connections
A. Friction-Tight Rope Connections





Connection with bamboo strips Fine handwork rattan connection
Purlin and braces connection
Rattan connection through drill-holes
Another rattan connection
Variation of the connection above
B. Plugin Connections and Bolt Structures
Plugin console
Bolt structure
Connection with inner plug
Rope connection fixed with bolt
Complicate joint
Interlocking connection with wedge
Connection with steel clamp
Modern connection by Shoei
Yoh in 1989.
Interlocking Connections
Connection with steel tube and bolts
Connection with steel wire
Woodcore Connection
possible inner parts
connecting system
space truss, with centre steelbox element